09 Agustus 2020

Engineering di Alkitab

Kedoyanan saya di bidang Engineering membawa nuansa-nuansa khusus saat menemukan ayat alkitab yang beraroma itu. Saya pernah kaget saat membaca kata “torak” di kitab Ayub 7:6. Bagaimana mungkin di zaman Alkitab ini ditulis sudah ada torak. Torak itu Bahasa Inggrisnya Piston, bahasa Belandanya Zuiger, dan di bahasa jawa jadi Seker. Teknologi yang menggunakan torak itu harusnya baru mulai ada saat James Watt menemukan mesin uap, jauh di depan saat alkitab ditulis. Bisa jadi bagi rekan yang percaya dengan Inerrancy dan Infallability malah bangga dengan bilang begitu visionernya alkitab itu. Tapi seorang kenalan yang ahli bahasa Ibrani menjelaskan bahwa torak itu untuk menerjemahkan bagian dari kelosan benang pada mesin penenun tradisional kala itu. Kalau di mesin jahit mama saya, itu dulu namanya sekoci. Oh, jadi ini cuma sekedar masalah penerjemahan saja.

 Ayat lain yang saya suka karena beraroma engineering adalah “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” Besi menajamkan besi, itu pekerjaan saya sehari-hari di bengkel. saya punya mesin bubut dan milling untuk membentuk besi menjadi berbagai bentuk yang dibutuhkan. Untuk membentuk besi diperlukan besi atau material lain yang lebih keras sebagai pisaunya. Pernah ada pelanggan yang komplain karena barang yang saya hasilkan cepat aus saat dipakai. Solusinya memang mudah, materialnya dikeraskan. Tapi kondisinya tidak sesederhana itu, mengerjakan material yang sudah dikeraskan akan menimbulkan masalah baru. Diperlukan pisau atau pahat yang lebih keras lagi untuk memotong dan membentuk material keras itu. Membuat besi menjadi keras itu ada ceritanya tersendiri. Heat treatment atau perlakuan panas namanya. Besi itu harus dipanaskan hingga suhu tertentu dan dinginkan dengan kecepatan tertentu untuk bisa menghasilkan sifat-sifat kekerasan yang diinginkan. Dipanaskan dengan suhu ratusan derajat hingga seribu lebih, didinginkan dengan prosedur tertentu mulai dengan diangin-anginkan saja, atau langsung dimasukkan ke minyak, atau dicelupkan ke air atau dicemplungkan ke air garam.  Prosedur yang rumit dan pasti merepotkan bagi _kehidupan_ besi itu sendiri.

 Besi menajamkan besi, memerlukan besi yang lebih keras dari besi pada umumnya. Menjadi besi yang lebih keras butuh melewati proses perlakuan panas yang tidak mudah, dipanaskan dan didinginkan. Proses yang hampir pasti akan membuat besi itu mengalami deformasi, perubahan bentuk. Setelah itu harus di sesuaikan lagi bentuknya. Mengingatkan akan proses kehidupan ini. Proses menghidupi panggilan ini bisa jadi mirip proses besi ini. Kadang harus dipanasakan hingga suhu yang sangat tinggi, lalu tiba-tiba harus didinginkan dengan mendadak. Hanya untuk sekedar agar bisa cocok dengan panggilan yang saya hidupi ini. Orang menajamkan sesamanya.

Apakah yang paling enak itu bila bisa menjadi besi yang terkeras, biar ada di puncaknya puncak, topnya besi top? Alam punya aturan lain, makin keras besi akan makin rapuh. Silet itu bisa tajam karena besinya keras, tapi silet ternyata tidak bisa dibengkokkan, silet mudah patah. Makin keras makin rapuh. Kekerasan harus disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Beban yang diterima oleh sebuah alat tidak hanya dapat diatasi oleh kekerasan materialnya, material itu kadang harus ulet tidak mudah patah. Kombinasi antara  kekerasan dan keuletan itu yang membuat heat treatment suatu besi adalah ilmu dan seni. Sama dengan proses saat menghidupi panggilan ini, penuh dengan penyesuaian yang rumit. Menghidupi panggilan memang rumit.

Apakah satu prosedur heat treatment yang baik akan menghasilkan besi yang baik? Ternyata tidak pasti! Material besinya yang akan menentukan bahwa suatu proses yang tepat akan menghasilkan hasil yang tepat seperti yang diinginkan. Ada besi yang sekilo sepuluh ribu Rupiah, ada yang lima puluh ribu Rupiah, ada yang dua ratus ribu Rupiah, ada yang harga kiloannya lebih mencengangkan lagi. Material-material ini akan menghasilkan sifat-sifat khusus untuk menjawab kebutuhan di lapangan. Tiap material punya prosedur tersendiri untuk perlakuan-panasnya. tidak ada yang bisa bilang besi itu lebih baik dari yang lain, semua dibutuhkan di masing-masing tempatnya. Semua punya prosedur yang perlu dijalani dalam proses menghidupi panggilannya. Tapi apa betul saya cuma besi murahan yang tidak akan jadi bagus walau sudah diproses? Mosok sih? Bukankah katanya saya itu diciptakan dengan citra Tuhan yang sempurna dan dipersiapkan untuk melakukan apa sudah Ia rencanakan sebelumnya…..? Yang jelas menghidupi panggilan “Besi menajam besi” ini, memang butuh kesiapan tersendiri….

 

Tidak ada komentar: