19 Oktober 2008

Pengintai Kita

Lagi-lagi alkisah di suatu waktu di Dipo. Dahulu kala, di KPR ada seorang Tante yang sangat menyayangi dan memperhatikan KPR, Tante Betty Kwee. Beliau selalu mendampingi KPR, mendampingi. Cuma itu yang dilakukannya, tidak pernah memaksakan kehendak ataupun usulan. Tiap rapat KPR, beliau selalu hadir. Kalau tidak bisa hadir beliau akan selalu berkata, "Daniel, Tante tidak bisa datang.... tapi nanti Tante akan masakkan." Jadinya, beliau selalu hadir. Kalau tidak orangnya.... ya paling tidak masakannya. Ada yang mau nulis tentang Tante Betty?

Hari itu, sepulang kebaktian kita kumpul di rumah Tante Betty. Ada masalah cukup "genting" saat itu. Soal tulisan Pak Robert Setio. Tulisan di warta jemaat soal karya penyelamatan Yesus. Tulisan itu idenya mirip kayak yang diungkapkan pak Widi di Acara yang lalu. Rasanya memang Pak Robert mendahului zamannya. Beberapa pemuda tidak setuju dengan tulisan itu. Kita sepakat untuk protes atas isi renungan di warta jemaat itu. Strateginya kita susun. Saya sepakat bahwa yang nulis harus pribadi-pribadi. Kita sebagai KPR tidak akan menulis surat resmi. Rasanya ada beberapa teman yang menulis surat ke majelis waktu itu.

Beberapa saat kemudian, Apa pengajuan kependetaan Pak Robert Setio. Lagi-lagi ada beberapa teman yang kurang setuju dan itu dikaitkan dengan tulisan di warta jemaat tsb. Saya ingat ada 11 rekan yang menulis surat ke majelis. Jumlah itu saya ingat, tapi nama-namanya mungkin saya lupa. Kita tetap sepakat untuk tetap kompak, walaupun tidak semua rekan setuju. 11 rekan itu diundang rapat majelis. Saya endak ikut-ikut lho.....  Sampai disini, kejadian itu tetap saya anggap biasa. Tidak ada yang aneh.

Sampai suatu saat, ada yang melaporkan bahwa 11 anak itu mendapat undangan persekutuan doa di rumah Prof. Paul Tahalele (dokter jantung ternama itu). Sampai saat ini, saya tidak tahu siapa yang membocorkan 11 nama itu dan ide siapa yang mengundang mereka ini. Kejadian ini menjadikan sesuatu yang aneh bagi saya. Saya sepakat dengan mereka bahwa saya akan hadir juga di acara tersebut.

Saya bersama beberapa teman hadir di rumah mewah itu. Di acara itu, beberapa wajah saya kenal, walaupun saya tidak tahu nama mereka satu persatu. Yang saya tahu, ada Prof. Sahetappy, ada dr. Martin Setiabudi, ada beberapa orang UK Petra. Acara pertemuan itu seperti persekutuan pada umumnya. Ada renungan. Ada pujian. Ada makan malamnya juga. Semuanya biasa, sampai kemudian pada acara setelah makan malam. Tenyata pada hadirin di arahkan untuk menandatangi penolakan akan pengesahan tata gereja GKI. Semuanya sih setuju-setuju saja, bisa jadi karena yang bicara adalah Prof. Sahetappy. Saat itu saya langsung bicara, Saya menolak acara itu karena kalau mau ditolak ya... tolong dijelaskan isinya apa? Suasana mulai penuh kasak kusuk, ternyata dimana saja sama saja. Perlu seorang yang berani ngomong. Begitu ada yang berani ngomong... mereka juga jadi berubah pikiran. Maka malam itu....acara tanda tangan itu batal. Saya juga tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Saya tidak pernah diundang lagi.

Kejadian itu membuat saya tahu, siapa pengintai kita. Siapa musuh yang ada diantara kita. Bukan untuk memecah belah sesama orang kristen tetapi sebagai pengurus kita harus tepat dalam memetakan musuh dan kawan kita.

Ada pihak yang selalu mengintai dan bergerilya di dalam kita. Mereka yang merasa selalu benar dan merasa perlu "mempertobatkan" kita. Hingga saat ini.

Tidak ada komentar: