Ada hal yang selalu bisa saya nikmati dengan indah di hidup saya saat ini. Kesendirian dan kesunyian. Saya sangat bisa menikmatinya dan memanfaatkannya.
Saya bangun sekitar jam 5 an, setelah itu saya sibuk menyiapkan bekal untuk kedua anak saya, Sylvie sudah bangun jam 4.30an dia mencuci beras lalu menyalakan rice-cooker kemudian ditinggal ke pasar. Saya dirumah, menyiapkan minum dan tas bekal anak saya. Setelah itu membangunkan mereka, menyuruh mereka mandi, pakai seragam dan sarapan. Kadang mereka makan nasi, kadang roti, kadang rotinya di panggang, kadang cuma minum cereal atau susu atau milo. Saya menikmati hal itu, karena cuma itu yang bisa saya lakukan dengan rutin untuk anak saya, juga karena sehari-hari saya balik kerumah sudah cukup malam. Dulu nenek saya melakukan hal ini juga bagi saya dan saudara-saudara saya.
Sampai sekitar jam 6.15 mereka sudah harus berangkat. Saat itulah semua hal indah selalu saya nikmati. Ketika rumah sudah sepi antara jam 6.30 sampai jam 7.30 (jam dimana telpon sudah akan banyak berbunyi). Biasanya saya duduk dilantai, berdoa, baca alkitab. Saya malas kalau harus baca alkitab pakai buku panduan. Saya baca urut saja dari kejadian sampai wahyu dan terus berulang. Satu hari satu pasal saja. Syukur kalau dapet yang pendek. Kalau dapet yang mazmur 119 ya..... mau apa lagi. Syukur kalau baca yang bisa direnungkan. Kalau pas baca bilangan dan yang ada cuma ukuran-ukuran dan silsilah keluarga.... ya... endak apa-apa juga. Entah sudah berapa kali saya katam (ini kalau istilahnya muslim). Kebiasaan ini sudah berjalan mulai sekitar kelas 3 SMP. Setiap hari kecuali minggu dan pas keluar kota. Bukannya males bawa alkitab, tapi saya sendiri kehilangan kesendirian dan kesunyian saya. Setelah itu saya baca koran atau baca buku atau melamun.
Banyak penyelesaian masalah yang saya hadapi sehari-hari, diperoleh pada saat-saat itu. Dalam kesendirian itu, banyak simulasi percakapan dan diskusi dan perdebatan saya nikmati. Semuanya, dari hal yang baik sampai yang jahat. Perdebatan tentang complain customer, pengaturan penawaran, perdebatan dengan majelis....juga ada. Saat-saat itu saya mensimulasikan semua perdebatan yang mungkin terjadi. Kalau saya jawab begini, mereka akan jawab bagaimana? Kalau dijawab begitu, saya harus menjawab apa? Dalam kesendirian itu semua "flow chart" dan "road map" tercipta. Dan itu hasil yang saya ingat untuk bekal menghadapi hari-hari saya. Kerangka tulisan ini pun hadir pada saat-saat itu. Lamunan itu memang banyak menghabiskan emosi. Ada yang membuat marah, tersenyum bahkan menangis. Itulah jam-jam indah saya dalam kesendirian.
Saya punya customer pabrik rokok besar yang kalau meminta saya datang, selalu saya yang harus menunggu mereka. Mungkin ini strategi mereka untuk bisa dianggap penting. Saya tidak pernah merasa takut untuk menunggu. saya bisa baca buku, baca ebook, mendengarkan audiobook, ataupun kalau semuanya tidak memungkinkan, saya masih bisa melamun. Saya lebih senang menunggu sendirian dari pada ada orang yang menemani dan mengobrol basa-basi. Dalam lamunan saya bisa memikirkan banyak hal. Kesendirian dan kesunyian itu benar-benar bisa saya nikmati dan manfaatkan. Saya pernah mendapat order cukup besar hanya karena saya disuruh datang jam 11 siang dan baru ditemui jam 3 sore. Saat itu saya isi dengan baca buku. Mungkin bos itu kasihan liat saya......
Kesendirian dan kesunyian itu juga yang membuat saya betah di GKI. Saya lebih memilih ikut misa di kathedral dari pada ikut kebaktian di bethany. Lha, saya endak tahu bagaimana menikmati jingkrak-jingkrak itu. Kalaupun dulu saya sering ke diskotek.. ya saya cuma duduk ngobrol atau ya ngelamun saja. Selama tidak ada orang yang mengajak saya bicara, saya bisa "suppress the ambient" suasana hingar bingar itu. Kesendirian itu sungguh lebih nikmat bagi saya.
Apa benar saya terlahir begini?
Saya sangat suka berteman, banyak teman saya dan banyak yang saya lakukan bersama teman-teman. dulu waktu SMP, saya diajak ikut les. Saya sebenarnya malas,karena saya merasa nilai saya sudah cukup baik. Tapi karena di tempat lesnya ada meja pingpong dan anak yang punya rumah itu sangat "menarik", maka saya ikut les itu. Les inggris dengan buku 999. Semua ada enam buku dan kita selesaikan semuanya. Bukan lesnya yang menarik, tapi main pingpong dan "anak" itu yang membuat kita bisa selalu kompak. Menyenangkan sekali. Lesnya jam 18.30 sampai 19.30. Kita sudah datang jam 17.30 an dan pulang jam 20.15an. Pulang karena jam segitu papa dan mama si tuan rumah pulang dari tokonya yang di desa. Pulangnya saya naik becak atau jalan kaki. Saya lebih suka jalan kaki saja. Dari pecinan ke jalan bungur mungkin cuma 15 menit jalan kaki. Saya ingat, saat itulah saat yang terasa aneh. Baru saja kita bisa tertawa bersama, bicara bersama, kini semuanya terasa sepi. Hati ini terasa kosong. Waktu itu semua toko di Bondowoso waktu itu sudah tutup jam 20.00. Jalanan gelap, belum lagi kalau pas hari itu ada pemadaman bergilir. Saat itu kesendirian terasa aneh bagi saya. Perasaan kosong dan sepi menggantikan suasana meriah bersama teman-teman tadi.
Kejadian itu terus berulang, Tidak ada kejadian istimewa apa-apa. Yang ada cuma saya mulai mengikuti pelayanan di gereja dan dalam suatu acara camp saya pernah menjawab tantangan untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Kemudian saya mengikuti kateksasi dan dipermandikan.Tidak ada apa-apa yang terjadi, tetapi perasaan sepi dan kosong itu benar-benar sudah tidak pernah datang lagi. Seberat apapun perasaan saya, saya tidak pernah merasa sepi dan kosong lagi.
Sebenarnya, cerita ini tidak pernah terpikir sebelumnya. Sampai pada suatu hari, beberapa tahun silam, saat anak saya mulai ikut sekolah minggu. Hari itu sepulang sekolah minggu anak saya mengulang lagu yang diajarkan oleh guru sekolah minggunya. Kira-kira bunyinya: "seperti donat, seperti donat..... hati yang tidak mengenal yesus.... ada lubang di tengahnya....." (ada yang tahu kata-kata persisnya?)
Kini donatnya sudah jadi donatnya Jco, tengahnya buntu!
Saya bangun sekitar jam 5 an, setelah itu saya sibuk menyiapkan bekal untuk kedua anak saya, Sylvie sudah bangun jam 4.30an dia mencuci beras lalu menyalakan rice-cooker kemudian ditinggal ke pasar. Saya dirumah, menyiapkan minum dan tas bekal anak saya. Setelah itu membangunkan mereka, menyuruh mereka mandi, pakai seragam dan sarapan. Kadang mereka makan nasi, kadang roti, kadang rotinya di panggang, kadang cuma minum cereal atau susu atau milo. Saya menikmati hal itu, karena cuma itu yang bisa saya lakukan dengan rutin untuk anak saya, juga karena sehari-hari saya balik kerumah sudah cukup malam. Dulu nenek saya melakukan hal ini juga bagi saya dan saudara-saudara saya.
Sampai sekitar jam 6.15 mereka sudah harus berangkat. Saat itulah semua hal indah selalu saya nikmati. Ketika rumah sudah sepi antara jam 6.30 sampai jam 7.30 (jam dimana telpon sudah akan banyak berbunyi). Biasanya saya duduk dilantai, berdoa, baca alkitab. Saya malas kalau harus baca alkitab pakai buku panduan. Saya baca urut saja dari kejadian sampai wahyu dan terus berulang. Satu hari satu pasal saja. Syukur kalau dapet yang pendek. Kalau dapet yang mazmur 119 ya..... mau apa lagi. Syukur kalau baca yang bisa direnungkan. Kalau pas baca bilangan dan yang ada cuma ukuran-ukuran dan silsilah keluarga.... ya... endak apa-apa juga. Entah sudah berapa kali saya katam (ini kalau istilahnya muslim). Kebiasaan ini sudah berjalan mulai sekitar kelas 3 SMP. Setiap hari kecuali minggu dan pas keluar kota. Bukannya males bawa alkitab, tapi saya sendiri kehilangan kesendirian dan kesunyian saya. Setelah itu saya baca koran atau baca buku atau melamun.
Banyak penyelesaian masalah yang saya hadapi sehari-hari, diperoleh pada saat-saat itu. Dalam kesendirian itu, banyak simulasi percakapan dan diskusi dan perdebatan saya nikmati. Semuanya, dari hal yang baik sampai yang jahat. Perdebatan tentang complain customer, pengaturan penawaran, perdebatan dengan majelis....juga ada. Saat-saat itu saya mensimulasikan semua perdebatan yang mungkin terjadi. Kalau saya jawab begini, mereka akan jawab bagaimana? Kalau dijawab begitu, saya harus menjawab apa? Dalam kesendirian itu semua "flow chart" dan "road map" tercipta. Dan itu hasil yang saya ingat untuk bekal menghadapi hari-hari saya. Kerangka tulisan ini pun hadir pada saat-saat itu. Lamunan itu memang banyak menghabiskan emosi. Ada yang membuat marah, tersenyum bahkan menangis. Itulah jam-jam indah saya dalam kesendirian.
Saya punya customer pabrik rokok besar yang kalau meminta saya datang, selalu saya yang harus menunggu mereka. Mungkin ini strategi mereka untuk bisa dianggap penting. Saya tidak pernah merasa takut untuk menunggu. saya bisa baca buku, baca ebook, mendengarkan audiobook, ataupun kalau semuanya tidak memungkinkan, saya masih bisa melamun. Saya lebih senang menunggu sendirian dari pada ada orang yang menemani dan mengobrol basa-basi. Dalam lamunan saya bisa memikirkan banyak hal. Kesendirian dan kesunyian itu benar-benar bisa saya nikmati dan manfaatkan. Saya pernah mendapat order cukup besar hanya karena saya disuruh datang jam 11 siang dan baru ditemui jam 3 sore. Saat itu saya isi dengan baca buku. Mungkin bos itu kasihan liat saya......
Kesendirian dan kesunyian itu juga yang membuat saya betah di GKI. Saya lebih memilih ikut misa di kathedral dari pada ikut kebaktian di bethany. Lha, saya endak tahu bagaimana menikmati jingkrak-jingkrak itu. Kalaupun dulu saya sering ke diskotek.. ya saya cuma duduk ngobrol atau ya ngelamun saja. Selama tidak ada orang yang mengajak saya bicara, saya bisa "suppress the ambient" suasana hingar bingar itu. Kesendirian itu sungguh lebih nikmat bagi saya.
Apa benar saya terlahir begini?
Saya sangat suka berteman, banyak teman saya dan banyak yang saya lakukan bersama teman-teman. dulu waktu SMP, saya diajak ikut les. Saya sebenarnya malas,karena saya merasa nilai saya sudah cukup baik. Tapi karena di tempat lesnya ada meja pingpong dan anak yang punya rumah itu sangat "menarik", maka saya ikut les itu. Les inggris dengan buku 999. Semua ada enam buku dan kita selesaikan semuanya. Bukan lesnya yang menarik, tapi main pingpong dan "anak" itu yang membuat kita bisa selalu kompak. Menyenangkan sekali. Lesnya jam 18.30 sampai 19.30. Kita sudah datang jam 17.30 an dan pulang jam 20.15an. Pulang karena jam segitu papa dan mama si tuan rumah pulang dari tokonya yang di desa. Pulangnya saya naik becak atau jalan kaki. Saya lebih suka jalan kaki saja. Dari pecinan ke jalan bungur mungkin cuma 15 menit jalan kaki. Saya ingat, saat itulah saat yang terasa aneh. Baru saja kita bisa tertawa bersama, bicara bersama, kini semuanya terasa sepi. Hati ini terasa kosong. Waktu itu semua toko di Bondowoso waktu itu sudah tutup jam 20.00. Jalanan gelap, belum lagi kalau pas hari itu ada pemadaman bergilir. Saat itu kesendirian terasa aneh bagi saya. Perasaan kosong dan sepi menggantikan suasana meriah bersama teman-teman tadi.
Kejadian itu terus berulang, Tidak ada kejadian istimewa apa-apa. Yang ada cuma saya mulai mengikuti pelayanan di gereja dan dalam suatu acara camp saya pernah menjawab tantangan untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Kemudian saya mengikuti kateksasi dan dipermandikan.Tidak ada apa-apa yang terjadi, tetapi perasaan sepi dan kosong itu benar-benar sudah tidak pernah datang lagi. Seberat apapun perasaan saya, saya tidak pernah merasa sepi dan kosong lagi.
Sebenarnya, cerita ini tidak pernah terpikir sebelumnya. Sampai pada suatu hari, beberapa tahun silam, saat anak saya mulai ikut sekolah minggu. Hari itu sepulang sekolah minggu anak saya mengulang lagu yang diajarkan oleh guru sekolah minggunya. Kira-kira bunyinya: "seperti donat, seperti donat..... hati yang tidak mengenal yesus.... ada lubang di tengahnya....." (ada yang tahu kata-kata persisnya?)
Kini donatnya sudah jadi donatnya Jco, tengahnya buntu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar