Kira-kira itu tahun berapa ya? Pasti sekitar 1991-2an. Abad yang lalu. KPR dulu punya proyek desa binaan, padahal apanya yang mau membina, lha wong kita cuma segerombolan anak muda yang kumus-kumus. Dipilihnya Sendang Biru, bisa jadi karena disana desa yang mayoritas kristen, juga bisa jadi kita ikut-ikutan Pelayanan Mahasiswa (Pelma). Pelma adalah pelayanan bersama antara GKI dan GKJW, dua minggu sekali bergantian mengadakan kebaktian mahasiswa di GKI Ngagel dan GKJW Ngagel. Pembinanya Pak Abdi Widyadi (Pak Nyok) dan Pdt. Art Verburg. Mereka punya acara sosial disana, menanam pohon mangga dan penyuluhan. Saya dan beberapa teman aktif di Pelma seperti: Rahmat, Nanang, Joko Sibarani, Niske (malah dapet belahan jiwanya) , jadinya mungkin kita ketularan ikut-ikutan memilih sendang biru.
Waktu itu KPR ingin mengadakan Camp yang lain dari biasanya. Biasanya kita camp di tempat camp/retreat yang sudah ada. Semacam di penginapan, kala itu kita coba dengan hal yang laen. Kita mau berkemah. Acaranyapun beda. Saya bukan orang yang percaya pada pembinaan instan. Saya tidak pernah percaya pada camp pembinaan. Saya percaya pada camp hura-hura. Karena melalui hura-hura yang bukan huru-hara, saya pasti dapat membina hubungan. Hubungan yang akrab akan memungkinkan kita membina mereka di pertemuan rutin. Kita mulai dari camp, menangkap mangsa kemudian menjinakkannya di persekutuan doa. Strategi ini yang saya percayai.
Acara disusun oleh seksi acara, siapa ya waktu itu? Tirtaning? Sepenuhnya saya tidak terlalu ikut-ikutan disisi isi acara, saya hanya memonitor di bentuk acara. Persiapan kita cukup matang. Sampai pada seminggu menjelang acara. Kita belum dapat ijin keramaian, karena kita mau berkemahnya di lapangan desa. Tirtaning yang mengurus perijinan itu, sampai 3 hari menjelang acara, ijin dari kepolisian polres malang (yang di kepanjen) belum didapat juga. Tirta memang sudah ke sana mengurusnya, tapi rasanya petugasnya yang tidak ada ditempat. Saya tetap pada pendirian, kita terus saja. Pertimbangan saya, jumlah kita tidak terlalu banyak, mungkin 50 an. Kita juga direstui oleh pendeta GKJW setempat, dan desa itu mayoritas kristen jadi... pasti pendeta adalah sosok yang disegani.
Seorang ibu Majelis Penghubung KPR bilang, "Daniel, Tante berdoa agar ijinnya tidak keluar!" Syukurlah ada Ibu Majelis yang Baik. Minimal dia Ibu yang baik, karena pasti dia gemetar karena 3 anak gadisnya sudah mendaftar Camp itu. Mana ada Ibu yang tega 3 anak gadisnya bakalan terlunta-lunta di desa. Jauh dari kamar dan rumah yang bersih dan teratur. Untunglah ada Tuhan yang lebih baik, Tuhan yang mampu melihat kebaikan yang hakiki. Ketulusan dan kebaikan yang ada di hati tiap Panitia Camp. Sungguh, semua panitia dan pengurus benar-benar mempersiapkan acara ini dengan baik. Sebelum berangkat ada technical meeting, peserta diberi tahu keadaan yang sebenarnya. Informasi akan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.
Acarapun berlanjut, ketiadaan ijin keramaian dari kepolisian menjadi rahasia kita. Tidak boleh keluar, saya yang bertanggung jawab. Bukannya sok, tapi begitulah kita.
Camp inipun dimulai. Tim pionir berangkat duluan, mereka menyiapkan 3 tenda besar. Satu tenda putra, satu tenda putri dan satu tenda untuk pertemuan. Acaranya pun berjalan lancar, ada pertemuan, ada bakti sosial. Kita membangun lapangan Voli di samping gereja. Kita bekerja bersama pemuda gereja setempat. Disini kita tidak membina lewat ceramah, tapi lewat kehidupan dan aktivitas kehidupan yang sebenar-benar. Disana tidak ada WC umum yang memadai untuk kita semua. Didekat lapangan hanya ada sumber air tempat warga desa sana mandi dan mencuci. Tidak ada bangunan permanennya. Tidak ada kamar mandi berpintu dan beratap yang permanen. Di technical meeting, kita sudah tekankan bahwa tidak boleh ada yang ngintip orang mandi. Hidup kita akan menjadi sorotan orang desa sana. Sampai berita ini diturunkan, tidak ada laporan: ada yang mengintip sesamanya saat mandi. Memang ada selentingan ada seorang remaja yang berusaha untuk mengintip, memang dia berwajah "mesum" (sori, bukannya mendakwa, tapi cuma meminjam istilahnya extravaganza). Tapi rasanya itu juga masih isu.
Walaupun kita tidur bersama se tenda, tidak ada peserta yang melaporkan kehilangan harta bendanya. Cuma satu laporan kehilangan, seingat saya: Jane. Dia kehilangan arloji, tapi itupun ketinggalan saat mandi, jadi bisa juga "diamankan" oleh penduduk setempat. Rasanya peserta memang benar-benar belajar untuk bertanggung jawab bagi sesamanya. Jangan dipikir saat itu anak KPR alim-alim, kalau ketuanya aja "urakan" apa lagi gerombolannya. Tapi sekali lagi, melalui camp ini kita berlatih untuk saling menghargai dan bertanggung jawab.
Acara dan suasana berjalan dengan aman dan terkendali, kita rencananya 3 hari 2 malam. Sampai pada sore terakhir. Sore itu ada beberapa orang yang mendatangi kami, mereka mau bermain bola, karena katanya memang ada rencana pertandingan sepak bola antar desa sore itu. Karena lapangannya kita pakai untuk acara berkemah, mereka balik dengan kecewa. Celakanya, dari beberapa teman pemuda gereja sana, katanya mereka ini kecewa berat. Kemudian ada yang menyampaikan bahwa orang-orang itu marah dan akan menyerang membubarkan kita. Saya kumpulkan beberapa teman panitia. Ada Bowo, Glorius, Gandung ..... dan beberapa teman lain. Kita sepakat untuk merahasiakan hal ini. Kita juga menyusun rencana bila hal itu terjadi, rencana evakuasi peserta ke rumah Pak Pendeta. Acara malam itu talent show. Semua harus berjalan sesuai rencana. Seksi acara tetap harus melaksanakan tugas seperti tidak ada apa-apa. Berita ini tidak boleh bocor ke peserta. Saat acara berlangsung, beberapa diantara kita berjaga-jaga. Suasana malam di desa yang gelap gulita itu mencekam kita. Kegelapan itu juga memungkinkan kita untuk bisa melihat bila ada kendaraan yang akan datang. Katanya mereka akan membuyarkan acara kita dengan datang pakai truk. Kita harus siap kalau memang mereka menyerang. Gandung memegang pisau besar yang dibawanya untuk kerja bakti. Glorius bawa palu, saya bawa kayu bakar yang cukup besar. Juga beberapa teman lainnya dengan persenjataannya. Kita sempat guyon: "Eh, kalau memang benar mereka dateng, apa kita berani memukul mereka?" Gandung bilang, "rasanya aku kog ya endak tega kalau mbacok orang...." Petang itu. sementara acara berlangsung, api unggun dan talent show, kita berjaga-jaga dan berdoa. Benar, saya berdoa, karena kalaupun kita bawa kayu dan senjata, tapi siapakah kita dibandingkan orang desa yang kekar-kekar itu? Setiap ada sorot lampu mobil mendekat, saya was-was.
Syukurlah, sampai acara berakhir, tidak ada kejadian apa-apa. Acara camp itu sukses. Kita mampu berlatih tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Ketika balik ke Surabayapun, kita sepakat untuk merahasiakan kejadian ini. Kita takut menjadi bumerang untuk perijinan acara sejenis di kemudian hari.
Suatu cerita tentang bagaimana kita bisa membina lewat kegiatan yang bukan pembinaan.
Waktu itu KPR ingin mengadakan Camp yang lain dari biasanya. Biasanya kita camp di tempat camp/retreat yang sudah ada. Semacam di penginapan, kala itu kita coba dengan hal yang laen. Kita mau berkemah. Acaranyapun beda. Saya bukan orang yang percaya pada pembinaan instan. Saya tidak pernah percaya pada camp pembinaan. Saya percaya pada camp hura-hura. Karena melalui hura-hura yang bukan huru-hara, saya pasti dapat membina hubungan. Hubungan yang akrab akan memungkinkan kita membina mereka di pertemuan rutin. Kita mulai dari camp, menangkap mangsa kemudian menjinakkannya di persekutuan doa. Strategi ini yang saya percayai.
Acara disusun oleh seksi acara, siapa ya waktu itu? Tirtaning? Sepenuhnya saya tidak terlalu ikut-ikutan disisi isi acara, saya hanya memonitor di bentuk acara. Persiapan kita cukup matang. Sampai pada seminggu menjelang acara. Kita belum dapat ijin keramaian, karena kita mau berkemahnya di lapangan desa. Tirtaning yang mengurus perijinan itu, sampai 3 hari menjelang acara, ijin dari kepolisian polres malang (yang di kepanjen) belum didapat juga. Tirta memang sudah ke sana mengurusnya, tapi rasanya petugasnya yang tidak ada ditempat. Saya tetap pada pendirian, kita terus saja. Pertimbangan saya, jumlah kita tidak terlalu banyak, mungkin 50 an. Kita juga direstui oleh pendeta GKJW setempat, dan desa itu mayoritas kristen jadi... pasti pendeta adalah sosok yang disegani.
Seorang ibu Majelis Penghubung KPR bilang, "Daniel, Tante berdoa agar ijinnya tidak keluar!" Syukurlah ada Ibu Majelis yang Baik. Minimal dia Ibu yang baik, karena pasti dia gemetar karena 3 anak gadisnya sudah mendaftar Camp itu. Mana ada Ibu yang tega 3 anak gadisnya bakalan terlunta-lunta di desa. Jauh dari kamar dan rumah yang bersih dan teratur. Untunglah ada Tuhan yang lebih baik, Tuhan yang mampu melihat kebaikan yang hakiki. Ketulusan dan kebaikan yang ada di hati tiap Panitia Camp. Sungguh, semua panitia dan pengurus benar-benar mempersiapkan acara ini dengan baik. Sebelum berangkat ada technical meeting, peserta diberi tahu keadaan yang sebenarnya. Informasi akan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.
Acarapun berlanjut, ketiadaan ijin keramaian dari kepolisian menjadi rahasia kita. Tidak boleh keluar, saya yang bertanggung jawab. Bukannya sok, tapi begitulah kita.
Camp inipun dimulai. Tim pionir berangkat duluan, mereka menyiapkan 3 tenda besar. Satu tenda putra, satu tenda putri dan satu tenda untuk pertemuan. Acaranya pun berjalan lancar, ada pertemuan, ada bakti sosial. Kita membangun lapangan Voli di samping gereja. Kita bekerja bersama pemuda gereja setempat. Disini kita tidak membina lewat ceramah, tapi lewat kehidupan dan aktivitas kehidupan yang sebenar-benar. Disana tidak ada WC umum yang memadai untuk kita semua. Didekat lapangan hanya ada sumber air tempat warga desa sana mandi dan mencuci. Tidak ada bangunan permanennya. Tidak ada kamar mandi berpintu dan beratap yang permanen. Di technical meeting, kita sudah tekankan bahwa tidak boleh ada yang ngintip orang mandi. Hidup kita akan menjadi sorotan orang desa sana. Sampai berita ini diturunkan, tidak ada laporan: ada yang mengintip sesamanya saat mandi. Memang ada selentingan ada seorang remaja yang berusaha untuk mengintip, memang dia berwajah "mesum" (sori, bukannya mendakwa, tapi cuma meminjam istilahnya extravaganza). Tapi rasanya itu juga masih isu.
Walaupun kita tidur bersama se tenda, tidak ada peserta yang melaporkan kehilangan harta bendanya. Cuma satu laporan kehilangan, seingat saya: Jane. Dia kehilangan arloji, tapi itupun ketinggalan saat mandi, jadi bisa juga "diamankan" oleh penduduk setempat. Rasanya peserta memang benar-benar belajar untuk bertanggung jawab bagi sesamanya. Jangan dipikir saat itu anak KPR alim-alim, kalau ketuanya aja "urakan" apa lagi gerombolannya. Tapi sekali lagi, melalui camp ini kita berlatih untuk saling menghargai dan bertanggung jawab.
Acara dan suasana berjalan dengan aman dan terkendali, kita rencananya 3 hari 2 malam. Sampai pada sore terakhir. Sore itu ada beberapa orang yang mendatangi kami, mereka mau bermain bola, karena katanya memang ada rencana pertandingan sepak bola antar desa sore itu. Karena lapangannya kita pakai untuk acara berkemah, mereka balik dengan kecewa. Celakanya, dari beberapa teman pemuda gereja sana, katanya mereka ini kecewa berat. Kemudian ada yang menyampaikan bahwa orang-orang itu marah dan akan menyerang membubarkan kita. Saya kumpulkan beberapa teman panitia. Ada Bowo, Glorius, Gandung ..... dan beberapa teman lain. Kita sepakat untuk merahasiakan hal ini. Kita juga menyusun rencana bila hal itu terjadi, rencana evakuasi peserta ke rumah Pak Pendeta. Acara malam itu talent show. Semua harus berjalan sesuai rencana. Seksi acara tetap harus melaksanakan tugas seperti tidak ada apa-apa. Berita ini tidak boleh bocor ke peserta. Saat acara berlangsung, beberapa diantara kita berjaga-jaga. Suasana malam di desa yang gelap gulita itu mencekam kita. Kegelapan itu juga memungkinkan kita untuk bisa melihat bila ada kendaraan yang akan datang. Katanya mereka akan membuyarkan acara kita dengan datang pakai truk. Kita harus siap kalau memang mereka menyerang. Gandung memegang pisau besar yang dibawanya untuk kerja bakti. Glorius bawa palu, saya bawa kayu bakar yang cukup besar. Juga beberapa teman lainnya dengan persenjataannya. Kita sempat guyon: "Eh, kalau memang benar mereka dateng, apa kita berani memukul mereka?" Gandung bilang, "rasanya aku kog ya endak tega kalau mbacok orang...." Petang itu. sementara acara berlangsung, api unggun dan talent show, kita berjaga-jaga dan berdoa. Benar, saya berdoa, karena kalaupun kita bawa kayu dan senjata, tapi siapakah kita dibandingkan orang desa yang kekar-kekar itu? Setiap ada sorot lampu mobil mendekat, saya was-was.
Syukurlah, sampai acara berakhir, tidak ada kejadian apa-apa. Acara camp itu sukses. Kita mampu berlatih tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Ketika balik ke Surabayapun, kita sepakat untuk merahasiakan kejadian ini. Kita takut menjadi bumerang untuk perijinan acara sejenis di kemudian hari.
Suatu cerita tentang bagaimana kita bisa membina lewat kegiatan yang bukan pembinaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar