Kail dan Ikan sering menjadi pertanyaan saat kita di gereja berdiskusi perihal program kerja bagi masyarakat.
Ikan sebagai lambang dari pemberian yang cuma kado dan yang akan habis dengan berjalannya waktu, pemberian yang siap pakai.
Kail sebagai lambang bagi pemberian yang tidak memanjakan si penerima, tetapi akan membuka peluang bagi si penerima untuk mampu mencari ikan sendiri.
Kita harus berpikir untuk bisa memberikan kail bagi masyarakat yang akan kita layani. Kita berpikir keras agar kita berhikmat untuk bisa memilah-milah mana kail mana ikan.
Tapi apa betul kita harus berpikir tentang kail dan ikan? Dan mengapa kita harus berpikir kail dan ikan? Tidak adakah point pemikiran lain yang lebih penting dari pemikiran Kail dan Ikan? Benar?
Saat gereja berpikir tentang kegiatan bagi masyarakat, apa yang ada di benak kita? Hanya dengan memberi? Hal yang penting kalau kita memang berminat dengan masyarakat kita, terutama yang miskin adalah apakah kita mau menjadi sesama bagi mereka? Gereja harus bisa menjadi sesama bagi mereka. Gereja harus membuka diri untuk bisa menerima mereka di dalam gereja. Ketika mereka masuk ke dalam gereja, disana mereka akan menemukan dengan sendirinya. Mereka bisa menemukan kail sekaligus ikan di dalam gereja. Yang jelas ikan dan kail itu akan langsung mereka rasakan.....
Bisa jadi kita memang harus berpikir tentang ikan dan kail, karena kita memang hanya mau memberi untuk mereka. Memberi dan bukannya menerima mereka untuk menjadi bagian kita. Kita seakan-akan sudah membangun tembok antara gereja dan masyarakat miskin itu. Dan saat gereja terpanggil untuk melayani masyarakat miskin maka yang terpikir adalah apa yang bisa kita lemparkan keluar tembok, kail atau ikan. Bukannya kita berpikir bagaimana meruntuhkan tembok itu.
Semakin seru perdebatan kail dan ikan, akan semakin bermanfaat bagi gereja. Karena gereja memerlukan itu untuk menghilangan perasaan bersalahnya pada masyarakat miskin. Gereja merasa bersalah karena katanya gereja harus berpihak pada orang miskin, tapi gereja terlalu suci dan bersih untuk bisa hidup bersama mereka. Gereja memerlukan program yang mirip politik etisnya penjajah Belanda dulu.
Yang dibutuhkan masyarakat adalah penerimaan gereja akan mereka. Tidak perlu kail tidak perlu ikan. Karena saat mereka di dalam gereja mereka bisa menemukan ikan dan kail sekaligus.
Kita akan berbantahan dengan berkata apa benar gereja membangun tembok terhadap masyarakat miskin. Bisa jadi saya yang mengada-ada. Tapi apa benar kita bisa bangga kalau kebaktian minggu kita bertambah penuh, tapi tambahannya adalah jemaat yang berbaju lusuh? Bisa menerimakah kita kalau ada komisi yang didominasi anak-anak miskin dan disana juga ada anak-anak kita?
Saat kita berbicara tentang masyarakat miskin..... yang penting adalah..... siapa mereka bagi kita? Obyek? Sesama? atau bukan apa-apa?
Masih mau kail atau ikan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar