19 Oktober 2008

Musuh Besar Saya

Saya mulai berdomisili lagi di Surabaya tahun 1987, selulus SMA. Saya tinggal di Kutisari, GKI yang paling dekat adalah GKI Jemursari, tetapi GKI yang paling mudah di jangkau dengan kendaraan umum adalah GKI Diponegoro. Itulah sebabnya saya ke GKI Dipo.
 
Saya tidak punya teman seorangpun di Surabaya, itulah yang membuat saya cepat bisa masuk pelayanan di GKI dipo. Saya senang bisa mendapat habitat baru di Surabaya. Banyak teman dan kegiatan yang bisa saya kenal. Saya pun diajak menjadi pengurus KPR (komisi Pemuda Remaja). Sampai suatu saat saya pernah dipercaya untuk 2 kali menjadi ketua KPR. Banyak hal indah yang pernah terjadi dan terus saya kenang. Salah satunya Judul diatas. Musuh Besar Saya. Saya menulis ini bukan untuk sesuatu yang negatif tapi bukti keindahan hubungan yang pernah terjadi di GKI Dipo yang benar-benar tiada taranya. Mengatasi segala rasa negatif yang mungkin pernah disalahtafsirkan.
 
Saya aktif di persekutuan doa KPR. Setiap sabtu sore jam 17.00 di gedung pertemuan, yang waktu itu masih jadi lapangan Badminton.Hal yang terindah mungkin bukan acara PD-nya, tapi kumpul-kumpul setelah acara itu. Kadang kita cangkruk di selasar gedung pertemuan itu. Guyonan. Tapi tidak berarti kita bisa cangkruk dengan leluasa. Karena saat PD bubar maka di balkon gedung gereja ada latihan Paduan Suara Efrata. Kita tidak tahu, apa salah kita. Tapi kita sering dimarahi oleh Derijen-nya. Katanya kita sering ribut dan mengganggu latihan mereka. Belum lagi kalau ada teman yang berani menyalakan sepeda motor dari depan gedung pertemuan, pasti gerombolan itu dimarahi. Biasanya Tjie Joung dengan Suzuki bebeknya, atau Andre Nagaginta, yang paling keras suaranya adalah RX-nya Anderson.
 
Hobi marahnya Derijen Efrata itu bukan cuma pada mereka yang cangkruk kurang kerjaan, tapi juga kalau sampai ada anak KPR yang berani mendekor gereja saat mereka latihan. Padahal mereka cuma mendekor dan mengejar waktu karena besok sudah harus siap untuk kebaktian atau acara khusus lainnya. Rasanya kalau Efrata latihan tidak boleh ada ganguan sedikitpun.
 
Saya sendiri tidak pernah sekalipun secara langsung dimarahi...... Tapi saya selalu jengkel karena merasa teman-teman itu tidak salah-salah amat.... Namanya juga anak muda.
 
Benih permusuhan itu mulai timbul dan dipupuk oleh berjalannya waktu. Ternyata senior-senior saya di KPR juga punya benih permusuhan dengan Efrata. Jadilah mereka memupuk saya juga. Saat mulai didengungkannya ide bahwa semua PS harus masuk di mugrej, saya ditekan oleh para senior dan perasaan negatif itu untuk menolak ide itu.... karena mugrej katanya identik dengan Efrata. Walaupun sebenarnya saya juga tidak tahu menahu dengan anggota Efrata yang lain.... yang saya lihat... ya....Pak Derijen Efrata itu saja... Waktu itu saya juga punya prinsip bahwa Mugrej bukan cuma harus mengurusi PS. Menurut saya Mugrej harus mengurusi semua yang berkaitan dengan musik gereja... Ya Vokal Group, Ya... group musik. Di sini Pak Derijen itu tidak sepakat dengan saya. Malah dia bilang kalau gereja itu memegang supremasi musik dunia. Dan musik itu yang nomer satu ya... Paduan suara, bukan VG. Malahan dia agak memandang rendah PS KPR yang biasanya nyanyi dengan minus one (kayak karaoke-an). Saya sempat bilang kalau tugas gereja itu tidak ada hubungannya dengan memegang supremasi musik..... Saat itulah saya mulai kumat sombongnya. Karena saya merasa dia cuma bisa marah tapi tidak kuat di konsep.
 
Waktu terus berjalan dan rasanya selalu ada sekat antara KPR dan Efrata. Sampai suatu saat saya mendatangi Pak Budi Arlianto secara pribadi di bangku depan di dekat meja tempat sampul persembahan bulanan. Saya bilang apa yang  bisa saya lakukan untuk mencairkan hubungan yang ada... Di jawab:.... Lho... khan tidak ada masalah apa-apa... Ya...saya sendiri tidak bisa melanjutkan diskusi itu. Saya tidak tahu bagaimana cara memecahkan kebuntuan yang ada.
 
Bertahun-tahun kemudian saya mulai jarang melihat Pak Budi, tapi benih itu sudah kadung tumbuh di hati saya. Tumbuh bagaikan ilalang bersama gandum kayak kotbah pak Josafat minggu yang lalu. Waktu jadi operator LCD, saya sering jengkel sama Efrata. Bisa jadi karena sudah ada benih itu. Efrata sering memberikan file teks lagu yang akan dinyanyikan beberapa menit sebelum kebaktian dimulai. Tapi karena yang memberikan flash disk seorang anak muda.... ya... saya endak berani nylatu dia. Bukan takut sama orang tuanya (ampun pakk ampuuunn) .... tapi saya takut menularkan permusuhan ini ke generasi berikutnya. Biarlah saya dan generasi ortunya yang bermasalah.... Suatu saat, waktu saya tugas operator, ada seorang muda sebaya saya, berseragam bagus, dan nitip flash disk untuk minta ditayangkan saat mereka menyanyi. Saat itu saya langsung berpikir bahwa dia ini antek-antek Efrata, nah ini kesempatan marah! Langsung saya bilang, " lho pak, harusnya khan sudah diserahkan hari Rabu. Bukan sekarang!" Bapak itu sabar dan bilang maaf, saya pun menyisipkan tayangan itu. Saat ditayangkan, baru saya tahu kalau mereka dari GKI Ressud bukan Efrata. Wah, saya merasa sangat bersalah dan langsung turun minta maaf sama Bapak itu.
 
Beberapa bulan yang lalu  saat saya selesai pelayanan Beasiswa, saya iseng melongok ke dalam gereja. Ada pemandangan yang mengejutkan: Pak Budi Arlianto melatih PS Pemuda Remaja. Ah, rasanya saat itu saya langsung ingat akan penggenapan nubuatan Yesaya: Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama......... GILBEN! Gila bener! Saya berpikir syukurlah.... jaman sudah berubah, perasaan sayapun juga sudah waktunya berubah.
 
Beberapa saat lalu saya hadir di  penghiburan bagi Keluarga Almarhum Bp. John Ekasuryantara di GKI Pondok Tjandra bersama Mama Mertua saya. Mama Mertua saya adalah teman semenjak SMA dengan Pak John dan Bu Wieke. Mereka sangat akrab jadi saya mengantar Mama Mertua ke acara itu. Kita duduk di bangku kedua dari depan. Dan Pak Budi Arlianto pas duduk di depan saya. Mama Mertua saya bilang, " rasanya koq kenal orang ini (maksudnya Pak Budi)". Saya bilang: "ya... katanya sih anaknya Pendeta di Bondowoso..." "Siapa?" "Ya, Mama tanyako dewe." Mungkin saya memang bukan mantu yang baik. Untunglah kemudian datang Pak Simon duduk di sebelah Pak Budi. Pak Simon yang memperkenalkan, " Ini lho orang Bondowoso!" Lalu terjadilah perbincangan antara pak Budi dan Mama Mertua saya. Dan ternyata mereka memang saling mengenal karena Pak Budi pernah tinggal di Bondowoso. Perbincangan terus berjalan sampai Pak Budi berkata:"Teman di Bondowoso yang masih saya ingat yaitu: Hwie Gie". Mama mertua saya langsung bilang; "Lha ini lho anaknya...." sambil menunjuk saya.
Ah, GILBEN lagi! Gila bener! Kalau saja dari dulu saya tahu Pak Budi teman almarhum Papa saya, mana berani saya punya perasaan yang aneh-aneh tentang dia.
 
Sejak saat itu, beberapa kali saya bertemu Pak Budi. Saya menyapanya, rasanya dia membalas sapaan saya dengan senyum yang sangat indah. Bisa jadi senyumnya tetap sama seperti tahun-tahun yang lalu, tapi mungkin format hati saya yang sudah berubah.......(makanya perlu defragmented...)
 
Salam hormat saya buat Pak Budi Arlianto.
 
Ampunilah saya,
Daniel T. Hage

Tidak ada komentar: