Semua komisi dan bidang sudah memasukkan program kerjanya. Tim program pasti bekerja keras untuk mengolahnya. Banyak masukan dan keinginan yang sudah akan dilaksanakan untuk tahun depan. Banyak "Laskar Pajang" yang katanya boleh tetap punya impian. Banyak juga "kehendak Bohir" yang harus dilakukan.
Saya tidak ingin mencampuri semua pihak yang sedang bekerja dan berharap. Saya hanya duduk sebagai penonton yang bisa berkomentar dengan bebas. Apa yang akan banyak kita dengar? Kondisi perekonomian global yang melesu? Bagaimana dengan rencana pemasukan kita tahun depan? Beranikah kita berharap bahwa pemasukkan kita akan mencukupi untuk membiayai semua impian kita?
Seorang teman saya acap berkoar-koar,"Kita ini khan anak, kita buat saja daftar segala kebutuhan kita, lalu kita minta sama Bapa kita yang empunya jagad raya ini" "Masak Ia tidak akan mencukupkan kita?" Sebagai teman yang baik, saya menghargai dia dengan jawaban, "KCL!" Kacian Deh Lu! Idenya tidak laku! Selalu saja dia diingatkan bahwa kita sudah diberi otak sama sang Bapa. Kita harus punya hikmat untuk memikirkan dan merencanakannya. Maka jadilah kita selalu memikirkan dan merencanakan pemasukan kita.
Kalau kita ini perusahaan, maka perencanaan pemasukkan akan berkaitan erat dengan penjualan produk kita. Dengan proyeksi nilai penjualan kita, kita akan tahu berapa pemasukan kita. Bagaimana dengan kita? Apa produk yang kita jual dan apa usaha kita untuk meningkatkan pemasukan kita melalui pendekatan produk kita? Apakah tidak satupun yang akan kita lakukan untuk memperbesar pemasukkan kita? Kita berharap dengan pasif, tetapi kita punya target. Kita bagaikan duduk menunggu jatuhnya daun dewa ndaru di Gunung Kawi, ketika daun itu kita dapat, kita pulang dengan damai. Mengapa kita tidak mengguncang pohon itu atau memanjatnya untuk memetik daunnya? Takut kualat? Atau kita yang tidak tahu kalau kita bisa berbuat begitu?
Kalau kita mau berpikir dan merencanakan pemasukkan kita, mari kita definisikan produk kita sebagai gereja. Jangan terbawa untuk mendefinisikan dengan vulgar, misalnya keselamatan atau masuk surga, nanti kita bisa kena tempelak sama Martin Luther lagi. Tapi misalnya bila kebersamaan dan kekeluargaan dan misi keluarga dalam bergereja menjadi salah satu produk kita, maka kita bisa menjualnya itu ke jemaat kita. Kita bilang ke jemaat, kita bisa menjalin keakraban dan kekeluargaan diantara kita. Kita bisa mengajak jemaat untuk membiayai program kita itu. Contohnya, saat Kopi Darat itu sebagai produk bisa didefinisikan dan dijual, maka berapa banyak dari kita yang mau membayar mahal untuk pencapaian tujuan acara itu? Kita sudah pernah melakukan dan berhasil, kita hanya perlu keberanian untuk melakukan dengan skala yang lebih besar.
Memikirkan dan merencanakan pemasukan kita? Benarkah itu?
Jangan-jangan yang kita lakukan bukan memikirkan dan merencanakan untuk mencukupkan segala kebutuhan kita, tetapi malah merencanakan untuk "membatasi" penerimaan kita.
Kalau kita memang sungkan untuk meminta pada Bapa kita, mengapa kita tidak berusaha dengan kekuatan kita (dan ini serius), seperti Yakub yang berani berkelahi melawan malaikat Tuhan. Apa jadinya kalau kita enggan berdoa tapi juga enggan "berkelahi"?
Berdoa atau berjuang? Bagi yang males mikir, jawabnya pasti kedua-duanya. Tapi..... jujurlah..... ini benar-benar pilihan dan keduanya benar asal serius.
Tulisan ini tidak bermaksud mempertentangkan doa dan usaha kita. Marilah kita melihatnya sebagai talenta yang kita punyai, bagi yang bertalenta berdoa, doakanlah kami yang berusaha. Bagi yang memang bertalenta untuk bekerja, berjuanglah karena ada kami yang selalu mendoakan anda.
Salam,
Daniel T. Hage
Tidak ada komentar:
Posting Komentar