Duit itu suatu yang penting di kegiatan pelayanan ini. Duit bisa membuat suatu pelayanan jadi berjalan baik, duit juga bisa menjungkalkan si pelayan. Duit memang penuh dinamika dengan segala daya tariknya. Tapi duit cuma benda yang harusnya bisa diatur oleh manusia. Apalagi kalau itu manusia-manusia yang sudah masuk di kegiatan pelayanan. Duit harus tunduk pada manusia, karena manusia tahu bagaimana harus bersikap terhadap duit. Saya ingin berbagi bagaimana duit harus dikelola sebagai pelaku pelayanan di lingkungan gereja.
Semua pelayanan butuh duit, dan semua pelaku pelayanan bisa jadi pernah dipegangi duit untuk dikelola dalam pelayanan yang dipercayakan kepadanya. "Saya bukan ahli keuangan!" itu yang bisa diutarakan saat ada yang diberi wewenang untuk mengelola duit pelayanan. Alasan itu muncul bisa jadi karena tidak tahu bagaimana harus membagi dan membuat laporan pertanggungjawaban duit itu nantinya. Bentuk laporannya bagaimana ya? Kalau ini yang menakutkan, jawabannya mudah. Laporan keuangan itu esensinya adalah akuntabilitas. Keterbukaaan untuk bisa dilacak dan diperiksa, kemampuan untuk bertanggungjawab. Jadi kalaupun tidak mengerti cara menyajikan laporan keuangan, tapi asal bisa bertangung jawab di tiap rupiah yang dipercayakannya, itulah akuntabel. Menyajikan laporan keuangan itu nomer kesekian, nomer utama adalah dasar pertanggungjawaban yang menjadi modal laporan itu. Dasarnya cuma sesederhana semua bon-bon pengeluaran atau pembelian dan catatan-catatan bukti siapa yang menerima uang dan bukti untuk apa uang itu diberikan. Dasarnya cuma disiplin untuk bisa bertanggungjawab. Cara bertanggungjawab di keuangan adalah dengan memberikan bukti transaksi yang ada. Sekarang tiap transaksi ada struknya, tiap penerima uang bisa dimintai tanda tangan sebagai bukti penerimaan duit itu. Akuntabilitas di pelayanan ini cuma sesederhana mengumpulkan semua bon pengeluaran, dan mencatat semua detil tanggal dan siapa pengguna duit itu. Tahap berikutnya memang menuangkannya di dalam laporan keuangan. Tapi dengan dasar bukti transaksi yang rapi, itu sudah langkah tepat dalam bertanggungjawab.
Duit di pelayanan ini adalah berasal dari jemaat, yang harus dipertanggungjawabkan balik dengan mutlak. Bisa jadi suatu kegiatan pelayanan belum tersedia duitnya. Pelaksana kegiatan itu juga jadi terbebani untuk mencari duit mendanai kegiatannya sendiri. Hal yang mendasar di sini adalah bahwa siapapun yang mencari dana, ia membawa nama gereja. Siapapun penyumbangnya, ia menyumbang untuk gereja. Jadi semua uang yang didapat adalah uang gereja dan harus masuk melalui rekening gereja. Siapapun pencari dananya tidak boleh dengan bebas langsung memakai dana perolehan itu tanpa tercatat di pembukuan gereja. Ini juga demi nama baik pencari duit itu, bahwa semua duit dan natura itu adalah untuk pelayanan gereja. Donatur akan merasa nyaman bila tahu bahwa duitnya sudah ada di gereja dan gereja sanggup memanfaatkannya dengan baik. Ini bukan uang hasil usaha pribadi. Ada prinsip bahwa tidak boleh ada pelayan yang mencuri kemuliaan.
Saya tidak rapi dan saya tidak pernah minta bon untuk tiap pembelian saya? Masak saya naik becak minta bon? Kenapa koq tidak naik ojol saja, ini pasti ada struknya yang akuntabel! Kita khan harus kasihan dengan tukang becak… Kalau karena kasihan, maka bantu mereka mempersiapkan bonnya, minta tanda tangannya atau foto uangnya. Kan malah repot? Membantu orang memang akan merepotkan dan menambah kerjaan, tapi di sana ada nilai kasih itu. Membantu orang bukan cara mencuci salah agar bisa tidak rapi dan tidak akuntabel. Jangan sok suci dengan menutupi kenakalan dengan yang katanya perbuatan baik.
Duit memang menarik untuk dinikmati, dan disinilah kedewasaan dan kemurnian diuji. Tolok ukur cara pandang akan duit akan menjadi tolok ukur kualitas yang dipertontonkan. GKI menjunjung tinggi ketulusan dan kejujuran dalam mengelola duit yang dipercayakan pada tiap insan GKI. Semuanya bukan untuk kemuliaan GKI atau pribadi, tapi segala kemuliaan adalah untuk Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar