26 April 2022

Bebal

Saya harus menghabiskan banyak waktu keseharian saya di dalam mobil. Waktu-waktu yang sayang kalau terlewatkan begitu saja. Tadinya saya mengisinya dengan mendengarkan musik atau radio, lalu saya menemukan CD drama Alkitab terbitan LAI, yaitu Alkitab yang dibacakan. Ada tiga CD, dua Perjanjian Lama dan satu Perjanjian Baru. Nah tiga CD ini yang sehari-hari saya putar. Mendengarkan bacaan Alkitab secara berurutan, jadi asyik juga karena banyak perikop yang bila dibaca sebagian-sebagian tidak nampak hubungannya dengan kisah-kisah sebelumnya atau setelahnya. Juga semua bagian Alkitab  jadi bisa terbaca. Entah sudah beberapa kali CD itu terputar. Asyik, apalagi kalau itu yang perjanjian lama, seperti mendengarkan Guru Sekolah Minggu mengajar.

Ada bagian-bagian Alkitab yang saya miris untuk mendengarkannya ulang, selalu ingin skip saja untuk bagian-bagian itu. Ada kisah tentang Yefta dan anak gadisnya, yang lebih miris lagi kisah tentang Simson dan Delila, kisah akhir hidup Simson. Saya miris mendengar ulang kisah Simson, yang selalu bermasalah dengan para wanita yang diperistrinya. Bisa jadi memang itu jalan Tuhan yang dijalaninya, tapi apa harus begitu ya? Saya miris dengan rayuan wanita yang menyebabkan Simson tertangkap dan matanya dibutakan. Miris!

Ada juga kisah Raja Saul yang diakhir hidupnya ditolak oleh Tuhan. Juga Raja Salomo, dan banyak rentetatan nama Raja-Raja yang melakukan kejahatan di hadapan Tuhan. Mereka raja, mereka orang yang punya pendidikan khusus, kemampuan berpikir tersendiri bahkan juga anugerah hubungan dengan Tuhan yang lebih dari rakyat biasa. Segalanya ada bagi seorang raja, tapi kenapa ia tertolak oleh Tuhan karena kelakuannya, apa lagi yang dimauinya? Saya jadi berpikir tentang judul itu. Bebal. Sifat ini hadir dan bebal ini yang membuat kondisi tidak berubah membaik. Simson adalah pemimpin dengan jabatan Hakim karena raja belum ada saat itu. Raja dan pemimpin yang bebal! Ada lagi Imam Eli dengan Hofni dan Pinehas anak-anaknya.

Saat Raja dan para pemimpin itu ada di pucuk pimpinan, makin sedikit orang yang bisa berpadanan menasehatinya. Saat posisi tinggi itu tercapai, makin besar kuasa dan rasa percaya diri yang terbentuk. Segala tindakannya makin sedikit yang bisa mengevaluasinya. Makin tinggi posisi posisi keagamaan itu seakan makin mendekatkan pada Tuhan dan bisa jadi makin merasa CS dan akrab dengan Tuhan. Makin merasa akrab, bisa jadi membuat makin peka atau malah makin menyepelekan. Karena merasa akrab maka Tuhan bisa jadi terasa makin mau menerima kebusukan dan kenakalan. Di sini bebal itu mulai bersemi. Saat di puncak saya bisa jadi bebal dari ingatan bahwa Tuhan itu kudus dan suci yang  mengharuskan segala kebaikan itu tetap dijalani. 

Bebal itu saat saya mulai menyepelekan keharusan akuntabel dalam laporan keuangan. Bebal itu saat saya gagal berdisiplin diri padahal menikmati orang lain yang dituntut untuk disiplin. Bebal itu saat saya kehilangan kepekaan untuk pembaharuan budi yang katanya menjalani panggilan kehidupan ini. Saat posisi tinggi itu berpotensi menumbuhkan bebal, ada Raja Daud yang beberapa kali berdoa: "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku". Saat Tuhan tetap diajak hadir menyelidiki dan menguji relung-relung hati ini, niscaya ada suara yang bisa mengusik dan menyingkirkan bebal ini.

Tidak ada komentar: