Banyak kali di tiap rapat, di tiap perbincangan, ada permintaan tentang “data”. Saat pengambilan keputusan akan dilakukan, biasa ditanyakan, “Bagaimana datanya?” Dengan data, saya bisa mengambil keputusan. Dengan data memang ada keputusan yang bisa saya ambil dengan mudah dan terasa tepat. Ada data sebagai dasarnya.
Bila keputusan itu adalah hasil sebuah pertanyaan sederhana, tersedianya satu data cukup bisa menyelesaikan masalah. Saya mau beli laptop, data yang saya perlu hanya apakah saldo uang saya cukup? Satu data bisa menjawab persoalan yang muncul. Namun ada banyak masalah yang saat akan diambil keputusannya, datanya tersebar dengan banyak. Tersedia setumpuk data untuk satu keputusan yang perlu diambil. Apakah saat ini memang masa-masa berakhirnya pandemi Covid-19 ini? Apakah harga tanah yang ditawarkan ini adalah harga yang termurah, jangan-jangan harga ini masih akan turun lagi? Sejumlah data tersedia harus diolah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini.
Hal terpenting saat berhadapan dengan banyak, sederet atau setumpuk data dan fakta adalah kemampuan untuk membaca pola yang ada. Mereka yang berinvestasi saham terbiasa dengan analisa seperti: Bollinger, Ichimoku, Fibonacci, dan lainnya. Itu sebenarnya adalah kemampuan membaca pola naik turunnya harga untuk bisa menganalisa harga yang akan datang. Kemampuan membaca pola ini juga dipelajari dalam matematika statistika. Titik-Titik data yang tersebar itu didekati dengan pola grafik yang dianggap paling cocok untuk kemudian dipakai untuk menebak kecenderungan data yang akan muncul kemudian. Apa itu pasti cocok? Tidak ada jaminan, tetapi seperti kata Pengkotbah “Yang sekarang ada dulu sudah ada dan yang akan ada sudah lama ada..”. Pengkotbah percaya bahwa di muka bumi ini selalu ada polanya, pola itu yang akan berulang dan pola itu yang berguna untuk menebak kejadian apa yang bakal terjadi.
Alkitab juga menampilkan pola. Pola di perjanjian lama yang kuat adalah bahwa Allah adalah penguasa alam semesta. Bagaimana Allah yang Maha Besar dan Maha Kuasa itu harus menjadi fokus utama manusia. Goliat menjadi hancur hanya karena ia mengolok-olok Allah Israel dan Daud tampil sebagai sosok alat yang dipakai Tuhan mempertontonkan kedahsyatan itu. Juga saat utusan raja Asyur mengolok-olok Allah Israel dan Raja Hizkia mau tetap percaya bahwa Allah sumber kekuatannya, maka Allah menghacurkan kecongkakan tentara Raja itu. Pola Allah yang menjadi sumber pengharapan dan kehidupan. Pola ketulusan kasih juga menjadi pola utama layanan Kristus di perjanjian Baru. Dengan belajar membaca pola, banyak hal bisa dipahami dan bisa ditebak penyelesaian permasalahan yang ada.
Ilmu ini bisa begitu rumit kalau mau dipraktekkan dengan hitungan matematika. Minimal harus belajar regresi polynomial, belajar ilmu statistika yang mbingungi. Kalau cuma untuk menghidupi panggilan keseharian, kemampuan mengamati tiap kejadian akan membantu untuk membaca pola yang ada. Tiap kejadian akan menimbulkan respon spesifik dari tiap pelaku dan pihak terkait lainnya. Itu kalau diamati akan mampu menangkap pola yang mungkin bisa untuk membaca masalah yang ada. Bila saya tidak suka parfum, akan jadi ada yang perlu ditanyakan kalau saya tiba-tiba pakai parfum. Bisa jadi karena kakak saya yang banyak memberi saya parfum datang dan harus saya temui. ah… mosok..? Atau bila saya suka balik menantang bila diberi pertanyaan yang memojokkan, mungkin itu pola yang perlu diamati untuk dilihat responnya bila memang tantangan itu ditanggapi. Bisa jadi saya benar-benar punya pola respon penyembunyian seperti itu.
Mengamati pola akan melatih untuk menebak respon dan mungkin bisa menambah kemampuan menyelesaikan masalah.
1 komentar:
luar biasa...pola..pola dan pola...
Posting Komentar