sekali lagi jangan bosan
Deraan Covid-19 membuat saya bosan dengan jargon seperti judul itu. Dimana-mana, kapan saja, banyak poster, WA, ajakan, seruan, nasehat untuk hidup sehat. Ada ajakan Prokes yang M-nya makin lama makin banyak, hingga jargon pembungkus saat ada rekan yang berusaha menjual produk makanan kesehatan. memang nilai positifnya adalah masifnya ajakan dan perhatian untuk menjaga kesehatan dan berusaha kuat untuk jadi makin sehat.
Covid-19 ini membuat saya diajak makin perhatian dengan kata sehat. Tapi sehat itu apa? Saya teringat: Mens sana in corpore sano. Ada unsur sehat jasmaninya ada unsur sehat jiwanya. Covid membuat orang menaruh perhatian besar dengan kesehatan jasmaninya, tubuh harus sesehat mungkin agar tahan terhadap gempuran virus. Kalau jasmani ini sampai sakit, rasanya itu akan mengacaukan kehidupan ini. Kesehatan jasmani bisa jadi tujuan utama kata sehat itu. Suasana hati, mungkin ini sisi psikologis atau kejiwaan harus baik biar imun bisa tinggi, katanya. Bukankah hati yang gembira adalah obat. Dunia yang nyata ini menempatkan jasmani adalah yang terpenting dan kejiwaan harus bisa menunjang yang jasmani itu. Kejiwaan itu perlu sehat cuma agar jasmaninya sehat. Betulkah seperti itu?
Dunia memang saat ini diguncang oleh pandemi yang disebabkan oleh kehadiran jasmani perusak yang berupa virus. Inikah guncangan dunia yang pertama? Dunia ini malah lebih sering diguncang dengan lebih dahsyat oleh hal lain seperti perang dan kerusuhan. Bisa perang yang lokal ataupun yang meluas mendunia, Perang Dunia. Sejarah mencatat ada sosok beberapa orang yang bisa mengobarkan perang yang menyusahkan banyak orang itu. Mulai dari Jenghis Khan, Julius Caesar, Napoleon Bonaparte, hingga Adolf Hitler. Siapa nama-nama itu? Banyak buku juga membahas nama-nama itu, kisah hidup mereka dan latar belakang kejadian yang membentuk mereka. Pola pikir yang membawa mereka masuk dalam angan dan mengobarkan perang tersebut. Mereka punya latar belakang kejiwaan yang membuat mereka masuk dan mengobarkan perang itu. Dunia beberapa kali terguncang karena ada orang yang secara kejiwaan atau psikologis bermasalah. Dengan apa yang ada dibenaknya, ia mengobarkan sesuatu yang merusak dunia ini. Latar Psikologis mampu berdampak merusak dunia.
Dunia juga mencatat berlimpah kisah hidup orang-orang sukses yang sudah menjadi berkat bagi sesama manusia. Bisa jadi mereka tidak lahir dengan modal kesempurnaan, tetapi ada dorongan di benak mereka yang memicunya menjalani jalan hidup spektakuler yang menjadi berkat. Latar kejiwaan atau psikologisnya yang menjadi pemantik kesuksesannya. Kondisi kesehatan kejiwaan atau psikologis ternyata bisa membawa keberkahan buat orang lain.
Kesehatan kejiwaan atau kesehatan psikologis atau kesehatan mental bukan sesuatu yang cuma bisa menghadirkan kesehatan jasmani. Menambah imun! Kondisi kesehatan mental itu yang menjadi penentu apakah seseorang bisa menjadi berarti bagi dunia ini. Tidak semua orang bisa mendapat berkat untuk lahir dengan kondisi yang layak dan sempurna, baik jasmaninya maupun mentalnya, tapi keinginan untuk menjaga dan terus menaikkan kesehatan mentalnya akan membawa suasana kehadiran kerajaan Allah di muka bumi. Tiap orang bisa mengusahakan kesehatan mentalnya untuk bisa menjadi berkat.
Alkitab bilangnya “..pembaharuan budi…” di Roma 12:2. Menjalani proyek pembaharuan budi akan menunjang kesehatan mental. Menjalani proses pembaharuan budi akan membuat dunia makin indah. Yang terlahir sombong akan berusaha rendah hati, yang terlahir culas akan belajar mau memperbaharui sikapnya jadi ramah. Pembaharuan budi ini yang bisa mencengangkan sesama, karena hanya Tuhan yang mampu merubahkan karakter dan sikap mental. Dunia bilang: “Watuk bisa sembuh, tapi kalau watak sulit sembuh!”, Kekeristenan menawarkan pembaharuan budi. Tuhan sanggup merubahkan karakter. Saat dunia sering terkejut dengan topeng yang dibentuk dengan balutan agama, pembaharuan budi akan menampilkan umat Kristen yang semakin hari semakin sehat mentalnya. Pembaharuan budi bisa merubahkan dunia. Pembaharuan budi bisa menghadirkan kerajaan Allah di muka bumi ini. Pembaharuan budi bisa membuat dunia yang makin sehat secara mental.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar