02 Januari 2021

Pak Nyok, Pdt Em. Hosea Abdi Widhyadi, Nyoo Hian Swie

 

Perkenalan saya pertama kali dengan beliau di sekitar 1985, di acara perkemahan aneh. Berkemah di pelataran GKI Banyuwangi.  Entah apa yang terjadi dengan penyelenggara, katanya ijinnya tidak keluar jadi karena banyak peserta luar kota yang sudah datang maka kemah tetap dilanjutkan di halaman gereja. Perjumpaan ini mengesankan sekali. Sosok Pendeta yang bisa begitu santai, berbeda dengan sosok “surgawi” dari lazimnya kebanyakan Pendeta di benak saya. Hal ini pernah memicu niat di hati saya tentang sebuah cita-cita, “Saya sih pingin jadi pendeta kalau pendeta itu bisa begitu.” Sampai suatu saat ada juga Majelis di Bondowoso yang kemudian bercerita, “Kamu belum pernah liat dia melempar mic di persidangan ya..” Ini salah satu yang menggerus cita-cita saya itu. Tapi beliau tetap punya posisi idola di hati saya. Peristiwa pelemparan itu dibenarkannya saat perayaan kawin emas beliau di Dipo puluhan tahun kemudian.

 

Pertemuan kami berlanjut lagi, saat saya kuliah dan beliau menjadi Pendeta Pelayanan Mahasiswa. Di acara peneguhan beliau, saya membuat tulisan liputan. Beliau senang sekali karena saya mengulas poin “cacing tanah” yang menjadi filosofi pelayanan beliau yang disampaikannya di kotbahnya. Cacing tanah yang mungkin tidak terlihat, lamban, lemah dan juga dirasa menjijikan, cacing tanah yang terus bekerja menggemburkan tanah yang mampu dijangkaunya disekelilingnya. Filosofi ini tetap saya ingat sebagai warisan Pak Nyok.

 

Waktu terus bergulir dan selalu mempertemukan kami kembali. Entah bagaimana koq saya bisa terdampar di Dipo dan beliau melalui Sonax Sapora juga di Dipo. Terlebih saat beliau emeritus dan makin sering beribadah di Dipo. Kita sering ngobrol berdua di taman cangkrukannya Dipo itu. apa saja kita obrolkan, bukan hal-hal yang rohani saja. Apa saja termasuk kenakalan-kenakalan yang pernah terjadi.  Suatu saat beliau mengatakan hal yang menggetarkan saya lagi, “Daniel, yang selalu ingin saya lakukan adalah, kalau ada orang yang melihat saya, apakah orang itu melihat Yesus di dalam saya.” Saya tercekat. Tidak menyangka bahwa itu filosofi hidupnya, di balik tampilan ‘urakan”nya. Memang cerita tentang mic itu terlintas lagi, tapi landasan hidup itu membuat kisah mic itu pudar. Filosofi perjuangan seorang manusia dengan segala keberadaannya untuk terus berjuang menampilkan Yesus Sang Junjungan Agung. Filosofi ini juga menjadi warisan Pak Nyok di lubuk hati saya.

 

Lima Hari setelah peristiwa Bom di Dipo, Pak Nyok berakrobat lagi. Di acara doa bersama dengan semua umat beragama itu. Beliau memekikkan “Suroboyo WANI….. Teroris J*N**K.!!”. Itu ikrar khas Suroboyo yang bergema, menyatukan segala masyarakat untuk bersatu berani melawan terorisme. Setelah acara berakhir, kegemparan baru muncul. Sejumlah rekan majelis menanyakan kepatutan seorang Pendeta menggunakan kosa kata Suroboyoan itu di dalam gereja. Saya tidak berani berkomentar, karena segala nuansa cerita saya di atas itu tentu tidak ada di benak orang lain. Saya sepenuhnya bisa memahami, menerima bahkan menyetujui apa yang beliau lakukan, karena Sang Junjungan Yesuspun pernah marah mengobrak-abrik pelataran Bait Allah, bahkan dengan cemeti. Namun ini memang polemik. Polemik yang berakibat bahwa pak Nyok tidak berkotbah di Dipo lagi. Salahkan saya yang saat itu ketua tidak bisa membela Idola saya ini. Maafkan dan ampuni saya Pak Nyok.

 

Ada juga kejadian saya yang mengecewakan beliau. Saat menghantar beliau pulang dari pelayanan di Dipo, bersama Bu Yuna dan Bu Ester Gunawan, suasana gembira itu pernah rusak gara-gara omongan saya. Beliau bertanya,” Daniel, kamu suka dengan permainan Saxophone saya?” entah bagaimana saya kumat lugunya dengan menjawab,” Pak, saya itu sak jane gak suka dengan bunyi alat musik yang diseret-seret, saya sukanya dengan suara musik yang tegas seperti gitar dan piano”  Beliau kurang senang dengan jawaban saya ini, ampunilah saya Pak Nyok. Tapi suwer… walaupun saya gak ngerti musik, tapi musik yang saya sukai adalah Jazz. Karena saya mengagumi “keteraturan di dalam kekacauan” di musik Jazz.

 

Akhirnya, di atas segalanya, Pak Nyok tetap telah memberikan warisan panutan di hidup saya. Cacing Tanah ini sudah menyelesaikan tugas mulianya dan berjumpa dengan Junjungan Agungnya.

Tuhan, sampaikan salam hormat saya pada Pak Nyok.

 

Tidak ada komentar: