30 Maret 2022

Hypoxid Training

Awalnya ada yang mengajak saya bergabung di suatu group WA tentang mengatasi diabetes tanpa obat. Saya berminat karena saya adalah Pre-Diabetic, kalau saya tidak menjaga kondisi, maka saya akan menjadi diabetes. Saya ingin ikut group itu, tapi saya jadi aneh karena ada klausul yang mengatakan bahwa akan diminta untuk memberikan sumbangan sukarela. Entah kenapa, mungkin karena pelit, saya merasa aneh dengan grup ini. Saya tidak jadi masuk, tapi saya pelajari dari beberapa orang yang daftar. Ternyata apa yang mereka lakukan adalah menggabungkan antara diet ala Ketofastosis dan latihan nafas metode Wim Hoff.

 

Ketofastosis adalah diet dengan tidak makan karbohidrat dan gula, menggantinya dengan konsumsi lemak dan protein. Saya pernah bertemu dengan teman yang dengan semangat mengajak saya diet itu, dua hari kemudian dia berpulang di hotel dalam perjalanan dinasnya. Tidak ada hubungan jelas, tapi saya jadi takut melakukannya. Kalau Wim Hoff, katanya dia orang Belanda yang bisa tahan mendaki gunung bersalju dengan hanya bercelana pendek. Dia tahan terhadap udara dingin ekstrim, karena metode pernafasan yang dijalaninya. Saya berminat untuk mencoba latihan pernafasannya. Iseng-iseng saja, karena saya pikir juga tidak terlalu menakutkan.

 

Metodenya cuma nafas tiga puluh kali tanpa jeda, lalu menahan nafas selama mungkin, sekuatnya, lalu menghirup udara, ditahan lima belas detik, baru dilepas. itu diulang tiga kali. Masalah yang menarik adalah saat menahan nafas itu. Awalnya saya hanya bisa setengah menit, lalu empat puluh lima detik, lalu semenit, makin lama makin panjang. Saya pernah hingga 150 detik. Awalnya ini seperti latihan biasa saja, tapi saat saya mulai bisa menahan hingga dua menit, ada hal unik yang terjadi. Ternyata menahan nafas itu tidak sesederhana tidak bernafas. Tidak mudah bisa mengulangi menahan nafas selama dua menit, kegagalan akan sering terjadi. bukan gagal saat kurang beberapa detik terakhir, tapi di detik-detik awal saja sudah terasa tidak mampu. Masalah utamanya ternyata bagaimana cara mengatur pikiran. Kemampuan untuk mengatur pikiran dan berkonsentrasi akan menentukan keberhasilan menahan nafas panjang ini.

 

Tetangga saya adalah mantan penerbang Angkatan Laut dan kini menjadi pilot helikopter di Papua. Dia bercerita tentang salah satu ujian rutin untuk sertifikasi pilotnya. Mengerjakan soal matematika sederhana dalam kondisi hipoksia, kondisi kekurangan oksigen. Ini bukan sekedar kekuatan fisik, banyak orang yang fisiknya kekar, gagal dalam ujian ini. Ini masalah mengatur pikiran. “Harus sudah berkonsentrasi dari awal untuk bisa tetap mengerjakan soal matematika sederhana itu.” Pola Pikir! Ini yang menarik buat saya untuk terus melakukan latihan pernafasan ini. Latihan pikiran bukan sekedar latihan pernafasan.

 

Sudah hampir setahun saya menjalani Hypoxid Training ini. Entah apa hasilnya. Yang jelas, saat berenang, saya mengakhiri sesi renang itu dengan satu kali jalan gaya kupu-kupu, ini gaya terberat menurut saya. Dulunya ini memberatkan  saya. Sangat menguras tenaga dan nafas. Tapi sejak saya berlatih nafas ini, sesi gaya kupu-kupu itu terasa ringan. Saya juga sering mengalami diare, entah apa sebabnya, rasanya memang ada yang kurang beres dengan pencernaan saya, tapi sekarang ini diare itu jarang terjadi lagi. Memang banyak bahasan tentang keuntungan latihan nafas Hypoxid ini, tapi bukan ini yang menarik buat saya, semoga itu adalah bonus saja. Saya senang karena memang ini latihan mengelola pikiran. Pikiran ini ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang tak terduga. Jadi teringat akan pesan: Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Tidak ada komentar: