Minggu ini, cara itu terpaparkan, saat kejadian besar ini terjadi. Minggu ini sudah ada kesepakatan harga untuk pembelian lahan untuk parkir GKI Dipo. Delapan tahun ini dikumpulkan, dicari baik uang maupun lokasinya. Di mulai dari nol, Nol uangnya, Nol juga posisi lahannya. Minggu ini deal! Lahannya dapat, harganya cukup dengan uang yang tersedia. Apa benar ini kehendak Tuhan?
Saat ini dimulai, rasanya mustahil. Kita tahu harga tanah di sekitaran Diponegoro ini sudah puluhan juta rupiah per meter perseginya. “Kalau saja kita sudah punya beberapa M duluan, rasanya masuk akal, lha, ini tidak ada dana sama sekali!” Saat dana sudah masuk beberapa M, ada yang bertanya lagi, ” Apa bisa ya kita mencapai nilai yang sangat besar itu? Masih ber M-M lagi!” Saat kegiatan vakum di masa pandemi, ajaibnya dana terus mengalir. Dana terus mengalir meski dengan tidak konstan, ada juga banyak masa mengalir dengan seret. Apa benar ini kehendak Tuhan?
Di awal kegiatan, kita mengundang beberapa orang yang dinilai sukses menggalang dana untuk gerejanya. Mereka datang bercerita dan mengajari dengan tulus apa yang sudah mereka lakukan. Semuanya dengan tip dan triks jitunya. Cara mereka yang aktif, kreatif dan semangat, semuanya benar dan sudah berjalan di gerejanya! Tapi tidak semua itu bisa diterapkan dengan gamblang di Dipo. Kita berjalan melalui jalan sunyi kita, bisa jadi karena kondisi anti-mainstream kita. Saat setelah pandemi, saat penerimaan gereja juga menurun, jangan sampai ada kesan bahwa kegiatan ini menjadi ancaman bagi penerimaan gereja. Panitia memutuskan untuk menghentikan semua publikasi penggalangan dana. Untunglah ada Pendeta yang masih bersemangat, tidak pernah lupa atau enggan untuk mendoakan kegiatan ini di doa syafaatnya. Penghentian pengumuman itu beresiko menurunkan greget dan dukungan umat. Indahnya, ada yang berinisiatif berjualan sumbangan umat, ada yang menyumbang kain batik, ada yang kain tenun, ada udang segar, ada yang setiap minggu pagi meletakkan beberapa kue untuk dijual, ada yang menyumbang hasil mangganya, ada yang membawa melon, ada yang beli kelapa kopyor dan menyumbangkannya untuk kegiatan lahan ini. Buanyak pol! Inikah kehendak Tuhan?
Saat mau masuk di etape akhir kerja ini, saat negosiasi akan difinalisasi, ada pertanyan besar dimunculkan. “Ini khan sudah delapan tahun, apa benar rencana lahan parkir ini masih relevan? Bukankah jemaat yang beribadah aja sudah menurun dari jumlah sebelum pandemi?” “Cobalah melihat kehendak Tuhan yang mungkin sudah berubah saat ini!” Dalam kondisi seperti ini saya menyatakan sikap saya. Inilah penyataan iman saya, dan ini yang saya jalani di kehidupan ini. Saya bilang, ” Saya tidak pernah melihat Tuhan, saya juga tidak pernah mendengar suara Tuhan secara langsung yang bicara soal kehendak Tuhan itu. Saya pun bisa binasa kalau ada dalam kekudusan hadirat Tuhan bersabda itu. Tapi yang saya yakini, terlalu mudah bagi Tuhan untuk menggagalkan rencana penggalangan dana ini. Terlalu banyak kondisi yang bisa membuat kegiatan ini gagal. Tapi kalau hari ini kita masih bisa mengalami mujizat dengan ada uang yang besar yang bisa dikumpulkan, Inilah kehendak Tuhan yang saya yakini itu. Tuhan sudah berkehendak dengan menyediakan apa yang mustahil ada ini!”
Memahami kehendak Tuhan yang saya pelajari di kegiatan ini adalah dengan terus berjalan, kalau saja Tuhan berkenan pasti akan banyak pintu yang dibukakan. Kalau saja ada kendala dan halangan, mari berdoa. Bisa jadi itu cara Tuhan menyatakan kebesaranNya, bisa jadi itu pernyataan dukungan Tuhan untuk membelokkan jalan yang harus dijalani. Bisa jadi itu juga cara Tuhan menunjukkan dukunganNya dengan bukti jalan keluar yang terjadi.
Kehendak Tuhan nampak nyata bukan dengan suara yang terdengar, tapi dari proses langkah demi langkah yang diambil, Tuhan tetap hadir dengan kuasanya, menyatakan hasil dari tiap usaha yang dikerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar