Hari ini saya berulang tahun, Bertambah setahun lagi umur saya, ada lagi setahun cerita di hidup ini. Vivere Pericoloso (hidup yang berbahaya) itulah tema setahun kemarin ini. Setahun yang dimana saya baru bisa merasakan ketakutan yang memicu insomnia. Tahun yang beresiko dan berbahaya.
Mulai menjelang akhir tahun lalu situasi bisnis mencekam, kondisi bisnis pertambangan yang menurun membuat bisnis saya juga menurun drastis. Banyak kapal tertambat menganggur di sepanjang sungai-sungai besar Kalimantan. Bahkan untuk operasional saja kita harus berhutang. Tahun ini saya membatalkan semua perjalanan luar negeri saya. Kunjungan ke pabrik ataupun menghadiri pameran-pameran semuanya saya batalkan. Bahkan untuk yang sudah direncanakan beberapa tahun sebelumnya, seperti pameran dua tahunan di Hongkong juga saya batalkan. Harus hemat! Vivere Pericoloso.
Dalam kondisi mencekam itu, selalu nyata pertolongan Tuhan, ada saja orderan yang tak terduga. Di awal tahun dalam kondisi keuangan yang berdarah-darah, ternyata Tuhan membukakan jalan. Bisa teratasi, Menjelang tengah tahun kondisi itu berulang, tapi keyakinan itu muncul. Bila saat yang terdahulu saja kita bisa selamat melaluinya, masakan kali ini Tuhan tidak akan menolong lagi? Tuhan menolong lagi.
Kondisi Pericoloso, berbahaya ini, membawa hikmah lain. Berserah pada Tuhan, seperti Janda di Sarfat yang hanya punya sedikit tepung, tetapi Tuhan mampu membuatnya selalu berkecukupan. Otak yang ada, saya serahkan pada Tuhan untuk bisa Tuhan pakai menyelamatkan perusahaan saya. Bukan hanya saya, tapi ada lagi puluhan keluarga yang bergantung hidup dari perusahaan saya ini. Saya sadar selama ini saya terlalu bersandar pada satu jenis pasar, saat pasar itu sepi, berdampak parah. Padahal kita punya banyak segmen pasar yang harusnya digarap juga. Di perkapalan, bukan hanya kapal untuk pertambangan saja, ada kapal jenis lain. Di bengkel, dengan fasilitas permesinan yang lengkap harusnya bisa juga mengerjakan pekerjaan rekayasa teknik yang dulu-dulu pernah membuat kita bisa berpenghasilan baik. Kondisi ini mengguncang dan mengocok untuk menampilkan sisi yang sempat terkubur. Tuhan membukakan mata untuk memanfaatkan peluang-peluang yang kemarin-kemarin tidak tergarap dengan baik.
Saat saya tidak bisa mengunjungi banyak pabrik, saya ingat anak saya sedang bersekolah di China. Saya bisa minta dia yang datang. Itu ternyata melatih dia, untuk belajar berani dan melihat, dan menilai, juga menentukan mana yang paling bisa diajak kerjasama. Dia berlatih untuk melaporkan hasil kunjungannya. “Pa, menurut Meme pabrik yang ini gak cocok, pabriknya besar, tapi masak ada anjing yang seliweran di dalam pabriknya, khan tidak higienis?” Ini hasil didikan dari situasi Pericoloso yang menimpa saya.
Tahun yang lewat ini memang berat, terberat di sepanjang hidup ini, tapi ternyata itu jalan Tuhan untuk membukakan bab baru di pelajaran baru di hidup ini. Pelajaran untuk bisa berserah dalam kondisi yang sulit dan tidak jelas. Pelajaran untuk bisa memanfaatkan apa yang ternyata sudah ada dan terbengkalai selama ini. Bahaya itu muncul untuk mengalihkan mata saya, melihat hal-hal yang tidak sempat terperhatikan selama ini. Semua karena Tuhan itu Baik.
(kelanjutannya.....)