31 Desember 2025
Akhir Tahun
03 April 2025
Cerita dari Amerta
Banyak kisah menarik yang ada di seputaran layanan kedukaan. Kisah yang kadang terasa aneh, namun menarik untuk diingat dan dibagikan.
Kedukaan adalah hal yang tidak dapat diperkirakan kapan waktunya. Menentukan hari libur adalah sesuatu yang sulit bagi Amerta. Tahun lalu di hari kedua Lebaran, kita ada panggilan kedukaan. Semua sudah di luar kota, tapi untunglah semua sigap untuk bisa kembali bertugas. Ada yang di Malang, ada yang di Tuban, tapi semua sigap untuk kembali ke Surabaya menunaikan layanan. Tahun ini di hari ketiga Lebaran, kita langsung melayani dua layanan kedukaan.
Setelah sekian lama ini, kita mulai tahu masa-masa di mana layanan kedukaan ini akan banyak. Musim panas yang terik sekali, suhu udara yang panas sekali, sering menjadi pertanda bahwa layanan kedukaan akan meningkat. Sebaliknya bila Surabaya mulai hujan dan cuaca menjadi lebih sejuk, pelayanan kedukaan menjadi lebih berkurang. Di masa-masa beberapa hari setelah perayaaan yang berhubungan dengan pesta dan makan-makan enak, layanan kedukaan juga akan meningkat. Mungkin ini pertanda bahwa banyak orang yang lepas kendali saat bergembira dalam berperayaan.
Ada juga pertanda unik yang sulit dipercaya. Bila peti mati kecil, untuk anak atau bayi keluar, maka sebentar kemudian pasti akan beruntun layanan kedukaan yang ada. Anda tidak percaya? Saya sebenarnya juga! Tapi sudah beberapa kali hal ini terjadi. Aneh memang, tapi kebetulan ini terjadi juga.
Selalu siap melayani adalah semangat yang ada di Amerta. Apapun kendala yang ada, harus siap karena Amerta niatnya memang tulus melayani siapapun yang berduka. Kendala bila teknis/logis, bisa didiskusikan bersama di WA Grup. Kadang kendala itu aneh juga. Pernah di suatu malam saat menjemput jenasah di RSAL, ambulan kita berputar-putar tersesat tidak dapat menemukan jalan keluar dari komplek RSAL itu. Padahal sudah banyak kali Pak Setyo , driver setia Amerta, melayani di sana. Setelah jenasah sampai di rumah duka, saat mengirim peti jenasah, tiba-tiba ambulan berasap tebal. Oh, tali kipasnya selip dan berasap, bisa diatasi. Di rumah duka, pintu ambulan tiba-tiba tidak bisa dibuka untuk menurunkan peti jenasah. Hari sudah menjelang dini hari, saat segala upaya gagal membuka pintu belakang ambulan itu. Terpaksa ambulan balik ke Johar, kantor Amerta. Pagi harinya kita kirim peti jenasah lain dengan ambulan yang lain. Begitu ambulan kedua ini keluar dari Johar, pintunya langsung terbuka, dan tidak bisa ditutup lagi. Maka sepanjang jalan pintu itu diikat dengan tali. Cerita ini terangkai dari kebetulan? Saya tidak tahu, tapi saya tetap yakin ketulusan melayani akan mampu mengatasi banyak hal yang tak terduga.
Kalau saja ada yang suka dengan keseruan dan ketulusan melayani, ayo! Kita bisa melayani bersama di Amerta. Kita yakin pelayanan ini akan bisa berkembang, karena kita punya semangat untuk selalu mencari peningkatan mutu. Di Amerta tiap kesalahan harus dibicarakan, bukan untuk memojokkan siapa yang salah, tetapi untuk dicari akar masalahnya hingga hal itu bisa tidak akan terulang lagi.
Pelayanan Kedukaan
Sudah dua tahun lebih ini saya melayani Jasa Kedukaan milik GKI. Bidang pelayanan yang tidak terpikirkan sebelumnya, dan kalau ini pilihan, mungkin tidak akan pernah saya pilih. Pengalaman kehilangan Mama di masa kecil menjadikan saya kurang senang melihat jenasah dan kedukaan. Bukan takut, hanya kurang suka saja.
Awalnya saya ditawari menjadi pengurus Yayasan di lingkup GKI. Lalu Yayasan ini mendirikan layanan baru, Amerta Memorial Services, Jasa Layanan Kedukaan. Ini memang dasarnya adalah bisnis tapi karena di bawah gereja maka konsep bisnisnya sedikit beda. Harus mendapat keuntungan, agar layanan ini bisa berkembang menghidupi dirinya sendiri. Juga tetap melayani layanan gratis Diakonia Gereja. Ini bukan karena uang banyak yang dimilikinya yang bisa diberikan dalam bentuk layanan Diakonia. Kita cuma sekedar menjadi saluran berkat. Ada jemaat yang rela berdonasi, kami yang menyalurkannya kepada yang membutuhkan.
Seperti jiwa GKI yang selalu mau jadi berkat buat sesama, maka layanan ini melayani semua orang. Memang utamanya jemaat GKI, tetapi juga jemaat gereja lain, bahkan umat beragama lain yang membutuhkan layanan kedukaan. Saya mulai tertarik dengan layanan kedukaan saat masa pandemi. Saat itu saya baru tahu bahwa meninggal itu juga tidak mudah. Saat itu ,saat keluarga bersedih karena kehilangan, masih juga bingung karena ambulan dan peti mati sulit didapatkan. Saat itulah saya tergerak mencarikan peti mati, meminta teman untuk mau membuatkan, merubah mobil gereja jadi ambulan untuk membawa jenasah. Ternyata walau hidup itu bisa susah, tapi mati itu juga susah.
Banyak cerita menarik sepanjang melayani ini. Walau saya Tionghoa, saya tahunya lidi Hio itu berwarna merah. Saat kita melayani umat Khong Hu Cu, Pendetanya marah karena hio yang saya sediakan warnanya merah, bukan hijau. Harus hijau karena almarhum sudah berusia sangat lanjut. Saya hanya diberitahu untuk menyediakan hio dan saya tidak mengerti soal aturan warna itu. Lebih lagi saat prosesi pemakaman, dari tempat persemayaman menuju pemakaman harus naik ambulan. Ambulan baru kita ber-AC. Rekan yang bertugas berpikir bahwa di mobil berAC tidak boleh merokok, maka dipikirnya tidak boleh juga ada asap hio, maka dimatikanlah hio itu. Pak pendetanya marah lagi, Hio harus menyala terus sepanjang perjalanan.
Karena merasa perlu belajar banyak tentang ritual kedukaan agama lain, saya beberapa kali janjian bertemu dan mengobrol dengan Pak Pendeta itu. Inipun jadi menarik, karena harus cari tempat yang vegetarian. Setelah cukup akrab, saya mulai berani bicara apa adanya, ”Koh, maaf ya semua kesalah-kesalahan yang lalu, tapi tolong saya diajari biar gak salah-salah lagi.” Yang mengejutkan, Beliau menjawab ,”Daniel, gitu itu gak masalah, saya pernah sudah siap mau melarung abu di Perak, ternyata abunya ketinggalan!” Beliau menyebut nama Perusahaan kedukaan yang sangat terkenal. Yah, memang yang ingin selalu saya tekankan di Amerta. Kita boleh salah, tapi harus mau selalu dikoreksi dan siap memperbaiki diri. Makin lama melayani harus makin baik, bukan memelihara kebebalan.
Pelayanan memang bagian dari persembahan di hidup ini. Tapi melalui pelayanan, Tuhan juga makin memperlengkapi. Banyak hal saya yakini bisa saya dapatkan karena saya pernah belajar hal itu di pelayanan. Belajar melayani orang berduka, baru saya pelajari di Amerta ini. Belajar membangun tim kerja yang berbudaya kerja “Berubah oleh Pembaharuan Budi” juga saya pelajari di Amerta ini.
02 April 2025
Pendeta Bersahaja
Pengalaman melayani di banyak lingkup GKI, membawa saya mengenal banyak sisi kehidupan para Pendeta. Pendeta adalah orang-orang hebat yang mau membaktikan diri dan hidupnya untuk melayani pekerjaan Tuhan. Jemaat GKI pun belajar dan berusaha keras untuk bisa memberikan penghargaan, yang harapannya berpadanan dengan segala pengorbanan itu. Penghargaan buat beliau-beliau yang sudah mau berjuang dan mempersembahkan hidupnya untuk pekerjaan Tuhan.
Saya mengenal Pendeta yang tidak ada jemaat tumpuannya, yang dengan santai bilang ,”Daniel, orang miskin itu gak bisa panjang umurnya, berobat itu mahal.” Saat itu beliau menderita sakit jantung dan harus operasi. Dengan hidupnya yang bersahaja itu tidak mungkin beliau punya biaya operasi jantung itu. “Tapi saya bisa operasi juga, Tuhan itu baik!” Beliau akhirnya bisa operasi dan sembuh karena ada berkat Tuhan yang mengalir dengan mengherankan. Pernah juga kondisi rumahnya butuh renovasi total, selain banjir juga air hujan masuk melalui celah-celah lantai ubinnya. Ada saja jalan Beliau mendapat berkat Tuhan. Rumah itu direnovasi total dengan sangat baik.
Ada juga Pendeta yang realitis melihat kebutuhan ekonomi jaman sekarang ini. Kebutuhan yang sangat tinggi itu, membawanya pada pandangan untuk bersikap ekonomis juga. Segala langkah harus dihitung secara ekonomis karena memang hidup ini tidak murah. Kalau mutasi ke tempat baru, ditelisiklah bagaimana rumah dan mobilnya. Kesempatan untuk mendapatkan panggilan berkotbah dari tempat lainnya apa banyak ya? Celah apa yang bisa dimanfaatkan untuk proses penggantian bon belanja? Dunia yang berat ini, tidak salah juga ikut menempanya menjadi kritis ekonomis.
Beberapa saat lalu saya terhenyak. Dari sebuah pengumuman penerimaan mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur tanpa tes, SNBP, ada nama anak seorang Pendeta. Ini memang hal yang biasa, tapi bagi saya ini sangat istimewa. Pernah terpikir bahwa Pendeta ini akan segera pensiun dan bagaimana beliau bisa membiayai kuliah anaknya. Kuliah pasti tidak murah, apalagi bila di perguruan tinggi swasta yang biasanya jadi rujukan anak Pendeta GKI. Pendeta itu juga saya kenal sebagai orang yang bersahaja dalam pandangan keuangannya. Keluarga bersahajanya sering naik angkot. Saya sempat bingung bagaimana bila pensiun nanti dan masih harus membiayai kuliah. Tuhan selalu punya jalan. Tuhan sanggup membukakan pintu kemurahan di jalan bersahaja yang dipilihnya. Kuliah di Negeri memang sudah tidak sangat murah lagi, tapi pasti itu jauh lebih murah dari pada di swasta dengan mutu yang setara. Tuhan maha tahu dan maha baik.
Dulu, saat umat Israel dipelihara dengan Manna, katanya, siapa yang mengumpulkan sedikit tidak akan jadi berkekurangan dan yang mengumpulkan sangat banyakpun tidak akan menjadi berkelebihan. Ada mekanisme Tuhan yang selalu mencukupkan. Mungkinkah sikap mental ini masih laku dalam kehidupan pelayanan ini? Tuhan yang tahu apa yang dibutuhkan, akan mampu mencukupkan pada saatnya? Menjalani sikap mental adalah pilihan menghidupi apa yang dipercayainya.
28 Januari 2025
Sekolah Murah
Saya sangat percaya akan pentingnya pendidikan, pentingnya sekolah demi masa depan. Saat biaya sekolah menjadi biaya yang sangat mahal, saya ada cerita tentang bagaimana saya menjalani Sekolah Murah ini. Cerita ini memang subyektif, tapi semoga bermanfaat untuk sekedar menjadi cerita bahwa ada Sekolah Murah yang saya alami ini. Sekolah Murah ini bukan sekedar murah, tetapi benar-benar bermutu dan berkualitas.
Dulu saya sekolah di SMP Katholik, bayarnya delapan ribu Rupiah sebulan. Waktu SMA di SMPPN saya bayar seribu lima ratus Rupiah sebulan, waktu itu gaji saya sebagai penagih rekening koran sepuluh ribu Rupiah sebulan. Kuliah Perkapalan bayar seratus dua puluh ribu rupiah sesemester, waktu itu gaji sales saya seratus tujuh puluh lima ribu rupiah sebulan. Itu saya, dulu.
Anak saya dua, dua-duanya sekolahnya juga murah. TK sampai SMA sebulan mungkin tiga ratus sampai lima ratus ribuan, di sekolah Kristen paling terkenal di Surabaya. Tidak bayar uang gedung dan biaya lainnya. Pastinya berapa sebulan, saya juga tidak tahu karena dipotong langsung dari gaji Istri saya yang menjadi guru di sekolah itu. Kuliah Hukumnya tiga juta setengah satu semester selama tujuh semester, tanpa uang gedung. Yang mahal saat S2, karena itu pendidikan profesi jadi tidak ada beasiswanya, sekitar lima puluh juta-an hingga lulus dalam tiga semester. Anak yang kecil kuliah di Fakultas Psikologi yang tertua di jatim, dapat diskon besar karena istri saya sudah menjadi guru lebih dari dua puluh tahun. Lanjut S2 gratis plus dapat uang saku di China di universitas yang rankingnya lebih tinggi dari tempat kuliah saya dulu.
Saat semua orang tahu bahwa biaya pendidikan itu mahal, saya selalu menyarankan bahwa ada jalan untuk bisa bersekolah dengan murah. Tapi jalan itu tidak gampang, harus disertai dengan usaha yang keras. Suatu kali seorang teman menelpon. “Koh, aku wes pensiun, tapi anak-anakku masih sekolah semua, bagaimana ya biar mereka bisa kuliah dengan baik?”
Saya ajak ketemuan di sebuah CafĂ©, saya jelaskan ke anak-anaknya bahwa mereka harus bantu orang tua dengan sekolah yang murah tapi berkualitas. Masuk universitas negeri dengan jalur tes! Beberapa lama kemudian sang Papa menelpon, suaranya terdengar bergetar terharu “Koh, anakku diterima di ITS” Saya terkejut, lebih terkejut lagi, saat tahu bahwa anak itu memilih jurusan Perkapalan.
Keponakan saya pernah dua kali gagal tes ke ITS. Saya tidak mampu kalau harus membiayai kuliah di universitas swasta yang mahal, maka dia mencari beasiswa kuliah di China. Dia lulus dari China dan kini bisa bekerja dengan sangat baik di Jakarta. Peluang beasiswa bisa menjadi alternatif sekolah murah, tapi untuk bisa mendapat beasiswa harus ada usaha dan persiapan yang tidak sedikit. Memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin atau terlalu sulit. Yang penting ada kemauan.
Sebagai orang tua, saya ingin bisa membukakan banyak jendela agar anak-anak bisa melihat dunia dengan lebih luas dan jelas. Saat mereka bisa memandang dengan lebih luas, semoga semangatnya bangkit untuk meraih yang diinginkan. Saat itulah kerja keras dan semangat dibutuhkan. Sekolah murah memang ada, dan itu bukan murahan, itu harus dibayar dengan usaha dan semangat.
31 Oktober 2023
Mendidik Anak
Di suatu postingan ada video tentang anak kecil yang fasih berkotbah tentang surga dan agama. Nampak menarik dan membanggakan anak kecil bisa fasih bicara hal yang begitu rohani. Saya kemudian berfikir tentang anak-anak saya, apa yang sudah saya ajarkan untuk mereka? Apa mereka bisa bicara tentang hal-hal yang rohani, masak kalah sama anak kecil itu?
Saya berpikir keras tentang pendidikan rohani untuk anak-anak, ini rasanya penting. Ini perlu untuk masa depan mereka. Ada benarnya juga, karena dulu untuk masuk ITS anak-anak harus pinter rumus fisika, matematika, kimia, sekarang katanya bisa masuk ITS kalau bisa hafal sekian Juz ayat Alquran. Di suatu WA Grup teman yang Kristen berjuang untuk kesetaraan apa yang bisa didapatkan oleh yang beragama lain? Hafal Alkitab? Pintar kotbah? Yang nampak rohani itu memang sudah sedemikian pentingnyakah?
Mendidik anak tentang hal yang rohani itu harus bagaimana? Saya sulit membayangkannya, karena memang saya tidak pernah sekolah dengan pelajaran cara mendidik anak. Mendidik anak cuma hal yang terpaksa dilakukan di kehidupan saya ini. Mendidik anak tidak disiapkan namun harus dijalani. Mendidik anak tidak ada ujian sertifikasinya, namun bila gagal akan jadi beban seumur hidup. Mendidik anak itu katanya sulit, tapi mau tidak mau itu ada di keseharian kehidupan ini. Keniscayaan yang tak terhindarkan.
Que sera sera, what will be will be? Harusnya tidak! Keteladanan tetap kunci untuk bisa mendidik dengan baik. Hidup baik akan menuntun orang lain di keluarga untuk jadi baik. Mendidik bukan sekedar mengajarkan. Mendidik bisa berarti tidak mengajarkan apa-apa, tapi selalu hadir dengan perbuatan yang bisa dicontoh. Emak saya tidak mengajarkan jam berapa saya harus bangun pagi. Tapi memberi teladan bangun jam satu pagi karena jam tiga pagi sudah harus ada yang memerah sapi. Komit pada pekerjaan yang dilakoninya. Kalau saya mau membantu berarti saya harus bangun sepagi itu.
Memeriksa tingkat kerohanian jadi pertanyaan penilai saat mendidik anak ini saya jalani. Entahlah apa dan bagaimana standard itu bisa saya terapkan. Saat ini, interaksi keseharian yang akan menentukan seberapa standard itu dididikkan. Apa yang menjadi kerisauan saya? Apa saya risau kalau ada yang tanya,”Anak Bapak koq gak bisa mimpin renungan dengan baik?” atau lebih risau kalau misalnya ada yang menelpon dari Ambon, ”Anak bapak rasanya nilep uang kaos……” Apa yang lebih merisaukan, anak saya bingung saat menjelaskan ayat Alkitab, atau anak itu bingung saat butuh beli kursi hingga harus menempuh jalan menipu? Hal rohani rasanya adalah hal yang imanen di dalam keseharian. Saat yang rohani itu tidak nampak jelas, mungkin hanya perbuatan keseharian yang bisa dirasakan oleh orang lain.
Pengalaman hidup tentang mendidik anak ini yang mengingatkan kekuatan sebuah pengharapan seperti lirik lagu: “Tuntun aku Tuhan Allah. Lewat gurun dunia, Kau perkasa dan setia. Bimbing aku yang lemah….. “
11 Oktober 2023
Babak Akhir
Hari ini saya berulangtahun, ini yang ke 55. Banyak sekali dan terlalu banyak dan semuanya adalah berkat Tuhan yang melimpah. Tuhan sudah berkarya dalam waktu-waktu yang berlalu dan itulah bukti jaminan dan keyakinan bahwa waktu-waktu di depanpun semoga ada dalam anugerahNya.
Entah sampai umur berapa saya akan hidup, tidak tahu dan inilah misteri. Yang jelas saya sudah tidak muda lagi. Mama saya meninggal usia 38, papa saya 65, entahlah saya. Usia normal manusiapun sudah kita ketahui. Saya sadar inilah babak akhir hidup ini. Mau apa saya di babak akhir ini?
Dulu saya takut mati, bukan soal masuk surga atau neraka. Saya percaya anugerah karya penyelamatan Tuhan. Saya takut kalau saya mati, apa anak saya bisa bersekolah dengan baik? Bisa lulus kuliah? Untuk itulah saya beli polis asuransi semampu saya waktu itu, minimal nilai pertanggungannya bisa untuk membiayai anak saya kuliah kalau saja saya mati. Kini, anak saya sudah lulus kuliah semua, lalu saya mau takut apa lagi?
Di babak akhir ini saya mau apa, saat yang saya takuti itu sudah terlewati? Banyak rekan saat mulai pensiun punya banyak kecenderungan yang sama. Semuanya jadi makin religius! Belajar agama dan kitab suci menjadi pilihan yang baik dan popular. Semua teman yang dulu nakal kini makin alim. Ada yang bilang itulah yang betul dan seharusnya! Ada juga yang bilang, “lha memang Hormon Testosteronnya menurun jadi ya wes gak mampu nakal lagi lha…….” Kalau saja surga dan kehidupan mendatang itu sepenuhnya hanya karena kasih karunia Tuhan, mengapa saya masih harus susah payah mengusahakannya?
Agama memang menarik. Karena jalur agamalah yang paling bisa menjanjikan kehormatan dan penghargaan tanpa kriteria dan pagu yang jelas. Yang penting tampil alim dan religius, pasti bisa langsung dihormati. Jadi guru atau dosen ada sertifikasi dan persyaratan yang ketat. Jadi sales ada target penjualan yang harus dicapai. Jadi profesi lain, selalu saja ada Key Performance Index yang harus diraih. Hanya jalur agama yang bisa menyediakan jalan pintas kehormatan dan penghargaan, tanpa kriteria yang jelas. Haruskan saya isi babak akhir hidup saya lewat jalur ini?
Kalau saja ada doa yang sering terlantun dan masih akan jadi doa saya, itu adalah Doa Bapa Kami “.. jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga…” Mendatangkan Kerajaan Allah di muka bumi, mendatangkan kebahagiaan di bumi ini. Ini doa saya. Maka untuk itulah saya pingin ada. Di babak akhir inilah, hal itu harusnya bisa diusahakan saat segala yang menakutkan dulu itu sudah terlewati. Saya mau makin menjadi berkat. Saya sekolah teknik, maka di babak akhir ini saya harus makin pintar di bidang teknik ini. Saya punya perusahaan, maka di babak akhir ini, perusahaan ini harus makin jadi besar sehingga makin bisa jadi berkat buat banyak karyawan dan orang lainnya.
Nilai agama dan kitab suci itu harusnya bisa lumat tercerna dan hadir dalam buah dari bidang dan bisnis yang saya jalani. Semoga di babak akhir ini tidak diisi dengan biusan agama yang manipulatif. Semoga kalau saya percaya pada agama, saya menghadirkannya dengan kebahagian bagi semua orang. Semoga Tuhan yang tak terlihat itu tidak dipaksakan untuk dipertontonkan tapi bisa dihadirkan rasanya….. Doakan babak akhir saya ini….
01 Mei 2023
Kelemahan Saya
Sejak kelas 2 SMP saya berkacamata. Itu setelah saya sudah tidak bisa lagi membaca tulisan di papan tulis walaupun sudah duduk di bangku terdepan. Seminggu kemudian kacamata itu pecah karena jatuh saat main basket. Saya takut saat minta beli lagi. Setelah itu saya selalu berhati-hati saat berkacamata. Memang terasa menyulitkan, tapi akhirnya terbiasa juga. Tidak ada masalah lagi dengan kaca mata itu. Orang bilang kacamata itu kelemahan, jadi harusnya itu diatasi. Katanya dengan makan wortel, minum minyak ikan, makan vitamin A, wes apa saja. Yang belum dicoba cuma dengan Laser, itu karena biayanya mahal. Saya tidak punya uang untuk bisa laser mata saya. Pernah juga saya ikut Kebaktian Kebangunan Rohani yang ada penyembuhannya, di Gelora Tambaksari. Saya berusaha untuk percaya bahwa mujizat kesembuhan itu ada. Saya ikuti saja ajakan Pengkotbah saat itu. Sampai di akhir acara, mata saya tetap berkacamata. Tidak sembuh juga. Bertahun-tahun ukuran lensanya memang tidak banyak berubah, tapi memang sudah berat. Minus tinggi, ada plus, ada cilinder tinggi, ada aksis, segala macam ada, hingga saya tidak akan bisa melihat bila tanpa kacamata ini.
Sudah empat puluh tahun lebih saya berkacamata, ada saja hal baru menyangkut kelemahan ini. Katanya kalau pakai passport elektronik, bisa cepat proses di imigrasinya, tinggal discan saja. Tapi waktu itu saya ditegur berkali-kali sama petugas imigrasinya, disuruh lepas kacamata. Saya tidak keliatan tulisan yang di layar, saya maju, eh ditegur jangan terlalu dekat, saya mundur dan tidak terbaca perintah yang tertulis di layar itu. Akhirnya mereka minta saya antri di jalur normal. Yah, inilah nasib orang berkacamata tebal. Saya sepenuhnya mengerti derita dan masalah orang yang berkacamata tebal.
Setiap Sabtu dan Minggu saya bertugas untuk mengantar istri ke pasar. Di pasar saya cuma menunggu, biasanya saya isi dengan mendengarkan audiobook dan bersenam ringan. Enak juga. Saya menikmati saja tugas ini karena saya bisa memanfaatkan waktu itu. Beberapa kali di depan saya lewat seorang om tua, bajunya selalu sama. Memang keliatan lusuh tapi om itu biasa-biasa saja, cuma lewat saja. Saya tidak mengenal beliau sama sekali. Yang menarik, beliau selalu mengenakan kaca mata yang pecah. Kacamatanya bisa beda-beda, namun semuanya pecah. Saya ingin sekedar memberi beliau uang untuk beli kacamata, tapi sering kali saya tidak membawa uang sama sekali. Kalau saja pas saya ingat dan saya membawa uang, om itu yang tidak nampak. Sampai suatu saat saya berjumpa beliau, saya tanyakan nama dan alamatnya, dan apakah dia mau kacamata baru? “Mau, tapi itu akan mahal.” Saya mencari optik yang dekat dengan rumah beliau. Menanyakan kisaran harganya dan menjelaskan bahwa nanti akan ada om ini yang akan periksa dan saya yang akan membayar semuanya. Saya meminta anak buah saya menjemput om ini untuk periksa ukuran kacamatanya, dan memilih bingkai yang cocok. Katanya perlu waktu seminggu, menjelang itu, anak buah saya kakinya patah. Tidak bisa mengambil kaca mata itu. Saya minta optik itu yang mengantarkan kacamata itu. Optik itu mau. Om itupun bisa berkacamata dengan baik.
Berkacamata pecah buat sebagian orang bisa jadi bukan hal mengganggu, mungkin dikiranya seperti orang yang berpakaian compang camping. Buat saya, kacamata itu sangat penting. Saya tahu arti kacamata. Kalau saja Tuhan tetap berikan kelemahan mata ini, paling tidak ini bisa untuk merasakan kelemahan orang-orang lain. Bersyukur bila kelemahan ini bisa ditiadakan, tapi bila itu tetap ada dihidup ini, pasti ada rencana Tuhan…