07 Juni 2026

Setia Pada Panggilan

Ini tahun ke empat puluh saya keluar dari kota ini, termasuk dari GKI Ini. Kota yang tidak ada SMA swasta yang baik, sehingga anak selepas SMP harus pindah ke kota lain. Untung saya mau sekolah negeri, jadi saya bisa lebih lama di kota ini. Bagi GKI, pasti kekurangan anak-anak mudanya. Bagi gereja, kesulitan nyatanya adalah tidak adanya pemusik. Yang bisa les organ, biasanya dari anak-anak keluarga berada, yang pasti mengejar sekolah di luar kota.  GKInyapun sering lama tidak ada pendetanya, pernah ada Pendetanya malah ada perpecahan umatnya. Pernah ada eksodus umat, terutama yang kaya-kaya pindah. Rasanya memang tidak ada masa depan di kota dan GKI Bondowoso ini. Di tahun-tahun yang berjalan, saat mudik dan beribadah di gereja ini, selalu ada pertanyaan, “Koq bisa ya, gereja ini tidak mati-mati?” Puluhan tahun berjalan, tidak ada satupun yang berubah signifikan, kadang membaik, kemudian menurun lagi. Tidak ada masa depan yang cerah.

Hari ini saya beribadah lagi di GKI ini. Saya terhenyak. Ada dekorasi interior yang menarik. Model mediteranian di wall paper maupun lampu-lampunya, sangat kreatif! Ada relief dengan penjelasan ayat alkitab berbahasa Madura.  Struktur bangunannya tetap sama, bangku umatnya juga masih sama seperti puluhan tahun lalu. Tapi ada anak muda yang mampu mendaraskan Mazmur dengan sangat baik. Ada pemain musik yang sangat baik. Ada belasan anak muda yang menyanyi. Ada Penatua yang bisa bikin program bersama jemaat menanam sayur sawi. Ada peralatan elektronik yang modern. Suasana berubah dari puluhan tahun lalu. Banyak umat berusia lanjut yang bisa menjadi saksi perubahan ini. Memang ada sosok pendeta muda ganteng yang menjadi penggerak semua ini.

Kenapa koq tidak ada yang mengusulkan untuk tutup atau pindah pelayanan ke tempat lain saja? Mereka terus saja setia. Mungkin di hari-hari itu, jalan saja terseok, berdiri mungkin juga terhuyung. Duduk merenungpun hanya memuncul gambaran suram dan redupnya masa depan. Memang sekarang belum juga ada SMA swasta terkenal di Bondowoso, walau katanya sudah mulai ada yang buka sekolah dengan tiga Bahasa. Dulu sempat ada Universitas Bondowoso, tapi kemudian ternyata lulusannya tidak bisa mendaftar di CPNS. Kini ada Universitas Jember di Bondowoso, universitas negeri yang masuk daftar SNBT di Bondowoso. Ini memungkinkan banyak anak muda dari penjuru tanah air bisa kuliah di Bondowoso. Situasi berubah tidak terbayangkan. Bisa ada pendeta muda yang baterainya selalu baru yang mau melayani di Bondowoso, bisa ada Kampus yang mendatangkan banyak anak muda kuliah di Bondowoso. Jaman berubah dan yang bisa memanfaatkan perubahan itu adalah yang sudah siap bekerja dan setia berkarya.

Pola kehidupan ini biasanya akan selalu bisa dipakai untuk menebak masa depan. Di investasi saham, itu yang disebut analisa teknikal. Di pelayanan ada pula pola  yang bisa dilihat: yang dulu-dulunya terpola tidak terbukti mau bekerja keras, pasti juga tidak akan bekerja keras untuk pelayanan di masa yang akan datang. Kecuali dia bertobat! Di pelayanan polanya jelas, siapa yang setia pada hal-hal yang kecil pasti akan setia untuk dipercayakan hal-hal yang besar dan lebih besar lagi. GKI Bondowoso ini yang sudah jadi bukti di hidup saya.


(kelanjutannya.....)

01 Juni 2026

Membangun Pendapatan Inkonvensional buat Gereja

Sebuah buku karya saya.

Ini link untuk mendownloadnya : 


Download PDF

(kelanjutannya.....)

Mengajari Anak Belajar

Katanya tugas anak itu belajar dan memang belajarnya tidak hanya di sekolah saja. Pulang sekolah masih harus mengerjakan PR, belum lagi belajar untuk ulangan atau test lainnya. Beragam usaha memang dilakukan agar anak bisa belajar dengan baik dan targetnya adalah agar nilai raportnya bagus-bagus.

 

Saya punya dua anak, saat di usia senja ini, saya bertanya apa saya sudah melakukan hal yang benar dalam hal mengajari anak-anak saya belajar? Saya juga tidak tahu! Yang jelas saya cukup senang saat di penghujung akhir tahun lalu, saat saya menelpon anak-anak saya yang bersekolah lanjut di luar negeri, “Mau jalan-jalan kemana liat pergantian tahun?” “Di kamar! Belajar! Khan Senin sudah ujian!” Anak yang satu lagi tidak bisa di telpon, tapi kirim pesan WA, “ Aku di Perpus, gak isa nelpon”. Dua-duanya lagi belajar, atas kemauannya sendiri. Dua-duanya kuliahnya Cum Laude!

 

Mendampingi anak belajar memang menjadi tugas orang tua yang sangat saya sadari. Anak-anak saya tidak boleh les pelajaran. Mereka harus bisa belajar sendiri, kalau tidak mengerti boleh tanya saya. Saya akan berusaha menjelaskannya, kadang saya harus belajar lagi untuk bisa menjelaskan pertanyaan mereka. Tidak ada“badek-badekan” dalam proses belajar anak-anak saya. Saya tidak akan menanyai mereka tentang materi ulangannya untuk memastikan kesiapan mereka. Asal mereka bilang sudah belajar, saya akan percaya. Nilai mereka nantinya yang akan jadi  buktinya. Sayapun serius mendampingi mereka belajar. Saat saya jauh dari mereka, sayapun selalu siap mengajari mereka, khususnya matematika. Saya bisa harus masuk ke sebuah restoran di Beijing, hanya karena saya perlu duduk dan menjabarkan soal matematika anak saya di kertas tisu resto itu dan kemudian mengirimkan fotonya ke anak saya. Menunggu pertanyaan berikutnya atau jawaban bahwa ia sudah mengerti. Saya harus komit juga untuk membantu mereka belajar. Saat anak saya merasa iri dengan teman-temannya yang semuanya les , saya pernah bilang ,”Belum tentu guru les teman-teman Meme itu lebih pinter dari Papa!” Bukan untuk sebuah kesombongan, tapi itu demi kepercayaan diri anak saya. Melatih mereka belajar dengan mandiri, bukan sekedar cara menghemat pengeluaran uang les. Lebih dari itu, ini adalah latihan menjalani kehidupan. Tidak semua hal di kehidupan ini bisa diketahui penyelesaiannya, tapi yang jelas anak-anak dilatih untuk berani menghadapi dan tau bagaimana cara belajar menghadapi dan mencari penyelesaiannya.

 

Suatu kali saat mengambil raport, guru kelas anak saya bilang , “Pak, anak Bapak harus lebih giat lagi belajarnya, nilainya ada yang kurang.” ”Bu, saat saya seusia anak saya ini, nilai saya jauh lebih bagus dari nilai anak saya ini, meski saya jarang belajar. Anak saya ini sudah belajar lebih keras dari saya waktu itu. Memang kemampuannya ya segini. Tidak masalah Bu.”

Anak harus dilindungi dan diakui segala usaha dan kerjanya. Nilai bukan satu-satunya tolok ukur.

 

“Pa, apa memang semua soal matematika dan fisika ini nantinya dipakai ?” “Bisa jadi semua matematika dan fisika itu tidak diperlukan di kehidupan ini, tapi yang jelas untuk naik kelas perlu  nilai matematika dan fisika yang baik, jadi kita harus bisa belajar untuk mencapai  nilai itu. Tidak semua orderan yang masuk ke bengkel Papa itu, Papa tau cara mengerjakannya. Kalau Papa tidak mau belajar, Papa gak akan bisa dapat uang.” Belajar adalah latihan menyelesaikan tantangan kehidupan. Melatih anak belajar bisa menjadi jalan untuk mempersiapan kemandirian mereka menghadapi misteri masa depan mereka.


(kelanjutannya.....)

31 Mei 2026

Menjadi Penatua

Dulu saya pernah menjadi Penatua di GKI, sekali sewaktu masih baru punya anak dan sekali lagi waktu  anak-anak sudah besar. Yang pertama kali tidak berlanjut di periode berikutnya. Pernah ada jemaat yang memasukkan kertas bertulisan komplain di kantong persembahan dan kebetulan saya yang membacanya. Ada anak yang gaduh di kebaktian, dan itu anak saya. Jadi saya pikir lebih enak bila konsentrasi mengasuh anak saja. Di periode yang kedua, berlangsung sangat lama, karena saya juga melayani di lingkup-lingkup luas GKI. Ada persyaratan, harus Penatua, jadi kepenatuaan saya diperpanjang hingga layanan di lingkup luas itu berakhir. Saya pernah melayani di semua lingkup luas GKI. Lingkup pelayanan GKI itu mulai dari Jemaat Setempat (GKI setempat), lalu ada Klasis, ada lagi Sinode Wilayah, kemudian yang terluas adalah Sinode GKI. Istilah yang digunakan adalah lingkup yang lebih luas, bukan lebih tinggi, karena memang ini adalah pelayanan. Dengan dua masa layanan berjedah lama ini, saya bisa punya banyak cerita tentang menjadi Penatua itu.

 

Menjadi Penatua itu bisa menjadi obyek pelayanan yang menghibur. Pertemanan di lingkungan pelayanan akan menjadi suatu yang menyenangkan. Keakraban dan kekeluargaan di lingkungan Gereja akan sangat menyenangkan dan menghibur dari padat dan ketatnya kegiatan sehari-hari, khususnya di kantor. Di Gereja semua orang lebih ramah dan baik. Lingkungan ini benar-benar menghibur dan mengendurkan semua ketegangan sehari-hari yang ada. Inilah indahnya menjadi Penatua.

 

Di masa kedua, saat ada tantangan lebih kompleks karena panggilan melayani di lingkup yang lebih luas, ada nuansa lain yang membersit. Menjadi Penatua bukan sekedar rekreasi, ada tanggung jawab untuk mengatur jalannya sebuah jemaat dan lingkup yang lebih luas dari jemaat itu sendiri. Ada tanggung jawab! Bagaimana cara memenuhi tanggung jawab itu? Bisa dengan sekedarnya, yang penting bahagia terhibur dari beban kehidupan sehari-hari, atau memang Kepenatuaan ini menuntut dan menimbulkan beban baru yang harus diperjuangkan? Pilihan harus diambil. Apapun pilihannya tidak masalah, yang penting adalah alasan saya mengambil keputusan pilihan itu.

 

Pelayanan Kepenatuaan adalah pelayanan yang harus dipertanggungjawabkan. Karenanya, pelayanan ini butuh idealisme yang harus ditegakkan dan diperjuangkan. Layaknya ini keluarga, segala hal baik harus diusahakan dan diupayakan untuk hadir. Bukan hanya baik secara materi, mampu memberikan fasilitas yang baik, tapi baik juga secara norma dan moralitas. Karena kalau saya akan bangga bila anak saya bisa berpakaian indah, saya juga lebih bangga bila anak saya berperilaku sopan dan berkarakter baik. Mampu membelikan HP mahal memang menyenangkan, tapi mampu memastikan semua obrolan dan relasi yang dibangun bebas dari makian dan kejahatan adalah lebih penting lagi. Menjadi Penatua sama seperti menjadi orang tua di rumah yang juga harus menerapkan standard moral dan karakter yang benar. Kalau di rumah anak tidak boleh “ngentit” saat disuruh belanja. Di Gereja, Penatua harus bisa menghadirkan karakter itu juga. Kalau di rumah semua harus minta maaf kalau bersalah, di gereja penatua harus menghadirkan nuansa itu juga.

 

Apa memang segitunya perjuangan penatua itu? Kepenatuan itu sepenuhnya pelayanan, tidak ada fasilitas dan remunerasinya. Untuk itulah yang terpilih diharapkan adalah yang mampu berketeladanan. Di jaman yang makin kompleks ini, mereka yang seharusnya menjadi teladan sering lupa akan perannya. Himpitan kehidupan sering mengalihkan keteladanan dibawah kebutuhan hidupnya. Seorang Penatua harus bisa hadir menegakkan idealisme itu.

 

“Saya sudah capek bertengkar di kantor, lha masak di gereja saya masih harus ngotot ngurus beginian?” Adalah baik menjadi orang baik, tapi panggilan Penatua adalah menjadi orang Benar. Karena bisa jadi ada yang memanfaatkan orang baik untuk melanggengkan kelakuan buruknya. Memang tidak ada orang yang sempurna, namun semangat bahwa semua orang harus bertumbuh dan berubah oleh pembaharuan budi akan menjadi penyemangat hadirnya komunitas yang sehat di lingkungan gereja. Penatua adalah penggerak upaya pembaharuan budi di lingkungan pelayanannya.


(kelanjutannya.....)