31 Mei 2026

Menjadi Penatua

Dulu saya pernah menjadi Penatua di GKI, sekali sewaktu masih baru punya anak dan sekali lagi waktu  anak-anak sudah besar. Yang pertama kali tidak berlanjut di periode berikutnya. Pernah ada jemaat yang memasukkan kertas bertulisan komplain di kantong persembahan dan kebetulan saya yang membacanya. Ada anak yang gaduh di kebaktian, dan itu anak saya. Jadi saya pikir lebih enak bila konsentrasi mengasuh anak saja. Di periode yang kedua, berlangsung sangat lama, karena saya juga melayani di lingkup-lingkup luas GKI. Ada persyaratan, harus Penatua, jadi kepenatuaan saya diperpanjang hingga layanan di lingkup luas itu berakhir. Saya pernah melayani di semua lingkup luas GKI. Lingkup pelayanan GKI itu mulai dari Jemaat Setempat (GKI setempat), lalu ada Klasis, ada lagi Sinode Wilayah, kemudian yang terluas adalah Sinode GKI. Istilah yang digunakan adalah lingkup yang lebih luas, bukan lebih tinggi, karena memang ini adalah pelayanan. Dengan dua masa layanan berjedah lama ini, saya bisa punya banyak cerita tentang menjadi Penatua itu.

 

Menjadi Penatua itu bisa menjadi obyek pelayanan yang menghibur. Pertemanan di lingkungan pelayanan akan menjadi suatu yang menyenangkan. Keakraban dan kekeluargaan di lingkungan Gereja akan sangat menyenangkan dan menghibur dari padat dan ketatnya kegiatan sehari-hari, khususnya di kantor. Di Gereja semua orang lebih ramah dan baik. Lingkungan ini benar-benar menghibur dan mengendurkan semua ketegangan sehari-hari yang ada. Inilah indahnya menjadi Penatua.

 

Di masa kedua, saat ada tantangan lebih kompleks karena panggilan melayani di lingkup yang lebih luas, ada nuansa lain yang membersit. Menjadi Penatua bukan sekedar rekreasi, ada tanggung jawab untuk mengatur jalannya sebuah jemaat dan lingkup yang lebih luas dari jemaat itu sendiri. Ada tanggung jawab! Bagaimana cara memenuhi tanggung jawab itu? Bisa dengan sekedarnya, yang penting bahagia terhibur dari beban kehidupan sehari-hari, atau memang Kepenatuaan ini menuntut dan menimbulkan beban baru yang harus diperjuangkan? Pilihan harus diambil. Apapun pilihannya tidak masalah, yang penting adalah alasan saya mengambil keputusan pilihan itu.

 

Pelayanan Kepenatuaan adalah pelayanan yang harus dipertanggungjawabkan. Karenanya, pelayanan ini butuh idealisme yang harus ditegakkan dan diperjuangkan. Layaknya ini keluarga, segala hal baik harus diusahakan dan diupayakan untuk hadir. Bukan hanya baik secara materi, mampu memberikan fasilitas yang baik, tapi baik juga secara norma dan moralitas. Karena kalau saya akan bangga bila anak saya bisa berpakaian indah, saya juga lebih bangga bila anak saya berperilaku sopan dan berkarakter baik. Mampu membelikan HP mahal memang menyenangkan, tapi mampu memastikan semua obrolan dan relasi yang dibangun bebas dari makian dan kejahatan adalah lebih penting lagi. Menjadi Penatua sama seperti menjadi orang tua di rumah yang juga harus menerapkan standard moral dan karakter yang benar. Kalau di rumah anak tidak boleh “ngentit” saat disuruh belanja. Di Gereja, Penatua harus bisa menghadirkan karakter itu juga. Kalau di rumah semua harus minta maaf kalau bersalah, di gereja penatua harus menghadirkan nuansa itu juga.

 

Apa memang segitunya perjuangan penatua itu? Kepenatuan itu sepenuhnya pelayanan, tidak ada fasilitas dan remunerasinya. Untuk itulah yang terpilih diharapkan adalah yang mampu berketeladanan. Di jaman yang makin kompleks ini, mereka yang seharusnya menjadi teladan sering lupa akan perannya. Himpitan kehidupan sering mengalihkan keteladanan dibawah kebutuhan hidupnya. Seorang Penatua harus bisa hadir menegakkan idealisme itu.

 

“Saya sudah capek bertengkar di kantor, lha masak di gereja saya masih harus ngotot ngurus beginian?” Adalah baik menjadi orang baik, tapi panggilan Penatua adalah menjadi orang Benar. Karena bisa jadi ada yang memanfaatkan orang baik untuk melanggengkan kelakuan buruknya. Memang tidak ada orang yang sempurna, namun semangat bahwa semua orang harus bertumbuh dan berubah oleh pembaharuan budi akan menjadi penyemangat hadirnya komunitas yang sehat di lingkungan gereja. Penatua adalah penggerak upaya pembaharuan budi di lingkungan pelayanannya.


(kelanjutannya.....)

31 Desember 2025

Akhir Tahun

Hari ini akhir tahun 2025. Saya ingat 26 tahun lalu, saat milenial baru mulai, 1 Januari 2000. Hari itu hari pertama saya mulai bab baru kehidupan ini. Saya berkomitmen untuk memulai usaha mandiri saya. Keluar dari tempat saya bekerja dan berusaha sendiri, berbisnis mandiri. Menyatukan semangat dan semua rencana di sebuah villa di Kalibaru. Sejuk udaranya, tapi menantang di benak yang selalu dibayangi pertanyaan, "Apa bisa ya?"
Hari ini saya menoleh kebelakang, jauh, sejauh 26 tahun. Saya dulu tidak pernah tahu dan yakin bahwa akan ada situasi seperti hari ini. Ada perusahaan yg sudah berjalan dengan baik, ada sejumlah aset yang sudah saya miliki. Ada keluarga dan anak-anak yang baik. Semuanya OK, apa itu hasil perencanaan yang matang? Hasil sebuah Resolusi di Kalibaru?
Dulu saya mulai dengan tabungan yg cukup untuk 3 sampai 6 bulan hidup. Ada rencana terburuk yang siap, umur saya belum 35 tahun. Saat itu lowongan kerja di koran kebanyakan ditulisnya usia maksimal 35 tahun. Jadi kalau saya gagal berbisnis saya masih bisa melamar kerja lagi. Istri saya juga bekerja, saya sudah bilang, "Kalau saya gagal, saya numpang makan sama kamu  ya." Itu mitigasi yang ada.
Banyak target yang saya buat untuk dicapai sebagai ukuran keberhasilan pribadi yang ingin dicapai. Ada pingin rumah, pingin kantor, pingin mobil, pingin apa saja yang biasanya orang lain inginkan juga. Satu per satu itu tercapai, satu per satu mungkin mulai terlampaui. 
Hari ini saya melihat ke belakang semuanya itu. Apa memang semuanya itu perlu? Apa memang semuanya itu dibutuhkan? Apa memang semuanya itu berguna?
Bercita-cita di masa muda itu memang indah. Ingin itu ingin ini yang perlu untuk memompa semangat kerja. Sepertinya suka duka bekerja menjadi sesuatu yang lebih indah dari pada mencapai dan memiliki sesuatu itu. Apa memang semua hasil itu indah?
Dulu saya bercita-cita punya rumah sebesar mungkin, sebanyak mungkin kamarnya. Kini saat anak-anak sudah besar, mereka sudah tidak di rumah lagi. Rasanya yang dibutuhkan cuma satu kamar tidur saja. Saya pernah kerja di Boss yang kaya sekali, saat awal bekerja saya diajak ke rumahnya dan ia bilang, "Daniel, lu tau, ruang tamu gua ini saja, sudah lebih besar dari rumah lu!" Setelah bekerja lama dan kita makin akrab, beliau pernah bilang lagi di rumahnya, "Daniel, nanti kalau lu sudah punya uang beli rumah, jangan beli rumah besar-besar. Gak ada gunanya, liat kamar itu di lantai dua itu, gua sudah enam tahun lebih gak pernah masuk kamar itu. Kita pagi duduk disini, makan, lalu masuk kamar tidur, cuma itu yang kita nikmati. Lainnya gak perlu." Saat itu, saat saya muda, saya tertawa aja, saya mikir ,"Jahat kamu Boss, kamu larang saya beli rumah besar biar saya gak minta gaji besar ya?" 
Tapi kini rasa itu juga mulai saya rasakan.

Saya mulai dengan tinggal di rumah kontrakan, pingin rasanya punya rumah dengan kamar banyak, agar tiap anak bisa punya kamar sendiri-sendiri seperti di sinetron yang lagi marak waktu itu. Rasanya anak-anak akan bahagia kalau punya kamar sendiri-sendiri. Saat waktu itu tiba, kamar-kamar itu tersedia, istri saya, yang guru BK, melihat hal lain. Tidak baik kalau anak-anak itu kamarnya sendiri-sendiri. Dia memaksa agak anak-anak tetap satu kamar. Alasannya katanya harga listrik mahal harus hemat, satu kamar saja! Tapi hasilnya, dua anak ini bisa makin akrab dan mereka bisa begitu dekat persaudarannya. Itu nilai yang memang ingin kita tanamkan, saat dulu mereka sering dan suka bertengkar. "Nanti, kalau Papa Mama sudah gak ada, di dunia ini cuma ada Cece dan Meme, kalau kalian gak bisa akrab lalu mau minta tolong sama siapa?" Ternyata itu bisa dibangun dengan satu kamar bersama, bukan dengan dua kamar masing-masing seperti di cita-cita saya dulu.

Dulu, ada seminar berbayar tentang kepemilikan properti. Katanya minimal kita punya rumah sebanyak jumlah anak kita. Maksudnya agar kita bisa memberi warisan yang baik ke anak-anak itu. Katanya properti ini bisa menghidupi dirinya sendiri, properti ini bisa menghasilkan dan beranak-pinak seperti materi seminar itu. Rasanya ini benar, bisnis properti memang bisa diandalkan, saat kita punya properti makin banyak makin bahagia. Hari ini, apa memang itu berguna bagi saya? Kalau mau dikejar, segalanya akan tidak ada cukupnya. Satu bisa jadi kurang, dua koq juga masih kurang, tigapun belum cukup. Lalu harus berapa? Ternyata kalau dipikir, sang pemberi seminar juga bukan pemilik kerajaan properti. Rasanya mungkin dia dapat uangnya dari menjual seminar dengan tema properti. Bukan kaya dari properti itu. Lha, kalau itu jalan dia untuk kaya, mana mau dia ungkapkan rahasianya dengan terbuka? Punya banyak belum tentu lebih baik dari yang punya sedikit. Bahkan bisa jadi tidak punya, juga tidak lebih buruk dari yang punya banyak. 
"Aku baru pulang dari Jepang operasi, habisnya 2M lebih!" Wuik, hebat ya? Tapi ada banyak orang yang tidak punya uang sebanyak itu dan ternyata memang tidak perlu operasi dengan biaya sebanyak itu. 

Bukan seberapa banyak yang bisa digapai dan dikumpulkan selama ini. Cuma apa dan bagaimana semuanya ini jadinya saat ini. Kalau sudah ada keluarga, apa sudah mereka tumbuh kembang dengan bahagia? Kalau ada perusahaan, apa sudah bisa itu jadi saluran berkat untuk semua yang ada di dalamnya. Kalau saja ada ini itu, apa dan bagaimana keadaannya? karena itu yang lebih penting. Bagaimana itu terjadi dan bagaimana itu berdampak akan menceritakan apa yang sudah dilalui selama ini.

Melihat kebelakang, melihat liku-liku jalan yang dilalui memang indah. Di jalan itu bisa dilihat tangan Tuhan yang menyertai. Tangan Tuhan yang melindungi, tapi juga ada tangan Tuhan yang ramah. Tuhan yang ramah dan sabar saat banyak kenakalan bisa dibungkus dengan rohani. Tuhan yang sabar itu masih selalu ramah saat kenakalan itu memperalat nama Tuhan. Pokoknya bisa selamat karena ada Tuhan yang masih sabar dan ramah. Semoga di tahun-tahun depan ini. Tuhan yang sabar dan ramah ini sudah tidak diperalat lagi. Tapi saya yang jadi alat Tuhan.
(kelanjutannya.....)

03 April 2025

Cerita dari Amerta

Banyak kisah menarik yang ada di seputaran layanan kedukaan. Kisah yang kadang terasa aneh, namun menarik untuk diingat dan dibagikan.

 

Kedukaan adalah hal yang tidak dapat diperkirakan kapan waktunya. Menentukan hari libur adalah sesuatu yang sulit bagi Amerta. Tahun lalu di hari kedua Lebaran, kita ada panggilan kedukaan. Semua sudah di luar kota, tapi untunglah semua sigap untuk bisa kembali bertugas. Ada yang di Malang, ada yang di Tuban, tapi semua sigap untuk kembali ke Surabaya menunaikan layanan. Tahun ini di hari ketiga Lebaran, kita langsung melayani dua layanan kedukaan.

 

Setelah sekian lama ini, kita mulai tahu masa-masa di mana layanan kedukaan ini akan banyak. Musim panas yang terik sekali, suhu udara yang panas sekali, sering menjadi pertanda bahwa layanan kedukaan akan meningkat. Sebaliknya bila Surabaya mulai hujan dan cuaca menjadi lebih sejuk, pelayanan kedukaan menjadi lebih berkurang. Di masa-masa beberapa hari setelah perayaaan yang berhubungan dengan pesta dan makan-makan enak, layanan kedukaan juga akan meningkat. Mungkin ini pertanda bahwa banyak orang yang lepas kendali saat bergembira dalam berperayaan.

 

Ada juga pertanda unik yang sulit dipercaya. Bila peti mati kecil, untuk anak atau bayi keluar, maka sebentar kemudian pasti akan beruntun layanan kedukaan yang ada. Anda tidak percaya? Saya sebenarnya juga! Tapi sudah beberapa kali hal ini terjadi. Aneh memang, tapi kebetulan ini terjadi juga.

 

Selalu siap melayani adalah semangat yang ada di Amerta. Apapun kendala yang ada, harus siap karena Amerta niatnya memang tulus melayani siapapun yang berduka. Kendala bila teknis/logis, bisa didiskusikan  bersama di WA Grup. Kadang kendala itu aneh juga. Pernah di suatu malam saat menjemput jenasah di RSAL, ambulan kita berputar-putar tersesat tidak dapat menemukan jalan keluar dari komplek RSAL itu. Padahal sudah banyak kali Pak Setyo , driver setia Amerta, melayani di sana. Setelah jenasah sampai di rumah duka, saat mengirim peti jenasah, tiba-tiba ambulan berasap tebal. Oh, tali kipasnya selip dan berasap, bisa diatasi. Di rumah duka, pintu ambulan tiba-tiba tidak bisa dibuka untuk menurunkan peti jenasah. Hari sudah menjelang dini hari, saat segala upaya gagal membuka pintu belakang ambulan itu. Terpaksa ambulan balik ke Johar, kantor Amerta. Pagi harinya kita kirim peti jenasah lain dengan ambulan yang lain. Begitu ambulan kedua ini keluar dari Johar, pintunya langsung terbuka, dan tidak bisa ditutup lagi. Maka sepanjang jalan pintu itu diikat dengan tali. Cerita ini terangkai dari kebetulan? Saya tidak tahu, tapi saya tetap yakin ketulusan melayani akan mampu mengatasi banyak hal yang tak terduga.

 

Kalau saja ada yang suka dengan keseruan dan ketulusan melayani, ayo! Kita bisa melayani bersama di Amerta. Kita yakin pelayanan ini akan bisa berkembang, karena kita punya semangat untuk selalu mencari peningkatan mutu. Di Amerta tiap kesalahan harus dibicarakan, bukan untuk memojokkan siapa yang salah, tetapi untuk dicari akar masalahnya hingga hal itu bisa tidak akan terulang lagi.

 

(kelanjutannya.....)

Pelayanan Kedukaan

Sudah dua tahun lebih ini saya melayani Jasa Kedukaan milik GKI. Bidang pelayanan yang tidak terpikirkan sebelumnya, dan kalau ini pilihan, mungkin tidak akan pernah saya pilih. Pengalaman kehilangan Mama di masa kecil menjadikan saya kurang senang melihat jenasah dan kedukaan. Bukan takut, hanya kurang suka saja.

 

Awalnya saya ditawari menjadi pengurus Yayasan di lingkup GKI. Lalu Yayasan ini mendirikan layanan baru, Amerta Memorial Services, Jasa Layanan Kedukaan. Ini memang dasarnya adalah bisnis tapi karena di bawah gereja maka konsep bisnisnya sedikit beda. Harus mendapat keuntungan, agar layanan ini bisa berkembang menghidupi dirinya sendiri. Juga tetap melayani layanan gratis Diakonia Gereja. Ini bukan karena uang banyak yang dimilikinya yang bisa diberikan dalam bentuk layanan Diakonia. Kita cuma sekedar menjadi saluran berkat. Ada jemaat yang rela berdonasi, kami yang menyalurkannya kepada yang membutuhkan.

 

Seperti jiwa GKI yang selalu mau jadi berkat buat sesama, maka layanan ini melayani semua orang. Memang utamanya jemaat GKI, tetapi juga jemaat gereja lain, bahkan umat beragama lain yang membutuhkan layanan kedukaan. Saya mulai tertarik dengan layanan kedukaan saat masa pandemi. Saat itu saya baru tahu bahwa meninggal itu juga tidak mudah. Saat itu ,saat keluarga bersedih karena kehilangan, masih juga bingung karena ambulan dan peti mati sulit didapatkan. Saat itulah saya tergerak mencarikan peti mati, meminta teman untuk mau membuatkan, merubah mobil gereja jadi ambulan untuk membawa jenasah. Ternyata  walau hidup itu bisa susah, tapi mati itu juga susah.

 

Banyak cerita menarik sepanjang melayani ini. Walau saya Tionghoa, saya tahunya lidi Hio itu berwarna merah. Saat kita melayani umat Khong Hu Cu, Pendetanya marah karena hio yang saya sediakan warnanya merah, bukan hijau. Harus hijau karena almarhum sudah berusia sangat lanjut. Saya hanya diberitahu untuk menyediakan hio dan saya tidak mengerti soal aturan warna itu. Lebih lagi saat prosesi pemakaman, dari tempat persemayaman menuju pemakaman harus naik ambulan. Ambulan baru kita ber-AC. Rekan yang bertugas berpikir bahwa di mobil berAC tidak boleh merokok, maka dipikirnya tidak boleh juga ada asap hio, maka dimatikanlah hio itu. Pak pendetanya marah lagi, Hio harus menyala terus sepanjang perjalanan.

 

Karena merasa perlu belajar banyak tentang ritual kedukaan agama lain, saya beberapa kali janjian bertemu dan mengobrol dengan Pak Pendeta itu. Inipun jadi menarik, karena harus cari tempat yang vegetarian. Setelah cukup akrab, saya mulai berani bicara apa adanya, ”Koh, maaf ya semua kesalah-kesalahan yang lalu, tapi tolong saya diajari biar gak salah-salah lagi.” Yang mengejutkan, Beliau menjawab ,”Daniel, gitu itu gak masalah, saya pernah sudah siap mau melarung abu di Perak, ternyata abunya ketinggalan!” Beliau menyebut nama Perusahaan kedukaan yang sangat terkenal. Yah, memang yang ingin selalu saya tekankan di Amerta. Kita boleh salah, tapi harus mau selalu dikoreksi dan siap memperbaiki diri. Makin lama melayani harus makin baik, bukan memelihara kebebalan.

 

Pelayanan memang bagian dari persembahan di hidup ini. Tapi melalui pelayanan, Tuhan juga makin memperlengkapi. Banyak hal saya yakini bisa saya dapatkan karena saya pernah belajar hal itu di pelayanan. Belajar melayani orang berduka, baru saya pelajari di Amerta ini. Belajar membangun tim kerja yang berbudaya kerja “Berubah oleh Pembaharuan Budi” juga saya pelajari di Amerta ini.

 

(kelanjutannya.....)

02 April 2025

Pendeta Bersahaja

Pengalaman melayani di banyak lingkup GKI, membawa saya mengenal banyak sisi kehidupan para Pendeta. Pendeta adalah orang-orang hebat yang mau membaktikan diri dan hidupnya untuk melayani pekerjaan Tuhan. Jemaat GKI pun belajar dan berusaha keras untuk  bisa memberikan penghargaan, yang harapannya berpadanan dengan segala pengorbanan itu. Penghargaan buat beliau-beliau yang sudah mau berjuang dan mempersembahkan hidupnya untuk pekerjaan Tuhan.

 

Saya mengenal Pendeta yang tidak ada jemaat tumpuannya, yang dengan santai bilang ,”Daniel, orang miskin itu gak bisa panjang umurnya, berobat itu mahal.” Saat itu beliau  menderita sakit jantung dan harus operasi. Dengan hidupnya yang bersahaja itu tidak mungkin beliau punya biaya operasi jantung itu. “Tapi saya bisa operasi juga, Tuhan itu baik!” Beliau akhirnya bisa operasi dan sembuh karena ada berkat Tuhan yang mengalir dengan mengherankan. Pernah juga kondisi rumahnya butuh renovasi total, selain banjir juga air hujan masuk melalui celah-celah lantai ubinnya. Ada saja jalan Beliau mendapat berkat Tuhan. Rumah itu direnovasi total dengan sangat baik.

 

Ada juga Pendeta yang realitis melihat kebutuhan ekonomi jaman sekarang ini. Kebutuhan yang sangat tinggi itu, membawanya pada pandangan untuk bersikap ekonomis juga.  Segala langkah harus dihitung secara ekonomis karena memang hidup ini tidak murah. Kalau mutasi ke tempat baru, ditelisiklah bagaimana rumah dan mobilnya. Kesempatan untuk mendapatkan panggilan berkotbah dari tempat lainnya apa banyak ya? Celah apa yang bisa dimanfaatkan untuk proses penggantian bon  belanja? Dunia yang berat ini, tidak salah juga ikut menempanya menjadi kritis ekonomis.

 

Beberapa saat lalu saya terhenyak. Dari sebuah pengumuman penerimaan mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur tanpa tes, SNBP, ada nama anak seorang Pendeta. Ini memang hal yang biasa, tapi bagi saya ini sangat istimewa. Pernah terpikir bahwa Pendeta ini akan segera pensiun dan bagaimana beliau bisa membiayai kuliah anaknya. Kuliah pasti tidak murah, apalagi bila di perguruan tinggi swasta yang biasanya jadi rujukan anak Pendeta GKI. Pendeta itu juga saya kenal sebagai orang yang bersahaja dalam pandangan keuangannya. Keluarga bersahajanya sering naik angkot. Saya sempat bingung bagaimana bila pensiun nanti dan masih harus membiayai kuliah. Tuhan selalu punya jalan. Tuhan sanggup membukakan pintu kemurahan di jalan bersahaja yang dipilihnya. Kuliah di Negeri memang sudah tidak sangat murah lagi, tapi pasti itu jauh lebih murah dari pada di swasta dengan mutu yang setara. Tuhan maha tahu dan maha baik.

 

Dulu, saat umat Israel dipelihara dengan Manna, katanya, siapa yang mengumpulkan sedikit tidak akan jadi berkekurangan dan yang mengumpulkan sangat banyakpun tidak akan menjadi berkelebihan. Ada mekanisme Tuhan yang selalu mencukupkan. Mungkinkah sikap mental ini masih laku dalam kehidupan pelayanan ini? Tuhan yang tahu apa yang dibutuhkan, akan mampu mencukupkan pada saatnya? Menjalani sikap mental adalah pilihan menghidupi apa yang dipercayainya.

 

(kelanjutannya.....)

28 Januari 2025

Sekolah Murah

Saya sangat percaya akan pentingnya pendidikan, pentingnya sekolah demi masa depan. Saat biaya sekolah menjadi biaya yang sangat mahal, saya ada cerita tentang bagaimana saya menjalani Sekolah Murah ini. Cerita ini memang subyektif, tapi semoga bermanfaat untuk sekedar menjadi cerita bahwa ada Sekolah Murah yang saya alami  ini. Sekolah Murah ini bukan sekedar murah, tetapi benar-benar bermutu dan berkualitas.

 

Dulu saya sekolah di SMP Katholik, bayarnya delapan ribu Rupiah sebulan. Waktu SMA di SMPPN saya bayar seribu lima ratus Rupiah sebulan, waktu itu gaji saya sebagai penagih rekening koran sepuluh ribu Rupiah sebulan. Kuliah Perkapalan bayar seratus dua puluh ribu rupiah sesemester, waktu itu gaji sales saya seratus tujuh puluh lima ribu rupiah sebulan.  Itu saya, dulu.

 

Anak saya dua, dua-duanya sekolahnya juga murah. TK sampai SMA sebulan mungkin tiga ratus sampai lima ratus ribuan, di sekolah Kristen paling terkenal di Surabaya. Tidak bayar uang gedung dan biaya lainnya. Pastinya berapa sebulan, saya juga tidak tahu karena dipotong langsung dari gaji Istri saya yang menjadi guru di sekolah itu. Kuliah Hukumnya tiga juta setengah satu semester selama tujuh semester, tanpa uang gedung. Yang mahal saat S2, karena itu pendidikan profesi jadi tidak ada beasiswanya, sekitar lima puluh juta-an hingga lulus dalam tiga semester. Anak yang kecil kuliah di Fakultas Psikologi yang tertua di jatim, dapat diskon besar karena istri saya sudah menjadi guru lebih dari dua puluh tahun. Lanjut S2 gratis plus dapat uang saku di China di universitas yang rankingnya lebih tinggi dari tempat kuliah saya dulu.

 

Saat semua orang tahu bahwa biaya pendidikan itu mahal, saya selalu menyarankan bahwa ada jalan untuk bisa bersekolah dengan murah. Tapi jalan itu tidak gampang, harus disertai dengan usaha yang keras. Suatu kali seorang teman menelpon. “Koh, aku wes pensiun, tapi anak-anakku masih sekolah semua, bagaimana ya biar mereka bisa kuliah dengan baik?”

Saya ajak ketemuan di sebuah CafĂ©, saya jelaskan ke anak-anaknya bahwa mereka harus bantu orang tua dengan sekolah yang murah tapi berkualitas. Masuk universitas negeri dengan  jalur tes! Beberapa lama kemudian sang Papa menelpon, suaranya terdengar bergetar terharu “Koh, anakku diterima di ITS” Saya terkejut, lebih terkejut lagi, saat tahu bahwa anak itu memilih jurusan Perkapalan. 

 

Keponakan saya pernah dua kali gagal tes ke ITS. Saya tidak mampu kalau harus membiayai kuliah di universitas swasta yang mahal, maka dia mencari beasiswa kuliah di China. Dia lulus dari China dan kini bisa bekerja dengan sangat baik di Jakarta. Peluang beasiswa bisa menjadi alternatif sekolah murah, tapi untuk bisa mendapat beasiswa harus ada usaha dan persiapan yang tidak sedikit. Memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin atau terlalu sulit. Yang penting ada kemauan.

 

Sebagai orang tua, saya ingin bisa membukakan banyak jendela agar anak-anak bisa melihat dunia dengan lebih luas dan jelas. Saat mereka bisa memandang dengan lebih luas, semoga semangatnya bangkit untuk meraih yang diinginkan. Saat itulah kerja keras dan semangat dibutuhkan. Sekolah murah memang ada, dan  itu bukan murahan, itu harus dibayar dengan usaha dan semangat.

 

 

(kelanjutannya.....)

31 Oktober 2023

Mendidik Anak

Di suatu postingan ada video tentang anak kecil yang fasih berkotbah tentang surga dan agama. Nampak menarik dan membanggakan anak kecil bisa fasih bicara hal yang begitu rohani. Saya kemudian berfikir tentang anak-anak saya, apa yang sudah saya ajarkan untuk mereka? Apa mereka bisa bicara tentang hal-hal yang rohani, masak kalah sama anak kecil itu?

 

Saya berpikir keras tentang pendidikan rohani untuk anak-anak, ini rasanya penting. Ini perlu untuk masa depan mereka. Ada benarnya juga,  karena dulu untuk masuk ITS anak-anak harus pinter rumus fisika, matematika, kimia, sekarang katanya bisa masuk ITS kalau bisa hafal sekian Juz ayat Alquran. Di suatu WA Grup teman yang Kristen berjuang untuk kesetaraan apa yang bisa didapatkan oleh yang beragama lain? Hafal Alkitab? Pintar kotbah? Yang nampak rohani itu memang sudah sedemikian pentingnyakah?

 

Mendidik anak tentang hal yang rohani itu harus bagaimana? Saya sulit membayangkannya, karena memang saya tidak pernah sekolah dengan pelajaran cara mendidik anak. Mendidik anak cuma hal yang terpaksa dilakukan di kehidupan saya ini. Mendidik anak tidak disiapkan namun harus dijalani. Mendidik anak tidak ada ujian sertifikasinya, namun bila gagal akan jadi beban seumur hidup. Mendidik anak itu katanya sulit, tapi mau tidak mau itu ada di keseharian kehidupan ini. Keniscayaan yang tak terhindarkan.

 

Que sera sera, what will be will be? Harusnya tidak! Keteladanan tetap kunci untuk bisa mendidik dengan baik. Hidup baik akan menuntun orang lain di keluarga untuk jadi baik. Mendidik bukan sekedar mengajarkan. Mendidik bisa berarti tidak mengajarkan apa-apa, tapi selalu hadir dengan perbuatan yang bisa dicontoh. Emak saya tidak mengajarkan jam berapa saya harus bangun pagi. Tapi memberi teladan bangun jam satu pagi karena jam tiga pagi sudah harus ada yang memerah sapi. Komit pada pekerjaan yang dilakoninya. Kalau saya mau membantu berarti saya harus bangun sepagi itu.

 

Memeriksa tingkat kerohanian jadi pertanyaan penilai saat mendidik anak ini saya jalani. Entahlah apa dan bagaimana standard itu bisa saya terapkan. Saat ini, interaksi keseharian yang akan menentukan seberapa standard itu dididikkan. Apa yang menjadi kerisauan saya? Apa saya risau kalau ada yang tanya,”Anak Bapak koq gak bisa mimpin renungan dengan baik?” atau lebih risau kalau misalnya ada yang menelpon dari Ambon, ”Anak bapak rasanya nilep uang kaos……” Apa yang lebih merisaukan, anak saya bingung saat menjelaskan ayat Alkitab, atau anak itu bingung saat butuh beli kursi hingga harus menempuh jalan menipu? Hal rohani rasanya adalah hal yang imanen di dalam keseharian. Saat yang rohani itu tidak nampak jelas, mungkin hanya perbuatan keseharian yang bisa dirasakan oleh orang lain.

 

Pengalaman hidup tentang mendidik anak ini yang mengingatkan kekuatan sebuah pengharapan seperti lirik lagu: “Tuntun aku Tuhan Allah. Lewat gurun dunia, Kau perkasa dan setia. Bimbing aku yang lemah…..

(kelanjutannya.....)

11 Oktober 2023

Babak Akhir

Hari ini saya berulangtahun, ini yang ke 55. Banyak sekali dan terlalu banyak dan semuanya adalah berkat Tuhan yang melimpah. Tuhan sudah berkarya dalam waktu-waktu yang berlalu dan itulah bukti jaminan dan keyakinan bahwa waktu-waktu di depanpun semoga ada dalam anugerahNya.

 

Entah sampai umur berapa saya akan hidup, tidak tahu dan inilah misteri. Yang jelas saya sudah tidak muda lagi. Mama saya meninggal usia 38, papa saya 65, entahlah saya. Usia normal manusiapun sudah kita ketahui. Saya sadar inilah babak akhir hidup ini. Mau apa saya di babak akhir ini?

 

Dulu saya takut mati, bukan soal masuk surga atau neraka. Saya percaya anugerah karya penyelamatan Tuhan. Saya takut kalau saya mati, apa anak saya bisa bersekolah dengan baik? Bisa lulus kuliah? Untuk itulah saya beli polis asuransi semampu saya waktu itu, minimal nilai pertanggungannya bisa untuk membiayai anak saya kuliah kalau saja saya mati. Kini, anak saya sudah lulus kuliah semua, lalu saya mau takut apa lagi?

 

Di babak akhir ini saya mau apa, saat yang saya takuti itu sudah terlewati? Banyak rekan saat mulai pensiun punya banyak kecenderungan yang sama. Semuanya jadi makin religius! Belajar agama dan kitab suci menjadi pilihan yang baik dan popular. Semua teman yang dulu nakal kini makin alim. Ada yang bilang itulah yang betul dan seharusnya! Ada juga yang bilang, “lha memang Hormon Testosteronnya menurun jadi ya wes gak mampu nakal lagi lha…….” Kalau saja surga dan kehidupan mendatang itu sepenuhnya hanya karena kasih karunia Tuhan, mengapa saya masih harus susah payah mengusahakannya?

 

Agama memang menarik. Karena jalur agamalah yang paling bisa menjanjikan kehormatan dan penghargaan tanpa kriteria dan pagu yang jelas. Yang penting tampil alim dan religius, pasti bisa langsung dihormati. Jadi guru atau dosen ada sertifikasi dan persyaratan yang ketat. Jadi sales ada target penjualan yang harus dicapai. Jadi profesi lain, selalu saja ada Key Performance Index yang harus diraih. Hanya jalur agama yang bisa menyediakan jalan pintas kehormatan dan penghargaan, tanpa kriteria yang jelas. Haruskan saya isi babak akhir hidup saya lewat jalur ini?

 

Kalau saja ada doa yang sering terlantun dan masih akan jadi doa saya, itu adalah Doa Bapa Kami “.. jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga…” Mendatangkan Kerajaan Allah di muka bumi, mendatangkan kebahagiaan di bumi ini. Ini doa saya. Maka untuk itulah saya pingin ada. Di babak akhir inilah, hal itu harusnya bisa diusahakan saat segala yang menakutkan dulu itu sudah terlewati. Saya mau makin menjadi berkat. Saya sekolah teknik, maka di babak akhir ini saya harus makin pintar di bidang teknik ini. Saya punya perusahaan, maka di babak akhir ini, perusahaan ini harus makin jadi besar sehingga makin bisa jadi berkat buat banyak karyawan dan orang lainnya.

 

Nilai agama dan kitab suci itu harusnya bisa lumat tercerna dan hadir dalam buah dari bidang dan bisnis yang saya jalani. Semoga di babak akhir ini tidak diisi dengan biusan agama yang manipulatif. Semoga kalau saya percaya pada agama, saya menghadirkannya dengan kebahagian bagi semua orang. Semoga Tuhan yang tak terlihat itu tidak dipaksakan untuk dipertontonkan tapi bisa dihadirkan rasanya….. Doakan babak akhir saya ini….

 

(kelanjutannya.....)