Ini tahun ke empat puluh saya keluar dari kota ini, termasuk dari GKI Ini. Kota yang tidak ada SMA swasta yang baik, sehingga anak selepas SMP harus pindah ke kota lain. Untung saya mau sekolah negeri, jadi saya bisa lebih lama di kota ini. Bagi GKI, pasti kekurangan anak-anak mudanya. Bagi gereja, kesulitan nyatanya adalah tidak adanya pemusik. Yang bisa les organ, biasanya dari anak-anak keluarga berada, yang pasti mengejar sekolah di luar kota. GKInyapun sering lama tidak ada pendetanya, pernah ada Pendetanya malah ada perpecahan umatnya. Pernah ada eksodus umat, terutama yang kaya-kaya pindah. Rasanya memang tidak ada masa depan di kota dan GKI Bondowoso ini. Di tahun-tahun yang berjalan, saat mudik dan beribadah di gereja ini, selalu ada pertanyaan, “Koq bisa ya, gereja ini tidak mati-mati?” Puluhan tahun berjalan, tidak ada satupun yang berubah signifikan, kadang membaik, kemudian menurun lagi. Tidak ada masa depan yang cerah.
Hari ini saya beribadah lagi di GKI ini. Saya terhenyak. Ada dekorasi interior yang menarik. Model mediteranian di wall paper maupun lampu-lampunya, sangat kreatif! Ada relief dengan penjelasan ayat alkitab berbahasa Madura. Struktur bangunannya tetap sama, bangku umatnya juga masih sama seperti puluhan tahun lalu. Tapi ada anak muda yang mampu mendaraskan Mazmur dengan sangat baik. Ada pemain musik yang sangat baik. Ada belasan anak muda yang menyanyi. Ada Penatua yang bisa bikin program bersama jemaat menanam sayur sawi. Ada peralatan elektronik yang modern. Suasana berubah dari puluhan tahun lalu. Banyak umat berusia lanjut yang bisa menjadi saksi perubahan ini. Memang ada sosok pendeta muda ganteng yang menjadi penggerak semua ini.
Kenapa koq tidak ada yang mengusulkan untuk tutup atau pindah pelayanan ke tempat lain saja? Mereka terus saja setia. Mungkin di hari-hari itu, jalan saja terseok, berdiri mungkin juga terhuyung. Duduk merenungpun hanya memuncul gambaran suram dan redupnya masa depan. Memang sekarang belum juga ada SMA swasta terkenal di Bondowoso, walau katanya sudah mulai ada yang buka sekolah dengan tiga Bahasa. Dulu sempat ada Universitas Bondowoso, tapi kemudian ternyata lulusannya tidak bisa mendaftar di CPNS. Kini ada Universitas Jember di Bondowoso, universitas negeri yang masuk daftar SNBT di Bondowoso. Ini memungkinkan banyak anak muda dari penjuru tanah air bisa kuliah di Bondowoso. Situasi berubah tidak terbayangkan. Bisa ada pendeta muda yang baterainya selalu baru yang mau melayani di Bondowoso, bisa ada Kampus yang mendatangkan banyak anak muda kuliah di Bondowoso. Jaman berubah dan yang bisa memanfaatkan perubahan itu adalah yang sudah siap bekerja dan setia berkarya.
Pola kehidupan ini biasanya akan selalu bisa dipakai untuk menebak masa depan. Di investasi saham, itu yang disebut analisa teknikal. Di pelayanan ada pula pola yang bisa dilihat: yang dulu-dulunya terpola tidak terbukti mau bekerja keras, pasti juga tidak akan bekerja keras untuk pelayanan di masa yang akan datang. Kecuali dia bertobat! Di pelayanan polanya jelas, siapa yang setia pada hal-hal yang kecil pasti akan setia untuk dipercayakan hal-hal yang besar dan lebih besar lagi. GKI Bondowoso ini yang sudah jadi bukti di hidup saya.