01 Juni 2026

Mengajari Anak Belajar

Katanya tugas anak itu belajar dan memang belajarnya tidak hanya di sekolah saja. Pulang sekolah masih harus mengerjakan PR, belum lagi belajar untuk ulangan atau test lainnya. Beragam usaha memang dilakukan agar anak bisa belajar dengan baik dan targetnya adalah agar nilai raportnya bagus-bagus.

 

Saya punya dua anak, saat di usia senja ini, saya bertanya apa saya sudah melakukan hal yang benar dalam hal mengajari anak-anak saya belajar? Saya juga tidak tahu! Yang jelas saya cukup senang saat di penghujung akhir tahun lalu, saat saya menelpon anak-anak saya yang bersekolah lanjut di luar negeri, “Mau jalan-jalan kemana liat pergantian tahun?” “Di kamar! Belajar! Khan Senin sudah ujian!” Anak yang satu lagi tidak bisa di telpon, tapi kirim pesan WA, “ Aku di Perpus, gak isa nelpon”. Dua-duanya lagi belajar, atas kemauannya sendiri. Dua-duanya kuliahnya Cum Laude!

 

Mendampingi anak belajar memang menjadi tugas orang tua yang sangat saya sadari. Anak-anak saya tidak boleh les pelajaran. Mereka harus bisa belajar sendiri, kalau tidak mengerti boleh tanya saya. Saya akan berusaha menjelaskannya, kadang saya harus belajar lagi untuk bisa menjelaskan pertanyaan mereka. Tidak ada“badek-badekan” dalam proses belajar anak-anak saya. Saya tidak akan menanyai mereka tentang materi ulangannya untuk memastikan kesiapan mereka. Asal mereka bilang sudah belajar, saya akan percaya. Nilai mereka nantinya yang akan jadi  buktinya. Sayapun serius mendampingi mereka belajar. Saat saya jauh dari mereka, sayapun selalu siap mengajari mereka, khususnya matematika. Saya bisa harus masuk ke sebuah restoran di Beijing, hanya karena saya perlu duduk dan menjabarkan soal matematika anak saya di kertas tisu resto itu dan kemudian mengirimkan fotonya ke anak saya. Menunggu pertanyaan berikutnya atau jawaban bahwa ia sudah mengerti. Saya harus komit juga untuk membantu mereka belajar. Saat anak saya merasa iri dengan teman-temannya yang semuanya les , saya pernah bilang ,”Belum tentu guru les teman-teman Meme itu lebih pinter dari Papa!” Bukan untuk sebuah kesombongan, tapi itu demi kepercayaan diri anak saya. Melatih mereka belajar dengan mandiri, bukan sekedar cara menghemat pengeluaran uang les. Lebih dari itu, ini adalah latihan menjalani kehidupan. Tidak semua hal di kehidupan ini bisa diketahui penyelesaiannya, tapi yang jelas anak-anak dilatih untuk berani menghadapi dan tau bagaimana cara belajar menghadapi dan mencari penyelesaiannya.

 

Suatu kali saat mengambil raport, guru kelas anak saya bilang , “Pak, anak Bapak harus lebih giat lagi belajarnya, nilainya ada yang kurang.” ”Bu, saat saya seusia anak saya ini, nilai saya jauh lebih bagus dari nilai anak saya ini, meski saya jarang belajar. Anak saya ini sudah belajar lebih keras dari saya waktu itu. Memang kemampuannya ya segini. Tidak masalah Bu.”

Anak harus dilindungi dan diakui segala usaha dan kerjanya. Nilai bukan satu-satunya tolok ukur.

 

“Pa, apa memang semua soal matematika dan fisika ini nantinya dipakai ?” “Bisa jadi semua matematika dan fisika itu tidak diperlukan di kehidupan ini, tapi yang jelas untuk naik kelas perlu  nilai matematika dan fisika yang baik, jadi kita harus bisa belajar untuk mencapai  nilai itu. Tidak semua orderan yang masuk ke bengkel Papa itu, Papa tau cara mengerjakannya. Kalau Papa tidak mau belajar, Papa gak akan bisa dapat uang.” Belajar adalah latihan menyelesaikan tantangan kehidupan. Melatih anak belajar bisa menjadi jalan untuk mempersiapan kemandirian mereka menghadapi misteri masa depan mereka.


(kelanjutannya.....)