Kemarin saya mengobrol dengan beberapa anak SMA. Sebenarnya saya cuma bermaksud mengisi waktu saja, karena ini untuk pertama kalinya GKI Jatim mengoperasikan Pondok Kharista, tempat menginap dan beracara yang paling baru di area Pacet. Tempatnya bagus, cocok buat Retreat atau acara yang butuh kapasitas hingga sekitar 100-an orang. Rasanya ini tempat yang paling bagus dan nyaman di daerah Pacet saat ini. SMA ini adalah pemakai pertama Pondok Kharista ini. Saya hanya ingin memastikan bahwa semuanya berjalan lancar.
Saya duduk mengobrol dengan enam atau tujuh orang anak kelas sebelas itu.
“Kamu nanti mau sekolah di mana setelah ini?”
“Saya mau ke Jerman”
“Saya belum tahu, mau ke Taiwan atau ke Singapore.”
“Saya ke Meiguo.” (maksudnya Amrik).
Semua anak yang menjawab, menjawab ke luar negeri. Saya bertanya lagi,
”Setelah itu kamu akan balik ke Indonesia atau akan kerja dan tinggal di sana?” semuanya menjawab atau menunjukkan gelagat untuk menjawab,
“Akan terus di luar negeri!”
Tidak ada rasanya yang ingin menjawab bahwa mereka akan balik dan berkehidupan di Indonesia lagi. Saya tanya lagi, “Mengapa?”
“Di sini, hidup tidak nyaman!”
“Di sini peraturannya tidak jelas”
“Di sini ekonominya tidak berkembang”
“Di sini peluangnya sedikit” Banyak jawaban, tapi semuanya menunjukkan kepesimisan mereka, untuk bisa balik dan bekerja kembali di Indonesia.
“Kamu jangan percaya omongan saya, kamu harus lebih percaya ke Papamu, tapi coba kamu pikirkan saja omongan saya ini.”
“Kalau nanti kamu bisa sekolah ke luar negeri, itu pasti karena Papamu kaya, tapi apa kamu pernah berpikir, di mana Papamu berbisnis dan berusaha hingga bisa kaya seperti sekarang ini?”
“Di Amerika?”
“Di Singapore?”
“Di Jerman?”
“Di Indonesia, di sini!”
“Apa bisa Papamu bikin usaha dan bisnis se sukses sekarang ini kalau dia di Amerika, di Jerman?”
Rasanya ini membuat mereka mulai tercerahkan. Suara saya cukup keras, jadi pasti banyak temannya di sekitarnya bisa mendengar obrolan kita. Jumlah anak yang nimbrung tambah banyak, bahkan ada satu anak perempuan yang ikut nimbrung juga. Diskusi makin jalan. Bahkan ketika saya mau pergi beberapa anak masih mengajak mengobrol terus.
Menjadi orang tua atau minimal menjadi orang yang lebih tua, rasanya harus bisa membukakan jendela bagi generasi yang lebih muda. Membukakan jendela bukan mendikte mereka, Membukakan jendela hanya melebarkan sudut pandang agar mereka bisa melihat sesuatunya lebih banyak dan lebih luas dan lebih bervariasi. Membukakan jendela bukan juga memasang filter di jendela itu. Filter yang bisa berupa stigma pribadi atau praduga yang mungkin tertanam di benak selama ini. Saat anak saya bersekolah di China dan di sana banyak orang Afrika, saya memintanya untuk mencoba berteman dengan mereka. Siapa tahu ada peluang bisnis yang bisa dikerjakan.
“Takut Pa..”
“Itu khan karena kita gak pernah berteman dengan mereka! Cobalah…”
Semoga banyak orang berani melihat dengan jernih dari banyak jendela yang hadir di persahabatan dan pergaulan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar