Dulu saya pernah menjadi Penatua di GKI, sekali sewaktu masih baru punya anak dan sekali lagi waktu anak-anak sudah besar. Yang pertama kali tidak berlanjut di periode berikutnya. Pernah ada jemaat yang memasukkan kertas bertulisan komplain di kantong persembahan dan kebetulan saya yang membacanya. Ada anak yang gaduh di kebaktian, dan itu anak saya. Jadi saya pikir lebih enak bila konsentrasi mengasuh anak saja. Di periode yang kedua, berlangsung sangat lama, karena saya juga melayani di lingkup-lingkup luas GKI. Ada persyaratan, harus Penatua, jadi kepenatuaan saya diperpanjang hingga layanan di lingkup luas itu berakhir. Saya pernah melayani di semua lingkup luas GKI. Lingkup pelayanan GKI itu mulai dari Jemaat Setempat (GKI setempat), lalu ada Klasis, ada lagi Sinode Wilayah, kemudian yang terluas adalah Sinode GKI. Istilah yang digunakan adalah lingkup yang lebih luas, bukan lebih tinggi, karena memang ini adalah pelayanan. Dengan dua masa layanan berjedah lama ini, saya bisa punya banyak cerita tentang menjadi Penatua itu.
Menjadi Penatua itu bisa menjadi obyek pelayanan yang menghibur. Pertemanan di lingkungan pelayanan akan menjadi suatu yang menyenangkan. Keakraban dan kekeluargaan di lingkungan Gereja akan sangat menyenangkan dan menghibur dari padat dan ketatnya kegiatan sehari-hari, khususnya di kantor. Di Gereja semua orang lebih ramah dan baik. Lingkungan ini benar-benar menghibur dan mengendurkan semua ketegangan sehari-hari yang ada. Inilah indahnya menjadi Penatua.
Di masa kedua, saat ada tantangan lebih kompleks karena panggilan melayani di lingkup yang lebih luas, ada nuansa lain yang membersit. Menjadi Penatua bukan sekedar rekreasi, ada tanggung jawab untuk mengatur jalannya sebuah jemaat dan lingkup yang lebih luas dari jemaat itu sendiri. Ada tanggung jawab! Bagaimana cara memenuhi tanggung jawab itu? Bisa dengan sekedarnya, yang penting bahagia terhibur dari beban kehidupan sehari-hari, atau memang Kepenatuaan ini menuntut dan menimbulkan beban baru yang harus diperjuangkan? Pilihan harus diambil. Apapun pilihannya tidak masalah, yang penting adalah alasan saya mengambil keputusan pilihan itu.
Pelayanan Kepenatuaan adalah pelayanan yang harus dipertanggungjawabkan. Karenanya, pelayanan ini butuh idealisme yang harus ditegakkan dan diperjuangkan. Layaknya ini keluarga, segala hal baik harus diusahakan dan diupayakan untuk hadir. Bukan hanya baik secara materi, mampu memberikan fasilitas yang baik, tapi baik juga secara norma dan moralitas. Karena kalau saya akan bangga bila anak saya bisa berpakaian indah, saya juga lebih bangga bila anak saya berperilaku sopan dan berkarakter baik. Mampu membelikan HP mahal memang menyenangkan, tapi mampu memastikan semua obrolan dan relasi yang dibangun bebas dari makian dan kejahatan adalah lebih penting lagi. Menjadi Penatua sama seperti menjadi orang tua di rumah yang juga harus menerapkan standard moral dan karakter yang benar. Kalau di rumah anak tidak boleh “ngentit” saat disuruh belanja. Di Gereja, Penatua harus bisa menghadirkan karakter itu juga. Kalau di rumah semua harus minta maaf kalau bersalah, di gereja penatua harus menghadirkan nuansa itu juga.
Apa memang segitunya perjuangan penatua itu? Kepenatuan itu sepenuhnya pelayanan, tidak ada fasilitas dan remunerasinya. Untuk itulah yang terpilih diharapkan adalah yang mampu berketeladanan. Di jaman yang makin kompleks ini, mereka yang seharusnya menjadi teladan sering lupa akan perannya. Himpitan kehidupan sering mengalihkan keteladanan dibawah kebutuhan hidupnya. Seorang Penatua harus bisa hadir menegakkan idealisme itu.
“Saya sudah capek bertengkar di kantor, lha masak di gereja saya masih harus ngotot ngurus beginian?” Adalah baik menjadi orang baik, tapi panggilan Penatua adalah menjadi orang Benar. Karena bisa jadi ada yang memanfaatkan orang baik untuk melanggengkan kelakuan buruknya. Memang tidak ada orang yang sempurna, namun semangat bahwa semua orang harus bertumbuh dan berubah oleh pembaharuan budi akan menjadi penyemangat hadirnya komunitas yang sehat di lingkungan gereja. Penatua adalah penggerak upaya pembaharuan budi di lingkungan pelayanannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar