09 Oktober 2021

Orang Pandai

Sejak kecil orang tua saya menyekolahkan saya dengan harapan untuk jadi orang pandai. Dalam suatu krisis dan di puncak masalah itu Papa saya sempat bilang , “Papa tau lu sekarang sudah pinter, tapi lu harus ingat, kalau dulu papa endak utang uang ke *****, lu pasti gak bisa masuk TK dan tidak bisa jadi kayak sekarang.” Saya tercekat! Memang sejak kecil Papa tidak pernah memukul anak-anaknya. Papa sangat baik, berjuang untuk keluarganya. Menjadi orang pandai itu sejatinya harapan orang tua dan juga harapan saya.

Menjadi orang pandai itu menyenangkan, karena pasti akan membuat orang lain berdecak kagum. Orang akan tidak lagi memandang rendah saya, Rasanya orang akan lebih menghargai saya kalau saya bisa jadi orang pandai. Menjadi pandai itu jadi aktualisasi diri saya? Lalu bagaimana ya agar saya bisa tampil sebagai orang pandai dan bagaimana agar orang-orang itu tahu bahwa saya ini orang pandai?

 Saya bisa tampil dengan tampilan orang pandai. Bicara dengan kosa kata sulit dan tinggi agar tampak terpelajar dan dianggap lebih tahu. Dalam rapat bisa hadir dengan kosa kata asing lalu tampil dengan usaha menjelaskan arti kosa kata itu. Mungkin orang akan kagum dengan kemampuan itu. Dengan begitu saya bisa jadi orang pandai? Tapi di masa sekarang ini kalau cuma menjelaskan arti dan maksud sebuah kata atau frase, Google sudah lebih cepat dan murah.

Saya juga bisa tampil dengan janji menyajikan suatu hal dengan bagus dan indah, agar saya juga bisa dianggap pandai. Misalnya, laporan keuangan harus dibuat dengan janji rapi dan bagus hingga butuh waktu lama  untuk menyiapkannya. Waktu kerja yang lama perlu diajukan agar orang lain bisa menghargai bahwa ini dikerjakan dengan baik, sesuatu yang baik itu tidak asal-asalan jadi butuh waktu lama. Orang pandai itu kerjanya memang bagus dan perlu waktu. Tapi apa betul esensinya begitu? Esensi laporan keuangan itu cuma akuntabilitas. Saat nilai akuntabilitas itu tampil dengan dijunjung tinggi, bentuk laporan tidak akan jadi masalah utama. Saat ada semangat menampilkan laporan yang baik tapi kehilangan esensi dasar dari laporan itu, maka di hadapan orang yang mengerti suatu masalah, saya hanya sedang membangun kosmetik menutupi suatu masalah lain. Lalu saya pandai untuk apa? Kepandaian saya akan terpakai untuk menyembunyikan masalah? Kepandaian itu sejatinya untuk menggelapkan masalah agar tidak nampak, atau mencerahkan dunia agar masalah itu makin terselesaikan?

Haruskah orang pandai itu tampil di ketinggian agar orang lain bisa terdongak dan kagum? Steve Jobs, pendiri Apple, punya jalan lain. Orang pandai harus bisa menghadirkan segala sesuatu dengan sederhana. Saat merk lain berpikir dengan stylus sebagai alat penunjuk di layar, Apple hadir dengan ide bahwa manusia sudah mempunyai jari yang bisa difungsikan sebagai pointer. Lalu bagaimana? Itulah tugas orang pandai! Mencari jalan agar orang lain bisa mudah menggunakan jarinya sebagai pointer. Makin sederhana suatu barang, akan makin membutuhkan kerja canggih yang tak terlihat oleh awam.

 Jadi kalau nanti saya bisa sekolah lagi, saya akan memakai ilmu saya ini untuk apa? Dengan makin pandai saya akan bisa membuat alasan-alasan yang lebih njelimet dan saya bisa minteri orang lain, atau saya bisa membuat orang lain jadi lebih pinter dengan bertambahnya kepandaian saya?

Makin pandai orang, rasanya akan makin jago ia menerjemahkan bahasa langit menjadi bahasa sederhana yang membumi. Menjadi orang pandai rasanya hanyalah menjadi orang yang bisa membuat segalanya menjadi sederhana.

 

Tidak ada komentar: