09 Oktober 2021

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mohon maaf lahir dan batin, itu rangkaian kata yang selalu saya dengar saat Idul Fitri. Saya pikir itu adalah adalah ciri khas Hari Raya besar tersebut. Memohonkan maaf atas segala kesalahan masa lalu di hari Raya tersebut. Setelah ikut sekian lama di Grup WA rekan-rekan sekolah dan kuliah, ternyata kalimat itu tidak hanya muncul saat Lebaran saja. Dalam beberapa ucapan hari Raya keagamaan Muslim, banyak rekan yang menyampaikan hal itu juga. Saat menjelang dan memasuki bulan puasa Ramadhan, juga saat mau Idul Adha kemarin, selalu saja ada rekan yang menuliskan kalimat itu di rangkaian haturan selamatnya.

 Saya yang Kristen sering tercenung, rasanya kalimat ini jarang saya ucapkan. Bisa jadi karena junjungan Agung saya, Yesus Kristus itu, adalah Juru Selamat Dunia, pengampun dosa umat manusia, jadi teladan yang saya jalani adalah mengampuni orang lain. Mengampuni itu memang hal besar, dengan mengampuni itu saya bisa menyelesaikan masalah sosial dan luka batin saya. Butuh kebesaran hati untuk mengampuni dan menyampaikan pengampunan bagi orang lain. Dengan bisa mengampuni seakan saya sudah menjalani keteladanan dari sang junjungan Agung saya.

Saya tercenung, dengan mengampuni saya memang bisa lebih enak, saya bisa jadi yang superior. Posisi mengampuni adalah posisi diatas, mengatasi pihak yang diampuni, pihak yang bersalah. Kalau saya bisa mengampuni saya bisa ada di posisi yang di atas. Saya suka posisi di atas itu! Dalam suatu kondisi, saat ada rekan yang komplain tentang perilaku saya, saya cukup bilang, ”Kenapa baru saat ini ada yang komplain, sudah lima puluh tahun lebih saya hidup dan tidak ada masalah dengan hal ini sebelumnya?” Dengan mengatakan ini, seakan saya mau bilang bahwa yang salah itu yang komplain, dulu gak masalah koq! Lalu kalau masalah itu berlalu, maka itu juga akan menguntungkan saya. Saya akan nampak sebagai orang yang bisa mengampuni orang lain yang suka mengada-ada. Saya adalah pengampun dari pihak yang lain. Betul? Bukankah bisa jadi kalau selama ini tidak ada yang komplain, bukan berarti saya sudah baik, bisa jadi banyak orang yang sungkan mengkritik saya? Atau malah mereka bukan orang yang peduli dengan perilaku saya? Daripada memberi masukan, apa tidak lebih seru kalau perilaku itu dijadikan bahan pergunjingan saja?

Apa memohon maaf lahir dan batin itu bukan sikap Kristen? Saat saya pertama kali berkomitmen  jadi Kristen, saya mohon ampun atas segala dosa dan salah saya dan mengundang Yesus hadir menguasai hati saya. Juga di tiap kebaktian minggu saya mengikuti ritual pengakuan dosa pribadi bukan ritual pengampunan salah untuk orang lain. Mengampuni memang diharuskan sebagai respon dari pengampunan atas pengakuan dosa dan salah saya. Memohon maaf lahir dan batin juga pintu dari semua proses pembaharuan akal budi, yang saya jalani di seantero hidup ini. Saya memang harus memohon maaf lahir dan batin, saat saya sudah merasa bahwa saya perlu mengampuni orang yang kecewa dengan perilaku saya. Padahal perilaku itu terjadi karena kedegilan hati saya untuk mau berubah oleh pembaharuan budi demi hidup yang berketeladanan.

Mohon maaf lahir dan batin ya……….

 

Tidak ada komentar: