12 Agustus 2013

Transportasi Umum di China


Saya ingin berbagi cerita yang mungkin bisa berguna bagi banyak teman yang mau berkelana di China dengan biaya semurah mungkin.
Memilih penerbangan ke China merupakan langkah awal perencanaan biaya perjalanan kita. Sekarang banyak Budget Airline atau Low Cost Carrier. Penerbangan murah, namun tidak selalu murah. Kita harus benar-benar pandai berhitung dengan total biaya kita. Terkadang banyak juga tiket promo dari penerbangan kelas atas. Cathay Pacific, Singapore Airlines, Garuda Indonesia sering juga mengeluarkan tarif promo yang murah juga. Ini jelas lebih nyaman dari Budget Airline seperti Air Asia, Tiger, Lion Air, Jetstar dll.
Berhati-hatilah dengan Budget airline. Harga awal mereka masih belum termasuk pajak dan surcharge lainnya, ikuti terus tahapan pembelian tiket onlinenya hingga tahap terakhir untuk mengetahui harga total yang sebenarnya. Harga juga belum termasuk pemesanan tepat duduk. Bila kita bepergian dengan rombongan, jangan berharap bisa duduk berjajar bila kita tidak mau dikenai biaya tambahan. Harga juga belum termasuk makanan. Yang lebih penting, harga belum termasuk biaya bagasi. Kita harus dapat memperkirakan berat bagasi kita saat kita berangkat dan saat kita pulang nanti. Oleh-oleh akan menjadi beban kita. Pilihlah oleh-oleh yang ringan dan praktis. Jangan sekali-kali membawa oleh-oleh berupa spring bed. Bila kita mengalami kelebihan berat bagasi saat check in, memang kita bisa membayar, tapi tarifnya pasti sangat mahal. Jangan berpikir kita bisa menentengnya, karena bagasi kabin kita juga harus ditimbang. Air Asia cuma memperbolehkan kita membawa tas jinjing seberat tujuh kg ke dalam kabin. Jetstar sekitar sepuluh kg. Pertimbangkan juga panjang kaki anda. Jarak tempat duduk di budget airline sangat sempit, menyulitkan bagi mereka yang jangkung.
Saat ini rute paling menyenangkan bagi saya adalah: Surabaya – Hongkong dengan tiket promo Cathay Pacific. Dari Hongkong naik bis menuju Shenzen. Dari Shenzen kita bisa menuju kota-kota lain di China dengan murah, apalagi untuk penerbangan tengah malam. Penerbangan domestic China walaupun murah tetapi masih memberikan makanan dan minuman, minimal sepotong roti. Bagi yang berstamina prima, bisa juga menghemat biaya hotel dengan melakukan perjalanan di tengah malam dan menumpang tidur di airport. Tidak semua airport buka 24 jam. Saat tutup, kitapun diusir tidak boleh tidur di dalam airport. Tidur saja di selasarnya, asal tidak saat suhu udara yang sangat dingin.
Pemeriksaaan di Bandara China sangat ketat. Jangan sekali-kali membawa cairan melebihi 100 ml. Pasti disita dan dibuang. Cairan itu biasa berupa apa saja, air minum, parfum, shampoo dll. Juga benda tajam seperti gunting, pisau lipat, atau korek. Pemeriksaan tubuh juga ketat, pastikan memasukkan semua dompet dan tas tangan kita ke dalam tas dan discan. Untuk pemeriksaan ini antriannya bisa memakan waktu setengah jam.
Bila bepergian dengan taxi, usahakan mempunyai alamat dengan tulisan mandarin, tunjukkan itu ke pengemudi taxinya. Mereka hampir semuanya tidak mengerti bahasa Inggris. Cetaklah alamat hotel atau tempat yang akan kita tuju dalam bahasa mandarin. Itu pasti akan sangat berguna bagi kita. Taxi disana berargo dan keliatannya baik. Yang aneh, sopirnya dikelilingi kaca pembatas untuk menghindarkan mereka dari upaya kejahatan. Mereka juga sering kali mengebut.
Di beberapa kota besar tersedia kereta bawah tanah, MRT. Kesulitan saya, di dalam keretanya tidak ada petunjuk dengan bahasa Inggris. Saya hanya menghitung jumlah perhentiannya saja. Untuk mencapai tujuan saya menghitung beberapa kali kereta akan berhenti dan diperhentian yang ke berapa saya harus keluar. Ini cukup efektif.
Transportasi antar kota di China sangat baik. Ada bis antar kota dan ada kereta api. Untuk kota besar, terminal bisnya bukan seperti Bungur Asih, mirip airport karena untuk tiap jurusan ada nomer gerbangnya masing-masing. Di dekat gerbang itu sudah menunggu bis yang akan kita naiki. Mereka menerjemahkannya bukan Bus Station, tetapi Coach Station. Ada juga bis antar kota yang ada tempat tidurnya. Stasiun kereta api juga begitu megah dan luas mirip dengan airport kita. Kereta apipun banyak jenisnya ada kereta api super cepat Maglev atau “bullet train”, kereta api dengan kecepatan 300 km/jam. Jalannya begitu mulus tanpa bunyi sambungan rel. Kereta ini ada dua kelas, bedanya hanya di tempat duduknya. Yang mahal tempat duduknya lebih lebar dan leluasa.
Tiket pesawat terbang bisa kita beli online dari Indonesia, tetapi tiket bis dan Kereta api harus kita beli di loket mereka. Untuk warga negara China bisa membeli tiket kereta api melalui mesin, karena mereka bisa menempelkan kartu identitas mereka di mesin itu. Bagi orang asing harus membeli tiket di loket yang tersedia dengan menunjukkan passport. Di beberapa kota besar ada juga loket yang khusus untuk orang asing, petugasnya mampu berbahasa inggris.
Saya pernah naik bis antar kota dengan kota tujuannya bukan kota akhir perjalanan bis itu. Saya harus berpikir keras bagaimana caranya tahu bahwa bis sudah sampai di kota itu. Saya minta saudara saya menuliskan nama kota tujuan itu dalam Mandarin. Setiap bis itu berhenti saya menunjukkan tulisan itu ke orang di sebelah saya. Selalu dijawab “mei tao..” Dari sinar wajah orang itu saya jadi tahu kalau itu artinya “belum sampai”. Orang China bukan masyarakat yang ramah. Saya sendiri malu kalau terus bertanya, tapi saya berpikir bahwa belum tentu saya ketemu mereka lagi. Jadi ya saya beranikan diri saja. Khan, malu bertanya sesat dijalan. Banyak bertanya memang memalukan sih, tapi dari pada kelewat dan pasti itu lebih merepotkan dari pada sekedar menanggung malu.

Tidak ada komentar: