Tulisan ini merupakan pendapat pribadi saya yang saya dapatkan dalam perjalanan hidup saya. "Menurut Saya" bukan berarti saya mau mengarang sendiri tentang arti surga itu. “Menurut Saya” karena ini yang ada dibenak saya saat ini. “Menurut Saya” karena inilah yang akan mewarnai sisa jalan hidup saya selama ini. “Menurut Saya” karena ini juga obyek dari sesuatu yang harus saya ubah bila Tuhan melihat saya salah selama ini. Tuhan kasihanilah saya.
Tulisan ini mulai tertata di benak saya, saat saya sendiri di kamar hotel. Sakit di China yang jauh dari kerabat dan keluarga, bahkan bahasanyapun tidak saya mengerti. Perenungan ini bukan ada karena saya takut mati di sana. Perenungan ini yang akhirnya berguna sebagai persiapan saat seorang teman yang “komunis-atheis” itu beberapa malam kemudian tak disangka bertanya, ”Do you believe that there is a life after death?”
Sebenarnya surga bukan sesuatu yang menarik buat saya. Saya tidak takut kematian. Beberapa tulisan di blog saya sering menyiratkan itu. Pemahanan saya selalu berpusat pada salah satu sifat Tuhan yang mengatakan ,”… bila kamu yang jahat saja tahu untuk memberi yang baik, terlebih lagi Bapamu yang ada di Surga..” Saya sangat meyakini itu. Bagi saya surga adalah urusan Tuhan bukan saya. Tuhan yang selama ini saya kenal selalu baik pasti akan juga tetap baik pada saat kematian saya. Kalau Tuhan yang baik itu mempunyai surga, pasti Ia akan memberikannya untuk saya. Seandainya tidak? Ah, masak dia mengingkari hakikat kebaikan yang selama ini selalu saya kenal dan rasakan?
Surga tidak pernah mendorong saya untuk menjadi orang Kristen yang baik. Surga jadi kosa kata yang tidak menarik untuk saya bahas dan saya kejar di hidup ini. Saat ada gereja yang menampilkan visi dan misinya “..mempersiapkan jemaatnya untuk masuk surga…”, saya hanya tertawa saja. Buat apa itu? Karena seperti kata Ahok, “Pendeta aja takut mati, alasannya masih banyak tugasnya di muka bumi ini…” Maka untuk seorang teman yang suka bicara soal surga, saya pernah menyarankan dia untuk berdoa supaya cepat mati, biar cepat masuk surga.
Bila ada orang yang serius bertanya pada saya tentang tujuan hidup saya, saya lebih suka menjawab dengan frase “menghadirkan kerajaan Allah di muka bumi”. Seperti juga kalimat yang saya tulis di judul Blog saya: “God is invisible. If you believe in God, visualize Him!” Tuhan itu tetap tak terlihat bagi manusia. Kalau saya yakin bahwa Tuhan itu baik, maka saya harus memperkenalkan kebaikan itu buat orang lain. Kalaupun Tuhan itu ramah, maka ya agar orang lain tahu arti keramahan, sayapun harus ramah. Bukan juga menjadikan diri saya selevel Tuhan, tapi hanya sekedar berusaha mewujudkan citra yang tak berwujud itu menjadi sedikit berwujud dan berasa bagi sekeliling saya.
Segalanya berjalan dengan arah seperti itu, karena itu pemahaman saya. Hingga suatu waktu sekitar sepuluh tahun silam. Saat orang demam dengan “Purpose Driven Live”nya Rick Warren. GKI Diponegoropun mempunyai acara bedah buku itu dengan membentuk kelompok sel yang berjalan dengan indah. Jemaat tergerakkan oleh kegiatan berdurasi empat puluh hari itu. Saya diminta memimpin sebuah kelompok. Terpaksalah saya membaca buku itu dengan seksama. Ada topik tentang tujuan hidup kita saat ini yaitu “ … mempersiapkan diri untuk hidup dalam kekekalan..” Kekekalan yang tidak pernah terlintas untuk terperhatikan dalam hidup saya. Kata kekekalan itu kini menjelma dengan kuat di benak saya. Salahkah saya selama ini bila tak memikirkannya? Benarkah kekekalan atau surga itu harus mulai dipikirkan dan disiapkan mulai saat ini?
Saya tidak ingin menjadi orang yang bebal. Bukan juga ingin menjadi orang pembela doktrin dengan membuta. Tidak pernah ada doktrin yang perlu saya ikuti tanpa alasan yang jelas. Jangan sampai saya jadi bebal dengan memaksakan bahwa surga bukan suatu yang penting untuk mulai dipikirkan saat ini. Ini awal pergumulan pemikiran saya tentang surga itu. Benarkah saya sudah harus menyediakan tenaga saya untuk mempersiapkan kehidupan di surga nanti? Apa di surga nanti ada bengkel CNC atau galangan kapal yang menampung saya yang punya pengalaman kerja untuk itu? Apa saya juga mungkin bisa jadi ketua majelis di surga nanti?
Pemahaman lama saya beradu terus dengan pemahaman baru itu. Inikah pencerahan itu? Hingga suatu waktu, teman dekat saya, pagi-pagi di kantor bilang ,”Anaknya Rick Warren bunuh diri!” Pasti dia tidak bermaksud apa-apa. Hanya sekedar pembuka obrolan saja. Tapi bagi saya itu berita besar. Saya menaruh perhatian besar dengan anak-anak saya. Anak bunuh diri pasti bukan karena dia salah pencet suatu tombol atau pelatuk pistol. Itu pasti bukan karena kejadian yang sekejab. Itu pasti suatu proses. Akumulasi antara suatu peristiwa dan waktu, suatu pengalaman hidup. Suatu proses yang pastinya terdeteksi oleh orang terdekatnya bila ia menaruh perhatian. Anak bagi saya adalah segalanya, baginya semua ide dan pemikiran saya akan saya labuhkan. Padanya segala keteladanan saya akan tercermin di kehidupannya. Kalau dia pandai memaki, hampir pasti saya juga pandai memaki. Semoga dia jadi orang baik, karena saya juga pingin menjadi orang baik.
Ide Rick Warren sontak gugur di benak saya. Buat apa saya mempersiapkan sesuatu yang jauh bila yang di tangan ini berhamburan? Memang saya tidak serba tahu soal keluarga Rick Warren. Tapi bukankah pohon dinilai dari buahnya? Sayapun tidak dalam posisi untuk menghakimi pengarang buku itu. Itu urusan dia dan anaknya dan Tuhannya. Urusan saya adalah pengambilan keputusan tentang pemahaman surga mana yang harus dijalani. Bisa jadi ini memang bukan benar dan salah, hitam atau putih, tapi dalam kelemahan, saya harus mengambil keputusan untuk meringankan pikiran saya yang tak mampu berpikir rumit ini. Jadi surga tetap bukan sesuatu yang menarik buat saya.
Ini cerita saya, apa cerita kamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar