Setelah seminggu "bertamasya", sekarang saya bisa menulis lagi. Seminggu itu saya masuk ke pedalaman Kalimantan. Melihat betapa luas dan kayanya negara kita. Diawali dengan undangan di acara ulang tahun kabupaten yang meriah. Ada drumband, ada tarian masal berbagai etnis. Ada Dayak, Bugis, Cina, Arab, Melayu, Tidung. Mereka menari dengan kompak, pasti ini pesta yang membutuhkan uang yang banyak. Di lapangan itu ada dua tenda besar untuk pameran, dua tenda itu disewa dengan harga 700 juta. Wih, hebat khan?
Perjalanan saya menuju desa terakhir ke arah hulu sungai di kabupaten itu. 5 jam perjalanan dengan Speed Boat. Harusnya memang hanya sekitar 3 jam saja, tapi karena ada masalah dengan mesin speed boat yang saya tumpangi, kita harus beberapa kali berhenti. Mesinnya tidak mogok, hanya sesekali, terbatuk-batuk. Beberapa kali memang kita berhenti untuk mengganti busi dan membongkar karburatornya. Hari itu kita berencana untuk survei di tiga desa, dimulai dengan desa yang terjauh. Jadwalnya cukup ketat, sebelum gelap kita sudah harus kembali, kalau tidak maka kita harus bermalam di salah satu desa itu. Saya sempat protes, kenapa kita harus berhenti, toh mesin tidak mogok. Mengapa tidak langsung saja? Motoris, begitulah sebutan untuk pengemudi speed boat, menjelaskan bahwa kita akan melewati Giram Raya. Kalau mesin sampai mati di sana, maka akan sangat berbahaya bagi kita. Saya cuma melihat dari sisi jadwal, saya sendiri tidak mengenal daerah itu. Setelah sempat membongkar karbiurator, kita melanjutkan perjalanan memasukli daerah Giram Raya. Giram berarti jeram. Bagian sungai yang berbatu-batu dan berarus deras sekali. Bagi beberapa orang, melewati jeram saat arung jeram adalah hal yang menyenangkan. Karena sudah tahu bahwa faktor keselamatan sudah diperhitungan dan diutamakan di acara arung jeram ini. Berbeda dengan rombongan kita saat itu. Kita yang harus menaklukkan jeram itu, atau jeram itu yang menaklukkan kita. Lebar sungainya saja sudah beda. Di kalimantan lebar sungainya bisa puluhan kali lebar sungai di Jawa. Mungkin sungai di Jawa cuma "selokan" dibandingan sungai utama di Kalimantan. Belum lagi batu-batunya. Di Giram Raya bebatuannya "buuuuuesar-buuuesaaaaaar". Ada yang serumah, bentuknyapun bermacam-macam. Semuanya seperti tersusun dan tertumpuk dengan sengaja. Mungkin ini yang namanya Menhir seperti di buku sejarah dulu atau di cerita kartun Obelix. Mengarungi Giram Raya sungguh mendebarkan. Motorisnya harus berpengalaman, bila salah mengambil jalan kita bisa celaka. Perahu bisa menabrak batu atau kandas karena ada baru yang tak terlihat, atau juga terhempas oleh derasnya arus aliran sungai itu. Giram itu sepanjang kurang lebih 1 kilometer. Perjalanan yang mendebarkan. Puluhan orang sudah celaka di jeram itu. Banyak diantara mereka adalah dokter yang bertugas ke pedalaman.
Tepat menjelang tengah hari, saya mencapai desa itu, Long Pelban. Desa yang tertata rapi. Dihuni oleh suku Dayak Bukulit. Rombongan kami 8 orang dengan 2 speedboat. Sementara ada tim teknis yang bekerja, saya juga bekerja. Saya bersosialisasi dengan penduduk yang ada, bagaimanapun kita adalah pendatang di tanah mereka. Desa itu cuma dihuni 49 KK, cuma ada sekolah SD dengan 5 orang guru. Semua penduduknya Kristen dari Gereja Kemah Injil Indonesia. Saya berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan semua orang di rombongan ini dan juga orang-orang yang kami temui. Ini bukan pekerjaan mudah karena dari latar belakang pendidikannya saja kita beda. Mulai dari Motoris yang mungkin cuma sekedar bisa baca tulis hingga beberapa orang lulusan luar negeri, ada yang Master ada juga PhD.
Disana saya bertemu dengan orang yang dianggap ketua adat. Awalnya dia mendekati saya untuk menawarkan buah, namanya aneh, saya jelas tidak minat, bagaimana saya bisa membawanya pulang? Ransel saya sudah penuh dan belum lagi perjalanan pulang itu masih harus berganti antara speedboat dan pesawat. Saya malas kalau harus bawa oleh-oleh yang mungkin malah merepotkan saya. Tapi setelah berkali-kali saya ditawari, saya pikir ini kesempatan untuk bersosialisasi dengan mereka. Saya setujui saja. Sekilo lima puluh ribu. Dari nada suaranya saya tahu itu harga yang masih bisa ditawar, tapi saya tidak menawarnya. Buah itu buah Lepiu (Kayak bunyi: I Love You....). Warnanya merah Maron. Bentuknya bulat pipih berdiameter 2 - 4 cm. Buah ini harus direbus dulu. Rasanya memang enak seperti kacang rebus dan agak manis. Ada yang menyamakan bentuknya seperti jengkol tapi kecil dan tidak beraroma. "ini buah dari akar" Bapak itu menjelaskan. "Oh, Ini umbi, dari dalam tanah?" "Bukan, Ini pohon akar" "Saya tidak mengerti maksud Bapak!" Saya bingung, dan Bapak itu juga bingung. Pohon akar? Lalu Bapak itu menggambarkan pohon akar itu dengan gerakkan tangan yang meliuk-liuk. "Oh, maksud Bapak pohonnya merambat? Seperti rotan?" "Ya.... Betul" Ah, akhirnya saya tahu bahwa pohon Lepiu itu merambat. Mereka memungutnya dari hutan, buah itu sebenarnya seperti buah Petai, tapi mereka memungut biji-biji buah yang sudah tersebar di bawah. Seharian bila mereka masuk hutan mereka hanya mendapatkan sekitar 4 kg saja. Di hutan pohon itu banyak, tetapi jarang sekali berbuah. Harga buah Lepiu di kota sekitar 70 ribuan. Mahal juga, tapi itulah bagian Indonesia yang terpencil dan mahal. Kalau mau beli di desa itu, memang 50 ribu dan rasanya masih bisa ditawar lagi, tapi sewa speebboat ke sana 1,8 juta.
Desa-desa di hulu sungai itu, teratur rapi, beda dengan desa-desa di daerah muara. Penampilan masyarakatnyapun beda, di Long Pelban dan Long Leju, penampilan mereka lebih bersih. Syukurlah kalau gereja mampu menjadi berkat disana. Tapi apa mereka akan bisa terus begitu? Di hari terakhir, saat kita melaporkan hasil pekerjaan kita, disebutkan bahwa disana akan dibangun pembangkit listrik tenaga air yang terbesar di dunia. Berarti beberapa desa di hulu sungai itu akan segera terendam dan berubah jadi waduk raksasa. Entahlah apa yang akan terjadi, tapi itu masih rencana yang sangat panjang. Lalu dimana lagi saya akan mendapatkan buah lepiu? Seorang warga memberitahu, bahwa bila seseorang sudah makan buah itu, maka suatu saat dia pasti akan kembali ke desa itu lagi. Yah, semogalah, karena saya juga senang jalan-jalan ke sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar