Kemarin saya diajak mengunjungi orang yang dianggap tertua yang masih hidup dalam keluarga besar saya. Usianya 92 tahun, dia juga pasti perintis dari GKI Di Bondowoso. Sebenarnya saya agak malas untuk berangkat, karena sekarang ia tinggal di Jember. Jember itu 35 KM dari Bondowoso, rasanya jauh di luar kota, padahal mungkin itu juga jarak yang harus saya tempuh tiap harinya bila harus ke bengkel di Sukolilo dan Gedangan.
Saya juga bingung, tidak tahu harus menyapanya siapa. Dulu, saat belum menikah saya menyapanya 'Kukong" karena dia lebih muda dari nenek saya dan dia menyapa nenek saya "cik-nga" (kakak tengah). Mertua saya menyapa nenek saya dengan "Po" yang berarti nenek saya setara dengan Nenek dari Merua saya. Makanya, alkisah dulu saya menyapa mertua saya dengan "Koh dan Cik" saja, sekarang koq malah harus "Papa dan Mama". Saat itu saya bingung mau menyapa dengan "Kukong" atau siapa lagi? Tradisi dan realitas yang membingungkan.
Hal yang menarik adalah saat kita keluarga besar ini harus berjabatan tangan dengan beliau, Ingatannya sudah banyak berkurang, dan kemampuan bicaranya juga sudah sepotong-sepotong. Saat satu per satu berjabat tangan sambil mengucapkan Selamat Natal, kita selalu bertanya "Ingat?". Kemudian beliau mengucapkan kata kunci yang sepotong itu. Kadang kata kunci itu berupa nama yang berjabat tangan. Kadang juga itu benar-benar sebuah kata kunci yang mewakili orang tersebut. Semua gembira dengan sepotong kata yang berhasil diucapkan beliau. Saat saya menjabat tangannya, setelah agak lama dan beberapa kali menanyakan, "Ingat?" Beliau mengatakan "Liang Ing". Itu nama Kakek dan Nenek saya, berarti dia mengingat saya, walaupun lupa nama saya. Yang menarik saat seseorang menjabat tangannya dan saat ditanya, "Ingat?" Beliau langsung menjawab,"Suka Marah" Semua tertawa, dan semua hampir setuju dengan kata kunci perihal orang itu. Siapa dia? Saya takut kualat kalau menyebarluaskannya......
Setelah semua berjabat tangan, semua beralih ke ruang tamu, karena saat itu jadwal beliau untuk "senam" fisioterapi.
Saya memilih untuk tetap di kamarnya bersama pelatihnya, saya hanya duduk melihat saja. Saya senang dengan orang "Berusia Emas". Usia Emas, itu kata-kata yang saya dapat dari "nguping" (mendengar dengan tidak sengaja) obrolan seorang jemaat. Sehari sebelumnya, ada perayaan Natal BAMAG (Badan Musyawarah Antar Gereja) se Kabupaten Bondowoso. Natal gabungan semua gereja Protestan dan Katolik, dihadiri sekitar 900 orang. Kebetulan tahun ini yang menjadi panitia pelaksananya adalah GKI Bondowoso dan ketua panitianya Papa Mertua saya. Saya sudah "bosen" dengan perayaan Natal makanya memilih untuk bantu-bantu kerja saja, daripada "dipaksa" duduk ikut acara. Saat itu pengisi acaranya gabungan dari semua gereja, lalu ada jemaat (rasanya dia orang Katolik) yang bilang," Saya senang dengan pendeta itu (Pak Martin Nugroho), dia bilang Usia Emas, daripada di gereja saya. Saya dibiilang Manula, Usia lanjut? kayak nunggu mati ae." Ya, usia emas. Mereka adalah kelompok orang berusia emas!
Ada orang yang senang melihat anak kecil, tapi saya lebih senang melihat orang berusia emas. Bener lho, kalau dilihat dua kelompok ini khan sama "indah"nya. Kita senang bila mendengar anak kecil yang bicaranya belum lancar, mereka yang berusia emas bicaranya juga tidak lancar. Ada yang suka melihat cara jalannya anak kecil, tertatih-tatih, mereka yang berusia emas juga berjalan dengan tertatih-tatih. Ada yang senang melihat bayi yang berusaha dengan keras membalikkan tubuhnya, yang menonton akan memberinya semangat, itu juga terjadi dengan yang berusia emas kala harus berjuang keras membalikkan tubuh di tempat tidurnya. Yang berbeda hanya, bila kita tertawa melihat pola anak kecil itu, maka semua orang disekitar kita akan ikut tertawa bahagia juga. Sedangkan bila kita tertawa melihat tingkah pola mereka yang berusia emas itu, maka laknat dan kualat yang kita dapatkan.
Saat itu saya duduk sendiri melihat "Kukong" yang renta itu. Beiau hanya bisa berbaring saja. Pikiran saya galau. Saya ingat buku yang saya baca di liburan ini, tentang Soe Hok Gie yang meninggal di usia 27. "Kukong" ini sudah hidup tiga kali lebih lama dari Soe Hok Gie. Tapi bila hidup hanya berbaring saja begitu, apakah yang bisa diharapkan dari hidupnya kini? Benarkah umur panjang hanya kesia-siaan? Soe Hok-Gie pernah menulis, "Seorang Filsuf Yunani pernah menulis, ..... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda." Dan Soe Hok-Gie memang mati muda.
Apa gunanya usia emas itu? Benarkah ini adalah kesia-siaan? Tubuh renta itu sia-sia dan hanya menjadi beban bagi keluarganya? Beberapa menit berlalu tanpa jawaban di kamar itu, tapi ternyata itulah jawabannya. Bila beliau sudah tiada, tidak mungkin saya datang berkunjung ke rumah itu. Beliau tetap menjadi berkat bagi keluarga besar kita. Kerentaannya yang menjadi pemersatu keluarga besar kita. Kelemahannya telah menjadikan kita bergantian menolongnya. Beliau tetap menjadi berkat melalui kelemahannya. Itu bagi saya yang tidak merawatnya sehari-hari.
Bagi keluarga yang harus merawatnya sehari-hari, dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Inikah kesia-siaan lagi? Saya bersyukur melihat keluarga yang mau berkorban merawat belkiau. Tidak sekedar merawat, tapi juga mau mengusahakan segala sesuatu yang terbaik bagi beliau. Mendatangkan pelatih fisioterapi seminggu tiga kali, mengajaknya mengobrol. Semuanya menjadi teladan bagi kita yang muda tentang bagaimana memperlakukan mereka yang berusia emas. Bisa jadi anak saya juga belajar bagaimana merawat saya nanti bila saya berusia emas. Kerentaan beliau telah menjadikan kesempatan untuk mengajarkan keteladanan memperlakukan kita sendiri saat kita mencapai usia emas itu nanti. Kerentaan beliau memberikan kesempatan bagi kita untuk menabur apa yang bisa kita tuai nanti. Menaburlah dengan baik.
Bondowoso, 30 Desember 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar