Tatami adalah sejenis tikar khas Jepang. Ungkapan judul diatas, saya dapatkan di sessi terakhir training yang saya ikuti. Ada pengajaran, ada studi kasus dan diskusi serta presentasi. Training ini adalah sebagian dari rangkaian training yang diadakan di Jakarta dan Surabaya, untuk mengikutinya kita harus lulus tes penempatan dan setelah training kita harus ikut ujian untuk mendapatkan sertifikat dari JETRO. Japan External Trading Organisation. Trainingnya gratis karena dibiayai oleh JETRO, ini bagian dari kompensasi perjanjian dua negara, IJEPA (Indonesian Japan Economic Partnership Agreement), kompensasi dari banyak kemudahan yang diterima oleh Jepang dari Indonesia, termasuk jaminan suplai Gas Alam. Seperti biasanya instrukturnya orang Jepang. Beliau berpesan melalui peribahasa iru. Berenang di tatami.
Setelah selama lima hari penuh kita belajar tentang topik training, kelihatannya kita sudah menguasai topik yang dibahas. Dari cara kita membaca topik yang harus dibaca bergilir, intrukturnya yakin bahwa pemahaman kelompok di Surabaya ini, lebih baik dari kelompok training yang sudah dipandunya di Jakarta sebelumnya. Padahal dia tidak dapat berbahasa Indonesia, dia menilai dari cara membaca dan intonasinya saja. Training itu dia akhiri dengan peribahasa itu: Berenang di Tatami. Saat kita mempelajari sesuatu, akhirnya kita merasa bisa memahami hal baru tersebut. Itu seperti kita belajar Berenang di Tatami. Berenang di atas tikar. Kita tahu urutan-urutan gerakan yang ada. Kita bisa menggerakkan tangan dan kaki kita sesuai dengan gaya berenang yang kita pelajari. Kita sudah bisa berenang, tapi Berenang di tatami. Berenang di atas tikar! Bisa jadi saat kita mencoba berenang di kolam renang atau sungai sesungguhnya, kita akan tenggelam. Pemahaman kita harus dilanjutkan dengan praktek dilapangan dan dari sanalah kita bisa mendapatkan penguasaan materi yang sesungguhnya.
Berenangpun punya beberapa tingkatan, yang termudah di tatami, kemudian di kolam renang, lalu di sungai, juga ada renang dilaut lepas. Sungai dan laut pun masih ada bermacam-macam tingkat kesulitannya, mulai dari yang berarus tenang dan dangkal sampai yang dalam dan berarus deras atau bergelombang tinggi.
Mungkin sama ya dengan pemahaman iman saya. Membaca dan mendengarkan kotbah membuat saya semakin merasa serba tahu. Tapi kehidupan nyata di masyarakatlah yang menyempurnakan dan memurnikan pemahaman iman ini.
Semoga ini bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar