Hari Minggu yang lalu, saya bertugas di kebaktian jam 6.00, untuk membagikan celengan dan buku renungan paskah. Karena sudah ada pembagian di minggu sebelumnya, maka tugas kemarin itu tidak terlalu sibuk. Hanya beberapa jemaat yang meminta celengan dan buku, sayapun tidak terlalu agresif karena bukunya sudah tersisa sedikit. Saya menyapa jemaat yang datang dan lewat di depan saya. Terakhir, ada seorang tante, saya tawari celengan (karena bukunya tinggal sedikit). Dia bilang kalau sudah dapat, dia lalu tanya apa bisa kalau mengisinya tidak setiap hari, tapi sekaligus nanti waktu mau diserahkan. Dia juga menyatakan ingin menyumbang mie, di benak saya Tante ini pasti senang masak dan mau menyumbang mie goreng atau masakan mie. Saya menjelaskan kalau nanti akan ada acara Unduh-Unduh dan bisa disumbangkan pada waktu itu. Dia menjawab, "Nanti saja dulu ya, soalnya saat ini jalan ke Pabrik Tante masih banjir, jadi tidak bisa ke pabrik." Saya baru sadar kalau Tante ini mau menyumbang mie produksi pabriknya.
Saya berbasa-basi menanyakan daerah pabriknya, ternyata beberapa tahun yang lalu saya pernah ke pabrik itu dan mereparasi mesinnya. Ternyata orang yang saya temui dulu itu adalah anaknya yang saat ini mengelola pabrik itu. Setelah itu, Tante ini makin semangat untuk bercerita lagi. Cerita tentang tarif becak yang 30 rb pulang pergi dari rumahnya, juga tentang almarhum suaminya, juga tentang cara anaknya yang mengelola pabrik itu. Sementara saya berbincang-bincang, memang banyak jemaat yang lewat dan datang. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan. Memutuskan pembicaraan dengan Tante ini dan mencari jemaat yang lain? Atau terus melayani perbincangan Tante ini? Saya memutuskan untuk terus melayani perbincangan itu dengan baik. Pertimbangan saya, lebih baik saya menyelesaikan satu orang ini dengan sangat baik dari pada berharap dapat meningkatkan jumlah tapi dengan kualitas yang begitu-begitu juga. Satu yang berhasil mungkin lebih baik daripada banyak yang biasa-biasa saja. Cukup lama perbincangan itu, dua orang Bapak yang bertugas penyambutan di pintu gereja malah mengingatkan Tante itu, agar segera masuk karena kebaktian akan dimulai. Saya lihat belum ada Majelis yang muncul di mimbar kecil, jadi saya teruskan saja perbincangan itu. Sampai akhirnya ada muncul majelis untuk membacakan warta lisan. Saya sarankan Tante itu untuk segera masuk ke ruang Kebaktian.
Saya juga bertugas lagi selepas kebaktian usai. Tante itu menyapa lagi saat ia berjalan pulang.
Saat itu saya juga menyapa satu Om yang saya kenal. Kita berbincang lagi, dia bercerita tentang almarhum istrinya. Rasanya masih sulit baginya untuk melupakan istri tercintanya. Ia bercerita tentang istri yang dibanggakannya kesetiaannya. Juga tentang suka dukanya saat dia merintis usahanya dulu. Senang sekali bisa mendengar ceritanya, apalagi saat dia bilang,"Makanya kita itu harus selalu ingat sama Tuhan." "Untuk itu Om sekarang mau ikut katekisasi" Ah, jalan hidup itu yang akhirnya membawa Om itu mau mengenal Tuhannya. Di jam pulang itu, sayapun hanya bisa meladeni satu Om ini, karena saya juga harus cepat pulang untuk menjemput istri dan anak yang mau sekolah minggu jam 8.00.
Minggu ini memang loading pelayanan saya sangat tinggi, ada penyambutan, lalu beasiswa, ada outbond, ada persiapan acara panter satu, ada pertemuan dengan pendukung tayangan di TVRI. Pengalaman perbincangan di kebaktian minggu kemarin itu sangat menarik buat saya. Pasti ada banyak jemaat yang butuh teman bicara. Sekedar mendengarkan mereka bercerita mungkin bisa membuat mereka bergembira. Mungkin ini bisa membuat kita mau berbuat banyak untuk kegiatan perkunjungan dan pemerhati.
Steven Covey di 8th Habit, mengutip perkataan Mother Teresa ,"Few of us can do Great Thing, but all of us can do small thing with Great Love"
14 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
pa daniel..saya udah mengirim contoh template layout blog
Posting Komentar