Bisa jadi saat ini kita sudah harus mulai berpikir tentang program yang akan dibuat untuk tahun mendatang. Kita menyadari bahwa sesuatu yang baru atau inovatif itu mungkin akan dapat meningkatkan peran serta jemaat ditiap kegiatan mendatang. Tapi apa benar kita memang mau berpikir tentang program yang baru? Bukankah di tiap tahun, Tema Program Pelayanan bisa berbeda dan bertambah indah, tapi kegiatan pelayanan kita tetap sama saja. Partisipasi jemaat tetap begitu-begitu saja. Kegiatan terasa kurang ada gregetnya. Kita selalu berhadapan dengan pertanyaan: Lha mau apa lagi?
Kita berpikir bahwa inovasi itu milik semua komisi dan panitia di lingkungan gereja kita. Semua komisi dan panitia harus kreatif mengembangkan tema sentral yang dibuat oleh majelis jemaat. Mereka harus punya segala yang baik yang dibutuhkan dan disarankan oleh buku-buku manajemen dan pengembangan diri. Rata-rata mereka pasti sudah tahu tentang hal itu. Masalahnya apakah mereka mampu melaksanakan semua itu. Mereka pun akan bertanya: "Lha mau apa lagi?"
Banyak gereja diawal pembuatan program kerja tahunan hanya berhenti sampai membuat tema utama. Kemudian semua kegiatan diharapkan akan menyesuaikan dengan tema sentral itu. Kita akan bangga bahwa tema sentral itu sudah dibuat dengan indah seakan Repelita dan Pelita di jaman Suharto, sudah lengkap dan indah tinggal penjabarannya saja. Hal ini baik, tapi apa yang ada di lapangan? Partisipasi jemaat tetap tak ada perubahan yang berarti. Lha mau apa lagi?
Pernahkah kita mencoba memulai manajemen pelayanan kita dengan Manajemen Proyek? Kita tentukan suatu proyek yang cukup besar untuk bisa dilakukan oleh semua komisi dan lapisan jemaat di gereja kita. Suatu contoh kita akan membuat proyek: Perayaan Natal yang meriah di akhir tahun mendatang. Proyek ini bukan tujuan pelayanan kita. Proyek ini adalah alat mencapai tujuan utama pelayanan kita. Tujuan pelayanan ini kita tentukan sesuai dengan Tema Utama kita. Segenap jemaat harus berpartisipasi pada proyek ini. Yang bisa nyanyi akan mempersiapkan paduan suara atau vocal group. Yang bisa dekorasi akan mempersiapkan tata panggungnya. Yang bisa berdoa akan masuk dalam Tim Doa. Yang bisa masak akan mengisi komsumsi ditiap acara latihan dan kegiatan pendukung. Majelis akan membuat proyek ini melibatkan semua jemaat, sehingga pembinaan akan berjalan mengisi kebutuhan disana.
Ketika suatu kerja besar dipersiapkan pasti akan terjadi masalah, disinilah pembinaan jemaat akan berlangsung. Kita dibina untuk memaafkan dan meminta maaf, kita akan tahu untuk tidak sombong atau belajar bergaul dengan orang sombong. Proyek ini harus cukup besar untuk bisa menampung semua lapisan jemaat. Para lanjut usia pun bisa berperan sebagai komunikator ke orang tua murid sekolah minggu. Pemuda dan remaja bisa disatukan dengan menjadi tim perlengkapan atau antar jemput latihan.
Proyek itu bisa juga Pelayanan Anak yang Holistik. Guru sekolah minggu akan menjadi guru pembimbing. Pemuda bisa memberikan les matematika. Ibu-ibu bisa memasak untuk program perbaikkan gizi. Jemaat yang sibuk bisa masuk ke tim doa malam. Bahkan yang tidak bisa apa-apa bisa juga dapat berkomitmen untuk datang menjadi pendamping para anak asuh. Bisa juga ada jemaat yang mau setia mempersiapkan ruang kegiatan itu dengan cuma menyapu atau mengepelnya. Terlalu sepele atau malah merendahkan? Nah, disini pembinaan akan masuk dengan konsep dan arti melayani. Melalui proyek ini segenap jemaat diharapkan bisa berpartisipasi dengan segala sifat baik dan sifat buruknya. Tim pembina kerohanian akan bertanggung jawab mengisi kebutuhan pembinaan yang ada, termasuk juga belajar untuk menyelesaikan konflik yang akan tumbuh di dalam kebersamaan itu.
Dengan manajemen proyek ini, dibutuhkan orang yang mau berkomitmen kuat. Disini jemaat akan belajar tentang pelayanan itu sendiri. Yang penting bukan sekedar berhenti dengan membuat Tema Utama, tetapi mari kita cari sebuah kegiatan yang bisa memayungi kita untuk mencapai tujuan utama kita. Dengan melayani, kita akhirnya bisa belajar melayani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar