Sejak awal di Dipo, saya cukup tertarik dengan PS KPR. Mereka sering membuat kegiatan yang cukup besar. Sayangnya saya tidak bisa menyanyi dan sulit bagi saya untuk ikut PS. Saya hanya bisa bantu-bantu saat mereka pentas.
Banyak hal yang menarik minat saya, mereka pernah mendekorasi gereja jadi kayak mall (waktu itu Surabaya masih punya TP dan Delta), mereka pernah memindah orientasi jemaat, bukan dengan menghadap mimbar seperti sekarang, tapi kearah balkonnya PS. Terlepas dari benar salahnya tindakan itu, saya jadi tertarik dengan orang yang berani aneh-aneh itu. Ini yang membuat saya selalu ingin membantu kalau mereka punya acara. Sekedar jadi seksi sibuk mereka.
Suatu saat mereka memasang lampu sorot yang cukup banyak dan besar. Saya tidak tahu koq waktu itu tidak ada teknisi yang memasang jalur kabel powernya. Saya tertarik untuk ikut membantu pasang kabel untuk lampu-lampu itu. Dari SD saya sudah senang dengan elektronika dan listrik. Saya belajar sendiri dari buku dan teman saya yang tukang servis radio. Proyek elektronika saya yang pertama, Lampu Strobo (lampu blitz yang bisa diatur nyalanya). Papa yang membelikan kitnya di Surabaya, mungkin Papa saya suka sama lampu itu. Selama mengerjakan proyek itu, puluhan kali saya kesetrum. Mungkin proyek itu sangat berbahaya bagi pemula (papa saya pasti tidak tahu soal ini). Tapi karena itu saya jadi tidak terlalu takut sama listrik.
Lampu-lampu sorot itu, karena dayanya yang besar maka harus dipasang dengan listrik 3 fasa. Listrik 3 fasa adalah listrik yang memakai 4 buah kabel (satu kabel netral dan 3 kabel fasa yang kalau di-tespen nyala), bukan seperti listrik dirumah kita yang kabelnya dua (satu netral dan satu fasa). Saya yang menyambung kabel-kabelnya dan mengutak-atik panel utama gereja yang terletak dibelakang konsistori (sekarang jadi ruang anak). Secara pribadi saya hanya pernah membaca dari buku soal listrik 3 fasa itu. Saya memang mengerti cara perhitungannya dan cara mengukurnya secara teori. Saya tidak pernah mempraktekkan karena memang dulu saya tidak pernah punya saluran listrik 3 fasa. Saat itu saya merasa berani memasang kabel dan memodifikasi panel utama gereja itu, karena ada Arifin yang mendampingi saya. Dia memang tidak melakukan apa-apa cuma mendampingi saja. Saya yakin kalau sampai saya salah pasang, pasti dia yang akan memperingatkan saya. Saya sangat PD aja.
Sesudah pementasan kita membongkar kabel-kabel itu. Saat itulah Arifin bilang, "Daniel, untung ada kamu, kalau aku sendiri tidak berani utak-utik panel ini. Aku tidak ngerti 3 fasa itu." Saya langsung kaget, saya bilang, "lha, saya berani sebab khan ada kamu, tak pikir kamu ngerti soal ini".
Gila, cerita ini baik apa buruk ya....? Kalau dari sisi saya, saya tidak ngawur saat itu. Saya mengerti teorinya. Saya memang hanya butuh teman yang membesarkan hati saya untuk berani bertindak dan Arifin sudah melaksanakan tugasnya saat itu. Saya cuma ingat tentang kebersamaan itu. Kebersamaan yang mampu untuk saling menguatkan.
Salam,
Daniel T. Hage
29 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar