22 September 2008

Kenakalan

Lahir baru bisa berarti hidup baru. Hidup dengan segala sifat baru dan meninggalkan sifat lama yang dirasakan sudah usang. Bisa jadi memang membawa beban baru. Lahir baru banyak menuntut dengan segala gambaran kebaikan yang harus kita lakukan. Beban berat untuk melakukan itu biasanya kita sadari sebagai salib yang harus kita pikul.

Ada suatu masa di hidup saya, dimana saya mengalami krisis identitas paska lahir baru itu. Beban untuk menjadi anak baik terasa begitu tidak enak dan "compatible" dengan saya. Saya anak yang suka iseng dan clometan. Saya suka buat banyak hal yang mungkin membuat keonaran. Suatu siang saya pernah diskusi dengan seorang teman ,"Eh, sekarang ini kelas lagi sepi-sepi aja, kita buat apa ya.... biar rame?" Besoknya kelas heboh karena ada seorang cewek yang terima surat cinta entah dari siapa...... Tidak ada yang tahu siapa pengirimnya.... sayapun tidak berharap dia tahu, yang saya nikmati cuma kehebohan kelas itu saja. Sayapun bisa berenang dengan semua gaya dengan baik. Saya mampu "selulup" di ujung kolam renang yang 50 meter dan muncul di ujung yang lain. Saya berlatih berenang bukan karena suka berolah raga, cuma karena merasa enak saja kalau bisa mengganggu teman di kolam renang. Saya pernah buat alat yang kalau orang berjabat tangan dengan saya dia kesetrum. Belum lagi saat ada tetangga teman saya (orang arab), hobinya menyalakan radio dengan suara keras dan lagunya irama padang pasir yang "aneh itu". Kita berpikir bagaimana caranya buat alat untuk mengganggu dia. Maka jadilah alat yang kalau dipasang...... radio dia jadi bunyi "krosok-krosok krosok ........".Lahir baru menjadikan saya harus meninggalkan kelakuan itu dan menjadi anak alim. Hal ini banyak menyiksa saya.

Sampai suatu saat saya mendengar tentang ide "Be Yourself". Menjadi diri sendiri. Ide ini menjadi begitu pas dengan saya yang capek untuk menjadi anak yang alim. Saya kemudian mengambil sikap untuk tetap jadi "anak nakal tapi bukan anak kurang ajar". Saya mulai memilah mana yang nakal dan mana yang kurang ajar. Saya pingin tetap nakal karena untuk menjadi nakal itu dibutuhkan kreatifitas dan kecerdasan, bukan kurang ajar yang konotasinya vulgar dan tidak terpelajar. Kalau ngerjai teman itu kreatif.... kalau memaki dan mengumpat itu kurang ajar..... Itulah yang kemudian saya jalani. Suasana ini menjadikan saya bisa jadi orang kristen yang tanpa beban. Walaupun batas antara kenakalan dan kekurang-ajaran itu sangat tipis.

Sekarang saya masih tetap nakal. Saya sering mengejek teman.... mencemooh dia.... melecehkan dia.... Apa saya kurang ajar?
Saya pernah satu kantor dengan seorang teman yang terlalu "lemah". Bos kita orangnya terlampau "kuat". Bos kita sering marahi dia..... menekan dia..... Padahal saya tidak pernah dibegitukan. Kalau teman ini salah, pernah dipotong gajinya..... Ah, terlalu kejam menurut saya. Saya lalu rajin menggoda dia, menggangu dia, mengejek dia. Teman ini memang sakit hati dengan saya, tapi saya tahu dia terlalu lemah untuk berani melawan saya. Kalah hawa! Hal ini berjalan berbulan-bulan, sampai suatu sore. Saat itu saya menggoda dia lagi, lalu dia mengambil helmnya dan memukulkannya ke saya. Saya menghindar tapi masih kena juga. Jari kelingking saya bengkak. Cukup sakit, tapi saya senang karena dia sudah berani melawan orang yang mengoda dia. Setelah itu dia selalu berani melawan saya. Saya senang sebab sekarang ia telah berubah. Sayapun sering melecehkan seorang teman karena kekurangannya, handycap-nya. Saya melakukannya kadang di depan teman-teman yang lain. Kelihatannya kurang ajar dan vulgar. Saya menjadikan kelemahannya menjadi bahan guyonan bersama. Mungkin ini menyakitkannya. Saya terus dan sering melakukan itu sampai hal itu sudah tidak ng"efek" lagi ke dia. Dan dia terbiasa dengan guyonan itu dan tidak minder atas kelemahan itu. Malah dia yang membalas dengan mengejek kelemahan saya.

Saya melakukan itu karena saya yakin akan suatu prinsip, "cara mengobati luka adalah dengan cara sering menyentuh luka itu". Sentuhan pertama mungkin akan membuatnya berdarah lagi, setelah kering sentuh lagi, mungkin sakit sekali tapi sudah tidak berdarah sebanyak yang lalu. Entah pada sentuhan keberapa.... luka itu sudah jadi bebal dan kebal. Sudah tidak terasa lagi kalau itu pernah luka. Menyentuh luka orang lain, berani? Tidak semudah itu! Saya berani kalau saya yakin orang itu tahu benar kredibilitas kita. Kita sudah berteman baik. Bisa jadi dia marah, tapi dia masih sungkan untuk menampar saya. Kalau tidak begitu mungkin saya sudah biru lembam, babak belur digampar banyak orang. Kredibilitas itu juga muncul saat orang lain tahu bahwa kita bukan cuma sekedar suka mengganggu tapi juga mau diganggu dan dikerjai oleh orang lain.

Suatu sore saat saya pulang kerja, anak saya menyapa, "Halo Papa si Tupai". Saya jawab "Halo..." Saya berpikir lama maksud sapaan dia itu..... Karena tidak ketemu juga, saya tanya sama dia, "lho Tupai itu maksudnya apa?" Dia menjawab, "Lha, Papa khan giginya kelihatan dua.... kayak Tupai......" Haaaaaaa? Saya semakin yakin dia memang anak saya (tidak ketukar di Rumah Sakit), sebab khan DNA-nya aja sudah sama.


Salam,
Daniel T. Hage

Tidak ada komentar: