30 Maret 2022

Hypoxid Training

Awalnya ada yang mengajak saya bergabung di suatu group WA tentang mengatasi diabetes tanpa obat. Saya berminat karena saya adalah Pre-Diabetic, kalau saya tidak menjaga kondisi, maka saya akan menjadi diabetes. Saya ingin ikut group itu, tapi saya jadi aneh karena ada klausul yang mengatakan bahwa akan diminta untuk memberikan sumbangan sukarela. Entah kenapa, mungkin karena pelit, saya merasa aneh dengan grup ini. Saya tidak jadi masuk, tapi saya pelajari dari beberapa orang yang daftar. Ternyata apa yang mereka lakukan adalah menggabungkan antara diet ala Ketofastosis dan latihan nafas metode Wim Hoff.

 

Ketofastosis adalah diet dengan tidak makan karbohidrat dan gula, menggantinya dengan konsumsi lemak dan protein. Saya pernah bertemu dengan teman yang dengan semangat mengajak saya diet itu, dua hari kemudian dia berpulang di hotel dalam perjalanan dinasnya. Tidak ada hubungan jelas, tapi saya jadi takut melakukannya. Kalau Wim Hoff, katanya dia orang Belanda yang bisa tahan mendaki gunung bersalju dengan hanya bercelana pendek. Dia tahan terhadap udara dingin ekstrim, karena metode pernafasan yang dijalaninya. Saya berminat untuk mencoba latihan pernafasannya. Iseng-iseng saja, karena saya pikir juga tidak terlalu menakutkan.

 

Metodenya cuma nafas tiga puluh kali tanpa jeda, lalu menahan nafas selama mungkin, sekuatnya, lalu menghirup udara, ditahan lima belas detik, baru dilepas. itu diulang tiga kali. Masalah yang menarik adalah saat menahan nafas itu. Awalnya saya hanya bisa setengah menit, lalu empat puluh lima detik, lalu semenit, makin lama makin panjang. Saya pernah hingga 150 detik. Awalnya ini seperti latihan biasa saja, tapi saat saya mulai bisa menahan hingga dua menit, ada hal unik yang terjadi. Ternyata menahan nafas itu tidak sesederhana tidak bernafas. Tidak mudah bisa mengulangi menahan nafas selama dua menit, kegagalan akan sering terjadi. bukan gagal saat kurang beberapa detik terakhir, tapi di detik-detik awal saja sudah terasa tidak mampu. Masalah utamanya ternyata bagaimana cara mengatur pikiran. Kemampuan untuk mengatur pikiran dan berkonsentrasi akan menentukan keberhasilan menahan nafas panjang ini.

 

Tetangga saya adalah mantan penerbang Angkatan Laut dan kini menjadi pilot helikopter di Papua. Dia bercerita tentang salah satu ujian rutin untuk sertifikasi pilotnya. Mengerjakan soal matematika sederhana dalam kondisi hipoksia, kondisi kekurangan oksigen. Ini bukan sekedar kekuatan fisik, banyak orang yang fisiknya kekar, gagal dalam ujian ini. Ini masalah mengatur pikiran. “Harus sudah berkonsentrasi dari awal untuk bisa tetap mengerjakan soal matematika sederhana itu.” Pola Pikir! Ini yang menarik buat saya untuk terus melakukan latihan pernafasan ini. Latihan pikiran bukan sekedar latihan pernafasan.

 

Sudah hampir setahun saya menjalani Hypoxid Training ini. Entah apa hasilnya. Yang jelas, saat berenang, saya mengakhiri sesi renang itu dengan satu kali jalan gaya kupu-kupu, ini gaya terberat menurut saya. Dulunya ini memberatkan  saya. Sangat menguras tenaga dan nafas. Tapi sejak saya berlatih nafas ini, sesi gaya kupu-kupu itu terasa ringan. Saya juga sering mengalami diare, entah apa sebabnya, rasanya memang ada yang kurang beres dengan pencernaan saya, tapi sekarang ini diare itu jarang terjadi lagi. Memang banyak bahasan tentang keuntungan latihan nafas Hypoxid ini, tapi bukan ini yang menarik buat saya, semoga itu adalah bonus saja. Saya senang karena memang ini latihan mengelola pikiran. Pikiran ini ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang tak terduga. Jadi teringat akan pesan: Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

(kelanjutannya.....)

27 Maret 2022

Renang

Saya mulai belajar renang kelas lima SD. Pindah ke Bondowoso memberikan suasana yang lain. Saya bisa bebas bermain ke mana saja. Di Surabaya, pulang sekolah cuma di rumah saja. Saya bersepeda ke Tasnan, kolam renang peninggalan Belanda yang jaraknya 7 km ke arah Jember. Bersepedanya saja sudah menyenangkan, apalagi renangnya. Saya bukan orang yang suka berolahraga, karena memang saya bukan orang yang trampil dan cekatan. Saya cuma suka iseng, suka mengganggu orang. Saya merasa enak bila mengganggu orang di kolam renang. Jadi saya berusaha belajar renang.

 

Seminggu dua kali ke Tasnan, awalnya dengan Papa saya karena saya belum bisa renang. Papa yang mengajari saya, cara mengapung, cara meluncur kemudian menggerakkan tangan dan kaki. Akhirnya saya bisa renang. Makin lama makin baik. Akhirnya bukan cuma renang semua gaya, tapi belajar untuk menahan napas saat menyelam. masuk dari satu sisi kolam renang, muncul di sisi yang lain. Selama menyelam bisa banyak keisengan yang dilakukan. menarik kaki orang, muncul tiba-tiba di tengah-tengah orang. Awalnya hanya karena iseng itulah saya belajar renang.

 

Tasnan itu kolam renang yang menyegarkan. Airnya asli dari mata air yang terus mengalir. Bukan seperti kolam renang di Surabaya yang airnya disirkulasi dan diberi zat kimia, tawas, kaporit dan lainnya. Ini murni air mengalir yang ditampung, malahan ada ikan mas besar di bagian kolam yang paling dalam, rasanya dua meter lebih kedalaman kolam yang ada menara loncatnya. Setiap Jumat di kuras, sehingga saya renangnya Rabu dan Sabtu. Saya lupa bayarnya berapa ya? Seingat saya dua puluh lima rupiah. Segemik, Bahasa Maduranya. Jalan menuju Tasnan menanjak, menjelang masuk pintu gerbangnya baru ada turunan yang curam sekali. Jalan ini yang jadi tantangan saat bersepeda pulang, apa bisa tanpa turun menuntun sepeda? Ada juga tantangan, separuh jalan pulang tidak perlu mengayuh sepeda karena jalannya menurun ke arah Bondowoso. Dari sini saya belajar prinsip: pengereman adalah pemborosan energi.

 

Setelah kembali kuliah di Surabaya, saya tidak pernah renang, karena biayanya mahal. Di ITS ada unit kegiatan selam di Taman Tirta, sekarang jadi Hotel Shangrila, tapi itu terlalu mahal buat saya. Puluhan tahun saya tidak rutin berenang lagi. Sampai ada rekan-rekan sektor Wiyung mengajak renang di Royal Residence. Mulailah saya renang lagi, tapi kali ini ceritanya lain, sudah bukan untuk iseng lagi karena ada Bapak yang badannya jauh lebih kekar dari saya. Renang rutin kali ini membebaskan saya dari seringnya saya cidera punggung, kecentit. Dengan renang saya tidak pernah kecentit lagi. Belum lagi saya mengalami Piriformis. Kesakitan di paha mulai dari pantat. Katanya itu akibat saya meletakkan dompet di saku celana belakang. Ini yang secara bertahun-tahun menekan syaraf yang ada. Sakitnya bukan main bila lagi kumat. Proses duduk kemudian berdiri akan sangat sakit. Ternyata ini bisa sembuh dengan dengan renang. Saya jamin ini sembuh karena renang! Buktinya saat pandemi, saat saya tidak renang lebih dari setahun, semua penyakit itu kambuh lagi. Selama pandemi saya kecentit beberapa kali, priformis saya juga kambuh dengan lebih menyakitkan lagi. Makanya saya nekad renang lagi.

 

Renang di masa pandemi menang menakutkan, tapi secara teori, kuman mati di kolam renang, karena kadar chlorine yang ada. Buktinya, di kolam renang tidak ada lumut, itu bukan karena disikat, tapi itu karena kadar chlorine yang membunuh lumut di kolam itu. Resiko Covid ada dari pengunjung lainnya, makanya saya renang saat kolam sepi, saat tengah hari. Anggap saja sekalian berjemur. Saya berenang minimal seminggu sekali, satu jam nonstop. bila di Royal Residence berarti itu dua puluh lima kali putaran. Bila di GOR Sidoarjo itu sebelas kali. Bila di WBM itu delapan belas kali putaran. Bila di Roca itu dua belas kali.  Kali ini saya renang bukan untuk mengisengi orang lain, tapi untuk menghindari diisengi oleh penyakit.

 

(kelanjutannya.....)

16 Maret 2022

Salah

Pagi itu anak saya bilang, “Aku koq kalau mau  berangkat kerja selalu deg-deg-an.” Saya jawab, “Apa ada yang salah kerjaannya?” Kita kemudian masuk di percakapan yang membahas kata salah ini.Topik salah ini memang selalu menarik buat saya, karena itu yang tiap hari saya hidupi di bengkel saya. Hidup berdamai dengan yang namanya salah dan kesalahan.

 

Bengkel itu berbisnis dengan jasa. Mengerjakan pesanan yang selalu berubah. Dengan makin ganasnya persaingan dan tekanan beban biaya overhead, maka sudah seharusnya saya menerima pekerjaan yang makin mahal. Caranya bukan dengan menjual dengan harga yang lebih mahal dari bengkel lain, tapi mengerjakan yang lebih sulit dan rumit yang bengkel lain kesulitan untuk mengerjakannya. Sayalah yang mencari order dan berhubungan dengan konsumen, tapi yang mengerjakan adalah para anak  buah saya. Sayalah yang berjanji, tapi anak buah saya yang menyajikannya. Hal yang rumit adalah saat ada kesalahan yang terjadi. Saat anak buah saya salah dan dia tidak lapor, saya yang akan dimarahi oleh konsumen. Maka budaya kerja yang harus saya bangun di bengkel saya adalah bagaimana sebuah kesalahan itu ditangani. Budaya mau selalu lapor akan kesalahan yang sudah dibuat! Tidak boleh ada orang yang tidak menceritakan kesalahannya. Ini bukan untuk memarahi atau mempermalukannya, tapi untuk mengatasinya dan untuk mempelajari agar itu tidak terulang lagi. Budaya ini dibangun dengan sulit, karena saat orang salah dimarahi dia tidak akan mudah melapor. Saat orang salah pasti tidak dimarahi, dia bisa meremehkan dan cenderung teledor. Budaya mau mengakui kesalahan ini yang diusahakan dengan berapapun biayanya. Ini harus dibangun, karena ini yang bisa meningkatkan kualitas bengkel.

 

Tantangan soal salah ini memang besar. Saya bisa jadi memang suka berbuat salah. Karena saya merasa bisa makin berwibawa kalau saya bisa melanggar dan berbuat salah. Saya akan makin merasa hebat kalau saya bisa melanggar prosedur. Apa hebatnya saya kalau saya bisanya cuma tunduk pada prosedur yang ada? Saya bisa jadi juga membutuhkan kesalahan orang lain. Jangan sampai orang lain jadi baik dan tidak berbuat salah lagi, nanti saya tidak bisa punya alasan pembenar diri lagi. Makanya, budaya berdamai dengan salah itu, akan menjadi suatu proyek sulit yang berbiaya mahal. Mahal karena yang dibayarkan bukan cuma sebatas harga yang dapat dinilai dengan uang. Ada harga yang lebih mahal yaitu keenganan saya untuk bisa menumbuhkan pembaharuan diri agar bisa berkontribusi pada kelompok atau sekitar saya. Tantangan untuk menangani salah dengan mendasar adalah tantangan kedewasaan jiwa. Mendewasakan jiwa saya agar orang lainpun terpanggil untuk mau jadi dewasa. Masihkah saya kecanduan salah?

 

Mutu sebuah perusahaan atau organisasi bisa dilihat saat ada kesalahan yang terjadi. Bagaimana kesalahan itu diterima atau ditanggapi atau ditangani. Ada yang berpikir bahwa organisasi yang baik adalah yang tidak pernah salah. Apakah itu mungkin bila bawaan saya sebagai manusia yang berdosa ini sudah lekat melekat dengan dosa dan salah? Di bengkel, saya sering bilang, cara mengurangi komplain adalah dengan tidak terima order! Karena makin besar perusahaan akan makin banyak komplainnya. Tapi bagaimana komplain itu dikelola itu yang menunjukkan kelasnya. Pengalaman saya sebagai sales mengatakan, jangan takut saat ada yang komplain, karena bila pelanggan yang komplain itu ditangani dengan baik, mereka malah akan jadi pelanggan yang setia. Mereka dapat terpesona dengan cara penanganan kesalahan yang dilakukan. Penanganan kesalahan bisa jadi upaya promosi yang lebih kuat dari sarana promosi biasa.

 

Karunia terindah Tuhan adalah menang dari dosa dan salah, bukan dibuat tidak pernah salah atau juga bukan dibuat mampu untuk bisa salah dengan bangga. Hai maut dimana sengatmu?

 

(kelanjutannya.....)

09 Maret 2022

Tata Gereja vs Alkitab

Di suatu persidangan Klasis yang ada acara Percakapan Gerejawinya, saya sempat berbincang dengan calon pendetanya. “Apa jawaban kamu di jemaat nanti, kalau ditanya:  harus menurut Tata Gereja GKI atau menurut Alkitab?” beliau agak bingung dan rasanya beliau pasti akan jawab: ya harus menurut pada Alkitab. Tapi karena beliau  tidak juga menjawab dengan tegas, maka saya memberitahunya, ”Ya harus menurut Tata Gereja!” Keluarganya mengenal baik keluarga saya, jadi harusnya kita bisa berbicara cukup bebas, seandainyapun pendapat saya jadi aneh, keluarganyapun bisa menegur keluarga saya. Jadi saya merasa santai saja dengan jawaban saya itu tapi memang  itulah sikap yang saya ambil bila saya masuk dalam ambigu seperti itu. Saya akan menurut pada Tata Gereja GKI!

 

Apa posisi Tager itu lebih tinggi dari Alkitab, sehingga saya akan menurutinya? Sama sekali tidak! Alkitab adalah sumber utama tertinggi  pengajaran kekristenan yang menjadi landasan hidup saya. Saya harus taat dan belajar Alkitab setiap saat. Tager GKI itu, koq saya akan selalu menurutinya? Itu dalam kerangka pemahaman bahwa perumusan Tager GKI itu adalah proses yang panjang dan mendalam. Melalui jalan yang lama dan berliku. Konsep Tager itu sudah dimintakan tanggapannya ke tiap aras jemaat. Dimintakan bahasannya di persidangan majelis jemaat setempat, lalu dibahas di persidangan Klasis, lalu tiap Klasis itu membahasnya di persidangan Sinode Wilayah, lalu para Sinode Wilayah membahasnya di dalam Persidangan Sinode. Kemudian baru diambil keputusan. Tiap Pendeta GKI bisa berperan aktif dan punya hak dan kewajiban untuk menjaga mutu Tata Gereja itu agar bisa sesuai dengan Alkitab sebagai landasan utama kehidupan bergereja GKI.

 

Tager adalah bagian dari pengejawantahan ajaran Alkitab menjadi suatu aturan praktis bagi pelaksanaan kehidupan bergereja sehari-hari. Jadi apa yang ada di Tager sudah merupakan hasil diskusi dan perdebatan panjang untuk bisa disetujui bersama. Tager adalah panduan praktis agar dalam bergereja ada pedoman yang bisa dipakai bersama, tidak perlu mengulang-ulang lagi pembicaraan dan perdebatan tentang topik-topik lama yang sudah ada. Melalui Tager, keputusan bisa diambil dengan lebih sederhana dan praktis. Ini pedoman keseharian yang sudah dipercaya bahwa pedoman ini dibuat dengan bersarikan Alkitab. Jadi bukan saatnya dan bukan pada tempatnya untuk mempertentangkan Tager atau Alkitab.

 

Saya ini Penatua dan tidak mengerti banyak soal tafsir Alkitab. Saya tidak sekolah teologi, jadi pengetahuan teologi bukan ranah saya. Saya mempercayakan hal itu pada para Pendeta untuk mendiskusikannya dan menghasilkan Tager yang punya eklesiologi dan pemahanan yang berpadanan pada Alkitab. Saya akan mendarmabaktikan pengetahuan saya di bagian lain untuk gereja. Kemampuan untuk mengatur organisasi, kemampuan teknis yang berkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan untuk manajeman penatalayanan yang lainnya. Ranah saya bukan teologi, tapi saya bisa terus berpikir dan menguji segala hal teologis itu dengan kritis dan kreatif, tapi saya tidak akan keminter soal teologi itu. Sama juga yang ahli teologis jangan keminter soal mengatur keuangan dan teknis kontruksi. Maka kalau saya percaya pada Tata Gereja GKI, itu karena saya menghormati segala jerih lelah perjuangan pemikiran para pendeta GKI untuk kehidupan praktis jemaatnya.

 

Tugas yang berlanjut terus dari para Pendeta adalah memberikan latar-latar pemahaman untuk tiap point yang ada di Tata Gereja dan juga terus bergumul untuk menyempurnakan point-point yang ada demi kesesuaian dengan Alkitab. Bila ada pendeta atau jemaat (maksudnya adalah  GKI Setempat) yang berani bersuara bahwa ada bagian Tager yang tidak alkitabiah, pertanyaannnya dimana dia dulu  saat proses itu terjadi? Dimana dia saat ada persidangan-persidangan itu? Di tiap persidangan Pendeta GKI punya hak untuk hadir dan punya kewajiban untuk memperjuangkan sesuatu yang dirasa tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Kalau memang ada penyimpangan, harusnya mereka yang jadi garda depan untuk mengusulkan amandasi dan perubahannya. Bukan malah-malah berteriak-teriak di jemaat untuk sekedar menunjukkan betapa baiknya beliau dengan tidak menyetujui Tager itu, karena itu cuma berpotensi membingungkan jemaat awam saja. Mari berjuang meningkatkan kualitas pemahaman dan pelaksanaan ajaran Alkitab agar dapat mendatangkan Kerajaan Allah di muka  bumi ini.

 

Tata Gereja GKI bukan sesuatu yang final dan kekal hingga kesudahan segala jaman. Ada banyak hal yang terus harus diperbaiki dan disempurnakan dalam kehidupan menggereja GKI. Menyempurnakan atau merubah Tata Gereja memang bukan suatu yang tabu dilakukan, karena memang ini buatan manusia yang punya keterbatasan dalam mengejawantahkan kehendak Tuhan dalam Alkitab. Banyak cerita yang mungkin bisa mengungkapkan kondisi menghidupi Tata Gereja GKi ini. Ada cerita-cerita yang saya temui di sepanjang kesempatan melayani di lingkup-lingkup luas di GKI.

 

Ada cerita tentang emeritasi pendeta. GKI memahami bahwa kependetaan itu seumur hidup, jadi tidak ada istilah pensiunan Pendeta GKI. Emeritasi adalah sebuah penghargaan dan penghormatan pada Pendeta yang sudah melayani dalam kurun waktu tertentu. Penghargaan pada pendeta yang sudah mempersembahkan kehidupannya bagi pelayanan jemaat. Di sisi yang lain ada pasal-pasal yang mengatur dan memberi ruang bagi Pendeta-Pendeta yang bermasalah atau berkondisi tertentu untuk bisa masuk dalam emeritasi dini asal sudah menjalani dua puluh tahun  masa pelayanan atau berumur 55 tahun. Dua kondisi ini bertentangan, maka ada keinginan kuat untuk bisa menegaskan konsep emeritasi itu sebagai sebuah penghargaan bukan sebagai pensiunan. Inilah pasal yang akan diubah atau diamandasi di Tata Gereja GKI. Pintu Emeritasi dini akan hilang dari Tata Gereja GKI. Pendeta bermasalah itu harus ditanggalkan bukan di emeritasi dini. Semua sinode wilayah sepaham tentang hal ini.

 

Ada juga cerita tentang Perjamuan Kudus untuk anak. Saat ini Perjamuan Kudus di GKI hanya boleh diikuti oleh yang sudah Sidi, mengaku percaya,  bukan yang hanya sudah dibaptis di masa anak-anaknya. Untuk mengikuti Sidi, harus ikut Katekisasi, untuk Katekisasi ada batasan umur minimalnya, jadi otomatis anak-anak tidak  bisa ikut Perjamuan Kudus. Dengan terus berkembangnya pemahaman teologis tentang anugerah keselamatan Tuhan, batasan atau kategori umur ini dipertanyakan. Perbincangan teologis ini terus dilakukan. Sinwil Jateng sebagai pengusung awal ide ini memperjuangkan perubahan Tata Gereja di bagian ini. Sinode wilayah Jabar belum bisa menyetujui perubahan ini. Sinwil Jatim masih terus mengkaji bahasan ini. Saat ini belum bisa dilakukan perubahan Tata Gereja untuk masalah ini. Tetapi usaha untuk mempelajari dan menggumuli topik ini tetap dilakukan dengan serius. BPMSW Jateng mengambil keputusan untuk melakukan uji coba tentang hal ini, beberapa gereja melakukannya, salah satunya GKI Pondok Indah Jakarta. Mereka melakukan Perjamuan Kudus untuk anak dalam rangka memenuhi amanat uji coba pemahaman baru ini. Sedangkan di lingkungan Sinwil Jatim, karena kita masih terikat dengan Tata Gereja yang ada, maka beberapa GKI di Jatim yang melakukan Perjamuan Kudus untuk anak, diminta menghentikannya demi kesederapan yang ada. Belum semua Sinode Wilayah bisa menerima dengan bulat Perjamuan Kudus untuk anak ini.

 

Keaktifan GKI untuk mau berpikir dan berkarya menanggapi perubahan jaman bukan cuma berguna untuk usaha merubah dan menyesuaikan tata gerejanya saja, tetapi kegiatan ini juga beruntung bisa di jaga oleh koridor Tata Gereja GKI. Saat ada beberapa wacana untuk mulai berbicara dan mendiskusikan perihal LGBT. Tiba-tiba GKI diterpa isu bahwa akan segera ada pernikahan sejenis di GKI. Isu itu dengan mudah ditepis GKI dengan merujuk pada Tata Gereja GKI tentang pernikahan yang dengan jelas melibatkan pria dan wanita, bukan pria dan pria, atau wanita dan wanita.  Di sini keberadaan Tata Gereja memang bisa memberikan kejelasan dengan gamblang untuk kasus yang ada.

 

Tata Gereja memang bisa bertugas memberi panduan praktis yang harus selalu siap dikoreksi dengan pemahaman bahwa semua yang sudah ada ini, dibuat dengan maksud baik untuk tujiuan baik pula. Kalaupun ada kekurangan, kelemahan dan kesalahan itu karena memang kita manusia yang lemah yang butuh panduan Tuhan melalui hikmat Roh Kudus yang juga bersumber dari pendalaman Alkitab sebagai firman Tuhan.

 

Di masa pelayanan ini, cerita paling seru perihal Tata Gereja ada pada saat membahas soal pernikahan. Pernikahan dengan pasangan yang pernah cerai hidup atau pernikahan dengan pasangan yang bukan Kristen. Sebenarnya yang bukan Kristen itu juga berarti Katholik. Karena walaupun sama-sama beriman kepada Yesus Kristus, secara hukum di Indonesia Agama Katholik itu bukan agama Kristen Protestan. Biasanya masalah ini meruncing saat yang diartikan bukan Kristen itu adalah Islam, Budha, Hindu atau KongHucu.

 

Ada yang berpolemik dengan meruncingkan perdebatan antara Tata gereja dan Alkitab yang menurutnya menentang pernikahan kedua ataupun Alkitab yang menjelaskan ketidakmungkinan bersatunya terang dan gelap. Polemik ini akan semakin sering terjadi dengan semakin mengindonesianya GKI. Dengan makin terbukanya GKI, maka kehadiran jemaat dengan beragam latar belakang akan berpotensi beragam latar belakang teologis dari gereja sebelumnya. Belum lagi dengan makin terbukanya informasi internet, akan makin membuat banyak jemaat termasuk kemudian Penatuanya belajar dari beragam sumber teologis. Tidak berarti kita harus menyaring antara benar dan salah. Tetapi harus dengan kedewasaan pemahaman bahwa lain lubuk lain belalang, lain rumah lain aturan. Maka dengan pemahaman sebelumnya bahwa Tata Gereja GKI adalah hasil pergumulan iman para pendeta dan jemaat GKI yang bertanggungjawab pada Tuhan dan berlandaskan Alkitab, maka tidak pada tempatnya untuk kembali memperdebatkan hal itu. Tidak ada ruang untuk Set-Back di tataran pelaksanaan Tata Gereja.

 

Memahami keberatan gereja akan perceraian juga menjadi landasan kuat untuk mempertahankan pernikahan dengan sekuat tenaga. Memahami juga keterbatasan manusia yang berdosa dan butuh pengampunan dan kesempatan memulai lagi hidup baru, juga bisa membuka peluang bagi seseorang untuk bisa memulai kehidupan pernikahannya lagi. Bila gereja memberi peluang itu maka gereja akan bisa dimanfaatkan untuk bisa melegalkan perceraian dan pernikahan kesekian kalinya? Disini letak panggilan gereja untuk menjadi agen pembaharu bagi jemaat. Gereja bukan Lembaga pemberi stempel saja. Gereja harus aktif sebagai agen pembaharu kehidupan jemaat. Maka proses percakapan pastoral menjadi tahapan yang penting saat gereja menghadapi keputusan untuk pernikahan bagi jemaat yang akan menikah. Percakapan pastoral yang bukan formalitas, percakapan pastoral yang bisa menggembalakan jemaat untuk memahami dan mempersiapkan suatu pernikahan yang benar dan menjadi berkat. Percakapan pastoral ini juga bukan percakapan pengadilan yang bila ditemukan hal yang tidak sesuai atau belum sesuai dengan norma gereja, langsung bisa ditolak permohonan pemberkatannya. Percakapan pastoral itu yang harusnya memandu jemaat itu menuju jalan dan cara berpikir yang benar.

 

Konsep untuk bisa tetap merangkul dan menjaga serta memberi kekuatan pendampingan pada jemaat itu juga yang menjadi landasan untuk mau menerima pernikahan dengan yang tidak seiman. Percakapan pastoral tetap akan menjadi titik masuk kehadiran gereja bagi masalah ini. Percakapan pastoral bukan formalitas.

 

Dalam percakapan pastoral inilah segala titik pijak gereja dikomunikasikan dan disampaikan dengan harapan itu diterima dan dijadikan panduan pernikahan tersebut. Pendeta harus bisa dengan tegas menyampaikan ajaran dan harapan gereja. Pendeta tidak bisa tidak mau tahu bila jemaat tersebut misalnya tidak mau pernikahannya didaftarkan di Catatan Sipil. Tidak juga bisa bersembunyi dengan bilang secara hukum hal itu dimungkinkan di Indonesia, karena Gereja tidak pernah bisa menerima konsep Nikah Siri. Percakapan Pastoral harus bisa menjadi ruang bagi gereja untuk menyampaikan segala panduannya. Bila panduan itu ternyata ditolak, maka gereja juga harus berani menolak pemberkatan nikah itu juga.

 

Singkatnya, seharusnya tidak mungkin ada ruang bagi Pendeta, jemaat (dalam arti umat atau GKI setempat) untuk menolak melaksanakan Tata Gereja GKI. Memberi masukan perbaikan pasti bisa, tapi bukan dengan bangga menolaknya, karena di semua liturgi Baptis Dewasa/Sidi dan Penerimaaan Jemaat, kesediaan menerima Tata Gereja GKI  ini ditanyakan. Yang menanyakan adalah Pendeta dan yang menjawab adalah jemaat tersebut. Bukan untuk mendewakan Tata Gereja GKI, tapi bagaimana bersikap itulah yang perlu direnungkan……

 

 

(kelanjutannya.....)

12 Februari 2022

Bioskop

Saya dulu tidak boleh keluar malam, jam 4 sore sudah harus pulang rumah dan mandi, dulu Bondowoso itu dingin untuk mandi terlalu malam. Jadinya tidak mungkin saya nonton bioskop, bisanya cuma koleksi selebaran film yang sedang main di bioskop-bioskop itu. Dulu, setiap ganti film akan ada mobil Colt yang keliling kota untuk woro-woro, lalu saya mengejar mobil itu untuk sekedar minta selebaran film-film itu. Banyak nama bintang film yang saya hafal, bukan karena saya sering nonton filmnya, tapi hanya dengar dari iklan mobil keliling dan selebaran itu. Sampai sekarangpun belum tentu setahun sekali saya menonton film di bioskop.

 

Bukan berarti saya tidak suka dengan bioskop, saya suka cerita. Dari banyak cerita saya bisa melihat banyak segi kehidupan dan pola pikir banyak orang. Pernah saya selalu menikmati perjalanan dengan pesawat yang ada tontonan filmnya, Batik Air awalnya ada filmnya. Juga penerbangan ke luar negeri yang berjam-jam, kadang saya nikmati dengan nonton beberapa film. Enak memang. Eh, sekarang ada banyak wadah untuk bisa nonton film dengan tidak terikat ruang dan waktu, bisa kapan saja dan dimana saja. Tinggal ndompleng akun Netflix, Viu, Iqiyi anak saya. Dari cerita film itu saya sering belajar dan mengerti banyak hal. Memahami alur pikiran dan latar masalah yang ada di kehidupan ini.

 

Saya sering masuk dalam suasana seperti nonton bioskop. Ada peristiwa-peristiwa yang saya lihat seperti saya menonton bioskop. Bioskop-bioskop kehidupan yang benar-benar nyata. Saya banyak bergaul dengan orang-orang yang lebih tua dari saya. Mereka-mereka yang lebih senior dari saya. Mereka itu yang banyak mengajari saya. Baik, bila itu adalah hal-hal yang baik dan positif, tapi banyak hal lain yang mereka ajarkan ke saya. Banyak kenakalan dan kejalangan yang mereka ajarkan yang awalnya untuk menunjukkan betapa menyenangkan dan nikmatnya hal-hal itu mereka jalani. Mereka menceritakan bagaimana mereka menjalani dan menikmati perselingkuhannya. “Bayangkan, pulang kerja, kaos kaki aja dibukakan..” Belum lagi tip dan trik detail lainnya. “Bagaimana kamu menjawab kalau sampai di kantong pakaian kotor kamu ditemukan k*nd*m?” “Pokoknya Daniel… kamu harus begini……… kalau sampai kamu ketangkap basah..” Ada juga: “ Urusan pelaporan dan pajaknya bisa kamu serahkan ke orang itu…” Waduh.. semuanya lengkap, karena bukan dari satu orang saja pelajaran-pelajaran itu, dan mereka semua adalah praktisi handal di bidangnya. Saya sendiri seru menikmati semua cerita itu.

 

Sekarang ini, seperti ada bioskop-bioskop yang saya tonton. Gambaran nyata tentang segalanya yang muncul dengan berjalannya waktu. Seorang teman yang dulu bangga dengan kisah perselingkuhannya, harus tergeletak stroke beberapa belas tahun. Istri yang dulu ditinggalnya, kini ia yang malahan merawatnya dengan telaten. Seorang teman yang  terakhir datang dengan mobil mewahnya, mentor saya untuk import barang, tampak berompi oranye di suatu berita. Belum lagi, “Pa, teman Papa yang diwawancarai Desi Anwar itu, kemarin ditangkap KPK” Itu kata anak saya di suatu hari setelah OTT KPK. Segala kisah seru, indah dan nikmat itu kini terasa tak berarti lagi. Sudah terlalu banyak peristiwa yang nampak seperti bioskop yang terputar di depan saya. Bioskop yang selalu mengingatkan saya.

 

Adegan-adegan bioskop kehidupan itu menguatkan dan mengingatkan akan Amsal  “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan…”

 

(kelanjutannya.....)

06 Januari 2022

Makelar

Di awal tahun, hal yang selalu saya ingat adalah memasukkan laporan pajak, SPT. Sudah sejak kelas enam SD saya mengisi SPT. Dulu saya mengisikannya untuk Emak saya, karena saya merasa Emak dipermainkan oleh petugas pajak yang selalu datang untuk  urusan itu. Saya kemudian nekad mempelajari panduan pengisiannya dan kemudian nekad mengisikannya untuk Emak saya. Sampai Emak meninggal tidak ada surat teguran pajak yang diterimanya. Kini saya mengisi untuk saya sendiri dan saya mengisi dengan jenis pekerjaan bebas sebagai makelar. “Itu norma perhitungannya 50%!” Kata teman yang petugas pajak di selasar gereja kemarin.

 

Makelar itu jasa perantara. Saya memulai bisnis saya dengan BIMANTARA, Bisnis Makelar dan Perantara. Cari order, dapat, lalu dicarikan teman yang bisa mengerjakannya. Cuma menjadi perantara antara yang membutuhkan barang dan yang mempu menyediakan barang tersebut. Ada yang membutuhkan barang tapi tidak tahu dimana yang punya barang, ada yang punya barang tapi tidak tahu siapa yang butuh barang itu. Saya yang menjembatani dua pihak itu. Saya makelarnya.

 

Dalam banyak tokoh Alkitab, yang saya kagumi adalah Maria, Bunda Yesus. Sosok ini hilang di tradisi gereja protestan, tapi tetap tercatat dengan baik di Alkitab. Yang dikerjakan Bunda Maria hanya menjadi perantara. Bunda Maria menjadi perantara untuk kehadiran Yesus di Bumi. Bunda Maria tidak menyelamatkan umat manusia dari dosa, tapi melalui perantaraan  Beliau, Yesus hadir menyelamatkan umat manusia. Di Perkawinan di Kana, Bunda Maria tidak melakukan mujizat. Beliau hanya memohon pada Yesus dan memberitahu petugas disana untuk menuruti apa yang akan diberitahukan oleh Yesus. Maka terjadilah mujizat pertama Yesus itu. Menjadi perantara agar kuasa dan kasih Tuhan terjadi, itu yang mengagumkan dari Maria.

 

Entah mungkin ini sudah takdir dan garis tangan atau talenta saya, menjadi makelar itu juga yang mendasari semangat pelayanan saya. Menjadi makelar bagi kasih Tuhan itu yang ingin saya jalani. Bukan karena saya hebat, tapi karena cuma  itu yang saya bisa. Saat manusia tidak pernah melihat Tuhan, siapa tahu saya bisa menjadi perantara visualisasi kehadiran Tuhan itu. Perantara itu cuma mengisi ruang-ruang kosong yang menyekat suatu proses, apapun ruang kosong itu. Bisa itu membantu mempertemukan jemaat yang membutuhkan obat dengan apotek yang punya obat. Bisa juga mempertemukan yang belum sadar dengan cermin yang memantulkan potret dirinya. Makelar itu ketrampilannya cuma melihat celah yang menghambat dan celah itulah yang diisi oleh makelar itu. Entah apa lagi yang bisa saya makelari.

 

Kalau saya melakukan sesuatu semoga itu akan membawa orang lain bisa merasakan kebaikan Tuhan yang pasti jauh lebih baik dari kebaikan yang bisa saya lakukan.

(kelanjutannya.....)

31 Desember 2021

Flashback

Dua puluh dua tahun yang lalu di tanggal yang sama dengan hari ini, 31 Desember 1999, itu tonggak sejarah di hidup saya. Hari itu kami sekeluarga berlibur di Kalibaru, menyongsong tahun baru. Nama tempat yang cocok dengan niatan baru yang hendak dijalani. Tekad saya hari itu adalah: mulai milenium baru 1 Januari 2000 saya akan merintis usaha sendiri. Tahun baru, semangat baru, usaha baru.

Tahun 1998, krisis moneter yang mengguncang perekonomian. Banyak kekejaman yang tak terpikirkan sebelumnya, muncul dengan masif. Omset penjualan yang di satu perusahaan saja bisa ratusan juta per bulan tiba-tiba jadi nol di semua perusahaan dalam beberapa bulan berjalan. Cicilan mobil yg katanya flat sampai lunas, ternyata bisa berubah naik drastis. Saya marah, tapi itu sudah kebijakan bank. Saya tidak berdaya apa-apa. Gaji saya dipotong 25%, karyawan lain 10%, itu karena katanya gaji saya lebih tinggi dari mereka. Saya pasrah, namun ini sumber kejengkelan utama saya. Sebagai sales saya sering menjual barang dengan struktur harga yang melebihi hitungan dasar perusahaan. Perusahaan jadi untung lebih besar dari standard yang ada. Saat seperti itu saya tidak minta bonus lebih. Saya mendapat komisi sesuai dengan yang pernah dijanjikan perusahaan sebelumnya dan saya merasa itu sudah jatahnya perusahaan untuk untung. Tapi saat di mana perusahaan merugi, ternyata saya juga harus ikut menanggung kerugian. Cara berpikir ini yang membuat saya kecewa.

Boss besar saat itu seperti juga banyak orang kaya lainnya, memilih untuk pindah ke luar negeri. Saya bersyukur sebagai orang yang tidak punya uang, tidak ada alternatif lain kecuali tetap tinggal di sini dan berjuang di sini. Sampai suatu hari Boss bilang: "Daniel, tolong kamu atur perusahaan saya ini ya"
"Gak mau, dari pada saya ngatur perusahaan ini, saya atur perusahaan saya sendiri saja"
Lalu saya mengajukan pengunduran diri. Saya terikat komitmen awal, kalau saya mengundurkan diri maka saya harus mengajukan setahun sebelumnya. Maka jadilah suatu masa terburuk di hidup saya. Tahun 1999! Itu tahun terburuk karena tahun itu berjalan dengan lambat dan tanpa greget! Saya tidak punya semangat apa-apa, semua berjalan mengalir dan mengelinding saja. Saya hanya menanti satu tahun itu berakhir. Itulah mengapa saya tidak pernah percaya dengan orang yang sudah tidak punya semangat.

Dua puluh dua tahun sudah berlalu. Berkat Tuhan sudah terlalu deras mengalir. Tahun itu saya cuma bermodalkan dua exit plan. Umur saya belum 35 tahun, jadi kalau usaha ini gagal maka saya masih laku untuk mencari kerja lagi, karena lowongan kerja biasanya memberi umur maksimal 35 tahun. Langkah cadangan berikutnya adalah istri saya juga bekerja, saya cuma bisa bilang, "kalau saya gagal, saya numpang makan sama kamu ya....' Cuma dengan modal cadangan itulah saya melangkah nekad. 

Pengalaman saya di trading peralatan industri import, hampir pasti tidak terpakai. Karena komitmen saya dengan mantan Boss saya itu. 
"Daniel, kalau kamu kerja sendiri, jangan kerja seperti bisnis saya ini, karena kita bisa jadi saingan."
Saya menyetujuinya karena memang kita adalah teman baik. Saya cuma bermodalkan kemampuan mencari order untuk menggarap bidang lain yang tidak saya ketahui. Saya cuma ingat semangat Abraham dan Lot. Abraham tidak takut dengan meminta Lot utk memilih terlebih dahulu tanah yang akan diambilnya. "Kalau kamu ke kiri aku ke kanan, kalau kamu ke kanan aku ke kiri" Berkat Tuhan saya yakini akan selalu tersedia. 

Detail liku-liku jalan ini tidak terbayangkan sebelumnya. Tidak pernah ada bengkel di Surabaya yang mulai langsung dengan mesin CNC dan bosnya tidak pernah kerja di satu bengkelpun. Hampir semua pemilik bengkel yang saat ini bengkelnya besar dan beliau dulu adalah pimpinan atau pengalaman bekerja di bengkel terbesar di Surabaya, bila dulu dia bilang dia bisa mengerjakan dengan mesin CNC, itu pasti di kerjakan di saya! Setelah mereka lihat enaknya kerja dengan mesin CNC, baru kemudian mereka berani beli mesin CNC sendiri. CNC itu mesin perbengkelan yang bisa berjalan dengan akurat karena dikendalikan oleh komputer. Mana punya saya uang untuk membeli mesin CNC, tapi Tuhan sediakan jalan di mana saya bisa belajar dan memanfaatkan mesin-mesin CNC itu. Tuhan siapkan jalan untuk melompat, bukan memulai bengkel seperti kebanyakan orang memulai dengan mesin manual kemudian menuju ke CNC. 

Dua puluh dua tahun yang ajaib ini, semoga menguatkan saya untuk percaya akan penyertaan Tuhan di hari-hari mendatang yang tidak juga saya ketahui. 
"Tak ku tahu khan hari esok... Namun langkahku tetap....
bukan surya ku harapkan.... Karna surya khan lenyap...."
(kelanjutannya.....)

27 Desember 2021

Benalu

Menjelang akhir tahun, selalu ada keinginan untuk melihat ke belakang tentang apa yang sudah terjalani di tahun ini. Saat itu terlintas, terlihat pohon jambu di rumah. Teringat juga rumah masa kecil saya yang banyak pohon-pohonnya. Yang terbanyak dan besar-besar adalah pohon mangga. Teringat cerita papa saya. Saat saya bertanya tentang daun-daun yang nampak lain bentuk dan hijaunya di pohon-pohon itu. “Itu benalu! Itu menghisap makanan pohon itu.” Kata papa, benalu itu berasal dari tempat lain, dibawa oleh burung, bisa bijinya menempel di paruh burung atau bisa juga ada di kotoran burung yang menempel di dahan-dahan itu. Benalu itu bisa nampak begitu hijau dan rimbun, lebih segar dari daun-daun pohon itu sendiri.

 

Benalu penghisap makanan pohon itu menjadi ikon di benak saya kali ini. Saat suasana perekonomian global yang meredup karena pandemi, saat banyak orang berteriak tentang pendapatan yang berkurang. Bisa saja suplai makanan yang saya terima tidak terganggu. Kalau ekonomi meredup dan saya tetap tersuplai seperti biasanya, apa itu berarti bahwa saya sudah memakan porsi ekonomi yang lebih besar dari yang tersedia? Harusnya tidak masalah dengan memakan porsi yang lebih besar, asal ada output yang berpadanan. Pandemi ini bisa jadi alasan juga untuk menutupi bahwa selama pandemi gerakan terbatasi, termasuk gerakan untuk menghasilkan output yang berpadanan dengan apa yang sudah diterima. Pandemi ini bisa mengungkapkan bahwa saya adalah benalu?

 

Saya memang  bisa bilang bahwa penilaian output itu bukan urusan saya dan pikiran saya. Biarlah orang luar yang menentukan bahwa itu benalu atau bukan. Orang luar bisa melihat. Seperti daun-daun benalu yang nampak rimbun dan hijau yang dapat mengelabui orang bahwa pohon itu indah. Daun-daun itu indah, bahkan bisa nampak lebih segar dari daun-daun lainnya. Keindahan yang terbentuk dari penghisapan makanan yang sebenarnya untuk yang layak menerimanya. Lalu apa yang bisa menilai kebenaluan saya?

 

Alkitab pernah bilang soal Buah Roh. Ada kata buah dan itu kata kunci, karena benalu tidak berbuah seperti pohon induknya. Daun benalu bisa hijau indah, glowing. Tapi benalu di pohon mangga tidak berbuah mangga, malahan benalu  bisa membuat pohon mangga itu kering tidak berbuah. Jadi kalau saya benalu, maka saya makan dari pohon itu tapi saya tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkan dari pohon itu. Walau saya berdaun indah, itu hanya tipuan. Bila orang tidak tahu pohon apakah itu, bisa mengetahuinya dari buahnya yang terdahulu, dan setelah kehadiran saya, apakah buah itu tetap ada makin lebat?

 

Benalu itu parasit. Bukan anggrek yang berbunga indah yang epifit. Parasit menghisap makanan dari pohon induknya sedang epifit hanya menempel tidak menghisap nutrisi sang induk. Anggrek hanya menempel, tidak menghisap sari makanan tapi berkontribusi memperindah dengan bunganya untuk pohon induknya. Saya ini parasit atau epifit?

(kelanjutannya.....)

18 Desember 2021

Mari Hidup Sehat

sekali lagi jangan bosan

 

Deraan Covid-19 membuat saya bosan dengan jargon seperti judul itu. Dimana-mana, kapan saja, banyak poster, WA, ajakan, seruan, nasehat untuk hidup sehat. Ada ajakan Prokes yang M-nya makin lama makin banyak, hingga jargon pembungkus saat ada rekan yang berusaha menjual produk makanan kesehatan. memang nilai positifnya adalah masifnya ajakan dan perhatian untuk menjaga kesehatan dan berusaha kuat untuk jadi makin sehat.

 

Covid-19 ini membuat saya diajak makin perhatian dengan kata sehat. Tapi sehat itu apa? Saya teringat: Mens sana in corpore sano. Ada unsur sehat jasmaninya ada unsur sehat jiwanya. Covid membuat orang menaruh perhatian besar dengan kesehatan jasmaninya, tubuh harus sesehat mungkin agar tahan terhadap gempuran virus. Kalau jasmani ini sampai sakit, rasanya itu akan mengacaukan kehidupan ini. Kesehatan jasmani bisa jadi tujuan utama kata sehat itu. Suasana hati, mungkin ini sisi psikologis atau kejiwaan harus baik biar imun bisa tinggi, katanya. Bukankah hati yang gembira adalah obat. Dunia yang nyata ini menempatkan jasmani adalah yang terpenting dan kejiwaan  harus bisa menunjang yang jasmani itu. Kejiwaan itu perlu sehat cuma agar jasmaninya sehat. Betulkah seperti itu?

 

Dunia memang saat ini diguncang oleh pandemi yang disebabkan oleh kehadiran jasmani perusak yang berupa virus. Inikah guncangan dunia yang pertama? Dunia ini malah lebih sering diguncang dengan lebih dahsyat oleh hal lain seperti perang dan kerusuhan. Bisa perang yang lokal ataupun yang meluas mendunia, Perang Dunia. Sejarah mencatat ada sosok beberapa orang yang bisa mengobarkan perang yang menyusahkan banyak orang itu. Mulai dari Jenghis Khan, Julius Caesar, Napoleon Bonaparte, hingga Adolf Hitler. Siapa nama-nama itu? Banyak buku juga membahas nama-nama itu, kisah hidup mereka dan latar belakang kejadian yang membentuk mereka. Pola pikir yang membawa mereka masuk dalam angan dan mengobarkan perang tersebut. Mereka punya latar belakang kejiwaan yang membuat mereka masuk dan mengobarkan perang itu. Dunia beberapa kali terguncang karena ada orang yang secara kejiwaan atau psikologis bermasalah. Dengan apa yang ada dibenaknya, ia mengobarkan sesuatu yang merusak dunia ini. Latar Psikologis mampu berdampak merusak dunia.

 

Dunia juga mencatat berlimpah kisah hidup orang-orang sukses yang sudah menjadi berkat bagi sesama manusia. Bisa jadi mereka tidak lahir dengan modal kesempurnaan, tetapi ada dorongan di benak mereka yang memicunya menjalani jalan hidup spektakuler yang menjadi berkat. Latar kejiwaan atau psikologisnya yang menjadi pemantik kesuksesannya. Kondisi kesehatan kejiwaan atau psikologis ternyata bisa membawa keberkahan buat orang lain.

 

Kesehatan kejiwaan atau kesehatan psikologis atau kesehatan mental bukan sesuatu yang cuma bisa menghadirkan kesehatan jasmani. Menambah imun! Kondisi kesehatan mental itu yang menjadi penentu apakah seseorang bisa menjadi berarti bagi dunia ini. Tidak semua orang bisa mendapat berkat untuk lahir dengan kondisi yang layak dan sempurna, baik jasmaninya maupun mentalnya, tapi keinginan untuk menjaga dan terus menaikkan kesehatan mentalnya akan membawa suasana kehadiran kerajaan Allah di muka bumi. Tiap orang bisa mengusahakan kesehatan mentalnya untuk bisa menjadi berkat.

 

Alkitab bilangnya “..pembaharuan  budi…” di Roma 12:2. Menjalani proyek pembaharuan budi akan menunjang kesehatan mental. Menjalani proses pembaharuan budi akan membuat dunia makin indah. Yang terlahir sombong akan berusaha rendah hati, yang terlahir culas akan belajar mau memperbaharui sikapnya jadi ramah. Pembaharuan budi ini yang bisa mencengangkan sesama, karena hanya Tuhan yang mampu merubahkan karakter dan sikap mental. Dunia bilang: “Watuk bisa sembuh, tapi kalau watak sulit sembuh!”, Kekeristenan menawarkan pembaharuan budi. Tuhan sanggup merubahkan karakter. Saat dunia sering terkejut dengan topeng yang dibentuk dengan balutan agama, pembaharuan budi akan menampilkan umat Kristen yang semakin hari semakin sehat mentalnya. Pembaharuan budi bisa merubahkan dunia. Pembaharuan budi bisa menghadirkan kerajaan Allah di muka bumi ini. Pembaharuan budi bisa membuat dunia yang makin sehat secara mental.

 

 

(kelanjutannya.....)

Pola

Banyak kali di tiap rapat, di tiap perbincangan, ada permintaan tentang “data”. Saat pengambilan keputusan akan dilakukan, biasa ditanyakan, “Bagaimana datanya?” Dengan data, saya bisa mengambil keputusan. Dengan data memang ada keputusan yang bisa saya ambil dengan mudah dan terasa tepat. Ada data sebagai dasarnya.

 

Bila keputusan itu adalah hasil sebuah pertanyaan sederhana, tersedianya satu data cukup bisa menyelesaikan masalah. Saya mau beli laptop, data yang saya perlu hanya apakah saldo uang saya cukup? Satu data bisa menjawab persoalan yang muncul. Namun ada banyak masalah yang saat akan diambil keputusannya, datanya tersebar dengan banyak. Tersedia setumpuk data untuk satu keputusan yang perlu diambil. Apakah saat ini memang masa-masa berakhirnya pandemi Covid-19 ini? Apakah harga tanah yang ditawarkan ini adalah harga yang termurah, jangan-jangan harga ini masih akan turun lagi? Sejumlah data tersedia harus diolah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

 

Hal terpenting saat berhadapan dengan banyak, sederet atau setumpuk data dan fakta adalah kemampuan untuk membaca pola yang ada. Mereka yang berinvestasi saham terbiasa dengan analisa seperti: Bollinger, Ichimoku, Fibonacci, dan lainnya. Itu sebenarnya adalah kemampuan membaca pola naik turunnya harga untuk bisa menganalisa harga yang akan datang. Kemampuan membaca pola ini juga dipelajari dalam matematika statistika. Titik-Titik data yang tersebar itu didekati dengan pola grafik yang dianggap paling cocok untuk kemudian dipakai untuk menebak kecenderungan data yang akan muncul kemudian. Apa itu pasti cocok? Tidak ada jaminan, tetapi seperti kata Pengkotbah “Yang sekarang ada dulu sudah ada dan yang akan ada sudah lama ada..”. Pengkotbah percaya bahwa di muka bumi ini selalu ada polanya, pola itu yang akan berulang dan pola itu yang berguna untuk menebak kejadian apa yang bakal terjadi.

 

Alkitab juga menampilkan pola. Pola di perjanjian lama yang kuat adalah bahwa Allah adalah penguasa alam semesta. Bagaimana Allah yang Maha Besar dan Maha Kuasa itu harus menjadi fokus utama manusia. Goliat menjadi hancur hanya karena ia mengolok-olok Allah Israel dan Daud tampil sebagai sosok alat yang dipakai Tuhan mempertontonkan kedahsyatan itu. Juga saat utusan raja Asyur mengolok-olok Allah Israel dan Raja Hizkia mau tetap percaya bahwa Allah sumber kekuatannya, maka Allah menghacurkan kecongkakan tentara Raja itu. Pola Allah yang menjadi sumber pengharapan dan kehidupan. Pola ketulusan kasih juga menjadi pola utama layanan Kristus di perjanjian Baru. Dengan belajar membaca pola, banyak hal bisa dipahami dan bisa ditebak penyelesaian permasalahan yang ada. 

 

Ilmu ini bisa begitu rumit kalau mau dipraktekkan dengan hitungan matematika. Minimal harus belajar regresi polynomial, belajar ilmu statistika yang mbingungi. Kalau cuma untuk menghidupi panggilan keseharian, kemampuan mengamati tiap kejadian akan membantu untuk membaca pola yang ada. Tiap kejadian akan menimbulkan respon spesifik dari tiap pelaku dan pihak terkait lainnya. Itu kalau diamati akan mampu menangkap pola yang mungkin bisa untuk membaca masalah yang ada. Bila saya tidak suka parfum, akan jadi ada yang perlu ditanyakan kalau saya tiba-tiba pakai parfum. Bisa jadi karena kakak saya yang banyak memberi saya parfum datang dan harus saya temui. ah… mosok..? Atau bila saya suka balik menantang bila diberi pertanyaan yang memojokkan,   mungkin itu pola yang perlu diamati untuk dilihat responnya bila memang tantangan itu ditanggapi. Bisa jadi saya benar-benar punya pola respon penyembunyian seperti itu.

 

Mengamati pola akan melatih untuk menebak respon dan mungkin bisa menambah kemampuan menyelesaikan masalah.

 

(kelanjutannya.....)

05 Desember 2021

Saya Bukan Malaikat

Di masa Adven saya sering melihat ornament malaikat, karena bisa jadi malaikat adalah pembawa berita sukacita Natal. Kehadiran malaikat dengan berita membahagiakan itu juga saya nantikan. Saya jadi ingat dengan jargon seperti judul di atas itu. Bisa jadi saya sering menyebutkan jargon itu saat ada orang yang membicarakan tentang banyak hal dalam kehidupan saya yang tidak sempurna. Mereka komplain dengan kelakuan saya, mereka komplain dengan karakter saya, mereka komplain dengan apa yang sudah saya lakukan. Saya bisa menjawab mereka dengan: “Saya bukan Malaikat”.

 

Ada kalanya saya menjawab itu berlandaskan ketulusan bahwa saya memang bukan malaikat yang tidak bisa salah. Saya  menyesal bila saya sudah salah. Saya berjanji akan berubah dan terus berusaha berubah. “Saya bukan malaikat” menjadi kunci pembuka permohonan maaf saya. Mohon dimaklumi bila saya salah, tapi saya janji akan terus berusaha berubah.

Ada kalanya saya cukup sakti menggunakan jargon judul tadi, untuk bilang bahwa saya memang bukan malaikat yang katanya sempurna. Jadi jangan pernah minta saya untuk jadi sempurna. Jangan minta saya untuk berubah, saya bukan malaikat. Jargon itu bisa jadi tempat untuk bersembunyi dari semangat pembaharuan yang akan Tuhan mulai dengan Natal. Kalau saya dianggap nakal itu karena saya memang  bukan mailaikat. Kalau ada yang kecewa dengan saya, itu karena saya bukan mailaikat. Saya juga bukan malaikat yang baik, jadi cukup terima saya seperti ini jangan minta saya untuk berubah. “Saya bukan malaikat” bisa jadi tempat bersembunyi yang baik dari semua usaha proses pembaharuan budi yang dituntutkan ke saya.

Bila Natal adalah awal proses karya Allah untuk pembaharuan dunia, maka di masa adven ini, sayapun harus bersiap untuk menyambut karya Allah untuk merubah saya. Apalagi katanya manusia itu akan menghakimi malaikat (1 Kor 6:3). Apa perlu saya masih tetap kukuh pada judul itu hanya sekedar saya malas berubah demi pembaharuan budi? Natal adalah karya Allah yang mengubahkan umat manusia, Adven semoga menyiapkan saya untuk menyambut proses pengubahan oleh Allah demi menyambut kasih Allah yang senantiasa ada itu.

Saya lebih dari malaikat karena Tuhan menganugerahkan akal budi untuk terus berubah oleh pembaharuan budi.

 

(kelanjutannya.....)

Mempersembahkan Sampah

Natal hampir tiba, sukacita mulai terasa. Natal juga punya tradisi persembahan Para Majus, oleh karenanya kini ada juga warta tentang persembahan Natal. Memberikan persembahan khusus di saat Natal menjadi suatu kebiasaan yang indah di perjalanan pelayanan ini. Apa yang akan saya persembahkan di Natal kali ini? Bolehkah saya mempersembahkan atau membawa sampah sebagai persembahan Natal?

Kalau saja saya membawa sampah ke area gereja, pasti itu akan membuat orang lain terusik, mengganggu orang lain. Tapi yang lebih penting dari itu, saya sendiri akan malu. Saya malu kalau orang lain tahu bahwa yang saya bawa adalah sampah. Point utama saya, kalau saya membawa sampah ke gereja, itu akan mempermalukan saya. Makanya saya harus berusaha dengan keras. Usaha keras untuk tidak membawa sampah atau usaha keras agar orang lain tidak tahu bahwa yang saya bawa selama ini adalah sampah. Banyak usaha yang bisa dilakukan. Di suatu kotbah pernah disindir bahwa kegiatan sosial ajakan menyumbang pakaian bekas, bisa jadi kegiatan untuk membebaskan rumah dari sampah pakaian bekas. Tergantung bagaimana saya menanggapi ajakan berbagi itu. Saya benar memilah baju bekas saya, atau saya bawa saja semua mumpung ada alasan untuk memindahkan beban baju bekas ini dari rumah.

Katanya persembahan itu bukan cuma uang. Persembahan juga bisa segala usaha yang bisa memuliakan Tuhan. Roma 12 : 1-2 begitu sering dibacakan melandasi liturgi persembahan di gereja. Sikap hidup dan karakter baik di kehadiran saya, itu bisa jadi persembahan buat Tuhan, maka karakter buruk dan segala kelemahan sikap saya adalah bukan persembahan yang baik. Itulah sampah! Tapi sampah itu lekat di hati dan kehadiran saya. Bisa jadi sampah itu adalah keengganan untuk taat pada prosedur, keengganan untuk berkorban, keengganan berubah memperbaharui karakter, keenganan untuk berendahhati. Semua sampah yang hadir saat saya juga hadir di pelayanan ini. Saya sadar itu sampah dan saya sadar itu akan mempermalukan saya. Saya harus berusaha keras! Berusaha keras agar sampah itu perlahan terkikis dan diperbaharui oleh proses pembaharuan budi yang diridhoi Tuhan. Atau, saya akan berusaha menutupi sampah-sampah itu, agar orang lain tidak tahu bahwa saya membawa sampah selama ini. Saya bisa menutupi sampah itu dengan status kemajelisan saya, saya bisa menutupi sampah itu dengan kemampuan saya untuk mudah marah dan tersinggung. Jangan berani bilang itu sampah saya, kalau gak minta saya ngambek. Saya bisa menutupi sampah karakter saya dengan tampil lemah lebut, sopan santun, seakan saya adalah malaikat, namun saat ada yang mengorek sampah saya, saya jadi bilang "saya bukan malaikat" agar saya terlepas dari kewajiban merubah karakter. Saya juga bisa tampil rohani mampu menudingkan jari ke orang lain, agar saya tidak dituding dengan ayat yang ternyata mengharuskan saya untuk berubah oleh pembaharuan budi.

Bisa jadi saya memang terus membawa sampah ini, Tapi ada lirik di lagu Andy Lau, Everyone is Number One, "..liú zuì rè de hàn yòng zuì zhēn de xīn..", kucurkan keringat yang paling panas dengan hati yang paling tulus. Usaha keras yang tulus! Mungkin ini persembahan Natal yang bisa saya persembahkan. Usaha keras pembaharuan budi. Persembahan kucuran keringat terpanas! Keringat perlambang usaha untuk mau berusaha mempersembahkan yang terbaik. Keringat itu senyatanya juga sampah air dari tubuh saya. Tapi memang saya adalah sampah dan hanya kasih karunia Natal yang mau mengindahkan sampah seperti saya ini.

(kelanjutannya.....)

11 Oktober 2021

Binatang Jalang

……

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

……

Dulu di pelajaran Bahasa Indonesia, ada pelajaran sastra. Saya suka membaca beberapa buku atau puisi yang sempat disebutkan di pelajaran itu. Sebagian besar sudah terlupakan, mungkin cuma teringat judul atau penulisnya saja. Tapi sepenggal puisi Chairil Anwar itu, teringat kuat di benak saya puluhan tahun hingga saat ini. Entah mengapa, puisi itu terasa hidup di hidup saya ini. Binatang jalang!

 

Saya bukan anjing yang biasa menggonggongi musuh tuannya. Saya bukan kambing yang perlu bergerombol dalam menjalani kehidupannya. Saya juga bukan bebek yang perlu teman untuk bersuara riuh. Saya cuma binatang jalang yang terus mengembara sendiri di hadapan Sang Penciptanya. Saya menikmati kesendirian karena saya suka melamun dan berimajinasi. Bagai binatang jalang yang walaupun mungkin pincang dan ompong, ia tetap percaya diri untuk menjalani pengembaraannya. Riuh rendah suara sekitar tidak akan riuh rendah di benak saya, karena dalam kesunyian ternyata ada hadirnya Sang Pencipta saya.

 

Ada orang yang memerlukan label kenakalan atau kejalangannya untuk bisa jadi cerita kebanggaan. Mirip kayak kesaksian yang makin bisa menjelekkan keyakinan agama terdahulunya, akan makin terasa indah dan makin laku. Saya merasa tidak pernah bisa nakal dan jalang.

“Daniel, kamu mana bisa nakal, bayaranmu lho berapa? Gajimu cukup tha dibuat main di *******?” Itu kata seorang customer saya, yang tahu bahwa kantor saya terletak di daerah lampu merahnya Surabaya. Ada juga rekan sales lebih senior yang mengatakan, “Orang laki itu gak mungkin nakal kalau gak punya duit. Tapi nanti kalau kamu sudah punya duit, apa-apa yang dulu kamu gak kepikir malah akan jadi muncul dengan sendirinya”

 

Di hari ulang tahun ini, saya bersyukur bahwa Tuhan telah menangkap saya. Dalam tangkapan Tuhan saya bisa menikmati pengembaraan binatang jalang, tidak pernah kesepian dalam kesendirian dan kesunyian, tidak pernah gentar berhadapan dengan siapa dan apapun. Tuhan yang telah menangkap saya itu, adalah Tuhan yang hadir dalam penyelidikan dan pemeriksaan relung-relung imajinasi saya.  Dalam kejalangan saya, ada doa Mazmur Daud, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku” Tangkapan Tuhan ini juga hadir saat di kantong saya sudah ada kartu-kartu yang bisa untuk membiayai kenakalan-kenakalan baru. Saat segala berkat Tuhan itu ada, memang bisa menumbuhkan kejalangan baru. Hanya doa dan dukungan semua teman yang bisa meniadakan kejalangan yang merusak itu. Ampunilah kejalangan saya selama ini.

(kelanjutannya.....)

09 Oktober 2021

Orang Pandai

Sejak kecil orang tua saya menyekolahkan saya dengan harapan untuk jadi orang pandai. Dalam suatu krisis dan di puncak masalah itu Papa saya sempat bilang , “Papa tau lu sekarang sudah pinter, tapi lu harus ingat, kalau dulu papa endak utang uang ke *****, lu pasti gak bisa masuk TK dan tidak bisa jadi kayak sekarang.” Saya tercekat! Memang sejak kecil Papa tidak pernah memukul anak-anaknya. Papa sangat baik, berjuang untuk keluarganya. Menjadi orang pandai itu sejatinya harapan orang tua dan juga harapan saya.

Menjadi orang pandai itu menyenangkan, karena pasti akan membuat orang lain berdecak kagum. Orang akan tidak lagi memandang rendah saya, Rasanya orang akan lebih menghargai saya kalau saya bisa jadi orang pandai. Menjadi pandai itu jadi aktualisasi diri saya? Lalu bagaimana ya agar saya bisa tampil sebagai orang pandai dan bagaimana agar orang-orang itu tahu bahwa saya ini orang pandai?

 Saya bisa tampil dengan tampilan orang pandai. Bicara dengan kosa kata sulit dan tinggi agar tampak terpelajar dan dianggap lebih tahu. Dalam rapat bisa hadir dengan kosa kata asing lalu tampil dengan usaha menjelaskan arti kosa kata itu. Mungkin orang akan kagum dengan kemampuan itu. Dengan begitu saya bisa jadi orang pandai? Tapi di masa sekarang ini kalau cuma menjelaskan arti dan maksud sebuah kata atau frase, Google sudah lebih cepat dan murah.

Saya juga bisa tampil dengan janji menyajikan suatu hal dengan bagus dan indah, agar saya juga bisa dianggap pandai. Misalnya, laporan keuangan harus dibuat dengan janji rapi dan bagus hingga butuh waktu lama  untuk menyiapkannya. Waktu kerja yang lama perlu diajukan agar orang lain bisa menghargai bahwa ini dikerjakan dengan baik, sesuatu yang baik itu tidak asal-asalan jadi butuh waktu lama. Orang pandai itu kerjanya memang bagus dan perlu waktu. Tapi apa betul esensinya begitu? Esensi laporan keuangan itu cuma akuntabilitas. Saat nilai akuntabilitas itu tampil dengan dijunjung tinggi, bentuk laporan tidak akan jadi masalah utama. Saat ada semangat menampilkan laporan yang baik tapi kehilangan esensi dasar dari laporan itu, maka di hadapan orang yang mengerti suatu masalah, saya hanya sedang membangun kosmetik menutupi suatu masalah lain. Lalu saya pandai untuk apa? Kepandaian saya akan terpakai untuk menyembunyikan masalah? Kepandaian itu sejatinya untuk menggelapkan masalah agar tidak nampak, atau mencerahkan dunia agar masalah itu makin terselesaikan?

Haruskah orang pandai itu tampil di ketinggian agar orang lain bisa terdongak dan kagum? Steve Jobs, pendiri Apple, punya jalan lain. Orang pandai harus bisa menghadirkan segala sesuatu dengan sederhana. Saat merk lain berpikir dengan stylus sebagai alat penunjuk di layar, Apple hadir dengan ide bahwa manusia sudah mempunyai jari yang bisa difungsikan sebagai pointer. Lalu bagaimana? Itulah tugas orang pandai! Mencari jalan agar orang lain bisa mudah menggunakan jarinya sebagai pointer. Makin sederhana suatu barang, akan makin membutuhkan kerja canggih yang tak terlihat oleh awam.

 Jadi kalau nanti saya bisa sekolah lagi, saya akan memakai ilmu saya ini untuk apa? Dengan makin pandai saya akan bisa membuat alasan-alasan yang lebih njelimet dan saya bisa minteri orang lain, atau saya bisa membuat orang lain jadi lebih pinter dengan bertambahnya kepandaian saya?

Makin pandai orang, rasanya akan makin jago ia menerjemahkan bahasa langit menjadi bahasa sederhana yang membumi. Menjadi orang pandai rasanya hanyalah menjadi orang yang bisa membuat segalanya menjadi sederhana.

 

(kelanjutannya.....)

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mohon maaf lahir dan batin, itu rangkaian kata yang selalu saya dengar saat Idul Fitri. Saya pikir itu adalah adalah ciri khas Hari Raya besar tersebut. Memohonkan maaf atas segala kesalahan masa lalu di hari Raya tersebut. Setelah ikut sekian lama di Grup WA rekan-rekan sekolah dan kuliah, ternyata kalimat itu tidak hanya muncul saat Lebaran saja. Dalam beberapa ucapan hari Raya keagamaan Muslim, banyak rekan yang menyampaikan hal itu juga. Saat menjelang dan memasuki bulan puasa Ramadhan, juga saat mau Idul Adha kemarin, selalu saja ada rekan yang menuliskan kalimat itu di rangkaian haturan selamatnya.

 Saya yang Kristen sering tercenung, rasanya kalimat ini jarang saya ucapkan. Bisa jadi karena junjungan Agung saya, Yesus Kristus itu, adalah Juru Selamat Dunia, pengampun dosa umat manusia, jadi teladan yang saya jalani adalah mengampuni orang lain. Mengampuni itu memang hal besar, dengan mengampuni itu saya bisa menyelesaikan masalah sosial dan luka batin saya. Butuh kebesaran hati untuk mengampuni dan menyampaikan pengampunan bagi orang lain. Dengan bisa mengampuni seakan saya sudah menjalani keteladanan dari sang junjungan Agung saya.

Saya tercenung, dengan mengampuni saya memang bisa lebih enak, saya bisa jadi yang superior. Posisi mengampuni adalah posisi diatas, mengatasi pihak yang diampuni, pihak yang bersalah. Kalau saya bisa mengampuni saya bisa ada di posisi yang di atas. Saya suka posisi di atas itu! Dalam suatu kondisi, saat ada rekan yang komplain tentang perilaku saya, saya cukup bilang, ”Kenapa baru saat ini ada yang komplain, sudah lima puluh tahun lebih saya hidup dan tidak ada masalah dengan hal ini sebelumnya?” Dengan mengatakan ini, seakan saya mau bilang bahwa yang salah itu yang komplain, dulu gak masalah koq! Lalu kalau masalah itu berlalu, maka itu juga akan menguntungkan saya. Saya akan nampak sebagai orang yang bisa mengampuni orang lain yang suka mengada-ada. Saya adalah pengampun dari pihak yang lain. Betul? Bukankah bisa jadi kalau selama ini tidak ada yang komplain, bukan berarti saya sudah baik, bisa jadi banyak orang yang sungkan mengkritik saya? Atau malah mereka bukan orang yang peduli dengan perilaku saya? Daripada memberi masukan, apa tidak lebih seru kalau perilaku itu dijadikan bahan pergunjingan saja?

Apa memohon maaf lahir dan batin itu bukan sikap Kristen? Saat saya pertama kali berkomitmen  jadi Kristen, saya mohon ampun atas segala dosa dan salah saya dan mengundang Yesus hadir menguasai hati saya. Juga di tiap kebaktian minggu saya mengikuti ritual pengakuan dosa pribadi bukan ritual pengampunan salah untuk orang lain. Mengampuni memang diharuskan sebagai respon dari pengampunan atas pengakuan dosa dan salah saya. Memohon maaf lahir dan batin juga pintu dari semua proses pembaharuan akal budi, yang saya jalani di seantero hidup ini. Saya memang harus memohon maaf lahir dan batin, saat saya sudah merasa bahwa saya perlu mengampuni orang yang kecewa dengan perilaku saya. Padahal perilaku itu terjadi karena kedegilan hati saya untuk mau berubah oleh pembaharuan budi demi hidup yang berketeladanan.

Mohon maaf lahir dan batin ya……….

 

(kelanjutannya.....)

Algojo

Dulu saya pernah membaca cerita tentang kehidupan seorang imigran Aljazair di Perancis. Karena sulitnya kehidupan, dia bekerja sebagai operator Guillotine, alat pemenggal kepala terpidana mati. Miris dan ngeri, itulah resiko dari pekerjaannya. Kisah itu masih membekas di benak saya. Saat-saat akan mengakhiri suatu masa pelayanan, kembali menguak ingatan-ingatan yang pernah memberatkan saya saat menjadi seorang algojo.

Sejak menjalani pelayananan kemajelisan yang sambung menyabung, sering ada keputusan-keputusan berat yang harus diambil. Keputusan yang walau merupakan kesepakatan bersama, tapi tidak semua rekan lainnya berani untuk mengeksekusinya, melaksanakannya. Perlu seorang algojo, yang tangannya harus berdarah-darah.

Ada satu kasus dimana seorang ibu protes keras akan rencana pernikahan anak perempuannya, alasan pribadinya memang kuat. Tetapi sebagai gereja kita tidak dapat menghalangi pernikahan anak yang sudah dewasa dan memenuhi semua persyaratan baku yang sudah ditetapkan. Percakapan dan mediasi sudah banyak dilakukan. Tidak ada satu alasanpun bagi gereja untuk menolak pemberkatan nikah keluarga baru tersebut. “Pak Daniel, tidak akan satu kalipun saya menginjakkan kaki ke Dipo lagi!” Saya sedih, banyak rekan tidak berani menyampaikan keputusan bulat itu ke Beliau yang memang temperamental itu. Terpaksalah saya sebagai ketua waktu itu yang harus maju menyampaikannya. Sedih  karena bagaimanapun, saya juga punya dua anak gadis.

Suatu kali ada kenalan lama, teman baik, yang harus saya hadapi juga. Rekan lain tidak ada yang berani berhadapan beragumentasi dengannya. Saya harus menyampaikan keputusan Majelis untuk menolak keinginannya untuk memasang tambahan sound system gereja.

“Tolong kamu sampaikan, apa keburukan dari yang akan saya lakukan itu buat Dipo?” Saya tahu, maksud dia baik, tetapi prosedur yang ada, tidak memungkinkan usulan improvisasinya. Banyak hal diutarakan dan dikomunikasikan tapi tetap buntu. Dengan culun dan bingung, berharap pada pengertian sebagai teman lama, saya cuma bisa bilang ,”Kamu benar, tapi aku cuma pingin minta pengertian bahwa, kalau aku nuruti kamu, yang sakit hati bakal banyak jumlahnya, sedang kalau aku nolak kamu, yang sakit hati mungkin cuma kamu.” Dan benar, dia mengakhiri pertemuan itu dengan bilang “Sudah coret saja nama saya dari Dipo” Sedih dan miris.

Tangan algojo atau eksekutor itu yang berdarah, walau itu bukan keputusan pribadinya. Raja Daud juga ditolak memperoleh kesempatan untuk membangun Bait Allah, hanya karena tangannya berdarah akibat semua pertempuran dan perang yang dijalaninya. Padahal perang itu juga atas kehendak Tuhan. Adilkah? Haruskah saya menjaga agar tangan ini tetap bersih dan indah? Saat itu yang muncul, saya cuma sadar bahwa saya ini cuma alat. Terserah Sang Pemilik! Kalau saja bisa menjadi perangkat di tempat yang indah dan bersih, itu pasti menyenangkan. Tapi kalaupun harus ada di tempat yang bengis dan menakutkan, Sang Pemilik yang tahu sepenuhnya spesifikasi yang sudah ada di saya.

Jadi Algojo itu bisa kecanduan, kecanduan otoritas dan akan selalu bilang bahwa itu tugas mulianya. Saat seperti itu Daud pernah bilang “Selidiki dan ujilah hatiku.” Dengan itu saya berusaha menjaga agar kecanduan itu bisa terhindarkan. Selidiki dan Ujilah hatiku Tuhan, agar tangan ini berani melakukan apa yang harus dan tak terhindarkan untuk saya lakukan tapi terjauhkan dari keinginan pribadi.

 

(kelanjutannya.....)

30 April 2021

Tri Hajar

Ini nama teman saya. Saya bukan mau menulis biografi tentang beliau. Hanya, nama ini mampu mengingatkan saya akan pinsip kepemimpinan yang selalu saya ingat. Tiga prinsip yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara. Makanya cocok untuk diingat dengan kata kunci nama teman ini, Tri Hajar! Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mbangun karsa, Tut wuri handayani. Di depan memberikan teladan, di tengah membangun motivasi dan di belakang ikut mendukung.

 

Sudah terlalu banyak tulisan dan buku yang mengulas tentang tiga prinsip itu. Pasti itu sudah lebih baik dari saya. Saya hanya tertarik dengan tiga keterangan tempat di tiga prinsip itu. Di depan, di tengah dan di belakang. Itu memberi gambaran tentang semua posisi yang bisa saya ambil. tidak ada satu posisi pun yang melepaskan saya dari tanggung jawab kepemimpinan di kehidupan ini. Pasti ada lha… di atas dan di bawah! Oh o, mau di atas yang berarti sudah dipanggil? Atau di bawah yang maksudnya sudah ditanam? Saat kaki masih menjejak bumi, hanya depan, tengah dan belakang yang menjadi pilihan posisi saya. Dan di tiap posisi itu ada panduan peran yang harus diambil.

 

Saya jadi teringat dengan panggilan menjadi garam dan terang dunia. Garam yang terasa asin tanpa diketahui di mana letaknya dan terang dimanapun letaknya ia bisa menjadi penanda dan patokan melawan kegelapan. Di tiap titik posisi, saya terpanggil untuk berketeladanan. Bukan karena saya mau, tapi penghidupan itu yang mengharuskannya. Di depan, di tengah dan di belakang menyiratkan panggilan menghidupi peran panggilan kehidupan saya.

 

Di depan, di tengah dan di belakang tetap sesuatu yang berarti. Tidak ada keharusan dan kehausan akan mana posisi yang terbaik, tapi makna kehadiran itu yang menjadi tujuan utamanya. Kehadiran yang pasti memberi makna. Bukan kehadiran yang harus berusaha dicari maknanya oleh yang menerima kehadiran saya. Saya harus bermakna, bukan orang lain yang harus berlatih mencari makna kehadiran saya. Ini yang menjadi tantangan untuk bisa terus berubah oleh pembaharuan. Kalaupun saat ini saya masih gagal menghadirkan makna itu, pembaharuan itu harus sudah berlangsung. Pembaharuan yang menyemangati saya untuk bisa bermakna. Minimal pembaharuan akan kemauan meminta maaf bila saat ini saya masih gagal untuk bermakna.

 

Meminta maaf adalah sumber energi untuk bisa hadir bermakna di depan, di tengah dan di belakang. Karena saya juga bukan mahahadir, walaupun dulu pernah mahasiswa. Kadang saya rancu di mana saat ini saya berada. Salah tempat hingga berakibat salah peran? Tidak masalah, bila ada energi untuk meminta maaf. Maafkan saya bila saya salah posisi. Lalu di mana saya bisa punya modal untuk bisa berani siap meminta maaf? Mungkin hanya dari kekuatan ketulusan dan kemurnian rekan seperjuangan yang mau memberi maaf. Saat saya bersyukur sudah dimaafkan, saya juga bersyukur karena mendapat kekuatan untuk memaafkan rekan lainnya. Meminta maaf itu kunci yang akan membukakan energi untuk bisa hadir di depan di tengah dan di belakang dengan baik dan semakin baik. 

 

Teman ini  nama lengkapnya Tri Hajar Setiawan, ada setia-nya. Memang inilah yang kembali mengingatkan akan panggilan kesetiaan untuk menghidupi tiga ajaran Ki hajar Dewantara itu,  juga jati diri kalau seandainya saya pingin menjadi terang dan garam dunia. Setia berketeladanan di tiap posisi yang ada.

Tri, sori jenengmu tak catut……..

(kelanjutannya.....)

27 Maret 2021

Kasus

Saya pernah pingin bisa sekolah S2. Saya pernah mencoba menanyakan tentang biayanya, katanya setara dengan gaji saya setahun waktu itu. Itu yang membuat saya mengurungkan  niatan waktu itu. Mahalnya biaya sekolah S2 itu yang membuat saya bertanya kira-kira apa ya yang dipelajari di S2? Katanya… katanya.. dan memang katanya karena saya khan cuma mendengar omongan orang. Studi S2 itu banyak belajar kasus-kasus. Bisa juga membuat thesisnya tentang studi sebuah kasus. Wih, enak juga. Karena memang banyak kasus di sekitar yang bisa digunakan.

 

Saya ingat dan melihat, memang mempunyai banyak perbendaharaan kasus itu sangat berguna bagi saya. Kasus-kasus yang muncul disekitar ini perlu banyak diingat dan dikumpulkan dalam memori ini. Semakin banyak kasus yang diingat akan semakin bermanfaat. Manfaatnya apa? Hanya memenuh-menuhi memori pikiran saja? Pasti tidak! Salah satu yang sempat terlihat adalah, dengan mempunyai banyak perbendaharaan kasus tentang masalah di sekitar saya, saya bisa memanfaatkannya dengan menggunakan kasus-kasus itu. Saat ada orang lain yang mengungkapkan kesalahan saya, saya akan dengan mudah mengeluarkan perbendaharaan kasus di memori untuk melawan pengungkapan itu. Saya jadinya tidak perlu meminta maaf akan kesalahan saya, tetapi cukup mengungkapkan kasus tandingan seakan untuk mengatakan, “Orang lain aja juga salah, koq saya dipersalahkan!” Bisa juga dengan banyaknya perbendaharaan kasus di memori ini, saat ada kesalahan saya yang diungkapkan, saya tinggal menanyakan, ”Siapa yang mengatakan hal itu?” Lalu dengan adanya perbendaharaan tentang kasus sang pengungkap itu saya bisa balik bercerita tentang kasusnya dan selamatlah saya dengan jurus, ”Buat apa saya mendengarkan perkataan dia, dia aja melakukan kasus bla, bla, bla-bla” Rasanya memori untuk kasus itu memang indah untuk ditingkatkan perbendaharaannya.

 

Untungnya kini musim Disrupsi. Belajar S2 kini terdisrupsi juga. Di jaman sekarang ternyata muncul aplikasi edX, Coursea, Udemy juga banyak lagi lainnya, yang memberikan fasilitas belajar On-line, bahkan untuk yang setaraf S2. Memang harganya sudah lebih terjangkau karena ini daring. Tapi bisa juga gratis di beberapa tempat asalkan tidak meminta sertifikat bukti kelulusan. Bagi saya yang cuma suka belajarnya saja, hal ini sangat menarik. Ilmu Gratis! Dengan inilah saya bisa mencicipi belajar yang dulu pernah saya impikan. Belajar tentang kasus! Lalu… lalu… lalu…? Ternyata lalu lalang kasus yang saya lihat tidak seperti yang saya lihat sebelumnya. Banyak kasus memang diungkapkan, namun kasus itu untuk dipelajari dengan detail esensi masalah dan latar belakangnya, dikupas mendalam bukan untuk mengungkap siapa pelakukanya dan bagaimana pelaku itu bisa disudutkan, melainkan dengan harapan sang pembelajar kasus itu mengerti. Kasus itu bisa memberikan pencerahan untuk dunia yang lebih baik. ooooo…. Ternyata belajar kasus yang benar itu adalah untuk mempelajari esensinya agar mencerahkan langkah-langkah di depan nanti, bukan untuk menciptakan kegelapan tandingan guna menutupi kesalahan masa lalu saya.

 

Waduh, berarti harus saya bagaimanakan modus-modus menyembunyikan kesalahan selama ini? Paling tidak modus-modus masa lalu itu sudah bisa dijadikan bahan studi kasus bagi siapapun yang mau belajar menghidupi panggilannya dan mau menghidupi pembaharuan budinya.

 

(kelanjutannya.....)

11 Maret 2021

Cetar Membahana

Menjadi terkenal mungkin juga ada di keinginan saya. Kebutuhan untuk menjadi orang yang bisa melakukan Pansos, panjat sosial, social climbing, bisa jadi juga mulai merasuki saya. Membangun citra yang bagus sebagus-bagusnya di hadapan orang lain bisa jadi muncul di benak saya. Tapi siapa saya? Rasanya cuma orang biasa, prestasi juga gini-gini saja. Lalu apa yang bisa membumbungkan nama saya? Kerja keras! Itu kata buku dan nasehat para pendahulu jaman dahulu. Mungkin itu benar, tapi bagaimana harus bekerja keras lagi, sementara faktor U, usia, sudah tidak bisa kompromi lagi.

 

Ada jalan lain di mana saat kerja keras dan prestasi enggan saya lakukan untuk membahanakan nama saya. Saya pernah baca buku Edward de Bono, ahli cara berpikir. Ada konsep berpikir lateral. Memikirkan cara lain yang beda dengan cara awam yang umum dan lazim. Cara yang sama efektifnya mengapai kecetaran. Saat saya sulit mencapai posisi yang di atas, saya bisa jadi yang di bawah, tapi enak. Di bawah namun nikmat! Saat tidak bisa menjadi pelaku prestasi, saya bisa berposisi sebagai orang yang di bawah dan dibawahkan. Saya berposisi sebagai orang yang selalu dibuat menderita oleh pihak lain atau sistem yang ada. Betapa nelangsa dan prihatinnya keadaan saya ini, akan membawa saya ke posisi tinggi melalui simpati orang lain. Para netizen 062 katanya pernah menobatkan Bapak Prihatin se jagad, yang cara menarik simpati khalayak bukan dengan prestasinya tapi dengan ungkapan keprihatinannya. Belum lagi ada meme medsos yang berani bilang, “Di Myanmar ada kudeta, di sini ada yang menyamar dikudeta”. Caranya bisa jadi dengan banyak mengeluh tentang sistem yang zolim ini, yang selalu mengorbankan saya. Tapi saya harus konsisten dengan strategi kerendahan hati semu yang terpelihara. Biarlah saya terus menderita, jangan ada yang mengaudit penderitaan saya, nanti ketahuan kebohongan itu. Jangan sampai lho ada yang berusaha memperbaiki sistem yang saya keluhkan kezolimannya ini. Kalau ini diubah malah akan merepotkan saya untuk memikirkan skenario lain lagi. Biarlah ini sudah jadi suratan takdir saya, ini mantra sakti saya. Menjadi di bawah dan dizolimi tidak selalu merana, kadang itu nikmat yang bisa membahanakan kecetaran.

 

Mendaki tinggi memang bisa lewat jalan atau merintis jalan yang ada maupun yang belum ada. Lagi-lagi dengan Lateral Thinking, mendaki tinggi bisa dengan menginjak bahu orang lain. Ini juga konsep bagus di acara lomba panjat pinang Agustusan. Saya rela diinjak bahu saya agar rekan lain bisa menggapai hadiah yang tersedia di ujung atas batang pinang itu. Tapi itu cuma di Agustusan saja, bagaimana kalau itu di bulan-bulan lain di sepanjang tahun dan sepanjang event kehidupan yang bukan panjat pinang? Saat saya tahu ada orang yang membutuhkan bantuan dan saya juga bisa tahu orang-orang yang suka berderma, saya bisa menghubungkan dua pihak ini dengan baik. Ini hal yang bagus. Yang berderma bisa senang menyalurkan kebaikannya dan yang menerima juga tertolong dan terbantu dengan kebaikan itu. Saya bisa berpansos dimana? Ya saat saya lupa akan prinsip akuntabilitas. Saya dipercaya orang karena ada entitas organisasi yang menaungi saya. Mereka menyalurkan dana bukan semata oleh karena saya tetapi nama besar organisasi yang menaungi saya. Jadi sewajarnya bila saya menyalurkan kebaikan itu lewat entitas itu dan entitas itulah yang akan menjamin akuntabiltas ketepatan pengggunaannya. Saya bisa pakai strategi pertama untuk marah, dengan bilang,”Yang ngasih aja gak protes koq orang lain protes!” Tapi saya bisa tahu diri saat, ternyata koq bisa ada rekan lain yang tahu ya? Berarti memang pihak terkait itu membutuhkan akuntabuilitas dan periksa ulang akan kebaikan yang dilakukannya. Saya tetap bisa bersembunyi pakai cara korban ketidakpercayaan, padahal saya lagi mencuri kemuliaan entitas di atas saya. Harusnya memang bukan nama saya yang muncul, tapi nama organisasi dan biarlah bantuan itu tersalur melalui organisasi ini. Pokoknya, saya akan tersinggung dan biarlah saya pergi saja. Tapi jangan ditantang ya… sebab kalau saya malah ditantang untuk pergi, kasihanilah saya karena saya malah akan kehilangan panggung saya. Namanya saya juga pingin cetar membahana.

 

Lalu harus sampai segitunyakah saya menghidupi jalan-jalan saya? Dulu waktu SD saya pernah ikut lomba menghafal ayat alkitab, salah satunya yang masih teringat di benak saya adalah “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” Yohanes 3:30. Angka tiga dan angka tiga puluh itu membuat saya tetap ingat akan isi makin besar dan makin kecil itu. Buat apa saya harus cetar membahana?

 

(kelanjutannya.....)

Arisan

Seumur hidup saya tidak pernah ikut arisan. Kata ini tiba-tiba muncul saat presentasi dana perumahan emeritus para pendeta GKI Jatim. Kebetulan memang saya diajak ikut memikirkan hal ini, walaupun saya ketiban sampur soal Dana Pensiunnya. Saat masalah PSL (Past Service Liability) menyeruak, kita harus memikirkan ulang dan mencari terobosan mengatasinya. Muncul ide untuk tetap memberikan jatah yang menjadi hak Pendeta emeritus pada waktunya, tetapi kekurangan dari jumlah yang sudah tertabung tetap harus diangsur hingga lunas, tanpa memikirkan bunganya. Ada jemaat yang komplain, “Waduh, masih harus mengangsur sampai sekian tahun ya?” Saat itulah ide dan konsep arisan itu muncul. “Ya, seperti ikut arisan. Kalau mendapat di awal, tetap harus membayar hingga mencukupi dengan jumlah nilai arisan itu” Inilah momen dimana kata arisan itu muncul di benak saya.

 

Teringat juga bahwa dulu katanya, arisan itu aktivitas ibu-ibu. Arisan Ibu-ibu PKK, arisan ibu-ibu se RT/RW, atau arisan ibu-ibu sosialita. Alkisah di arisan itu banyak hal bisa dibahas, ada demo panci, ada jualan perhiasan, hingga gosip dan rumpi. Rasanya seru juga ya, banyak the untold story yang menarik. Di arisan ini mungkin saya bisa mendengar tentang berita bahwa ada kegiatan perbaikan gedung yang sebenarnya dilakukan dengan barang bekas. Lalu semua mata menyorot seakan-akan ini fakta yang bisa dibawa ke KPK dan mengarah pada kegiatan tangkap tangan yang heboh itu. Seakan-akan ada skandal penggunaan bahan bekas, dalam renovasi yang terjadi. Yang cerita bisa jadi memang benar. Yang mendengar juga bisa benar terkejut dan terbelalak seakan tercerahkan akan fakta terselubung. Dan suasana jadi meriah entah mau bergulir kemana. Lalu asumsi dan prediksi bisa tergoreng renyah. Runyam bila terdengar oleh pelaksana perbaikan itu. Beliau berani diaudit kalau tidak ada bon pembelian barang bekas itu. Dan tambah runyam bila sang penyumbang material itu mendengar, dikiranya berkomplot, padahal beliau berniat tulus dan ikhlas memberikan material bongkaran gedungnya yang masih sangat layak itu untuk dipakai ulang. Niatan baik yang sengaja tak dipublikasikan itu, ternyata bisa disorot jadi bahan meriah di arisan. Mungkin kalau saya ada di arisan itu, saya bisa ikutan menggoreng kisah seru ini. Atau, beranikah saya mengatakan fakta benar yang ada? Apa saya berani menderita dimassa oleh seantero penghuni arisan itu?

 

Di arisan bisa juga saya berlatih melempar isu kedekatan seseorang dengan pemilik bengkel. Lalu dengan berbisik, mulai dibuka dengan kesimpulan ala detektif, “Makanya disuruh ke bengkel itu, khan karena bengkel itu bisa mengeluarkan bon kosongan,” Ide yang bisa membakar lahan kering. Lahan kering yang tidak biasa disegarkan oleh ide sederhana cek dan ricek untuk tiap fakta ala detektif. Kalau saja saya suka menyelidik, harusnya saya mengasah ketrampilan ini dengan menyelidik dengan tuntas dari hulu ke hilir. Dari yang katanya mengeluarkan bon hingga yang berwajib menerima bon sebagai laporan itu. Dari investigasi bentuk bon, stempel, warna tinta bolpen, bentuk tulisan, penandatangan, hingga mungkin sidik jari di bon itu. Tapi apa daya kalau saya ini multi talent, pingin jadi detektif tapi pingin juga jadi host acara Fox Crime. Apa gunanya saya menyelidik kalau saya tidak terkenal dan mendapat manfaat pribadi atas penyelidikan itu?

 

Andaikan saya bisa jadi peserta arisan, saya komit dan saya berjanji deh! Saya berjanji untuk mengajarkan ke semua peserta arisan untuk cek dan ricek terhadap semua kisah, cerita dan berita yang bergentayangan. Jangan sungkan mengujinya. Jangan terbius oleh siapa pembawa kisah itu. Makin terhormat saya sang pewarta ghosting itu, makin mampu saya diuji kehakikian kebenaran yang ada di mulut saya. Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat.

“Oiiii… jangan menuduh kelompok arisan yang bukan-bukan ya!!” oh, ampunilah saya Buk Ibuk seantero jagad arisan… Aaammpun….

 

(kelanjutannya.....)