31 Juli 2013

Cerita Saat Melintas Batas di China

Selalu ada cerita menarik saat di China. Berikut ini kisah yang pernah saya alami saat melintas batas negara ini. Kisah yang mungkin berguna bagi teman-teman.

Suatu saat saya masuk ke China melalui Hongkong dan menuju kota Jinan. Jinan adalah ibukota propinsi Shandong di China utara. Walaupun ibukota propinsi tapi rasanya kota ini tidak terlalu ramai. Bandara internasionalnya tidak ramai benar. Sesampai di bandara Jinan, seperti biasa kita menuju antrian pemeriksaan imigrasi. Waktu itu setelah passport saya diperiksa, petugasnya menyuruh saya menunggu di samping. Mereka melanjutkan dengan memeriksa orang lain. Saya tidak terlalu kuatir, karena memang harusnya tidak ada masalah dengan dokumen saya, termasuk visa masuk saya. Saya menunggu cukup lama, sampai tidak ada lagi orang yang antri, saya mulai curiga.

Saya mulai mendatangi petugas yang ada, menanyakan perihal passport saya. Mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka berusaha mencari rekannya yang bisa berbahasa Inggris untuk berbicara dengan saya. Ada seorang polisi yang mendekati saya, dia menunjukkan passport saya dan bilang bahwa saya berbohong. Saya kaget, saya sadar rasanya ini ada masalah yang tidak saya mengerti benar. Polisi itu tidak fasih berbahasa Inggris, jadi saya juga tidak bisa mengerti maksud dia dengan tepat. Saya berusaha menanyakan masalah saya.

Polisi itu menunjukkan visa masuk saya, dia menunjukkan juga arrival card yang juga sudah saya isi. Saat masuk ke suatu negara kita diminta untuk mengisi kartu kedatangan yang berisi data: nama, tanggal lahir, tempat passport kita dikeluarkan, nomer penerbangan kita dan beberapa data lainnya. Kartu ini juga gandeng dengan kartu yang harus kita serahkan kembali saat kita keluar dari negara itu nantinya. Saya mulai mengerti masalah yang ada. Polisi itu menunjukkan di arrival card itu saya mengisi bahwa passport saya dikeluarkan dari Surabaya, tetapi dia menunjukkan juga bahwa di lembaran visa masuk saya tertulis bahasa mandarin yang berbunyi “She Sui”. Saya juga baru tahu kalau tulisan itu berbunyi “She Sui”, mana bisa saya mengerti tulisan Mandarin itu. Dia bilang saya berbohong karena data itu tidak cocok. Saya bilang “She Sui” itu bahasa Mandarin untuk Surabaya. Mereka tetap tidak mau mengerti. Tapi untunglah mereka agak pintar juga. Salah seorang polisi datang mengajak masuk teman yang menjemput saya. Polisi itu pasti dengan mudah menemukan teman ini, karena mungkin dia satu-satunya orang yang masih menunggu di luar, mungkin penumpang lain sudah pergi semua. Apalagi saat itu musim dingin, suhu di Jinan bisa sekitar nol derajat celcius. Teman ini yang menjelaskan bahwa saya tamu dia dan saya berasal dari Surabaya. Setelah dijelaskan, mereka mau mengerti dan membebaskan saya.

Dari teman ini saya berusaha menanyakan penyebab salah paham ini. Ternyata di dekat Jinan itu ada juga kota yang bernama “She Sui”. Wajah dan potongan rambut saya tidak mendukung bahwa saya orang asing. Mereka mengira saya orang asli sana dan berasal dari “She Sui” itu. Haduuuuhhh…. Masa petugas imigrasi koq gak tahu peta dunia seeeh….

Kisah lain terjadi saat kita keluar dari perbatasan China pada kesempatan yang lain lagi. Hari itu kita berjanji bertemu dengan seorang teman lama yang kini menetap di China. Pesawat pulang kita dari Hongkong menuju Surabaya sekitar jam tiga sore lebih sedikit. Pagi itu kami berjanji bertemu di kota perbatasan dan kita bersama menyeberang menuju Macau. Dari Macau saya bisa menuju Hongkong dengan kapal ferry sekitar satu jam saja. Perbatasan China-Macau dapat dilintasi dengan berjalan kaki saja. Biasanya hanya setengah jam saja kita sudah bisa masuk ke Macau dari GongBei. Ternyata hari itu liburan musim panas. Antrian di perbatasan itu sangat panjang. Ini benar-benar diluar dugaan kami. Proses imigrasi yang biasanya hanya setengah jam menjadi sekitar lima jam. Kami sebenarnya tidak masalah dengan antrian yang panjang itu, karena kita bisa berbincang dan bercerita tentang apa saja. Lima jam itu bisa dilewati dengan enaknya. Terlalu banyak cerita yang bisa kita bincangkan. Semuanya indah, karena memang sudah cukup lama kita tidak berjumpa. Antrian itu malah menjadi suatu yang bermanfaat. Kita berpisah di Macau. Saya harus menuju Hongkong dan balik ke Surabaya.

Seharusnya tidak ada masalah, saya dan Elia tiba di terminal ferry Macau jam satu siang kurang sedikit, naik ferry satu jam dan jam dua sudah di Airport Hongkong, sehingga jam tiga lebih kita sudah bisa terbang menuju Surabaya. Itu rencana kami. Ternyata diluar perhitungan, ferry yang jam satu itu penuh. Saya sudah juga bilang, kita berdiri juga tidak masalah. Namanya juga pengalaman naik ferry di Indonesia. Berdiri juga sudah biasa. Mereka menolak. Kita diminta naik ferry yang jam dua. Nah, mulailah kita panik. Naik ferry jam dua berarti kita bisa ketinggalan pesawat. 

Saat panik itu saya sempat melihat ada loket lain. Loket Helikopter. Setiap setengah jam ada helikopter menuju Hongkong dan hanya sepuluh menit saja. Tiketnya empat ribu Dollar Hongkong. Lebih mahal dari tiket promo yang saya dapat untuk Hongkong-Surabaya saya. Tapi kalau sampai kita ketinggalan pesawat, kita harus menginap di Hongkong yang pastinya tidak murah dan tiket promo kita hangus dan belum tentu besok kita dapat penerbangan yang murah menuju Surabaya. Harga tiket sekali jalan itu pasti mahal juga. Bagaimanapun rasanya masih lebih murah harga tiket helikopter itu.

Saya memang belum pernah naik helikopter dan ingin rasanya mencobanya. Dulu saya pernah mengenal seorang yang bertanggung jawab mengurus helikopter milik pabrik rokok ternama, saya pernah minta tolong agar bisa naik helikopter perusahaan itu. Dia memberitahukan bahwa tarif sewanya dua ribu Dollar Amerika setiap jamnya.  Haduh, mana sanggup saya bayar.

Saat itu kita putuskan untuk naik helikopter menuju Hongkong. Kita memilih jam keberangkatan setengah dua.  Sambil Elia mengurus pembayaran tiketnya saya mengurus bagasi dan urusan lainnya. Untuk naik helikopter bagasi dan berat badan kita ditimbang. Ada batasannya. Yang menjengkelkan ternyata tidak seperti pesawat yang ada bagasi tentengan yang gratis, ini semua bagasi harus ditimbang dan bayar. Harga tiket itu belum termasuk harga bagasinya. Kita harus membayar lagi. Saat saya terima tiketnya, saya kaget, ternyata kita naik yang jam dua siang, padahal harusnya yang jam setengah dua. Mereka dengan entengnya bilang kalau yang jam setengah dua sudah penuh. Lagi-lagi saya harus jengkel.

Menikmati sesuatu yang mahal itu memang beda. Semua urusan mereka yang atur semua, urusan imigrasi tinggal menyerahkan passport saja. Soal bagasi, setelah bayar, mereka yang mengangkat dan mengurusnya. Ruang tunggunya juga mewah dan banyak makanan dan minuman yang tersedia. Saya yang dalam kondisi tertekan tidak mungkin lagi menikmati semua hal itu. Mata saya tertuju pada fasilitas komputer yang ada. Di benak saya cuma ada bagaimana harus melakukan on line check in untuk penerbangan Hongkong-Surabaya saya nanti.  Memang sayang rasanya harus melewatkan semua fasilitas itu.

Helikopter ini berisi sepuluh orang dengan duduk berhadap-hadapan. Suasananya bising sekali, kita disediakan penyumpal telinga untuk mengatasi bunyi bising mesinnya. Kita tidak mungkin bercakap-cakap saat penerbangan. Sebentar setelah mengudara langsung nampak airport Hongkong. Elia tersenyum sambil mengacungkan jempol. Rasanya memang masalah kita akan segera teratasi. Sayapun lega. Kelegaan yang semu!

Airport itu memang kelihatan, tapi makin lama rasanya helikopter ini makin menjauh dari airport itu. Kita baru sadar bahwa terminal ferry di Hongkong itu ada beberapa. Bukan hanya di Airport, tapi ada juga di Tsim Sha Sui, juga ada di Sheung Wan di tengah kota. Helikopter ini rasanya menuju tengah kota. Benar, kita mendarat di tengah kota. Saya tambah sumpek lagi.  Perjalanan ke airport dari Sheung Wan cukup jauh, dengan taxi bisa sekitar setengah jam. Saya sumpek karena kalau sampai kita tertinggal pesawat, berarti kita rugi dua kali. Rugi bayar helikopter, rugi beli tiket ke Surabaya lagi. Ingin rasanya langsung segera berlari dari helikopter ini. Penumpang lain masih menyempatkan berfoto-foto di dekat heli itu, saya sudah bingung bagaimana caranya untuk sampai di airport sesegera mungkin. Untunglah proses imigrasinya mereka yang uruskan dan sangat cepat. Memang inilah untungnya kalau sudah bayar mahal.

Helipad itu ada di sebuah mall, saya harus berjalan cepat sambil mata jelalatan mencari penunjuk arah pangkalan taxi. Semuanya memang tersedia dengan rapi. Masuk taxi langsung saya bilang,”Please speed up, as fast as you can!” Untunglah pengemudi taxinya orang muda yang pasti bisa ngebut. Kita bisa sampai di Airport kurang dari setengah jam. Saya agak lega dan pengemudi itu juga senang dengan tambahan tip dari kita.

Saya cuma butuh berlari menuju mesin check in untuk mencetak boading pass kita, lalu menuju pemeriksaan imigrasi dan berlari lagi menuju gerbang pemberangkatan. Enaknya di China untuk check in kita tidak ditanya kode booking tiket kita. Kita hanya diminta memasukkan nomer passport kita, ini pasti lebih mudah untuk mengingatnya. Pemeriksaan di bandara Hongkong juga tidak seketat bandara di China daratan. Sesampai di gerbang keberangkatan itu, masih banyak orang yang antri. Pesawatnya belum berangkat dan memang ada penundaan keberangkatan sekitar lebih dari setengah jam. Haduhhhhhh….. betapa leganya hati ini.

Detik-detik menegangkan itu berakhir sudah. Seandainya saja saya tahu akan ada penundaan ini, saya pasti lebih bisa menikmati biaya mahal yang sudah kita bayar dengan helikopter itu. Tetapi mana kita tahu akan detik-detik di depan kita. Mungkin Tuhan tersenyum melihat kita tadi bingung…. Tapi kita juga tersenyum merasakan semua penyertaan Tuhan ini.

(kelanjutannya.....)

24 Juli 2013

Sakit di China

 Perjalanan ke China kali ini sungguh terasa lain. Beberapa minggu menjelang keberangkatannya saya harus banyak pergi ke luar kota. Ke Samarinda, Makasar, PMK di Malang, lalu ke Balikpapan. Sabtu malam mau berangkat, Selasanya saya demam. Rabu dan Kamisnya saya istirahat total karena diare juga. Dokter tidak bisa mendiagnosa apa-apa karena saya hanya demam sehari. Saya hanya mendapat vitamin dan antibiotik. Jumatnya saya harus di kantor untuk mengatur gajian dan mengatur tugas selama saya pergi. Sabtu badan saya terasa lumayan enak. Diare saya sudah sembuh. Saya mantap untuk berangkat. Yang penting saya tidak demam, karena saya takut dikarantina atau bahkan dicegah masuk negara lain kalau terpantau sensor suhu tubuh di Singapore atau Beijing.

Sewaktu transit di Singapore saya mengalami diare lagi. Saya minum obat lagi. Perut saya terasa mual dan kembung. Kondisi ini membuat saya mencoba tidur saja dan beberapa kali ke toilet. Seharusnya penerbangan lebih dari 6 jam dengan SQ ini menyenangkan bagi saya, saya bisa menonton minimal 2 film. Hal langka yang sulit saya lakukan di keseharian.

Saat ini musim panas di China, Beijing sangat ramai. Cuaca panas bahkan lebih panas dari Surabaya.Kita beristirahat sehari di Beijing sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta api super cepat (300 km/jam) selama lebih dari 3 jam. Ternyata kondisi saya tidak membaik, tapi juga tidak memburuk juga, hanya diare dan perut yg kembung melilit. Keesokan paginya saya makan tidak terlalu banyak, sepotong roti dan susu kedelai. Siangnya saya tidak merasa lapar, jadi saya tidak makan apa-apa. Kondisi ini yang ternyata memperburuk keadaan saya. Diare saya memang sudah berhenti, tapi itu pasti karena obat diare yang saya minum, sedangkan penyebab diare itu pasti belum teratasi. Di atas kereta api itu kondisi saya memburuk, perut terasa sangat sakit melilit. Beberapa kali saya mau muntah, tetapi tidak ada yang bisa keluar, karena perut saya memang kosong. Saya mengirim SMS ke teman yang akan menjemput kami, saya minta untuk dibawa ke dokter atau rumah sakit terdekat dengan stasiun kereta api tujuan. Sebenarnya kita masih harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam lagi dengan mobil. Walaupun sakit, saya tidak terlalu panik, karena saya pingin juga punya pengalaman ke dokter di China. Saya sering diceritai bahwa dokter bisa mendiagnosa pasiennya dengan menempelkan tiga jarinya di pergelangan tangan pasiennya. Saya ingin mencoba pengalaman itu.

Saya dibawa ke rumah sakit, mereka menyarankan saya periksa darah. Periksa darah dilakukan di loket. Kita hanya diminta menjulurkan tangan kita ke loket itu. Saya mengajukan lengan kanan saya. Petugasnya melihat tanpa menyentuh tangan saya, dia menggeleng dan minta tangan yang lain. Saya menjulurkan tangan kiri saya ke loket. Tanpa bicara dia mengusapnya dengan kapas beralkohol dan langsung menusukkan jarum, begitu cepat dan tanpa basa-basi. Saya sebenarnya kaget, tapi juga kagum. Karena kalau saya donor darah dari tangan kanan memang alirannya lambat, tidak secepat bila dari tangan kiri. Petugas itu mungkin sudah bisa menebak itu. Hebat juga. Hasil pemeriksaannya tidak diambil di loket itu, tetapi dicetak di mesin di luar loket itu. Kita hanya diminta menempelkan kartu magnetik yang kita terima saat mendaftar. Semua urusan cuma dengan menunjukkan kartu itu. Sistim komputer mereka sudah terhubung dengan baik. Mereka tidak dapat mendiagnosa apa-apa, karena hanya ada peningkatan jumlah sel darah putih saja. Saya hanya disuntik dengan penghilang sakit sampai bisa tiba di kota yang hendak kami tuju.

Perjalanan selanjutnya tetap menyakitkan bagi saya, rasanya tidak ada pengaruh apa-apa dari suntikan tadi. Tiba di kota kecil itu, kita langsung menuju rumah sakit. Mungkin ini kota kecamatan. Sekitar 600 km lebih dari ibukota dan 100 km dari stasiun kereta api besar. Mungkin dari Jakarta ke Semarang lalu menuju Wonosobo. Jalan masuk rumah sakit itu banyak polisi tidurnya, walau kita naik mobil mewah, tapi hentakan itu terasa menyakitkan perut saya. Rasanya rumah sakit ini kecil saja.

Di rumah sakit itu banyak juga orang yang antri, banyak loket sudah tutup dan ini mungkin bagian UGDnya saja yang masih buka. Ada sekelompok pekerja berseragam yang mengantar rekannya yang berdarah-darah, ada juga anak kecil yang luka di kepalanya dan berteriak-teriak. Rumah sakit itu tidak terlalu bersih, tapi cukup baik juga. Saya hanya menunggu sebentar untuk dilayani dan diperiksa. Dokternya tidak bisa inggris dan saya tidak bisa mandarin. Saya bergantung pada sekretaris perusahaan yang cakep ini. Dia yang menjadi penerjemah kita. Saya sudah pasrah kalau harus opname di sana. Mereka akan melihat kondisi saya dalam dua jam. Saya disuruh tiduran dan akan diinfus. Seumur hidup, baru kali ini saya diinfus. Ranjang itu pasti sudah dipakai banyak orang, bersprei putih tapi sudah lusuh juga. Di kamar itu ada 4 ranjang. Tidak ada pilihan bagi saya. Saya berbaring saja dan mencoba tidur. Saya bisa tertidur dan kondisi saya jadi segar saat terbangun. Saya boleh pulang dan tidur di hotel, besoknya saya harus kembali lagi. Entahlah apa yang membuat saya jadi cepat sembuh, obat yang diinfuskan atau sekretaris cakep yang menunggui saat saya tertidur tadi. Hahahahahaa.....

Saya mendapat obat, dia bilang, dua butir sehari. Saat di Surabaya saya diberi antibiotik yang juga dua butir sehari, pagi dan malam saat setelah makan. Saya langsung berpikir, pasti obatnya sejenis. Jadi saya minum obat itu sebutir malam itu dan esok paginya sebutir lagi saat setelah sarapan. Kondisi saya membaik dengan obat itu. Baru setelah lima hari kemudian, saat di penerbangan pulang, di sebelah saya dokter lulusan Jerman. Saya tanya soal obat itu, ada sedikit nama obat yang ditulis latin, lainnya dalam mandarin. Dokter itu menjelaskan bahwa obat itu harus diminum saat perut kosong, sebelum makan pagi dan langsung dua butir. Lha mana saya tahu... tapi syukur masih bisa sembuh juga. Nah kan, pasti sembuhnya bukan karena obat itu... tapi karena... HUS!

Esok paginya setelah sarapan saya dijemput untuk kembali ke Rumah sakit itu lagi. Di pagi itu barulah nampak situasi sebenarnya rumah sakit itu. Padat benar! Mirip situasi di RSUD Dr. Sutomo, atau di pasar Atom ya? Orang begitu banyak, ratusan orang antri, Cina semua! Gila, saya pikir berapa lama saya harus menunggu? Tapi yah apa boleh buat... Ternyata cuma beberapa saat saya sudah dipanggil dan masuk kamar yang kemarin, berbaring dan diinfus lagi. Kali ini malah dua botol. Karena tidak mengantuk saya menunggu sambil melihat situasi kamar itu. Banyak pasien dari kalangan kurang mampu, penampilan mereka sangat lusuh. Tapi pelayanan disini sangat cepat. Ketika botol infus saya sudah hampir habis, saya mulai bingung bagaimana caranya memanggil perawatnya? Tapi perawat itu datang tepat pada waktunya mengganti dengan botol kedua. Saat botol kedua habis, iapun datang tepat waktu. Hebat sekali.

Pelayanan antar loketpun hanya dengan membawa kartu magnetik yang kita terima saat pendaftaran awal. Mereka dapat melihat data dengan menggesekkan kartu itu saja, begitu praktis.

Karena sakit, saya memutuskan untuk beristirahat di hotel saja, tidak ikut meninjau pabrik ataupun pergi ke tempat lainnya. Hanya siang mereka menjemput saya untuk makan siang lalu balik ke hotel dan sore menjemput lagi untuk makan malam. Entahlah , mengapa kali ini saya bisa membawa buku yang sangat tebal. Buku "Man of Honor – William Suryajaya" tebalnya lebih dari 600 halaman. Harusnya saya tidak membawa buku setebal itu, karena saya akan naik Singapore Airlines yang filmnya bagus-bagus. Entahlah juga saya tetap memasukkan buku itu ke tas. Tapi ini sangat membantu, jadilah berhari-hari saya pakai waktu saya untuk membaca hingga selesai buku biografi William Suryajaya yang sangat mengagumkan itu. Di hotel sendirian, tidak terlalu merisaukan saya. Selain membaca saya bisa melamun. Saya sempat juga melamun tentang surga dan saya berusaha merenungkan apa surga itu menurut saya. Entahlah mengapa itu yang terlintas di benak saya. Tapi di lamunan itu saya berhasil merumuskan arti surga buat saya. Hal yang sering saya lakukan dengan lamunan-lamunan saya untuk masalah lainnya.

Di hari terakhir saya sebelum pulang, siang itu saya diantar ke hotel setelah makan siang sekitar jam dua siang, jam setengah enam sore sudah dijemput lagi untuk makan malam. Saya masih merasa kenyang, tapi apa boleh buat. Malam itu kita makan malam di restoran yang kelihatannya sangat eksklusif. Teman-teman saya sudah balik ke Beijing, tinggal saya sendiri malam itu. Malam itu Bos pemilik pabrik yang saya kunjungi mengajak teman-temannya untuk makan malam bersama. Bahasa Inggris mereka sangat terbatas, jadi kita tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Di sebelah saya duduk sekretaris perusahaan yang lancar berbahasa inggris. Saya hanya bisa berbincang dengannya. Ternyata makan malam itu bukan hanya makan saja, mereka bercengkrama sangat meriah, entahlah apa saja yang mereka perbincangkan, kadang tertawa kadang juga berdebat seru. Tidak semua perbincangan itu diterjemahkan untuk saya. Bingung juga. Jadilah saya berbincang sendiri dengan sekretaris itu. Saya terkejut saat dia bertanya ,"Do you believe that there is life after death?" Saya kaget kenapa dia bertanya begitu dan saya juga kaget karena beberapa hari yang lalu ini saya berpikir juga tentang hal itu. Saya merasa sudah dipersiapkan untuk bicara tentang itu. Saya bisa menjawab dan menjelas pertanyaan itu dengan cukup panjang. Entahlah kenapa semua ini sepertinya sudah disiapkan. Buku tebal yang saya bawa, lamunan tentang surga dan pertanyaan tentang surga?

Tuhan selalu tahu apa yang akan terjadi. Memang tidak ada pengalaman diperiksa dengan tiga jari oleh dokter di China. Tapi pengalaman untuk bercerita tentang kepercayaan Kristen kita ke orang di sana menjadi sesuatu yang indah buat saya. Juga saat saya cerita tentang cerita Emak saya, tentang huruf mandarin "lai" yang berarti datang, huruf mandarin itu ada salibnya di tengah dan di kanan kiri bawah salib itu ada dua goresan yang berarti orang. Emak saya bilang,"Itu artinya orang harus datang di bawah salib." Saya sampaikan hal itu juga ke dia. Dia kaget dan berkata bahwa dia baru dengar tentang itu. Yah, semoga Roh Kudus yang meneruskan karya berita itu untuknya.
(kelanjutannya.....)

11 Juni 2013

Makan-makan di Chung Kuo

Beberapa tahun ini kerap kali saya berkesempatan mengunjungi Chung Kuo (China). Saya sendiri tidak mampu berbahasa Mandarin. Ini menjadikannya suatu petualangan yang selalu menarik untuk dikenang dan dibagikan. Selalu saja ada cerita menarik saat saya berkunjung ke China.

 

Yang menarik adalah, saat saya di China, barulah saya disebut sebagai orang Indonesia. Padahal kalau di Indonesia, saya disebut orang Cina. Terasa lucu, karena mana mungkin saya mengaku sebagai orang Cina di sana, bicara mandarin saja saya tidak bisa.

 

Kunjungan saya selalu berkaitan dengan bisnis. Tidak pernah sekalipun untuk berwisata, walaupun visa yang saya ajukan selalu visa wisata. Sesekali bila ada waktu luang memang bisa dimanfaatkan untuk wisata sekedarnya. Inilah yang membuat pengalaman saya berbeda dengan pengalaman banyak orang yang mengunjungi Chung Kuo untuk berwisata.

 

Saya mengunjungi pabrik-pabrik sebelum saya membeli barang dari mereka. Kadang saya sudah memutuskan membeli dan saya hanya datang untuk memastikan mutu barang yang akan dikirim ke Indonesia. Kondisi ini yang membuat saya banyak mendapat kesempatan dijamu makan di banyak rumah makan terbaik di kota-kota yang saya kunjungi. Memang kota-kota tempat pabrik itu berada bukan selalu merupakan kota besar, tetapi tetap menarik untuk dinikmati.

 

Mereka punya kebiasaan untuk menjamu tamu dengan makan-makan. Jamuan makan selalu tampak mewah. Restoran mereka selalu menyediakan banyak ruang-ruang makan, itu lebih mereka sukai dari pada makan di ruang besar bersama-sama pengunjung lain seperti banyak restoran di sini. Di bagian depan restoran selalu mirip kebun binatang. Banyak akuarium berderet yang berisi berbagai hewan yang siap dimasak. Belum lagi rak sayur dan bahan masakan lainnya.

 

Sering satu jamuan makan bisa menghidangkan sekitar dua puluh menu. Kadang terasa sebagai suatu pemborosan.Menurut mereka ini adalah suatu bentuk penghormatan pada tamu yang diundang. Terasa sayang saat melihat begitu banyak makanan yang masih berlebihan. Kadang bila saya cukup akrab mengenal mereka, saya akan menyarankan mereka untuk membungkus kelebihan makanan itu dan menyarankan mereka untuk membawanya pulang.

 

Ada banyak menu aneh yang menantang. Pernah saya disuguhi semangkok besar berisi penuh kalajengking goreng. Pernah juga ulat tanah dan garengpung goreng. Mereka punya banyak suku yang membuat banyak macam  masakan yang berbeda. Saya ingat masakan Sichuan yang banyak memakai “la” (cabe). Saya pernah diajak makan di rumah makan muslim, karena mereka tahu saya dari Indonesia, dikiranya kita muslim. Anehnya saat itu bulan puasa, lha rumah makan muslim koq bisa buka saat puasa? Mungkin karena FPI  belum buka cabang di sana ya?

 

Posisi duduk di sekeliling meja makan menjadi hal penting. Orang yang paling dihormati selalu mendapat tempat duduk menghadap ke pintu masuk ruang makan itu. Menyenangkan sekali makan di satu meja bundar bersama banyak orang. Kita bisa berbincang dengan akrab di meja makan itu. Tidak selalu saya bisa mengikuti pembicaraan mereka. Yang paling saya mengerti adalah saat mereka bilang,” Gan bei!“ Itu tanda mereka mengajak untuk bersulang menegak gelas bir kita. Minum bir di daerah beriklim dingin memang nikmat, badan terasa hangat. Bir yang terkenal Tsingtao Beer dari kota Qingdao. Rasanya tidak pahit. Di Qingdao memang ada komunitas orang-orang Jerman, karena itulah ada pabrik bir besar di sana.

 

Hal yang sulit saya terima pada awalnya adalah makan dengan sumpit. Saya bisa menggunakan sumpit dengan baik. Makan kacangpun  bisa saya lakukan dengan sumpit itu. Yang memberatkan adalah kebiasaan mengambil makanan dengan sumpit yang kita masukkan ke mulut kita masing-masing itu. Mereka langsung menyumpit makanan yang dihidangkan lalu memasukkan ke mulut dan mengambil makanan yang lain lagi. Ini kebiasaan yang rasanya tidak higienis dan cenderung menjijikkan bagi saya pada awalnya. Tapi lama-lama saya merasa rugi, masak tidak ikut makan? Di sana akan sangat sulit untuk bisa minta sendok dan garpu. Sendok ada, tapi sendok “bebek” untuk makan sup. Jadi ya saya ikuti aja kebiasaan mereka itu. Saya merasa itu adalah budaya universal mereka yang tidak mungkin saya lawan.

 

Sesekali bila jadwal saya agak longgar dan saya berada di wilayah selatan, saya sempatkan untuk menjenguk keluarga saudara sepupu saya yang tinggal di Yangjiang. Sekitar tiga jam perjalanan darat dari Guangzhou. Yangjiang ada di selatan, kota ini terkenal dengan produksi pisau dan gunting. Mungkin  beberapa tahun di depan akan sangat dikenal dunia, karena di dekat sana saat ini sedang dibangun reaktor nuklir.

 

Ada yang menarik di Yangjiang. Makan-makan di sana sungguh menyenangkan. Rumah makan di sana mempunyai kebiasaan yang menarik. Saat tamu mulai duduk, mereka mengantar peralatan makan. Mangkuk, piring kecil, cawan, sumpit, sendok sup, semuanya satu paket terbungkus plastik tipis. Juga sepoci teh berukuran tanggung dan baskom besar. Kita membuka bungkus plastik itu dan membilas semua peralatan makan itu dengan air teh yang tersaji itu. Bilasannya ditampung dalam baskom itu untuk dibuang. Kemudian pelayan akan menambah air panas pada poci teh itu. Teh itulah yang menjadi minuman kita. Menurut mereka, itu juga berguna untuk membilas daun teh yang diseduh. Di hidangan juga disediakan sumpit khusus untuk mengambil makanan dan meletakkannya di piring atau mangkuk kita. Disinilah makan-makan paling higienis yang saya alami di China.

 

Ada yang punya pengalaman makan-makan lainnya? Cerita yoookk. (kelanjutannya.....)

17 Maret 2013

Mengantar Anak Sekolah



Sudah tiga tahun ini saya mengantar anak berangkat sekolah. Sesuatu yang awalnya terasa berat sekali. Tadinya anak-anak berangkat sekolah bersama istri yang mengajar di sekolah itu. Tiga tahun lalu istri saya dimutasi dan mulailah hal ini. Biasanya saya bisa bekerja di rumah di pagi hari. Kesempatan yang enak untuk bisa bekerja dan berpikir dengan tenang. Mulai saat itu saya harus berangkat pagi dan merubah pola kebiasaan nyaman itu.

Jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh hanya sekitar sepuluh atau lima belas menit. Saat kebiasaan ini dimulai, saya berpikir sesuatu yang bisa dimanfaatkan selama perjalanan singkat itu.

Anak bungsu saya bukan anak yang bisa belajar dengan cepat. Nilainya tidak  bagus. Memang orang bilang tiap anak punya talentanya masing-masing. Dia anak yang cantik dan berhati emas. Saat saya sibuk bekerja, dia bisa datang dengan segelas air dan saputangan untuk sekedar menyeka keringat saya. Suatu hal yang kadang mengharukan. Saya hanya ingin dia tidak minder dengan nilai-nilainya. Itu yang ingin saya capai. Bukan nilai yang bagus agar dia juara kelas, tapi nilai itu dia butuhkan agar dia punya rasa percaya diri akan kemampuannya.

Maka hari-hari saya mengantar dia ke sekolah adalah hari-hari untuk pelajaran tambahan buat dia. Pulangnya dia ikut mobil pengantar pulang. Target saya tidak terlalu muluk, hanya mengajar hal-hal yang sederhana. Saya fokus pada pelajaran matematika dan bahasa inggris. Dua pelajaran ini yang sulit bagi dia. Kalau pelajaran lain, mungkin hanya perlu waktu tambahan untuk menghafal. Saya selalu harus mengetahui bahan pelajaran untuk kedua mata pelajaran itu. Misalnya untuk mengajarkan “to be”, perlu waktu lebih dari seminggu agar dia hafal dan paham tentang konsep itu. Apa yang sudah hafal di hari ini bisa jadi besoknya dia lupa. Saya harus mengulanginya lagi. Di sepanjang perjalanan itu saya cukup bertanya “kalau he?” “kalau she?” “kalau Tina?” “kalau Tina and Budi?” “Kalau I?” “kalau Budi and I?” Pertanyaan-pertanyaan itu yang harus diulang-ulang selama berhari-hari, hingga dia benar-benar menguasai benar tentang “to be” ini. Belum lagi kalau harus menerangkan soal “past tense”, saya harus menerangkan berulang-ulang soal konsep lampau ini. Bahasa Indonesia dengan mudah menambahkan kata “tadi” atau “kemarin”, tidak demikian dengan bahasa Inggris, harus ada kata kerja yang berubah, harus menghafalkan kata kerja lampau itu. Untuk satu topik itu saya butuh waktu yang tidak sedikit. Kadang lebih dari seminggu. Kadang terasa membosankan dan menjengkelkan. Harapan saya hanya agar dia harus sudah mengerti sebelum ulangannya.

Lain lagi kalau matematika. Sambil menyetir saya harus menjelaskan apa bedanya luas dan keliling persegi itu, perkalian bilangan pecahan, perkalian dan pembagian desimal dan lain-lain. Menjelaskan rumusnya dan saya juga harus memberikan contoh soal. Biasanya di mobil sudah tersedia banyak kertas buram. Dia akan mengerjakan soal yang saya diktekan. Dia menghitung soal cerita yang saya buat. Membuat soal sambil menyetir bukan hal yang mudah karena bagaimanapun juga saya harus berkonsentrasi penuh pada jalan yang saya lewati. Saya juga harus berpikir untuk memberikan angka yang mudah, agar anak saya bisa mengerjakan soal itu dengan mudah tanpa harus berkutat lama dengan angka-angka yang sulit. Kesulitannya harus pada logika materi yang diajarkan, bukan pada proses penghitungannya. Kondisi ini memang menguras banyak hal, terutama perasaan dan pemikiran. Bisa jadi saya jengkel sekali karena menurut saya seharusnya dia sudah mengerti dan ingat akan pelajaran itu sedari kemarin. Ini juga latihan kesabaran untuk saya.

Bila tidak ada bahan pelajaran yang dia tidak mengerti, saya menyuruh dia membaca buku paketnya. Banyak guru sudah memberikan rangkuman bahan yang dipelajari. Hal ini memang memudahkan anak untuk menghafal, namun itu tidak melatih anak untuk bisa membaca dan memahami buku paketnya. Dia harus dilatih untuk membaca dan mengerti langsung dari buku paket itu. Saya juga tidak mau ‘menge-test’ anak saya, kalau dia bilang sudah hafal saya percaya penuh pada dia. Bila hasil ulangannya jelek ya saya bilang, berarti kemarin dia belum belajar dengan tanggung jawab.

Suatu saat anak saya ditanya oleh temannya, “Kamu les Inggris ya?” “Tidak, aku tidak les.” Saya malah memberi tahu dia, “Harusnya kamu bilang, ya saya les di EF, English Father!” Saya selalu juga menekankan ke dia: “kalau kamu cantik tapi ‘o’on’ itu seperti Boneka Barbie yang cantik tapi tidak bisa apa-apa” juga “Bukan salah kita kalau kita lahir  ‘gak pinter’, tapi kita salah kalau kita ‘gak blajar’ hingga jadi tetap ‘o’on’.” Dia juga harus tetap belajar di rumah saat malam hari. Dengan belajar di mobil setiap pagi ini, perlahan-lahan nilainya terus membaik.

Yang penting bagi saya, saat dia berhasil mendapatkan nilai yang baik, dia harus merasakan sensasi kebanggaan pencapaiannya itu. Bukan kesombongan, tapi rasa bangga bahwa dia bisa juga mendapat nilai yang bagus. Sensasi itu yang saya percayai akan membuat dia mau belajar terus dengan rajin.

Minggu ini saya harus pergi saat dia “Try-out dan UAS”, jadi saya tidak bisa menemaninya belajar. Kemarin saat saya baru tiba, dia menunjukkan hasil ulangannya yang bagus-bagus semua. Diatas sembilan puluh. Saya bersyukur dia sudah tahu bagaimana cara untuk belajar.

Semoga cerita ini bermanfaat.
(kelanjutannya.....)