17 Maret 2013

Mengantar Anak Sekolah



Sudah tiga tahun ini saya mengantar anak berangkat sekolah. Sesuatu yang awalnya terasa berat sekali. Tadinya anak-anak berangkat sekolah bersama istri yang mengajar di sekolah itu. Tiga tahun lalu istri saya dimutasi dan mulailah hal ini. Biasanya saya bisa bekerja di rumah di pagi hari. Kesempatan yang enak untuk bisa bekerja dan berpikir dengan tenang. Mulai saat itu saya harus berangkat pagi dan merubah pola kebiasaan nyaman itu.

Jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh hanya sekitar sepuluh atau lima belas menit. Saat kebiasaan ini dimulai, saya berpikir sesuatu yang bisa dimanfaatkan selama perjalanan singkat itu.

Anak bungsu saya bukan anak yang bisa belajar dengan cepat. Nilainya tidak  bagus. Memang orang bilang tiap anak punya talentanya masing-masing. Dia anak yang cantik dan berhati emas. Saat saya sibuk bekerja, dia bisa datang dengan segelas air dan saputangan untuk sekedar menyeka keringat saya. Suatu hal yang kadang mengharukan. Saya hanya ingin dia tidak minder dengan nilai-nilainya. Itu yang ingin saya capai. Bukan nilai yang bagus agar dia juara kelas, tapi nilai itu dia butuhkan agar dia punya rasa percaya diri akan kemampuannya.

Maka hari-hari saya mengantar dia ke sekolah adalah hari-hari untuk pelajaran tambahan buat dia. Pulangnya dia ikut mobil pengantar pulang. Target saya tidak terlalu muluk, hanya mengajar hal-hal yang sederhana. Saya fokus pada pelajaran matematika dan bahasa inggris. Dua pelajaran ini yang sulit bagi dia. Kalau pelajaran lain, mungkin hanya perlu waktu tambahan untuk menghafal. Saya selalu harus mengetahui bahan pelajaran untuk kedua mata pelajaran itu. Misalnya untuk mengajarkan “to be”, perlu waktu lebih dari seminggu agar dia hafal dan paham tentang konsep itu. Apa yang sudah hafal di hari ini bisa jadi besoknya dia lupa. Saya harus mengulanginya lagi. Di sepanjang perjalanan itu saya cukup bertanya “kalau he?” “kalau she?” “kalau Tina?” “kalau Tina and Budi?” “Kalau I?” “kalau Budi and I?” Pertanyaan-pertanyaan itu yang harus diulang-ulang selama berhari-hari, hingga dia benar-benar menguasai benar tentang “to be” ini. Belum lagi kalau harus menerangkan soal “past tense”, saya harus menerangkan berulang-ulang soal konsep lampau ini. Bahasa Indonesia dengan mudah menambahkan kata “tadi” atau “kemarin”, tidak demikian dengan bahasa Inggris, harus ada kata kerja yang berubah, harus menghafalkan kata kerja lampau itu. Untuk satu topik itu saya butuh waktu yang tidak sedikit. Kadang lebih dari seminggu. Kadang terasa membosankan dan menjengkelkan. Harapan saya hanya agar dia harus sudah mengerti sebelum ulangannya.

Lain lagi kalau matematika. Sambil menyetir saya harus menjelaskan apa bedanya luas dan keliling persegi itu, perkalian bilangan pecahan, perkalian dan pembagian desimal dan lain-lain. Menjelaskan rumusnya dan saya juga harus memberikan contoh soal. Biasanya di mobil sudah tersedia banyak kertas buram. Dia akan mengerjakan soal yang saya diktekan. Dia menghitung soal cerita yang saya buat. Membuat soal sambil menyetir bukan hal yang mudah karena bagaimanapun juga saya harus berkonsentrasi penuh pada jalan yang saya lewati. Saya juga harus berpikir untuk memberikan angka yang mudah, agar anak saya bisa mengerjakan soal itu dengan mudah tanpa harus berkutat lama dengan angka-angka yang sulit. Kesulitannya harus pada logika materi yang diajarkan, bukan pada proses penghitungannya. Kondisi ini memang menguras banyak hal, terutama perasaan dan pemikiran. Bisa jadi saya jengkel sekali karena menurut saya seharusnya dia sudah mengerti dan ingat akan pelajaran itu sedari kemarin. Ini juga latihan kesabaran untuk saya.

Bila tidak ada bahan pelajaran yang dia tidak mengerti, saya menyuruh dia membaca buku paketnya. Banyak guru sudah memberikan rangkuman bahan yang dipelajari. Hal ini memang memudahkan anak untuk menghafal, namun itu tidak melatih anak untuk bisa membaca dan memahami buku paketnya. Dia harus dilatih untuk membaca dan mengerti langsung dari buku paket itu. Saya juga tidak mau ‘menge-test’ anak saya, kalau dia bilang sudah hafal saya percaya penuh pada dia. Bila hasil ulangannya jelek ya saya bilang, berarti kemarin dia belum belajar dengan tanggung jawab.

Suatu saat anak saya ditanya oleh temannya, “Kamu les Inggris ya?” “Tidak, aku tidak les.” Saya malah memberi tahu dia, “Harusnya kamu bilang, ya saya les di EF, English Father!” Saya selalu juga menekankan ke dia: “kalau kamu cantik tapi ‘o’on’ itu seperti Boneka Barbie yang cantik tapi tidak bisa apa-apa” juga “Bukan salah kita kalau kita lahir  ‘gak pinter’, tapi kita salah kalau kita ‘gak blajar’ hingga jadi tetap ‘o’on’.” Dia juga harus tetap belajar di rumah saat malam hari. Dengan belajar di mobil setiap pagi ini, perlahan-lahan nilainya terus membaik.

Yang penting bagi saya, saat dia berhasil mendapatkan nilai yang baik, dia harus merasakan sensasi kebanggaan pencapaiannya itu. Bukan kesombongan, tapi rasa bangga bahwa dia bisa juga mendapat nilai yang bagus. Sensasi itu yang saya percayai akan membuat dia mau belajar terus dengan rajin.

Minggu ini saya harus pergi saat dia “Try-out dan UAS”, jadi saya tidak bisa menemaninya belajar. Kemarin saat saya baru tiba, dia menunjukkan hasil ulangannya yang bagus-bagus semua. Diatas sembilan puluh. Saya bersyukur dia sudah tahu bagaimana cara untuk belajar.

Semoga cerita ini bermanfaat.
(kelanjutannya.....)

08 November 2012

Membaca Perilaku



Hari itu saya agak takut juga melihat ada tanda panggilan tak terjawab dari Jakarta. Pasti itu menanyakan soal pompa vakum yang sudah dua bulan lebih di rumah saya dan belum juga saya perbaiki. Perusahan ini memang sudah lebih dari lima belas tahun mengenal saya. Mereka selalu mengirimkan pompa yang rusak ke tempat saya untuk diperbaiki.  Alat ini memang tidak besar, hanya sebesar dua kotak sepatu. Tidak banyak orang yang mengerti prinsip dasar pompa itu. Kelihatannya semua orang mampu membongkar pasangnya, tapi hasilnya selalu beresiko bertambah parah kinerjanya. Dulu saya pernah diikutkan pelatihan oleh perusahaan tempat saya bekerja untuk masalah pompa ini, hingga saya memahaminya. Saat ini saya sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi, saya tidak punya alat ukur untuk mengukur kinerja pompa itu. Alat ukur itu sangat mahal harganya. Saya hanya mendasarkan pada perasaan saya saja. Pompa yang ada di rumah saya itu seharusnya dulu sudah pernah saya perbaiki. Pompa ini dikirim balik karena kinerjanya masih tidak sempurna. Ini pasti karena saya tidak memakai alat ukur itu untuk pengujian akhirnya. Saya memang cukup sibuk akhir-akhir ini, disamping sebenarnya saya juga enggan, apalagi yang harus saya lakukan dengan pompa ini?

Keesokan harinya, saya menerima telpon dari seorang yang juga sudah lama saya kenal. Orang ini dari perusahaan di Surabaya yang pemiliknya sama dengan perusahaan yang di Jakarta itu. Saya sudah berpraduga bahwa ini pasti akan menanyakan soal pompa vakum juga. Benar sekali, dia langsung menanyakan soal pompa vakum yang katanya sudah lama ada ditempat saya. Saya langsung minta maaf karena sudah merasa bersalah. Saya mengutarakan kesulitan saya yang tidak punya alat ukur itu, sehingga mungkin hasilnya tidak bisa saya uji dengan akurat. Beliau mengundang saya untuk datang ke pabriknya untuk melihat kondisi pemakaian pompa itu di mesinnya. Bertahun-tahun saya melayani perusahaan ini, tidak pernah mereka mengundang saya datang ke tempatnya. Mereka selalu mengirim dan mengambil pompa itu. Saya tahu bahwa proses produksi mereka sangat dirahasiakan. Ini kesempatan langka. Saya berjanji untuk datang keesokan harinya.

Tidak berselang lama, saya mendapat telpon lagi dari perusahaan yang Jakarta. Saya mengatakan bahwa besok saya akan melihat mesin produksi yang di Surabaya dan sudah berjanji untuk segera menyelesaikan perbaikannya.

Saya datang ke pabrik itu. Mesin mereka memang bagus-bagus. Saya diperkenalkan pada operator mesin itu. Orang itu tidak nampak ramah, bisa jadi karena dia sibuk dan kehadiran saya bisa jadi malah menjadi beban tambahan buatnya. Saya bisa maklum akan hal ini. Saya diberi lagi empat buah pompa vakum yang rusak dan beberapa part untuk saya buatkan sesuai contoh. Kepala pabrik itu menuliskan surat jalan sebagai tanda bukti penerimaan saya akan semua peralatan itu. Beliau menuliskan lima pompa vakum, sambil mengatakan bahwa satu buah sudah ada ditempat saya. Saya setuju, yang satu buah di tempat saya dulu itu, memang saya terima dari ekpedisi dan tidak ada tanda terima dari saya untuk mereka. Beliau mendesak saya untuk segera memperbaikinya karena sudah sangat membutuhkannya. Saya menyanggupinya.

Saya segera menyelesaikan lima pompa itu, karena minggu depannya saya juga harus ke luar kota. Satu pompa saya kirimkan sedang empat lainnya saya minta mereka datang untuk mengambil. Mereka datang mengambil dan membayar biayanya. Saya lega, semuanya beres.

Seminggu kemudian perusahaan yang di Jakarta menelpon dan menanyakan soal pompanya. Saya dengan ringannya mengatakan bahwa pompanya sudah selesai dan sudah dikirim ke pabrik Surabaya. Ternyata inilah awal masalah. Pabrik Jakarta merasa itu adalah pompa dia, Pabrik Surabaya juga merasa begitu. Saya menjelaskan ke Pabrik Surabaya bahwa memang satu pompa yang awal itu adalah dari Jakarta. Buktinya bahwa ada kardusnya. Pabrik Surabaya tidak pernah mengirim dengan kardus. Saya baru sadar bahwa sudah terjadi salah persepsi di benak saya. Dua perusahaan itu memang menelpon pada rentang waktu yang bersamaan. Saya pikir mereka menanyakan satu pompa yang sama, ternyata mereka masing-masing merasa mengirim satu pompa ke tempat saya. Di saya hanya ada satu pompa, yang dari Jakarta. Jadi masalahnya ada di pompa yang katanya dikirim dari Surabaya. Perusahaan Surabaya itu memang menolak mengembalikan satu pompa pertama yang sudah saya kirim, walaupun mereka satu pemilik tapi mereka memang memiliki manajeman yang berbeda. Mereka tidak dapat menunjukkan tanda bukti pengiriman dan penerimaan pompa yang katanya dikirim dua bulan lebih yang lalu. Operator mesin itu bilang bahwa ia hanya disuruh mengirim ke bengkel saya tanpa surat jalan (karena sudah lama mengenal saya) dan juga tidak diberi tanda terima oleh bagian administrasi saya. Saya tidak bisa berbantahan karena memang kita sudah lama saling mengenal dan saling percaya. Saya melacak di bengkel, tidak ada pompa dan tidak ada yang menerima pengiriman pompa seperti yang mereka katakan.  Posisi saya secara administratif kalah, karena saya menandatangani lima pompa pada surat jalan terakhir itu. Harga sebuah pompa itu puluhan juta rupiah. Saya sempat berpikir bahwa saya dijebak, tapi harusnya tidak juga, kita sudah lama saling mengenal dan bekerjasama dengan baik.

Saya harus mampu menunjukkan bahwa satu pompa itu dari Jakarta dan Pabrik Surabaya tidak pernah mengirim pompa ke tempat saya. Saya berjanji untuk datang lagi ke Pabrik di Surabaya ini dan menyelesaikan masalah ini.

Siang itu saya datang. Kami duduk di ruang depan pabrik itu. Pabrik itu merangkap tempat tinggal bagi karyawannya, rasanya kamar tidur mereka ada di lantai dua. Ada meja besar, kami duduk mengelilingi meja itu. Meja itu mungkin juga berfungsi sebagai meja makan bagi staf mereka yang sekitar 20 orang. Saya duduk di hadapan Sang Kepala Pabrik. Kami berbincang akrab. Kemudian dipanggilkan operator mesin yang katanya dulu mengirim pompa ke bengkel saya. Dia duduk di dekat saya. Di meja disediakan es teh manis, ada toples krupuk di meja lain yang lebih kecil.
“Bapak dulu yang kirim pompa ke bengkel saya ya?”
“Ya.”
“Kapan pak?”
“Sudah lama lebih dari dua bulan lalu”
“Sebulan sebelum puasa?”
“Ya kira-kira begitu”
Suasana cukup santai. Saya berbincang dengan santai saja. Ini bapak yang dulu nampak tidak ramah saat kunjungan pertama itu. Saya juga meminum hidangan teh manis itu. Tehnya enak.
Bapak itu kemudian berpindah dari dekat saya menuju meja kecil yang ada toples krupuknya. Dia mengambil dan memakan krupuk itu.
“Tenaga Administrasi saya dua orang Pak, yang satu berjilbab dan satu lagi tidak. Yang mana yang dulu menerima pompa dari Bapak?”
“Yang tidak berjilbab.”
Kami terus berbincang dengan santai, juga tentang alasan dia yang tidak menggunakan surat jalan dan tanda terima. Saya akhiri pertemuan itu dengan janji akan melacak masalah ini di bengkel saya.

Beberapa hari kemudian saya menelpon Kepala Pabrik itu. Atas dasar hubungan baik selama ini, saya meminta pengertiannya agar saya bisa mengatakan apa yang saya tahu dan rasakan dengan sejujurnya. TIdak ada keinginan sedikitpun untuk membela diri dengan membuta. Beliau setuju.
“Koh (begitu saya biasa memanggil Kepala Pabrik itu), saya merasa ada yang kurang beres dari operator itu. Pertama, anak buah saya yang tidak pakai jilbab itu, dua bulan sebelum bulan puasa sudah cuti karena mau melahirkan, cuti 3 bulan. Kedua, dia berpindah dari duduk di dekat saya kemudian menjauh saat kita berbicara. Itu menunjukkan bahwa dia tidak nyaman ada di dekat saya sepanjang perbincangan itu. Saya merasa dia tidak jujur saat itu.”
“Masak sih?”
“Iya, itu perasaan saya. Tapi saya minta maaf, bukan bermaksud membela diri, cuma itu pengamatan saya.”
Tanpa saya duga beliau mengatakan, “Saya sudah menanyakan ke driver saya yang mengantar operator itu, mereka memang pernah dua kali ke bengkel yang pertama mengirim pompa dan kemudian mengambil setelah diperbaiki dan tidak pernah mengirim pompa lagi.”
Berarti analisa saya benar!

Saya percaya bahwa perilaku seseorang mampu mengungkapkan hal-hal yang sebenarnya ada dibenaknya. Banyak orang bilang, “mata tidak bisa bohong.” Benar, tapi bukan sekedar mata. Ada hal yang sering terlewatkan yang bisa kita baca dari orang lain. Posisi dan sikap kaki dari lawan bicara kita. Orang yang merasa nyaman berbincang dengan kita akan nampak dari sikap kakinya yang simetris (mirip) dengan posisi kaki kita. Orang yang tidak sabar berbicara dengan kita akan menampakkan posisi kaki yang siap menjauh dari kita. Dua orang yang akrab berbincang, posisi kaki mereka, sekalipun di bawah meja, pasti akan saling mendekat. Bila kedua pasang kaki mereka menjauh, mungkin ditekuk masuk ke bawah kursinya, kemungkinan besar mereka tidak akrab, atau saling menjaga jarak dalam pertemuan itu.

Seorang yang tidak merasa nyaman akan berusaha membuat dirinya nyaman. Operator itu tidak nyaman ada di dekat saya, ia berusaha menjauh dan menenangkan dirinya dengan memakan kerupuk. Hal seperti ini memang bukan patokan yang jelas perihal sebuah kebenaran, tetapi ini bisa menjadi penanda dari sesuatu yang perlu diamati dengan lebih seksama.

Semoga cerita ini bisa bermanfaat.
(kelanjutannya.....)

26 Oktober 2012

Live in Klenteng

Pada 7 dan 8 September 2012, Departemen Oikmas GKI SW Jatim Klasis Madiun mengadakan acara Live In Klenteng Kwan Im Kiong Pamekasan, Madura. Sebanyak 72 orang peserta mengamati prosesi Sembahyang Rebutan yang diselenggarakan di sana. Ada jemaat biasa, banyak penatua, pengurus komisi, dan beberapa Pendeta. Kami juga berpartisipasi dalam aksi sosial yang mereka adakan untuk masyarakat sekitar Klenteng. Malam harinya kami mendengarkan penjelasan perihal ritual dan agama mereka. Keesokan harinya kita mendiskusikan hal-hal yang perlu kita sikapi secara internal.

Arca yang menjadi pusat pemujaan di Klenteng ini berasal dari abad 14. Menurut penelitian para arkeolog, itu arca Tri Buana Tunggadewi dari kerajaan Majapahit. Karena ini ditemukan oleh komunitas orang Tionghwa, maka mereka menyebut arca wanita ini adalah Kwan Im, Dewi Welas Asih. Maka jadilah Klenteng ini menjadi tempat pemujaan Dewi Kwan Im. Klenteng ini sudah berdiri sejak abad 17 dipinggir laut di desa Candi Kabupaten Pamekasan, Madura. Di lingkungan klenteng ini ada 7 sumur yang airnya tawar dan jernih. Di luar pagar Klenteng air sumur selalu asin, sehingga masyarakat sekitar selalu mengambil air di dalam klenteng untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

Hampir semua diantara kita yang baru kali ini masuk, mengamati dan mendapat penjelasan tentang semua yang ada di Vihara, khususnya Avalokitesvara ini. Itu nama lain dari Klenteng Kwan Im Kiong ini. Saya juga baru tahu soal TITD, Tempat Ibadah Tri Darma. Tri Darma, karena mereka menyediakan pemujaan untuk tiga agama. Ada Budha, Ada Kong Hu Cu, Ada Tao. Ini semua terjadi karena situasi politik yang timbul sejak peristiwa 1965, saat budaya Tionghwa dilarang, termasuk agama Kong Hu Cu. Mereka harus berlindung di dalam Agama Budha.

Sebagian peserta berbaur bersama umat yang melaksanakan ritual rebutan. Bermacam panganan diperebutkan saat pemimpin ritual menyatakan “Pak Pwe”. Undian yang merupakan pertanda bahwa semua sesaji itu sudah selesai dihidangkan untuk para leluhur mereka.

Sebagian lagi, aktif berbincang dengan umat yang ada. Mendengarkan penjelasan tentang apa saja di Klenteng itu. Ada yang belajar tentang ritual ramalan melalui ‘Jiam Sie”. Ada yang belajar cara mengatur tangan saat memberikan salam “Pai”. Tangan kanan ditutup oleh tangan kiri, kedua jempol dipertemukan, merupakan simbol kedua orang tua kita. Delapan jari lainnya merupakan simbol delapan dasar ajaran kehidupan. Suasana begitu akrab dan ceria.

Kegiatan ini tidak hanya berguna menambah pengetahuan kita. Diluar acara, kami berbincang santai. Apa yang kita lakukan saat ini merupakan suatu yang mengejutkan mereka. Memang sering ada gereja yang meminjam tempat mereka, tetapi tidak pernah melibatkan mereka.  Baru kali ini ada Gereja yang meminta mereka berbicara menjelaskan perihal ritual dan agama mereka. “Anak dan istri saya sudah menjadi Kristen” Kata Bapak Imam Santoso, pemimpin ritual Sembahyang Rebutan. “Bila kemari, mereka tidak mau turun dari mobil, apalagi makan bersama di Klenteng ini”. Ada juga komentar: “Awalnya secara internal banyak diantara kita yang bertanya-tanya apa maksud Gereja datang kesini”. “Beberapa orang diantara kita mencurigai rencana ini”.

Saat acara tanya jawab, memang terasa bahwa ada sesuatu yang harus dipahami diantara kita. Ada peserta yang bertanya, “Apakah tidak terjadi kultus individu?” Saat itu dijelaskan bahwa mereka memuja para orang yang mereka anggap berjasa dalam kehidupan ini, termasuk orang tua dan leluhur mereka. Sang pembicara menangkap makna nada negatif dari sang penanya dan berusaha membela konsep itu, namun sang penanya juga tidak merasa  bahwa “kultus individu” itu bukan sesuatu tabu bagi umat Kong Hu Cu. Dua kondisi yang punya dua nilai dasar yang berbeda. Sempat juga terungkap, ”Istri saya yang menjadi Kristen sudah sering menanyakan saya, apa jadinya nanti bila dia mati dan masuk surga. Kemana saya akan masuk? Tapi saya tidak takut koq” Mereka tidak mengenal konsep kehidupan sesudah kematian. Jadi bagi mereka surga bukan sesuatu yang penting. Kebajikan dan kebaikan hidup ini lebih penting dari pada mengejar kehidupan setelah kematian.

Hingga acara ini berakhir, bisa jadi tidak ada penginjilan ataupun pemberitaan kasih Tuhan Yesus bila hanya dilihat dari tidak adanya seorangpun dari mereka yang mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka. Tetapi tidak bagi saya yang terlibat penuh berinteraksi dengan mereka semenjak pertemuan pertama, saat kami survai lokasi ini bulan yang lalu. Ada perbedaan sorot mata mereka, awalnya mereka penuh selidik tentang maksud kedatangan kami. Hari itu setelah acara ini selesai, mereka mengungkapkan keheranan dan penghargaannya atas kesediaan kita untuk hadir di sana. Mereka telah melihat sosok kelompok Kristen yang lain, yang mau bergaul bersama dan menghargai mereka. Saat itu kami merasa mampu menghadirkan Kasih Yesus yang juga mampu menentramkan hati mereka. Kasih Yesus yang ada untuk mereka rasakan melalui kegiatan ini. (kelanjutannya.....)

22 April 2012

Live in Tengger

Departemen Oikumene dan Kemasyarakatan Klasis Madiun mengadakan acara "Live in Tengger" pada 30 dan 31 Maret 2012. 37 peserta tinggal di rumah penduduk di desa Ngadirejo, 5 Km dari Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo. Kami tidur seadanya di ruang tamu, kamar atau seadanya tempat di rumah yang bersedia ditempati. Di sana kami belajar tentang agama, adat istiadat dan budaya masyarakat Tengger.

Tengger memang berasal dari nama Roro Anteng dan Joko Seger, pelarian dari Kerajaan Majapahit, meski kebudayaan di sana sudah ada jauh sebelumnya. Ada prasasti yang ditemukan yang merupakan peninggalan masa kerajaan Singosari. Hingga kini mereka masih berkomunikasi dengan bahasa yang mereka yakini sebagai bahasa Jawa Kuno. Bahasa yang kedengaran asing walau saya fasih berbahasa Jawa. Mereka menggunakan banyak bunyi A bukan O seperti lazimnya bahasa Jawa.

Malam itu kami belajar dari Bapak Dukun Pandhita, juga Bapak Bambang selaku Ketua Parisadha, dan Bapak Atmo selaku Guru Agama, dipandu oleh Pdt. Simon Filantropa. Mereka menerima dan menyambut kami dengan sangat baik. Bapak Dukun Pandhita selaku orang yang paling disegani di komunitas itu mengawali pembicaraannya dengan menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan yang pernah diterima oleh masyarakat Tengger pada musibah yang lalu. Ini menunjukkan hubungan yang indah yang sudah terbentuk antara mereka dan GKI Sinode Wilayah Jawa Timur.

Awal 2011 mereka mengalami musibah hujan abu/pasir yang meluluhlantakkan desa dan kehidupan mereka. Sisa-sisatimbunan pasir masih ada dimana-mana. Tebalnya ada yang 50 cm sampai satu meter. Banyak rumah roboh karena atapnya tidak mampu menahan beban abu/pasir setebal itu, termasuk gedung SD desa itu. Secara ekonomi mereka jadi terpuruk, karena seluruh tanah kebun mereka tertutup pasir yang mengandung belerang yang tidak memungkinkan mereka bercocok tanam lagi. Memang hujan bisa mengikis pasir itu dan perlahan-lahan kini mereka mulai bisa bertanam lagi. GKI SW JATIM pernah membantu mereka dengan bersama-sama menanam bibit bawang dan kubis.

Secara budaya mereka pernah mengalami tekanan. Sebelum tahun 1978 masyarakat Tengger dipaksa untuk menjalankan ritual agama Budha oleh pemerintah, meskipun mereka tidak mengakui Sidharta Gautama. Sejak tahun 1978 baru mereka diakui sebagai bagian dari agama Hindu. Mereka berbeda dengan Hindu Bali dalam penggunaan bahasanya. Hindu Bali menggunakan bahasa Sansekerta sedangkan mereka menggunakan bahasa Jawa. Bila di Hindu Bali ada Karma, maka mereka menyebutnya Kualat. Hindu Bali mengenal Kasta, sedangkan mereka tidak. Mereka juga menggunakan "pasaran" (hitungan hari) Jawa. Mereka beribadah di pura pada setiap Kliwon. Budaya Jawa terasa sangat kuat terjalin dengan agama Hindu mereka. Perhitungan-perhitungan hari baik untuk melakukan suatu kegiatan menjadi bagian hidup mereka. Mereka menghitung hari yang tepat untuk menanam. Bila yang ditanam adalah tanaman kubis maka perhitungan harus jatuh pada buah. Bila yang ditanam adalah kentang maka perhitungan harus jatuh pada "oyot" (akar).

Seorang Dukun Pandhita adalah pemimpin spiritual yang tertinggi. Ia harus seorang laki-laki dan merupakan keturunan Dukun Pandhita sebelumnya dan harus lulus ujian membaca mantra di "Ponten" di gunung Bromo. Untuk beradaptasi dengan kemajuan jaman, maka sekarang ada syarat tambahan yaitu minimal harus lulus SMP.

Semua peserta dapat dengan bebas bertanya apa saja. Ada yang menanyakan perihal jendela kaca menghadap ke jalan yang ada di kamar mandi yang digunakannya. Dia kaget dengan jendela yang memungkinkan orang yang lewat melihat orang yang sedang mandi. Pak Atmo menjawab, itu bukan bagian dari budaya, tetapi itu dampak dari bencana. Dulu sebelum bencana, jendela itu cukup tinggi letaknya dari jalan sehingga tidak memungkinkan orang lewat melihat ke dalam. Pasir Bromo telah menimbun jalan itu setinggi satu meter , sehingga jendela itu kini tidak terlalu tinggi lagi.

Pada hari kedua kami bermain bersama 69 siswa SD di desa itu. Pak Raden Satriadi memimpin acara itu. Mereka kini harus belajar di tenda. Gedung kelas mereka telah roboh. Kita melihat mereka dengan rasa prihatin,namun mereka tampak tetap bersemangat. Tahun lalu saat mereka baru dilanda bencana, salah seorang murid berhasil mencapai nilai UNAS matematika yang tertinggi. Saat itupun, dua siswa tidak dapat bermain bersama kami karena harus mengikuti seleksi Olimpiade IPA di kota. Semuanya ini pasti karena pengabdian para guru.
Tak heran pada saat permainan yang mengharuskan mereka menyebutkan cita-citanya, sebagian besar dari mereka menyatakan bercita-cita menjadi guru. Bapak dan Ibu Guru mereka pasti telah menjadi sosok yang ingin mereka teladani.

Pak Raden membuat suasana permainan itu menjadi meriah dan mendidik. Kamipun kagum dengan semangat dan kenyataan yang harusnya tidak sebanding dengan kendala dan keterbatasan yang mereka alami. Di permainan terakhir Pak Raden membagikan beberapa lembar kertas kepada masing-masing kelompok. Mereka diminta untuk membuat bangunan apa saja dengan kertas itu. Sebuah kelompok membuat bagunan rumah di pinggir mejanya. Ada jendela dan pintu di rumah itu. Saat ditanya kenapa di dinding yang ada tepat di pinggir meja itu tidak ada jendelanya? Seorang anak menjawab ,"Tidak perlu,Pak. Sebab di situ khan jurang…" Mereka sanggup berimajinasi dan semoga bisa terus menghidupkan dan mewujudkan keindahan imajinasinya itu.

Saat permainan usai, kami membagikan bingkisan buat mereka. Kami kemudian memohon pamit. Bapak Kepala Sekolah memohon kami menunggu sebentar. Ternyata mereka telah mempersiapkan tarian untuk menghantar kami. Mereka menari "Jaran Kibar" dengan diiringi musik gendang yang dimainkan oleh siswa SD itu. Sungguh suatu tampilan yang indah dan mengharukan. Keterbatasan tidak membuat mereka menjadi penerima saja, tetapi mereka mampu memberikan apa yang mereka sanggup berikan dan persembahkan. Kearifan yang menjadi kekayaan nurani mereka.

Acara ini memberi banyak pencerahan tentang realitas keberagaman di masyarakat kita. Panggilan untuk menjadi berkat bagi sesama menuntut untuk mau mengenal semua sesama itu dengan lebih baik.

Sampai jumpa di acara Live-In berikutnya.
(kelanjutannya.....)

24 Desember 2011

Saya Ingin Diberi Di Natal Ini

Setiap menjelang hari Natal, selalu saja ada ajakan untuk berbagi sukacita. Ajakan berbagi yang berarti ajakan untuk memberi. Ajakan yang juga dikuatkan dengan anjuran bahwa memberi itu lebih baik dari pada menerima atau diberi. BerNatal-Natal sudah saya lewati. Berkali juga saya melakukan anjuran itu, saya memberi agar Natal-Natal itu jadi lebih bermakna.

Hari ini saat Natal ini mau datang lagi, saya berpikir keras untuk memberi lagi. Tapi bolehkan saya berhenti untuk memberi? Ataukan saya sudah harus bertobat dan berhenti memberi di hari Natal kali ini? Saya jadi ingin diberi di hari Natal ini.

Saya ingin diberi, karena bisa jadi saya sudah terlalu terbiasa untuk memberi. Saya terlalu biasa untuk memberi bantuan rekan yang tertimpa musibah. Misalnya, diajak urunan untuk biaya pengobatan seorang rekan. Saya jadi terlalu biasa untuk memberi. Memberi yang katanya harus juga bijak. Saya juga terbiasa untuk memantau pemberian saya agar ada kepastian ketepatan pemakaian bantuan saya itu. Saya juga jadi curiga, setelah beberapa saat saya tidak mendapat kabar akan pemberian saya itu. Bagaimana "update" pemberian saya itu? Jangan-jangan diselewengkan. Padahal bisa jadi rekan yang menyalurkan bantuan itu kehabisan pulsa untuk mengirim email ataupun sms ke saya. Rekan yang menyalurkan itu juga bingung apanya yang mau di'Update" kondisi sakitnya pun masih begitu-begitu saja dan ia bukan reporter handal yang mampu mengarang cerita pandangan mata. Kalau begini.... rasanya saya memberi karena saya berharap akan diberi. Diberi rasa hormat, walau hanya berupa laporan pemanfaatan uang saya.

Saya ingin diberi, karena saya terhenyak akan kenyataan bahwa untuk bisa diberi itu ternyata tidak mudah. Saat saya memberi, saya senang, karena dengan itu saya tahu saya sedang tidak susah. Saya lagi lebih beruntung dari orang lain. Saya bisa sedikit bangga dengan saya memberi. Saya ingin diberi agar saya bisa punya kerendahan hati. Bila nanti ada orang yang memberi saya, kiranya saya mampu menghargai pemberi itu. Saya ingin bisa senantiasa mengingat bahwa ada orang yang memberi bukan dari kelebihannya, tetapi dia memberi di dalam kekurangannya. Saya ingin saat saya diberi saya berbela rasa dengan yang memberi. Saya ingin diberi agar saya mampu menghargai tiap berkat yang saya terima. Saat sakit dan ada rekan yang memberi saya bantuan, saya berusaha menghormatinya dengan tidak memboroskannya dengan minta pelayanan rumah sakit kelas satu. Saya ingin diberi agar saya bisa belajar untuk hidup berbela rasa dengan orang yang dulu saya beri. Agar saya bisa menghargai tiap pemberian dan perhatian dari semua rekan-rekan saya. Saat ada banyak orang yang mau memberi saya, dan saya diberi, semoga saya tidak bangga bahwa saya bisa makan di restoran mewah. Saat saya mau diberi, saya bisa merendahkan hati saya, bukan malah memanfaatkan orang-orang baik yang selalu membuat "saya diberi".

Natal besok ini, harusnya juga saya peringati sebagai Natal yang "saya diberi". Tuhan sudah memberikan rahmat dan karya penebusanNya bagi umat manusia termasuk saya. Adakah saya punya sikap dan karakter yang baik sebagai orang yang diberi? Saya diberi, agar saya berkarakter bahwa saya bukan siapa-siapa yang bisa selalu bangga saat saya memberi. Saya ingin diberi agar saya ingat bahwa ada orang yang ingin memberi bukan karena kelimpahannya, tapi karena perhatian dan bela rasanya. Jadi biarlah saya bisa menghargai tiap rekan dan teman yang telah menjadikan "saya diberi di Natal ini". Selamat Natal teman-teman. (kelanjutannya.....)

04 September 2011

Come be My Light

Ini judul buku yang sempat saya baca di liburan Lebaran tahun ini. Sub judulnya: Catatan-Catatan Pribadi Orang Suci dari Kalkuta. Penerbitnya Gramedia, 528 halaman. Cukup tebal untuk dibaca selama liburan ini.

Buku ini bukan biografi tentang Ibu Teresa. Buku ini berisi surat-surat Ibu Teresa kepada beberapa orang tentang pergumulan batinnya. Menjadi menarik untuk dibaca karena kita bisa tahu apa yang ada dibenak seorang yang sangat dikenal dan dikenang di seluruh dunia. Sebuah pergumulan batin yang nyaris tak diketahui orang banyak. Di banyak suratnya, Beliau sudah meminta untuk memusnahkan semua surat-surat itu. Beberapa orang tidak melaksanakan permintaan itu, karena memang itulah warisan pergumulan iman yang tiada taranya yang akan menginspirasi orang banyak.

Ibu Teresa mempunyai tekad kuat untuk memuaskan "dahaga/rasa haus Yesus" dengan melayani orang yang paling miskin diantara orang miskin. Komitmen itu begitu kuat. Ia menjabarkannya dalam prinsip kehidupan: Kemiskinan mutlak, Kemurnian Malaikat dan Ketatatan yang Ceria. Surat-suratnya mengungkapkan kemauannya yang kuat untuk menghadirkan kasih Tuhan di luar lingkungan biaranya. Itu memerlukan ijin dari para pembesar Gereja. Ia adalah orang yang taat pada birokrasi gereja, walaupun hatinya menggelora, dia mempunyai prinsip hidup akan ketaatan yang membuta. Saat-saat suratnya tidak mendapat jawaban, disamping dia menulis surat lagi, dia menganggapnya itu adalah kesempatan dari Tuhan untuk terus mendoakan semua rencananya. Doa menjadi sesuatu yang dominan di hidupnya. Di tiap suratnya selalu ada permohonan untuk mendoakannya.

Suasana Gereja Katolik Roma yang sangat birokratis, tidak pernah menimbulkan keinginan Ibu Teresa untuk keluar dari sistem yang ada, Ia selalu melihat tiap hambatan yang ada sebagai suatu kesempatan untuk berdoa. Juga bagi pembesar gereja, mereka bertanggung jawab atas semua keputusan yang harus diambilnya. Uskup yang memberi ijin mengungkapkan bahwa ijin yang diberikannya bukan  karena banyaknya surat yang dikirimkan Ibu Teresa, melainkan karena memang itu memerlukan waktu untuk memikirkannya dengan hati-hati. Setelah mengijinkannya, Uskup menjadi pendukung kuat kegiatan Ibu Teresa. Suatu keindahan akan hasil sebuah birokrasi yang bisa kita teladani.

Dalam perjalanan pelayanannya, dia mengalami kondisi dimana ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Dia merindukan kehadiran Tuhan, tapi semuanya terasa gelap buat dia. Dalam surat-suratnya dia bertanya kepada para pembimbing rohaninya perihal itu. Kondisi itu membuatnya sangat menderita secara batin, tapi ketaatannya pada Tuhan membuatnya selalu berdoa agar dia tidak menolak Tuhan. Kondisi ini berlangsung selama puluhan tahun di hidupnya. Kondisi ini yang diterimanya sebagai anugerah untuk merasakan penderitaan Yesus. Rasanya sudah tidak ada lagi penderitaan dunia yang dapat menyakitkan buatnya, karena komitmennya untuk hidup miskin dengan mutlak. Penderitaan karena ditinggalkan Tuhan adalah kegelapan yang harus ia alami sehari-hari. Terhadap penderitaan itu, ia berkemenangan karena prinsipnya untuk ber-ketaatan yang membuta kepada Allah. Semua orang yang ditemuinya tidak pernah meragukan keceriaan, keramahan dan semangatnya. Itu semua bukti dari penyangkalan diri yang kuat. Seakan-akan hal ini mengingatkan akan ketaatan Yesus pada sang Bapa meski Ia harus ditinggalkan oleh Bapa di kayu salib, Ia tetap setia. Ketaatan pada Allah yang membuta.

Nilai-nilai iman Ibu Teresa menjadi unik, bila dibandingkan dengan kondisi yang sangat "laku" saat ini. Para Pendeta dan Pengkotbah berlomba untuk menyatakan bahwa dirinya sangat akrab dengan Tuhan. Bahkan ada yang berani bercerita bahwa dia begitu dekat dengan Tuhan dan bisa bercakap-cakap muka dengan muka. Memang membanggakan pengalaman iman seperti ini. Tetapi Ibu Teresa menjadi teladan untuk sisi yang lain, bahwa bagaimanapun manusia itu tak berarti di hadapan Tuhan. Bahkan kalaupun Tuhan memberikan penderitaan, itu adalah sebuah anugerah buatnya untuk bisa ikut merasakan penderitaan yang Yesus rasakan. Menderita adalah juga sebuah anugerah.

Buku ini seakan menjawab pertanyaan yang ada dibenak saya menjelang liburan lebaran ini. Saat hasil angket menyatakan adanya motivasi dan keinginan yang kuat jemaat GKI Dipo untuk melakukan kegiatan keluar (output). Kita diharapkan melakukan banyak kegiatan keluar. Pertanyaan saya, "Lalu apa bedanya gereja ini dengan organisasi sosial?" Pengalaman Ibu Teresa mengungkapkan jawaban atas hal ini. Kita bukan sekedar melakukan kegiatan sosial, karena saat kita melakukan kegiatan sosial harus ada semangat yang kuat di hati kita. Semangat itu adalah hasil sebuah pembinaan yang kuat dan benar. Saat kita melakukan kegiatan keluar akan ada masalah yang harus kita hadapi, disana memerlukan sebuah persekutuan untuk mencari pemecahan dan mendoakannnya bersama.  Saat terjadi masalah di lapangan diperlukan juga kekuatan birokrasi gereja kita untuk saling mendukung bukan malah mencari-cari kesalahan. Kegiatan keluar itu ternyata memerlukan totalitas pembinaan dan persekutuan yang prima.

Untuk datang dan menjadi Cahaya Tuhan (Come be My light), cuma diperlukan sebuah semangat yang sederhana dan kuat. Hidup Ibu Teresa sudah menjadi teladan akan kesederhanaan yang mampu menghasilkan hasil yang mencengangkan dunia dengan cara yang lemah menurut dunia ini.

(kelanjutannya.....)

Menyambut Lebaran di GKI Bondowoso

Minggu, 28 Agustus 2011, suasana menyambut Lebaran sangat terasa di Bondowoso. Toko-toko di daerah Pecinan panen dengan pembeli, parkiran kendaraan, teutama roda dua, sangat penuh sesak. Bagi masyarakat, terutama yang di desa, Lebaran identik dengan pesta. Harus ada baju baru, pakaian baru, sepatu baru juga hidangan kue dan panganan yang serba mewah bila dibandingkan dengan keseharian mereka. Mereka akan gembira bila bisa menyambut Lebaran dengan semua itu. Terlepas setuju atau tidak dengan kebiasaan itu, tetapi itu jugalah Lebaran di banyak tempat di negara ini.

Di kotbah Minggu pagi, Pdt. Martin K. Nugroho menyinggung juga adanya sekelompok masyarakat yang menganggap makan daging adalah suatu kemewahan yang sulit mereka harapkan di Lebaran ini. Hari Minggu itu, jemaat GKI Bondowoso berbagi kebahagian agar lebih banyak orang bisa juga bergembira dalam berlebaran. Atas nama Gerakan Kemanusian Indonesia Bondowoso, mereka menyerahkan seekor sapi dan dua ekor kambing kepada Pondok Pesantren Al Mubarak di Desa Kapuran, Kecamatan Wonosari, Bondowoso. Siang harinya, Pdt. Martin K. Nugroho dan jemaat berkunjung ke Pondok Pesantren itu. Bp. Kyai Haji Kamil Hadadi menerima sumbangan itu dan membagikannya kepada warga sekitar yang memang sangat membutuhkan bantuan itu.

Sementara proses penyembelihan tiga hewan tersebut, terjadi silahturahmi di antara jemaat dan warga pesantren itu. Karena masa itu masa puasa, kita hanya berbincang-bincang saja. Diruang tamu itu memang tersedia beberapa toples makanan kering. Pak Haji juga menyuguhkan minuman kepada kita, tetapi untuk menghormati puasanya kita menolaknya. Kami yang laki-laki berbicang dengan Pak Kyai di ruang tamunya, sedangkan sekelompok jemaat wanita berbincang dengan beberapa santriwati di teras rumah utama itu. Suasana sangat akrab.

Di dalam perbincangan itu bukan sekedar basa-basi yang ringan dan tak berarti. Pak Kyai dan Pak Pendeta sempat juga menyinggung hal yang sangat krusial dalam hubungan antar agama, perihal keselamatan. Pak Pendeta dan pak Kyai memang sadar bahwa di antara mereka ada kondisi dimana masing-masing bisa merasa paling benar tentang agamanya. Bukan cuma sekedar pemahaman diantara para pemimpin agama, tapi desakan dari masing-masing jemaat/jemaah untuk meminta ketegasan akan kemutlakan janji keselamatan sering juga merepotkan hubungan antar manusia yang ada. Suasana akrab itu tidak ternoda dengan pertanyan sulit dan krusial itu. Pak Kyai memberikan perikop yang ada di kitab sucinya: "Ada orang yang sudah hidup dengan sangat saleh selama 500 tahun, saat di akherat dia ditimbang kebaikan dan kejahatannya. Memang kebaikannya lebih berat. Orang itu dengan bangga menjawab bahwa memang itu sudah selayaknya, karena selama 500 tahun dia telah berbuat baik. Tuhan kemudian meminta malaikatNya untuk menimbang ulang kebaikan itu. Mana yang lebih berat, kebaikan dia sendiri atau anugerah Tuhan yang telah memampukan dia untuk berbuat baik. Ternyata yang lebih berat adalah anugerah Tuhan." Pak Pendeta dan Pak Kyai yakin bahwa memang ada keyakinan akan kebenaran di masing-masing agama yang dipimpinnya. Tetapi perihal keselamatan, bagaimanapun manusia harus memberi ruang akan otoritas Tuhan yang mutlak untuk menyelamatkan siapapun yang dikasihiNya. Bukan urusan manusia bila Tuhan ingin menyelamatkan siapapun juga. Atas pemahaman itu kita semua bisa duduk dan berbincang dengan akrab satu sama lain.

Pdt. Martin K. Nugroho mengatakan ,"Kita semua ke tempat ini sebagai GKI dalam artian 'Gerakan Kemanusiaan Indonesia'. Artinya bukanlah sebuah sisipan politis ala gereja yang sedang mencari perlindungan atau lainnya dengan tetap membawa-bawa nama gereja. Kami ingin berteman sebagai sesama anak bangsa bersama mereka.".

Banyak hal yang tercapai dengan kegiatan ini, keakraban dan keramahan yang tercipta tak ternilai bila dibandingkan harga ternak yang ada. Kemauan jemaat GKI untuk berbagi dan kemauan jemaah Pondok Pesantren untuk menerima dan menyalurkannya merupakan bukti luhurnya nilai-nilai keagamaan yang mendorong tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Bila nilai-nilai ini tumbuh di dalam masyarakat di desa, ini merupakan tantangan bagi mereka yang tersebar di kota besar untuk tidak melupakannya, karena memang dari desalah tumbuh sebuah kota yang metropolitan.

(kelanjutannya.....)

14 Agustus 2011

Pendeta juga Manusia

Tanggal 9-11 Agustus 2011 kemarin, ada Konven Pendeta GKI di Hotel Purnama, Batu. Temanya: "Kita Punya Sahabat". Ini sedikit cerita yang mungkin bisa jadi oleh-oleh dari sana.

Acara Konven Pendeta meninggalkan banyak kisah yang menarik tentang kehidupan seputar pendeta. Pendeta juga manusia yang bisa salah dan bisa benar, bisa baik dan bisa menjengkelkan juga. Kisah menarik yang ada di seputaran konven ini semoga bisa bercerita tentang hal ini. Pendeta juga manusia.

Profesi pendeta tidak selamanya membuat pendeta menjadi sosok serius dan dingin. Sekelompok pendeta bisa punya rasa humor yang tinggi dan kreatif, mereka bisa menghadirkan tawa yang terus berderai saat mereka tampil dalam acara Ludruk Seduluran. Mereka hanya berlatih sekali di sore hari saat peserta lain beristirahat setelah tiba di Hotel. Semua bisa tertawa renyah dan gembira. Penampilan mereka diakhiri dengan pengundian hadiah sebuah Laptop. Undian yang diambil oleh pemain gamelan membuat seorang pendeta dari sebuah kota kecil beruntung mendapatkan laptop itu. Dengan spontanitas dan suasana humor seorang pemain Ludruk menyerahkan Laptop itu dengan celetukan kata "Pendeta Duafa". Gara-gara celetukan itu, malam hari itu panitia memanen protes dari beberapa peserta. Kreatifitas ternyata juga bisa berdampak kebablasan juga.

Pendeta GKI juga bagai suluh dalam kedisiplinan. Kebaktian kita yang teratur. Jam kebaktian yang selalu tepat waktu. Peyusunan program tahunan yang detail. Ketaatan pada Tata Gereja. Semua itu menjadikan sosok pendeta sebagai sosok penuh kedisiplinan. Di hari kedua panitia mengalami masalah dengan bus yang tidak datang. Bus yang seharusnya datang di Hotel Purnama, ternyata datang di GKI Diponegoro. Mereka salah melihat jadwal. Jadilah panitia harus berimprovisasi dengan armada yang ada untuk mengantar para peserta menuju 9 lokasi Sambang Dulur. Dengan kondisi darurat itu, ternyata ada juga bis yang tidak kunjung berangkat, padahal jadwalnya sudah terlambat sekitar satu jam. Bis itu harus menunggu satu orang pendeta yang belum naik dan tidak tahu dimana keberadaannya. Akhirnya sang pendeta datang juga dengan berlenggang kangkung dan tidak ada ketergesaan dan biasa saja. Betapa menggemaskannya.

Saat pendaftaran peserta, para pendeta sudah ditanya soal kebutuhan pengantaran ke tempat pemberangkatan saat mereka akan kembali ke kota masing-masing. Ternyata hanya beberapa orang saja yang menyatakan membutuhkan bantuan pengantaran ke Bandara Abdurahman Saleh, Bandara Juanda maupun stasiun kereta api. Dihari kedua, ternyata jumlahnya meledak. Dari delapan orang yang terdaftar untuk diantar ke Bandara Abdurahman Saleh meledak menjadi delapan puluh orang. Seksi Transportasi kelabakan. Belum lagi ada yang minta dengan jadwal khusus. Jam sembilan pagi dari hotel, jam sepuluh, jam sebelas.... macam-macam lah. Saat ada pendeta bertanya,"Pak, apa besok bisa mengantar ke Bandara Juanda Jam 9 pagi?" Setahu saya jadwal itu tidak ada, saya menjawab," Tidak bisa, Bu!" "Lho, jangan menjawab tidak bisa Pak. Ya harus diusahakan!" Saya senyum saja, memang saya tidak seharusnya langsung menjawab begitu. Tapi apakah Beliau sadar bahwa Beliau juga tidak boleh bilang tidak bisa saat mengisi jadwal pulangnya waktu pendaftaran dulu? Tidakkah mereka sadar bahwa tidaklah mudah mengurus transportasi dengan batas waktu yang sudah mendesak itu?

Di hari kedua peserta diajak untuk rekreasi ke Jatim Park 2. Selepas acara Sambang Dulur mereka makan siang dan bersiap untuk masuk ke areal Jatim Park 2. Panitia sudah menyiapkan tanda masuk yang berupa gelang. Beberapa peserta mengurungkan niatnya setelah tahu bahwa harus berjalan kaki cukup jauh di dalam areal Secret Zoo maupun Museum. Beberapa peserta mau langsung balik ke hotel saja. Tidak ada masalah dengan keputusan itu. Hanya saja ada peserta yang langsung membuang tanda masuk itu. Tidak tahukan mereka bahwa tanda masuk itu tidak murah? Harga gelang kertas itu Rp. 50.000,oo. Tidakkah mereka bisa merasa sayang dan mengembalikan agar bisa digunakan oleh orang lain? Bisa jadi kelelahan memang meniadakan kepekaan akan hal ini. Semoga di ladang pelayanan yang sebenarnya, saat mereka lelah mereka tidak kehilangan kepekaan akan nilai-nilai lainnya.

Saat bergaul dengan para Pendeta itu, saya juga bisa merasakan bagaimana mereka juga pernah di"zalimi" oleh jemaatnya juga. Ada pendeta yang bernostalgia tentang temannya yang pernah dihalangi proses kependetaanya karena ada jemaat yang menulis surat keberatan. Alasannya, karena Beliau dulu pernah mau membunuh kucing. Pendeta yang bersangkutan lalu menyambung," Iya, jemaat itu bilang, lha wong sopir aja kalau ada kucing menghindar. Eh, ini koq ada pendeta malah mau mbunuh kucing" Saat itu saya langsung teringat anekdot tentang sopir yang lebih mampu membuat orang lain berdoa dibandingkan pendeta. Ya, karena sopir itu sering menyetir dengan ugal-ugalan sehingga selalu membuat penumpangnya berdoa. Ada juga kisah menyentuh perihal ketaatan pendeta dan keluarganya dalam menjalani panggilan pelayanannya. Ketaatan di dalam kondisi yang serba minim, yang memaksanya harus berpakaian dalam dengan bahan kain bekas kantong tepung terigu.

Di Jatim Pak 2, siang itu ada seorang pendeta yang menyapa, "Anda menantunya Pak Harry ya?" Saya heran. Saya merasa tidak kenal wajah itu. "Saya pernah melayani di Bondowoso" Saya melirik tanda pengenalnya. "Ya, saya ingat Bapak!" "Pak Yahya! Bapak di Bondowoso tahun 79 atau 80an" Saat itu saya masih anak-anak. Saya ingat beliau karena dulu beliau kalau ke rumah saya mengendarai sepeda motor "Magnet" warna abu-abu. Itu benar-benar sepeda motor dengan arti harafiah. Bentuknya mirip sepeda dan bermotor. Ada pedalnya dan untuk mengerem caranya dengan menggenjot pedalnya ke arah belakang. Tahun itu sebenarnya sudah ada sepeda motor yang lebih modern, Yamaha bebek Autolube. Beliau sangat bersahaja dalam pelayanannya dulu. Itulah yang membuat saya ingat akan Beliau.

Semua rasa sudah berpadu dalam konven itu. Banyak cerita suka dan duka terjadi. Ada pendeta yang kehilangan tas, ada juga yang kehilangan kamera. Tapi yang jelas tidak ada yang kehilangan semangat untuk tetap terus bertumbuh dan melayani. Itu karena Pendeta juga manusia dan KITA PUNYA SAHABAT.

(kelanjutannya.....)

26 Juli 2011

Melihat Melalui Angka

Beberapa saat yang lalu, saya kembali sibuk dengan training dari JETRO (Japan External Trade Organization). Kali ini saya ditawari sebagai salah satu Sub-Instruktur, karena saya telah lulus ujian sertifikasinya tahun yang lalu.. Saya senang saja, sebab saya pikir ini kesempatan untuk belajar dan pasti tidak terlalu sulit, namanya juga Sub-Instruktur, paling cuma bantu-bantu saja. Pembicara utamanya pasti seorang senior expert dari Jepang dan dibantu oleh seorang penerjemah.
 
Pada hari pertama sang expert hanya membuka dengan perkenalan dan kemudian meminta rekan saya untuk mulai mengajar, saya dijadwalkan untuk hari ketiga dan keempat.namun, pada sesi kedua hari itu saya sudah diminta untuk mengajar. Bisa jadi karena rekan saya tadi dianggap kurang bisa mengajar dengan baik. Saya kaget dengan kondisi itu. Saya merasa jengkel dengan keadaan ini. Saya merasa dikerjai oleh expert dari Jepang itu. Saya pernah mendengar tentang honornya yang tidak murah. Beliau seorang senior, biaya mereka ke Indonesia saja sudah tidak murah, belum lagi akomodasi dan fasilitas yang disediakan. Mereka yang terima honor koq malah saya yang disuruh mengajar. Bukannya saya malas untuk mengajar, tapi saya sudah punya prasangka negatif tentang mereka. Kadang saya merasa bahwa mereka itu sekedar bagi-bagi sertifikat, tanpa benar-benar memperhatikan kualitas pengajaran mereka dan orang-orang kita sudah diperdaya. Mungkin inilah bentuk penjajah yang baru. Saya merasa galau dengan kondisi ini. Saya merasa instruktur itu mau menangnya sendiri. Dia makan gaji buta. Itu yang ada dibenak saya. Beliau tidak bisa berbahasa Indonesia, bagaimana beliau bisa mengontrol materi yang saya ajarkan?
 
Perasaan itu cuma bisa timbul dibenak saja, tetapi saya sendiri tetap harus bisa mengajar dengan baik, karena paling tidak saya harus menjaga nama baik saya pribadi. Apalagi para pesertanya dari beberapa perusahaan besar, juga beberapa orang dari ATMI Solo, sekolah yang sangat terkenal dalam hal perbengkelan. Ada juga dari UK Petra. Rasanya saya bukan apa-apa bila dibandingkan mereka. Jadi saya merasa jangan sampai memalukan.
 
Materi pelatihan itu adalah sistem manajemen berdasarkan prinsip 5 S. Suatu prinsip yang banyak diterapkan oleh banyak perusahaan di Indonesia dengan mengadopsi sikap dan nilai budaya Jepang. 5 S itu seiri (pemilahan), seiton (penataan), seiso (pembersihan), seiketsu (pemantapan) dan. shitsuke (pembiasaan). Dengan melakukan lima sikap dasar itulah sistim manajemen perusahaan dibangun.
 
Saya mengajar terus hingga semua sesi pelatihan itu selesai. Selama seminggu mulai dari jam 8.00 sampai 17.00. Kejengkelan itu tetap ada namun saya tetap menganggap ini adalah sebuah tantangan untuk bisa mengajar orang lain yang dari latar belakang perusahaan yang lebih besar dari perusahaan saya. Banyak dari mereka yang sudah menerapkan sistem 5S ini di perusahaannya. Sayapun  tetap berusaha melibatkan sang expert untuk memberikan contoh-contoh yang pasti dia banyak miliki. Saat sesi terakhir usai, sang expert mengundang saya untuk makan malam. Kejengkelan itu timbul lagi, saya merasa dikerjai dan dia cuma berbagi makan malam saja. Tapi buat apa saya marah. Malam itu kita makan malam bersama dan minum bir. Saya cuma ingat saat saya pernah di India dan seorang tuan rumah disana menjamu saya dengan  sangat baik. Saat saya tanya alasannya, dia mengatakan bahwa di budayanya seorang tamu asing itu seperti seorang dewa yang hadir untuk dilayani. Mereka harus melayani tamu asing dengan sangat baik. Yah, sayapun ingin melayani Bapak ini dengan baik.
 
Di akhir makan malam itu, Sang Expert itu meminta saya untuk hadir lagi keesokan harinya. Ah, saya tambah jengkel. Besok itu acara utamanya adalah ujian sertifikasi. Jadi pasti saya tidak ada kegiatan apa-apa lagi. Masak saya masih harus diminta untuk menjaga kelas ujian lagi? Saya tambah jengkel lagi. Tapi tidak kuasa untuk menolak hanya demi sebuah kesopanan dan keramahan. Betapa munafiknya saya, dan betapa enaknya Sang Expert ini. Makan gaji buta! Itu umpatan saya di dalam hati.
 
Besoknya, saya hadir di ujian kompetensi yang diadakan. Hanya sekedar membatu mengatur meja kursi dan membagikan soal. Ujian itu terdiri dari seratus soal benar atau salah. Bila menjawab dengan benar akan mendapat angka satu, bila tidak dijawab mendapat nilai nol, bila salah menjawab akan dikurangi satu angka. Kelihatannya mudah dan simpel, tapi kalimat-kalimatnya cukup membingungkan. Kadang kita bisa sempat berpikir apa ini yang salah terjemahannya? Tapi semuanya harus diputuskan benar atau salah. Peserta dianggap lulus bila mendapat nilai minimal 60.
 
Saya merasa dikerjai. Tapi demi kesopanan dan keramahan saya harus tetap bersikap baik. Itu perasaan saya saat ujian berlangsung.
 
Ujian usai, lembar jawaban dan soal kembali dikumpulkan. Sang Expert memeriksa jawaban itu dan memberikan penilaian. Saya dipanggil. Kita mulai berbicara perihal hasil ujian itu. Dia berbicara banyak tentang penampilan saya dalam mengajar. Dia memuji kemampuan saya menguasai kelas dan dia memberitahukan bahwa dulu saya lulus dengan nilai tertinggi, karena itu dia minta saya untuk membantunya. Tapi dia juga mengungkapkan bagian-bagian mana yang saya ajar dengan kurang menguasai. Saya kaget, bagaimana dia bisa tahu? Saya mengajar dalam bahasa Indonesia, mana dia mengerti? Dia juga mengungkapkan bahwa ada peserta yang aktif saat berdiskusi, tapi sebenarnya dia tidak menguasai bahan pembicaraan itu dengan baik. Dia mengungkapkan materi-materi yang kurang saya tekankan secara khusus walau itu sangat penting sebagai suatu teori dasar. Semua yang disampaikannya saya merasakan sebagai suatu yang benar. Saya kaget, bagaimana dia bisa tahu itu?
 
Dia kemudian membukakan hasil ujian itu. Di beberapa nomer banyak peserta yang salah menjawab, jadi dia pastikan bahwa saya salah mengajar di materi itu. Ada juga dua peserta yang tidak lulus, dan mereka berasal dari perusahaan besar yang sudah menerapkan 5S itu. Dua orang inipun selalu aktif memberikan pendapatnya bila ada diskusi. Jadi, Sang Expert menilai dua orang ini hanya pandai berbicara tapi tidak menguasai topik dengan baik. Dia juga memuji sikap seorang peserta dari UK Petra yang mendapatkan nilai tertinggi. Sikapnya dalam mengerjakan ujian sangat baik. Peserta itu tidak langsung bekerja, tapi memeriksa semua soal terlebih dahulu. Sikapnya dan hasilnya sungguh mengesankan Beliau.
 
Saya kagum, ternyata Beliau memang seorang expert yang mampu menilai dengan sangat baik. Dengan mengamati dan melihat angka dia bisa mengambil kesimpulan yang benar perihal suatu kegiatan yang tak dapat dia ikuti dengan penuh karena keterbatasan bahasa. Rasa jengkel seminggu ini sirna dan berubah dengan kekaguman akan kemampuan Beliau. Beliau mampu membaca melalui angka. Dari hasil ujian itu, dia mampu menilai apakah saya mengajar dengan baik atau tidak. Dari jawaban yang salah dia bisa menilai materi mana yang kurang saya kuasai. Dari angka dia mampu menarik suatu kesimpulan. Sayapun sadar bahwa sebenarnya hari ujian itu adalah hari ujian bagi saya, karena di hari itu Beliau menilai apakah saya sudah menyampaikan materi dengan benar atau tidak. Makanya jangan sok jengkel duluan.......
(kelanjutannya.....)

17 Juli 2011

Biasa dan Luar Biasa

Saya senang sekali di setiap kebaktian yang dipimpin Pdt Claudia, karena setelah Votum dan Salam beliau selalu menyapa jemaat dengan "apa kabar?". Beragam sambutan jemaat, ada yang menjawab, "baik", tapi ada juga yang "luar biasa..". Kalau saya mungkin, "biasa-biasa saja". Beragam pernyataan perihal kehidupan yang diungkapkan jemaat. Saya sering merasa buat apa saya melebih-lebihkan keadaan yang ada. Bagi saya itu cuma sekedar bagaimana kita meletakkan standard nilai kita. Keadaan ini bisa dianggap luar biasa, walau sebenarnya ya tiap harinya juga begini ini saja. Tapi atas nama semangat untuk berpikir positif maka kita bisa menganggapnya luar biasa agar kita tidak nampak pesimis. Ilmu NLP juga mengajarkan begitu.
 
Saat ada orang bertanya, "bagaimana bengkelmu?"
"Yah, begini-begini saja."
"Lho, masak tidak ramai?"
"Ya, kalau mau ramai nanti tiap pegawai saya suruh pukul-pukul besi, pasti jadi ramai...."
 
Minggu ini ada cerita menarik yang terjadi. Seorang teman lama menelpon. Tadinya dia bermaksud meminta saya untuk memberitahu seseorang tentang tagihan yang belum terbayar. Bukan saya yang membeli barang dari dia, tetapi seorang rekan dan meminta mengirimkannya ke tempat saya. Barang itu belum terbayar, dia sungkan untuk menagihnya, jadi saya yang diminta tolong untuk menyampaikannya. Sesuatu yang biasa. Kemudian kita mengobrol tentang segala hal yang lain. Terlalu lama kita tidak bertemu, jadi banyak cerita yang bisa diomongkan. Saya teringat akan janjinya yang belum terwujud untuk mengunjungi bengkel saya. Disinilah awal kisah itu.
 
Beberapa waktu lalu, entahlah beberapa bulan yang lalu, dia pernah meminta tolong untuk menitipkan forklift (alat pengangkut barang berat) di bengkel saya. Dia memang punya usaha jual beli forklift bekas. Dia katanya mau membeli forklift bekas dari sebuah pabrik yang tidak jauh dari bengkel saya, dia mau menitipkan dulu untuk direparasi sebelum dibawa ke tempatnya. Kami berteman sangat lama, jadi saya menyetujui saja. Tapi karena forklift itu sangat besar, saya memintanya untuk meninjau apakah tempat saya cukup untuk itu. Siang itu dua orang anak buahnya datang  meninjau dan bilang bahwa tempat saya cukup. Setelah itu saya pergi dan saya lupa akan kejadian itu. Ternyata forklift itu tidak pernah datang ke tempat saya. Sayapun lupa akan rencana itu lagi.
 
Saya teringat untuk menanyakan hal itu kepadanya. Dia kemudian bercerita. Sore itu dia sudah ada di depan bengkel saya untuk meninjau, tapi ternyata forklift itu mengalami ban kempes di jalan raya sebelum masuk ke kompleks bengkel saya. Dia harus melepas ban untuk menembelkannya. Saat itulah dia ditangkap polisi. Dia dituduh mencuri forklift. Dia membeli forklift itu dari sebuah pabrik melalui seorang perantara. Dia membayar tunai ke perantara itu. Forklift itu dikeluarkan dari pabrik dengan surat resmi yang diketahui oleh kepala pabrik dan kepala satpam pabrik itu. Semuanya resmi. Masalahnya ada di kepala pabrik itu. Dia menjual barang itu tanpa sepengetahuan pemilik pabrik. Masalah ini jadi urusan polisi yang pasti menguras banyak tenaga, waktu dan dana.
 
Saya tidak tahu menahu tentang hal ini sebelumnya. Diapun sebenarnya tidak ingin lagi bercerita tentang ini, karena itu hal yang sangat pahit buatnya. Saya hanya merasa bahwa bengkel saya berjalan seperti biasanya saja. Begini-begini saja. Dari cerita dia, saya baru kaget. Ah, bila saat itu forklift itu ada di bengkel saya, pasti sayapun kena dampaknya. Tuduhan sebagai penadah bisa jadi beban tambahan saya. Sayapun  bisa dianggap bersekongkol dengannya. Segalanya bisa kacau. bengkel saya bisa di"police-line"kan dan tutup sementara. Tapi kenapa forklift itu bisa kempes sebelum masuk ke tempat saya? Ini yang saya rasakan sebagai sesuatu yang luar biasa.
 
Saya tercekat. Kaget! Ternyata saat saya merasa semuanya biasa-biasa saja, ada suatu perlindungan yang luar biasa yang sedang terjadi. Meski yang luar biasa itu tidak saya rasakan dan ketahui, tetapi itu terjadi untuk menghasilkan sesuatu yang saya anggap biasa ini. Ternyata ada hal luar biasa yang terjadi untuk sesuatu biasa-biasa saja.
 
Terima kasih Tuhan untuk tiap hal biasa yang saya terima dan untuk tiap hal luar biasa yang tidak saya rasakan yang telah terjadi untuk saya.
(kelanjutannya.....)

06 Mei 2011

GKI Bondowoso yang tidak ada matinya

18 April 2011, ada penahbisan Pdt. Martin K. Nugroho M.Div. sebagai pendeta GKI Bondowoso, sekaligus peresmian gedung GKI Bondowoso setelah direnovasi besar-besaran.
 
Saya sempat hadir mulai Sabtu malam saat mereka melakukan gladi kotor. Kehadiran saya sebenarnya bukan untuk  mendukung acara itu. Sabtu itu mertua saya ulang tahun, jadi malam itu saya memang menjemput beberapa famili yang seharusnya mengikuti acara gladi kotor dan "menculik" mereka untuk makan malam bersama, salah satu menunya pangsit goreng kesukaan Yahya Juanda. Saat tiba di gereja acara memang sudah hampir selesai, tapi di sana-sini masih banyak orang sibuk yang harus mengatur banyak hal. Sangat ramai dan menyenangkan bisa melihat banyak orang yang tidak saya kenal sebelumnya.
 
Gedung gereja ini direnovasi besar-besaran, rasanya kini tidak kalah bagus dan mewah dengan gereja-gereja di kota-kota besar lainnya. Saya mengatakan ini bukannya sebagai suatu kesombongan, tapi benar-benar suatu kekaguman. Saya dibesarkan di gereja ini dan tahu persis pergumulan dan sumber daya yang mereka punyai. Tujuh tahun ini mereka tidak berpendeta, kondisi jemaat juga terpecah dengan dilahirkannya gereja "baru" di seberang pastorinya. Betapa terpuruknya masa itu. Sungguh ini mujizat dimana ada jemaat dan pelayanan yang tidak ada matinya ini.
 
Saat saya melihat banyak orang sibuk itu, saya mencoba mengingat siapa saja beliau-beliau itu. Bisa jadi saya memang tidak mengenalnya, tapi kemungkinan besar saya mengenal keluarganya. Banyak diantara mereka adalah orang baru. Kini mereka bisa aktif melayani, ada yang menjadi pembawa acara, ada pemain musik, yang tidak hanya organis. Dulu untuk mencari seorang organis saja, gereja ini kesulitan. Kini di warta jemaatnya, ada foto latihan organis yang diikuti oleh 6 orang remaja. Ada Ibu yang mau mempersiapkan kostum untuk anak-anak sekolah minggu. Ada juga yang sibuk mempersiapkan sound-system dan peralatan elektronik lainnya. Semuanya kini ada dan bergerak. Bahkan ternyata arsitek gedung baru inipun adalah anak jemaat sendiri.
 
Saat masuk di halaman gereja, ada papan nama yang berisi jadwal ibadah. Yang menarik, Sabtu itu, ada tulisan dibawah papan nama itu "Gedung ini berdiri atas jasa Bp. Haji Atmo Diwirjo". Suatu ungkapan penghargaan setinggi-tingginya kepada almarhum Pak Atmo yang dulu menghibahkan tanahnya untuk gedung gereja ini. Memang kini tulisan itu tidak ada lagi, karena pihak keluarga beliau kurang berkenan atas pencantuman kalimat itu. Keluarga itu tetap punya hubungan yang baik, saat peresmian itupun mereka meminjamkan halaman rumahnya untuk menampung luberan jemaat yang ada. Gereja ini terletak di samping rumah keluarga Pak Atmo.
 
Kehadiran Pdt. Martin memang memberikan banyak perubahan di Bondowoso. Keluarga pendeta ini memang sepertinya disiapkan untuk menghadirkan roh baru di jemaat Bondowoso. Ibu Irma (istrinya) mampu mendukung dengan bakat seni dan musiknya. Beliau melatih banyak anak dan remaja, menari, menyanyi, bermain musik. Sering juga Ibu Irma mengiringi musik di kebaktian minggu, dengan keyboard maupun biola. Keluarga ini memang menjadi motor perubahan di Bondowoso.
 
Ketekunan Pdt. Martin untuk mengunjungi jemaat yang sudah lama tidak muncul atau sempat "sakit hati" sanggup menaikkan jumlah kehadiran di tiap kebaktian dan kegiatan gereja. Komunikasipun juga dirintis dengan "gereja baru" yang tadinya "kompetitor" kini diajak untuk bekerja sama. Semua mulai berubah dan bertumbuh, peresmian gedung gereja itu seakan menjadi satu titik perhentian untuk bersyukur atas segala anugerah dan perubahan yang ada. Perhentian untuk sejenak bersyukur dan kemudian melanjutkan perjuangan yang lebih besar lagi. Saat sambutan peresmian oleh Wakil Bupati Bondowoso, beliau berkata,"Saya kagum dengan gedung ini, karena interiornya menggunakan bahan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, khususnya di Bondowoso ini....." Interior gereja ini memang menggunakan ekspose serutan kayu dan semen.
 
Saat acara berlangsung, Pak Charles Sihombing berkata,"Sound systemnya bagus ya..." Saya heran, karena peralatan yang ada adalah peralatan yang saya tahu sudah lama ada. Saya lihat ada dua orang yang diminta hadir khusus untuk membantu mengaturnya. Segala sesuatu mungkin bisa maksimal kalau kita mau mengatur dan mendayagunakan dengan penuh rasa syukur terhadap apa yang ada.
 
GKI Bondowoso ini bisa menjadi monumen pernyataan kuasa dan komitmen Tuhan akan penyertaanNya dalam pelayanan kita. Ini juga menjadi bukti akan hasil sebuah komitmen yang mau kita persembahan untuk Tuhan. Pdt. Martin memilih thema "Hatiku Persembahanku" untuk penahbisannya. Itu pernyataan Imannya dan itu juga yang menjawab rahasia di balik semua pencapaian ini.
Persembahan hati itulah yang pasti melandasi kemauan beliau untuk memilih menjadi pendeta meninggalkan dunia bisnis yang harusnya dia nikmati. Juga saat beliau memilih GKI Bondowoso, bukan dua GKI kota besar lainnya. Beliau sudah membuktikan komitmen "Hatiku Persembahanku".
 
Jemaat Bondowoso yang tergerakkanpun tidak kalah hebatnya. Mereka mampu mengimbangi semangat pelayanan yang tumbuh ini dengan mempersembahkan semua talenta dan semangat yang ada. Pembangunan itu bukan berarti tak berkendala. Mereka sudah menyatukan hati untuk menghadapi dan mengatasinya. Jemaat yang tergerakkan inipun akhirnya mampu memberikan imbal balik suasana pelayanan yang penuh rasa kekeluargaan. Keakraban diantara jemaat pasti akan kembali memupuk dan mengobarkan semangat pelayanan Pendeta, Majelis Jemaat, dan badan pelayanan lainnya. Suatu mata rantai proses yang mulai terjalin dan akan terus bertumbuh.
 
Hanya dari sebuah "Hatiku Persembahanku" ada sebuah lahan subur dimana pelayanan menjadi tidak ada matinya.
(kelanjutannya.....)