17 Maret 2013
Mengantar Anak Sekolah
08 November 2012
Membaca Perilaku
26 Oktober 2012
Live in Klenteng
Arca yang menjadi pusat pemujaan di Klenteng ini berasal dari abad 14. Menurut penelitian para arkeolog, itu arca Tri Buana Tunggadewi dari kerajaan Majapahit. Karena ini ditemukan oleh komunitas orang Tionghwa, maka mereka menyebut arca wanita ini adalah Kwan Im, Dewi Welas Asih. Maka jadilah Klenteng ini menjadi tempat pemujaan Dewi Kwan Im. Klenteng ini sudah berdiri sejak abad 17 dipinggir laut di desa Candi Kabupaten Pamekasan, Madura. Di lingkungan klenteng ini ada 7 sumur yang airnya tawar dan jernih. Di luar pagar Klenteng air sumur selalu asin, sehingga masyarakat sekitar selalu mengambil air di dalam klenteng untuk kebutuhan sehari-hari mereka.
Hampir semua diantara kita yang baru kali ini masuk, mengamati dan mendapat penjelasan tentang semua yang ada di Vihara, khususnya Avalokitesvara ini. Itu nama lain dari Klenteng Kwan Im Kiong ini. Saya juga baru tahu soal TITD, Tempat Ibadah Tri Darma. Tri Darma, karena mereka menyediakan pemujaan untuk tiga agama. Ada Budha, Ada Kong Hu Cu, Ada Tao. Ini semua terjadi karena situasi politik yang timbul sejak peristiwa 1965, saat budaya Tionghwa dilarang, termasuk agama Kong Hu Cu. Mereka harus berlindung di dalam Agama Budha.
Sebagian peserta berbaur bersama umat yang melaksanakan ritual rebutan. Bermacam panganan diperebutkan saat pemimpin ritual menyatakan “Pak Pwe”. Undian yang merupakan pertanda bahwa semua sesaji itu sudah selesai dihidangkan untuk para leluhur mereka.
Sebagian lagi, aktif berbincang dengan umat yang ada. Mendengarkan penjelasan tentang apa saja di Klenteng itu. Ada yang belajar tentang ritual ramalan melalui ‘Jiam Sie”. Ada yang belajar cara mengatur tangan saat memberikan salam “Pai”. Tangan kanan ditutup oleh tangan kiri, kedua jempol dipertemukan, merupakan simbol kedua orang tua kita. Delapan jari lainnya merupakan simbol delapan dasar ajaran kehidupan. Suasana begitu akrab dan ceria.
Kegiatan ini tidak hanya berguna menambah pengetahuan kita. Diluar acara, kami berbincang santai. Apa yang kita lakukan saat ini merupakan suatu yang mengejutkan mereka. Memang sering ada gereja yang meminjam tempat mereka, tetapi tidak pernah melibatkan mereka. Baru kali ini ada Gereja yang meminta mereka berbicara menjelaskan perihal ritual dan agama mereka. “Anak dan istri saya sudah menjadi Kristen” Kata Bapak Imam Santoso, pemimpin ritual Sembahyang Rebutan. “Bila kemari, mereka tidak mau turun dari mobil, apalagi makan bersama di Klenteng ini”. Ada juga komentar: “Awalnya secara internal banyak diantara kita yang bertanya-tanya apa maksud Gereja datang kesini”. “Beberapa orang diantara kita mencurigai rencana ini”.
Saat acara tanya jawab, memang terasa bahwa ada sesuatu yang harus dipahami diantara kita. Ada peserta yang bertanya, “Apakah tidak terjadi kultus individu?” Saat itu dijelaskan bahwa mereka memuja para orang yang mereka anggap berjasa dalam kehidupan ini, termasuk orang tua dan leluhur mereka. Sang pembicara menangkap makna nada negatif dari sang penanya dan berusaha membela konsep itu, namun sang penanya juga tidak merasa bahwa “kultus individu” itu bukan sesuatu tabu bagi umat Kong Hu Cu. Dua kondisi yang punya dua nilai dasar yang berbeda. Sempat juga terungkap, ”Istri saya yang menjadi Kristen sudah sering menanyakan saya, apa jadinya nanti bila dia mati dan masuk surga. Kemana saya akan masuk? Tapi saya tidak takut koq” Mereka tidak mengenal konsep kehidupan sesudah kematian. Jadi bagi mereka surga bukan sesuatu yang penting. Kebajikan dan kebaikan hidup ini lebih penting dari pada mengejar kehidupan setelah kematian.
Hingga acara ini berakhir, bisa jadi tidak ada penginjilan ataupun pemberitaan kasih Tuhan Yesus bila hanya dilihat dari tidak adanya seorangpun dari mereka yang mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka. Tetapi tidak bagi saya yang terlibat penuh berinteraksi dengan mereka semenjak pertemuan pertama, saat kami survai lokasi ini bulan yang lalu. Ada perbedaan sorot mata mereka, awalnya mereka penuh selidik tentang maksud kedatangan kami. Hari itu setelah acara ini selesai, mereka mengungkapkan keheranan dan penghargaannya atas kesediaan kita untuk hadir di sana. Mereka telah melihat sosok kelompok Kristen yang lain, yang mau bergaul bersama dan menghargai mereka. Saat itu kami merasa mampu menghadirkan Kasih Yesus yang juga mampu menentramkan hati mereka. Kasih Yesus yang ada untuk mereka rasakan melalui kegiatan ini. (kelanjutannya.....)
22 April 2012
Live in Tengger
Tengger memang berasal dari nama Roro Anteng dan Joko Seger, pelarian dari Kerajaan Majapahit, meski kebudayaan di sana sudah ada jauh sebelumnya. Ada prasasti yang ditemukan yang merupakan peninggalan masa kerajaan Singosari. Hingga kini mereka masih berkomunikasi dengan bahasa yang mereka yakini sebagai bahasa Jawa Kuno. Bahasa yang kedengaran asing walau saya fasih berbahasa Jawa. Mereka menggunakan banyak bunyi A bukan O seperti lazimnya bahasa Jawa.
Malam itu kami belajar dari Bapak Dukun Pandhita, juga Bapak Bambang selaku Ketua Parisadha, dan Bapak Atmo selaku Guru Agama, dipandu oleh Pdt. Simon Filantropa. Mereka menerima dan menyambut kami dengan sangat baik. Bapak Dukun Pandhita selaku orang yang paling disegani di komunitas itu mengawali pembicaraannya dengan menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan yang pernah diterima oleh masyarakat Tengger pada musibah yang lalu. Ini menunjukkan hubungan yang indah yang sudah terbentuk antara mereka dan GKI Sinode Wilayah Jawa Timur.
Awal 2011 mereka mengalami musibah hujan abu/pasir yang meluluhlantakkan desa dan kehidupan mereka. Sisa-sisatimbunan pasir masih ada dimana-mana. Tebalnya ada yang 50 cm sampai satu meter. Banyak rumah roboh karena atapnya tidak mampu menahan beban abu/pasir setebal itu, termasuk gedung SD desa itu. Secara ekonomi mereka jadi terpuruk, karena seluruh tanah kebun mereka tertutup pasir yang mengandung belerang yang tidak memungkinkan mereka bercocok tanam lagi. Memang hujan bisa mengikis pasir itu dan perlahan-lahan kini mereka mulai bisa bertanam lagi. GKI SW JATIM pernah membantu mereka dengan bersama-sama menanam bibit bawang dan kubis.
Secara budaya mereka pernah mengalami tekanan. Sebelum tahun 1978 masyarakat Tengger dipaksa untuk menjalankan ritual agama Budha oleh pemerintah, meskipun mereka tidak mengakui Sidharta Gautama. Sejak tahun 1978 baru mereka diakui sebagai bagian dari agama Hindu. Mereka berbeda dengan Hindu Bali dalam penggunaan bahasanya. Hindu Bali menggunakan bahasa Sansekerta sedangkan mereka menggunakan bahasa Jawa. Bila di Hindu Bali ada Karma, maka mereka menyebutnya Kualat. Hindu Bali mengenal Kasta, sedangkan mereka tidak. Mereka juga menggunakan "pasaran" (hitungan hari) Jawa. Mereka beribadah di pura pada setiap Kliwon. Budaya Jawa terasa sangat kuat terjalin dengan agama Hindu mereka. Perhitungan-perhitungan hari baik untuk melakukan suatu kegiatan menjadi bagian hidup mereka. Mereka menghitung hari yang tepat untuk menanam. Bila yang ditanam adalah tanaman kubis maka perhitungan harus jatuh pada buah. Bila yang ditanam adalah kentang maka perhitungan harus jatuh pada "oyot" (akar).
Seorang Dukun Pandhita adalah pemimpin spiritual yang tertinggi. Ia harus seorang laki-laki dan merupakan keturunan Dukun Pandhita sebelumnya dan harus lulus ujian membaca mantra di "Ponten" di gunung Bromo. Untuk beradaptasi dengan kemajuan jaman, maka sekarang ada syarat tambahan yaitu minimal harus lulus SMP.
Semua peserta dapat dengan bebas bertanya apa saja. Ada yang menanyakan perihal jendela kaca menghadap ke jalan yang ada di kamar mandi yang digunakannya. Dia kaget dengan jendela yang memungkinkan orang yang lewat melihat orang yang sedang mandi. Pak Atmo menjawab, itu bukan bagian dari budaya, tetapi itu dampak dari bencana. Dulu sebelum bencana, jendela itu cukup tinggi letaknya dari jalan sehingga tidak memungkinkan orang lewat melihat ke dalam. Pasir Bromo telah menimbun jalan itu setinggi satu meter , sehingga jendela itu kini tidak terlalu tinggi lagi.
Pada hari kedua kami bermain bersama 69 siswa SD di desa itu. Pak Raden Satriadi memimpin acara itu. Mereka kini harus belajar di tenda. Gedung kelas mereka telah roboh. Kita melihat mereka dengan rasa prihatin,namun mereka tampak tetap bersemangat. Tahun lalu saat mereka baru dilanda bencana, salah seorang murid berhasil mencapai nilai UNAS matematika yang tertinggi. Saat itupun, dua siswa tidak dapat bermain bersama kami karena harus mengikuti seleksi Olimpiade IPA di kota. Semuanya ini pasti karena pengabdian para guru.
Tak heran pada saat permainan yang mengharuskan mereka menyebutkan cita-citanya, sebagian besar dari mereka menyatakan bercita-cita menjadi guru. Bapak dan Ibu Guru mereka pasti telah menjadi sosok yang ingin mereka teladani.
Pak Raden membuat suasana permainan itu menjadi meriah dan mendidik. Kamipun kagum dengan semangat dan kenyataan yang harusnya tidak sebanding dengan kendala dan keterbatasan yang mereka alami. Di permainan terakhir Pak Raden membagikan beberapa lembar kertas kepada masing-masing kelompok. Mereka diminta untuk membuat bangunan apa saja dengan kertas itu. Sebuah kelompok membuat bagunan rumah di pinggir mejanya. Ada jendela dan pintu di rumah itu. Saat ditanya kenapa di dinding yang ada tepat di pinggir meja itu tidak ada jendelanya? Seorang anak menjawab ,"Tidak perlu,Pak. Sebab di situ khan jurang…" Mereka sanggup berimajinasi dan semoga bisa terus menghidupkan dan mewujudkan keindahan imajinasinya itu.
Saat permainan usai, kami membagikan bingkisan buat mereka. Kami kemudian memohon pamit. Bapak Kepala Sekolah memohon kami menunggu sebentar. Ternyata mereka telah mempersiapkan tarian untuk menghantar kami. Mereka menari "Jaran Kibar" dengan diiringi musik gendang yang dimainkan oleh siswa SD itu. Sungguh suatu tampilan yang indah dan mengharukan. Keterbatasan tidak membuat mereka menjadi penerima saja, tetapi mereka mampu memberikan apa yang mereka sanggup berikan dan persembahkan. Kearifan yang menjadi kekayaan nurani mereka.
Acara ini memberi banyak pencerahan tentang realitas keberagaman di masyarakat kita. Panggilan untuk menjadi berkat bagi sesama menuntut untuk mau mengenal semua sesama itu dengan lebih baik.
Sampai jumpa di acara Live-In berikutnya.
24 Desember 2011
Saya Ingin Diberi Di Natal Ini
Hari ini saat Natal ini mau datang lagi, saya berpikir keras untuk memberi lagi. Tapi bolehkan saya berhenti untuk memberi? Ataukan saya sudah harus bertobat dan berhenti memberi di hari Natal kali ini? Saya jadi ingin diberi di hari Natal ini.
Saya ingin diberi, karena bisa jadi saya sudah terlalu terbiasa untuk memberi. Saya terlalu biasa untuk memberi bantuan rekan yang tertimpa musibah. Misalnya, diajak urunan untuk biaya pengobatan seorang rekan. Saya jadi terlalu biasa untuk memberi. Memberi yang katanya harus juga bijak. Saya juga terbiasa untuk memantau pemberian saya agar ada kepastian ketepatan pemakaian bantuan saya itu. Saya juga jadi curiga, setelah beberapa saat saya tidak mendapat kabar akan pemberian saya itu. Bagaimana "update" pemberian saya itu? Jangan-jangan diselewengkan. Padahal bisa jadi rekan yang menyalurkan bantuan itu kehabisan pulsa untuk mengirim email ataupun sms ke saya. Rekan yang menyalurkan itu juga bingung apanya yang mau di'Update" kondisi sakitnya pun masih begitu-begitu saja dan ia bukan reporter handal yang mampu mengarang cerita pandangan mata. Kalau begini.... rasanya saya memberi karena saya berharap akan diberi. Diberi rasa hormat, walau hanya berupa laporan pemanfaatan uang saya.
Saya ingin diberi, karena saya terhenyak akan kenyataan bahwa untuk bisa diberi itu ternyata tidak mudah. Saat saya memberi, saya senang, karena dengan itu saya tahu saya sedang tidak susah. Saya lagi lebih beruntung dari orang lain. Saya bisa sedikit bangga dengan saya memberi. Saya ingin diberi agar saya bisa punya kerendahan hati. Bila nanti ada orang yang memberi saya, kiranya saya mampu menghargai pemberi itu. Saya ingin bisa senantiasa mengingat bahwa ada orang yang memberi bukan dari kelebihannya, tetapi dia memberi di dalam kekurangannya. Saya ingin saat saya diberi saya berbela rasa dengan yang memberi. Saya ingin diberi agar saya mampu menghargai tiap berkat yang saya terima. Saat sakit dan ada rekan yang memberi saya bantuan, saya berusaha menghormatinya dengan tidak memboroskannya dengan minta pelayanan rumah sakit kelas satu. Saya ingin diberi agar saya bisa belajar untuk hidup berbela rasa dengan orang yang dulu saya beri. Agar saya bisa menghargai tiap pemberian dan perhatian dari semua rekan-rekan saya. Saat ada banyak orang yang mau memberi saya, dan saya diberi, semoga saya tidak bangga bahwa saya bisa makan di restoran mewah. Saat saya mau diberi, saya bisa merendahkan hati saya, bukan malah memanfaatkan orang-orang baik yang selalu membuat "saya diberi".
Natal besok ini, harusnya juga saya peringati sebagai Natal yang "saya diberi". Tuhan sudah memberikan rahmat dan karya penebusanNya bagi umat manusia termasuk saya. Adakah saya punya sikap dan karakter yang baik sebagai orang yang diberi? Saya diberi, agar saya berkarakter bahwa saya bukan siapa-siapa yang bisa selalu bangga saat saya memberi. Saya ingin diberi agar saya ingat bahwa ada orang yang ingin memberi bukan karena kelimpahannya, tapi karena perhatian dan bela rasanya. Jadi biarlah saya bisa menghargai tiap rekan dan teman yang telah menjadikan "saya diberi di Natal ini". Selamat Natal teman-teman. (kelanjutannya.....)
04 September 2011
Come be My Light
Buku ini bukan biografi tentang Ibu Teresa. Buku ini berisi surat-surat Ibu Teresa kepada beberapa orang tentang pergumulan batinnya. Menjadi menarik untuk dibaca karena kita bisa tahu apa yang ada dibenak seorang yang sangat dikenal dan dikenang di seluruh dunia. Sebuah pergumulan batin yang nyaris tak diketahui orang banyak. Di banyak suratnya, Beliau sudah meminta untuk memusnahkan semua surat-surat itu. Beberapa orang tidak melaksanakan permintaan itu, karena memang itulah warisan pergumulan iman yang tiada taranya yang akan menginspirasi orang banyak.
Ibu Teresa mempunyai tekad kuat untuk memuaskan "dahaga/rasa haus Yesus" dengan melayani orang yang paling miskin diantara orang miskin. Komitmen itu begitu kuat. Ia menjabarkannya dalam prinsip kehidupan: Kemiskinan mutlak, Kemurnian Malaikat dan Ketatatan yang Ceria. Surat-suratnya mengungkapkan kemauannya yang kuat untuk menghadirkan kasih Tuhan di luar lingkungan biaranya. Itu memerlukan ijin dari para pembesar Gereja. Ia adalah orang yang taat pada birokrasi gereja, walaupun hatinya menggelora, dia mempunyai prinsip hidup akan ketaatan yang membuta. Saat-saat suratnya tidak mendapat jawaban, disamping dia menulis surat lagi, dia menganggapnya itu adalah kesempatan dari Tuhan untuk terus mendoakan semua rencananya. Doa menjadi sesuatu yang dominan di hidupnya. Di tiap suratnya selalu ada permohonan untuk mendoakannya.
Suasana Gereja Katolik Roma yang sangat birokratis, tidak pernah menimbulkan keinginan Ibu Teresa untuk keluar dari sistem yang ada, Ia selalu melihat tiap hambatan yang ada sebagai suatu kesempatan untuk berdoa. Juga bagi pembesar gereja, mereka bertanggung jawab atas semua keputusan yang harus diambilnya. Uskup yang memberi ijin mengungkapkan bahwa ijin yang diberikannya bukan karena banyaknya surat yang dikirimkan Ibu Teresa, melainkan karena memang itu memerlukan waktu untuk memikirkannya dengan hati-hati. Setelah mengijinkannya, Uskup menjadi pendukung kuat kegiatan Ibu Teresa. Suatu keindahan akan hasil sebuah birokrasi yang bisa kita teladani.
Dalam perjalanan pelayanannya, dia mengalami kondisi dimana ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Dia merindukan kehadiran Tuhan, tapi semuanya terasa gelap buat dia. Dalam surat-suratnya dia bertanya kepada para pembimbing rohaninya perihal itu. Kondisi itu membuatnya sangat menderita secara batin, tapi ketaatannya pada Tuhan membuatnya selalu berdoa agar dia tidak menolak Tuhan. Kondisi ini berlangsung selama puluhan tahun di hidupnya. Kondisi ini yang diterimanya sebagai anugerah untuk merasakan penderitaan Yesus. Rasanya sudah tidak ada lagi penderitaan dunia yang dapat menyakitkan buatnya, karena komitmennya untuk hidup miskin dengan mutlak. Penderitaan karena ditinggalkan Tuhan adalah kegelapan yang harus ia alami sehari-hari. Terhadap penderitaan itu, ia berkemenangan karena prinsipnya untuk ber-ketaatan yang membuta kepada Allah. Semua orang yang ditemuinya tidak pernah meragukan keceriaan, keramahan dan semangatnya. Itu semua bukti dari penyangkalan diri yang kuat. Seakan-akan hal ini mengingatkan akan ketaatan Yesus pada sang Bapa meski Ia harus ditinggalkan oleh Bapa di kayu salib, Ia tetap setia. Ketaatan pada Allah yang membuta.
Nilai-nilai iman Ibu Teresa menjadi unik, bila dibandingkan dengan kondisi yang sangat "laku" saat ini. Para Pendeta dan Pengkotbah berlomba untuk menyatakan bahwa dirinya sangat akrab dengan Tuhan. Bahkan ada yang berani bercerita bahwa dia begitu dekat dengan Tuhan dan bisa bercakap-cakap muka dengan muka. Memang membanggakan pengalaman iman seperti ini. Tetapi Ibu Teresa menjadi teladan untuk sisi yang lain, bahwa bagaimanapun manusia itu tak berarti di hadapan Tuhan. Bahkan kalaupun Tuhan memberikan penderitaan, itu adalah sebuah anugerah buatnya untuk bisa ikut merasakan penderitaan yang Yesus rasakan. Menderita adalah juga sebuah anugerah.
Buku ini seakan menjawab pertanyaan yang ada dibenak saya menjelang liburan lebaran ini. Saat hasil angket menyatakan adanya motivasi dan keinginan yang kuat jemaat GKI Dipo untuk melakukan kegiatan keluar (output). Kita diharapkan melakukan banyak kegiatan keluar. Pertanyaan saya, "Lalu apa bedanya gereja ini dengan organisasi sosial?" Pengalaman Ibu Teresa mengungkapkan jawaban atas hal ini. Kita bukan sekedar melakukan kegiatan sosial, karena saat kita melakukan kegiatan sosial harus ada semangat yang kuat di hati kita. Semangat itu adalah hasil sebuah pembinaan yang kuat dan benar. Saat kita melakukan kegiatan keluar akan ada masalah yang harus kita hadapi, disana memerlukan sebuah persekutuan untuk mencari pemecahan dan mendoakannnya bersama. Saat terjadi masalah di lapangan diperlukan juga kekuatan birokrasi gereja kita untuk saling mendukung bukan malah mencari-cari kesalahan. Kegiatan keluar itu ternyata memerlukan totalitas pembinaan dan persekutuan yang prima.
Untuk datang dan menjadi Cahaya Tuhan (Come be My light), cuma diperlukan sebuah semangat yang sederhana dan kuat. Hidup Ibu Teresa sudah menjadi teladan akan kesederhanaan yang mampu menghasilkan hasil yang mencengangkan dunia dengan cara yang lemah menurut dunia ini.
Menyambut Lebaran di GKI Bondowoso
Di kotbah Minggu pagi, Pdt. Martin K. Nugroho menyinggung juga adanya sekelompok masyarakat yang menganggap makan daging adalah suatu kemewahan yang sulit mereka harapkan di Lebaran ini. Hari Minggu itu, jemaat GKI Bondowoso berbagi kebahagian agar lebih banyak orang bisa juga bergembira dalam berlebaran. Atas nama Gerakan Kemanusian Indonesia Bondowoso, mereka menyerahkan seekor sapi dan dua ekor kambing kepada Pondok Pesantren Al Mubarak di Desa Kapuran, Kecamatan Wonosari, Bondowoso. Siang harinya, Pdt. Martin K. Nugroho dan jemaat berkunjung ke Pondok Pesantren itu. Bp. Kyai Haji Kamil Hadadi menerima sumbangan itu dan membagikannya kepada warga sekitar yang memang sangat membutuhkan bantuan itu.
Sementara proses penyembelihan tiga hewan tersebut, terjadi silahturahmi di antara jemaat dan warga pesantren itu. Karena masa itu masa puasa, kita hanya berbincang-bincang saja. Diruang tamu itu memang tersedia beberapa toples makanan kering. Pak Haji juga menyuguhkan minuman kepada kita, tetapi untuk menghormati puasanya kita menolaknya. Kami yang laki-laki berbicang dengan Pak Kyai di ruang tamunya, sedangkan sekelompok jemaat wanita berbincang dengan beberapa santriwati di teras rumah utama itu. Suasana sangat akrab.
Di dalam perbincangan itu bukan sekedar basa-basi yang ringan dan tak berarti. Pak Kyai dan Pak Pendeta sempat juga menyinggung hal yang sangat krusial dalam hubungan antar agama, perihal keselamatan. Pak Pendeta dan pak Kyai memang sadar bahwa di antara mereka ada kondisi dimana masing-masing bisa merasa paling benar tentang agamanya. Bukan cuma sekedar pemahaman diantara para pemimpin agama, tapi desakan dari masing-masing jemaat/jemaah untuk meminta ketegasan akan kemutlakan janji keselamatan sering juga merepotkan hubungan antar manusia yang ada. Suasana akrab itu tidak ternoda dengan pertanyan sulit dan krusial itu. Pak Kyai memberikan perikop yang ada di kitab sucinya: "Ada orang yang sudah hidup dengan sangat saleh selama 500 tahun, saat di akherat dia ditimbang kebaikan dan kejahatannya. Memang kebaikannya lebih berat. Orang itu dengan bangga menjawab bahwa memang itu sudah selayaknya, karena selama 500 tahun dia telah berbuat baik. Tuhan kemudian meminta malaikatNya untuk menimbang ulang kebaikan itu. Mana yang lebih berat, kebaikan dia sendiri atau anugerah Tuhan yang telah memampukan dia untuk berbuat baik. Ternyata yang lebih berat adalah anugerah Tuhan." Pak Pendeta dan Pak Kyai yakin bahwa memang ada keyakinan akan kebenaran di masing-masing agama yang dipimpinnya. Tetapi perihal keselamatan, bagaimanapun manusia harus memberi ruang akan otoritas Tuhan yang mutlak untuk menyelamatkan siapapun yang dikasihiNya. Bukan urusan manusia bila Tuhan ingin menyelamatkan siapapun juga. Atas pemahaman itu kita semua bisa duduk dan berbincang dengan akrab satu sama lain.
Pdt. Martin K. Nugroho mengatakan ,"Kita semua ke tempat ini sebagai GKI dalam artian 'Gerakan Kemanusiaan Indonesia'. Artinya bukanlah sebuah sisipan politis ala gereja yang sedang mencari perlindungan atau lainnya dengan tetap membawa-bawa nama gereja. Kami ingin berteman sebagai sesama anak bangsa bersama mereka.".
Banyak hal yang tercapai dengan kegiatan ini, keakraban dan keramahan yang tercipta tak ternilai bila dibandingkan harga ternak yang ada. Kemauan jemaat GKI untuk berbagi dan kemauan jemaah Pondok Pesantren untuk menerima dan menyalurkannya merupakan bukti luhurnya nilai-nilai keagamaan yang mendorong tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Bila nilai-nilai ini tumbuh di dalam masyarakat di desa, ini merupakan tantangan bagi mereka yang tersebar di kota besar untuk tidak melupakannya, karena memang dari desalah tumbuh sebuah kota yang metropolitan.
14 Agustus 2011
Pendeta juga Manusia
Acara Konven Pendeta meninggalkan banyak kisah yang menarik tentang kehidupan seputar pendeta. Pendeta juga manusia yang bisa salah dan bisa benar, bisa baik dan bisa menjengkelkan juga. Kisah menarik yang ada di seputaran konven ini semoga bisa bercerita tentang hal ini. Pendeta juga manusia.
Profesi pendeta tidak selamanya membuat pendeta menjadi sosok serius dan dingin. Sekelompok pendeta bisa punya rasa humor yang tinggi dan kreatif, mereka bisa menghadirkan tawa yang terus berderai saat mereka tampil dalam acara Ludruk Seduluran. Mereka hanya berlatih sekali di sore hari saat peserta lain beristirahat setelah tiba di Hotel. Semua bisa tertawa renyah dan gembira. Penampilan mereka diakhiri dengan pengundian hadiah sebuah Laptop. Undian yang diambil oleh pemain gamelan membuat seorang pendeta dari sebuah kota kecil beruntung mendapatkan laptop itu. Dengan spontanitas dan suasana humor seorang pemain Ludruk menyerahkan Laptop itu dengan celetukan kata "Pendeta Duafa". Gara-gara celetukan itu, malam hari itu panitia memanen protes dari beberapa peserta. Kreatifitas ternyata juga bisa berdampak kebablasan juga.
Pendeta GKI juga bagai suluh dalam kedisiplinan. Kebaktian kita yang teratur. Jam kebaktian yang selalu tepat waktu. Peyusunan program tahunan yang detail. Ketaatan pada Tata Gereja. Semua itu menjadikan sosok pendeta sebagai sosok penuh kedisiplinan. Di hari kedua panitia mengalami masalah dengan bus yang tidak datang. Bus yang seharusnya datang di Hotel Purnama, ternyata datang di GKI Diponegoro. Mereka salah melihat jadwal. Jadilah panitia harus berimprovisasi dengan armada yang ada untuk mengantar para peserta menuju 9 lokasi Sambang Dulur. Dengan kondisi darurat itu, ternyata ada juga bis yang tidak kunjung berangkat, padahal jadwalnya sudah terlambat sekitar satu jam. Bis itu harus menunggu satu orang pendeta yang belum naik dan tidak tahu dimana keberadaannya. Akhirnya sang pendeta datang juga dengan berlenggang kangkung dan tidak ada ketergesaan dan biasa saja. Betapa menggemaskannya.
Saat pendaftaran peserta, para pendeta sudah ditanya soal kebutuhan pengantaran ke tempat pemberangkatan saat mereka akan kembali ke kota masing-masing. Ternyata hanya beberapa orang saja yang menyatakan membutuhkan bantuan pengantaran ke Bandara Abdurahman Saleh, Bandara Juanda maupun stasiun kereta api. Dihari kedua, ternyata jumlahnya meledak. Dari delapan orang yang terdaftar untuk diantar ke Bandara Abdurahman Saleh meledak menjadi delapan puluh orang. Seksi Transportasi kelabakan. Belum lagi ada yang minta dengan jadwal khusus. Jam sembilan pagi dari hotel, jam sepuluh, jam sebelas.... macam-macam lah. Saat ada pendeta bertanya,"Pak, apa besok bisa mengantar ke Bandara Juanda Jam 9 pagi?" Setahu saya jadwal itu tidak ada, saya menjawab," Tidak bisa, Bu!" "Lho, jangan menjawab tidak bisa Pak. Ya harus diusahakan!" Saya senyum saja, memang saya tidak seharusnya langsung menjawab begitu. Tapi apakah Beliau sadar bahwa Beliau juga tidak boleh bilang tidak bisa saat mengisi jadwal pulangnya waktu pendaftaran dulu? Tidakkah mereka sadar bahwa tidaklah mudah mengurus transportasi dengan batas waktu yang sudah mendesak itu?
Di hari kedua peserta diajak untuk rekreasi ke Jatim Park 2. Selepas acara Sambang Dulur mereka makan siang dan bersiap untuk masuk ke areal Jatim Park 2. Panitia sudah menyiapkan tanda masuk yang berupa gelang. Beberapa peserta mengurungkan niatnya setelah tahu bahwa harus berjalan kaki cukup jauh di dalam areal Secret Zoo maupun Museum. Beberapa peserta mau langsung balik ke hotel saja. Tidak ada masalah dengan keputusan itu. Hanya saja ada peserta yang langsung membuang tanda masuk itu. Tidak tahukan mereka bahwa tanda masuk itu tidak murah? Harga gelang kertas itu Rp. 50.000,oo. Tidakkah mereka bisa merasa sayang dan mengembalikan agar bisa digunakan oleh orang lain? Bisa jadi kelelahan memang meniadakan kepekaan akan hal ini. Semoga di ladang pelayanan yang sebenarnya, saat mereka lelah mereka tidak kehilangan kepekaan akan nilai-nilai lainnya.
Saat bergaul dengan para Pendeta itu, saya juga bisa merasakan bagaimana mereka juga pernah di"zalimi" oleh jemaatnya juga. Ada pendeta yang bernostalgia tentang temannya yang pernah dihalangi proses kependetaanya karena ada jemaat yang menulis surat keberatan. Alasannya, karena Beliau dulu pernah mau membunuh kucing. Pendeta yang bersangkutan lalu menyambung," Iya, jemaat itu bilang, lha wong sopir aja kalau ada kucing menghindar. Eh, ini koq ada pendeta malah mau mbunuh kucing" Saat itu saya langsung teringat anekdot tentang sopir yang lebih mampu membuat orang lain berdoa dibandingkan pendeta. Ya, karena sopir itu sering menyetir dengan ugal-ugalan sehingga selalu membuat penumpangnya berdoa. Ada juga kisah menyentuh perihal ketaatan pendeta dan keluarganya dalam menjalani panggilan pelayanannya. Ketaatan di dalam kondisi yang serba minim, yang memaksanya harus berpakaian dalam dengan bahan kain bekas kantong tepung terigu.
Di Jatim Pak 2, siang itu ada seorang pendeta yang menyapa, "Anda menantunya Pak Harry ya?" Saya heran. Saya merasa tidak kenal wajah itu. "Saya pernah melayani di Bondowoso" Saya melirik tanda pengenalnya. "Ya, saya ingat Bapak!" "Pak Yahya! Bapak di Bondowoso tahun 79 atau 80an" Saat itu saya masih anak-anak. Saya ingat beliau karena dulu beliau kalau ke rumah saya mengendarai sepeda motor "Magnet" warna abu-abu. Itu benar-benar sepeda motor dengan arti harafiah. Bentuknya mirip sepeda dan bermotor. Ada pedalnya dan untuk mengerem caranya dengan menggenjot pedalnya ke arah belakang. Tahun itu sebenarnya sudah ada sepeda motor yang lebih modern, Yamaha bebek Autolube. Beliau sangat bersahaja dalam pelayanannya dulu. Itulah yang membuat saya ingat akan Beliau.
Semua rasa sudah berpadu dalam konven itu. Banyak cerita suka dan duka terjadi. Ada pendeta yang kehilangan tas, ada juga yang kehilangan kamera. Tapi yang jelas tidak ada yang kehilangan semangat untuk tetap terus bertumbuh dan melayani. Itu karena Pendeta juga manusia dan KITA PUNYA SAHABAT.