16 Oktober 2009

Indah Pada Waktunya

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Ungkapan ini sudah sering saya dengar dan baca, terutama di kartu undangan pernikahan. Terlalu sering sehingga bermakna biasa-biasa saja. Siang itu, ungkapan ini punya makna yang agak lain.

Siang itu, di saat training, peserta ditugaskan untuk membaca secara bergilir materi training yang ada. Materi itu terlihat kalau disusun dari beberapa cuplikan yang diambil dari beberapa sumber. Beberapa bagian tampak sekali sistim "copy - paste"nya. Saat giliran saya, saya membaca bagian yang diambil dari suatu buku yang tulisannya cukup kecil, lebih kecil dari tulisan normal yang ada. Saya agak kelabakan, sebab koq ternyata mata saya sulit untuk membaca rangkaian kata-kata itu. Perlu sedikit waktu untuk mengatur jarak dan usaha untuk membaca rangkaian kalimat itu. Memang berhasil juga. Berhasil membaca tulisan itu, juga berhasil mengingat nilai lain dari ungkapan: Indah pada waktunya.

Indah pada waktunya, dulu memberikan kesan janji akan datangnya masa yang indah. Keindahan yang patut dinantikan karena akan datang pada suatu masa nanti. Ungkapan ini menjadi suatu pengharapan akan apa yang akan datang. Termasuk hari indah yang sangat dinantikan oleh pasangan mempelai yang akan menikah. Siang itu, kalimat itu muncul dengan nilai yang lain. Siang itu saya merasa bahwa Keindahan itu punya waktunya dan waktunya itu bisa berlalu. Membaca menjadi sesuatu yang indah bagi saya. Saya sangat menyukainya. Siang itu saya merasa bahwa keiandahan itu akan segera berlalu. Dengan semakin uzurnya usia saya, makin berkurang juga kemampuan mata saya. Akan datang masa dimana membaca sudah tidak indah lagi karena mata ini semakin rabun dekat.

Indah pada waktunya itu, tiba-tiba berarti penghargaan akan apa yang ada saat ini. Menghargai saat-saat ini yang mempunyai keindahannya. Waktu yang indah itu bisa berarti saat ini. Jadi nikmatilah dan hargailah dengan baik. Keindahan hari ini akan berakhir dan akan datang waktu dengan keindahannya yang lain. Berpengharapan akan datangnya keindahan di waktu mendatang memang benar dan positif, tapi bukan berarti bahwa kini dan saat ini tidak ada sesuatu yang indah yang harus dimanfaatkan dengan maksimal dan dihargai dengan pemanfaatan yang baik.

Indah pada waktunya, bisa berarti waktunya adalah saat ini. Jangan sia-siakan hari ini.
(kelanjutannya.....)

06 Oktober 2009

Ayo Jangan Nakal

Beberapa waktu lalu saya agak terguncang oleh berita yang saya baca di Kompas, 29 April 2009:
"......Rakyat Paraguay dibuat terpaku menyaksikan opera sabun kehidupan nyata di istana kepresidenan: tiga perempuan menyatakan Fernando Lugo, mantan uskup yang kini presiden, sebagai ayah dari anak-anak mereka dan mereka menuntut pengakuan.Lugo yang tadinya dikenal sebagai "uskup kaum miskin" itu kini dipandang sebagai seorang playboy. Dua pekan lalu, dia membuat rakyat Paraguay terperangah dengan pengakuannya bahwa dia adalah ayah seorang anak ketika dirinya masih menjadi uskup Katolik. Pengakuan Lugo terjadi setelah ibu anak itu menggugatnya.Setelah itu, dua perempuan lain juga mengklaim serupa, sementara Lugo meminta bangsanya untuk memaafkan dirinya................."
Fernando Lugo, orang yang saya kagumi, pernah dijadikan ilustrasi kotbah oleh Bu Claudia. Pernah sampai ditulis Features-nya di Kompas saat Budiman Sujatmiko (mantan PRD) mengunjunginya. Seorang presiden yang bersahaja karena status uskup yang pernah dijalaninya.
Saya teringat, beberapa saat lalu, dalam penerbangan yang berjam-jam, saya bertemu seorang teman secara kebetulan di dalam pesawat. Penerbangan itu terasa sekejab karena dia menghampiri saya dan berdiri di gang di sisi kursi dan kita mengobrol lama sekali. Topiknya: "The dark side of Men". "Nasehat" dia, "Pokoknya.... kalau ketahuan selingkuh..... harus bilang TIDAK, apapun kondisinya." Pokoknya harus ngeyel. "Lha kalau sudah kepepet?" "Harus tetap bilang TIDAK!" itu nasehatnya dan rasanya juga telah dipraktekkannya. Lugo yang Pastur itu mungkin sulit untuk mengikuti nasihat teman itu. Satu kebohongan memang akan melahirkan kebohongan-kebohongan lainnya. Untuk menyangkal apa yang dituduhkan memang butuh ketegaran hati melampaui segala akal dan bukti yang ada. Tidak setiap orang bisa melakukannya. Ini sesuai dengan nasehat: kalau mau mencebur jangan tanggung-tanggung. Kalau mau nakal ya jangan setengah-setengah. Saya sadar bahwa untuk menjadi nakal itu perlu bakat.
Apa benar bakat nakal itu dominan? Bisa jadi memang tersedia bakat untuk nakal, tapi bila kondisinya tidak mendukung mungkin bakat itu tidak akan tumbuh dan berbuah. Saat kondisi di dompet sudah ada kartu kredit dan kartu ATM yang rasa-rasanya cukup berkelimpahan, kenakalan itu mendapat angin untuk bertumbuh dan berbuah. Banyak hal yang dulu jauh dari pemikiran kini menjadi sesuatu alternatif "hobi'. Perbaikan kondisi keuangan memang membuat hidup bisa lebih baik. Bisa merasakan hidup menjadi lebih hidup. Saat banyak hal terbuka untuk dicoba dan dirasakan. Terlebih lagi bila banyak keterbatasan masa lalu menyisakan banyak keinginan terpendam. Dulu saya pingin punya kolam ikan hias, tapi waktu itu saya tidak punya uang untuk membuatnya. Sekarang kalau saya sudah punya sedikit tabungan, saya ingin sekali membuat kolam ikan itu. Itu kalau ikan hias, lha kalau yang lain? Bakat dan dana itu paduan yang serasi.
Saat hidup menjadi lebih tenang karena dukungan finansial yang semakin baik, banyak pilihan yang bisa dibuat. Pilihan itu bisa datang dan diambil karena alasan menikmati apa yang sudah didapatkan. Keinginan melakukan itu sebagai bagian menikmati apa yang sudah dijerih-lelahkan selama ini. Kalaupun itu hal yang menyerempet "bahaya", bisa jadi itu cuma dengan alasan "anggap saja kalah judi". Nilai uang untuk nakal "sedikit-sedikit" itu sudah bukan nilai yang sangat besar dibandingkan kemampuan potensial yang sudah ada di kartu kredit dan kartu ATM yang dibawa. Apalagi kalau dibandingkan dengan "kenyamanan" dan fasilitas yang "ditawarkan". "Kalau sore aku mampir ke rumahnya, kaos kakiku aja dibukakan." Oh, alangkah indahnya bila dibandingkan dengan umpamanya nada tinggi yang sehari-hari terdengar. Sudah buka sepatunya sendiri masih dimarah-marahi kalau salah meletakkan. Hahahahahaha......
Saat sedikit demi sedikit menabung. Saat saldo bertambah dengan dengan diringi rasa syukur. Saat itu setiap pertambahan diakui sebagai suatu rejeki dari yang Maha Kuasa, akhirnya sampailah pada suatu jumlah yang sudah cukup banyak saat ini. Cukup banyak untuk dikagumi dan juga cukup banyak kalau cuma dibuat main sedikit-sedikit. Sedikit itu dari nilai uangnya, tapi tidak sedkit dari sisi kualitas uangnya.
Bila hari ini saya mengingat apa yang sudah terjadi dengan Lugo, ternyata nilai yang dikorbankan itu tidak sekedar nilai yang bisa dianggap kalah judi saja. Tetap ada harga lain yang harus dibayar. Harga sebuah penyangkalan bahwa tiap berkat yang ada datangnya dari yang Maha Kasih dan Maha Kuasa. Maha Kasih karena telah dengan dengan setia memberkati setiap usaha sedikit demi sedikit dan akhirnya menjadi bukit. Maha Kuasa karena telah berkuasa menjaga dari banyak kebocoran yang mungkin bisa saja terjadi saat pengumpulan berkat itu. Berkuasa menjaga kesehatan sehingga tidak bocor sedikit demi sedikit melalui penyakit. Ada juga sisi penyangkalan nilai bahwa: Ia Maha Kasih dan Maha Kuasa. Maha Kasih karena Ia dengan kasih sanggup memukul di saat ada kenakalan. Maha Kuasa karena Ia berkuasa untuk marah dan murka tanpa ada yang mampu menghalanginya kalau ada kenakalan. Mengancam ya?
Ayo jangan nakal.
(kelanjutannya.....)

29 September 2009

Cerita tentang Info Buku

Ini cerita tentang buku yang saya info-kan beberapa waktu yang lalu, "Ilusi Negara Islam", karya Gus Dur. Beberapa hari setelah itu saya harus ke Jakarta untuk menemui pelanggan. Kita janji untuk bertemu jam 9an di Cengkareng. Saya sudah siap tiket jam enam pagi dari Surabaya. Kemudian dia memberitahu perubahan jadwal penerbangannya, dia baru akan tiba jam 11 lebih, Untuk itulah saya mencetak buku itu dan membawanya untuk mengisi waktu menunggu itu. Buku itu cukup menarik, menuturkan masalah yang dihadapi oleh NU dan Muhammadiyah dalam menghadapi rongrongan Islam Garis Keras (PKS). Hal ini mengingatkan saya dengan masalah yang pernah kita hadapi. Saat banyak orang "reform" merongrong gereja kita. Polanya ternyata sama, mungkin inilah manusia, apapun agamanya polanya juga sama. Pagi itu saya hampir menyelesaikan membaca buku itu. Yang tersisa bagian lampirannya yang memang cukup banyak.
Malam harinya, saya pulang dengan penerbangan malam. Saya berencana untuk menyelesaikan buku itu. Saya sudah minta duduk di dekat jendela darurat, ini untuk menyelamatkan kaki saya yang tersiksa kalau harus duduk di kursi biasa. Saat naik pesawat, ternyata ada masalah, saya dapat kursi satu nomer dibelakang "emergency exit". Tersiksalah saya, tapi mau apalagi. Sayapun duduk sambil membaca buku itu. Beberapa saat kemudian datanglah seorang Bapak tua duduk di sebelah saya, disebelahnya kemudian ada seorang pemuda. Saya terus membaca, tidak terlalu menghiraukan mereka. Bapak itu duduk sambil membawa buku berwarna kuning emas dengan sampul tebal, mirip Alquran. Wajahnya cukup khas, saya mencoba untuk mengingat, dimana saya pernah menemuinya. Saya ingat! Saat dia menyapa saya, saya mengatakan, "Saya dulu pernah satu pesawat dengan Bapak saat Bapak pulang dari Amerika." Saat itu saya menunggu keluarnya bagasi dan saya melihat Bapak itu disalami banyak orang, ke salah satu orang itu saya dulu pernah bertanya siapakah beliau ini. Beliau ini Kyai yang cukup terkenal, tapi saya sudah lupa siapa namanya. Bapak itu duduk sambil membaca buku yang dibawanya. Ada juga penumpang yang kemudian menyapanya dengan sebutan Gus. Mungkin Beliau memang orang yang cukup terkenal.
Bagian yang saya baca, adalah lampiran-lampiran surat-surat keputusan NU dan Muhammadiyah berkaitan dengan masalah yang dibahas. Jelas sekali di beberapa bagian ada tulisan Arabnya. Mungkin ini yang menarik perhatiannya. Pasti beliau heran, karena agak kurang "Kompatiibel" antara wajah saya dan tulisan Arab itu. "Buku apa itu?" Saya tunjukan halaman depan buku itu. "Fotokopian ya?" Nadanya agak sinis, "Bukan, ini hasil download." Dia melihat-lihat buku itu kemudian menyerahkan lagi ke saya. "kamu suka baca ya/" Saya mengangguk. "Datang saja ke rumah saya, saya punya banyak buku." Saya tersenyum. "Bapak tinggal dimana?" "Sidoarjo" "alamatnya mana?" "Semua orang di Sidoarjo tahu rumah saya." Saya senyum. "Bengkel saya di Gedangan." "Yah, orang Gedangan pasti mengenal saya." "Ok, saya akan tanya teman-teman di bengkel, tapi Bapak namanya siapa?" Dia tidak mau mengatakannya, dia menunjukkan boarding pass-nya. Saya baca nama itu. "Bapak orang yang sangat terkenal." Saya mengatakan hal itu bukan karena mengenal nama itu, tapi saya membacanya dari pencitraan yang hendak dia sampaikan ke saya selama itu. Cara ini biasanya sangat ampuh untuk memulai perbincangan dengan orang lain. "Pak, namanya saya tulis ya, sebab saya cepat lupa" Saya tulis namanya di halaman depan buku itu. Mungkin karena saya menuliskannya kurang tepat, dia mengambil buku dan bolpoin saya. Dia menuliskannya dengan ejaan lama. "Kamu datang saja ke rumah saya" Beliau mengulangi ajakannya itu. Saya mengangguk. Setelah itu saya berusaha melanjutkan membaca. Saya tidak mengajak dia bicara, karena saya juga takut mengganggunya. Penerbangan ini sudah cukup larut malam, pasti beliau letih juga, mungkin beliau ingin tidur. Saat saya membaca, dia berbincang dengan pemuda yang duduk di kanannya.
Akhirnya selesai juga saya membaca buku itu. Saya letakkan buku itu di kantong kursi di depan saya. Beberapa kali saya "dijawil"nya. Saya menoleh ke arahnya dan tersenyum. Beliau biasa-biasa saja, tanpa ekspresi apa-apa, seakan-akan dia tidak melakukan apa-apa barusan. Kemudian dia memegang tangan saya. Dia genggam lengan saya. Telapak tangannya terasa panas. Saya sempat terpikir sesuatu yang "aneh" yang bisa terjadi pada diri saya. Saya punya alasan untuk merasa takut. Saat itu saya hanya berdoa dalam hati. Saya yakin bahwa Tuhan pasti mengasihi saya. Saya mengumpamakan diri saya seperti seorang anak yang tiba-tiba berjalan menyelonong di jalan raya yang ramai. Anak itu pasti tidak tahu akan bahaya yang bisa mengancam dirinya. Orang tuanya yang pasti panik melhat hal itu. Orang tuanya yang bakal panik mencari cara untuk menyelamatkan anak itu dari bahaya yang siap mengancam, meski anak itu sendiri tidak menyadarinya. Kasih Tuhan pasti lebih besar dari kasih orang tua kita. Saya tidak berusaha melepaskan tangan Bapak itu. Saya takut menyinggung perasaannya, Kalaupun keputusan itu salah, tapi saya yakin Tuhan tahu isi hati saya dan Ia sanggup melindungi saya. Pengalaman saya beberapa kali dengan sesuatu yang "supranatural", membawa saya akan pemahaman akan penyertaan Tuhan seperti di atas. Saya bukan orang punya kemampuan melawan dan menolak kuasa itu, tapi saya yakin Tuhan mampu melindungi saya. Roh yang ada di dalam kita pasti lebih besar dari segala kuasa yang ada. Beliau melepaskan genggamannya. Beberapa saat kemudian dia memegang tangan saya lagi. saya biarkan saja.
Ketika mendarat, dia keluar duluan, sayapun tidak melihat dia, mungkin dia mengambil bagasi. Saya berjalan bersama pemuda yang duduk disebelah Bapak itu. Saya mengajaknya pulang bersama, karena memang saya memarkir mobil saya di bandara. Di perjalanan kita berbincang-bincang. Pemuda itu yang bercerita tentang bapak itu. "Beberapa kali Beliau berhasil membaca pikiran saya." "Ohya?" "Ya, pak, tadi waktu saya berdoa, dia bilang kalau saya tenang saja, karena semuanya aman. Saat saya melamun tentang hal yang negatif, beliau mengingatkan saya. beberapa kali." Mungkinkah hal itu benar? Saya tidak tahu, tapi pemuda ini bercerita dengan sungguh-sungguh tentang "kemampuan" Bapak itu.
Ketika saya sampai di rumah, saya langsung buka internet. Saya cari nama beliau. Ternyata beliau adalah pengasuh sebuah pondok pesantren yang terkenal di Sidoarjo. Dari web sitenya, saya tahu alamat Beliau. Besoknya, pagi-pagi saya menelpon rekan yang tinggal di daerah itu, menanyakan perihal Bapak itu. Ternyata Beliau memang orang yang terkenal dan sangat kaya. Banyak orang yang antri hanya untuk bersalaman dengannya. Sore harinya saya datang ke rumah Beliau. Beliau tidak ada di tempat karena mengisi Seminar di Unair. Tidak masalah bagi saya, saya hanya ingin menepati janji saya untuk datang ke rumahnya.
Kira-kira apa yang Beliau lakukan saat memegang tangan saya? Apapun juga, saya hanya berpikir, "Masak sih Tuhan tidak kasihan sama saya?"
(kelanjutannya.....)

Outliers

Ini oleh-oleh dari libur lebaran. Ada buku yang bagus isinya. Judulnya Outliers (Rahasia di Balik Sukses), Karya Malcolm Gladwell, terbitan Gramedia. Kalau mau download audiobooknya (english version) bisa di cari di 4share.com. Totalnya 200Mb, saya mendownload selama satu jam di GSG lantai dua.

Kalau melihat judulnya, kemungkinan besar saya tidak berminat dengan buku itu. Saya selalu merasa 'alergi' dengan buku yang bicara soal sukses. Alasannya, karena belum tentu penulisnya adalah orang sukses yang benar-benar sukses.  Awalnya saya saya cuma sekedar mencari audiobook untuk latihan bahasa inggris. Setelah berhari-hari saya dengarkan, ada beberapa kata kunci yang sulit saya tangkap. Setelah bolak-balik buka kamus, masih juga belum ketemu juga. Bisa jadi karena telinga yang dibesarkan dengan nasi pecel ini sulit menangkap suara yang dihasilkan karena energi dari burger dan steak. Saya cari PDF-nya, tapi waktu itu belum ada yang upload, maka terpaksa saya beli buku edisi bahasa Indonesianya. Saya baca, ternyata menarik dan lebih menarik dari audiobooknya. Lha, saya yang tidak terlatih mendengar bahasa Inggris itu. Buku ini tidak berisi ulasan penulis tentang rahasia kesuksesan. Penulisnya hanya menarik beberapa benang merah dari beberapa orang-orang yang dianggap sukses.

Yang menarik adalah pendapat penulis bahwa ada faktor-faktor diluar diri para orang sukses itu yang menjadi faktor dominan penentu kesuksesannya.
 Para orang sukses di bidang komputer, Bill Gates (Microsoft) lahir tahun 1955, Paul Allen (Microsoft) lahir tahun 1953, Steve Balmer (microsoft) lahir tahun 1955, Steve Jobs (Apple) lahir tahun 1955, Erick Schmidt (Novell) lahir tahun 1955,  Bill Joys (Sun Microsystems) lahir tahun 1955. Mereka mendapat keberuntungan karena lahir di tahun-tahun itu sehingga mereka mampu mengambil peluang di pertumbuhan PC (personal Computer) di pertengahan tahun 70an. Sebagian besar orang yang masuk daftar terkaya di USA dilahirkan di tahun 1830an. Mereka itu : John D. Rockefeller, Andrew Carnagie, Frederick Weyerhaeuser, Jay gould, JP Morgan dll. Mereka ini mendapat keuntungan masuk dengan usia yang tepat saat pertumbuhan ekonomi USA dalam kondisi sangat baik di tahun 1860 sampai 1870-an. Belum lagi para pemain hockey yang top di Canada, hampir pasti lahir di bulan Januari sampai Maret, sangat jarang yang di lahirkan di akhir tahun. Harus diakui bahwa ada faktor keberuntungan melalui tanggal kelahiran orang-orang sukses itu. Apa ini berkaitan dengan Zodiac? Bukan. karena bisa jadi kelahiran itu pas dengan sistem yang ada di masyarakat kita. Batas usia pemain Hockey di Canada diambil pada 1 Januari, jadi bila ada anak yang lahir pada tahun yang sama, anak yang lahir di tanggal 2 januari pasti akan punya tubuh yang lebih kekar dari pada anak yang lahir di akhir tahun. Tahun lahirnya sama, tapi perbedaan beberapa bulan itu yang membedakan kemampuan fisik anak-anak itu.

Yang lebih menarik lagi adalah, buku ini dibuka dengan kutipan Matius 25:29, "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi sehingga dia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun yang ada padanya akan diambil dari padanya." Di masyarakat berkembang sesuatu yang sejalan dengan prinsip itu. Orang kaya akan menikmati fasilitas pembebasan pajak yang lebih dari orang miskin, kalau di indonesia, soal subsidi BBM yang menikmati subsidi paling banyak ya... orang kaya dengan sedan bermesin besar, rakyat kecil hanya merasakan subsidi BBM lewat kendaraan umum yang berjejal-jejal. Dengan jumlah bensin yang sama, orang kaya menikmatinya karena dia naik sendirian mobilnya, tapi orang miskin harus berbagi dengan banyak orang saat ia naik kendaraan umum yang di subsidi BBMnya. Anak pandai akan masuk di sekolah bagus atau kelas akselerasi yang pelajarannya lebih diperhatikan oleh para guru. Keadaan ini makin membuat orang yang berkemampuan rendah semakin tertinggal. Penulis juga setuju dengan "Hukum 10 ribu Jam". Orang akan mencapai keahliannya karena ia berlatih selama sepuluh ribu jam. The Beatles bisa sukses di USA karena sebelumnya ia bermain musik di Hamburg selama 8 jam sehari dalam 7 hari seminggu selama beberapa tahun. Orang yang merasa mempunyai talenta akan semakin terpacu untuk berlatih dan orang yang agak kurang, cenderung menjadi lebih malas berlatih. Ketekunan dan kegigihan tetap menjadi kunci kesuksesan. Sangat berbeda dengan banyak buku yang menawarkan sukses yang diraih dengan jalan pintas.

Faktor diluar kita yang mampu mendukung kesuksesan adalah masalah budaya kita. Banyak orang yahudi di USA sukses, karena mereka lahir sebagai orang Yahudi. Mereka mendapat tekanan karena faktor kelahirannya, tetapi itu yang menjadikan mereka mampu memacu diri sehingga bisa sukses. Tapi budaya ini juga bisa menghancurkan kita. Salah satu budaya yang dibahas adalah budaya penghormatan pada kelas-kelas sosial di  masyarkat Korea dan Kolumbia. Ada dua kecelakaan pesawat terbang di Korean Air dan Avianca (columbian airlines) karena faktor budaya dimana co-pilot tidak berani mengatakan sesuatu dengan lugas kepada Pilot atau orang yang dianggap lebih tinggi status sosialnya walau dalam keadaan yang sudah sangat genting. Budaya menganggap atasan atau orang yang lebih tua lebih tahu dari kelas sosial yang lain, telah menjadi dasar pemicu kecelakaan pesawat udara itu.

Bagi yang berniat membeli buku, saya menyarankan untuk beli buku ini. Menarik dan tidak mengada-ada. Kalau yang tidak suka buku yang serius, ada buku bagus juga: Benny dan Mice: Lost In Bali 1 dan 2! Buku kartun tapi guyonannya kreatif.

(kelanjutannya.....)

26 September 2009

Berenang di Tatami

Tatami adalah sejenis tikar khas Jepang. Ungkapan judul diatas, saya dapatkan di sessi terakhir training yang saya ikuti. Ada pengajaran, ada studi kasus dan diskusi serta presentasi. Training ini adalah sebagian dari rangkaian training yang diadakan di Jakarta dan Surabaya, untuk mengikutinya kita harus lulus tes penempatan dan setelah training kita harus ikut ujian untuk mendapatkan  sertifikat dari JETRO. Japan External Trading Organisation. Trainingnya gratis karena dibiayai oleh JETRO, ini bagian dari kompensasi perjanjian dua negara, IJEPA (Indonesian Japan Economic Partnership Agreement), kompensasi dari banyak kemudahan yang diterima oleh Jepang dari Indonesia, termasuk jaminan suplai Gas Alam. Seperti biasanya instrukturnya orang Jepang. Beliau berpesan melalui peribahasa iru. Berenang di tatami.
 
Setelah selama lima hari penuh kita belajar tentang topik training, kelihatannya kita sudah menguasai topik yang dibahas. Dari cara kita membaca topik yang harus dibaca bergilir, intrukturnya yakin bahwa pemahaman kelompok di Surabaya ini, lebih baik dari kelompok training yang sudah dipandunya di Jakarta sebelumnya. Padahal dia tidak dapat berbahasa Indonesia, dia menilai dari cara membaca dan intonasinya saja. Training itu dia akhiri dengan peribahasa itu: Berenang di Tatami. Saat kita mempelajari sesuatu, akhirnya kita merasa bisa memahami hal baru tersebut. Itu seperti kita belajar Berenang di Tatami. Berenang di atas tikar. Kita tahu urutan-urutan gerakan yang ada. Kita bisa menggerakkan tangan dan kaki kita sesuai dengan gaya berenang yang kita pelajari. Kita sudah bisa berenang, tapi Berenang di tatami. Berenang di atas tikar! Bisa jadi saat kita mencoba berenang di kolam renang atau sungai sesungguhnya, kita akan tenggelam. Pemahaman kita harus dilanjutkan dengan praktek dilapangan dan dari sanalah kita bisa mendapatkan penguasaan materi yang sesungguhnya.
 
 Berenangpun punya beberapa tingkatan, yang termudah di tatami, kemudian di kolam renang, lalu di sungai, juga ada renang dilaut lepas. Sungai dan laut pun masih ada bermacam-macam tingkat kesulitannya, mulai dari yang berarus tenang dan dangkal sampai yang dalam dan berarus deras atau bergelombang tinggi.
Mungkin sama ya dengan pemahaman iman saya. Membaca dan mendengarkan kotbah membuat saya semakin merasa serba tahu. Tapi kehidupan nyata di masyarakatlah yang menyempurnakan dan memurnikan pemahaman iman ini.
 
Semoga ini bermanfaat.
 
(kelanjutannya.....)

14 Maret 2009

Cerita tentang Penyambutan

Hari Minggu yang lalu, saya bertugas di kebaktian jam 6.00, untuk membagikan celengan dan buku renungan paskah. Karena sudah ada pembagian di minggu sebelumnya, maka tugas kemarin itu tidak terlalu sibuk. Hanya beberapa jemaat yang meminta celengan dan buku, sayapun tidak terlalu agresif karena bukunya sudah tersisa sedikit. Saya menyapa jemaat yang datang dan lewat di depan saya. Terakhir, ada seorang tante, saya tawari celengan (karena bukunya tinggal sedikit). Dia bilang kalau sudah dapat, dia lalu tanya apa bisa kalau mengisinya tidak setiap hari, tapi sekaligus nanti waktu mau diserahkan. Dia juga menyatakan ingin menyumbang mie, di benak saya Tante ini pasti senang masak dan mau menyumbang mie goreng atau masakan mie. Saya menjelaskan kalau nanti akan ada acara Unduh-Unduh dan bisa disumbangkan pada waktu itu. Dia menjawab, "Nanti saja dulu ya, soalnya saat ini jalan ke Pabrik Tante masih banjir, jadi tidak bisa ke pabrik." Saya baru sadar kalau Tante ini mau menyumbang mie produksi pabriknya.

Saya berbasa-basi menanyakan daerah pabriknya, ternyata beberapa tahun yang lalu saya pernah ke pabrik itu dan mereparasi mesinnya. Ternyata orang yang saya temui dulu itu adalah anaknya yang saat ini mengelola pabrik itu. Setelah itu, Tante ini makin semangat untuk bercerita lagi. Cerita tentang tarif becak yang 30 rb pulang pergi dari rumahnya, juga tentang almarhum suaminya, juga tentang cara anaknya yang mengelola pabrik itu. Sementara saya berbincang-bincang, memang banyak jemaat yang lewat dan datang. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan. Memutuskan pembicaraan dengan Tante ini dan mencari jemaat yang lain? Atau terus melayani perbincangan Tante ini? Saya memutuskan untuk terus melayani perbincangan itu dengan baik. Pertimbangan saya, lebih baik saya menyelesaikan satu orang ini dengan sangat baik dari pada berharap dapat meningkatkan jumlah tapi dengan kualitas yang begitu-begitu juga. Satu yang berhasil mungkin lebih baik daripada banyak yang biasa-biasa saja. Cukup lama perbincangan itu, dua orang Bapak yang bertugas penyambutan di pintu gereja malah mengingatkan Tante itu, agar segera masuk karena kebaktian akan dimulai. Saya lihat belum ada Majelis yang muncul di mimbar kecil, jadi saya teruskan saja perbincangan itu. Sampai akhirnya ada muncul majelis untuk membacakan warta lisan. Saya sarankan Tante itu untuk segera masuk ke ruang Kebaktian.

Saya juga bertugas lagi selepas kebaktian usai. Tante itu menyapa lagi saat ia berjalan pulang.

Saat itu saya juga menyapa satu Om yang saya kenal. Kita berbincang lagi, dia bercerita tentang almarhum istrinya. Rasanya masih sulit baginya untuk melupakan istri tercintanya. Ia bercerita tentang istri yang dibanggakannya kesetiaannya. Juga tentang suka dukanya saat dia merintis usahanya dulu. Senang sekali bisa mendengar ceritanya, apalagi saat dia bilang,"Makanya kita itu harus selalu ingat sama Tuhan." "Untuk itu Om sekarang mau ikut katekisasi" Ah, jalan hidup itu yang akhirnya membawa Om itu mau mengenal Tuhannya. Di jam pulang itu, sayapun hanya bisa meladeni satu Om ini, karena saya juga harus cepat pulang untuk menjemput istri dan anak yang mau sekolah minggu jam 8.00.

Minggu ini memang loading pelayanan saya sangat tinggi, ada penyambutan, lalu beasiswa, ada outbond, ada persiapan acara panter satu, ada pertemuan dengan pendukung tayangan di TVRI. Pengalaman perbincangan di kebaktian minggu kemarin itu sangat menarik buat saya. Pasti ada banyak jemaat yang butuh teman bicara. Sekedar mendengarkan mereka bercerita mungkin bisa membuat mereka bergembira. Mungkin ini bisa membuat kita mau berbuat banyak untuk kegiatan perkunjungan dan pemerhati.

Steven Covey di 8th Habit, mengutip perkataan Mother Teresa ,"Few of us can do Great Thing, but all of us can do small thing with Great Love"





(kelanjutannya.....)

06 Maret 2009

Menciptakan Hantu



Saat ini, kita sudah siap memulai segala pelaksanaan program kerja kita. Tahun ini kita sudah punya program kerja yang akan segera kita laksanakan. Program Kerja yang sudah disahkan akhir tahun lalu, atau paling lambat awal tahun ini. Semua komisi dan panitia sudah tinggal melaksanakan semua perencanaannya. Kita memang sudah terlatih untuk membuat program kerja kita.



Beberapa jemaat dan komisi mungkin memulai tahun ini dengan was-was atau prihatin akan keadaannya yang harus memangkas banyak program karena keterbatasan dana yang ada. Ada majelis jemaat yang memberitahukan bahwa mereka akhirnya bisa mensahkan program tahun ini dengan defisit "sekian" juta Rupiah. Keadaan perekonomian global dan keadaan perekonomian nasional kita, bisa menjadi landasan kita untuk memprediksikan pemasukan kita dan dari sana kita sudah terbiasa untuk merencanakan program kita tahun ini. Suatu hal indah yang sudah pakem di tiap tahunnya.



Ada banyak kegiatan yang sudah kita tolak pencantumannya. Di awal tahun ini kita mampu membayar rasa bersalah pencoretan itu dengan pengakuan bahwa kita sudah memulai pelaksanaan program kita dengan suatu langkah iman yang besar. Rencana anggaran yang defisit "sekian juta" atau "sekian puluh juta", juga alasan krisis global. Ini semua bisa menjadi "pembenar" langkah "iman" pembuatan program kerja kita.



Sebagai gereja kita memang terpanggil untuk merencanakan tujuan kita. Kita juga terpanggil untuk realistis/membumi dengan tujuan kita. Kita terpanggil untuk "berpikir" tentang apa yang bisa kita rencanakan. Apa sajakah yang sudah kita rencanakan dengan membumi?



Banyak gereja hanya berkonsentrasi pada pelayanan, pada apa yang akan mereka kerjakan. Sesuatu yang membutuhkan dana. Mereka sering melupakan apa yang dapat mereka hasilkan (dana yang dapat dihimpun). Gereja memang bukan organisasi yang bertujuan menghimpun keuntungan finansial. Kita adalah organisasi nirlaba. Kesadaran ini pada awalnya baik adanya, tetapi kesadaran ini banyak membawa kita untuk menyiksa diri dengan melupakan bagaimana kita harus merencanakan pemasukan kita. Di satu sisi kita sadar akan kebutuhan kita akan dana, di sisi yang lain kita sering lupa merencanakan bagaimana kita harus secara aktif menghimpun dana itu.



Ketabuan kita untuk merencanakan pemasukan kita seiring dengan kesadaran bahwa gereja adalah nirlaba (tidak mengejar keuntungan keuangan semata), sering menyiksa kita sendiri. Kita hanya berani bertindak dengan membuat prediksi sekian persen, sekian puluh persen peningkatan persembahan kita di tahun mendatang. Kita lebih suka menempuh jalan mengurangi pengeluaran kita, mencoret program yang diajukan oleh komisi dan panitia. Kita melupakan bahwa kita mampu merencanakan peningkatan pemasukan keuangan kita. Kita sebenarnya bisa merencanakan sesuatu untuk mengimbangi kebutuhan demi pencapaian tujuan yang selalu kita potong itu. Merencanakan langkah untuk meningkatkan pemasukan bagi pembiayaan kegiatan akan lebih baik dari pada menciptakan hantu defisit untuk kita takuti bersama. Hantu defisit yang kita hadirkan sebagai alasan untuk memotong dan menolak kegiatan kita.



Memang banyak gereja "tetangga" yang getol untuk menyuarakan persembahan dari jemaatnya dan kita merasa ingin beda dengan tabu menyuarakan itu di jemaat kita. Kita lebih suka menyiksa diri dengan memotong program dan menciptakan hantu defisit untuk kita takuti bersama. Kemampuan kita untuk menunjukkan pada jemaat bagaimana kita mengelola uang itu, adalah kunci masalah ini. Bagaimana kita bertanggung jawab untuk membuat program yang bermutu dan bukan hura-hura, akan membuat jemaat kita mampu memutuskan untuk dirinya sendiri, mau atau tidaknya ia menyumbangkan uangnya untuk program itu, untuk dipercayakan pemanfaatannya pada gereja.



Di tiap gereja kita ada amplop persembahan bulanan. Kita menyatakan bahwa kita tidak mempunyai dogma tentang persepuluhan, lalu bagaimana jemaat mengetahui apakah bedanya persembahan amplop itu dengan persembahan persepuluhan? Jangan-jangan mereka yang rajin mengisi persembahan amplop itu adalah mereka yang mempunyai konsep persepuluhan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kita kurang menjemaatkan beban pelayanan yang bisa dan harus ditanggung bersama jemaat. Maukah kita membuat rencana bagaimana kita menggali dana di tahun ini?



Marilah kita masuki tahun ini bersama Tuhan bukan bersama hantu yang kita ciptakan untuk kita takuti sendiri.



Artikel ini dimuat di Majalah Sukita, Edisi 25/TahunVIII/Februari 2009, dengan judul "Cara Menggali Dana"


(kelanjutannya.....)

10 Februari 2009

Imlek Tahun Ini

Beberapa minggu ini saya benar-benar "hilang", oleh-olehnya adalah banyak hal menarik yang ingin saya ceritakan. Salah satunya adalah kejadian di seputar imlek, tapi tidak ada hubungannya dengan budaya Imlek itu sendiri. Hanya kata kunci Imlek itu yang saya pakai untuk tetap mengingatnya di benak saya.
 
Menjelang Imlek kemarin, dua keponakan saya datang dari Bondowoso, pas liburan. Saya cari-carikan jadwal untuk menonton Barongsai, ternyata ada di Golden City Mall. Kita menonton Barongsai di sana. Sementara pertunjukan berlangsung, saya agak menjauh untuk memikirkan hal-hal yang lain, sekedar melamun. Tadinya di bangku-bangku kayu yang ada, tapi kemudian terusir karena bangku-bangku itu mau dipakai untuk pertujukan. Tiba-tiba di sebelah saya ada seorang "bule" yang mengajak bicara. Bahasa Indonesianya bagus sekali. Saya kagum, jadi saya ladeni ngobrol. Namanya Elder Cowan. Saya pikir elder itu nama depan, ternyata elder itu artinya penatua. Nama depannya sama, Daniel!Dia missionary dari Gereja Mormon. Gereja yang di gerbang Tol Satelit dan di dekat AJBS jalan Ratna. Saya jadi ingat dia, ternyata dia adalah bule yang sering saya lihat bersepeda dan berdasi. Sering saya melihat dia dan baru hari itu saya tahu siapa dia sebenarnya.
 
Saya diberinya sebuah brosur. Mungkin karena kemudian saya banyak bertanya, saya diberinya buku yang lebih tebal. Alkitab tambahan Mormon, karangan Joseph Smith. Tenyata dia berdua, temannya ikut bergabung juga. Kita bercakap-cakap. Sekalian saya buat latihan bahasa Inggris. Ada kata kunci dia, yaitu exaltation. Pemuliaan. Jadi kata dia, kita bukan hanya diselamatkan tapi juga dimuliakan. Saat itu kita berbincang cukup lama, sampai dia mohon diri, mungkin mau cari "pasien" yang lain.Dia memberi nomer telpon dan meminta nomer saya. Saya beri saja.
 
Beberapa hari kemudian saya ditelpon dia, dia minta untuk bertemu. Saya sangat sibuk, jadi saya tolak. Waktu dia menelpon lagi, saya janji untuk menemui dia. Jumat yang lalu. Saya ajak dia makan siang di McD.
 
Menjelang pertemuan itu saya berpikir lama tentang apa yang akan kita bicarakan. Apa yang harus saya sampaikan dan apa yang ingin saya tanyakan.
 
Kita janji bertemu 11.30. Jam 11.20 saya sudah memasuki parkiran Mc.D. Saya lihat, ada sepeda di parkiran motor, berarti dia sudah datang.
 
KIta makan siang bersama, dia mengajak seorang teman. Mereka memang selalu berdua-dua untuk bepergian, Mungkin seperti perintah Yesus ke murid-muridnya. Saya sangat kagum pada semangat mereka. Usianya 20 tahun. Mahasiswa Utah University, jurusan Teknik Mesin. Dia menyerahkan diri untuk masuk sebagai Missionary selama dua tahun. Selama itu dia tidak boleh menikah dan punya urusan pribadi. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk pelayanan. Setelah masa itu selesai, dia balik Ke USA dan jadi orang  biasa lagi. Kalau mau jadi missionary lagi, menunggu kalau ia sudah pensiun nanti. Selama punya keluarga, dia harus konsentrasi pada keluarganya dan masuk pelayanan yang lain, yang tidak fulltime. Untuk dua tahun ini, dia harus menyerahkan uang untuk biaya kehidupan dia selama itu. Bila biaya itu kurang, gereja yang akan menambahinya.
 
Dia memang cukup offensif untuk mengajak saya. caranya memang halus dan rapi. Pasti ini hasil dari pelatihan dan persiapan sebelumnya. Dia juga harus belajar bahasa setempat dalam waktu 2 bulan penuh, 24 jam sehari. Kekaguman saya membawa saya untuk menyediakan waktu bersama dia. Saya menolak ajakan mereka, tapi saya menerima mereka sebagai teman. Kita berteman, dan saya memang berjanji untuk suatu saat datang ke gerejanya. Saya mengatakan, "kita ini dalam satu jalan raya yang sama, tapi mungkin kita berbeda lajur". Kita mengobrol tentang pelayanan bersama. Saya tahu dia selalu berusaha masuk untuk menanamkan pandangannya. Tentang pemuliaan itu, saya bilang ke dia, secara pribadi saya tidak punya keinginan apa-apa, Juga seandainyapun saya tidak masuk surga, tidak ada masalah apa-apa bagi saya. Saya hanya hamba. Saya sering keluar kota, saat saya di luar kota, saya berusaha beli oleh-oleh untuk anak saya, walaupun anak saya tidak minta. Dulu, waktu di pesawat masih dapat roti, saya sering bawa itu sebagai oleh-oleh yang gratis. Kalau saya yang berdosa ini tahu dan ingin memberi buat anak saya, terlebih lagi Tuhan yang Maha segalanya itu. Surga dan kemuliaan itu sepenuhnya hak Allah. Saya lihat matanya berkaca-kaca saat saya omongkan hal itu.
 
Menjelang akhir pertemuan itu, dia mungkin meluncurkan jurus terakhirnya. Dia meminta saya untuk berjanji membaca kitab mormon itu dan berdoa agar suatu saat saya menemukan kebenaran itu. Saya salut. anak ini hebat dan pembuat sistemnya juga hebat. Saya jawab dia,
"My friend, how old are you?"
"Twenty years old"
"I am forty"
"I already decided my faith when I was as young as you, If now, you asked me to set back to this point. It means I should set back to my zero point again, I waste my life. We are on the same highhway but different lane. God will show everything that I need to know."
 
Pertemuan hari itu membuat saya kagum akan semangat dia, juga pada sistem yang mereka punyai. Ketika kita punya talenta mungkin kita bisa menjadi bintang, Tetapi ketika kita mempunyai sistem, kita bisa membuat bintang-bintang dari batu-batu.
 
Salam,
Daniel T. Hage
 
 
 
 
(kelanjutannya.....)

23 Januari 2009

Tilang

Mendapatkan foward berita dari internet terkadang membingungkan.Saya sering bertanya apakah suatu berita ini benar atau hanya hoax.Misal saja soal Telur Palsu dari China atau Coca Cola yang korosif, atau penculikan anak di supermarket.


Malam ini saya mendapat pengalaman baru yang berkaitan tentang "foward" berita internet. Soal tilang, saya pernah baca: kalau ditilang minta saja lembaran biru yang berarti kita bisa langsung bayar dendanya di bank.

Tadi sepulang mengantar mertua belanja, di belokan Indragiri menuju Mayjend Sungkono (Surabaya), lampu lalu lintas memang masih kuning ketika saya melintas. Mendadak saya dihentikan oleh Polisi yang bertugas didepan kantor KPU, dia bilang kalau saya melanggar lampu. Saya menyangkal, tapi daripada debat berkepanjangan saya bilang untuk ditilang saja. Dia ajak saya masuk ke pos polisinya. saya duduk dan dia mau nulis surat tilangnya. Saya teringat pada berita internet diatas. Katanya (menurut berita foward itu) minta saja lembar untuk bayar di bank, saya lupa lembar yang berwarna apa: Hijau atau Biru? Tapi saya tetap PD saja, karena saya bisa bahasa Madura dan bahasa maduranya hijau itu "biruh". Jadi saya pikir saya bisa berkelit dengan bahasa madura saya. Saya minta surat tilang yang hijau saja, saya akan langsung bayar di bank saja. Pak Polisinya bilang tidak ada yang hijau, yang ada biru, untuk arsip. Dia menjelaskan bahwa tidak ada sekarang bayar di bank. Dulu memang ada, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Dia ngotot mau memberi surat tilang yang berwarna merah yang untuk sidang di pengadilan. Saya tetap minta yang Biru untuk bayar langsung di bank, dia tetap bilang tidak ada aturan itu lagi.

Saya lalu setuju surat tilang yang berwarna merah, tapi saya minta dia menulis bahwa aturan untuk membayar di bank itu sudah tidak ada lagi, dan ditandatangi dan saya minta nama dan NIP dia. Dia mengenakan rompi hijau (yang bisa berpendar/flouresence) menutupi namanya. Dia menolak menulis itu, saya bilang: kalau bapak benar mengapa bapak tidak berani? Saya sudah menurut dengan dipersalah oleh Bapak dan saya sudah setuju untuk ditilang. Kenapa Bapak yang takut?

Saya lihat dia memang mulai ragu, dia mencari dukungan dari teman yang sama-sama bertugas di pos itu, teman itupun bilang tidak ada aturan itu. Lalu dia menelpon atasannya, kapolseknya, tapi saya tidak jelas dia telpon sungguhan atau pura-pura. Saya tetap bilang, kalau Bapak benar bahwa aturan itu tidak ada, mohon Bapak tanda-tangan.

Akhirnya, Beliau bilang, ini khan hanya tipiring (tindak pidana ringan), damai saja, SIM dan STNK saya dikembalikan dan saya diajak jabat tangan dan disuruh pergi.

Untuk menguji hal ini lagi, mungkin ada yang mau mencoba modus operandi ini? Atau ada Pak Polisi yang bisa mencerahkan?


Pernah di posting di cyber-gki 25 Nopember 2007
(kelanjutannya.....)

06 Januari 2009

Cerita tentang penegakan identitas

Topik tentang SERA (Suku, ekonomi, ras) mengingatkan saya tentang pengalaman yang pernah saya alami.
 
Saya sempat sekolah di SD YPPI sulung, sekolah ini mayoritas tionghwa, saya ingat, saya terbiasa bicara dengan bilang lu.... gua.... (bukan loe gue gaya betawi). Ketika pindah ke Bondowoso, saya bersekolah di SD Katolik. Sekolah misi, begitu biasanya orang bondowoso menyebutnya. Sekolah itu mayoritas juga tionghwa, cuma disana mereka biasa lebih banyak berbahasa indonesia dengan lebih baik. Kita bicara dengan menyebut: kamu dan saya, diselingi beberapa bahasa madura. SMP pun saya di sekolah yang sama. Saat lulus SMP, harusnya saya sekolah di SMAK Frateran. Waktu itu saya ngotot untuk tetap di Bondowoso, di SMPP negeri bondowoso. Tahun 1984 itu, pemerintah baru mengeluarkan kebijakan masuk universitas negeri bebas Test, PMDK, Penelusuran Minat dan Kemampuan. Di tahun pertama PMDK itu, SMAK Frateran PMDKnya 9 orang dan SMPPN Bondowoso 9 orang juga, jadi saya pikir kualitasnya sama. Saya pilih tetap di Bondowoso saja. 6 teman sekelompok saya juga setuju untuk sekolah di Bondowoso saja, semuanya tionghwa.
 
Sekolah di sekolah negeri itu adalah proses awal penegakan identitas pribadi saya. Kelas satu saya berdua yang tionghwa, kelas dua dan kelas tiga, saya sendirian yang tionghwa. Ini pengalaman pertama saya menjadi minoritas yang sebenar-benarnya. Kita berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik, karena awalnya bahasa madura saya cuma sepotong-sepotong. Tidak ada masalah antara saya dan teman-teman sekelas saya. Saya bisa bergaul dengan mereka. Perasaan tidak enak justru muncul saat saya berkumpul dengan 6 teman yang tionghwa itu. Saya menjadi kikuk kalau harus bicara dengan aksen tionghwa itu. Saya merasa malu sendiri, pingin bicara dengan bahasa Indonesia yang baik. Kalau ada teman yang bicara dengan aksen itu, saya rasanya malah tidak senang dengan dia. Saya merasa dia itu tidak dapat menyesuaikan diri. Koq, tidak dapat membawa diri! Begitu perasaan saya pada teman-teman tionghwa itu. Saya ingin menuntut mereka untuk berubah menjadi lebih Indonesia.
 
Perasaan penolakan terhadap identitas sendiri ini membawa beban bagi saya. Saya jadi agak sulit dan sangat berhati-hati dalam bergaul di SMA itu. Hal itu berbeda dengan cara bergaul saya waktu masih SMP. Berbeda juga dengan cara bergaul teman saya yang keturunan Arab. Di kelas, minimal ada 2 teman yang Arab. Kelas dua saya punya dua teman Arab. Azis Miftah, berkulit hitam dan ekonominya biasa-biasa dan Essam Amar, berkulit putih anak orang kaya (keluarganya punya toko besar di Pecinan). Dua orang keturunan itu beda dengan saya, dia berani bergaul dengan bebasnya. Bisa berani nakal. Lha, saya koq tidak. Essam itu tinggal persis di seberang sekolah, seringnya datang telat, pernah ditanya sama Pak Guru, "Kamu kesini naik apa?" dijawabnya "Saya naik onta Pak!" Juga bila ada anak yang kehabisan ballpoint (tintanya habis), ada teman yang selalu nyeletuk ,"Soroh Aziz raop bei!" "Suruh Azis cuci muka saja" Khan dia hitam, jadi siapa tahu airnya jadi hitam jadi  bisa dibuat tinta. Azisnya malah overacting membuat kelas jadi tambah seru.
 
Saya malah punya beban atas identitas saya ini untuk bisa bergaul dengan bebas.
 
Sampai suatu saat saya diceritai oleh Papa, soal BAPERKI dan Soeharto. Soal perbedaan konsep antara keduanya. Keluarga saya memang banyak mengalami masalah terimbas oleh gejolak politik waktu itu. Engkong saya di tembak mati, Tante saya harus balik ke Tiongkok dan Om saya tidak jadi wisuda karena seminggu sebelum wisudanya, universitasnya di bakar. Ia kuliah di universitas milik BAPERKI, sekarang jadi Trisakti. Baperki punya konsep Integrasi, sedang Soeharto punya konsep asimilasi. Integrasi berarti penyatuan dengan tetap menghormati dan mengakui perbedaan yang ada. Asimilasi berarti semua perbedaan harus dilebur menjadi satu kesatuan yang baru. Makanya kemudian ada Ganti nama, ide menjadi islam (agar lebih meng-Indonesia) dan tindak-tindakan untuk menghilangkan perbedaan demi persatuan itu.
 
Saya memilih untuk mempercayai integrasi. Kesatuan dan Persatuan yang tetap mengakui adanya perbedaan. Perbedaan yang ada merupakan kekayaan yang indah untuk dinikmati bersama. Rasanya dengan konsep integrasi itu, saya menjadi bebas dan ringan. Saya tidak perlu merasa dibebani oleh perbedaan saya dan saya tidak perlu memaksa orang lain untuk berubah juga. Saya cukup menanamkan rasa kebersamaan dengan sesama saya. Dengan ringan juga saya bisa berolok-olok dengan segala perbedaan yang ada. Yang penting adalah perhormatan dan penghargaan yang sama bagi sesama saya.
 
Demikian sharing saya.
(kelanjutannya.....)

28 November 2008

Cerita tentang Emak

Hari ini pas 11 tahun meninggalnya nenek saya. Saya memanggilnya Emak. Seorang wanita berkebaya yang banyak mendidik saya tentang kehidupan ini. Saya tinggal bersamanya sejak kelas 5 SD sampai lulus SMA, 8 tahun lamanya.
 
Emak sudah menjanda sejak usia sekitar 35 tahun. dengan 3 orang anak, yang terkecil, papa saya, berusia 10 tahun. Rumah asalnya saat ini jadi gudang tembakau perusahaan rokok besar ditengah-tengah jarak antara Bondowoso Jember. Rumah itu ditinggalkannya begitu saja mengungsi ke kota Bondowoso, tanpa mau mengurusi kepemilikannya lagi. Disana ia telah kehilangan semuanya, harta benda dirampok, rumah di bakar, suami ditembak mati. Terlalu pahit untuk didatanginya lagi. Untunglah, Emak mendapat bantuan 4 ekor sapi perah dan rumah untuk ditinggali. Dengan memelihara sapi perah dan menjual Susu Sapi, ia membesarkan anak-anaknya, keponakan-keponakannya juga cucu-cucunya.
 
Saya mendapat kenang-kenangan sebentuk cincin berlian dan giwang bermata permata. Mungkin harganya mahal, tapi saya tidak terlalu mengingatnya, karena memang Emak jarang memakai dan membanggakannya. Saya lebih mengingat banyak peribahasa dan ungkapan-ungkapan yang ia sampaikan. Ada yang berbahasa mandarin, Hokkian, madura dan bahasa Indonesia. Yang paling saya ingat dengan tepat pasti yang madura dan Indonesia, karena saya mampu berbahasa itu.
Banyak pelajaran berharga tentang nilai-nilai kehidupan yang saya dapatkan dari Emak.
 
Emak pernah cukup aktif di GKI Bondowoso, pernah jadi majelis di jamannya Pak Wiede Benaja, pendeta yang sangat dihormatinya. Ia pun selalu hormat pada "Boksu", begitu biasanya ia memanggil Pak Pendeta. Siapapun beliau itu. Pernah ada pendeta muda yang bermasalah dengan jemaat di Bondowoso, tapi Emak tetap menghormatinya, selalu dikiriminya susu dan buah mangga atau rambutan, tidak terpengaruh oleh gonjang-ganjing yang ada.Tentang kerohanian, Emak pernah menjelaskan tentang satu karakter (huruf) dalam aksara Cina, "Lai" yang berarti datang. Karakter ini terdiri dari 3 bagian, ditengahnya ada goresan mirip salib dan di kiri kanannya agak kebawah ada dua goresan lagi. Kalau berdiri sendiri, dua goresan itu masing-masing akan berbunyi "ren" yang berarti orang. Emak bilang, "inilah sebabnya bahwa tiap orang harus datang di bawah salib".
 
Sehari-hari dalam bermain bersama saudara, saya kadang bertengkar. Emak menasehati untuk tetap rukun. Mumpung masih kecil. Menurut Emak, justru pada saat kita masih kecil, maka kita bisa merasakan arti persaudaraan yang sebenar-benarnya. Nanti kalau kita sudah besar, kita akan punya ipar, suami atau istri saudara-saudara kita. Saat itu semuanya mungkin akan berubah. Tentang ipar-ipar itu Emak "bernubuat", "Sa te pote na kapor, gi' be'eng". Seputih-putihnya kapur (saat itu belum ada cat tembok), masih kusam (mangkak)". Benarkah nubuatan itu? Hanya kita yang bisa merasakan sejujurnya.
 
Sehari-hari saya membantu Emak berjualan susu sapi. Saya mendapat kepercayaan yang besar untuk bisa membantunya. Dia tidak pernah menyuruh kami bersaudara untuk membantunya, karena untuk membantunya kita harus bangun pagi sekali. Dia tidak pernah membangunkan saya. Saya berusaha bangun jam 3.30 kalau mau membantunya. Emak percaya juga, waktu saya minta menguruskan pajak perusahaan itu. Dari pada uangnya untuk membayar orang kantor pajak. Saya pelajari buku pedoman pajak, saya isikan SPT-nya. Waktu itu saya kelas 1 SMP. Saya antar ke kantor pajak pakai sepeda mini dan bercelana pendek.
Orang Pajaknya tanya,"Siapa yang mengisi?"  
"Saya"
"Kamu tahu, kalau sampai salah isi, dendanya besar, segini... segini..... segini..." Saya ketakutan selama berbulan-bulan, tanpa berani cerita ke Emak. Tahun-tahun berikutnya saya tetap mengisinya lagi. Sampai perusahaan itu ditutup, Emak tidak pernah punya masalah dengan pajak. Waktu saya tanya kenapa harus bayar pajak, Emak bilang, "Karena Engkong pesan, kalau mau berbisnis harus mau bayar pajak"
 
Di perusahaan susu itu, ada beberapa loper (pengantar) susu yang nakal. Uang setorannya sering tidak pas. Selalu berhutang, tambah lama hutangnya tambah besar. Saya mengusulkan untuk memecatnya saja. Emak selalu menolak, alasannya, "Baju robek bisa ditambal, tapi kalau perut lapar, mata bisa gelap". Pedoman ini selalu saya ingat dalam mengelola pekerjaan saya saat ini. Penghargaan akan kebutuhan manusia, walaupun itu karyawan kita.
 
Dalam berteman, Emak pernah bilang untuk menghindari, "Pandhen dhuri, endhe' ngaek ta' endhe' e kaek" Pandan berduri, mau mengait, tidak mau dikait. Di daun pandan itu ada duri yang menghadap ke belakang, seperti kail. Duri itu mampu mengait orang, tapi sulit untuk dikaitkan. Jangan egois.
 
Keteguhan Emak pada prinsip hidup mungkin enak untuk diceritakan, tapi harga sesungguhnya yang harus dibayarnya sungguh besar. Setelah G30S, sekolah Tionghwa di tutup. Tante saya, anak perempuan Emak satu-satunya. Tuako, begitu saya harus memanggilnya. Adalah guru di sekolah Tionghwa, dia tetap berkeinginan menjadi guru. Untuk itulah ia memohon ijin untuk kembali ke Daratan Tiongkok. Emak melarangnya. Emak sangat mencintainya dan tidak ingin berpisah darinya. Sampai suatu saat, Emak tidak dapat menolak untuk mengingkari prinsip hidupnya sendiri. Saat Tuako bilang, "Kalau Mama percaya ini bumi Tuhan dan disana juga bumi Tuhan, kenapa Ngo (saya) tidak boleh pergi?" Perkataan itu dibenarkannya, dan dilepasnya Tuako untuk pergi. Diberinya kenang-kenangan yang sangat dibanggakannya. Sebuah bros bintang emas, yang diperolehnya saat juara lomba pidato dalam rangka ulang tahun Ratu Wihelmina di kelas 5 SD. Mungkin itu kelas terakhirnya, karena Emak tidak punya ijasah, papanya melarang untuk terus bersekolah, karena ia perempuan. Bros itu dibanggakannya karena disematkan oleh Kapten Cina, pemimpin komunitas Tionghwa di Bondowoso waktu itu. Perpisahan itu, adalah pertemuan terakhir antar mereka, Mama dan anak perempuan yang dicintainya. Mereka tidak pernah saling berjumpa lagi sampai maut memisahkan mereka.
 
Saat hidup harus berprinsip, saya bersyukur saya mendapat teladan yang baik dari Emak. Teladan untuk mencari, menemukan dan mentaati prinsip hidup ini, seberapapun mahal harganya. Seperti doa yang sering saya panjatkan, saat inipun saya berdoa, "Tuhan, sampaikan salam saya untuk Emak".
(kelanjutannya.....)

27 Oktober 2008

Cerita tentang Belajar Komputer

Saya baru mengenal komputer tahun 1987, saat pertama kali kuliah di ITS. Kiranya cerita ini bisa menginspirasi banyak teman.
 
Saya dari sekolah negeri di Bondowoso, itupun masih 3 km di luar kota ke arah Situbondo. SMPP, Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan, sebuah sekolah percobaan. Pemerintah dulu punya rencana untuk membuat SD 8 tahun dan kemudian SMPP 4 tahun. Dari sana saya masuk ITS, saya kagum dengan kampus itu, karena gedenya koq rasanya lebih gede dari kota Bondowoso. Rasanya semua ada disana, dan rasanya rugi kalau tidak memanfaatkan fasilitas yang ada. Termasuk fasilitas di Pusat Komputasi ITS. Mahasiswa boleh pakai komputer dengan tarif 400 rupiah per jam.
 
Ketika masuk ITS saya belum pernah lihat dan pegang komputer. Barang yang terlalu canggih untuk ditemukan di Bondowoso. Karena itu saya pingin bisa belajar memakainya. Saya cari buku komputer. Saya pikir belajar komputer itu mulai dari BASIC, saya baca buku itu. Tapi ternyata saya salah, saya baru tahu kalau pertama-tama harus belajar DOS. Saya belajar juga DOS, baca buku sampai lumayan ngerti. Tapi ya... cuma diangan-angan saja, karena saya juga belum pernah praktek. Saya beranikan diri untuk beli jam di PUSKOM ITS. Saya PD aja, untuk mulai praktek semua yang sudah saya baca.
 
Setelah antri dengan berdesak-desakan, saya akhirnya bisa duduk di depan komputer untuk pertama kalinya seumur hidup. Saya bawa buku untuk belajar, bawa disket DOS juga. Waktu itu disketnya 5,5 inci, gede tapi tipis. Disketnya saya masukkan, saya turunkan kunci disk drive-nya. Saya tunggu lama, kog tidak ada reaksi apa-apa. Saya memang tahu komputernya ini pasti belum nyala. Tapi masalah terbesar yaitu, di buku-buku itu tidak ada petunjuk cara menyalakan komputer. Semua yang bisa saya pencet, sudah saya pencet, tapi komputernya belum nyala juga. Mau tanya ke orang lain koq rasanya malu. Saya menunduk terus, pura-pura baca buku, sambil lirik kanan lirik kiri, siapa tahu ada yang baru datang juga. Akhirnya datang juga pengunjung baru, saya lihat terus apa yang dia lakukan. Ternyata dia menjulurkan tangan kanannya ke belakang komputer. Saya coba juga meraba-raba sisi kanan belakang komputer itu. Ooooo, ternyata disisi kanan belakang komputer itu ada tombol power yang harus dinaikkan. Ya..... ampun.... saya baru tahu. Nah, hari itu saya belajar komputer untuk pertama kalinya dengan materi utama Cara Menyalakan Komputer.
 
Hari-hari berikutnya saya rajin belajar komputer. Antri berdesak-desakan. Selalu saja ada kejadian menarik waktu antri itu. Setiap kali antri kita harus menyerahkan kartu tanda pembelian jam kita dan menandatangani daftar hadir. Setiap selesai tanda tangan selalu ada yang saya rasa aneh. Pasti orang di kanan kiri saya menoleh ke saya. Sekedar melihat saya, tidak ada kata-kata yang terlontar. Tapi mungkin saya bisa menebak yang terbersit dibenak mereka, "Tanda tangane koyok tulisan arab, tapi wong e koq cino..."
 
Beberapa bulan kemudian, Paulus memberi saya alamat temannya yang punya toko komputer, Dian Computer di Kedungdoro. Saya ke sana dan diterima sebagai Trainer Freelance. Waktu itu komputer masih XT kemudian AT, banyak orang yang belum bisa komputer, jadi kalau beli komputer akan dapat bonus training 5 Jam. Tugas saya adalah memberi kursus singkat itu, 5 jam per customer. Saya dibayar Rp. 5.000,oo per jam. Materinya terserah customernya. Biasanya DOS, Wordstar, Lotus 123, Dbase... atau apa saja sak mintanya dia. Saya tidak perlu datang ke kantor, cukup telpon alamat yang harus saya datangi dan buat janjian sendiri. Datang ke kantor hanya untuk ambil honor saja.
 
Sampai suatu saat saya dapat tugas training untuk satu perusahaan di sekitar Kapasan. Bos muda yang punya pabrik rotan besar. Saya datang dan mengajar disana. Saat itu dia mengeluh kalau tidak mengerti sama sekali tentang komputer. Lalu saya menjawab, "Tidak apa-apa, komputer itu gampang koq, saya aja tidak sekolah komputer, tapi bisa komputer." Saya merasa ingin membesarkan hatinya dengan omongan itu. Tapi besoknya saya dipanggil ke kantor dan ditegur sama bos saya. "Daniel, kamu jangan bicara begitu, orangnya marah, karena dianggap kita kirim orang yang tidak qualified." Saya sedih sekali, maksud saya ternyata ditanggapi lain. Saya walaupun belajar sendiri tapi khan saya bisa dengan tidak kalah dari yang sekolah/kursus. Masak semua harus sekolah formal dan ada ijasahnya? Tapi ini pelajaran berharga buat saya.
 
Soal Blog, saya memang pingin bisa buat website, terutama untuk promosi pekerjaan saya. Saya tetap yakin kita di Indonesia bisa menandingi kualitas bengkel di luar negeri. Kalau orang Jerman bisa buat part yang sangat presisi, saya yakin bukan orang Jermannya yang pinter, tapi alat dan program mereka yang canggih. Jadi kalau kita bisa pakai mesin yang sama canggihnya, pasti kita bisa menang sama mereka. Mereka masih harus beli software-nya, lha semua software ada bajakannya disini. Paling tidak ini "keuntungan" dari harapan saya. Tapi saya tidak punya kekuatan memaksakan alokasi waktu untuk belajar itu. Sampai Tri bilang soal blog. Saya masih juga ogah-ogahan. Sampai bulan lalu, di Kompas ada artikel soal Facebook, website untuk pertemanan. Saya coba masuk website itu dan saya search nama teman saya, Andrew Elnatan. Iseng saja. Wah..... Ketemu, ada nama itu di LA, USA. Saya lihat fotonya koq beda.... tapi saya yakin di dunia ini masak ada orang lain dengan nama itu. Dia ini teman sebangku saya sampai kelas 4 SD di YPPI sulung. Kelas 4 itu kita berpisah. Dia pindah Ke Australia, saya pindah ke Bondowoso. Hampir 30 tahun kita tidak pernah bertemu. Dan Internet mempertemukan kita lagi. Ini mujizat.
 
Kekaguman saya akan internet mendesak saya untuk bisa belajar buat blog itu. Saya benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana. Saya coba-coba saja. Tanya ke Tri bisa menjadi jalan masuk, tapi saya orang yang sulit diajari. Saya sulit kalau mendengarkan penjelasan orang lain, saya lebih mudah belajar sendiri dari buku atau artikelnya. Tri memang banyak membantu, paling tidak akhirnya saya tahu tempat dimana dia "kulakan" ilmunya. Saya ke situs itu dan belajar sendiri. Akhirnya jadi juga. Bagi yang mau belajar masuk saja ke: ilmukomputer.com, disana banyak orang yang mau berbagi ilmu.
 
Saya yakin, tiap orang juga pasti bisa, asal mau meluangkan waktu untuk belajar. Internet ini memang luar biasa. Hal-hal yang mustahil di masa lalu kini semuanya jadi bisa.
 
Salam,
Daniel T. Hage
(kelanjutannya.....)

21 Oktober 2008

It's all about money

Semua komisi dan bidang sudah memasukkan program kerjanya. Tim program pasti bekerja keras untuk mengolahnya. Banyak masukan dan keinginan yang sudah akan dilaksanakan untuk tahun depan. Banyak "Laskar Pajang" yang katanya boleh tetap punya impian. Banyak juga "kehendak Bohir" yang harus dilakukan.
 
Saya tidak ingin mencampuri semua pihak yang sedang bekerja dan berharap. Saya hanya duduk sebagai penonton yang bisa berkomentar dengan bebas. Apa yang akan banyak kita dengar? Kondisi perekonomian global yang melesu?  Bagaimana dengan rencana pemasukan kita tahun depan? Beranikah kita berharap bahwa pemasukkan kita akan mencukupi untuk membiayai semua impian kita?
 
Seorang teman saya acap berkoar-koar,"Kita ini khan anak, kita buat saja daftar segala kebutuhan kita, lalu kita minta sama Bapa kita yang empunya jagad raya ini" "Masak Ia tidak akan mencukupkan kita?" Sebagai teman yang baik, saya menghargai dia dengan jawaban, "KCL!" Kacian Deh Lu! Idenya tidak laku! Selalu saja dia diingatkan bahwa kita sudah diberi otak sama sang Bapa. Kita harus punya hikmat untuk memikirkan dan merencanakannya. Maka jadilah kita selalu memikirkan dan merencanakan pemasukan kita.
 
Kalau kita ini perusahaan, maka perencanaan pemasukkan akan berkaitan erat dengan penjualan produk kita. Dengan proyeksi nilai penjualan kita, kita akan tahu berapa pemasukan kita. Bagaimana dengan kita? Apa produk yang kita jual dan apa usaha kita untuk meningkatkan pemasukan kita melalui pendekatan produk kita? Apakah tidak satupun yang akan kita lakukan untuk memperbesar pemasukkan kita? Kita berharap dengan pasif, tetapi kita punya target. Kita bagaikan duduk menunggu jatuhnya daun dewa ndaru di Gunung Kawi, ketika daun itu kita dapat, kita pulang dengan damai. Mengapa kita tidak mengguncang pohon itu atau memanjatnya untuk memetik daunnya? Takut kualat? Atau kita yang tidak tahu kalau kita bisa berbuat begitu?
 
Kalau kita mau berpikir dan merencanakan pemasukkan kita, mari kita definisikan produk kita sebagai gereja. Jangan terbawa untuk mendefinisikan dengan vulgar, misalnya keselamatan atau masuk surga, nanti kita bisa kena tempelak sama Martin Luther lagi. Tapi misalnya bila kebersamaan dan kekeluargaan dan misi keluarga dalam bergereja menjadi salah satu produk kita, maka kita bisa menjualnya itu ke jemaat kita. Kita  bilang ke jemaat, kita bisa menjalin keakraban dan kekeluargaan diantara kita. Kita bisa mengajak jemaat untuk membiayai program kita itu. Contohnya, saat Kopi Darat itu sebagai produk bisa didefinisikan dan dijual, maka berapa banyak dari kita yang mau membayar mahal untuk pencapaian tujuan acara itu? Kita sudah pernah melakukan dan berhasil, kita hanya perlu keberanian untuk melakukan dengan skala yang lebih besar.
 
Memikirkan dan merencanakan pemasukan kita? Benarkah itu?
Jangan-jangan yang kita lakukan bukan memikirkan dan merencanakan untuk mencukupkan segala kebutuhan kita, tetapi malah merencanakan untuk "membatasi" penerimaan kita.
 
Kalau kita memang sungkan untuk meminta pada Bapa kita, mengapa kita tidak berusaha dengan kekuatan kita (dan ini serius), seperti Yakub yang berani berkelahi melawan malaikat Tuhan. Apa jadinya kalau kita enggan berdoa tapi juga enggan "berkelahi"?
 
Berdoa atau berjuang? Bagi yang males mikir, jawabnya pasti kedua-duanya. Tapi..... jujurlah..... ini benar-benar pilihan dan keduanya benar asal serius.
 
Tulisan ini tidak bermaksud mempertentangkan doa dan usaha kita. Marilah kita melihatnya sebagai talenta yang kita punyai, bagi yang bertalenta berdoa, doakanlah kami yang berusaha. Bagi yang memang bertalenta untuk bekerja, berjuanglah karena ada kami yang selalu mendoakan anda.
 
 
Salam,
Daniel T. Hage
(kelanjutannya.....)

19 Oktober 2008

Pengintai Kita

Lagi-lagi alkisah di suatu waktu di Dipo. Dahulu kala, di KPR ada seorang Tante yang sangat menyayangi dan memperhatikan KPR, Tante Betty Kwee. Beliau selalu mendampingi KPR, mendampingi. Cuma itu yang dilakukannya, tidak pernah memaksakan kehendak ataupun usulan. Tiap rapat KPR, beliau selalu hadir. Kalau tidak bisa hadir beliau akan selalu berkata, "Daniel, Tante tidak bisa datang.... tapi nanti Tante akan masakkan." Jadinya, beliau selalu hadir. Kalau tidak orangnya.... ya paling tidak masakannya. Ada yang mau nulis tentang Tante Betty?

Hari itu, sepulang kebaktian kita kumpul di rumah Tante Betty. Ada masalah cukup "genting" saat itu. Soal tulisan Pak Robert Setio. Tulisan di warta jemaat soal karya penyelamatan Yesus. Tulisan itu idenya mirip kayak yang diungkapkan pak Widi di Acara yang lalu. Rasanya memang Pak Robert mendahului zamannya. Beberapa pemuda tidak setuju dengan tulisan itu. Kita sepakat untuk protes atas isi renungan di warta jemaat itu. Strateginya kita susun. Saya sepakat bahwa yang nulis harus pribadi-pribadi. Kita sebagai KPR tidak akan menulis surat resmi. Rasanya ada beberapa teman yang menulis surat ke majelis waktu itu.

Beberapa saat kemudian, Apa pengajuan kependetaan Pak Robert Setio. Lagi-lagi ada beberapa teman yang kurang setuju dan itu dikaitkan dengan tulisan di warta jemaat tsb. Saya ingat ada 11 rekan yang menulis surat ke majelis. Jumlah itu saya ingat, tapi nama-namanya mungkin saya lupa. Kita tetap sepakat untuk tetap kompak, walaupun tidak semua rekan setuju. 11 rekan itu diundang rapat majelis. Saya endak ikut-ikut lho.....  Sampai disini, kejadian itu tetap saya anggap biasa. Tidak ada yang aneh.

Sampai suatu saat, ada yang melaporkan bahwa 11 anak itu mendapat undangan persekutuan doa di rumah Prof. Paul Tahalele (dokter jantung ternama itu). Sampai saat ini, saya tidak tahu siapa yang membocorkan 11 nama itu dan ide siapa yang mengundang mereka ini. Kejadian ini menjadikan sesuatu yang aneh bagi saya. Saya sepakat dengan mereka bahwa saya akan hadir juga di acara tersebut.

Saya bersama beberapa teman hadir di rumah mewah itu. Di acara itu, beberapa wajah saya kenal, walaupun saya tidak tahu nama mereka satu persatu. Yang saya tahu, ada Prof. Sahetappy, ada dr. Martin Setiabudi, ada beberapa orang UK Petra. Acara pertemuan itu seperti persekutuan pada umumnya. Ada renungan. Ada pujian. Ada makan malamnya juga. Semuanya biasa, sampai kemudian pada acara setelah makan malam. Tenyata pada hadirin di arahkan untuk menandatangi penolakan akan pengesahan tata gereja GKI. Semuanya sih setuju-setuju saja, bisa jadi karena yang bicara adalah Prof. Sahetappy. Saat itu saya langsung bicara, Saya menolak acara itu karena kalau mau ditolak ya... tolong dijelaskan isinya apa? Suasana mulai penuh kasak kusuk, ternyata dimana saja sama saja. Perlu seorang yang berani ngomong. Begitu ada yang berani ngomong... mereka juga jadi berubah pikiran. Maka malam itu....acara tanda tangan itu batal. Saya juga tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Saya tidak pernah diundang lagi.

Kejadian itu membuat saya tahu, siapa pengintai kita. Siapa musuh yang ada diantara kita. Bukan untuk memecah belah sesama orang kristen tetapi sebagai pengurus kita harus tepat dalam memetakan musuh dan kawan kita.

Ada pihak yang selalu mengintai dan bergerilya di dalam kita. Mereka yang merasa selalu benar dan merasa perlu "mempertobatkan" kita. Hingga saat ini.
(kelanjutannya.....)

Kesendirian

Ada hal yang selalu bisa saya nikmati dengan indah di hidup saya saat ini. Kesendirian dan kesunyian. Saya sangat bisa menikmatinya dan memanfaatkannya.

Saya bangun sekitar jam 5 an, setelah itu saya sibuk menyiapkan bekal untuk kedua anak saya, Sylvie sudah bangun jam 4.30an dia mencuci beras lalu menyalakan rice-cooker kemudian ditinggal ke pasar. Saya dirumah, menyiapkan minum dan tas bekal anak saya. Setelah itu membangunkan mereka, menyuruh mereka mandi, pakai seragam dan sarapan. Kadang mereka makan nasi, kadang roti, kadang rotinya di panggang, kadang cuma minum cereal atau susu atau milo. Saya menikmati hal itu, karena cuma itu yang bisa saya lakukan dengan rutin untuk anak saya, juga karena sehari-hari saya balik kerumah sudah cukup malam. Dulu nenek saya melakukan hal ini juga bagi saya dan saudara-saudara saya.

Sampai sekitar jam 6.15 mereka sudah harus berangkat. Saat itulah semua hal indah selalu saya nikmati. Ketika rumah sudah sepi antara jam 6.30 sampai jam 7.30 (jam dimana telpon sudah akan banyak berbunyi). Biasanya saya duduk dilantai, berdoa, baca alkitab. Saya malas kalau harus baca alkitab pakai buku panduan. Saya baca urut saja dari kejadian sampai wahyu dan terus berulang. Satu hari satu pasal saja. Syukur kalau dapet yang pendek. Kalau dapet yang mazmur 119 ya..... mau apa lagi. Syukur kalau baca yang bisa direnungkan. Kalau pas baca bilangan dan yang ada cuma ukuran-ukuran dan silsilah keluarga.... ya... endak apa-apa juga. Entah sudah berapa kali saya katam (ini kalau istilahnya muslim). Kebiasaan ini sudah berjalan mulai sekitar kelas 3 SMP. Setiap hari kecuali minggu dan pas keluar kota. Bukannya males bawa alkitab, tapi saya sendiri kehilangan kesendirian dan kesunyian saya. Setelah itu saya baca koran atau baca buku atau melamun.

Banyak penyelesaian masalah yang saya hadapi sehari-hari, diperoleh pada saat-saat itu. Dalam kesendirian itu, banyak simulasi percakapan dan diskusi dan perdebatan saya nikmati. Semuanya, dari hal yang baik sampai yang jahat. Perdebatan tentang complain customer, pengaturan penawaran, perdebatan dengan majelis....juga ada. Saat-saat itu saya mensimulasikan semua perdebatan yang mungkin terjadi. Kalau saya jawab begini, mereka akan jawab bagaimana? Kalau dijawab begitu, saya harus menjawab apa? Dalam kesendirian itu semua "flow chart" dan "road map" tercipta. Dan itu hasil yang saya ingat untuk bekal menghadapi hari-hari saya. Kerangka tulisan ini pun hadir pada saat-saat itu. Lamunan itu memang banyak menghabiskan emosi. Ada yang membuat marah, tersenyum bahkan menangis. Itulah jam-jam indah saya dalam kesendirian.

Saya punya customer pabrik rokok besar yang kalau meminta saya datang, selalu saya yang harus menunggu mereka. Mungkin ini strategi mereka untuk bisa dianggap penting. Saya tidak pernah merasa takut untuk menunggu. saya bisa baca buku, baca ebook, mendengarkan audiobook, ataupun kalau semuanya tidak memungkinkan, saya masih bisa melamun. Saya lebih senang menunggu sendirian dari pada ada orang yang menemani dan mengobrol basa-basi. Dalam lamunan saya bisa memikirkan banyak hal. Kesendirian dan kesunyian itu benar-benar bisa saya nikmati dan manfaatkan. Saya pernah mendapat order cukup besar hanya karena saya disuruh datang jam 11 siang dan baru ditemui jam 3 sore. Saat itu saya isi dengan baca buku. Mungkin bos itu kasihan liat saya......

Kesendirian dan kesunyian itu juga yang membuat saya betah di GKI. Saya lebih memilih ikut misa di kathedral dari pada ikut kebaktian di bethany. Lha, saya endak tahu bagaimana menikmati jingkrak-jingkrak itu. Kalaupun dulu saya sering ke diskotek.. ya saya cuma duduk ngobrol atau ya ngelamun saja. Selama tidak ada orang yang mengajak saya bicara, saya bisa "suppress the ambient" suasana hingar bingar itu. Kesendirian itu sungguh lebih nikmat bagi saya.

Apa benar saya terlahir begini?

Saya sangat suka berteman, banyak teman saya dan banyak yang saya lakukan bersama teman-teman. dulu waktu SMP, saya diajak ikut les. Saya sebenarnya malas,karena saya merasa nilai saya sudah cukup baik. Tapi karena di tempat lesnya ada meja pingpong dan anak yang punya rumah itu sangat "menarik", maka saya ikut les itu. Les inggris dengan buku 999. Semua ada enam buku dan kita selesaikan semuanya. Bukan lesnya yang menarik, tapi main pingpong dan "anak" itu yang membuat kita bisa selalu kompak. Menyenangkan sekali. Lesnya jam 18.30 sampai 19.30. Kita sudah datang jam 17.30 an dan pulang jam 20.15an. Pulang karena jam segitu papa dan mama si tuan rumah pulang dari tokonya yang di desa. Pulangnya saya naik becak atau jalan kaki. Saya lebih suka jalan kaki saja. Dari pecinan ke jalan bungur mungkin cuma 15 menit jalan kaki. Saya ingat, saat itulah saat yang terasa aneh. Baru saja kita bisa tertawa bersama, bicara bersama, kini semuanya terasa sepi. Hati ini terasa kosong. Waktu itu semua toko di Bondowoso waktu itu  sudah tutup jam 20.00. Jalanan gelap, belum lagi kalau pas hari itu ada pemadaman bergilir. Saat itu kesendirian  terasa aneh bagi saya. Perasaan kosong dan sepi menggantikan suasana meriah bersama teman-teman tadi.

Kejadian itu terus berulang,  Tidak ada kejadian istimewa apa-apa. Yang ada cuma saya mulai mengikuti pelayanan di gereja dan dalam suatu acara camp saya pernah menjawab tantangan untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Kemudian saya mengikuti kateksasi dan dipermandikan.Tidak ada apa-apa yang terjadi, tetapi perasaan sepi dan kosong itu benar-benar sudah tidak pernah datang lagi. Seberat apapun perasaan saya, saya tidak pernah merasa sepi dan kosong lagi.

Sebenarnya, cerita ini tidak pernah terpikir sebelumnya. Sampai pada suatu hari, beberapa tahun silam, saat anak saya mulai ikut sekolah minggu. Hari itu sepulang sekolah minggu anak saya mengulang lagu yang diajarkan oleh guru sekolah minggunya. Kira-kira bunyinya: "seperti donat, seperti donat..... hati yang tidak mengenal yesus.... ada lubang di tengahnya....."  (ada yang tahu kata-kata persisnya?)

Kini donatnya sudah jadi donatnya Jco, tengahnya buntu!

(kelanjutannya.....)

Camp Sendang Biru

Kira-kira itu tahun berapa ya? Pasti sekitar 1991-2an. Abad yang lalu. KPR dulu punya proyek desa binaan, padahal apanya yang mau membina, lha wong kita cuma segerombolan anak muda yang kumus-kumus. Dipilihnya Sendang Biru, bisa jadi karena disana desa yang mayoritas kristen, juga bisa jadi kita ikut-ikutan Pelayanan Mahasiswa (Pelma). Pelma adalah pelayanan bersama antara GKI dan GKJW, dua minggu sekali bergantian mengadakan kebaktian mahasiswa di GKI Ngagel dan GKJW Ngagel. Pembinanya Pak Abdi Widyadi (Pak Nyok) dan Pdt. Art Verburg. Mereka punya acara sosial disana, menanam pohon mangga dan penyuluhan. Saya dan beberapa teman aktif di Pelma seperti: Rahmat, Nanang, Joko Sibarani, Niske (malah dapet belahan jiwanya) , jadinya mungkin kita ketularan ikut-ikutan memilih sendang biru.

Waktu itu KPR ingin mengadakan Camp yang lain dari biasanya. Biasanya kita camp di tempat camp/retreat yang sudah ada. Semacam di penginapan, kala itu kita coba dengan hal yang laen. Kita mau berkemah. Acaranyapun beda. Saya bukan orang yang percaya pada pembinaan instan. Saya tidak pernah percaya pada camp pembinaan. Saya percaya pada camp hura-hura. Karena melalui hura-hura yang bukan huru-hara, saya pasti dapat membina hubungan. Hubungan yang akrab akan memungkinkan kita membina mereka di pertemuan rutin. Kita mulai dari camp, menangkap mangsa kemudian menjinakkannya di persekutuan doa. Strategi ini yang saya percayai.

Acara disusun oleh seksi acara, siapa ya waktu itu? Tirtaning? Sepenuhnya saya tidak terlalu ikut-ikutan disisi isi acara, saya hanya memonitor di bentuk acara. Persiapan kita cukup matang. Sampai pada seminggu menjelang acara. Kita belum dapat ijin keramaian, karena kita mau berkemahnya di lapangan desa. Tirtaning yang mengurus perijinan itu, sampai 3 hari menjelang acara, ijin dari kepolisian polres malang (yang di kepanjen) belum didapat juga. Tirta memang sudah ke sana  mengurusnya, tapi rasanya petugasnya yang tidak ada ditempat. Saya tetap pada pendirian, kita terus saja. Pertimbangan saya, jumlah kita tidak terlalu banyak, mungkin 50 an. Kita juga direstui oleh pendeta GKJW setempat, dan desa itu mayoritas kristen jadi... pasti pendeta adalah sosok yang disegani.

Seorang ibu Majelis Penghubung KPR bilang, "Daniel, Tante berdoa agar ijinnya tidak keluar!" Syukurlah ada Ibu Majelis yang Baik. Minimal dia Ibu yang baik, karena pasti dia gemetar karena 3 anak gadisnya sudah mendaftar Camp itu. Mana ada Ibu yang tega 3 anak gadisnya bakalan terlunta-lunta di desa. Jauh dari kamar dan rumah yang bersih dan teratur. Untunglah ada Tuhan yang lebih baik, Tuhan yang mampu melihat kebaikan yang hakiki. Ketulusan dan kebaikan yang ada di hati tiap Panitia Camp. Sungguh, semua panitia dan pengurus benar-benar mempersiapkan acara ini dengan baik. Sebelum berangkat ada technical meeting, peserta diberi tahu keadaan yang sebenarnya. Informasi akan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.

Acarapun berlanjut, ketiadaan ijin keramaian dari kepolisian menjadi rahasia kita. Tidak boleh keluar, saya yang bertanggung jawab. Bukannya sok, tapi begitulah kita.

Camp inipun dimulai. Tim pionir berangkat duluan, mereka menyiapkan 3 tenda besar. Satu tenda putra, satu tenda putri dan satu tenda untuk pertemuan. Acaranya pun berjalan lancar, ada pertemuan, ada bakti sosial. Kita membangun lapangan Voli di samping gereja. Kita bekerja bersama pemuda gereja setempat. Disini kita tidak membina lewat ceramah, tapi lewat kehidupan dan aktivitas kehidupan yang sebenar-benar. Disana tidak ada WC umum yang memadai untuk kita semua. Didekat lapangan hanya ada sumber air tempat warga desa sana mandi dan mencuci. Tidak ada bangunan permanennya. Tidak ada kamar mandi berpintu dan beratap yang permanen. Di technical meeting, kita sudah tekankan bahwa tidak boleh ada yang ngintip orang mandi. Hidup kita akan menjadi sorotan orang desa sana. Sampai berita ini diturunkan, tidak ada laporan: ada yang mengintip sesamanya saat mandi. Memang ada selentingan ada seorang remaja yang berusaha untuk mengintip, memang dia berwajah "mesum" (sori, bukannya mendakwa, tapi cuma meminjam istilahnya extravaganza). Tapi rasanya itu juga masih isu.

Walaupun kita tidur bersama se tenda, tidak ada peserta yang melaporkan kehilangan harta bendanya. Cuma satu laporan kehilangan, seingat saya: Jane. Dia kehilangan arloji, tapi itupun ketinggalan saat mandi, jadi bisa juga "diamankan" oleh penduduk setempat. Rasanya peserta memang benar-benar belajar untuk bertanggung jawab bagi sesamanya. Jangan dipikir saat itu anak KPR alim-alim, kalau ketuanya aja "urakan" apa lagi gerombolannya. Tapi sekali lagi, melalui camp ini kita berlatih untuk saling menghargai dan bertanggung jawab.

Acara dan suasana berjalan dengan aman dan terkendali, kita rencananya 3 hari 2 malam. Sampai pada sore terakhir. Sore itu ada beberapa orang yang mendatangi kami, mereka mau bermain bola, karena katanya memang ada rencana pertandingan sepak bola antar desa sore itu. Karena lapangannya kita pakai untuk acara berkemah, mereka balik dengan kecewa. Celakanya, dari beberapa teman pemuda gereja sana, katanya mereka ini kecewa berat. Kemudian ada yang menyampaikan bahwa orang-orang itu marah dan akan menyerang membubarkan kita. Saya kumpulkan beberapa teman panitia. Ada Bowo, Glorius, Gandung ..... dan beberapa teman lain. Kita sepakat untuk merahasiakan hal ini. Kita juga menyusun rencana bila hal itu terjadi, rencana evakuasi peserta ke rumah Pak Pendeta. Acara malam itu talent show. Semua harus berjalan sesuai rencana. Seksi acara tetap harus melaksanakan tugas seperti tidak ada apa-apa. Berita ini tidak boleh  bocor ke peserta. Saat acara berlangsung, beberapa diantara kita berjaga-jaga. Suasana malam di desa yang gelap gulita itu mencekam kita. Kegelapan itu juga memungkinkan kita untuk bisa melihat bila ada kendaraan yang akan datang. Katanya mereka akan membuyarkan acara kita dengan datang pakai truk. Kita harus siap kalau memang mereka menyerang. Gandung memegang pisau besar yang dibawanya untuk kerja bakti. Glorius bawa palu, saya bawa kayu bakar yang cukup besar. Juga beberapa teman lainnya dengan persenjataannya. Kita sempat guyon: "Eh, kalau memang benar mereka dateng, apa kita berani memukul mereka?" Gandung bilang, "rasanya aku kog ya endak tega kalau mbacok orang...." Petang itu. sementara acara berlangsung, api unggun dan talent show, kita  berjaga-jaga dan berdoa. Benar, saya berdoa, karena kalaupun kita bawa kayu dan senjata, tapi siapakah kita dibandingkan orang desa yang kekar-kekar itu? Setiap ada sorot lampu mobil mendekat, saya was-was.

Syukurlah, sampai acara berakhir, tidak ada kejadian apa-apa. Acara camp itu sukses. Kita mampu  berlatih tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Ketika balik ke Surabayapun, kita sepakat untuk merahasiakan kejadian ini. Kita takut menjadi bumerang untuk perijinan acara sejenis di kemudian hari.

Suatu cerita tentang bagaimana kita bisa membina lewat kegiatan yang bukan pembinaan.

(kelanjutannya.....)

Ghost Buster

Alkisah di sekitar tahun 1990-an. Saat itu berlangsung camp utk remaja, sebagai ketua KPR saya mendampingi mereka. Peserta dan panitianya adalah anak-anak SMP dan SMA kelas 1. Acaranya di Simon Petrus, Batu.

Sore itu, pada saat sessi berlangsung ada peserta yang jatuh sakit. Katanya kakinya kejang dan dia terus menerus mengerang kesakitan. Seorang teman
bilang bahwa dia memang kejang di sessi-sessi sebelumnya tapi tidak separah ini. Saya heran karena dia mengeluh kakinya kejang, tapi betisnya lemas.
Pengalaman saya, kalau orang kejang kaki pasti betisnya kaku (karena sejak SD saya rutin berenang dan sering membantu orang yang kejang di kolam renang). Saya merasa ini sesuatu yang agak lain. Saat itu ada pendeta yang sedang menunggu istrinya yang menjadi pembicara pada acara itu. Saya minta beliau untuk mendoakan anak remaja ini, dengan acuh dia bilang bawa saja kedokter. Saya tahu, pasti itu jawaban yang mungkin diberikan, tapi saya yakin penyakit ini gejalanya tidak biasa. Saya merasa mungkin ada sesuatu yang lain.

Karena pak pendeta GKI ini tidak mau mendoakan, saya ingat bahwa diseberang tempat camp ini ada III (Institut Injili Indonesia) yang salah satu dosennya
pernah menulis buku tentang okultisme, Pondsius Takaliuang. Saya dan beberapa teman kesana dan bermaksud minta bantuan dia, ternyata dia tidak ada dan waktu saya tanya di komplek perumahan itu, apa ada pendeta yang bisa membantu saya? Saya diberitahu beberapa rumah. Semua rumah itu saya datangi dan semua orang yang dimaksud tidak ada dirumah.
Saat itu Inggrid bilang: kalo cuma mau berdoa, kita sendiri pasti bisa berdoa. Perkataan ini benar-benar bermakna bagi saya saat itu. Saat itu saya langsung mengajak mereka kembali ke tempat camp itu dan mengumpulkan beberapa pengurus dan panitia (yang rata-rata SMA dan SMP) untuk berdoa bersama. Tante penjaga tempat camp tsb bersimpati dan mau berdoa bersama. Kira-kira kita 7-10 orang. Ada Cik Syeni, ada Erlen, ada Inggrid, ada siapa lagi ya......?

Kita duduk mengelilingi rekan (ada yang ingat namanya?) yang mengerang kesakitan itu. Kita berdoa berantai mohon kesembuhan bagi rekan ini. Tante penj
aga itu mengajak kita untuk menyelinginya dengan menyanyi, jadi selain berdoa kita menyanyikan lagu pujian. Sampai beberapa menit kemudian rekan yang sakit itu, bersuara seperti suara anak kecil (bukan suara yang wajar) dan berkata: "Saya mau keluar asal kamu jangan nyanyi". Saya kaget juga, tapi tante itu yang membimbing kita untuk mengatakan "tidak!". Kami terus berdoa dan menyanyi. Tawar menawar dengan suara anak kecil itu terus berlangsung dan kami selalu mengatakan "tidak!". Sampai suatu saat mata anak itu jadi jalang dan menatap saya dan berkata: "Siapa kamu?" Saya kaget tapi terus berdoa bersama..... Saya merasa ada kekuatan yang muncul disuara dan disorot mata rekan ini...... Kira-kira setelah satu jam kami berdoa dan bernyanyi, tiba-tiba anak itu bersuara melengking dan kemudian sorot matanya kembali normal dan dia tertidur. Saat itu kami yakin sesuatu sudah terjadi, kami bersyukur untuk jawaban doa kami. Rekan ini sembuh. Dan menurut penuturan dia di kemudian hari bahwa memang dia pernah dipasangi susuk oleh pamannya.

Saya tidak pernah melihat hantu atau percaya pada hal-hal gaib. Tetapi pengalaman ini membawa saya untuk percaya bahwa ada "sesuatu" yang lain itu. Dan yang menarik bahwa doa kita yang masih remaja dan awam ini mampu mengalahkan "kekuatan" itu.

Pengalaman ini benar-benar membekas dihidup saya. Pengalaman bahwa memang dilingkungan GKI hal-hal yang gaib kurang dipercaya atau diperhatikan.
Seperti sang pendeta yang tidak mau mendoakan rekan tadi. Mungkin ini memang merupakan ciri khas GKI kita. Tapi jangan lupa, kita punya Tuhan yang sama dan Dia mampu melakukan apapun.
(kelanjutannya.....)

Musuh Besar Saya

Saya mulai berdomisili lagi di Surabaya tahun 1987, selulus SMA. Saya tinggal di Kutisari, GKI yang paling dekat adalah GKI Jemursari, tetapi GKI yang paling mudah di jangkau dengan kendaraan umum adalah GKI Diponegoro. Itulah sebabnya saya ke GKI Dipo.
 
Saya tidak punya teman seorangpun di Surabaya, itulah yang membuat saya cepat bisa masuk pelayanan di GKI dipo. Saya senang bisa mendapat habitat baru di Surabaya. Banyak teman dan kegiatan yang bisa saya kenal. Saya pun diajak menjadi pengurus KPR (komisi Pemuda Remaja). Sampai suatu saat saya pernah dipercaya untuk 2 kali menjadi ketua KPR. Banyak hal indah yang pernah terjadi dan terus saya kenang. Salah satunya Judul diatas. Musuh Besar Saya. Saya menulis ini bukan untuk sesuatu yang negatif tapi bukti keindahan hubungan yang pernah terjadi di GKI Dipo yang benar-benar tiada taranya. Mengatasi segala rasa negatif yang mungkin pernah disalahtafsirkan.
 
Saya aktif di persekutuan doa KPR. Setiap sabtu sore jam 17.00 di gedung pertemuan, yang waktu itu masih jadi lapangan Badminton.Hal yang terindah mungkin bukan acara PD-nya, tapi kumpul-kumpul setelah acara itu. Kadang kita cangkruk di selasar gedung pertemuan itu. Guyonan. Tapi tidak berarti kita bisa cangkruk dengan leluasa. Karena saat PD bubar maka di balkon gedung gereja ada latihan Paduan Suara Efrata. Kita tidak tahu, apa salah kita. Tapi kita sering dimarahi oleh Derijen-nya. Katanya kita sering ribut dan mengganggu latihan mereka. Belum lagi kalau ada teman yang berani menyalakan sepeda motor dari depan gedung pertemuan, pasti gerombolan itu dimarahi. Biasanya Tjie Joung dengan Suzuki bebeknya, atau Andre Nagaginta, yang paling keras suaranya adalah RX-nya Anderson.
 
Hobi marahnya Derijen Efrata itu bukan cuma pada mereka yang cangkruk kurang kerjaan, tapi juga kalau sampai ada anak KPR yang berani mendekor gereja saat mereka latihan. Padahal mereka cuma mendekor dan mengejar waktu karena besok sudah harus siap untuk kebaktian atau acara khusus lainnya. Rasanya kalau Efrata latihan tidak boleh ada ganguan sedikitpun.
 
Saya sendiri tidak pernah sekalipun secara langsung dimarahi...... Tapi saya selalu jengkel karena merasa teman-teman itu tidak salah-salah amat.... Namanya juga anak muda.
 
Benih permusuhan itu mulai timbul dan dipupuk oleh berjalannya waktu. Ternyata senior-senior saya di KPR juga punya benih permusuhan dengan Efrata. Jadilah mereka memupuk saya juga. Saat mulai didengungkannya ide bahwa semua PS harus masuk di mugrej, saya ditekan oleh para senior dan perasaan negatif itu untuk menolak ide itu.... karena mugrej katanya identik dengan Efrata. Walaupun sebenarnya saya juga tidak tahu menahu dengan anggota Efrata yang lain.... yang saya lihat... ya....Pak Derijen Efrata itu saja... Waktu itu saya juga punya prinsip bahwa Mugrej bukan cuma harus mengurusi PS. Menurut saya Mugrej harus mengurusi semua yang berkaitan dengan musik gereja... Ya Vokal Group, Ya... group musik. Di sini Pak Derijen itu tidak sepakat dengan saya. Malah dia bilang kalau gereja itu memegang supremasi musik dunia. Dan musik itu yang nomer satu ya... Paduan suara, bukan VG. Malahan dia agak memandang rendah PS KPR yang biasanya nyanyi dengan minus one (kayak karaoke-an). Saya sempat bilang kalau tugas gereja itu tidak ada hubungannya dengan memegang supremasi musik..... Saat itulah saya mulai kumat sombongnya. Karena saya merasa dia cuma bisa marah tapi tidak kuat di konsep.
 
Waktu terus berjalan dan rasanya selalu ada sekat antara KPR dan Efrata. Sampai suatu saat saya mendatangi Pak Budi Arlianto secara pribadi di bangku depan di dekat meja tempat sampul persembahan bulanan. Saya bilang apa yang  bisa saya lakukan untuk mencairkan hubungan yang ada... Di jawab:.... Lho... khan tidak ada masalah apa-apa... Ya...saya sendiri tidak bisa melanjutkan diskusi itu. Saya tidak tahu bagaimana cara memecahkan kebuntuan yang ada.
 
Bertahun-tahun kemudian saya mulai jarang melihat Pak Budi, tapi benih itu sudah kadung tumbuh di hati saya. Tumbuh bagaikan ilalang bersama gandum kayak kotbah pak Josafat minggu yang lalu. Waktu jadi operator LCD, saya sering jengkel sama Efrata. Bisa jadi karena sudah ada benih itu. Efrata sering memberikan file teks lagu yang akan dinyanyikan beberapa menit sebelum kebaktian dimulai. Tapi karena yang memberikan flash disk seorang anak muda.... ya... saya endak berani nylatu dia. Bukan takut sama orang tuanya (ampun pakk ampuuunn) .... tapi saya takut menularkan permusuhan ini ke generasi berikutnya. Biarlah saya dan generasi ortunya yang bermasalah.... Suatu saat, waktu saya tugas operator, ada seorang muda sebaya saya, berseragam bagus, dan nitip flash disk untuk minta ditayangkan saat mereka menyanyi. Saat itu saya langsung berpikir bahwa dia ini antek-antek Efrata, nah ini kesempatan marah! Langsung saya bilang, " lho pak, harusnya khan sudah diserahkan hari Rabu. Bukan sekarang!" Bapak itu sabar dan bilang maaf, saya pun menyisipkan tayangan itu. Saat ditayangkan, baru saya tahu kalau mereka dari GKI Ressud bukan Efrata. Wah, saya merasa sangat bersalah dan langsung turun minta maaf sama Bapak itu.
 
Beberapa bulan yang lalu  saat saya selesai pelayanan Beasiswa, saya iseng melongok ke dalam gereja. Ada pemandangan yang mengejutkan: Pak Budi Arlianto melatih PS Pemuda Remaja. Ah, rasanya saat itu saya langsung ingat akan penggenapan nubuatan Yesaya: Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama......... GILBEN! Gila bener! Saya berpikir syukurlah.... jaman sudah berubah, perasaan sayapun juga sudah waktunya berubah.
 
Beberapa saat lalu saya hadir di  penghiburan bagi Keluarga Almarhum Bp. John Ekasuryantara di GKI Pondok Tjandra bersama Mama Mertua saya. Mama Mertua saya adalah teman semenjak SMA dengan Pak John dan Bu Wieke. Mereka sangat akrab jadi saya mengantar Mama Mertua ke acara itu. Kita duduk di bangku kedua dari depan. Dan Pak Budi Arlianto pas duduk di depan saya. Mama Mertua saya bilang, " rasanya koq kenal orang ini (maksudnya Pak Budi)". Saya bilang: "ya... katanya sih anaknya Pendeta di Bondowoso..." "Siapa?" "Ya, Mama tanyako dewe." Mungkin saya memang bukan mantu yang baik. Untunglah kemudian datang Pak Simon duduk di sebelah Pak Budi. Pak Simon yang memperkenalkan, " Ini lho orang Bondowoso!" Lalu terjadilah perbincangan antara pak Budi dan Mama Mertua saya. Dan ternyata mereka memang saling mengenal karena Pak Budi pernah tinggal di Bondowoso. Perbincangan terus berjalan sampai Pak Budi berkata:"Teman di Bondowoso yang masih saya ingat yaitu: Hwie Gie". Mama mertua saya langsung bilang; "Lha ini lho anaknya...." sambil menunjuk saya.
Ah, GILBEN lagi! Gila bener! Kalau saja dari dulu saya tahu Pak Budi teman almarhum Papa saya, mana berani saya punya perasaan yang aneh-aneh tentang dia.
 
Sejak saat itu, beberapa kali saya bertemu Pak Budi. Saya menyapanya, rasanya dia membalas sapaan saya dengan senyum yang sangat indah. Bisa jadi senyumnya tetap sama seperti tahun-tahun yang lalu, tapi mungkin format hati saya yang sudah berubah.......(makanya perlu defragmented...)
 
Salam hormat saya buat Pak Budi Arlianto.
 
Ampunilah saya,
Daniel T. Hage
(kelanjutannya.....)