16 Oktober 2009
Indah Pada Waktunya
Siang itu, di saat training, peserta ditugaskan untuk membaca secara bergilir materi training yang ada. Materi itu terlihat kalau disusun dari beberapa cuplikan yang diambil dari beberapa sumber. Beberapa bagian tampak sekali sistim "copy - paste"nya. Saat giliran saya, saya membaca bagian yang diambil dari suatu buku yang tulisannya cukup kecil, lebih kecil dari tulisan normal yang ada. Saya agak kelabakan, sebab koq ternyata mata saya sulit untuk membaca rangkaian kata-kata itu. Perlu sedikit waktu untuk mengatur jarak dan usaha untuk membaca rangkaian kalimat itu. Memang berhasil juga. Berhasil membaca tulisan itu, juga berhasil mengingat nilai lain dari ungkapan: Indah pada waktunya.
Indah pada waktunya, dulu memberikan kesan janji akan datangnya masa yang indah. Keindahan yang patut dinantikan karena akan datang pada suatu masa nanti. Ungkapan ini menjadi suatu pengharapan akan apa yang akan datang. Termasuk hari indah yang sangat dinantikan oleh pasangan mempelai yang akan menikah. Siang itu, kalimat itu muncul dengan nilai yang lain. Siang itu saya merasa bahwa Keindahan itu punya waktunya dan waktunya itu bisa berlalu. Membaca menjadi sesuatu yang indah bagi saya. Saya sangat menyukainya. Siang itu saya merasa bahwa keiandahan itu akan segera berlalu. Dengan semakin uzurnya usia saya, makin berkurang juga kemampuan mata saya. Akan datang masa dimana membaca sudah tidak indah lagi karena mata ini semakin rabun dekat.
Indah pada waktunya itu, tiba-tiba berarti penghargaan akan apa yang ada saat ini. Menghargai saat-saat ini yang mempunyai keindahannya. Waktu yang indah itu bisa berarti saat ini. Jadi nikmatilah dan hargailah dengan baik. Keindahan hari ini akan berakhir dan akan datang waktu dengan keindahannya yang lain. Berpengharapan akan datangnya keindahan di waktu mendatang memang benar dan positif, tapi bukan berarti bahwa kini dan saat ini tidak ada sesuatu yang indah yang harus dimanfaatkan dengan maksimal dan dihargai dengan pemanfaatan yang baik.
Indah pada waktunya, bisa berarti waktunya adalah saat ini. Jangan sia-siakan hari ini. (kelanjutannya.....)
06 Oktober 2009
Ayo Jangan Nakal
29 September 2009
Cerita tentang Info Buku
Outliers
Kalau melihat judulnya, kemungkinan besar saya tidak berminat dengan buku itu. Saya selalu merasa 'alergi' dengan buku yang bicara soal sukses. Alasannya, karena belum tentu penulisnya adalah orang sukses yang benar-benar sukses. Awalnya saya saya cuma sekedar mencari audiobook untuk latihan bahasa inggris. Setelah berhari-hari saya dengarkan, ada beberapa kata kunci yang sulit saya tangkap. Setelah bolak-balik buka kamus, masih juga belum ketemu juga. Bisa jadi karena telinga yang dibesarkan dengan nasi pecel ini sulit menangkap suara yang dihasilkan karena energi dari burger dan steak. Saya cari PDF-nya, tapi waktu itu belum ada yang upload, maka terpaksa saya beli buku edisi bahasa Indonesianya. Saya baca, ternyata menarik dan lebih menarik dari audiobooknya. Lha, saya yang tidak terlatih mendengar bahasa Inggris itu. Buku ini tidak berisi ulasan penulis tentang rahasia kesuksesan. Penulisnya hanya menarik beberapa benang merah dari beberapa orang-orang yang dianggap sukses.
Yang menarik adalah pendapat penulis bahwa ada faktor-faktor diluar diri para orang sukses itu yang menjadi faktor dominan penentu kesuksesannya.
Para orang sukses di bidang komputer, Bill Gates (Microsoft) lahir tahun 1955, Paul Allen (Microsoft) lahir tahun 1953, Steve Balmer (microsoft) lahir tahun 1955, Steve Jobs (Apple) lahir tahun 1955, Erick Schmidt (Novell) lahir tahun 1955, Bill Joys (Sun Microsystems) lahir tahun 1955. Mereka mendapat keberuntungan karena lahir di tahun-tahun itu sehingga mereka mampu mengambil peluang di pertumbuhan PC (personal Computer) di pertengahan tahun 70an. Sebagian besar orang yang masuk daftar terkaya di USA dilahirkan di tahun 1830an. Mereka itu : John D. Rockefeller, Andrew Carnagie, Frederick Weyerhaeuser, Jay gould, JP Morgan dll. Mereka ini mendapat keuntungan masuk dengan usia yang tepat saat pertumbuhan ekonomi USA dalam kondisi sangat baik di tahun 1860 sampai 1870-an. Belum lagi para pemain hockey yang top di Canada, hampir pasti lahir di bulan Januari sampai Maret, sangat jarang yang di lahirkan di akhir tahun. Harus diakui bahwa ada faktor keberuntungan melalui tanggal kelahiran orang-orang sukses itu. Apa ini berkaitan dengan Zodiac? Bukan. karena bisa jadi kelahiran itu pas dengan sistem yang ada di masyarakat kita. Batas usia pemain Hockey di Canada diambil pada 1 Januari, jadi bila ada anak yang lahir pada tahun yang sama, anak yang lahir di tanggal 2 januari pasti akan punya tubuh yang lebih kekar dari pada anak yang lahir di akhir tahun. Tahun lahirnya sama, tapi perbedaan beberapa bulan itu yang membedakan kemampuan fisik anak-anak itu.
Yang lebih menarik lagi adalah, buku ini dibuka dengan kutipan Matius 25:29, "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi sehingga dia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun yang ada padanya akan diambil dari padanya." Di masyarakat berkembang sesuatu yang sejalan dengan prinsip itu. Orang kaya akan menikmati fasilitas pembebasan pajak yang lebih dari orang miskin, kalau di indonesia, soal subsidi BBM yang menikmati subsidi paling banyak ya... orang kaya dengan sedan bermesin besar, rakyat kecil hanya merasakan subsidi BBM lewat kendaraan umum yang berjejal-jejal. Dengan jumlah bensin yang sama, orang kaya menikmatinya karena dia naik sendirian mobilnya, tapi orang miskin harus berbagi dengan banyak orang saat ia naik kendaraan umum yang di subsidi BBMnya. Anak pandai akan masuk di sekolah bagus atau kelas akselerasi yang pelajarannya lebih diperhatikan oleh para guru. Keadaan ini makin membuat orang yang berkemampuan rendah semakin tertinggal. Penulis juga setuju dengan "Hukum 10 ribu Jam". Orang akan mencapai keahliannya karena ia berlatih selama sepuluh ribu jam. The Beatles bisa sukses di USA karena sebelumnya ia bermain musik di Hamburg selama 8 jam sehari dalam 7 hari seminggu selama beberapa tahun. Orang yang merasa mempunyai talenta akan semakin terpacu untuk berlatih dan orang yang agak kurang, cenderung menjadi lebih malas berlatih. Ketekunan dan kegigihan tetap menjadi kunci kesuksesan. Sangat berbeda dengan banyak buku yang menawarkan sukses yang diraih dengan jalan pintas.
Faktor diluar kita yang mampu mendukung kesuksesan adalah masalah budaya kita. Banyak orang yahudi di USA sukses, karena mereka lahir sebagai orang Yahudi. Mereka mendapat tekanan karena faktor kelahirannya, tetapi itu yang menjadikan mereka mampu memacu diri sehingga bisa sukses. Tapi budaya ini juga bisa menghancurkan kita. Salah satu budaya yang dibahas adalah budaya penghormatan pada kelas-kelas sosial di masyarkat Korea dan Kolumbia. Ada dua kecelakaan pesawat terbang di Korean Air dan Avianca (columbian airlines) karena faktor budaya dimana co-pilot tidak berani mengatakan sesuatu dengan lugas kepada Pilot atau orang yang dianggap lebih tinggi status sosialnya walau dalam keadaan yang sudah sangat genting. Budaya menganggap atasan atau orang yang lebih tua lebih tahu dari kelas sosial yang lain, telah menjadi dasar pemicu kecelakaan pesawat udara itu.
Bagi yang berniat membeli buku, saya menyarankan untuk beli buku ini. Menarik dan tidak mengada-ada. Kalau yang tidak suka buku yang serius, ada buku bagus juga: Benny dan Mice: Lost In Bali 1 dan 2! Buku kartun tapi guyonannya kreatif.
26 September 2009
Berenang di Tatami
14 Maret 2009
Cerita tentang Penyambutan
Saya berbasa-basi menanyakan daerah pabriknya, ternyata beberapa tahun yang lalu saya pernah ke pabrik itu dan mereparasi mesinnya. Ternyata orang yang saya temui dulu itu adalah anaknya yang saat ini mengelola pabrik itu. Setelah itu, Tante ini makin semangat untuk bercerita lagi. Cerita tentang tarif becak yang 30 rb pulang pergi dari rumahnya, juga tentang almarhum suaminya, juga tentang cara anaknya yang mengelola pabrik itu. Sementara saya berbincang-bincang, memang banyak jemaat yang lewat dan datang. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan. Memutuskan pembicaraan dengan Tante ini dan mencari jemaat yang lain? Atau terus melayani perbincangan Tante ini? Saya memutuskan untuk terus melayani perbincangan itu dengan baik. Pertimbangan saya, lebih baik saya menyelesaikan satu orang ini dengan sangat baik dari pada berharap dapat meningkatkan jumlah tapi dengan kualitas yang begitu-begitu juga. Satu yang berhasil mungkin lebih baik daripada banyak yang biasa-biasa saja. Cukup lama perbincangan itu, dua orang Bapak yang bertugas penyambutan di pintu gereja malah mengingatkan Tante itu, agar segera masuk karena kebaktian akan dimulai. Saya lihat belum ada Majelis yang muncul di mimbar kecil, jadi saya teruskan saja perbincangan itu. Sampai akhirnya ada muncul majelis untuk membacakan warta lisan. Saya sarankan Tante itu untuk segera masuk ke ruang Kebaktian.
Saya juga bertugas lagi selepas kebaktian usai. Tante itu menyapa lagi saat ia berjalan pulang.
Saat itu saya juga menyapa satu Om yang saya kenal. Kita berbincang lagi, dia bercerita tentang almarhum istrinya. Rasanya masih sulit baginya untuk melupakan istri tercintanya. Ia bercerita tentang istri yang dibanggakannya kesetiaannya. Juga tentang suka dukanya saat dia merintis usahanya dulu. Senang sekali bisa mendengar ceritanya, apalagi saat dia bilang,"Makanya kita itu harus selalu ingat sama Tuhan." "Untuk itu Om sekarang mau ikut katekisasi" Ah, jalan hidup itu yang akhirnya membawa Om itu mau mengenal Tuhannya. Di jam pulang itu, sayapun hanya bisa meladeni satu Om ini, karena saya juga harus cepat pulang untuk menjemput istri dan anak yang mau sekolah minggu jam 8.00.
Minggu ini memang loading pelayanan saya sangat tinggi, ada penyambutan, lalu beasiswa, ada outbond, ada persiapan acara panter satu, ada pertemuan dengan pendukung tayangan di TVRI. Pengalaman perbincangan di kebaktian minggu kemarin itu sangat menarik buat saya. Pasti ada banyak jemaat yang butuh teman bicara. Sekedar mendengarkan mereka bercerita mungkin bisa membuat mereka bergembira. Mungkin ini bisa membuat kita mau berbuat banyak untuk kegiatan perkunjungan dan pemerhati.
Steven Covey di 8th Habit, mengutip perkataan Mother Teresa ,"Few of us can do Great Thing, but all of us can do small thing with Great Love"
(kelanjutannya.....)
06 Maret 2009
Menciptakan Hantu
Saat ini, kita sudah siap memulai segala pelaksanaan program kerja kita. Tahun ini kita sudah punya program kerja yang akan segera kita laksanakan. Program Kerja yang sudah disahkan akhir tahun lalu, atau paling lambat awal tahun ini. Semua komisi dan panitia sudah tinggal melaksanakan semua perencanaannya. Kita memang sudah terlatih untuk membuat program kerja kita.
Beberapa jemaat dan komisi mungkin memulai tahun ini dengan was-was atau prihatin akan keadaannya yang harus memangkas banyak program karena keterbatasan dana yang ada. Ada majelis jemaat yang memberitahukan bahwa mereka akhirnya bisa mensahkan program tahun ini dengan defisit "sekian" juta Rupiah. Keadaan perekonomian global dan keadaan perekonomian nasional kita, bisa menjadi landasan kita untuk memprediksikan pemasukan kita dan dari sana kita sudah terbiasa untuk merencanakan program kita tahun ini. Suatu hal indah yang sudah pakem di tiap tahunnya.
Ada banyak kegiatan yang sudah kita tolak pencantumannya. Di awal tahun ini kita mampu membayar rasa bersalah pencoretan itu dengan pengakuan bahwa kita sudah memulai pelaksanaan program kita dengan suatu langkah iman yang besar. Rencana anggaran yang defisit "sekian juta" atau "sekian puluh juta", juga alasan krisis global. Ini semua bisa menjadi "pembenar" langkah "iman" pembuatan program kerja kita.
Sebagai gereja kita memang terpanggil untuk merencanakan tujuan kita. Kita juga terpanggil untuk realistis/membumi dengan tujuan kita. Kita terpanggil untuk "berpikir" tentang apa yang bisa kita rencanakan. Apa sajakah yang sudah kita rencanakan dengan membumi?
Banyak gereja hanya berkonsentrasi pada pelayanan, pada apa yang akan mereka kerjakan. Sesuatu yang membutuhkan dana. Mereka sering melupakan apa yang dapat mereka hasilkan (dana yang dapat dihimpun). Gereja memang bukan organisasi yang bertujuan menghimpun keuntungan finansial. Kita adalah organisasi nirlaba. Kesadaran ini pada awalnya baik adanya, tetapi kesadaran ini banyak membawa kita untuk menyiksa diri dengan melupakan bagaimana kita harus merencanakan pemasukan kita. Di satu sisi kita sadar akan kebutuhan kita akan dana, di sisi yang lain kita sering lupa merencanakan bagaimana kita harus secara aktif menghimpun dana itu.
Ketabuan kita untuk merencanakan pemasukan kita seiring dengan kesadaran bahwa gereja adalah nirlaba (tidak mengejar keuntungan keuangan semata), sering menyiksa kita sendiri. Kita hanya berani bertindak dengan membuat prediksi sekian persen, sekian puluh persen peningkatan persembahan kita di tahun mendatang. Kita lebih suka menempuh jalan mengurangi pengeluaran kita, mencoret program yang diajukan oleh komisi dan panitia. Kita melupakan bahwa kita mampu merencanakan peningkatan pemasukan keuangan kita. Kita sebenarnya bisa merencanakan sesuatu untuk mengimbangi kebutuhan demi pencapaian tujuan yang selalu kita potong itu. Merencanakan langkah untuk meningkatkan pemasukan bagi pembiayaan kegiatan akan lebih baik dari pada menciptakan hantu defisit untuk kita takuti bersama. Hantu defisit yang kita hadirkan sebagai alasan untuk memotong dan menolak kegiatan kita.
Memang banyak gereja "tetangga" yang getol untuk menyuarakan persembahan dari jemaatnya dan kita merasa ingin beda dengan tabu menyuarakan itu di jemaat kita. Kita lebih suka menyiksa diri dengan memotong program dan menciptakan hantu defisit untuk kita takuti bersama. Kemampuan kita untuk menunjukkan pada jemaat bagaimana kita mengelola uang itu, adalah kunci masalah ini. Bagaimana kita bertanggung jawab untuk membuat program yang bermutu dan bukan hura-hura, akan membuat jemaat kita mampu memutuskan untuk dirinya sendiri, mau atau tidaknya ia menyumbangkan uangnya untuk program itu, untuk dipercayakan pemanfaatannya pada gereja.
Di tiap gereja kita ada amplop persembahan bulanan. Kita menyatakan bahwa kita tidak mempunyai dogma tentang persepuluhan, lalu bagaimana jemaat mengetahui apakah bedanya persembahan amplop itu dengan persembahan persepuluhan? Jangan-jangan mereka yang rajin mengisi persembahan amplop itu adalah mereka yang mempunyai konsep persepuluhan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kita kurang menjemaatkan beban pelayanan yang bisa dan harus ditanggung bersama jemaat. Maukah kita membuat rencana bagaimana kita menggali dana di tahun ini?
Marilah kita masuki tahun ini bersama Tuhan bukan bersama hantu yang kita ciptakan untuk kita takuti sendiri.
Artikel ini dimuat di Majalah Sukita, Edisi 25/TahunVIII/Februari 2009, dengan judul "Cara Menggali Dana"
(kelanjutannya.....)
10 Februari 2009
Imlek Tahun Ini
23 Januari 2009
Tilang
Malam ini saya mendapat pengalaman baru yang berkaitan tentang "foward" berita internet. Soal tilang, saya pernah baca: kalau ditilang minta saja lembaran biru yang berarti kita bisa langsung bayar dendanya di bank.
Tadi sepulang mengantar mertua belanja, di belokan Indragiri menuju Mayjend Sungkono (Surabaya), lampu lalu lintas memang masih kuning ketika saya melintas. Mendadak saya dihentikan oleh Polisi yang bertugas didepan kantor KPU, dia bilang kalau saya melanggar lampu. Saya menyangkal, tapi daripada debat berkepanjangan saya bilang untuk ditilang saja. Dia ajak saya masuk ke pos polisinya. saya duduk dan dia mau nulis surat tilangnya. Saya teringat pada berita internet diatas. Katanya (menurut berita foward itu) minta saja lembar untuk bayar di bank, saya lupa lembar yang berwarna apa: Hijau atau Biru? Tapi saya tetap PD saja, karena saya bisa bahasa Madura dan bahasa maduranya hijau itu "biruh". Jadi saya pikir saya bisa berkelit dengan bahasa madura saya. Saya minta surat tilang yang hijau saja, saya akan langsung bayar di bank saja. Pak Polisinya bilang tidak ada yang hijau, yang ada biru, untuk arsip. Dia menjelaskan bahwa tidak ada sekarang bayar di bank. Dulu memang ada, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Dia ngotot mau memberi surat tilang yang berwarna merah yang untuk sidang di pengadilan. Saya tetap minta yang Biru untuk bayar langsung di bank, dia tetap bilang tidak ada aturan itu lagi.
Saya lalu setuju surat tilang yang berwarna merah, tapi saya minta dia menulis bahwa aturan untuk membayar di bank itu sudah tidak ada lagi, dan ditandatangi dan saya minta nama dan NIP dia. Dia mengenakan rompi hijau (yang bisa berpendar/flouresen
Saya lihat dia memang mulai ragu, dia mencari dukungan dari teman yang sama-sama bertugas di pos itu, teman itupun bilang tidak ada aturan itu. Lalu dia menelpon atasannya, kapolseknya, tapi saya tidak jelas dia telpon sungguhan atau pura-pura. Saya tetap bilang, kalau Bapak benar bahwa aturan itu tidak ada, mohon Bapak tanda-tangan.
Akhirnya, Beliau bilang, ini khan hanya tipiring (tindak pidana ringan), damai saja, SIM dan STNK saya dikembalikan dan saya diajak jabat tangan dan disuruh pergi.
Untuk menguji hal ini lagi, mungkin ada yang mau mencoba modus operandi ini? Atau ada Pak Polisi yang bisa mencerahkan?
Pernah di posting di cyber-gki 25 Nopember 2007
06 Januari 2009
Cerita tentang penegakan identitas
28 November 2008
Cerita tentang Emak
27 Oktober 2008
Cerita tentang Belajar Komputer
21 Oktober 2008
It's all about money
19 Oktober 2008
Pengintai Kita
Hari itu, sepulang kebaktian kita kumpul di rumah Tante Betty. Ada masalah cukup "genting" saat itu. Soal tulisan Pak Robert Setio. Tulisan di warta jemaat soal karya penyelamatan Yesus. Tulisan itu idenya mirip kayak yang diungkapkan pak Widi di Acara yang lalu. Rasanya memang Pak Robert mendahului zamannya. Beberapa pemuda tidak setuju dengan tulisan itu. Kita sepakat untuk protes atas isi renungan di warta jemaat itu. Strateginya kita susun. Saya sepakat bahwa yang nulis harus pribadi-pribadi. Kita sebagai KPR tidak akan menulis surat resmi. Rasanya ada beberapa teman yang menulis surat ke majelis waktu itu.
Beberapa saat kemudian, Apa pengajuan kependetaan Pak Robert Setio. Lagi-lagi ada beberapa teman yang kurang setuju dan itu dikaitkan dengan tulisan di warta jemaat tsb. Saya ingat ada 11 rekan yang menulis surat ke majelis. Jumlah itu saya ingat, tapi nama-namanya mungkin saya lupa. Kita tetap sepakat untuk tetap kompak, walaupun tidak semua rekan setuju. 11 rekan itu diundang rapat majelis. Saya endak ikut-ikut lho..... Sampai disini, kejadian itu tetap saya anggap biasa. Tidak ada yang aneh.
Sampai suatu saat, ada yang melaporkan bahwa 11 anak itu mendapat undangan persekutuan doa di rumah Prof. Paul Tahalele (dokter jantung ternama itu). Sampai saat ini, saya tidak tahu siapa yang membocorkan 11 nama itu dan ide siapa yang mengundang mereka ini. Kejadian ini menjadikan sesuatu yang aneh bagi saya. Saya sepakat dengan mereka bahwa saya akan hadir juga di acara tersebut.
Saya bersama beberapa teman hadir di rumah mewah itu. Di acara itu, beberapa wajah saya kenal, walaupun saya tidak tahu nama mereka satu persatu. Yang saya tahu, ada Prof. Sahetappy, ada dr. Martin Setiabudi, ada beberapa orang UK Petra. Acara pertemuan itu seperti persekutuan pada umumnya. Ada renungan. Ada pujian. Ada makan malamnya juga. Semuanya biasa, sampai kemudian pada acara setelah makan malam. Tenyata pada hadirin di arahkan untuk menandatangi penolakan akan pengesahan tata gereja GKI. Semuanya sih setuju-setuju saja, bisa jadi karena yang bicara adalah Prof. Sahetappy. Saat itu saya langsung bicara, Saya menolak acara itu karena kalau mau ditolak ya... tolong dijelaskan isinya apa? Suasana mulai penuh kasak kusuk, ternyata dimana saja sama saja. Perlu seorang yang berani ngomong. Begitu ada yang berani ngomong... mereka juga jadi berubah pikiran. Maka malam itu....acara tanda tangan itu batal. Saya juga tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Saya tidak pernah diundang lagi.
Kejadian itu membuat saya tahu, siapa pengintai kita. Siapa musuh yang ada diantara kita. Bukan untuk memecah belah sesama orang kristen tetapi sebagai pengurus kita harus tepat dalam memetakan musuh dan kawan kita.
Ada pihak yang selalu mengintai dan bergerilya di dalam kita. Mereka yang merasa selalu benar dan merasa perlu "mempertobatkan" kita. Hingga saat ini.
Kesendirian
Saya bangun sekitar jam 5 an, setelah itu saya sibuk menyiapkan bekal untuk kedua anak saya, Sylvie sudah bangun jam 4.30an dia mencuci beras lalu menyalakan rice-cooker kemudian ditinggal ke pasar. Saya dirumah, menyiapkan minum dan tas bekal anak saya. Setelah itu membangunkan mereka, menyuruh mereka mandi, pakai seragam dan sarapan. Kadang mereka makan nasi, kadang roti, kadang rotinya di panggang, kadang cuma minum cereal atau susu atau milo. Saya menikmati hal itu, karena cuma itu yang bisa saya lakukan dengan rutin untuk anak saya, juga karena sehari-hari saya balik kerumah sudah cukup malam. Dulu nenek saya melakukan hal ini juga bagi saya dan saudara-saudara saya.
Sampai sekitar jam 6.15 mereka sudah harus berangkat. Saat itulah semua hal indah selalu saya nikmati. Ketika rumah sudah sepi antara jam 6.30 sampai jam 7.30 (jam dimana telpon sudah akan banyak berbunyi). Biasanya saya duduk dilantai, berdoa, baca alkitab. Saya malas kalau harus baca alkitab pakai buku panduan. Saya baca urut saja dari kejadian sampai wahyu dan terus berulang. Satu hari satu pasal saja. Syukur kalau dapet yang pendek. Kalau dapet yang mazmur 119 ya..... mau apa lagi. Syukur kalau baca yang bisa direnungkan. Kalau pas baca bilangan dan yang ada cuma ukuran-ukuran dan silsilah keluarga.... ya... endak apa-apa juga. Entah sudah berapa kali saya katam (ini kalau istilahnya muslim). Kebiasaan ini sudah berjalan mulai sekitar kelas 3 SMP. Setiap hari kecuali minggu dan pas keluar kota. Bukannya males bawa alkitab, tapi saya sendiri kehilangan kesendirian dan kesunyian saya. Setelah itu saya baca koran atau baca buku atau melamun.
Banyak penyelesaian masalah yang saya hadapi sehari-hari, diperoleh pada saat-saat itu. Dalam kesendirian itu, banyak simulasi percakapan dan diskusi dan perdebatan saya nikmati. Semuanya, dari hal yang baik sampai yang jahat. Perdebatan tentang complain customer, pengaturan penawaran, perdebatan dengan majelis....juga ada. Saat-saat itu saya mensimulasikan semua perdebatan yang mungkin terjadi. Kalau saya jawab begini, mereka akan jawab bagaimana? Kalau dijawab begitu, saya harus menjawab apa? Dalam kesendirian itu semua "flow chart" dan "road map" tercipta. Dan itu hasil yang saya ingat untuk bekal menghadapi hari-hari saya. Kerangka tulisan ini pun hadir pada saat-saat itu. Lamunan itu memang banyak menghabiskan emosi. Ada yang membuat marah, tersenyum bahkan menangis. Itulah jam-jam indah saya dalam kesendirian.
Saya punya customer pabrik rokok besar yang kalau meminta saya datang, selalu saya yang harus menunggu mereka. Mungkin ini strategi mereka untuk bisa dianggap penting. Saya tidak pernah merasa takut untuk menunggu. saya bisa baca buku, baca ebook, mendengarkan audiobook, ataupun kalau semuanya tidak memungkinkan, saya masih bisa melamun. Saya lebih senang menunggu sendirian dari pada ada orang yang menemani dan mengobrol basa-basi. Dalam lamunan saya bisa memikirkan banyak hal. Kesendirian dan kesunyian itu benar-benar bisa saya nikmati dan manfaatkan. Saya pernah mendapat order cukup besar hanya karena saya disuruh datang jam 11 siang dan baru ditemui jam 3 sore. Saat itu saya isi dengan baca buku. Mungkin bos itu kasihan liat saya......
Kesendirian dan kesunyian itu juga yang membuat saya betah di GKI. Saya lebih memilih ikut misa di kathedral dari pada ikut kebaktian di bethany. Lha, saya endak tahu bagaimana menikmati jingkrak-jingkrak itu. Kalaupun dulu saya sering ke diskotek.. ya saya cuma duduk ngobrol atau ya ngelamun saja. Selama tidak ada orang yang mengajak saya bicara, saya bisa "suppress the ambient" suasana hingar bingar itu. Kesendirian itu sungguh lebih nikmat bagi saya.
Apa benar saya terlahir begini?
Saya sangat suka berteman, banyak teman saya dan banyak yang saya lakukan bersama teman-teman. dulu waktu SMP, saya diajak ikut les. Saya sebenarnya malas,karena saya merasa nilai saya sudah cukup baik. Tapi karena di tempat lesnya ada meja pingpong dan anak yang punya rumah itu sangat "menarik", maka saya ikut les itu. Les inggris dengan buku 999. Semua ada enam buku dan kita selesaikan semuanya. Bukan lesnya yang menarik, tapi main pingpong dan "anak" itu yang membuat kita bisa selalu kompak. Menyenangkan sekali. Lesnya jam 18.30 sampai 19.30. Kita sudah datang jam 17.30 an dan pulang jam 20.15an. Pulang karena jam segitu papa dan mama si tuan rumah pulang dari tokonya yang di desa. Pulangnya saya naik becak atau jalan kaki. Saya lebih suka jalan kaki saja. Dari pecinan ke jalan bungur mungkin cuma 15 menit jalan kaki. Saya ingat, saat itulah saat yang terasa aneh. Baru saja kita bisa tertawa bersama, bicara bersama, kini semuanya terasa sepi. Hati ini terasa kosong. Waktu itu semua toko di Bondowoso waktu itu sudah tutup jam 20.00. Jalanan gelap, belum lagi kalau pas hari itu ada pemadaman bergilir. Saat itu kesendirian terasa aneh bagi saya. Perasaan kosong dan sepi menggantikan suasana meriah bersama teman-teman tadi.
Kejadian itu terus berulang, Tidak ada kejadian istimewa apa-apa. Yang ada cuma saya mulai mengikuti pelayanan di gereja dan dalam suatu acara camp saya pernah menjawab tantangan untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Kemudian saya mengikuti kateksasi dan dipermandikan.Tidak ada apa-apa yang terjadi, tetapi perasaan sepi dan kosong itu benar-benar sudah tidak pernah datang lagi. Seberat apapun perasaan saya, saya tidak pernah merasa sepi dan kosong lagi.
Sebenarnya, cerita ini tidak pernah terpikir sebelumnya. Sampai pada suatu hari, beberapa tahun silam, saat anak saya mulai ikut sekolah minggu. Hari itu sepulang sekolah minggu anak saya mengulang lagu yang diajarkan oleh guru sekolah minggunya. Kira-kira bunyinya: "seperti donat, seperti donat..... hati yang tidak mengenal yesus.... ada lubang di tengahnya....." (ada yang tahu kata-kata persisnya?)
Kini donatnya sudah jadi donatnya Jco, tengahnya buntu!
Camp Sendang Biru
Waktu itu KPR ingin mengadakan Camp yang lain dari biasanya. Biasanya kita camp di tempat camp/retreat yang sudah ada. Semacam di penginapan, kala itu kita coba dengan hal yang laen. Kita mau berkemah. Acaranyapun beda. Saya bukan orang yang percaya pada pembinaan instan. Saya tidak pernah percaya pada camp pembinaan. Saya percaya pada camp hura-hura. Karena melalui hura-hura yang bukan huru-hara, saya pasti dapat membina hubungan. Hubungan yang akrab akan memungkinkan kita membina mereka di pertemuan rutin. Kita mulai dari camp, menangkap mangsa kemudian menjinakkannya di persekutuan doa. Strategi ini yang saya percayai.
Acara disusun oleh seksi acara, siapa ya waktu itu? Tirtaning? Sepenuhnya saya tidak terlalu ikut-ikutan disisi isi acara, saya hanya memonitor di bentuk acara. Persiapan kita cukup matang. Sampai pada seminggu menjelang acara. Kita belum dapat ijin keramaian, karena kita mau berkemahnya di lapangan desa. Tirtaning yang mengurus perijinan itu, sampai 3 hari menjelang acara, ijin dari kepolisian polres malang (yang di kepanjen) belum didapat juga. Tirta memang sudah ke sana mengurusnya, tapi rasanya petugasnya yang tidak ada ditempat. Saya tetap pada pendirian, kita terus saja. Pertimbangan saya, jumlah kita tidak terlalu banyak, mungkin 50 an. Kita juga direstui oleh pendeta GKJW setempat, dan desa itu mayoritas kristen jadi... pasti pendeta adalah sosok yang disegani.
Seorang ibu Majelis Penghubung KPR bilang, "Daniel, Tante berdoa agar ijinnya tidak keluar!" Syukurlah ada Ibu Majelis yang Baik. Minimal dia Ibu yang baik, karena pasti dia gemetar karena 3 anak gadisnya sudah mendaftar Camp itu. Mana ada Ibu yang tega 3 anak gadisnya bakalan terlunta-lunta di desa. Jauh dari kamar dan rumah yang bersih dan teratur. Untunglah ada Tuhan yang lebih baik, Tuhan yang mampu melihat kebaikan yang hakiki. Ketulusan dan kebaikan yang ada di hati tiap Panitia Camp. Sungguh, semua panitia dan pengurus benar-benar mempersiapkan acara ini dengan baik. Sebelum berangkat ada technical meeting, peserta diberi tahu keadaan yang sebenarnya. Informasi akan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.
Acarapun berlanjut, ketiadaan ijin keramaian dari kepolisian menjadi rahasia kita. Tidak boleh keluar, saya yang bertanggung jawab. Bukannya sok, tapi begitulah kita.
Camp inipun dimulai. Tim pionir berangkat duluan, mereka menyiapkan 3 tenda besar. Satu tenda putra, satu tenda putri dan satu tenda untuk pertemuan. Acaranya pun berjalan lancar, ada pertemuan, ada bakti sosial. Kita membangun lapangan Voli di samping gereja. Kita bekerja bersama pemuda gereja setempat. Disini kita tidak membina lewat ceramah, tapi lewat kehidupan dan aktivitas kehidupan yang sebenar-benar. Disana tidak ada WC umum yang memadai untuk kita semua. Didekat lapangan hanya ada sumber air tempat warga desa sana mandi dan mencuci. Tidak ada bangunan permanennya. Tidak ada kamar mandi berpintu dan beratap yang permanen. Di technical meeting, kita sudah tekankan bahwa tidak boleh ada yang ngintip orang mandi. Hidup kita akan menjadi sorotan orang desa sana. Sampai berita ini diturunkan, tidak ada laporan: ada yang mengintip sesamanya saat mandi. Memang ada selentingan ada seorang remaja yang berusaha untuk mengintip, memang dia berwajah "mesum" (sori, bukannya mendakwa, tapi cuma meminjam istilahnya extravaganza). Tapi rasanya itu juga masih isu.
Walaupun kita tidur bersama se tenda, tidak ada peserta yang melaporkan kehilangan harta bendanya. Cuma satu laporan kehilangan, seingat saya: Jane. Dia kehilangan arloji, tapi itupun ketinggalan saat mandi, jadi bisa juga "diamankan" oleh penduduk setempat. Rasanya peserta memang benar-benar belajar untuk bertanggung jawab bagi sesamanya. Jangan dipikir saat itu anak KPR alim-alim, kalau ketuanya aja "urakan" apa lagi gerombolannya. Tapi sekali lagi, melalui camp ini kita berlatih untuk saling menghargai dan bertanggung jawab.
Acara dan suasana berjalan dengan aman dan terkendali, kita rencananya 3 hari 2 malam. Sampai pada sore terakhir. Sore itu ada beberapa orang yang mendatangi kami, mereka mau bermain bola, karena katanya memang ada rencana pertandingan sepak bola antar desa sore itu. Karena lapangannya kita pakai untuk acara berkemah, mereka balik dengan kecewa. Celakanya, dari beberapa teman pemuda gereja sana, katanya mereka ini kecewa berat. Kemudian ada yang menyampaikan bahwa orang-orang itu marah dan akan menyerang membubarkan kita. Saya kumpulkan beberapa teman panitia. Ada Bowo, Glorius, Gandung ..... dan beberapa teman lain. Kita sepakat untuk merahasiakan hal ini. Kita juga menyusun rencana bila hal itu terjadi, rencana evakuasi peserta ke rumah Pak Pendeta. Acara malam itu talent show. Semua harus berjalan sesuai rencana. Seksi acara tetap harus melaksanakan tugas seperti tidak ada apa-apa. Berita ini tidak boleh bocor ke peserta. Saat acara berlangsung, beberapa diantara kita berjaga-jaga. Suasana malam di desa yang gelap gulita itu mencekam kita. Kegelapan itu juga memungkinkan kita untuk bisa melihat bila ada kendaraan yang akan datang. Katanya mereka akan membuyarkan acara kita dengan datang pakai truk. Kita harus siap kalau memang mereka menyerang. Gandung memegang pisau besar yang dibawanya untuk kerja bakti. Glorius bawa palu, saya bawa kayu bakar yang cukup besar. Juga beberapa teman lainnya dengan persenjataannya. Kita sempat guyon: "Eh, kalau memang benar mereka dateng, apa kita berani memukul mereka?" Gandung bilang, "rasanya aku kog ya endak tega kalau mbacok orang...." Petang itu. sementara acara berlangsung, api unggun dan talent show, kita berjaga-jaga dan berdoa. Benar, saya berdoa, karena kalaupun kita bawa kayu dan senjata, tapi siapakah kita dibandingkan orang desa yang kekar-kekar itu? Setiap ada sorot lampu mobil mendekat, saya was-was.
Syukurlah, sampai acara berakhir, tidak ada kejadian apa-apa. Acara camp itu sukses. Kita mampu berlatih tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Ketika balik ke Surabayapun, kita sepakat untuk merahasiakan kejadian ini. Kita takut menjadi bumerang untuk perijinan acara sejenis di kemudian hari.
Suatu cerita tentang bagaimana kita bisa membina lewat kegiatan yang bukan pembinaan.
Ghost Buster
Sore itu, pada saat sessi berlangsung ada peserta yang jatuh sakit. Katanya kakinya kejang dan dia terus menerus mengerang kesakitan. Seorang teman
bilang bahwa dia memang kejang di sessi-sessi sebelumnya tapi tidak separah ini. Saya heran karena dia mengeluh kakinya kejang, tapi betisnya lemas.
Pengalaman saya, kalau orang kejang kaki pasti betisnya kaku (karena sejak SD saya rutin berenang dan sering membantu orang yang kejang di kolam renang). Saya merasa ini sesuatu yang agak lain. Saat itu ada pendeta yang sedang menunggu istrinya yang menjadi pembicara pada acara itu. Saya minta beliau untuk mendoakan anak remaja ini, dengan acuh dia bilang bawa saja kedokter. Saya tahu, pasti itu jawaban yang mungkin diberikan, tapi saya yakin penyakit ini gejalanya tidak biasa. Saya merasa mungkin ada sesuatu yang lain.
Karena pak pendeta GKI ini tidak mau mendoakan, saya ingat bahwa diseberang tempat camp ini ada III (Institut Injili Indonesia) yang salah satu dosennya
pernah menulis buku tentang okultisme, Pondsius Takaliuang. Saya dan beberapa teman kesana dan bermaksud minta bantuan dia, ternyata dia tidak ada dan waktu saya tanya di komplek perumahan itu, apa ada pendeta yang bisa membantu saya? Saya diberitahu beberapa rumah. Semua rumah itu saya datangi dan semua orang yang dimaksud tidak ada dirumah. Saat itu Inggrid bilang: kalo cuma mau berdoa, kita sendiri pasti bisa berdoa. Perkataan ini benar-benar bermakna bagi saya saat itu. Saat itu saya langsung mengajak mereka kembali ke tempat camp itu dan mengumpulkan beberapa pengurus dan panitia (yang rata-rata SMA dan SMP) untuk berdoa bersama. Tante penjaga tempat camp tsb bersimpati dan mau berdoa bersama. Kira-kira kita 7-10 orang. Ada Cik Syeni, ada Erlen, ada Inggrid, ada siapa lagi ya......?
Kita duduk mengelilingi rekan (ada yang ingat namanya?) yang mengerang kesakitan itu. Kita berdoa berantai mohon kesembuhan bagi rekan ini. Tante penjaga itu mengajak kita untuk menyelinginya dengan menyanyi, jadi selain berdoa kita menyanyikan lagu pujian. Sampai beberapa menit kemudian rekan yang sakit itu, bersuara seperti suara anak kecil (bukan suara yang wajar) dan berkata: "Saya mau keluar asal kamu jangan nyanyi". Saya kaget juga, tapi tante itu yang membimbing kita untuk mengatakan "tidak!". Kami terus berdoa dan menyanyi. Tawar menawar dengan suara anak kecil itu terus berlangsung dan kami selalu mengatakan "tidak!". Sampai suatu saat mata anak itu jadi jalang dan menatap saya dan berkata: "Siapa kamu?" Saya kaget tapi terus berdoa bersama..... Saya merasa ada kekuatan yang muncul disuara dan disorot mata rekan ini...... Kira-kira setelah satu jam kami berdoa dan bernyanyi, tiba-tiba anak itu bersuara melengking dan kemudian sorot matanya kembali normal dan dia tertidur. Saat itu kami yakin sesuatu sudah terjadi, kami bersyukur untuk jawaban doa kami. Rekan ini sembuh. Dan menurut penuturan dia di kemudian hari bahwa memang dia pernah dipasangi susuk oleh pamannya.
Saya tidak pernah melihat hantu atau percaya pada hal-hal gaib. Tetapi pengalaman ini membawa saya untuk percaya bahwa ada "sesuatu" yang lain itu. Dan yang menarik bahwa doa kita yang masih remaja dan awam ini mampu mengalahkan "kekuatan" itu.
Pengalaman ini benar-benar membekas dihidup saya. Pengalaman bahwa memang dilingkungan GKI hal-hal yang gaib kurang dipercaya atau diperhatikan.
Seperti sang pendeta yang tidak mau mendoakan rekan tadi. Mungkin ini memang merupakan ciri khas GKI kita. Tapi jangan lupa, kita punya Tuhan yang sama dan Dia mampu melakukan apapun.