24 Juni 2010

Cerita tentang King Lung

Kejadian ledakan di jalan Slompretan nomer delapan itu sangat mengagetkan saya. Kamis pagi seorang teman menelpon tentang ledakan semalam sebelumnya. Katanya salah satu korbannya yang terluka adalah Imron. Saya kaget, pagi itu saya menyuruh anak buah saya untuk segera ke tempat kejadian. Tujuannya mencari kabar tentang King Lung. Dia teman saya. Memang sudah cukup lama saya tidak berjumpa dia. Beberapa saat kemudian anak buah saya memberikan kabar bahwa kondisi tempat itu memang sangat parah. King Lung belum ditemukan, Imron juga akhirnya meninggal. Wajah dua orang rekan itu masih sangat jelas terbayang. Imron dan King Lung.
Saya mengenal mereka cukup lama, karena kita sama-sama merintis bengkel CNC-Computer Numerical Control (mesin bengkel yang bisa diprogram). Imron anak buah King Lung. King Lung adalah orang kepercayaan Bos di Jakarta. Dia tidak berpendidikan tinggi. Dia dulu hanya operator mesin, kemudian dia belajar memprogram mesin. Dia orang yang baik. sopan, pekerja keras dan mau belajar. Postur tubuhnya bagus dan orangnya murah senyum. Beberapa kali saat dia mengalami masalah dengan pemograman, dia selalu datang ke tempat saya. Dia mampu belajar dengan baik.
Bengkelnya dulu mengerjakan neck-ring. bagian atas tabung LPG yang menghubungkan antara tabung dan bagian yang terbuat dari kuningan. Awalnya satu neck ring dikerjakannya dalam 1 menit. Terakhir kalinya dia berhasil mengerjakannya dalam waktu 11 detik. Rasanya itu proses pembuatan neck ring yang tercepat di Indonesia. Dia bersama teman-temannya bekerja 24 jam. Bergantian antara yang tidur dan yang bekerja. Mereka satu tim yang sangat kompak dan cekatan.
Bosnya tinggal di Jakarta. Orangnya sangat low-profile. Setiap kali ke Surabaya, saya selalu ditelpon untuk menemuinya. Karena itu saya sering mampir di Slompretan itu. Selalu saja dia memesankan Mie Hongkong di jalan Waspada itu. Kita sering ngobrol sambil makan mie itu. Kalaupun saya ke Jakarta, sayapun harus menelponnya. Memang tidak selalu saya menelpon, karena kadang saya sudah sangat capai. Kalau dia tahu saya di jakarta biasanya dia jemput saya dan kita menghabiskan sepanjang malam di Pecenongan. Makan bubur, es campur dan ngobrol. Dia sangat baik. Bisnis diantara kita tidak besar-besar amat, tapi persahabatan itu sangat akrab. Dari makan bersamanya sampai nyaris ditangkap Satpam gara-gara dia berkelahi di suatu Plaza. Menakutkan tapi lucu juga.
Banyak kali saya sering datang di Slompretan itu. Sekedar mengobrol dengan teman-teman disana. Saya juga punya rasa tersendiri dengan jalan itu. Papa saya pernah bekerja di toko Batik di depan bengkel itu dan kemudian pindah kontrak di samping bengkel itu. Dulu kalau hari libur dan pas saya ke Surabaya, saya sering membantu di toko Batik itu. Mama saya juga penah bekerja di Bank di ujung jalan itu. Dulu namanya masih Bank Umum Koperasi Kahuripan. Di jalan itu memang ada sepenggal kenangan hidup saya. Sering saya menghabiskan sore hari disana. Bila saya belum pulang ketika hari mulai gelap, selalu tukang parkirnya datang meminta ongkos parkir sebelum dia tinggal pulang. Saya selalu memberinya uang dan bonus umpatan di hati saya.
Terakhir saya dengar King Lung pacaran dengan Gadis Madura. Mamanya di Jakarta tidak menyetujuinya. Tapi dia tetap nekad. Bosnya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya juga tidak, walaupun ingin rasanya menasehatinya. tapi saya tidak tahu mau bicara dari mana? Saya sangat berat dengan pernikahan yang tidak disetujui orang tua. Banyak kali itu mendatangkan luka atau mungkin kutuk. Saya lebih memilih menuruti orang tua dan selalu akan menasehati begitu bila ada masalah seperti itu. Tapi ke King Lung saya tidak berani bilang apa-apa. Akhirnya mereka menikah.
Setelah ledakan itu saya berusaha menelpon Bos di Jakarta itu. beberapa nomernya tidak bisa dihubungi. Hingga jumat pagi, ada satu nomer yang bisa, tapi tidak diangkat. Saya lalu hanya kirim SMS "Kho, saya ikut sedih, tapi selalu ada kekuatan dari Tuhan." Ini ungkapan tulus saya, walaupun saya tidak tahu apa agamanya. Beberapa detik kemudian dia menelpon saya, lama sekali saya mendengar ceritanya. Terutama tentang King Lung. Hari itu beberapa kali dia menelpon saya, memberitahukan tentang perkembangan King Lung. Sampai petang harinya dia SMS hotel dan nomer HP mama King Lung. Saya tidak mengenal mamanya, tapi saya sangat ingin menemuinya. saya menemuinya di kamar jenasah RSUD Dr. Sutomo. Dia tidak terlalu tua. "Ai, saya Daniel teman King Lung, saya dapat nomer Ai dari Kho...... di Jakarta" Wanita itu sangat tegar dan bijak. Di bagian lain di teras kamar jenazah itu, ada dua ibu berkerudung dan bapak berkopiah dan beberapa orang lagi. Mereka rombongan istri King Lung yang berasal dari Probolinggo. Mereka semua menunggui datangnya peti jenazah yang akan dipakai King Lung. Awalnya saya menyangka mama King Lung akan sinis dengan keluarga itu. Sayapun berbincang dengan dia tanpa menyinggung Istri King Lung sekalipun. "Satu hal yang belum dia turuti adalah bahwa dia berjanji akan memberikan menantu yang akan menyenangkan hati saya, saya belum tahu karena saya belum pernah tinggal dengan menantu saya." Diapun bercerita kalau King Lung sudah meminta nama untuk anaknya yang akan lahir sekitar dua minggu lagi. Mamanya sudah memberi satu, tapi dia meminta empat nama dan nama pilihannya sudah disimpan di HPnya.
Lorong di depan kamar jenazah itu gelap, saya baru tahu kalau Bos Besar King Lung ada di sana. Dia kakak dari Bos yang saya telpon itu. Bos ini yang paling dihormati oleh semua saudaranya. Sayapun menghampirinya dan berjabat tangan. Mama King Lung juga dan kemudian dia bilang ,"Kho, tolong diingat anak King Lung ya.... Tolong dibantu istrinya, dia mau melahirkan" Bos itu mengiyakan dan langsung menghampiri wanita yang hamil tua itu, dia mencatat alamatnya.
Saat peti jenazah sudah siap dan jenazah sudah dikeluarkan, saya sempat melihat wajah King Lung. Sudah membengkak dan berbau. Istrinya langsung pingsan. Keluarganya membopongnya, mama King Lung mengoleskan minyak kayu Putih di dahinya. Ibu dan Bapaknya sibuk menyadarkannya dengan berbahasa madura. Mereka orang desa, masih 35 KM dari Probolinggo ke selatan. Bapak Ibu itu ternyata diantar oleh "Pak Tenggih" (Pak Tinggi= Pak Lurah) desanya. Ah, musibah ini menyadarkan saya betapa manusia itu adalah mahluk sosial, yang kodratnya membantu sesamanya. Ada Pak Lurah yang bersimpati pada warganya dengan menghantar ke Surabaya. Ada wanita yang mungkin punya alasan untuk membenci menantunya, tapi kewanitaannya mampu merasakan apa yang dirasakan menantunya itu. Ada Bos besar yang mau bersimpati pada pegawainya yang setia sampai akhir hayatnya.
Malam itu, setelah peti jenazah ditutup, mereka berpisah satu sama lain. Dua keluarga yang berbeda budaya dan banyak lainnya itu saling berpelukan. King Lung sudah menyatukannya.
King Lung akan dimakamkan di Tangerang di kampungnya. Mamanya minta dia dimakamkan bukan dikremasi agar anaknya suatu saat kelak dapat mengetahui kubur papanya.
King Lung kita masih bersahabat.
(kelanjutannya.....)

Oleh-oleh dari Medaeng

Sabtu kemarin ini kami berenam berkunjung ke seorang rekan yang ditahan di Lapas Medaeng. Tjie Joung yang menjadi pencetus kegiatan ini. Rasanya ini jadi reuni lagi setelah tahun lalu kita membuat "sinetron' untuk TVRI. Suasana sudah terasa ketika kita berkumpul dan menunggu teman yang belum datang. Di samping pos satpam, acara di mulai dengan makan menu spesial GKI Dipo yang baru dan lagi favorit, Bakwan Babi! Nah, bagi yang masih di luar Surabaya, perlu diumumkan bahwa di depan gereja setiap hari ada Bakwan Babi yang mangkal. Semua bilang enak. Ini bukan bakso babi kayak jamannya Arifin dulu, ini kuahnya lumayan bening. Makanya cepetan datang ke Dipo lagi ya.... Berenam ada: Tjie Joung, Robert Harmani, Yahya Juanda, Andreas Nagaginta, Prianto dan saya.
Awalnya, acara nyaris batal, karena Yahya mendapat SMS bahwa teman kita baru periksa darah karena dia terkena sakit kuning. MR harus istirahat total dan tidak boleh dibesuk. Tapi karena salah satu diantara kita berprofesi pengacara, maka ia yang menelpon salah satu pejabat di sana untuk meminta ijin khusus. Katanya sih Ok, boleh masuk. Maka kita berangkat dengan satu mobil saja, agar bisa tetap reuni dengan meriah.
Sepanjang jalan kita berbincang, bercanda, saling mengejek, saling menggoda, ada juga yang mencoba mengenang kejadian "jadul".
"Satu hal yang sudah berubah, aku sudah meninggalkan kebiasaan 'minum-minum'ku..."
Langsung ada yang menimpali:
"Yo.... ngono, mosok gara-gara koen mlaku nabrak koco e gedung pertemuan, aku sing di celuk Pak Ben"
"Pak Ben ngomong; tolong jangan seperti itu, jangan minum-minum gitu..... Aku njawab: Ya Pak Ben, dia sudah saya beritahu kalau mau mabuk jangan di gereja, di luar sana..... Eh, Pak Ben malah ngamuk dan ngomong : Lho, walaupun di luar juga TIDAK BOLEH!"
Ada juga yang bilang, "Kita ini sudah kepala 4 semua, tapi koq guyonannya masih kayak waktu usia belasan tahun...."
"Pokoknya khan kalau sudah di depan anak-anak harus bersikap lain yo..."
ini untuk pertama kalinya saya ke Medaeng. Luas dan Besar sekali. Di pintu depan kita melapor dan lagi-lagi sang "pengacara" yang jadi pemimpin, dia yang mengurus dan mendatangi semua loket dan meja yang ada. Saat Andree mau masuk gerbang pertama, dia langsung ditolak, karena mengenakan celana 3/4, harus bercelana panjang. Tapi petugasnya bilang, "Itu sewa celana di depan sana" Di seberang Lapas itu ternyata ada persewaan celana panjang, Rp. 5.000,oo. "tapi pak, apa ada ukuran yang pas?" sambil dia memandang lingkar perutnya. "Beres, semua ukuran ada disini..." Benar, ada! Celananya lumayan bagus. Yang memakai langsung punya ide cemerlang, "Eh, yok opo nek langsung mole ae..... lumayan, limang ewu entuk celono iki..."
Melintas gerbang pertama kita diminta meninggalkan KTP dan diperiksa, HP tidak boleh dibawa masuk. Kita memang sudah meninggalkannya di mobil.Cuma sang "pengacara" yang boleh membawa HP karena dia menyebut nama seorang pejabat disana. Saat mau melewati gerbang kedua, tangan kita di stempel "SIAP", entahlah apa artinya. Yang jelas kalau sampai stempel ini hilang..... berarti kita juga siap untuk tidak bisa keluar.
Kita menunggu di teras dan tidak masuk ke area kunjungan karena di sana sangat berjubel, MR yang di panggil untuk menemui kita. Itu juga karena ada usaha dari sang pengacara. Apapun bisa diatur oleh pengacara,. Rasanya mataharipun kalau mau terbit harus tanya dulu sama pengacara. Syukurlah kita punya teman yang begini.
MR keluar dengan kulit yang tampak pucat kekuningan, dia sakit kuning. Menularkah? Saya sendiri rada-rada takut. Kita berbincang-bincang di teras itu. Dia masuk sini karena kasus pemalsuan kartu kredit. Ini yang kedua kalinya, dia sudah pernah menjalani hukuman 20 bulan. "Saya sebenarnya sudah mau mandeg deg! Tapi saya tidak tahu mau kerja apa lagi...?" Entahlah saya harus bersikap apa? Dulu kita bermain bersama di KPR. Dulu kita pelayanan bersama. Kenapa dia bisa begini? Apakah pelayanan kita dulu itu tidak berpengaruh pada bagaimana seharusnya kita hidup? Apa memang pelayanan itu jauh dari kehidupan yang sebenar-benarnya? Pemalsuan pasti butuh kepandaian, kenapa dia tidak bisa memanfaatkannya untuk yang positif? Ah, saya juga cuma bisa bengong saja. Kita pamit pulang setelah memberi bingkisan kue dan penganan buat MR.
Di perjalanan pulang kita tetap penuh canda, apa lagi beberapa teman sudah mulai gerah sama kelakuan sang pengacara. "Yo, kene sek daerah kekuasaanmu, tapi nek wis liwat CITO merono, koen tak entek no....." Bener juga kita bergantian "membantai" Sang pengacara saat mobil sudah melintasi CITO di bundaran Waru. Kita menutup acara itu dengan makan siang bersama dan balik ke gereja. Di gereja Bis Damri yang mengantar anak-anak KA dari bakti sosial sudah datang. Benar juga, di depan anak-anak itu, kita sudah harus bersikap lain lagi, meninggalkan semua kenakalan tadi. Kapan kita reunian lagi ya....?
(kelanjutannya.....)

08 Mei 2010

Cerita tentang Membaca Alkitab (No.2)

Cerita kedua mulai terjadi di awal tahun 2009. Saya mempunyai keponakan perempuan yang cukup pandai yang bakal lulus SMA di pertengahan tahun 2009. Saat itu dia bersekolah di SMA Negeri di Bondowoso. Keluarganya kurang mampu. Sayang sekali kalau anak itu sampai tidak dapat melanjutkan sekolah, karena harusnya dia mampu untuk itu. Satu-satunya cara yang saya pikirkan adalah dia harus masuk universitas negeri agar biayanya murah. Untuk itu pasti tidak mudah. Nilainya memang bagus, tapi dia bukan yang rangking 1.

Bertahun-tahun sebelumnya, kalau saya bertemu dia, saya selalu menasihati dia untuk belajar dengan keras sekali. Jangan pernah puas dengan hasil cukup bagus yang sudah diterimanya. Dia harus rangking 1, karena kalaupun dia rangking satu, itupun tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan pelajar yang dari Surabaya. Saya dulu lulus dengan NEM tertinggi di Bondowoso, tapi saat saya di ITS saya tahu bahwa itu tidak berarti apa-apa. Banyak anak yang jauh lebih tinggi nilainya dari saya. Saya tidak ingin pengalaman itu terulang di dia. Bertahun-tahun saya memompa semangatnya. Saya juga berusaha mencarikan jalan untuk dia. Beruntung adik saya tinggal di perumahan di seberang ITS, jadi kalau dia bisa masuk ITS berarti dia bisa menumpang di rumah itu dengan sangat dekat. Saya sudah minta "Tante" saya untuk menegosiasikan hal itu ke adik dan adik ipar saya. Mereka menyetujuinya. Jadi masalah utamanya adalah bagaimana agar dia diterima di ITS. Mutunya bagus, uang kuliahnya murah, kost-nya gratis.

Awal 2009 adalah puncak perjuangan itu. ITS membuka beberapa jalur pendaftaran. Semua jalur itu saya minta dia ikuti, kecuali jalur kemitraan yang kemungkinan diterimanya besar tapi harus membayar sekitar 35 juta. PMDK S1, PMDK D4 PENS, SMNPTN, Seleksi reguler D4 PENS. Semuanya itu diikutinya. Di samping itu ada juga masalah lain. Ada beberapa orang di gerejanya yang bersedia membiayai dia kalau dia mau sekolah teologia (Aleithea atau SAAT). Secara pribadi dia tidak menyukai tawaran itu. Dia suka bidang teknik. Dia ingin masuk ITS.

Dua jalur PMDK (seleksi masuk tanpa tes) itu, gagal dia tempuh. Bisa jadi juga karena SMA di Bondowoso memang tidak terlalu punya prestasi yang menonjol. Saya minta dia bersiap untuk ikut SMNPTN (dulu jaman saya namanya Sipenmaru). Dia bersiap untuk itu. Saat selesai tes, dia bilang kalau beberapa soal tidak dijawab, karena takut dipotong nilainya bila salah. Yang dia kerjakan hanya sekitar 80%. Saya agak kecewa dengan cerita itu. Sambil menunggu pengumuman SMNPTN, dia mengikuti seleksi masuk D4 Politeknik. Saat selesai tes dengan yakin dia bilang bahwa dia bisa mengerjakan semua soalnya. Saya senang dengan itu.

Dia sangat yakin bisa diterima di Politeknik, buku-bukunyapun sudah dipinjamkan ke adik kelasnya. Hingga suatu siang dia SMS saya, bahwa dia tidak diterima di tes itu. Dia kecewa berat. Dia merasa juga pasti tidak diterima di SNMPTN karena tesnya tidak sebisa tes untuk D4 itu. Dia bilang mau bekerja saja. Saat itu saya mulai merasa bakal ada masalah yang besar.

Saya mulai ketakutan. Saya merasa sudah melakukan kesalahan yang besar. Saya merasa sudah terlalu memompa semangatnya dan menggelembungkan harapannya. Saya takut bila harapan itu gagal dia capai, dia akan jatuh terhempas. Dia juga mulai tertekan, jemaat di gerejanya juga mulai menekan dengan memojokkan bahwa itu rencana Tuhan agar dia masuk sekolah teologia. Saya dalam kondisi yang takut juga. Takut akan dampak buruk itu. Ini sangat membebani pikiran saya.

Saat itu bacaan Alkitab saya sampai pada Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Kepercayaan akan janji Tuhan dan kesaksian bagaimana Tuhan memimpin Umat Israel keluar dari Mesir. Terutama kisah tentang dua orang pengintai "Kaleb dan Yosua" menginspirasi saya. Sayapun hanya bisa berdoa ," Tuhan, bolehkah saya minta mujizat itu? Karena itu bukan untuk saya." Bagaimana ya? Apa saya bisa percaya akan pimpinan Tuhan?

Keraguan itu terjawab saat suatu pagi dia menelpon sambil menangis , saya awalnya berpikir negatif tentang tangis itu. " Om, Ovi diterima." Puji Tuhan, dia diterima di ITS. Semester lalu IPnya diatas tiga dan mendapat beasiswa yang tidak dia ajukan.

Sekali lagi, bacaan Alkitab itu bisa pas di pergumulan hidup saya. Seakan ada dosis dan kurikulum yang tepat yang sudah tersedia.

Beberapa saat yang lalu di Facebook saya menulis ,"Kalau dulunya cocok, apa sekarang masih bisa cocok juga ya...?" Ada yang berpikir ini ada hubungannya dengan "pasangan hidup" saya. Hahahahaha...... Tapi sesungguhnya itu berkaitan dengan bacaan-bacaan yang saya baca urut tiap harinya ini. Kalau sudah begini apa boleh saya ragu lagi?

(kelanjutannya.....)

Cerita tentang Membaca Alkitab (No.1)

Membaca Alkitab punya banyak kisah di hidup saya. Dulu saya pernah memulainya dengan panduan buku Saat Teduh. Pernah juga Renungan Harian. Kini saya membacanya tanpa tuntunan buku apa-apa. Dibaca urut dari Kejadian hingga Wahyu lalu balik ke Kejadian lagi. Sehari satu pasal. Ini diakibatkan karena saya sering lupa atau tidak sempat beli buku-buku tuntunan itu.

Saya membacanya cuma Senin sampai Sabtu, Minggu khan sudah ke gereja. Tidak juga pasti tiap hari itu saya membacanya, banyak kali saya sulit membacanya, terutama kalau hari libur. Saya sangat menikmati kesendirian, jadi kalau banyak orang atau ada orang lain di rumah, saya malah sulit berkonsentrasi. Waktu terbaik saya adalah jam 6.30 sampai jam 7.30. Saat semua sudah berangkat dan anak buah saya belum datang. Saya bisa sendiri dan konsentrasi dengan baik. Kalau pas hari libur, maka suasana yang tidak sepi itu malah mengganggu saya. Bukan karena saya malu kalau ketahuan membaca alkitab. Dulu memang perasaan itu ada, tapi sekarang saya berani koq membaca di depan rumah. Bukan untuk pamer, tapi untuk berani mengalahkan rasa malu itu.

Membaca dengan urut memang punya masalah tersediri. Pernah terpikir, bahwa bacaan itu tidak bertema dan berkurikulum jelas. Buku panduan memang sudah ter susun dengan tema dan ide yang jelas tiap periodenya. Membaca dengan urut kadang membingungkan. Bila saat itu kita sampai di kitab Bilangan, maka yang kita baca pasti membingungkan. Hanya angka dan ukuran saja. Kadang satu pasal yang kita baca cuma berisi silsilah dan nama-nama orang saja. Kita dapat apa di hari itu? Yang ada mungkin cuma kebosanan dan ketidak-mengertian.

Saya akan bercerita tentang pengalaman saya. Saya akan menulisnya dalam dua bagian, karena ada dua pengalaman hidup tentang hal ini. Dua bukan berarti hanya ada dua cerita ini saja di hidup saya. Dua untuk menunjukkan bahwa pengalaman itu tidak satu-satunya, dan kalau sudah pernah dua maka pasti akan ada kisah-kisah berikutnya di hidup ini. Semoga ini berguna.

Tahun 2007 adalah tahun "Vivere Peri Coloso" (mengutip kata Bung Karno) di hidup saya. Tahun dimana hidup itu begitu sulit dan menekan berat. Padahal tahun 2007 itu saya masuki dengan hati yang penuh semangat dan pengharapan. Di akhir tahun 2006 saya bertemu dengan seorang tua yang kaya sekali dan dia sepakat untuk membantu memodali saya. Saya suka mencari banyak hal baru yang belum sempat banyak orang lain tahu. Saya suka mempelajarinya. Saya sempat belajar suatu teknik yang saat itu saya percaya akan "boom" di tahun-tahun mendatang. Tentunya perihal perbengkelan. Topik ini kini memang benar-benar mengisi hampir semua majalah "Metalworking". Prediksi saya kini terbukti benar. Saat itu saya benar-benar senang karena dia mau membelikan mesin apa saja yang saya butuhkan. Itu memang ditepatinya.

Tahun itu saya mencurahkan semua tenaga dan daya untuk mempersiapkan bengkel itu. Semua terkonsentrasi ke sana. Praktis saya tidak terlalu memikirkan pemasukan. Saya hidup dari tabungan dengan harapan ini akan segera tergantikan bila bengkel itu jalan. Beberapa kali saya juga ke luar negeri untuk sekedar melihat-lihat proses yang ada. Berarti ada pengeluaran ekstra untuk itu. Sekitar pertengahan tahun, bengkel itu siap jalan. Mesin utama sudah terpasang. Sayapun berencana menutup beberapa usaha saya, agar saya bisa konsentrasi di sana. Beberapa teman "kongsi" sudah saya ajak bicara perihal ini.

Order pertama sudah saya dapat, tenaga kerja sudah ada. Saya minta mereka bekerja dan saya pergi ke Jakarta untuk melihat pameran perbengkelan. Sepulang dari sana saya kaget, ternyata pekerjaan itu belum selesai dan tidak dikerjakan. Saya urus hal ini. Tenyata anak buah saya tidak boleh bekerja oleh menantu pemilik modal karena dianggap order itu terlalu murah. Saya mendiskusikan hal ini dengannya. Sejak awal saya tidak ada urusan dengan dia. Semua rencana dan kesepakatan hanya antara saya dan mertuanya. Diapun bukan menantu yang dipercaya oleh mertuanya, kalau diruang itu ada dia, mertuanya selalu memberi kode untuk ganti topik pembicaraan. Dari perbincangan dengan menantu itu, terungkap kecurigaan bahwa banyak hal yang saya selewengkan. Dia mencurigai saya menerima komisi dari pembelian mesin dan peralatan yang ada. Juga dari harga pekerjaan yang masuk saya melakukan "undervalue". Saya mempersilahkan dia memeriksa langsung ke orang-orang itu, karena semua nama dan alamat ada dengan jelas. Saya memberikan jaminan bahwa saya tidak akan melakukan hal itu. Dia tidak percaya itu. Saya sadar inilah awal malapetaka itu. Saat itu saya langsung bilang bahwa saya mengundurkan diri. Tidak ada hal yang bisa dibangun bila tidak ada rasa percaya. Dia masih mendesak dengan mempertanyakan hal saham pembagian hasil yang dijanjikan ke saya. Saya tegaskan bahwa tidak perlu memberi saya hasil apa-apa kalau saya tidak bekerja. Saya tidak menuntut apa-apa, karena saya tidak pernah berpikir mencari keuntungan sesaat. Saya bercita-cita bengkel itu akan jadi bengkel besar, bukan sekedar bengkel biasa. Hari itu saya putuskan mundur.

Masalah besar itu mulai saya hadapi. Yang terdekat adalah bagaimana saya harus menyelesaikan order yang sudah saya terima. Saya berjanji Minggu sudah akan ada yang selesai, hari itu sudah Jumat. Untung ada teman yang mau membantu lembur untuk saya. Sayapun tidak punya kendaraan untuk memindahkan material besi yang ada, hampir 2 ton. Untung ada teman yang bersedia meminjamkan pick-upnya. Saya harus bolak-balik berkali-kali karena mobil itu tidak mampu bila harus mengangkutnya sekaligus.

Saya jadi berhutang ratusan juta, karena saya yang menandatangani semua kontrak pembelian mesin dan peralatan. Saya menegosiasikan ulang dengan teman-teman suplier itu. Semua mesin itu bukan di saya. Semuanya bisa diaudit sesuai dengan tagihan yang ada. Semua barang ada di bengkel yang saya tinggalkan. Untunglah mereka masih mempercayai saya.

Tekanan itu sangat berat bagi saya. Secara mental saya sangat sakit hati atas pengkhianatan ini. Secara finansial saya juga tertekan, karena tabungan saya juga sudah habis. Kondisi saya sangat buruk. Saat itu saya punya masalah dengan order dari bengkel saya yang lain (yang untung belum saya tutup). Saya harus bernegosiasi untuk masalah itu. Saat saya bernegoisiasi saya tidak dapat melakukannya dengan baik. Seorang teman memberitahu, " Masak kamu gitu saja tidak bisa, padahal kamu pernah bisa negosiasi yang lebih berat dari itu." Ya, saya pernah bernegosiasi persuasif agar seorang pelanggan mentransfer langsung (bukan dengan LC) pembayaran yang ratusan ribu USD hari itu juga. Itu pernah berhasil. Kondisi saya memang "kusut" sekali. Secara mental saya sudah mirip kertas kusut yang rapuh. Terlalu mudah untuk robek dan hancur. Terlalu sulit bagi saya untuk bisa berpikir jernih lagi.

Saat saya mau bangkit untuk kembali menata bengkel tadinya yang hendak saya tutup, anak buah saya dibajak oleh bengkel baru itu. Saya sempat bilang ke anak- buah saya itu, "Pikirkan baik-baik, karena ini cuma cara untuk menghancurkan saya." Dari banyak sisi saya tertekan, berat sekali.

Lalu apa hubungannya dengan pembacaan Alkitab itu?

Masalah itu terjadi dipertengahan 2007. Saat itu saya sampai pada kitab Mazmur. Mazmur yang 150 pasal, berarti saya membacanya dalam kurun lima bulan di tahun 2007. Saat masalah itu ada, tiap pagi saya membaca Mazmur. Dan kata-kata yang paling banyak diulang-ulang di Mazmur adalah : ".....bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya......." Topik tentang kasih setia Tuhan ada di saat saya menghadapi masalah yang berat sekali. Aneh, koq bisa pas ya....? Apa ini kebetulan saja? (bersambung)

(kelanjutannya.....)

Usia Emas

Kemarin saya diajak mengunjungi orang yang dianggap tertua yang masih hidup dalam keluarga besar saya. Usianya 92 tahun, dia juga pasti perintis dari GKI Di Bondowoso. Sebenarnya saya agak malas untuk berangkat, karena sekarang ia tinggal di Jember. Jember itu 35 KM dari Bondowoso, rasanya jauh di luar kota, padahal mungkin itu juga jarak yang harus saya tempuh tiap harinya bila harus ke bengkel di Sukolilo dan Gedangan.
Saya juga bingung, tidak tahu harus menyapanya siapa. Dulu, saat belum menikah saya menyapanya 'Kukong" karena dia lebih muda dari nenek saya dan dia menyapa nenek saya "cik-nga" (kakak tengah). Mertua saya menyapa nenek saya dengan "Po" yang berarti nenek saya setara dengan Nenek dari Merua saya. Makanya, alkisah dulu saya menyapa mertua saya dengan "Koh dan Cik" saja, sekarang koq malah harus "Papa dan Mama". Saat itu saya bingung mau menyapa dengan "Kukong" atau siapa lagi? Tradisi dan realitas yang membingungkan.
Hal yang menarik adalah saat kita keluarga besar ini harus berjabatan tangan dengan beliau, Ingatannya sudah banyak berkurang, dan kemampuan bicaranya juga sudah sepotong-sepotong. Saat satu per satu berjabat tangan sambil mengucapkan Selamat Natal, kita selalu bertanya "Ingat?". Kemudian beliau mengucapkan kata kunci yang sepotong itu. Kadang kata kunci itu berupa nama yang berjabat tangan. Kadang juga itu benar-benar sebuah kata kunci yang mewakili orang tersebut. Semua gembira dengan sepotong kata yang berhasil diucapkan beliau. Saat saya menjabat tangannya, setelah agak lama dan beberapa kali menanyakan, "Ingat?" Beliau mengatakan "Liang Ing". Itu nama Kakek dan Nenek saya, berarti dia mengingat saya, walaupun lupa nama saya. Yang menarik saat seseorang menjabat tangannya dan saat ditanya, "Ingat?" Beliau langsung menjawab,"Suka Marah" Semua tertawa, dan semua hampir setuju dengan kata kunci perihal orang itu. Siapa dia? Saya takut kualat kalau menyebarluaskannya......
Setelah semua berjabat tangan, semua beralih ke ruang tamu, karena saat itu jadwal beliau untuk "senam" fisioterapi.
Saya memilih untuk tetap di kamarnya bersama pelatihnya, saya hanya duduk melihat saja. Saya senang dengan orang "Berusia Emas". Usia Emas, itu kata-kata yang saya dapat dari "nguping" (mendengar dengan tidak sengaja) obrolan seorang jemaat. Sehari sebelumnya, ada perayaan Natal BAMAG (Badan Musyawarah Antar Gereja) se Kabupaten Bondowoso. Natal gabungan semua gereja Protestan dan Katolik, dihadiri sekitar 900 orang. Kebetulan tahun ini yang menjadi panitia pelaksananya adalah GKI Bondowoso dan ketua panitianya Papa Mertua saya. Saya sudah "bosen" dengan perayaan Natal makanya memilih untuk bantu-bantu kerja saja, daripada "dipaksa" duduk ikut acara. Saat itu pengisi acaranya gabungan dari semua gereja, lalu ada jemaat (rasanya dia orang Katolik) yang bilang," Saya senang dengan pendeta itu (Pak Martin Nugroho), dia bilang Usia Emas, daripada di gereja saya. Saya dibiilang Manula, Usia lanjut? kayak nunggu mati ae." Ya, usia emas. Mereka adalah kelompok orang berusia emas!
Ada orang yang senang melihat anak kecil, tapi saya lebih senang melihat orang berusia emas. Bener lho, kalau dilihat dua kelompok ini khan sama "indah"nya. Kita senang bila mendengar anak kecil yang bicaranya belum lancar, mereka yang berusia emas bicaranya juga tidak lancar. Ada yang suka melihat cara jalannya anak kecil, tertatih-tatih, mereka yang berusia emas juga berjalan dengan tertatih-tatih. Ada yang senang melihat bayi yang berusaha dengan keras membalikkan tubuhnya, yang menonton akan memberinya semangat, itu juga terjadi dengan yang berusia emas kala harus berjuang keras membalikkan tubuh di tempat tidurnya. Yang berbeda hanya, bila kita tertawa melihat pola anak kecil itu, maka semua orang disekitar kita akan ikut tertawa bahagia juga. Sedangkan bila kita tertawa melihat tingkah pola mereka yang berusia emas itu, maka laknat dan kualat yang kita dapatkan.
Saat itu saya duduk sendiri melihat "Kukong" yang renta itu. Beiau hanya bisa berbaring saja. Pikiran saya galau. Saya ingat buku yang saya baca di liburan ini, tentang Soe Hok Gie yang meninggal di usia 27. "Kukong" ini sudah hidup tiga kali lebih lama dari Soe Hok Gie. Tapi bila hidup hanya berbaring saja begitu, apakah yang bisa diharapkan dari hidupnya kini? Benarkah umur panjang hanya kesia-siaan? Soe Hok-Gie pernah menulis, "Seorang Filsuf Yunani pernah menulis, ..... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda." Dan Soe Hok-Gie memang mati muda.
Apa gunanya usia emas itu? Benarkah ini adalah kesia-siaan? Tubuh renta itu sia-sia dan hanya menjadi beban bagi keluarganya? Beberapa menit berlalu tanpa jawaban di kamar itu, tapi ternyata itulah jawabannya. Bila beliau sudah tiada, tidak mungkin saya datang berkunjung ke rumah itu. Beliau tetap menjadi berkat bagi keluarga besar kita. Kerentaannya yang menjadi pemersatu keluarga besar kita. Kelemahannya telah menjadikan kita bergantian menolongnya. Beliau tetap menjadi berkat melalui kelemahannya. Itu bagi saya yang tidak merawatnya sehari-hari.
Bagi keluarga yang harus merawatnya sehari-hari, dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Inikah kesia-siaan lagi? Saya bersyukur melihat keluarga yang mau berkorban merawat belkiau. Tidak sekedar merawat, tapi juga mau mengusahakan segala sesuatu yang terbaik bagi beliau. Mendatangkan pelatih fisioterapi seminggu tiga kali, mengajaknya mengobrol. Semuanya menjadi teladan bagi kita yang muda tentang bagaimana memperlakukan mereka yang berusia emas. Bisa jadi anak saya juga belajar bagaimana merawat saya nanti bila saya berusia emas. Kerentaan beliau telah menjadikan kesempatan untuk mengajarkan keteladanan memperlakukan kita sendiri saat kita mencapai usia emas itu nanti. Kerentaan beliau memberikan kesempatan bagi kita untuk menabur apa yang bisa kita tuai nanti. Menaburlah dengan baik.
Bondowoso, 30 Desember 2009.
(kelanjutannya.....)

Harga sebuah kesempurnaan

Pernahkah kita memimpikan suatu kebaktian yang sempurna pelaksanaannya? Tidak ada sound system yang mendenging, Tidak ada operator LCD yang terlambat menampilkan slide. Tidak ada pemandu pujian yang salah nada. Tidak ada pembaca leksionari yang salah baca. Semuanya lancar jaya. Zero accident!
Bila itu sekali di suatu hari Minggu, mungkin kita sudah bisa. Dua hari minggu, mungkin kita juga sudah pernah bisa. Bagaimana kalau sebulan? Bagaimana bila "Zero Accident" di sepanjang tahun? Apakah kita bisa ataukah kita mau untuk bisa? Harus bagaimanakah kita untulk bisa sempurna tanpa cacat di sepanjang tahun?
Ada ilustrasi tentang hal ini. Di bidang teknik ada kondisi tentang keadaan Vakum (hampa udara). Vakum adalah kondisi yang menyatakan suatu keadan tekanan udara yang dibawah tekanan udara luar. Tekanan udara luar (atmosfir) kita adalah 1 Atmosfir atau 1 Bar. Vakum itu adalah kondisi dibawah 1 Bar. Vakum itu berkisar antara 1 Bar dan O Bar (hampa mutlak/absolut seperti di luar angkasa sana). Jadi Vakum itu cuma suatu keadaan yang berkisar antara satu dan nol Bar saja. Bayangkan ini cuma soal antara angka satu dan nol.
Mau tahu soal harga Vacuum Pump (pompa vakum)? Pompa vakum yang termurah adalah vacuum cleaner di rumah kita. Harganya mungkin berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Berapa tekanan yang dicapainya? Berkisar setengah Bar atau 500 mili Bar (mBar, satu Bar sama dengan seribu mili Bar). Ada juga pompa untuk penyedot tinja yang dipakai di mobil penguras WC. Harganya jutaan rupiah, tekanan yang bisa dicapai oleh pompa jenis ini adalah satu mili Bar, seperseribu Bar. Berarti pompa jenis ini mampu memindahkan udara hingga 999 mili bar. Harganya berkisar jutaan atau maksimal puluhan juta rupiah saja.
Ada juga proses yang memerlukan vakum yang lebih tinggi. Proses pelapisan anti pantul di lensa kaca mata saya. Proses pengeringan sayuran di mie instan, sayurannya tetap hijau dan wortelnya tetap oranye walaupun itu kering. Proses ini memerlukan kondisi vakum hingga sekitar 0,0001 mBar (sepersepuluh ribu mili bar). Harga pompa vakumnya bisa mulai berkisar puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah. Beda ukuran vakum dengan pompa sebelumnya, tidak sampai 1 mili bar. Pompa sebelumnya bisa menurunkan 999 mbar, pompa jenis ini mampu 999,999 mbar. Selisih kemampuan pompanya cuma 0,999, tapi harganya sudah berlipat-lipat mahalnya.
Ada juga pompa vakum yang lebih tinggi lagi. Turbo Molecular Pump atau juga Cryogenic pump. Pompa ini dipakai untuk pembuatan semiconductor. Hasilnya ya... prosessor yang menjadi 'otak' Laptop atau komputer kita ini. Harganya memang puluhan atau ratusan ribu, tapi US Dollar, bukan Rupiah lagi. Vakumnya sampai berapa? Sekitar sepuluh pangkat minus delapan mBar atau seperseratus juta miliBar. Selisih vakum dengan pompa sebelumnya "hanya" 0,0009999. Jauh lebih kecil lagi, tapi harganya sudah berlipat-lipat-lipat-lipat lagi mahalnya.
Untuk mencapai suatu tahapan vakum yang lebih tinggi, sebagai prasyarat suatu proses, ada kenaikan yang mencolok dari harga pompanya. Kenaikan harga itu tidak berbanding linier dengan kenaikan hasil vacuum yang dicapai. Tiap kenaikan kondisi vakum itu, memerlukan suatu sistem pompa yang berbeda prinsip kerjanya. hal itu yang mengakibatkan beda harga yang mencolok. Inilah cerita tentang pompa vakum yang cuma ratusan ribu sampai ratusan juta Rupiah.
Kembali ke mimpi kita diatas. Bila kita pernah berhasil membuat satu kebaktian yang sempurna, kemudian kita mau membuat 10 kebaktian yang sempurna, kemudian seratus, kemudian seribu. Mungkin kita berpikir itu masalah mudah. Dari fenomena alam Vakum tadi, saya meragukan bahwa itu bukan masalah mudah. Mengejar sesuatu yang sempurna itu terkadang tidak linier. Kalau mau 10 kali lebih baik terkadang 10 kali kerja lebih keras masih kurang. Kalau mau 20 kali lebih baik, bukan berarti perlu kerja 20 kali lebih keras mungkin malah perlu seratus kali kerja yang lebih keras.
Tidak ada maksud untuk menakuti tiap niat untuk mencapai kesempurnaan. Cerita ini cuma untuk mendukung agar kita tidak capai dalam mencapai kesempurnaan. Kesempurnaan itu punya harga yang tak ternilai mahalnya. Berani atau tidak kita membayarnya.
(kelanjutannya.....)

Alangkah Menjengkelkannya seorang Injili dan Fundamentalis itu

Hari ini (25 April 2005) pas dua tahun meninggalnya Papa saya. Saya mencoba mengenangnya melalui tulisan ini.

Papa saya memilih menjadi seorang yang injili dan fundamentalis walau sebenarnya dia dilahirkan dalam lingkungan GKI. Beberapa tahun silam, dalam suatu buku peringatan ulang tahun GKI, saya membaca nama Kakek saya sebagai orang yang ikut dalam GKI mula-mula di Jatim. Berarti Papa saya juga besar dalam suasana GKI.

Kegemaran Papa membaca buku rohani cukup kuat, saat pertama kali dibelinya Alkitab dengan Bahasa Indonesia Sehari-hari, semuanya habis dibacanya dalam waktu seminggu. Ada suatu masa (sekitar tiga puluh tahun silam) dimana Papa getol baca buku-buku Watchman Nee, katanya itu aliran Methodist, tapi beberapa tahun kemudian sampai akhir hayatnya buku yang banyak dibacanya adalah terbitan Kalam Hidup, Yakin, STT Jaffray dan I3 Batu. Saya jarang pernah ikut membacanya, cuma kebagian cerita dan dampak sikapnya.

Sejak Mama saya meninggal, waktu itu saya berumur 11 tahun, terpaksa saya tinggal dengan nenek dan hidup dalam lingkungan GKI, pernah ada pendetanya yang berwarna 'liberal' tapi pernah juga ada pendeta yang lulusan SAAT (sekarang jadi dosen di STT Bandung), tapi itu tidak pernah terasa bedanya karena Emak/Nenek saya selalu hormat dan nurut pada "Boksu". Sekali seminggu Papa saya datang, lalu makin lama makin jarang, sampai saya lulus SMA dan kuliah di Surabaya dan saya tinggal kembali dengan Papa. Nah, inilah mulainya rasa seperti judul di atas itu terasa.

Semangat untuk menginjili orang lain, semangat yang dilandasi bahwa tiada Nama lain yang oleh karenanya kita bisa selamat selain nama Yesus, begitu menggebu! Tiap sore diputarnya radio FEBC siaran bahasa Sunda, hanya karena tetangga sebelah itu orang Sunda yang belum "diselamatkan", saya sendiri cukup stress oleh suara radio yang cukup keras yang tidak saya mengerti itu.

Suatu saat, waktu ada kelebihan cat setelah mengecat pagar, semua pot bunga yang ada di tulisi ayat-ayat alkitab, kalau sampai ada orang yang bertanya itu apa, maka dengan hafal dan cepat Papa akan menerangkannya.

Hal ini membuat saya cukup sumpek dan bingung.

Sikap dan semangatnya sering membuat saya risih, tapi semangat itu tidak pernah membuat dia menghalangi saya untuk aktif di GKI. Suatu kali ada kegiatan besar, saya ketua panitianya, saya tidak pulang malam itu, besoknya Papa menelpon ke gereja, waktu dia tahu bahwa saya ada di gereja, Papa diam saja, pasrah pada Tuhan yang dikenalnya. Saya baru pulang di hari yang ketiga, Papa malah kelihatan sangat mendukung, dan waktu Hari H, papa datang dan mengikuti acara itu, komentarnya : Itulah hebatnya GKI!

Saya tahu, Papa juga menanggung beban masalah keluarga yang berat, tapi beban itu akhirnya terselesaikan juga, hanya karena Papa selalu mendoakannya. Semangat untuk "beriman" yang lebih dari gaya GKI-saya membawa Papa mampu mengatasi masalah keluarga saya.

Suatu hari Papa mengajak berdoa tiap pagi, saya pun menurutinya walau dengan berat hati. Salah satu pokok doanya adalah mendoakan seorang saudara "yang terhilang", cukup lama dan bertahun-tahun kita telah berpisah tanpa ada kabar berita, saya tahu Papa sangat ingin bertemu dengannya. Sampai suatu pagi Papa mendapat surat kaleng yang memberitahukan bahwa "yang terhilang itu" ada di sebuah rumah sakit di Jember. Besoknya Papa ke Jember dan memang mereka bertemu. Sebuah pertemuan yang mengesankan. Doa Papa terkabul!

Papa tidak pernah tahu siapa penulis surat itu. Bisa jadi ada seseorang yang tahu tentang pergumulan Papa dan menuliskannya untuk Papa. Atau mungkin ada seorang tukang pos yang sempat "Mi'rajd" dan membawakan surat itu langsung dari Tuhan yang tentunya isinya pasti inerrancy and infallibility. Bisa mungkin juga ada seseorang yang digerakkan oleh Roh Kudus dan menuliskan ilham itu dengan segala keterbatasannya. Saat ini surat itupun tidak diketahui keberadaannya, sehingga tidak mungkin diuji keotentikannya, Tapi sebagai sebuah surat, ia telah menyelesaikan tugasnya dengan gemilang.

Mendekati akhir hayatnya, Papa sering mengeluh tidak bisa tidur, saya cuma menghibur, dengan membelikan banyak buku-buku theologi terbitan BPK yang mungkin berat-berat. Beberapa hari kemudian Papa bilang "Kalau buku Theologi terbitan BPK memang bagus-bagus". Kalimat itu menjadi kalimat "bersayap" bagi saya. Bukan sekedar basa-basi. Seakan Papa berkata: Memang orang GKI bisa menjabarkan segalanya lebih runtut dan masuk akal.

Saya juga sama jengkelnya dengan mereka yang jengkel terhadap yang injili dan fundamentalis yang ngototnya tidak runtut dan "bondo ngeyel", tapi saya salut dengan gaya 'beriman'-nya mereka.

Ada juga dari mereka yang seperti Papa yang bilang "Itulah hebatnya GKI'

Saya pun menghormati "warna" Papa dengan tidak membaptis anak saya pada waktu bayi (biarlah mereka dibaptis saat mereka secara pribadi mengaku percaya).

Semoga Papa di Surga tidak jengkel dengan tulisan ini.

(kelanjutannya.....)

Melawan Pakem

Tulisan ini saya tulis sebagian di hari terakhir tahun 2009 dan baru sempat sekarang menyelesaikannya. Semoga masih bisa dinikmati.
Rasanya memang enak untuk sejenak merenung apa saja yang sudah terjadi di tahun yang akan lewat. Ada banyak hal yang kurang menggembirakan, tapi tetap masih terngiang lagu: "....hitung berkat satu-satunya, nanti engkau heran lihat jumlahnya...." Berkat yang sudah tercurah memang tetap tak tertandingi jumlahnya.
Beberapa hal yang kurang menggembirakan di Tahun ini sempat pula terpikirkan untuk dicari penyebabnya. Ada yang merupakan buah dari kesalahan dan kekurangan saya. Kalau itu, oke-lah saya maklum dan mengaku salah. Tapi apakah ini juga akibat kesengajaan yang saya buat selama ini? Paling tidak ada dua kesengajaan yang saya buat yang melawan pakem yang ada. Bila ada orang yang bertanya, "Bagaimana bisnismu?", saya menjawab, "Ya.... gini-gini aja.." Juga kalau ada yang bertanya,"Bagaimana kabarnya..?" Saya jawab,"Ya... sedih la..." Memang tidak selalu saya menjawab dengan jawaban-jawaban seperti itu, khususnya kepada orang yang tidak terlalu akrab atau pada orang yang baru saya kenal. Bagaimanapun juga saya dulu pernah disekolahkan orang tua saya dan diajari tata krama untuk menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang baik dan benar. Jawaban yang penuh dengan basa basi yang kadang basi juga.
Dua jawaban itu memang melawan pakem, terutama bagi para pengikut MLM dan agen asuransi atau positive thinker atau new age movement. Pernah ada yang memberitahu, "Daniel, apa yang diucapkan mulut itu didengar telinga dan direkam oleh otak, hati-hati dengan ucapanmu, itu bisa jadi kenyataan." Ada juga yang memberitahu saya, "Apa yang diucapkan oleh mulut kita didengar oleh Tuhan, hati-hati kalau sampai itu dikabulkan oleh Tuhan." Untuk yang terakhir ini pernah saya langsung jawab, "Bapak pasti orang yang hebat! Karena sudah mampu memperalat Tuhan untuk mengintimidasi sesama." Untuk masalah yang berhubungan dengan Tuhan, saya malah tidak pernah takut, karena Tuhan pasti tidak bodoh-bodoh amat.
Saat ini orang dilatih dan dibiasakan untuk berbicara dengan positif dan bahkan kelewat positif. Sekarang sering kita mendengar: "Halo generasi super!" "Bagaimana kabarnya? Luar biasa!" "Wah kelihatannya tambah maju ya..? Amin......!" Bahkan saya pernah ada di suatu perusahaan yang punya kebiasaan untuk selalu mengucapkan "selamat pagi". Walaupun itu sudah sore hari, tetap harus selamat pagi. Katanya itu sebagai lambang bahwa kita tetap semangat.
Memang menjengkelkan dan menggemaskan sekali rasanya kalau berhubungan dengan orang yang tidak bersemangat. Orang yang harusnya mampu melakukan sesuatu, tetapi dia ragu atau tidak percaya diri. Peluang yang adapun terlewatkan dengan sia-sia. Ini satu sisi.
Di sisi yang lain sekarang orang mulai belajar untuk bersemangat. Kita pasti bisa! Semesta mendukung, Mestakung! Memang segalanya jadi berbalik arah, semuanya jadi serba optimis dan semangat. Ada perubahan yang menyenangkan. sampai suatu saat saya menangkap nuansa yang lain. Ketika saya sudah membiasakan diri untuk selalu positif dan semangat. Saya jadi berpikir bahwa yang membuat saya berhasil adalah perilaku positif dan semangat itu. Saya lupa bahwa ada Pribadi yang "super" yang berkuasa menentukan keberhasilan saya. Ada Tuhan yang berkuasa membuat saya berhasil kalau saya semangat dan berpikir positif. Itu adalah Tuhan yang Super. Yang kelewatan adalah apabila saya berpikir bahwa kalau saya berpikir positif dan semangat maka Tuhan pun sudah tidak "Super" lagi. Tuhan sudah pasti akan membuat saya berhasil asal saya semangat dan positif. Saya mampu mengatur Tuhan asalkan saya semangat dan berpikir positif.
Saya menetapkan bahwa saya harus tetap bersemangat dan berpikir positif. Saya juga mengakui bahwa Tuhan berkuasa mengatur jalan hidup saya. Mau sukses atau gagal terserah Tuhan! Jangan pernah semangat saya ada untuk mengatur dan mendikte Tuhan. Untuk itu berani atau tidak saya mengucapkan hal-hal yang tidak positif atau negatif itu? Bukannya untuk memadamkan semangat dan kepositifan yang berkobar di hati saya. Ini cuma semacam ujian untuk memberi tempat bagi kedaulatan Tuhan di hidup saya.
Suatu saat ada teman yang bertanya, "Bagaimana bisnis bengkelmu?"
"Ya......., gini-gini aja.... ordenya gini-gini ae..."
"Dan, kalaupun bengkelmu rame, aku endak akan minta utangan sama kamu koq.....!"
"La... iya... la... Saya khan bengkel bukan Koperasi Simpan Pinjam!" Lalu kita tertawa bersama.
Pernah juga:
"Halo, bagaimana kabarmu, Dan?"
"Ya..... sedih la......!"
"Lho, kenapa koq sedih?"
"Lha, kalau aku njawab baik-baik saja, kamu khan endak bakalan nanya-nanya lagi...."
Kitapun malah bisa tertawa bersama.
(kelanjutannya.....)

16 Oktober 2009

Indah Pada Waktunya

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Ungkapan ini sudah sering saya dengar dan baca, terutama di kartu undangan pernikahan. Terlalu sering sehingga bermakna biasa-biasa saja. Siang itu, ungkapan ini punya makna yang agak lain.

Siang itu, di saat training, peserta ditugaskan untuk membaca secara bergilir materi training yang ada. Materi itu terlihat kalau disusun dari beberapa cuplikan yang diambil dari beberapa sumber. Beberapa bagian tampak sekali sistim "copy - paste"nya. Saat giliran saya, saya membaca bagian yang diambil dari suatu buku yang tulisannya cukup kecil, lebih kecil dari tulisan normal yang ada. Saya agak kelabakan, sebab koq ternyata mata saya sulit untuk membaca rangkaian kata-kata itu. Perlu sedikit waktu untuk mengatur jarak dan usaha untuk membaca rangkaian kalimat itu. Memang berhasil juga. Berhasil membaca tulisan itu, juga berhasil mengingat nilai lain dari ungkapan: Indah pada waktunya.

Indah pada waktunya, dulu memberikan kesan janji akan datangnya masa yang indah. Keindahan yang patut dinantikan karena akan datang pada suatu masa nanti. Ungkapan ini menjadi suatu pengharapan akan apa yang akan datang. Termasuk hari indah yang sangat dinantikan oleh pasangan mempelai yang akan menikah. Siang itu, kalimat itu muncul dengan nilai yang lain. Siang itu saya merasa bahwa Keindahan itu punya waktunya dan waktunya itu bisa berlalu. Membaca menjadi sesuatu yang indah bagi saya. Saya sangat menyukainya. Siang itu saya merasa bahwa keiandahan itu akan segera berlalu. Dengan semakin uzurnya usia saya, makin berkurang juga kemampuan mata saya. Akan datang masa dimana membaca sudah tidak indah lagi karena mata ini semakin rabun dekat.

Indah pada waktunya itu, tiba-tiba berarti penghargaan akan apa yang ada saat ini. Menghargai saat-saat ini yang mempunyai keindahannya. Waktu yang indah itu bisa berarti saat ini. Jadi nikmatilah dan hargailah dengan baik. Keindahan hari ini akan berakhir dan akan datang waktu dengan keindahannya yang lain. Berpengharapan akan datangnya keindahan di waktu mendatang memang benar dan positif, tapi bukan berarti bahwa kini dan saat ini tidak ada sesuatu yang indah yang harus dimanfaatkan dengan maksimal dan dihargai dengan pemanfaatan yang baik.

Indah pada waktunya, bisa berarti waktunya adalah saat ini. Jangan sia-siakan hari ini.
(kelanjutannya.....)

06 Oktober 2009

Ayo Jangan Nakal

Beberapa waktu lalu saya agak terguncang oleh berita yang saya baca di Kompas, 29 April 2009:
"......Rakyat Paraguay dibuat terpaku menyaksikan opera sabun kehidupan nyata di istana kepresidenan: tiga perempuan menyatakan Fernando Lugo, mantan uskup yang kini presiden, sebagai ayah dari anak-anak mereka dan mereka menuntut pengakuan.Lugo yang tadinya dikenal sebagai "uskup kaum miskin" itu kini dipandang sebagai seorang playboy. Dua pekan lalu, dia membuat rakyat Paraguay terperangah dengan pengakuannya bahwa dia adalah ayah seorang anak ketika dirinya masih menjadi uskup Katolik. Pengakuan Lugo terjadi setelah ibu anak itu menggugatnya.Setelah itu, dua perempuan lain juga mengklaim serupa, sementara Lugo meminta bangsanya untuk memaafkan dirinya................."
Fernando Lugo, orang yang saya kagumi, pernah dijadikan ilustrasi kotbah oleh Bu Claudia. Pernah sampai ditulis Features-nya di Kompas saat Budiman Sujatmiko (mantan PRD) mengunjunginya. Seorang presiden yang bersahaja karena status uskup yang pernah dijalaninya.
Saya teringat, beberapa saat lalu, dalam penerbangan yang berjam-jam, saya bertemu seorang teman secara kebetulan di dalam pesawat. Penerbangan itu terasa sekejab karena dia menghampiri saya dan berdiri di gang di sisi kursi dan kita mengobrol lama sekali. Topiknya: "The dark side of Men". "Nasehat" dia, "Pokoknya.... kalau ketahuan selingkuh..... harus bilang TIDAK, apapun kondisinya." Pokoknya harus ngeyel. "Lha kalau sudah kepepet?" "Harus tetap bilang TIDAK!" itu nasehatnya dan rasanya juga telah dipraktekkannya. Lugo yang Pastur itu mungkin sulit untuk mengikuti nasihat teman itu. Satu kebohongan memang akan melahirkan kebohongan-kebohongan lainnya. Untuk menyangkal apa yang dituduhkan memang butuh ketegaran hati melampaui segala akal dan bukti yang ada. Tidak setiap orang bisa melakukannya. Ini sesuai dengan nasehat: kalau mau mencebur jangan tanggung-tanggung. Kalau mau nakal ya jangan setengah-setengah. Saya sadar bahwa untuk menjadi nakal itu perlu bakat.
Apa benar bakat nakal itu dominan? Bisa jadi memang tersedia bakat untuk nakal, tapi bila kondisinya tidak mendukung mungkin bakat itu tidak akan tumbuh dan berbuah. Saat kondisi di dompet sudah ada kartu kredit dan kartu ATM yang rasa-rasanya cukup berkelimpahan, kenakalan itu mendapat angin untuk bertumbuh dan berbuah. Banyak hal yang dulu jauh dari pemikiran kini menjadi sesuatu alternatif "hobi'. Perbaikan kondisi keuangan memang membuat hidup bisa lebih baik. Bisa merasakan hidup menjadi lebih hidup. Saat banyak hal terbuka untuk dicoba dan dirasakan. Terlebih lagi bila banyak keterbatasan masa lalu menyisakan banyak keinginan terpendam. Dulu saya pingin punya kolam ikan hias, tapi waktu itu saya tidak punya uang untuk membuatnya. Sekarang kalau saya sudah punya sedikit tabungan, saya ingin sekali membuat kolam ikan itu. Itu kalau ikan hias, lha kalau yang lain? Bakat dan dana itu paduan yang serasi.
Saat hidup menjadi lebih tenang karena dukungan finansial yang semakin baik, banyak pilihan yang bisa dibuat. Pilihan itu bisa datang dan diambil karena alasan menikmati apa yang sudah didapatkan. Keinginan melakukan itu sebagai bagian menikmati apa yang sudah dijerih-lelahkan selama ini. Kalaupun itu hal yang menyerempet "bahaya", bisa jadi itu cuma dengan alasan "anggap saja kalah judi". Nilai uang untuk nakal "sedikit-sedikit" itu sudah bukan nilai yang sangat besar dibandingkan kemampuan potensial yang sudah ada di kartu kredit dan kartu ATM yang dibawa. Apalagi kalau dibandingkan dengan "kenyamanan" dan fasilitas yang "ditawarkan". "Kalau sore aku mampir ke rumahnya, kaos kakiku aja dibukakan." Oh, alangkah indahnya bila dibandingkan dengan umpamanya nada tinggi yang sehari-hari terdengar. Sudah buka sepatunya sendiri masih dimarah-marahi kalau salah meletakkan. Hahahahahaha......
Saat sedikit demi sedikit menabung. Saat saldo bertambah dengan dengan diringi rasa syukur. Saat itu setiap pertambahan diakui sebagai suatu rejeki dari yang Maha Kuasa, akhirnya sampailah pada suatu jumlah yang sudah cukup banyak saat ini. Cukup banyak untuk dikagumi dan juga cukup banyak kalau cuma dibuat main sedikit-sedikit. Sedikit itu dari nilai uangnya, tapi tidak sedkit dari sisi kualitas uangnya.
Bila hari ini saya mengingat apa yang sudah terjadi dengan Lugo, ternyata nilai yang dikorbankan itu tidak sekedar nilai yang bisa dianggap kalah judi saja. Tetap ada harga lain yang harus dibayar. Harga sebuah penyangkalan bahwa tiap berkat yang ada datangnya dari yang Maha Kasih dan Maha Kuasa. Maha Kasih karena telah dengan dengan setia memberkati setiap usaha sedikit demi sedikit dan akhirnya menjadi bukit. Maha Kuasa karena telah berkuasa menjaga dari banyak kebocoran yang mungkin bisa saja terjadi saat pengumpulan berkat itu. Berkuasa menjaga kesehatan sehingga tidak bocor sedikit demi sedikit melalui penyakit. Ada juga sisi penyangkalan nilai bahwa: Ia Maha Kasih dan Maha Kuasa. Maha Kasih karena Ia dengan kasih sanggup memukul di saat ada kenakalan. Maha Kuasa karena Ia berkuasa untuk marah dan murka tanpa ada yang mampu menghalanginya kalau ada kenakalan. Mengancam ya?
Ayo jangan nakal.
(kelanjutannya.....)

29 September 2009

Cerita tentang Info Buku

Ini cerita tentang buku yang saya info-kan beberapa waktu yang lalu, "Ilusi Negara Islam", karya Gus Dur. Beberapa hari setelah itu saya harus ke Jakarta untuk menemui pelanggan. Kita janji untuk bertemu jam 9an di Cengkareng. Saya sudah siap tiket jam enam pagi dari Surabaya. Kemudian dia memberitahu perubahan jadwal penerbangannya, dia baru akan tiba jam 11 lebih, Untuk itulah saya mencetak buku itu dan membawanya untuk mengisi waktu menunggu itu. Buku itu cukup menarik, menuturkan masalah yang dihadapi oleh NU dan Muhammadiyah dalam menghadapi rongrongan Islam Garis Keras (PKS). Hal ini mengingatkan saya dengan masalah yang pernah kita hadapi. Saat banyak orang "reform" merongrong gereja kita. Polanya ternyata sama, mungkin inilah manusia, apapun agamanya polanya juga sama. Pagi itu saya hampir menyelesaikan membaca buku itu. Yang tersisa bagian lampirannya yang memang cukup banyak.
Malam harinya, saya pulang dengan penerbangan malam. Saya berencana untuk menyelesaikan buku itu. Saya sudah minta duduk di dekat jendela darurat, ini untuk menyelamatkan kaki saya yang tersiksa kalau harus duduk di kursi biasa. Saat naik pesawat, ternyata ada masalah, saya dapat kursi satu nomer dibelakang "emergency exit". Tersiksalah saya, tapi mau apalagi. Sayapun duduk sambil membaca buku itu. Beberapa saat kemudian datanglah seorang Bapak tua duduk di sebelah saya, disebelahnya kemudian ada seorang pemuda. Saya terus membaca, tidak terlalu menghiraukan mereka. Bapak itu duduk sambil membawa buku berwarna kuning emas dengan sampul tebal, mirip Alquran. Wajahnya cukup khas, saya mencoba untuk mengingat, dimana saya pernah menemuinya. Saya ingat! Saat dia menyapa saya, saya mengatakan, "Saya dulu pernah satu pesawat dengan Bapak saat Bapak pulang dari Amerika." Saat itu saya menunggu keluarnya bagasi dan saya melihat Bapak itu disalami banyak orang, ke salah satu orang itu saya dulu pernah bertanya siapakah beliau ini. Beliau ini Kyai yang cukup terkenal, tapi saya sudah lupa siapa namanya. Bapak itu duduk sambil membaca buku yang dibawanya. Ada juga penumpang yang kemudian menyapanya dengan sebutan Gus. Mungkin Beliau memang orang yang cukup terkenal.
Bagian yang saya baca, adalah lampiran-lampiran surat-surat keputusan NU dan Muhammadiyah berkaitan dengan masalah yang dibahas. Jelas sekali di beberapa bagian ada tulisan Arabnya. Mungkin ini yang menarik perhatiannya. Pasti beliau heran, karena agak kurang "Kompatiibel" antara wajah saya dan tulisan Arab itu. "Buku apa itu?" Saya tunjukan halaman depan buku itu. "Fotokopian ya?" Nadanya agak sinis, "Bukan, ini hasil download." Dia melihat-lihat buku itu kemudian menyerahkan lagi ke saya. "kamu suka baca ya/" Saya mengangguk. "Datang saja ke rumah saya, saya punya banyak buku." Saya tersenyum. "Bapak tinggal dimana?" "Sidoarjo" "alamatnya mana?" "Semua orang di Sidoarjo tahu rumah saya." Saya senyum. "Bengkel saya di Gedangan." "Yah, orang Gedangan pasti mengenal saya." "Ok, saya akan tanya teman-teman di bengkel, tapi Bapak namanya siapa?" Dia tidak mau mengatakannya, dia menunjukkan boarding pass-nya. Saya baca nama itu. "Bapak orang yang sangat terkenal." Saya mengatakan hal itu bukan karena mengenal nama itu, tapi saya membacanya dari pencitraan yang hendak dia sampaikan ke saya selama itu. Cara ini biasanya sangat ampuh untuk memulai perbincangan dengan orang lain. "Pak, namanya saya tulis ya, sebab saya cepat lupa" Saya tulis namanya di halaman depan buku itu. Mungkin karena saya menuliskannya kurang tepat, dia mengambil buku dan bolpoin saya. Dia menuliskannya dengan ejaan lama. "Kamu datang saja ke rumah saya" Beliau mengulangi ajakannya itu. Saya mengangguk. Setelah itu saya berusaha melanjutkan membaca. Saya tidak mengajak dia bicara, karena saya juga takut mengganggunya. Penerbangan ini sudah cukup larut malam, pasti beliau letih juga, mungkin beliau ingin tidur. Saat saya membaca, dia berbincang dengan pemuda yang duduk di kanannya.
Akhirnya selesai juga saya membaca buku itu. Saya letakkan buku itu di kantong kursi di depan saya. Beberapa kali saya "dijawil"nya. Saya menoleh ke arahnya dan tersenyum. Beliau biasa-biasa saja, tanpa ekspresi apa-apa, seakan-akan dia tidak melakukan apa-apa barusan. Kemudian dia memegang tangan saya. Dia genggam lengan saya. Telapak tangannya terasa panas. Saya sempat terpikir sesuatu yang "aneh" yang bisa terjadi pada diri saya. Saya punya alasan untuk merasa takut. Saat itu saya hanya berdoa dalam hati. Saya yakin bahwa Tuhan pasti mengasihi saya. Saya mengumpamakan diri saya seperti seorang anak yang tiba-tiba berjalan menyelonong di jalan raya yang ramai. Anak itu pasti tidak tahu akan bahaya yang bisa mengancam dirinya. Orang tuanya yang pasti panik melhat hal itu. Orang tuanya yang bakal panik mencari cara untuk menyelamatkan anak itu dari bahaya yang siap mengancam, meski anak itu sendiri tidak menyadarinya. Kasih Tuhan pasti lebih besar dari kasih orang tua kita. Saya tidak berusaha melepaskan tangan Bapak itu. Saya takut menyinggung perasaannya, Kalaupun keputusan itu salah, tapi saya yakin Tuhan tahu isi hati saya dan Ia sanggup melindungi saya. Pengalaman saya beberapa kali dengan sesuatu yang "supranatural", membawa saya akan pemahaman akan penyertaan Tuhan seperti di atas. Saya bukan orang punya kemampuan melawan dan menolak kuasa itu, tapi saya yakin Tuhan mampu melindungi saya. Roh yang ada di dalam kita pasti lebih besar dari segala kuasa yang ada. Beliau melepaskan genggamannya. Beberapa saat kemudian dia memegang tangan saya lagi. saya biarkan saja.
Ketika mendarat, dia keluar duluan, sayapun tidak melihat dia, mungkin dia mengambil bagasi. Saya berjalan bersama pemuda yang duduk disebelah Bapak itu. Saya mengajaknya pulang bersama, karena memang saya memarkir mobil saya di bandara. Di perjalanan kita berbincang-bincang. Pemuda itu yang bercerita tentang bapak itu. "Beberapa kali Beliau berhasil membaca pikiran saya." "Ohya?" "Ya, pak, tadi waktu saya berdoa, dia bilang kalau saya tenang saja, karena semuanya aman. Saat saya melamun tentang hal yang negatif, beliau mengingatkan saya. beberapa kali." Mungkinkah hal itu benar? Saya tidak tahu, tapi pemuda ini bercerita dengan sungguh-sungguh tentang "kemampuan" Bapak itu.
Ketika saya sampai di rumah, saya langsung buka internet. Saya cari nama beliau. Ternyata beliau adalah pengasuh sebuah pondok pesantren yang terkenal di Sidoarjo. Dari web sitenya, saya tahu alamat Beliau. Besoknya, pagi-pagi saya menelpon rekan yang tinggal di daerah itu, menanyakan perihal Bapak itu. Ternyata Beliau memang orang yang terkenal dan sangat kaya. Banyak orang yang antri hanya untuk bersalaman dengannya. Sore harinya saya datang ke rumah Beliau. Beliau tidak ada di tempat karena mengisi Seminar di Unair. Tidak masalah bagi saya, saya hanya ingin menepati janji saya untuk datang ke rumahnya.
Kira-kira apa yang Beliau lakukan saat memegang tangan saya? Apapun juga, saya hanya berpikir, "Masak sih Tuhan tidak kasihan sama saya?"
(kelanjutannya.....)

Outliers

Ini oleh-oleh dari libur lebaran. Ada buku yang bagus isinya. Judulnya Outliers (Rahasia di Balik Sukses), Karya Malcolm Gladwell, terbitan Gramedia. Kalau mau download audiobooknya (english version) bisa di cari di 4share.com. Totalnya 200Mb, saya mendownload selama satu jam di GSG lantai dua.

Kalau melihat judulnya, kemungkinan besar saya tidak berminat dengan buku itu. Saya selalu merasa 'alergi' dengan buku yang bicara soal sukses. Alasannya, karena belum tentu penulisnya adalah orang sukses yang benar-benar sukses.  Awalnya saya saya cuma sekedar mencari audiobook untuk latihan bahasa inggris. Setelah berhari-hari saya dengarkan, ada beberapa kata kunci yang sulit saya tangkap. Setelah bolak-balik buka kamus, masih juga belum ketemu juga. Bisa jadi karena telinga yang dibesarkan dengan nasi pecel ini sulit menangkap suara yang dihasilkan karena energi dari burger dan steak. Saya cari PDF-nya, tapi waktu itu belum ada yang upload, maka terpaksa saya beli buku edisi bahasa Indonesianya. Saya baca, ternyata menarik dan lebih menarik dari audiobooknya. Lha, saya yang tidak terlatih mendengar bahasa Inggris itu. Buku ini tidak berisi ulasan penulis tentang rahasia kesuksesan. Penulisnya hanya menarik beberapa benang merah dari beberapa orang-orang yang dianggap sukses.

Yang menarik adalah pendapat penulis bahwa ada faktor-faktor diluar diri para orang sukses itu yang menjadi faktor dominan penentu kesuksesannya.
 Para orang sukses di bidang komputer, Bill Gates (Microsoft) lahir tahun 1955, Paul Allen (Microsoft) lahir tahun 1953, Steve Balmer (microsoft) lahir tahun 1955, Steve Jobs (Apple) lahir tahun 1955, Erick Schmidt (Novell) lahir tahun 1955,  Bill Joys (Sun Microsystems) lahir tahun 1955. Mereka mendapat keberuntungan karena lahir di tahun-tahun itu sehingga mereka mampu mengambil peluang di pertumbuhan PC (personal Computer) di pertengahan tahun 70an. Sebagian besar orang yang masuk daftar terkaya di USA dilahirkan di tahun 1830an. Mereka itu : John D. Rockefeller, Andrew Carnagie, Frederick Weyerhaeuser, Jay gould, JP Morgan dll. Mereka ini mendapat keuntungan masuk dengan usia yang tepat saat pertumbuhan ekonomi USA dalam kondisi sangat baik di tahun 1860 sampai 1870-an. Belum lagi para pemain hockey yang top di Canada, hampir pasti lahir di bulan Januari sampai Maret, sangat jarang yang di lahirkan di akhir tahun. Harus diakui bahwa ada faktor keberuntungan melalui tanggal kelahiran orang-orang sukses itu. Apa ini berkaitan dengan Zodiac? Bukan. karena bisa jadi kelahiran itu pas dengan sistem yang ada di masyarakat kita. Batas usia pemain Hockey di Canada diambil pada 1 Januari, jadi bila ada anak yang lahir pada tahun yang sama, anak yang lahir di tanggal 2 januari pasti akan punya tubuh yang lebih kekar dari pada anak yang lahir di akhir tahun. Tahun lahirnya sama, tapi perbedaan beberapa bulan itu yang membedakan kemampuan fisik anak-anak itu.

Yang lebih menarik lagi adalah, buku ini dibuka dengan kutipan Matius 25:29, "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi sehingga dia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun yang ada padanya akan diambil dari padanya." Di masyarakat berkembang sesuatu yang sejalan dengan prinsip itu. Orang kaya akan menikmati fasilitas pembebasan pajak yang lebih dari orang miskin, kalau di indonesia, soal subsidi BBM yang menikmati subsidi paling banyak ya... orang kaya dengan sedan bermesin besar, rakyat kecil hanya merasakan subsidi BBM lewat kendaraan umum yang berjejal-jejal. Dengan jumlah bensin yang sama, orang kaya menikmatinya karena dia naik sendirian mobilnya, tapi orang miskin harus berbagi dengan banyak orang saat ia naik kendaraan umum yang di subsidi BBMnya. Anak pandai akan masuk di sekolah bagus atau kelas akselerasi yang pelajarannya lebih diperhatikan oleh para guru. Keadaan ini makin membuat orang yang berkemampuan rendah semakin tertinggal. Penulis juga setuju dengan "Hukum 10 ribu Jam". Orang akan mencapai keahliannya karena ia berlatih selama sepuluh ribu jam. The Beatles bisa sukses di USA karena sebelumnya ia bermain musik di Hamburg selama 8 jam sehari dalam 7 hari seminggu selama beberapa tahun. Orang yang merasa mempunyai talenta akan semakin terpacu untuk berlatih dan orang yang agak kurang, cenderung menjadi lebih malas berlatih. Ketekunan dan kegigihan tetap menjadi kunci kesuksesan. Sangat berbeda dengan banyak buku yang menawarkan sukses yang diraih dengan jalan pintas.

Faktor diluar kita yang mampu mendukung kesuksesan adalah masalah budaya kita. Banyak orang yahudi di USA sukses, karena mereka lahir sebagai orang Yahudi. Mereka mendapat tekanan karena faktor kelahirannya, tetapi itu yang menjadikan mereka mampu memacu diri sehingga bisa sukses. Tapi budaya ini juga bisa menghancurkan kita. Salah satu budaya yang dibahas adalah budaya penghormatan pada kelas-kelas sosial di  masyarkat Korea dan Kolumbia. Ada dua kecelakaan pesawat terbang di Korean Air dan Avianca (columbian airlines) karena faktor budaya dimana co-pilot tidak berani mengatakan sesuatu dengan lugas kepada Pilot atau orang yang dianggap lebih tinggi status sosialnya walau dalam keadaan yang sudah sangat genting. Budaya menganggap atasan atau orang yang lebih tua lebih tahu dari kelas sosial yang lain, telah menjadi dasar pemicu kecelakaan pesawat udara itu.

Bagi yang berniat membeli buku, saya menyarankan untuk beli buku ini. Menarik dan tidak mengada-ada. Kalau yang tidak suka buku yang serius, ada buku bagus juga: Benny dan Mice: Lost In Bali 1 dan 2! Buku kartun tapi guyonannya kreatif.

(kelanjutannya.....)

26 September 2009

Berenang di Tatami

Tatami adalah sejenis tikar khas Jepang. Ungkapan judul diatas, saya dapatkan di sessi terakhir training yang saya ikuti. Ada pengajaran, ada studi kasus dan diskusi serta presentasi. Training ini adalah sebagian dari rangkaian training yang diadakan di Jakarta dan Surabaya, untuk mengikutinya kita harus lulus tes penempatan dan setelah training kita harus ikut ujian untuk mendapatkan  sertifikat dari JETRO. Japan External Trading Organisation. Trainingnya gratis karena dibiayai oleh JETRO, ini bagian dari kompensasi perjanjian dua negara, IJEPA (Indonesian Japan Economic Partnership Agreement), kompensasi dari banyak kemudahan yang diterima oleh Jepang dari Indonesia, termasuk jaminan suplai Gas Alam. Seperti biasanya instrukturnya orang Jepang. Beliau berpesan melalui peribahasa iru. Berenang di tatami.
 
Setelah selama lima hari penuh kita belajar tentang topik training, kelihatannya kita sudah menguasai topik yang dibahas. Dari cara kita membaca topik yang harus dibaca bergilir, intrukturnya yakin bahwa pemahaman kelompok di Surabaya ini, lebih baik dari kelompok training yang sudah dipandunya di Jakarta sebelumnya. Padahal dia tidak dapat berbahasa Indonesia, dia menilai dari cara membaca dan intonasinya saja. Training itu dia akhiri dengan peribahasa itu: Berenang di Tatami. Saat kita mempelajari sesuatu, akhirnya kita merasa bisa memahami hal baru tersebut. Itu seperti kita belajar Berenang di Tatami. Berenang di atas tikar. Kita tahu urutan-urutan gerakan yang ada. Kita bisa menggerakkan tangan dan kaki kita sesuai dengan gaya berenang yang kita pelajari. Kita sudah bisa berenang, tapi Berenang di tatami. Berenang di atas tikar! Bisa jadi saat kita mencoba berenang di kolam renang atau sungai sesungguhnya, kita akan tenggelam. Pemahaman kita harus dilanjutkan dengan praktek dilapangan dan dari sanalah kita bisa mendapatkan penguasaan materi yang sesungguhnya.
 
 Berenangpun punya beberapa tingkatan, yang termudah di tatami, kemudian di kolam renang, lalu di sungai, juga ada renang dilaut lepas. Sungai dan laut pun masih ada bermacam-macam tingkat kesulitannya, mulai dari yang berarus tenang dan dangkal sampai yang dalam dan berarus deras atau bergelombang tinggi.
Mungkin sama ya dengan pemahaman iman saya. Membaca dan mendengarkan kotbah membuat saya semakin merasa serba tahu. Tapi kehidupan nyata di masyarakatlah yang menyempurnakan dan memurnikan pemahaman iman ini.
 
Semoga ini bermanfaat.
 
(kelanjutannya.....)

14 Maret 2009

Cerita tentang Penyambutan

Hari Minggu yang lalu, saya bertugas di kebaktian jam 6.00, untuk membagikan celengan dan buku renungan paskah. Karena sudah ada pembagian di minggu sebelumnya, maka tugas kemarin itu tidak terlalu sibuk. Hanya beberapa jemaat yang meminta celengan dan buku, sayapun tidak terlalu agresif karena bukunya sudah tersisa sedikit. Saya menyapa jemaat yang datang dan lewat di depan saya. Terakhir, ada seorang tante, saya tawari celengan (karena bukunya tinggal sedikit). Dia bilang kalau sudah dapat, dia lalu tanya apa bisa kalau mengisinya tidak setiap hari, tapi sekaligus nanti waktu mau diserahkan. Dia juga menyatakan ingin menyumbang mie, di benak saya Tante ini pasti senang masak dan mau menyumbang mie goreng atau masakan mie. Saya menjelaskan kalau nanti akan ada acara Unduh-Unduh dan bisa disumbangkan pada waktu itu. Dia menjawab, "Nanti saja dulu ya, soalnya saat ini jalan ke Pabrik Tante masih banjir, jadi tidak bisa ke pabrik." Saya baru sadar kalau Tante ini mau menyumbang mie produksi pabriknya.

Saya berbasa-basi menanyakan daerah pabriknya, ternyata beberapa tahun yang lalu saya pernah ke pabrik itu dan mereparasi mesinnya. Ternyata orang yang saya temui dulu itu adalah anaknya yang saat ini mengelola pabrik itu. Setelah itu, Tante ini makin semangat untuk bercerita lagi. Cerita tentang tarif becak yang 30 rb pulang pergi dari rumahnya, juga tentang almarhum suaminya, juga tentang cara anaknya yang mengelola pabrik itu. Sementara saya berbincang-bincang, memang banyak jemaat yang lewat dan datang. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan. Memutuskan pembicaraan dengan Tante ini dan mencari jemaat yang lain? Atau terus melayani perbincangan Tante ini? Saya memutuskan untuk terus melayani perbincangan itu dengan baik. Pertimbangan saya, lebih baik saya menyelesaikan satu orang ini dengan sangat baik dari pada berharap dapat meningkatkan jumlah tapi dengan kualitas yang begitu-begitu juga. Satu yang berhasil mungkin lebih baik daripada banyak yang biasa-biasa saja. Cukup lama perbincangan itu, dua orang Bapak yang bertugas penyambutan di pintu gereja malah mengingatkan Tante itu, agar segera masuk karena kebaktian akan dimulai. Saya lihat belum ada Majelis yang muncul di mimbar kecil, jadi saya teruskan saja perbincangan itu. Sampai akhirnya ada muncul majelis untuk membacakan warta lisan. Saya sarankan Tante itu untuk segera masuk ke ruang Kebaktian.

Saya juga bertugas lagi selepas kebaktian usai. Tante itu menyapa lagi saat ia berjalan pulang.

Saat itu saya juga menyapa satu Om yang saya kenal. Kita berbincang lagi, dia bercerita tentang almarhum istrinya. Rasanya masih sulit baginya untuk melupakan istri tercintanya. Ia bercerita tentang istri yang dibanggakannya kesetiaannya. Juga tentang suka dukanya saat dia merintis usahanya dulu. Senang sekali bisa mendengar ceritanya, apalagi saat dia bilang,"Makanya kita itu harus selalu ingat sama Tuhan." "Untuk itu Om sekarang mau ikut katekisasi" Ah, jalan hidup itu yang akhirnya membawa Om itu mau mengenal Tuhannya. Di jam pulang itu, sayapun hanya bisa meladeni satu Om ini, karena saya juga harus cepat pulang untuk menjemput istri dan anak yang mau sekolah minggu jam 8.00.

Minggu ini memang loading pelayanan saya sangat tinggi, ada penyambutan, lalu beasiswa, ada outbond, ada persiapan acara panter satu, ada pertemuan dengan pendukung tayangan di TVRI. Pengalaman perbincangan di kebaktian minggu kemarin itu sangat menarik buat saya. Pasti ada banyak jemaat yang butuh teman bicara. Sekedar mendengarkan mereka bercerita mungkin bisa membuat mereka bergembira. Mungkin ini bisa membuat kita mau berbuat banyak untuk kegiatan perkunjungan dan pemerhati.

Steven Covey di 8th Habit, mengutip perkataan Mother Teresa ,"Few of us can do Great Thing, but all of us can do small thing with Great Love"





(kelanjutannya.....)

06 Maret 2009

Menciptakan Hantu



Saat ini, kita sudah siap memulai segala pelaksanaan program kerja kita. Tahun ini kita sudah punya program kerja yang akan segera kita laksanakan. Program Kerja yang sudah disahkan akhir tahun lalu, atau paling lambat awal tahun ini. Semua komisi dan panitia sudah tinggal melaksanakan semua perencanaannya. Kita memang sudah terlatih untuk membuat program kerja kita.



Beberapa jemaat dan komisi mungkin memulai tahun ini dengan was-was atau prihatin akan keadaannya yang harus memangkas banyak program karena keterbatasan dana yang ada. Ada majelis jemaat yang memberitahukan bahwa mereka akhirnya bisa mensahkan program tahun ini dengan defisit "sekian" juta Rupiah. Keadaan perekonomian global dan keadaan perekonomian nasional kita, bisa menjadi landasan kita untuk memprediksikan pemasukan kita dan dari sana kita sudah terbiasa untuk merencanakan program kita tahun ini. Suatu hal indah yang sudah pakem di tiap tahunnya.



Ada banyak kegiatan yang sudah kita tolak pencantumannya. Di awal tahun ini kita mampu membayar rasa bersalah pencoretan itu dengan pengakuan bahwa kita sudah memulai pelaksanaan program kita dengan suatu langkah iman yang besar. Rencana anggaran yang defisit "sekian juta" atau "sekian puluh juta", juga alasan krisis global. Ini semua bisa menjadi "pembenar" langkah "iman" pembuatan program kerja kita.



Sebagai gereja kita memang terpanggil untuk merencanakan tujuan kita. Kita juga terpanggil untuk realistis/membumi dengan tujuan kita. Kita terpanggil untuk "berpikir" tentang apa yang bisa kita rencanakan. Apa sajakah yang sudah kita rencanakan dengan membumi?



Banyak gereja hanya berkonsentrasi pada pelayanan, pada apa yang akan mereka kerjakan. Sesuatu yang membutuhkan dana. Mereka sering melupakan apa yang dapat mereka hasilkan (dana yang dapat dihimpun). Gereja memang bukan organisasi yang bertujuan menghimpun keuntungan finansial. Kita adalah organisasi nirlaba. Kesadaran ini pada awalnya baik adanya, tetapi kesadaran ini banyak membawa kita untuk menyiksa diri dengan melupakan bagaimana kita harus merencanakan pemasukan kita. Di satu sisi kita sadar akan kebutuhan kita akan dana, di sisi yang lain kita sering lupa merencanakan bagaimana kita harus secara aktif menghimpun dana itu.



Ketabuan kita untuk merencanakan pemasukan kita seiring dengan kesadaran bahwa gereja adalah nirlaba (tidak mengejar keuntungan keuangan semata), sering menyiksa kita sendiri. Kita hanya berani bertindak dengan membuat prediksi sekian persen, sekian puluh persen peningkatan persembahan kita di tahun mendatang. Kita lebih suka menempuh jalan mengurangi pengeluaran kita, mencoret program yang diajukan oleh komisi dan panitia. Kita melupakan bahwa kita mampu merencanakan peningkatan pemasukan keuangan kita. Kita sebenarnya bisa merencanakan sesuatu untuk mengimbangi kebutuhan demi pencapaian tujuan yang selalu kita potong itu. Merencanakan langkah untuk meningkatkan pemasukan bagi pembiayaan kegiatan akan lebih baik dari pada menciptakan hantu defisit untuk kita takuti bersama. Hantu defisit yang kita hadirkan sebagai alasan untuk memotong dan menolak kegiatan kita.



Memang banyak gereja "tetangga" yang getol untuk menyuarakan persembahan dari jemaatnya dan kita merasa ingin beda dengan tabu menyuarakan itu di jemaat kita. Kita lebih suka menyiksa diri dengan memotong program dan menciptakan hantu defisit untuk kita takuti bersama. Kemampuan kita untuk menunjukkan pada jemaat bagaimana kita mengelola uang itu, adalah kunci masalah ini. Bagaimana kita bertanggung jawab untuk membuat program yang bermutu dan bukan hura-hura, akan membuat jemaat kita mampu memutuskan untuk dirinya sendiri, mau atau tidaknya ia menyumbangkan uangnya untuk program itu, untuk dipercayakan pemanfaatannya pada gereja.



Di tiap gereja kita ada amplop persembahan bulanan. Kita menyatakan bahwa kita tidak mempunyai dogma tentang persepuluhan, lalu bagaimana jemaat mengetahui apakah bedanya persembahan amplop itu dengan persembahan persepuluhan? Jangan-jangan mereka yang rajin mengisi persembahan amplop itu adalah mereka yang mempunyai konsep persepuluhan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kita kurang menjemaatkan beban pelayanan yang bisa dan harus ditanggung bersama jemaat. Maukah kita membuat rencana bagaimana kita menggali dana di tahun ini?



Marilah kita masuki tahun ini bersama Tuhan bukan bersama hantu yang kita ciptakan untuk kita takuti sendiri.



Artikel ini dimuat di Majalah Sukita, Edisi 25/TahunVIII/Februari 2009, dengan judul "Cara Menggali Dana"


(kelanjutannya.....)