24 Juni 2010
Oleh-oleh dari Medaeng
08 Mei 2010
Cerita tentang Membaca Alkitab (No.2)
Bertahun-tahun sebelumnya, kalau saya bertemu dia, saya selalu menasihati dia untuk belajar dengan keras sekali. Jangan pernah puas dengan hasil cukup bagus yang sudah diterimanya. Dia harus rangking 1, karena kalaupun dia rangking satu, itupun tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan pelajar yang dari Surabaya. Saya dulu lulus dengan NEM tertinggi di Bondowoso, tapi saat saya di ITS saya tahu bahwa itu tidak berarti apa-apa. Banyak anak yang jauh lebih tinggi nilainya dari saya. Saya tidak ingin pengalaman itu terulang di dia. Bertahun-tahun saya memompa semangatnya. Saya juga berusaha mencarikan jalan untuk dia. Beruntung adik saya tinggal di perumahan di seberang ITS, jadi kalau dia bisa masuk ITS berarti dia bisa menumpang di rumah itu dengan sangat dekat. Saya sudah minta "Tante" saya untuk menegosiasikan hal itu ke adik dan adik ipar saya. Mereka menyetujuinya. Jadi masalah utamanya adalah bagaimana agar dia diterima di ITS. Mutunya bagus, uang kuliahnya murah, kost-nya gratis.
Awal 2009 adalah puncak perjuangan itu. ITS membuka beberapa jalur pendaftaran. Semua jalur itu saya minta dia ikuti, kecuali jalur kemitraan yang kemungkinan diterimanya besar tapi harus membayar sekitar 35 juta. PMDK S1, PMDK D4 PENS, SMNPTN, Seleksi reguler D4 PENS. Semuanya itu diikutinya. Di samping itu ada juga masalah lain. Ada beberapa orang di gerejanya yang bersedia membiayai dia kalau dia mau sekolah teologia (Aleithea atau SAAT). Secara pribadi dia tidak menyukai tawaran itu. Dia suka bidang teknik. Dia ingin masuk ITS.
Dua jalur PMDK (seleksi masuk tanpa tes) itu, gagal dia tempuh. Bisa jadi juga karena SMA di Bondowoso memang tidak terlalu punya prestasi yang menonjol. Saya minta dia bersiap untuk ikut SMNPTN (dulu jaman saya namanya Sipenmaru). Dia bersiap untuk itu. Saat selesai tes, dia bilang kalau beberapa soal tidak dijawab, karena takut dipotong nilainya bila salah. Yang dia kerjakan hanya sekitar 80%. Saya agak kecewa dengan cerita itu. Sambil menunggu pengumuman SMNPTN, dia mengikuti seleksi masuk D4 Politeknik. Saat selesai tes dengan yakin dia bilang bahwa dia bisa mengerjakan semua soalnya. Saya senang dengan itu.
Dia sangat yakin bisa diterima di Politeknik, buku-bukunyapun sudah dipinjamkan ke adik kelasnya. Hingga suatu siang dia SMS saya, bahwa dia tidak diterima di tes itu. Dia kecewa berat. Dia merasa juga pasti tidak diterima di SNMPTN karena tesnya tidak sebisa tes untuk D4 itu. Dia bilang mau bekerja saja. Saat itu saya mulai merasa bakal ada masalah yang besar.
Saya mulai ketakutan. Saya merasa sudah melakukan kesalahan yang besar. Saya merasa sudah terlalu memompa semangatnya dan menggelembungkan harapannya. Saya takut bila harapan itu gagal dia capai, dia akan jatuh terhempas. Dia juga mulai tertekan, jemaat di gerejanya juga mulai menekan dengan memojokkan bahwa itu rencana Tuhan agar dia masuk sekolah teologia. Saya dalam kondisi yang takut juga. Takut akan dampak buruk itu. Ini sangat membebani pikiran saya.
Saat itu bacaan Alkitab saya sampai pada Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Kepercayaan akan janji Tuhan dan kesaksian bagaimana Tuhan memimpin Umat Israel keluar dari Mesir. Terutama kisah tentang dua orang pengintai "Kaleb dan Yosua" menginspirasi saya. Sayapun hanya bisa berdoa ," Tuhan, bolehkah saya minta mujizat itu? Karena itu bukan untuk saya." Bagaimana ya? Apa saya bisa percaya akan pimpinan Tuhan?
Keraguan itu terjawab saat suatu pagi dia menelpon sambil menangis , saya awalnya berpikir negatif tentang tangis itu. " Om, Ovi diterima." Puji Tuhan, dia diterima di ITS. Semester lalu IPnya diatas tiga dan mendapat beasiswa yang tidak dia ajukan.
Sekali lagi, bacaan Alkitab itu bisa pas di pergumulan hidup saya. Seakan ada dosis dan kurikulum yang tepat yang sudah tersedia.
Beberapa saat yang lalu di Facebook saya menulis ,"Kalau dulunya cocok, apa sekarang masih bisa cocok juga ya...?" Ada yang berpikir ini ada hubungannya dengan "pasangan hidup" saya. Hahahahaha...... Tapi sesungguhnya itu berkaitan dengan bacaan-bacaan yang saya baca urut tiap harinya ini. Kalau sudah begini apa boleh saya ragu lagi?
Cerita tentang Membaca Alkitab (No.1)
Membaca Alkitab punya banyak kisah di hidup saya. Dulu saya pernah memulainya dengan panduan buku Saat Teduh. Pernah juga Renungan Harian. Kini saya membacanya tanpa tuntunan buku apa-apa. Dibaca urut dari Kejadian hingga Wahyu lalu balik ke Kejadian lagi. Sehari satu pasal. Ini diakibatkan karena saya sering lupa atau tidak sempat beli buku-buku tuntunan itu.
Saya membacanya cuma Senin sampai Sabtu, Minggu khan sudah ke gereja. Tidak juga pasti tiap hari itu saya membacanya, banyak kali saya sulit membacanya, terutama kalau hari libur. Saya sangat menikmati kesendirian, jadi kalau banyak orang atau ada orang lain di rumah, saya malah sulit berkonsentrasi. Waktu terbaik saya adalah jam 6.30 sampai jam 7.30. Saat semua sudah berangkat dan anak buah saya belum datang. Saya bisa sendiri dan konsentrasi dengan baik. Kalau pas hari libur, maka suasana yang tidak sepi itu malah mengganggu saya. Bukan karena saya malu kalau ketahuan membaca alkitab. Dulu memang perasaan itu ada, tapi sekarang saya berani koq membaca di depan rumah. Bukan untuk pamer, tapi untuk berani mengalahkan rasa malu itu.
Membaca dengan urut memang punya masalah tersediri. Pernah terpikir, bahwa bacaan itu tidak bertema dan berkurikulum jelas. Buku panduan memang sudah ter susun dengan tema dan ide yang jelas tiap periodenya. Membaca dengan urut kadang membingungkan. Bila saat itu kita sampai di kitab Bilangan, maka yang kita baca pasti membingungkan. Hanya angka dan ukuran saja. Kadang satu pasal yang kita baca cuma berisi silsilah dan nama-nama orang saja. Kita dapat apa di hari itu? Yang ada mungkin cuma kebosanan dan ketidak-mengertian.
Saya akan bercerita tentang pengalaman saya. Saya akan menulisnya dalam dua bagian, karena ada dua pengalaman hidup tentang hal ini. Dua bukan berarti hanya ada dua cerita ini saja di hidup saya. Dua untuk menunjukkan bahwa pengalaman itu tidak satu-satunya, dan kalau sudah pernah dua maka pasti akan ada kisah-kisah berikutnya di hidup ini. Semoga ini berguna.
Tahun 2007 adalah tahun "Vivere Peri Coloso" (mengutip kata Bung Karno) di hidup saya. Tahun dimana hidup itu begitu sulit dan menekan berat. Padahal tahun 2007 itu saya masuki dengan hati yang penuh semangat dan pengharapan. Di akhir tahun 2006 saya bertemu dengan seorang tua yang kaya sekali dan dia sepakat untuk membantu memodali saya. Saya suka mencari banyak hal baru yang belum sempat banyak orang lain tahu. Saya suka mempelajarinya. Saya sempat belajar suatu teknik yang saat itu saya percaya akan "boom" di tahun-tahun mendatang. Tentunya perihal perbengkelan. Topik ini kini memang benar-benar mengisi hampir semua majalah "Metalworking". Prediksi saya kini terbukti benar. Saat itu saya benar-benar senang karena dia mau membelikan mesin apa saja yang saya butuhkan. Itu memang ditepatinya.
Tahun itu saya mencurahkan semua tenaga dan daya untuk mempersiapkan bengkel itu. Semua terkonsentrasi ke sana. Praktis saya tidak terlalu memikirkan pemasukan. Saya hidup dari tabungan dengan harapan ini akan segera tergantikan bila bengkel itu jalan. Beberapa kali saya juga ke luar negeri untuk sekedar melihat-lihat proses yang ada. Berarti ada pengeluaran ekstra untuk itu. Sekitar pertengahan tahun, bengkel itu siap jalan. Mesin utama sudah terpasang. Sayapun berencana menutup beberapa usaha saya, agar saya bisa konsentrasi di sana. Beberapa teman "kongsi" sudah saya ajak bicara perihal ini.
Order pertama sudah saya dapat, tenaga kerja sudah ada. Saya minta mereka bekerja dan saya pergi ke Jakarta untuk melihat pameran perbengkelan. Sepulang dari sana saya kaget, ternyata pekerjaan itu belum selesai dan tidak dikerjakan. Saya urus hal ini. Tenyata anak buah saya tidak boleh bekerja oleh menantu pemilik modal karena dianggap order itu terlalu murah. Saya mendiskusikan hal ini dengannya. Sejak awal saya tidak ada urusan dengan dia. Semua rencana dan kesepakatan hanya antara saya dan mertuanya. Diapun bukan menantu yang dipercaya oleh mertuanya, kalau diruang itu ada dia, mertuanya selalu memberi kode untuk ganti topik pembicaraan. Dari perbincangan dengan menantu itu, terungkap kecurigaan bahwa banyak hal yang saya selewengkan. Dia mencurigai saya menerima komisi dari pembelian mesin dan peralatan yang ada. Juga dari harga pekerjaan yang masuk saya melakukan "undervalue". Saya mempersilahkan dia memeriksa langsung ke orang-orang itu, karena semua nama dan alamat ada dengan jelas. Saya memberikan jaminan bahwa saya tidak akan melakukan hal itu. Dia tidak percaya itu. Saya sadar inilah awal malapetaka itu. Saat itu saya langsung bilang bahwa saya mengundurkan diri. Tidak ada hal yang bisa dibangun bila tidak ada rasa percaya. Dia masih mendesak dengan mempertanyakan hal saham pembagian hasil yang dijanjikan ke saya. Saya tegaskan bahwa tidak perlu memberi saya hasil apa-apa kalau saya tidak bekerja. Saya tidak menuntut apa-apa, karena saya tidak pernah berpikir mencari keuntungan sesaat. Saya bercita-cita bengkel itu akan jadi bengkel besar, bukan sekedar bengkel biasa. Hari itu saya putuskan mundur.
Masalah besar itu mulai saya hadapi. Yang terdekat adalah bagaimana saya harus menyelesaikan order yang sudah saya terima. Saya berjanji Minggu sudah akan ada yang selesai, hari itu sudah Jumat. Untung ada teman yang mau membantu lembur untuk saya. Sayapun tidak punya kendaraan untuk memindahkan material besi yang ada, hampir 2 ton. Untung ada teman yang bersedia meminjamkan pick-upnya. Saya harus bolak-balik berkali-kali karena mobil itu tidak mampu bila harus mengangkutnya sekaligus.
Saya jadi berhutang ratusan juta, karena saya yang menandatangani semua kontrak pembelian mesin dan peralatan. Saya menegosiasikan ulang dengan teman-teman suplier itu. Semua mesin itu bukan di saya. Semuanya bisa diaudit sesuai dengan tagihan yang ada. Semua barang ada di bengkel yang saya tinggalkan. Untunglah mereka masih mempercayai saya.
Tekanan itu sangat berat bagi saya. Secara mental saya sangat sakit hati atas pengkhianatan ini. Secara finansial saya juga tertekan, karena tabungan saya juga sudah habis. Kondisi saya sangat buruk. Saat itu saya punya masalah dengan order dari bengkel saya yang lain (yang untung belum saya tutup). Saya harus bernegosiasi untuk masalah itu. Saat saya bernegoisiasi saya tidak dapat melakukannya dengan baik. Seorang teman memberitahu, " Masak kamu gitu saja tidak bisa, padahal kamu pernah bisa negosiasi yang lebih berat dari itu." Ya, saya pernah bernegosiasi persuasif agar seorang pelanggan mentransfer langsung (bukan dengan LC) pembayaran yang ratusan ribu USD hari itu juga. Itu pernah berhasil. Kondisi saya memang "kusut" sekali. Secara mental saya sudah mirip kertas kusut yang rapuh. Terlalu mudah untuk robek dan hancur. Terlalu sulit bagi saya untuk bisa berpikir jernih lagi.
Saat saya mau bangkit untuk kembali menata bengkel tadinya yang hendak saya tutup, anak buah saya dibajak oleh bengkel baru itu. Saya sempat bilang ke anak- buah saya itu, "Pikirkan baik-baik, karena ini cuma cara untuk menghancurkan saya." Dari banyak sisi saya tertekan, berat sekali.
Lalu apa hubungannya dengan pembacaan Alkitab itu?
Masalah itu terjadi dipertengahan 2007. Saat itu saya sampai pada kitab Mazmur. Mazmur yang 150 pasal, berarti saya membacanya dalam kurun lima bulan di tahun 2007. Saat masalah itu ada, tiap pagi saya membaca Mazmur. Dan kata-kata yang paling banyak diulang-ulang di Mazmur adalah : ".....bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya......." Topik tentang kasih setia Tuhan ada di saat saya menghadapi masalah yang berat sekali. Aneh, koq bisa pas ya....? Apa ini kebetulan saja? (bersambung)
Usia Emas
Harga sebuah kesempurnaan
Alangkah Menjengkelkannya seorang Injili dan Fundamentalis itu
Papa saya memilih menjadi seorang yang injili dan fundamentalis walau sebenarnya dia dilahirkan dalam lingkungan GKI. Beberapa tahun silam, dalam suatu buku peringatan ulang tahun GKI, saya membaca nama Kakek saya sebagai orang yang ikut dalam GKI mula-mula di Jatim. Berarti Papa saya juga besar dalam suasana GKI.
Kegemaran Papa membaca buku rohani cukup kuat, saat pertama kali dibelinya Alkitab dengan Bahasa Indonesia Sehari-hari, semuanya habis dibacanya dalam waktu seminggu. Ada suatu masa (sekitar tiga puluh tahun silam) dimana Papa getol baca buku-buku Watchman Nee, katanya itu aliran Methodist, tapi beberapa tahun kemudian sampai akhir hayatnya buku yang banyak dibacanya adalah terbitan Kalam Hidup, Yakin, STT Jaffray dan I3 Batu. Saya jarang pernah ikut membacanya, cuma kebagian cerita dan dampak sikapnya.
Sejak Mama saya meninggal, waktu itu saya berumur 11 tahun, terpaksa saya tinggal dengan nenek dan hidup dalam lingkungan GKI, pernah ada pendetanya yang berwarna 'liberal' tapi pernah juga ada pendeta yang lulusan SAAT (sekarang jadi dosen di STT Bandung), tapi itu tidak pernah terasa bedanya karena Emak/Nenek saya selalu hormat dan nurut pada "Boksu". Sekali seminggu Papa saya datang, lalu makin lama makin jarang, sampai saya lulus SMA dan kuliah di Surabaya dan saya tinggal kembali dengan Papa. Nah, inilah mulainya rasa seperti judul di atas itu terasa.
Semangat untuk menginjili orang lain, semangat yang dilandasi bahwa tiada Nama lain yang oleh karenanya kita bisa selamat selain nama Yesus, begitu menggebu! Tiap sore diputarnya radio FEBC siaran bahasa Sunda, hanya karena tetangga sebelah itu orang Sunda yang belum "diselamatkan", saya sendiri cukup stress oleh suara radio yang cukup keras yang tidak saya mengerti itu.
Suatu saat, waktu ada kelebihan cat setelah mengecat pagar, semua pot bunga yang ada di tulisi ayat-ayat alkitab, kalau sampai ada orang yang bertanya itu apa, maka dengan hafal dan cepat Papa akan menerangkannya.
Hal ini membuat saya cukup sumpek dan bingung.
Sikap dan semangatnya sering membuat saya risih, tapi semangat itu tidak pernah membuat dia menghalangi saya untuk aktif di GKI. Suatu kali ada kegiatan besar, saya ketua panitianya, saya tidak pulang malam itu, besoknya Papa menelpon ke gereja, waktu dia tahu bahwa saya ada di gereja, Papa diam saja, pasrah pada Tuhan yang dikenalnya. Saya baru pulang di hari yang ketiga, Papa malah kelihatan sangat mendukung, dan waktu Hari H, papa datang dan mengikuti acara itu, komentarnya : Itulah hebatnya GKI!
Saya tahu, Papa juga menanggung beban masalah keluarga yang berat, tapi beban itu akhirnya terselesaikan juga, hanya karena Papa selalu mendoakannya. Semangat untuk "beriman" yang lebih dari gaya GKI-saya membawa Papa mampu mengatasi masalah keluarga saya.
Suatu hari Papa mengajak berdoa tiap pagi, saya pun menurutinya walau dengan berat hati. Salah satu pokok doanya adalah mendoakan seorang saudara "yang terhilang", cukup lama dan bertahun-tahun kita telah berpisah tanpa ada kabar berita, saya tahu Papa sangat ingin bertemu dengannya. Sampai suatu pagi Papa mendapat surat kaleng yang memberitahukan bahwa "yang terhilang itu" ada di sebuah rumah sakit di Jember. Besoknya Papa ke Jember dan memang mereka bertemu. Sebuah pertemuan yang mengesankan. Doa Papa terkabul!
Papa tidak pernah tahu siapa penulis surat itu. Bisa jadi ada seseorang yang tahu tentang pergumulan Papa dan menuliskannya untuk Papa. Atau mungkin ada seorang tukang pos yang sempat "Mi'rajd" dan membawakan surat itu langsung dari Tuhan yang tentunya isinya pasti inerrancy and infallibility. Bisa mungkin juga ada seseorang yang digerakkan oleh Roh Kudus dan menuliskan ilham itu dengan segala keterbatasannya. Saat ini surat itupun tidak diketahui keberadaannya, sehingga tidak mungkin diuji keotentikannya, Tapi sebagai sebuah surat, ia telah menyelesaikan tugasnya dengan gemilang.
Mendekati akhir hayatnya, Papa sering mengeluh tidak bisa tidur, saya cuma menghibur, dengan membelikan banyak buku-buku theologi terbitan BPK yang mungkin berat-berat. Beberapa hari kemudian Papa bilang "Kalau buku Theologi terbitan BPK memang bagus-bagus". Kalimat itu menjadi kalimat "bersayap" bagi saya. Bukan sekedar basa-basi. Seakan Papa berkata: Memang orang GKI bisa menjabarkan segalanya lebih runtut dan masuk akal.
Saya juga sama jengkelnya dengan mereka yang jengkel terhadap yang injili dan fundamentalis yang ngototnya tidak runtut dan "bondo ngeyel", tapi saya salut dengan gaya 'beriman'-nya mereka.
Ada juga dari mereka yang seperti Papa yang bilang "Itulah hebatnya GKI'
Saya pun menghormati "warna" Papa dengan tidak membaptis anak saya pada waktu bayi (biarlah mereka dibaptis saat mereka secara pribadi mengaku percaya).
Semoga Papa di Surga tidak jengkel dengan tulisan ini.
Melawan Pakem
16 Oktober 2009
Indah Pada Waktunya
Siang itu, di saat training, peserta ditugaskan untuk membaca secara bergilir materi training yang ada. Materi itu terlihat kalau disusun dari beberapa cuplikan yang diambil dari beberapa sumber. Beberapa bagian tampak sekali sistim "copy - paste"nya. Saat giliran saya, saya membaca bagian yang diambil dari suatu buku yang tulisannya cukup kecil, lebih kecil dari tulisan normal yang ada. Saya agak kelabakan, sebab koq ternyata mata saya sulit untuk membaca rangkaian kata-kata itu. Perlu sedikit waktu untuk mengatur jarak dan usaha untuk membaca rangkaian kalimat itu. Memang berhasil juga. Berhasil membaca tulisan itu, juga berhasil mengingat nilai lain dari ungkapan: Indah pada waktunya.
Indah pada waktunya, dulu memberikan kesan janji akan datangnya masa yang indah. Keindahan yang patut dinantikan karena akan datang pada suatu masa nanti. Ungkapan ini menjadi suatu pengharapan akan apa yang akan datang. Termasuk hari indah yang sangat dinantikan oleh pasangan mempelai yang akan menikah. Siang itu, kalimat itu muncul dengan nilai yang lain. Siang itu saya merasa bahwa Keindahan itu punya waktunya dan waktunya itu bisa berlalu. Membaca menjadi sesuatu yang indah bagi saya. Saya sangat menyukainya. Siang itu saya merasa bahwa keiandahan itu akan segera berlalu. Dengan semakin uzurnya usia saya, makin berkurang juga kemampuan mata saya. Akan datang masa dimana membaca sudah tidak indah lagi karena mata ini semakin rabun dekat.
Indah pada waktunya itu, tiba-tiba berarti penghargaan akan apa yang ada saat ini. Menghargai saat-saat ini yang mempunyai keindahannya. Waktu yang indah itu bisa berarti saat ini. Jadi nikmatilah dan hargailah dengan baik. Keindahan hari ini akan berakhir dan akan datang waktu dengan keindahannya yang lain. Berpengharapan akan datangnya keindahan di waktu mendatang memang benar dan positif, tapi bukan berarti bahwa kini dan saat ini tidak ada sesuatu yang indah yang harus dimanfaatkan dengan maksimal dan dihargai dengan pemanfaatan yang baik.
Indah pada waktunya, bisa berarti waktunya adalah saat ini. Jangan sia-siakan hari ini. (kelanjutannya.....)
06 Oktober 2009
Ayo Jangan Nakal
29 September 2009
Cerita tentang Info Buku
Outliers
Kalau melihat judulnya, kemungkinan besar saya tidak berminat dengan buku itu. Saya selalu merasa 'alergi' dengan buku yang bicara soal sukses. Alasannya, karena belum tentu penulisnya adalah orang sukses yang benar-benar sukses. Awalnya saya saya cuma sekedar mencari audiobook untuk latihan bahasa inggris. Setelah berhari-hari saya dengarkan, ada beberapa kata kunci yang sulit saya tangkap. Setelah bolak-balik buka kamus, masih juga belum ketemu juga. Bisa jadi karena telinga yang dibesarkan dengan nasi pecel ini sulit menangkap suara yang dihasilkan karena energi dari burger dan steak. Saya cari PDF-nya, tapi waktu itu belum ada yang upload, maka terpaksa saya beli buku edisi bahasa Indonesianya. Saya baca, ternyata menarik dan lebih menarik dari audiobooknya. Lha, saya yang tidak terlatih mendengar bahasa Inggris itu. Buku ini tidak berisi ulasan penulis tentang rahasia kesuksesan. Penulisnya hanya menarik beberapa benang merah dari beberapa orang-orang yang dianggap sukses.
Yang menarik adalah pendapat penulis bahwa ada faktor-faktor diluar diri para orang sukses itu yang menjadi faktor dominan penentu kesuksesannya.
Para orang sukses di bidang komputer, Bill Gates (Microsoft) lahir tahun 1955, Paul Allen (Microsoft) lahir tahun 1953, Steve Balmer (microsoft) lahir tahun 1955, Steve Jobs (Apple) lahir tahun 1955, Erick Schmidt (Novell) lahir tahun 1955, Bill Joys (Sun Microsystems) lahir tahun 1955. Mereka mendapat keberuntungan karena lahir di tahun-tahun itu sehingga mereka mampu mengambil peluang di pertumbuhan PC (personal Computer) di pertengahan tahun 70an. Sebagian besar orang yang masuk daftar terkaya di USA dilahirkan di tahun 1830an. Mereka itu : John D. Rockefeller, Andrew Carnagie, Frederick Weyerhaeuser, Jay gould, JP Morgan dll. Mereka ini mendapat keuntungan masuk dengan usia yang tepat saat pertumbuhan ekonomi USA dalam kondisi sangat baik di tahun 1860 sampai 1870-an. Belum lagi para pemain hockey yang top di Canada, hampir pasti lahir di bulan Januari sampai Maret, sangat jarang yang di lahirkan di akhir tahun. Harus diakui bahwa ada faktor keberuntungan melalui tanggal kelahiran orang-orang sukses itu. Apa ini berkaitan dengan Zodiac? Bukan. karena bisa jadi kelahiran itu pas dengan sistem yang ada di masyarakat kita. Batas usia pemain Hockey di Canada diambil pada 1 Januari, jadi bila ada anak yang lahir pada tahun yang sama, anak yang lahir di tanggal 2 januari pasti akan punya tubuh yang lebih kekar dari pada anak yang lahir di akhir tahun. Tahun lahirnya sama, tapi perbedaan beberapa bulan itu yang membedakan kemampuan fisik anak-anak itu.
Yang lebih menarik lagi adalah, buku ini dibuka dengan kutipan Matius 25:29, "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi sehingga dia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun yang ada padanya akan diambil dari padanya." Di masyarakat berkembang sesuatu yang sejalan dengan prinsip itu. Orang kaya akan menikmati fasilitas pembebasan pajak yang lebih dari orang miskin, kalau di indonesia, soal subsidi BBM yang menikmati subsidi paling banyak ya... orang kaya dengan sedan bermesin besar, rakyat kecil hanya merasakan subsidi BBM lewat kendaraan umum yang berjejal-jejal. Dengan jumlah bensin yang sama, orang kaya menikmatinya karena dia naik sendirian mobilnya, tapi orang miskin harus berbagi dengan banyak orang saat ia naik kendaraan umum yang di subsidi BBMnya. Anak pandai akan masuk di sekolah bagus atau kelas akselerasi yang pelajarannya lebih diperhatikan oleh para guru. Keadaan ini makin membuat orang yang berkemampuan rendah semakin tertinggal. Penulis juga setuju dengan "Hukum 10 ribu Jam". Orang akan mencapai keahliannya karena ia berlatih selama sepuluh ribu jam. The Beatles bisa sukses di USA karena sebelumnya ia bermain musik di Hamburg selama 8 jam sehari dalam 7 hari seminggu selama beberapa tahun. Orang yang merasa mempunyai talenta akan semakin terpacu untuk berlatih dan orang yang agak kurang, cenderung menjadi lebih malas berlatih. Ketekunan dan kegigihan tetap menjadi kunci kesuksesan. Sangat berbeda dengan banyak buku yang menawarkan sukses yang diraih dengan jalan pintas.
Faktor diluar kita yang mampu mendukung kesuksesan adalah masalah budaya kita. Banyak orang yahudi di USA sukses, karena mereka lahir sebagai orang Yahudi. Mereka mendapat tekanan karena faktor kelahirannya, tetapi itu yang menjadikan mereka mampu memacu diri sehingga bisa sukses. Tapi budaya ini juga bisa menghancurkan kita. Salah satu budaya yang dibahas adalah budaya penghormatan pada kelas-kelas sosial di masyarkat Korea dan Kolumbia. Ada dua kecelakaan pesawat terbang di Korean Air dan Avianca (columbian airlines) karena faktor budaya dimana co-pilot tidak berani mengatakan sesuatu dengan lugas kepada Pilot atau orang yang dianggap lebih tinggi status sosialnya walau dalam keadaan yang sudah sangat genting. Budaya menganggap atasan atau orang yang lebih tua lebih tahu dari kelas sosial yang lain, telah menjadi dasar pemicu kecelakaan pesawat udara itu.
Bagi yang berniat membeli buku, saya menyarankan untuk beli buku ini. Menarik dan tidak mengada-ada. Kalau yang tidak suka buku yang serius, ada buku bagus juga: Benny dan Mice: Lost In Bali 1 dan 2! Buku kartun tapi guyonannya kreatif.
26 September 2009
Berenang di Tatami
14 Maret 2009
Cerita tentang Penyambutan
Saya berbasa-basi menanyakan daerah pabriknya, ternyata beberapa tahun yang lalu saya pernah ke pabrik itu dan mereparasi mesinnya. Ternyata orang yang saya temui dulu itu adalah anaknya yang saat ini mengelola pabrik itu. Setelah itu, Tante ini makin semangat untuk bercerita lagi. Cerita tentang tarif becak yang 30 rb pulang pergi dari rumahnya, juga tentang almarhum suaminya, juga tentang cara anaknya yang mengelola pabrik itu. Sementara saya berbincang-bincang, memang banyak jemaat yang lewat dan datang. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan. Memutuskan pembicaraan dengan Tante ini dan mencari jemaat yang lain? Atau terus melayani perbincangan Tante ini? Saya memutuskan untuk terus melayani perbincangan itu dengan baik. Pertimbangan saya, lebih baik saya menyelesaikan satu orang ini dengan sangat baik dari pada berharap dapat meningkatkan jumlah tapi dengan kualitas yang begitu-begitu juga. Satu yang berhasil mungkin lebih baik daripada banyak yang biasa-biasa saja. Cukup lama perbincangan itu, dua orang Bapak yang bertugas penyambutan di pintu gereja malah mengingatkan Tante itu, agar segera masuk karena kebaktian akan dimulai. Saya lihat belum ada Majelis yang muncul di mimbar kecil, jadi saya teruskan saja perbincangan itu. Sampai akhirnya ada muncul majelis untuk membacakan warta lisan. Saya sarankan Tante itu untuk segera masuk ke ruang Kebaktian.
Saya juga bertugas lagi selepas kebaktian usai. Tante itu menyapa lagi saat ia berjalan pulang.
Saat itu saya juga menyapa satu Om yang saya kenal. Kita berbincang lagi, dia bercerita tentang almarhum istrinya. Rasanya masih sulit baginya untuk melupakan istri tercintanya. Ia bercerita tentang istri yang dibanggakannya kesetiaannya. Juga tentang suka dukanya saat dia merintis usahanya dulu. Senang sekali bisa mendengar ceritanya, apalagi saat dia bilang,"Makanya kita itu harus selalu ingat sama Tuhan." "Untuk itu Om sekarang mau ikut katekisasi" Ah, jalan hidup itu yang akhirnya membawa Om itu mau mengenal Tuhannya. Di jam pulang itu, sayapun hanya bisa meladeni satu Om ini, karena saya juga harus cepat pulang untuk menjemput istri dan anak yang mau sekolah minggu jam 8.00.
Minggu ini memang loading pelayanan saya sangat tinggi, ada penyambutan, lalu beasiswa, ada outbond, ada persiapan acara panter satu, ada pertemuan dengan pendukung tayangan di TVRI. Pengalaman perbincangan di kebaktian minggu kemarin itu sangat menarik buat saya. Pasti ada banyak jemaat yang butuh teman bicara. Sekedar mendengarkan mereka bercerita mungkin bisa membuat mereka bergembira. Mungkin ini bisa membuat kita mau berbuat banyak untuk kegiatan perkunjungan dan pemerhati.
Steven Covey di 8th Habit, mengutip perkataan Mother Teresa ,"Few of us can do Great Thing, but all of us can do small thing with Great Love"
(kelanjutannya.....)
06 Maret 2009
Menciptakan Hantu
Saat ini, kita sudah siap memulai segala pelaksanaan program kerja kita. Tahun ini kita sudah punya program kerja yang akan segera kita laksanakan. Program Kerja yang sudah disahkan akhir tahun lalu, atau paling lambat awal tahun ini. Semua komisi dan panitia sudah tinggal melaksanakan semua perencanaannya. Kita memang sudah terlatih untuk membuat program kerja kita.
Beberapa jemaat dan komisi mungkin memulai tahun ini dengan was-was atau prihatin akan keadaannya yang harus memangkas banyak program karena keterbatasan dana yang ada. Ada majelis jemaat yang memberitahukan bahwa mereka akhirnya bisa mensahkan program tahun ini dengan defisit "sekian" juta Rupiah. Keadaan perekonomian global dan keadaan perekonomian nasional kita, bisa menjadi landasan kita untuk memprediksikan pemasukan kita dan dari sana kita sudah terbiasa untuk merencanakan program kita tahun ini. Suatu hal indah yang sudah pakem di tiap tahunnya.
Ada banyak kegiatan yang sudah kita tolak pencantumannya. Di awal tahun ini kita mampu membayar rasa bersalah pencoretan itu dengan pengakuan bahwa kita sudah memulai pelaksanaan program kita dengan suatu langkah iman yang besar. Rencana anggaran yang defisit "sekian juta" atau "sekian puluh juta", juga alasan krisis global. Ini semua bisa menjadi "pembenar" langkah "iman" pembuatan program kerja kita.
Sebagai gereja kita memang terpanggil untuk merencanakan tujuan kita. Kita juga terpanggil untuk realistis/membumi dengan tujuan kita. Kita terpanggil untuk "berpikir" tentang apa yang bisa kita rencanakan. Apa sajakah yang sudah kita rencanakan dengan membumi?
Banyak gereja hanya berkonsentrasi pada pelayanan, pada apa yang akan mereka kerjakan. Sesuatu yang membutuhkan dana. Mereka sering melupakan apa yang dapat mereka hasilkan (dana yang dapat dihimpun). Gereja memang bukan organisasi yang bertujuan menghimpun keuntungan finansial. Kita adalah organisasi nirlaba. Kesadaran ini pada awalnya baik adanya, tetapi kesadaran ini banyak membawa kita untuk menyiksa diri dengan melupakan bagaimana kita harus merencanakan pemasukan kita. Di satu sisi kita sadar akan kebutuhan kita akan dana, di sisi yang lain kita sering lupa merencanakan bagaimana kita harus secara aktif menghimpun dana itu.
Ketabuan kita untuk merencanakan pemasukan kita seiring dengan kesadaran bahwa gereja adalah nirlaba (tidak mengejar keuntungan keuangan semata), sering menyiksa kita sendiri. Kita hanya berani bertindak dengan membuat prediksi sekian persen, sekian puluh persen peningkatan persembahan kita di tahun mendatang. Kita lebih suka menempuh jalan mengurangi pengeluaran kita, mencoret program yang diajukan oleh komisi dan panitia. Kita melupakan bahwa kita mampu merencanakan peningkatan pemasukan keuangan kita. Kita sebenarnya bisa merencanakan sesuatu untuk mengimbangi kebutuhan demi pencapaian tujuan yang selalu kita potong itu. Merencanakan langkah untuk meningkatkan pemasukan bagi pembiayaan kegiatan akan lebih baik dari pada menciptakan hantu defisit untuk kita takuti bersama. Hantu defisit yang kita hadirkan sebagai alasan untuk memotong dan menolak kegiatan kita.
Memang banyak gereja "tetangga" yang getol untuk menyuarakan persembahan dari jemaatnya dan kita merasa ingin beda dengan tabu menyuarakan itu di jemaat kita. Kita lebih suka menyiksa diri dengan memotong program dan menciptakan hantu defisit untuk kita takuti bersama. Kemampuan kita untuk menunjukkan pada jemaat bagaimana kita mengelola uang itu, adalah kunci masalah ini. Bagaimana kita bertanggung jawab untuk membuat program yang bermutu dan bukan hura-hura, akan membuat jemaat kita mampu memutuskan untuk dirinya sendiri, mau atau tidaknya ia menyumbangkan uangnya untuk program itu, untuk dipercayakan pemanfaatannya pada gereja.
Di tiap gereja kita ada amplop persembahan bulanan. Kita menyatakan bahwa kita tidak mempunyai dogma tentang persepuluhan, lalu bagaimana jemaat mengetahui apakah bedanya persembahan amplop itu dengan persembahan persepuluhan? Jangan-jangan mereka yang rajin mengisi persembahan amplop itu adalah mereka yang mempunyai konsep persepuluhan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kita kurang menjemaatkan beban pelayanan yang bisa dan harus ditanggung bersama jemaat. Maukah kita membuat rencana bagaimana kita menggali dana di tahun ini?
Marilah kita masuki tahun ini bersama Tuhan bukan bersama hantu yang kita ciptakan untuk kita takuti sendiri.
Artikel ini dimuat di Majalah Sukita, Edisi 25/TahunVIII/Februari 2009, dengan judul "Cara Menggali Dana"
(kelanjutannya.....)