14 Agustus 2011

Pendeta juga Manusia

Tanggal 9-11 Agustus 2011 kemarin, ada Konven Pendeta GKI di Hotel Purnama, Batu. Temanya: "Kita Punya Sahabat". Ini sedikit cerita yang mungkin bisa jadi oleh-oleh dari sana.

Acara Konven Pendeta meninggalkan banyak kisah yang menarik tentang kehidupan seputar pendeta. Pendeta juga manusia yang bisa salah dan bisa benar, bisa baik dan bisa menjengkelkan juga. Kisah menarik yang ada di seputaran konven ini semoga bisa bercerita tentang hal ini. Pendeta juga manusia.

Profesi pendeta tidak selamanya membuat pendeta menjadi sosok serius dan dingin. Sekelompok pendeta bisa punya rasa humor yang tinggi dan kreatif, mereka bisa menghadirkan tawa yang terus berderai saat mereka tampil dalam acara Ludruk Seduluran. Mereka hanya berlatih sekali di sore hari saat peserta lain beristirahat setelah tiba di Hotel. Semua bisa tertawa renyah dan gembira. Penampilan mereka diakhiri dengan pengundian hadiah sebuah Laptop. Undian yang diambil oleh pemain gamelan membuat seorang pendeta dari sebuah kota kecil beruntung mendapatkan laptop itu. Dengan spontanitas dan suasana humor seorang pemain Ludruk menyerahkan Laptop itu dengan celetukan kata "Pendeta Duafa". Gara-gara celetukan itu, malam hari itu panitia memanen protes dari beberapa peserta. Kreatifitas ternyata juga bisa berdampak kebablasan juga.

Pendeta GKI juga bagai suluh dalam kedisiplinan. Kebaktian kita yang teratur. Jam kebaktian yang selalu tepat waktu. Peyusunan program tahunan yang detail. Ketaatan pada Tata Gereja. Semua itu menjadikan sosok pendeta sebagai sosok penuh kedisiplinan. Di hari kedua panitia mengalami masalah dengan bus yang tidak datang. Bus yang seharusnya datang di Hotel Purnama, ternyata datang di GKI Diponegoro. Mereka salah melihat jadwal. Jadilah panitia harus berimprovisasi dengan armada yang ada untuk mengantar para peserta menuju 9 lokasi Sambang Dulur. Dengan kondisi darurat itu, ternyata ada juga bis yang tidak kunjung berangkat, padahal jadwalnya sudah terlambat sekitar satu jam. Bis itu harus menunggu satu orang pendeta yang belum naik dan tidak tahu dimana keberadaannya. Akhirnya sang pendeta datang juga dengan berlenggang kangkung dan tidak ada ketergesaan dan biasa saja. Betapa menggemaskannya.

Saat pendaftaran peserta, para pendeta sudah ditanya soal kebutuhan pengantaran ke tempat pemberangkatan saat mereka akan kembali ke kota masing-masing. Ternyata hanya beberapa orang saja yang menyatakan membutuhkan bantuan pengantaran ke Bandara Abdurahman Saleh, Bandara Juanda maupun stasiun kereta api. Dihari kedua, ternyata jumlahnya meledak. Dari delapan orang yang terdaftar untuk diantar ke Bandara Abdurahman Saleh meledak menjadi delapan puluh orang. Seksi Transportasi kelabakan. Belum lagi ada yang minta dengan jadwal khusus. Jam sembilan pagi dari hotel, jam sepuluh, jam sebelas.... macam-macam lah. Saat ada pendeta bertanya,"Pak, apa besok bisa mengantar ke Bandara Juanda Jam 9 pagi?" Setahu saya jadwal itu tidak ada, saya menjawab," Tidak bisa, Bu!" "Lho, jangan menjawab tidak bisa Pak. Ya harus diusahakan!" Saya senyum saja, memang saya tidak seharusnya langsung menjawab begitu. Tapi apakah Beliau sadar bahwa Beliau juga tidak boleh bilang tidak bisa saat mengisi jadwal pulangnya waktu pendaftaran dulu? Tidakkah mereka sadar bahwa tidaklah mudah mengurus transportasi dengan batas waktu yang sudah mendesak itu?

Di hari kedua peserta diajak untuk rekreasi ke Jatim Park 2. Selepas acara Sambang Dulur mereka makan siang dan bersiap untuk masuk ke areal Jatim Park 2. Panitia sudah menyiapkan tanda masuk yang berupa gelang. Beberapa peserta mengurungkan niatnya setelah tahu bahwa harus berjalan kaki cukup jauh di dalam areal Secret Zoo maupun Museum. Beberapa peserta mau langsung balik ke hotel saja. Tidak ada masalah dengan keputusan itu. Hanya saja ada peserta yang langsung membuang tanda masuk itu. Tidak tahukan mereka bahwa tanda masuk itu tidak murah? Harga gelang kertas itu Rp. 50.000,oo. Tidakkah mereka bisa merasa sayang dan mengembalikan agar bisa digunakan oleh orang lain? Bisa jadi kelelahan memang meniadakan kepekaan akan hal ini. Semoga di ladang pelayanan yang sebenarnya, saat mereka lelah mereka tidak kehilangan kepekaan akan nilai-nilai lainnya.

Saat bergaul dengan para Pendeta itu, saya juga bisa merasakan bagaimana mereka juga pernah di"zalimi" oleh jemaatnya juga. Ada pendeta yang bernostalgia tentang temannya yang pernah dihalangi proses kependetaanya karena ada jemaat yang menulis surat keberatan. Alasannya, karena Beliau dulu pernah mau membunuh kucing. Pendeta yang bersangkutan lalu menyambung," Iya, jemaat itu bilang, lha wong sopir aja kalau ada kucing menghindar. Eh, ini koq ada pendeta malah mau mbunuh kucing" Saat itu saya langsung teringat anekdot tentang sopir yang lebih mampu membuat orang lain berdoa dibandingkan pendeta. Ya, karena sopir itu sering menyetir dengan ugal-ugalan sehingga selalu membuat penumpangnya berdoa. Ada juga kisah menyentuh perihal ketaatan pendeta dan keluarganya dalam menjalani panggilan pelayanannya. Ketaatan di dalam kondisi yang serba minim, yang memaksanya harus berpakaian dalam dengan bahan kain bekas kantong tepung terigu.

Di Jatim Pak 2, siang itu ada seorang pendeta yang menyapa, "Anda menantunya Pak Harry ya?" Saya heran. Saya merasa tidak kenal wajah itu. "Saya pernah melayani di Bondowoso" Saya melirik tanda pengenalnya. "Ya, saya ingat Bapak!" "Pak Yahya! Bapak di Bondowoso tahun 79 atau 80an" Saat itu saya masih anak-anak. Saya ingat beliau karena dulu beliau kalau ke rumah saya mengendarai sepeda motor "Magnet" warna abu-abu. Itu benar-benar sepeda motor dengan arti harafiah. Bentuknya mirip sepeda dan bermotor. Ada pedalnya dan untuk mengerem caranya dengan menggenjot pedalnya ke arah belakang. Tahun itu sebenarnya sudah ada sepeda motor yang lebih modern, Yamaha bebek Autolube. Beliau sangat bersahaja dalam pelayanannya dulu. Itulah yang membuat saya ingat akan Beliau.

Semua rasa sudah berpadu dalam konven itu. Banyak cerita suka dan duka terjadi. Ada pendeta yang kehilangan tas, ada juga yang kehilangan kamera. Tapi yang jelas tidak ada yang kehilangan semangat untuk tetap terus bertumbuh dan melayani. Itu karena Pendeta juga manusia dan KITA PUNYA SAHABAT.

(kelanjutannya.....)

26 Juli 2011

Melihat Melalui Angka

Beberapa saat yang lalu, saya kembali sibuk dengan training dari JETRO (Japan External Trade Organization). Kali ini saya ditawari sebagai salah satu Sub-Instruktur, karena saya telah lulus ujian sertifikasinya tahun yang lalu.. Saya senang saja, sebab saya pikir ini kesempatan untuk belajar dan pasti tidak terlalu sulit, namanya juga Sub-Instruktur, paling cuma bantu-bantu saja. Pembicara utamanya pasti seorang senior expert dari Jepang dan dibantu oleh seorang penerjemah.
 
Pada hari pertama sang expert hanya membuka dengan perkenalan dan kemudian meminta rekan saya untuk mulai mengajar, saya dijadwalkan untuk hari ketiga dan keempat.namun, pada sesi kedua hari itu saya sudah diminta untuk mengajar. Bisa jadi karena rekan saya tadi dianggap kurang bisa mengajar dengan baik. Saya kaget dengan kondisi itu. Saya merasa jengkel dengan keadaan ini. Saya merasa dikerjai oleh expert dari Jepang itu. Saya pernah mendengar tentang honornya yang tidak murah. Beliau seorang senior, biaya mereka ke Indonesia saja sudah tidak murah, belum lagi akomodasi dan fasilitas yang disediakan. Mereka yang terima honor koq malah saya yang disuruh mengajar. Bukannya saya malas untuk mengajar, tapi saya sudah punya prasangka negatif tentang mereka. Kadang saya merasa bahwa mereka itu sekedar bagi-bagi sertifikat, tanpa benar-benar memperhatikan kualitas pengajaran mereka dan orang-orang kita sudah diperdaya. Mungkin inilah bentuk penjajah yang baru. Saya merasa galau dengan kondisi ini. Saya merasa instruktur itu mau menangnya sendiri. Dia makan gaji buta. Itu yang ada dibenak saya. Beliau tidak bisa berbahasa Indonesia, bagaimana beliau bisa mengontrol materi yang saya ajarkan?
 
Perasaan itu cuma bisa timbul dibenak saja, tetapi saya sendiri tetap harus bisa mengajar dengan baik, karena paling tidak saya harus menjaga nama baik saya pribadi. Apalagi para pesertanya dari beberapa perusahaan besar, juga beberapa orang dari ATMI Solo, sekolah yang sangat terkenal dalam hal perbengkelan. Ada juga dari UK Petra. Rasanya saya bukan apa-apa bila dibandingkan mereka. Jadi saya merasa jangan sampai memalukan.
 
Materi pelatihan itu adalah sistem manajemen berdasarkan prinsip 5 S. Suatu prinsip yang banyak diterapkan oleh banyak perusahaan di Indonesia dengan mengadopsi sikap dan nilai budaya Jepang. 5 S itu seiri (pemilahan), seiton (penataan), seiso (pembersihan), seiketsu (pemantapan) dan. shitsuke (pembiasaan). Dengan melakukan lima sikap dasar itulah sistim manajemen perusahaan dibangun.
 
Saya mengajar terus hingga semua sesi pelatihan itu selesai. Selama seminggu mulai dari jam 8.00 sampai 17.00. Kejengkelan itu tetap ada namun saya tetap menganggap ini adalah sebuah tantangan untuk bisa mengajar orang lain yang dari latar belakang perusahaan yang lebih besar dari perusahaan saya. Banyak dari mereka yang sudah menerapkan sistem 5S ini di perusahaannya. Sayapun  tetap berusaha melibatkan sang expert untuk memberikan contoh-contoh yang pasti dia banyak miliki. Saat sesi terakhir usai, sang expert mengundang saya untuk makan malam. Kejengkelan itu timbul lagi, saya merasa dikerjai dan dia cuma berbagi makan malam saja. Tapi buat apa saya marah. Malam itu kita makan malam bersama dan minum bir. Saya cuma ingat saat saya pernah di India dan seorang tuan rumah disana menjamu saya dengan  sangat baik. Saat saya tanya alasannya, dia mengatakan bahwa di budayanya seorang tamu asing itu seperti seorang dewa yang hadir untuk dilayani. Mereka harus melayani tamu asing dengan sangat baik. Yah, sayapun ingin melayani Bapak ini dengan baik.
 
Di akhir makan malam itu, Sang Expert itu meminta saya untuk hadir lagi keesokan harinya. Ah, saya tambah jengkel. Besok itu acara utamanya adalah ujian sertifikasi. Jadi pasti saya tidak ada kegiatan apa-apa lagi. Masak saya masih harus diminta untuk menjaga kelas ujian lagi? Saya tambah jengkel lagi. Tapi tidak kuasa untuk menolak hanya demi sebuah kesopanan dan keramahan. Betapa munafiknya saya, dan betapa enaknya Sang Expert ini. Makan gaji buta! Itu umpatan saya di dalam hati.
 
Besoknya, saya hadir di ujian kompetensi yang diadakan. Hanya sekedar membatu mengatur meja kursi dan membagikan soal. Ujian itu terdiri dari seratus soal benar atau salah. Bila menjawab dengan benar akan mendapat angka satu, bila tidak dijawab mendapat nilai nol, bila salah menjawab akan dikurangi satu angka. Kelihatannya mudah dan simpel, tapi kalimat-kalimatnya cukup membingungkan. Kadang kita bisa sempat berpikir apa ini yang salah terjemahannya? Tapi semuanya harus diputuskan benar atau salah. Peserta dianggap lulus bila mendapat nilai minimal 60.
 
Saya merasa dikerjai. Tapi demi kesopanan dan keramahan saya harus tetap bersikap baik. Itu perasaan saya saat ujian berlangsung.
 
Ujian usai, lembar jawaban dan soal kembali dikumpulkan. Sang Expert memeriksa jawaban itu dan memberikan penilaian. Saya dipanggil. Kita mulai berbicara perihal hasil ujian itu. Dia berbicara banyak tentang penampilan saya dalam mengajar. Dia memuji kemampuan saya menguasai kelas dan dia memberitahukan bahwa dulu saya lulus dengan nilai tertinggi, karena itu dia minta saya untuk membantunya. Tapi dia juga mengungkapkan bagian-bagian mana yang saya ajar dengan kurang menguasai. Saya kaget, bagaimana dia bisa tahu? Saya mengajar dalam bahasa Indonesia, mana dia mengerti? Dia juga mengungkapkan bahwa ada peserta yang aktif saat berdiskusi, tapi sebenarnya dia tidak menguasai bahan pembicaraan itu dengan baik. Dia mengungkapkan materi-materi yang kurang saya tekankan secara khusus walau itu sangat penting sebagai suatu teori dasar. Semua yang disampaikannya saya merasakan sebagai suatu yang benar. Saya kaget, bagaimana dia bisa tahu itu?
 
Dia kemudian membukakan hasil ujian itu. Di beberapa nomer banyak peserta yang salah menjawab, jadi dia pastikan bahwa saya salah mengajar di materi itu. Ada juga dua peserta yang tidak lulus, dan mereka berasal dari perusahaan besar yang sudah menerapkan 5S itu. Dua orang inipun selalu aktif memberikan pendapatnya bila ada diskusi. Jadi, Sang Expert menilai dua orang ini hanya pandai berbicara tapi tidak menguasai topik dengan baik. Dia juga memuji sikap seorang peserta dari UK Petra yang mendapatkan nilai tertinggi. Sikapnya dalam mengerjakan ujian sangat baik. Peserta itu tidak langsung bekerja, tapi memeriksa semua soal terlebih dahulu. Sikapnya dan hasilnya sungguh mengesankan Beliau.
 
Saya kagum, ternyata Beliau memang seorang expert yang mampu menilai dengan sangat baik. Dengan mengamati dan melihat angka dia bisa mengambil kesimpulan yang benar perihal suatu kegiatan yang tak dapat dia ikuti dengan penuh karena keterbatasan bahasa. Rasa jengkel seminggu ini sirna dan berubah dengan kekaguman akan kemampuan Beliau. Beliau mampu membaca melalui angka. Dari hasil ujian itu, dia mampu menilai apakah saya mengajar dengan baik atau tidak. Dari jawaban yang salah dia bisa menilai materi mana yang kurang saya kuasai. Dari angka dia mampu menarik suatu kesimpulan. Sayapun sadar bahwa sebenarnya hari ujian itu adalah hari ujian bagi saya, karena di hari itu Beliau menilai apakah saya sudah menyampaikan materi dengan benar atau tidak. Makanya jangan sok jengkel duluan.......
(kelanjutannya.....)

17 Juli 2011

Biasa dan Luar Biasa

Saya senang sekali di setiap kebaktian yang dipimpin Pdt Claudia, karena setelah Votum dan Salam beliau selalu menyapa jemaat dengan "apa kabar?". Beragam sambutan jemaat, ada yang menjawab, "baik", tapi ada juga yang "luar biasa..". Kalau saya mungkin, "biasa-biasa saja". Beragam pernyataan perihal kehidupan yang diungkapkan jemaat. Saya sering merasa buat apa saya melebih-lebihkan keadaan yang ada. Bagi saya itu cuma sekedar bagaimana kita meletakkan standard nilai kita. Keadaan ini bisa dianggap luar biasa, walau sebenarnya ya tiap harinya juga begini ini saja. Tapi atas nama semangat untuk berpikir positif maka kita bisa menganggapnya luar biasa agar kita tidak nampak pesimis. Ilmu NLP juga mengajarkan begitu.
 
Saat ada orang bertanya, "bagaimana bengkelmu?"
"Yah, begini-begini saja."
"Lho, masak tidak ramai?"
"Ya, kalau mau ramai nanti tiap pegawai saya suruh pukul-pukul besi, pasti jadi ramai...."
 
Minggu ini ada cerita menarik yang terjadi. Seorang teman lama menelpon. Tadinya dia bermaksud meminta saya untuk memberitahu seseorang tentang tagihan yang belum terbayar. Bukan saya yang membeli barang dari dia, tetapi seorang rekan dan meminta mengirimkannya ke tempat saya. Barang itu belum terbayar, dia sungkan untuk menagihnya, jadi saya yang diminta tolong untuk menyampaikannya. Sesuatu yang biasa. Kemudian kita mengobrol tentang segala hal yang lain. Terlalu lama kita tidak bertemu, jadi banyak cerita yang bisa diomongkan. Saya teringat akan janjinya yang belum terwujud untuk mengunjungi bengkel saya. Disinilah awal kisah itu.
 
Beberapa waktu lalu, entahlah beberapa bulan yang lalu, dia pernah meminta tolong untuk menitipkan forklift (alat pengangkut barang berat) di bengkel saya. Dia memang punya usaha jual beli forklift bekas. Dia katanya mau membeli forklift bekas dari sebuah pabrik yang tidak jauh dari bengkel saya, dia mau menitipkan dulu untuk direparasi sebelum dibawa ke tempatnya. Kami berteman sangat lama, jadi saya menyetujui saja. Tapi karena forklift itu sangat besar, saya memintanya untuk meninjau apakah tempat saya cukup untuk itu. Siang itu dua orang anak buahnya datang  meninjau dan bilang bahwa tempat saya cukup. Setelah itu saya pergi dan saya lupa akan kejadian itu. Ternyata forklift itu tidak pernah datang ke tempat saya. Sayapun lupa akan rencana itu lagi.
 
Saya teringat untuk menanyakan hal itu kepadanya. Dia kemudian bercerita. Sore itu dia sudah ada di depan bengkel saya untuk meninjau, tapi ternyata forklift itu mengalami ban kempes di jalan raya sebelum masuk ke kompleks bengkel saya. Dia harus melepas ban untuk menembelkannya. Saat itulah dia ditangkap polisi. Dia dituduh mencuri forklift. Dia membeli forklift itu dari sebuah pabrik melalui seorang perantara. Dia membayar tunai ke perantara itu. Forklift itu dikeluarkan dari pabrik dengan surat resmi yang diketahui oleh kepala pabrik dan kepala satpam pabrik itu. Semuanya resmi. Masalahnya ada di kepala pabrik itu. Dia menjual barang itu tanpa sepengetahuan pemilik pabrik. Masalah ini jadi urusan polisi yang pasti menguras banyak tenaga, waktu dan dana.
 
Saya tidak tahu menahu tentang hal ini sebelumnya. Diapun sebenarnya tidak ingin lagi bercerita tentang ini, karena itu hal yang sangat pahit buatnya. Saya hanya merasa bahwa bengkel saya berjalan seperti biasanya saja. Begini-begini saja. Dari cerita dia, saya baru kaget. Ah, bila saat itu forklift itu ada di bengkel saya, pasti sayapun kena dampaknya. Tuduhan sebagai penadah bisa jadi beban tambahan saya. Sayapun  bisa dianggap bersekongkol dengannya. Segalanya bisa kacau. bengkel saya bisa di"police-line"kan dan tutup sementara. Tapi kenapa forklift itu bisa kempes sebelum masuk ke tempat saya? Ini yang saya rasakan sebagai sesuatu yang luar biasa.
 
Saya tercekat. Kaget! Ternyata saat saya merasa semuanya biasa-biasa saja, ada suatu perlindungan yang luar biasa yang sedang terjadi. Meski yang luar biasa itu tidak saya rasakan dan ketahui, tetapi itu terjadi untuk menghasilkan sesuatu yang saya anggap biasa ini. Ternyata ada hal luar biasa yang terjadi untuk sesuatu biasa-biasa saja.
 
Terima kasih Tuhan untuk tiap hal biasa yang saya terima dan untuk tiap hal luar biasa yang tidak saya rasakan yang telah terjadi untuk saya.
(kelanjutannya.....)

06 Mei 2011

GKI Bondowoso yang tidak ada matinya

18 April 2011, ada penahbisan Pdt. Martin K. Nugroho M.Div. sebagai pendeta GKI Bondowoso, sekaligus peresmian gedung GKI Bondowoso setelah direnovasi besar-besaran.
 
Saya sempat hadir mulai Sabtu malam saat mereka melakukan gladi kotor. Kehadiran saya sebenarnya bukan untuk  mendukung acara itu. Sabtu itu mertua saya ulang tahun, jadi malam itu saya memang menjemput beberapa famili yang seharusnya mengikuti acara gladi kotor dan "menculik" mereka untuk makan malam bersama, salah satu menunya pangsit goreng kesukaan Yahya Juanda. Saat tiba di gereja acara memang sudah hampir selesai, tapi di sana-sini masih banyak orang sibuk yang harus mengatur banyak hal. Sangat ramai dan menyenangkan bisa melihat banyak orang yang tidak saya kenal sebelumnya.
 
Gedung gereja ini direnovasi besar-besaran, rasanya kini tidak kalah bagus dan mewah dengan gereja-gereja di kota-kota besar lainnya. Saya mengatakan ini bukannya sebagai suatu kesombongan, tapi benar-benar suatu kekaguman. Saya dibesarkan di gereja ini dan tahu persis pergumulan dan sumber daya yang mereka punyai. Tujuh tahun ini mereka tidak berpendeta, kondisi jemaat juga terpecah dengan dilahirkannya gereja "baru" di seberang pastorinya. Betapa terpuruknya masa itu. Sungguh ini mujizat dimana ada jemaat dan pelayanan yang tidak ada matinya ini.
 
Saat saya melihat banyak orang sibuk itu, saya mencoba mengingat siapa saja beliau-beliau itu. Bisa jadi saya memang tidak mengenalnya, tapi kemungkinan besar saya mengenal keluarganya. Banyak diantara mereka adalah orang baru. Kini mereka bisa aktif melayani, ada yang menjadi pembawa acara, ada pemain musik, yang tidak hanya organis. Dulu untuk mencari seorang organis saja, gereja ini kesulitan. Kini di warta jemaatnya, ada foto latihan organis yang diikuti oleh 6 orang remaja. Ada Ibu yang mau mempersiapkan kostum untuk anak-anak sekolah minggu. Ada juga yang sibuk mempersiapkan sound-system dan peralatan elektronik lainnya. Semuanya kini ada dan bergerak. Bahkan ternyata arsitek gedung baru inipun adalah anak jemaat sendiri.
 
Saat masuk di halaman gereja, ada papan nama yang berisi jadwal ibadah. Yang menarik, Sabtu itu, ada tulisan dibawah papan nama itu "Gedung ini berdiri atas jasa Bp. Haji Atmo Diwirjo". Suatu ungkapan penghargaan setinggi-tingginya kepada almarhum Pak Atmo yang dulu menghibahkan tanahnya untuk gedung gereja ini. Memang kini tulisan itu tidak ada lagi, karena pihak keluarga beliau kurang berkenan atas pencantuman kalimat itu. Keluarga itu tetap punya hubungan yang baik, saat peresmian itupun mereka meminjamkan halaman rumahnya untuk menampung luberan jemaat yang ada. Gereja ini terletak di samping rumah keluarga Pak Atmo.
 
Kehadiran Pdt. Martin memang memberikan banyak perubahan di Bondowoso. Keluarga pendeta ini memang sepertinya disiapkan untuk menghadirkan roh baru di jemaat Bondowoso. Ibu Irma (istrinya) mampu mendukung dengan bakat seni dan musiknya. Beliau melatih banyak anak dan remaja, menari, menyanyi, bermain musik. Sering juga Ibu Irma mengiringi musik di kebaktian minggu, dengan keyboard maupun biola. Keluarga ini memang menjadi motor perubahan di Bondowoso.
 
Ketekunan Pdt. Martin untuk mengunjungi jemaat yang sudah lama tidak muncul atau sempat "sakit hati" sanggup menaikkan jumlah kehadiran di tiap kebaktian dan kegiatan gereja. Komunikasipun juga dirintis dengan "gereja baru" yang tadinya "kompetitor" kini diajak untuk bekerja sama. Semua mulai berubah dan bertumbuh, peresmian gedung gereja itu seakan menjadi satu titik perhentian untuk bersyukur atas segala anugerah dan perubahan yang ada. Perhentian untuk sejenak bersyukur dan kemudian melanjutkan perjuangan yang lebih besar lagi. Saat sambutan peresmian oleh Wakil Bupati Bondowoso, beliau berkata,"Saya kagum dengan gedung ini, karena interiornya menggunakan bahan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, khususnya di Bondowoso ini....." Interior gereja ini memang menggunakan ekspose serutan kayu dan semen.
 
Saat acara berlangsung, Pak Charles Sihombing berkata,"Sound systemnya bagus ya..." Saya heran, karena peralatan yang ada adalah peralatan yang saya tahu sudah lama ada. Saya lihat ada dua orang yang diminta hadir khusus untuk membantu mengaturnya. Segala sesuatu mungkin bisa maksimal kalau kita mau mengatur dan mendayagunakan dengan penuh rasa syukur terhadap apa yang ada.
 
GKI Bondowoso ini bisa menjadi monumen pernyataan kuasa dan komitmen Tuhan akan penyertaanNya dalam pelayanan kita. Ini juga menjadi bukti akan hasil sebuah komitmen yang mau kita persembahan untuk Tuhan. Pdt. Martin memilih thema "Hatiku Persembahanku" untuk penahbisannya. Itu pernyataan Imannya dan itu juga yang menjawab rahasia di balik semua pencapaian ini.
Persembahan hati itulah yang pasti melandasi kemauan beliau untuk memilih menjadi pendeta meninggalkan dunia bisnis yang harusnya dia nikmati. Juga saat beliau memilih GKI Bondowoso, bukan dua GKI kota besar lainnya. Beliau sudah membuktikan komitmen "Hatiku Persembahanku".
 
Jemaat Bondowoso yang tergerakkanpun tidak kalah hebatnya. Mereka mampu mengimbangi semangat pelayanan yang tumbuh ini dengan mempersembahkan semua talenta dan semangat yang ada. Pembangunan itu bukan berarti tak berkendala. Mereka sudah menyatukan hati untuk menghadapi dan mengatasinya. Jemaat yang tergerakkan inipun akhirnya mampu memberikan imbal balik suasana pelayanan yang penuh rasa kekeluargaan. Keakraban diantara jemaat pasti akan kembali memupuk dan mengobarkan semangat pelayanan Pendeta, Majelis Jemaat, dan badan pelayanan lainnya. Suatu mata rantai proses yang mulai terjalin dan akan terus bertumbuh.
 
Hanya dari sebuah "Hatiku Persembahanku" ada sebuah lahan subur dimana pelayanan menjadi tidak ada matinya.
(kelanjutannya.....)

02 Mei 2011

Tuhan yang Menguasai Waktu

Seharusnya hari itu adalah hari yang biasa-biasa saja. Saya cuma harus ke Jakarta untuk presentasi di sebuah galangan kapal. Semestinya saya bisa langsung pulang kembali ke Surabaya pada malam harinya, tetapi karena permintaan seorang rekan untuk merundingkan langkah-langkah lainnya di malam harinya, saya menyiapkan tiket pulang pada malam keesokannya.

Saat presentasi semuanya lancar saja. Melihat galangan kapal memang menjadi sesuatu yang mengasyikkan bagi saya. Suatu dunia yang harusnya saya geluti selulus kuliah dulu. Dunia yang sempat hilang dari kehidupan saya. Rupanya, saat saya berpresentasi, rekan saya merubah status di BB-nya, dan ada beberapa temannya yang membacanya. Ada dua orang yang meresponnya dan menyatakan minat akan topik yang saya sampaikan. Satu di galangan sebelah
dan satu lagi di Pangkalan Susu, Sumatra Utara. Memang setelah selesai saya bisa melanjutkan ke presentasi berikutnya di galangan di daerah Tanjung Periuk itu. Masalahnya, ada rekan yang mendesak saya datang ke Pangkalan Susu, 3 jam dari Medan ke arah Aceh. Pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi memang selalu menarik bagi saya. Apalagi itu Medan. Kota indah nan semrawut yang selalu menghadirkan banyak kisah saat saya di sana.

Saya memutuskan untuk menerima tawaran ke Pangkalan Susu, berarti saya tidak jadi menginap di Jakarta. Langsung mencari tiket ke Medan, balik ke Jakarta lagi sore keesokannya dan dilanjutkan penerbangan ke Surabaya. Lusanya saya harus di Surabaya, karena hari itu hari terakhir Maret dan saya harus mengurus gajian untuk semua karyawan. Sesuatu yang tidak boleh tertunda.

Seperti biasa, penerbangan malam selalu terlambat. Baru lewat tengah malam saya tiba di Medan. jam lima pagi saya sudah harus siap menuju rumah rekan saya untuk bersama menuju Pangkalan Susu. Medan masih gelap. Tidak ada hal istimewa di perjalanan itu, semua sesuai jadwal. Jadwal pesawat saya jam empat sore menuju Jakarta, jadi jam 12 siang saya sudah harus balik ke Medan dari Pangkalan Susu. Rekan ini mengemudi dengan santun bahkan cenderung pelan. Tapi saya tenang saja karena saat berangkat dia tepat waktu.

Di sepanjang perjalanan kita mengobrol tentang banyak hal yang sarat akan konsep hidup, rupanya dia sangat berminat untuk itu. Saya juga menikmati banyak hal yang menarik di sepanjang jalan, deretan toko-toko tua di Tanjung Pura dan Pangkalan Brandan yang kalau dirawat baik pasti lebih menarik dari China Town di Singapura. Masjid Tua dan perumahan "onderneming" mirip di beberapa tempat di Bondowoso. Sungguh indah negara ini. Saya juga tidak kuatir juga saat dia minta berhenti untuk sholat. Rasanya semua berjalan sesuai jadwal yang sudah saya perhitungkan.

Semuanya bermula saat arloji saya sudah menunjukkan jam tiga kurang sepuluh, ternyata belum ada tanda-tanda bahwa saya sudah di dekat Airport. Saya mulai gelisah tetapi tetap harus sabar dan santun. Ternyata teman ini tidak terlalu hafal jalan di tengah kota Medan. Beberapa kali kita salah jalan dan terjebak macet dan di"macetkan" oleh pengendara "sakti" khas Medan. Dia memang orang Jawa yang asli dan murni budi bahasanya, inilah yang kurang "kompatibel" dengan situasi jalan di Medan, yang saling serobot dan seenaknya sendiri. Saat itulah detik-detik mulai berlalu dengan menegangkan dan mendebarkan. Beberapa kali kita terjebak lampu merah yang berdurasi lebih dari seratus detik. Saya cuma bisa berdoa mohon mujizat Tuhan, Karena
sayapun tidak tahu jalan di Medan. Rekan ini tahu arah ke Airport, tapi jalan ke sananya yang dia tidak hafal! Tapi teman ini tetap tenang berkata,"Bapak jangan terlalu kuatir. Ini Medan, Pak. Segala sesuatu mungkin di sini!"

Saya tiba di Airport Polonia, 15 menit sebelum jadwal penerbangan. Gila! Saya berlari menuju gerbang keberangkatan, menuju counter check in yang ada banyak dan semua penuh sesak dengan antrian. Rasanya memang saya harus pakai gaya Medan kali ini. Antrian itu mungkin lebih dari dua puluh orang di tiap loketnya. Saya langsung menuju loket yang di ujung dan berteriak, "Tolong, tolong, pesawat saya jam empat, tolong saya diurus dulu" Saya sudah tidak
peduli lagi dengan antrian dibelakang saya. Hal buruk yang seharusnya saya benci. Ternyata mereka mau mengurus saya duluan dan Boarding Pass saya terima.

Saya berlari ke loket Airport Tax dan masuk ke ruang tunggu. Suasana begitu ramai dan padat, tapi tidak ada gate yang terbuka. Di layar memang ada Jadwal penerbangan saya , tapi keterangan masih Check-in. Ternyata memang ada keterlambatan untuk jadwal penerbangan saya. Syukurlah, sampai di sini Tuhan telah menolong saya.

Beberapa saat kemudian ada pengumuman bahwa pesawat saya baru akan tiba jam 17.15. Ini masalah baru lagi. Medan - Jakarta sekitar dua jam lebih, pesawat saya dari Jakarta ke Surabaya jam 20.10. Saya pasti ketinggalan pesawat itu, karena saya masih harus check in di terminal yang lain. Naluri saya mengatakan bahwa saya harus belajar cerewet atas masalah ini. Saya akan rugi lumayan banyak, tiket Jakarta-Surabaya. Belum lagi kalau saya tidak mendapat
tiket berarti saya harus menginap satu malam lagi di Jakarta. Biaya Taksi dari dan ke bandara, biaya hotel, ah... semuanya cukup mahal.

Saya menunjukkan tiket Jakarta-Surabaya saya pada petugas Lion air. Mereka tampak biasa-biasa saja, tiket itu memang bukan tiket Lion. Saya sadar, mereka tidak merasa perlu untuk membantu saya. Saya mendesaknya untuk menyadari bahwa keterlambatan mereka yang lebih dari dua jam itu akan sangat merugikan saya. Petugas itu berjanji akan menguruskannya dan dia pergi, lama dia tidak muncul lagi. Saya datangi petugas lainnya, saya desak mereka lagi. Dia juga menggunakan jurus yang sama untuk menghindar dan pergi. Saya
datangi petugas ketiga, saya desak dia lagi. Bagi saya, yang saya lakukan hanyalah "iseng-iseng berhadiah" sembari memanfaatkan waktu menunggu. Saya desak petugas ketiga ini, kali ini dengan tekanan nada yang lebih keras dan modal mata melotot saya. Melihat gelagat dia mau pakai jurus yang sama dengan dua pendahulunya, saya berkata, "Bapak, namanya Andree Christian ya..." sambil saya menuliskannya di tiket saya. Gertakan ini lumayan berhasil. Dia kemudian enggan pergi dan berjanji akan meminta rekannya menguruskan check-in saya di Jakarta. Dia meminta nomer telpon saya.

Beberapa saat kemudian ada panggilan boarding dan saya naik ke pesawat, saya berusaha mencari Andree Christian itu, saya tidak menemukannya. Saya merasa mungkin dia telah memperdaya saya juga. Di pesawat saya duduk di kursi paling belakang. Saya benar-benar pasrah, rasanya saya pasti ketinggalan pesawat ke Surabaya. Tapi saya bersyukur masih bisa terbang ke jakarta mengingat pengalaman siang hari tadi. Yah, masih ada yang bisa disyukuri. Que sera-sera, what will be will be.

Pesawat take-off sekitar jam 18 lebih sedikit dan mendarat di Cengkareng 20.20. Saya sudah pasrah kehilangan uang sejuta lebih lagi. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, saya langsung menyalakan telepon saya, hal yang harusnya memalukan saya. Ada SMS, "Pak, saya petugas Lion Air, bapak tunggu di tangga pesawat, akan saya jemput!" Gila, ternyata mereka serius. Saya membalas ,"Ok, saya tinggi 185 cm dan berkaca mata, saya baru landing" "Ya,
pak. Garuda baru boarding." Begitu pesawat berhenti, saya langsung mengambil tas saya dan bersiap untuk segera keluar. Ada pengumuman bahwa penumpang dipersilahkan turun dari pintu depan. Wah, ini masalah lagi. Saya duduk di kursi paling ujung belakang. Saya langsung menelpon nomer itu "Pak, saya Daniel, saya duduk di bangku belakang dan pintu depan saja yang dibuka, saya baru bisa keluar sekitar 15 menit lagi" Ternyata, dari jendela saya melihat ada tangga yang merapat ke pintu belakang dan pintu belakang terbuka. Saya langsung berlari dan menelpon, "Saya menunggu di bawah sayap!" Sebentar kemudian ada mobil berlogo Lion Air yang datang dengan cepat, mereka meminta saya meloncat masuk dan mobil terus berjalan di landasan itu dengan mengebut. Saya duduk dan mereka bilang bahwa Garuda ke Surabaya baru
saja boarding. Saya memang harus pindah terminal. Dia meminta uang untuk membayar airport tax. Saya memberikan uang 50 ribu tanpa meminta kembaliannya. Saya diantar sampai tangga menuju pesawat dan saya terus berlari. Ada orang memberikan boarding pass saya, saya menerimanya sambil terus berlari menaiki tangga dan menunjukkannya ke pramugari yang ada. Saya sangat lega ketika berhasil masuk pesawat itu. Saya gembira, walaupun banyak mata memandang saya, mungkin saya adalah orang kejam yang senyum-senyum ditengah kejengkelan meraka akan keterlambatan yang mereka alami.

Di dalam pesawat, tidak hentinya saya bersyukur akan dua kejadian di dua penerbangan itu. Semua ini terjadi pasti karena kendali Tuhan Sang Penguasa Waktu. Saat pesawat berguncang karena cuaca yang kurang baik, saya malah tersenyum. Tidak ada lagi hal menakutkan yang akan terjadi saat saya tahu bahwa Tuhan yang menguasai waktu. Apapun yang akan terjadi pasti dalam kendaliNya, karena keberadaan saya di pesawat ini pasti dalam kendali dan rencanaNya.

Sungguh pengalaman yang sangat menegangkan di dua penerbangan hari itu. Saya cuma penumpang kelas termurah, tapi apa yang mereka lakukan untuk melayani saya sungguh tak terduga. Semua kekecewaan saya akan keterlambatan pesawat dari Medan tadi sirna dan malah berubah kekaguman akan pelayanan ekstra mereka. Terkadang masalah memang tidak terhindarkan, tetapi ternyata hal yang terpenting adalah sikap kita saat menghadapi dan menyelesaikan masalah itu. Sikap itu malah akan mendatangkan kekaguman yang melebihi masalah yang ada. Terima kasih Andree Christian, Abduh, dan Lion Air, walau tiketmu tidak murah lagi..........

(kelanjutannya.....)

01 Januari 2011

Sebuah Fenomena

Selamat Tahun Baru!
Sayang saya tidak bisa hadir di acara nonton bareng "Indonesia melawan Malaysia" kemarin. Tapi saya mengikutinya dari millist, SMS dan dari update status FB teman-teman. Rasanya ramai dan meriah, meskipun cuma disiapkan dengan kilat. Sangat menarik bahwa penontonnya tidak sekedar datang apa adanya. Mereka mau berpartisipasi dengan kostum dan sumbangan-sumbangan hadiah dan konsumsinya. Ada yang berani membawa bendera Malaysia, berarti dia tidak sekedar ikutan, malah mau meramaikan dengan menentang arus. Rame sekali ya...
 
Beberapa saat yang lalu ada juga acara demo masak yang diselenggarakan oleh Seksi Dewasa Muda. Acara inipun mendapat sambutan menarik dari seluruh kalangan jemaat.
 
Yang jelas dua acara ini lebih ramai pengunjungnya dari acara-acara "trade-mark" kita seperti doa malam dan doa pagi dan persekutuan doa. Bukan untuk merendahkan acara-acara doa-doa itu. Bukan juga mau berbantahan tentang bagaimana persiapan dan penyelenggaraan acara-acara "generik" kita itu. Tapi sekedar mengamati fenomena/gejala yang ada. Mungkin gejala ini bisa jadi pola yang bisa kita manfaatkan untuk pembangunan jemaat kita.
 
Pernahkan kita tahu bahwa ada Darwanto yang selalu aktip kirim SMS mengajak saya hadir bermain pingpong. "Salam Plintir", begitulah trade-mark SMS-nya. Kini kita sudah punya 3 meja pingpong, semuanya sumbangan jemaat. Kegiatan ini lumayan ramai dan pernah sangat ramai, namun menjadi anti-klimaks ketika ada "kejutan" beberapa saat yang lalu. Berpulangnya rekan kita saat bermain pingpong. Animo jemaat di pingpong ini juga merupakan gejala yang menarik untuk kita simak dan manfaatkan.
 
Adalah sejak dulu di KPR, seksi olah raga adalah seksi yang selalu ada, tapi ini seksi kelas dua. Meraka kalah terhormat dengan seksi yang lebih rohani. Sehingga yang selalu disoroti adalah anggaran untuk beli cock dan sewa lapangannya. Anggaran mereka selalu jadi korban saat ada kelebihan anggaran, korban untuk jadi prioritas dipotong. Pengurus sie olahraga-nya pun agak minder kalah "hawa" dengan pengurus sie seperti sie persekutuan doa atau sie pemerhati. Mereka sering merasa tidak ada hubungan yang konkrit antara tugas utama Gereja dan kegiatan olah raga mereka. Mereka seakan hanya obyek pelengkap dan obyek penderita.
 
Saya berpikir apakah kita bisa menjadikan gereja kita ini sebagai suatu "Activity Centre" atau pusat kegiatan bagi jemaat kita. Di gereja kita bisa nonton-bareng, di gereja kita bisa bermain pingpong, atau main catur atau belajar komputer atau belajar memasak, juga belajar merawat tanaman hias, janjian untuk mancing, janjian untuk bersepeda ria. Kita bisa menemukan dan mengembangkan hobi kita di gereja. Kalau kita mau seperti ini, apa kita tidak menjadikan "Rumah Bapa ini menjadi sarang penyamun" yang setiap saat bisa di"Sodom dan Goroma"kan oleh Tuhan Sang Empunya Gereja? GKI yang makin tidak rohani! Benar begitu?
 
Saya melihat peluang untuk menjala manusia melalui kegiatan sekuler itu. Saya merasa acara itu pasti diminati oleh orang-orang yang selalu terpinggirkan di jemaat kita. Mereka yang merasa kurang rohani dan minder bergaul dengan para "ahli surga". Melalui pingpong rasanya kita bisa akrab dengan "gerombolan si berat" yang saat menjelang Natal lalu dibentak gara-gara dianggap mengganggu latihan paduan suara. Bagaimanapun urakannya mereka, kalau kita punya hubungan baik, pasti mereka juga jadi sungkan mengganggu kita. Juga kalau kita punya hubungan baik, pasti kita lebih mudah menyampaikan ganjelan hati kita.
 
Lalu dimana peran Gereja dan para "rohaniawan"nya di seantero acara begituan?  Kita bisa merubah karakter orang melalui interaksi diantara kita saat acara berlangsung. Mereka bisa belajar untuk tidak misuh, saat smashnya tidak masuk. Mereka bisa belajar sabar saat temannya salah memotong bawang. Mereka juga bisa belajar berdoa saat acara akan dimulai dan diakhiri. Mereka juga bisa mengenal kegiatan pelayanan utama Gereja saat mereka sudah akrab dengan kita. Mereka bisa dijaring untuk menjadi pengurus komisi ataupun majelis jemaat.
 
Bagaimana pendapat anda?
(kelanjutannya.....)

23 Desember 2010

Karakter, Dimanakah Belajarnya?

Beberapa hari ini ada beberapa kejadian yang menarik telah terjadi. Ada seorang anak beasiswa yang lulus SMA tahun lalu, kelihatannya nilainya cukup baik. Saya menawarinya untuk bekerja di suatu bengkel milik seorang teman yang memang membutuhkan tenaga baru. Saya memberikan nomer telpon pimpinan bengkel itu kepadanya. Saya minta dia untuk menelpon langsung ke pemilik bengkel itu. Saya sudah agak lupa akan hal ini sampai saya kemudian ingat dan menelpon pemilik bengkel itu. Saya menanyakan tentang anak itu. Dia menceritakan bahwa memang ada yang menelpon dia, tapi dia tidak suka. Anak itu menelpon jam sepuluh malam, saat jam tidur dan teman itu berkesimpulan bahwa ,"Anak itu tidak punya karakter yang baik, saya tidak suka punya karyawan seperti itu." Saya tidak dapat berkata apa-apa lagi, mungkin saya salah sebab tidak memberitahu anak beasiswa itu tentang tata krama menelpon.Atau apakah karena dia berasal dari lingkungan pergaulan yang menengah kebawah yang menyebabkan dia tidak terdidik hingga punya karakter yang baik? Bisakah kemiskinan membawa seseorang jadi kampungan dan tidak berkarakter baik?
 
Di hari yang lain seorang teman bercerita tentang kejadian yang menimpa temannya. Temannya tinggal di Kanada dan menjadi keluarga yang ditempati oleh mahasiswa magang dari universitas swasta terkenal di Indonesia. Mereka adalah mahasiswa program magang di Kanadaselama beberapa bulan. Bisa dipastikan bahwa mahasiswa ini dari kalangan keluarga yang kaya hingga bisa kuliah di universitas swasta itu dan mengikuti program magang di luar negeri. Mahasiswa itu sudah diberitahu bahwa keluarga di Kanada itu tidak ada pembantu rumah tangganya, jadi segala sesuatu harus dikerjakan sendiri oleh penghuni rumah. Di hari pertama, sudah mulai ada masalah. Sang suami membantu membawakan semua koper ke kamarnya yang di lantai dua, sang mahasiswa tidak mengucapkan terima kasih apapun. Hari-hari berikutnya pun begitu, dia tidak berinisiatif untuk membantu tuan rumah mengerjakan pekerjaan rutin rumah tangga. Rekan itu mengeluhkan tentang karakter mahasiswa ini. Ternyata uang sekolah yang mahal dan sekolah yang terkenal tidak menjamin menghasilkan manusia yang berkarakter baik. Untunglah dengan penampilan yang keren itu tertutupilah kebusukan karakternya.
 
Sampai di sutu hari, saya dimintai pendapat tentang kinerja seseorang. Pendapat ini memang diminta dengan serius dan rasanya itu akan menentukan perjalanan karier orang itu. Saya tahu bahwa orang yang harus saya nilai itu termasuk orang yang istimewa. Dia pandai, dia mampu mengerjakan tugasnya dengan baik dan lebih dari sekedar baik. Tapi menurut penilaian saya karakter dia kurang baik. Dia kurang bisa menerima pendapat orang lain. Dia juga bukan orang yang bisa menghormati orang yang status sosialnya lebih rendah dari dia. Dia juga bukan orang yang suka membantu dengan ringan tangan pekerjaan orang lain. Seandainya dia diberi soal tentang bagaimana harus bersikap terhadap semua kondisi diatas, saya yakin dia akan menjawab dengan jawaban yang baik dan bernuansa karakter yang baik. Tapi itu tidak muncul di kehidupan sehari-harinya. Andaikan dia gagal dalam kariernya karena penilaian atas karakternya, lalu ini salah siapa? Tanggung jawab siapa? Dia lulus dari universitas yang baik dan pasti disana dia juga belajar dengan baik. Seluruh proses belajar mengajar telah dia lalui dengan baik, tapi kenapa masih ada sesuatu yang kurang baik yang melekat pada dirinya? Salahkah dia secara pribadi?
 
Ada juga seorang muda yang dari penampilannya bisa ditebak kalau dia "kurang satu strip". Dia memang terlahir dengan tingkat kecerdasan dibawah normal. Jelas bukan salah dia dan bukan salah orang tuanya, hingga dia terlahir begitu. Suatu saat saya berkata ke istri saya," Dia pasti dari keluarga yang sangat baik, mamanya pasti mengajar dia sopan santun dan tata krama dengan baik." Dia sangat sopan. Dia sering bilang," Ko Dan, yok makan dulu" saat dia mau makan sesuatu. Juga di banyak hal dia terlihat sopan, walau tampak dia "O'on". Saya yakin dia hidup di keluarga yang mampu mendidik karakter yang baik. Terpujilah keluarga itu!
 
Salahkan saya, kalau misalkan saya lahir dan besar di keluarga yang tidak mendidik karakter saya dengan baik? Lalu dimana saya harus belajar berkarakter yang baik? Sekolah sudah tidak menjamin. Pergaulan sehari-hari, juga untung-untungan. Jawaban terbaik ya: "berkarakterlah seperti Yesus". Masalahnya, saat ini Yesus itu sudah tidak nampak dan tak terlihat oleh mata saya lagi. Lalu dimana saya bisa melihat Yesus untuk saya teladani? Sanggupkah gereja menjadi suatu agen pembaharu bagi karakter saya? Sanggupkah semua interaksi saya di gereja membawa saya pada "makin serupa dengan Yesus"? Gereja harus mampu, karena kalau tidak, lalu pada siapa lagi saya bisa belajar?
(kelanjutannya.....)

18 November 2010

Dosaku Ucul

Itu judul dan penggalan syair lagu yang dibawakan oleh kelompok musik keroncong dari Sitiarjo, Malang selatan di kebaktian kita Agustus lalu. Terasa lucu waktu saya mendengarnya. Kog rasanya tidak keren. Kalaupun itu adalah pengakuan iman mereka, terasa terlalu sederhana (untuk menghaluskan kata yang lebih lugas "kampungan"). Saya merasa lebih mampu untuk menyampaikan pengakuan iman yang lebih indah dan intelek dari itu.

Lagu itu terus terngiang di benak saya, menciptakan suasana yang lucu. Sampai kemudian saya teringat kalimat yang mengikutinya: "Dosaku Ucul, Kecebur Segara Kidul". Mereka dari pantai selatan yang kondisi ombaknya lebih ganas dari pada pantai utara pulau Jawa. Kondisi alam sekitar mereka itu yang dapat merefleksikan pengakuan iman mereka. Bagaimana dosa itu lepas dan tercebur di pantai curam berombak besar seperti banyaknya pantai di laut selatan. Dosa yang lepas dan tercebur itu sudah tidak punya kuasa untuk kembali lagi. "Segara Kidul" itu telah menelan dan menghanyutkan dosa mereka, menggambarkan kesempurnaan karya penebusan dosa Yesus Kristus.

Pengakuan iman saya mungkin lebih intelek, tapi itu karena saya dapatkan dari buku dan pelajaran agama. Pengakuan iman mereka lebih lugu dan murni, karena mereka dapatkan itu dari alam sekitar mereka. Alam yang menurut Pemazmur sudah terlebih dahulu memberitakan karya dan pekerjaan tangan Tuhan sebelum semua buku menuliskannya. Kiranya Roh Kudus memampukan untuk melihat dan merasakan karya Tuhan melalui alam ciptaanNya ini.

(kelanjutannya.....)

Ini Sudah Jaman Digital

Dulu saya sering membantu menjaga "kios cuci cetak" foto. Dialog yang sering terjadi adalah:

"Saya mau mencetak foto"

"Bisa, mana negatifnya?"

Negatif yang dimaksud adalah klise atau film negatif. Disebut film negatif karena berbalikan dengan gambar fotonya, bila di foto hasilnya hitam maka di filmnya putih, demikian sebaliknya. Semua foto bisa dicetak asalkan ada negatifnya.

Itu sudah jadul, kini di jaman digital sudah tidak perlu pakai klise lagi, tinggal mencetak dari file digital. Tapi apa benar begitu? Bukankah masih banyak kenangan yang terekam karena ada sisi negatifnya? Masih banyak nama orang yang terekam dan teringat di benak hanya karena hal-hal negatif yang berkaitan dengannya. Ayat diatas mengajak untuk menggantikan semua yang negatif itu dengan semua yang positif.

Mari kita gantikan semua pikiran dan ingatan negatif kita dengan semua yang positif tentang sesama dan kenangan kita. Bukan hanya karena ini sudah jaman digital, tapi pasti karena Tuhan yang menghendakinya demikian.

(kelanjutannya.....)

17 November 2010

Kalau Nanti Saya Sudah Tua

Kalau nanti saya sudah tua, saya mau jadi apa ya? Sebenarnya ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Baru setelah hari minggu kemarin, hal itu jadi terlintas dan mungkin enak kalau mulai dipikirkan. Minggu kemarin itu ada pertemuan rutin Beasiswa. Seperti biasa, saya menemani siswa SMP dan SMA di kebaktian remaja di lantai 4. Tidak ada yang istimewa sampai ketika kebaktian baru mulai, Bu Eunice Soelmarso muncul. Lho, saya agak kaget. Seharusnya Bu Sul memimpin di pertemuan untuk anak SD jam 10 nanti. Ternyata Beliau sudah dijemput jam 8 kurang, padahal saya sudah mengingatkan agar menjemputnya jam 9. Saya jadi merasa bersalah. Beliau harus menunggu lama. satu jam lebih. Yang menjemput beralasan agar tidak terlambat. Ya memang tidak terlambat, apalagi kalau dijemputnya sehari sebelumnya dan nginep di gereja.....
Saat pembagian uang untuk siswa SMP dan SMA, saya melihat ada anak yang sudah 2 kali tidak hadir. Bila ia tidak hadir sekali lagi, maka ia akan digugurkan. Sebenarnya kasihan juga. Setelah pembagian itu, saat Bu Sul memimpin acara untuk anak SD, ada seorang bapak yang menemui saya. Ternyata ia orang tua anak yang dua kali tidak datang itu. Dia bercerita bahwa anaknya tidak mau datang ke gereja. Anak itu sering pulang malam bersama temannya, katanya bermain internet. Ayahnya sangat mengkawatirkannya. Bapak itu sering memarahi anak perempuan itu. Bahkan sampai memukulnya, terakhir dia menggunting rambut anaknya. Anak itu kemudian menjadi malu dan tidak mau ke gereja. Saya tidak tahu harus menjawab bagaimana. Saya tahu maksud Bapak ini baik, tapi ia juga salah dalam mengungkapkannya. Kasihan juga keadaan bapak itu, dia seorang mekanik Trailer yang saat ini PHK karena kontrak kerjanya habis. Dia tentu sangat menyayangi anak gadisnya. Dia ingin melindungi dari pergaulan yang kurang baik.
Setelah Bu Sul memimpin acara, saya menyampaikan cerita itu. Memang awalnya dengan maksud sekedar bercerita menemani beliau sambil menunggu untuk diantar pulang. Bagaimanpun saya merasa bersalah karena Beliau telah dijemput dengan sangat pagi. Ternyata Bu Sul sangat menaruh perhatian dengan masalah ini. Beliau mau membantu menyelesaikan masalah ini. Saya bergegas mencari Bapak itu lagi, untunglah beliau belum pulang. Saya mempertemukannya dengan Bu Sul. Latar belakang Bu Sul sebagai seorang guru memampukannya berbicara dengan baik dengan Bapak itu. Bu Sul bisa memberikan nasihat dengan baik. Bapak itupun terlihat sangat antusias mendengarkan solusi yang disampaikan Bu Sul. Bu Sul menyampaikan agar Bapak itu meminta maaf kepada anak gadisnya. Bu Sul malah menawarkan bila anak itu mau, anak itu bisa tinggal dirumahnya untuk sementara waktu sambil beliau menasehatinya. Suatu tawarkan yang sangat berani, yang menggambarkan kemauan untuk membantu. Kemauan untuk berkorban dan repot karena masalah orang lain. Ibu ini sudah berumur tapi masih tetap bersemangat. Beliau masih kuat untuk naik turun tangga sampai ke lantai 4 gedung pertemuan. Beliau juga masih mau untuk direpoti oleh orang lain. Apa tidak capek ya?
Beberapa saat yang lalu saya mengenal suami istri yang juga sudah masuk pada usia emas. Semua anaknya telah berumah tangga sendiri. Kini mereka hanya tinggal berdua saja. Mereka masih terlihat sangat sehat dan kuat. Saat saya menyampaikan beberapa ide untuk mengisi waktu luangnya, Sang Istri langsung menjawab, "Wah, males dah, nanti bisa-bisa saya lagi yang repot." Melalui banyak perbincangan saya bisa menebak bahwa keluarga ini memang banyak mendapatkan penghasilan dari usaha sang istri. Ibu ini memang seorang wanita yang sangat enerjik untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarganya. Sang Bapak adalah seorang lelaki yang lebih kalem dan mungkin juga menjadi banyak merasa tertekan dengan semangat dan ambisi istrinya. Kini di saat mereka memasuki usia emas, sang istri ingin beristirahat dari segala kelelahannya mencari tambahan penghasilan. Sang suami juga mengisi waktunya dengan banyak menonton televisi hingga sering tertidur di kursi kesanyangannya. Bapak ini ingin juga beristirahat dari semua aktivitas yang dulu menekannya. Mengejar setoran yang sudah ditargetkan oleh sang istri. Kini, mereka memang tidak berkekurangan secara materi. Anak menantunya sanggup membiayainya. Usia Emas bagi mereka adalah saat untuk istirahat dan jangan repot lagi. Sudah capek.
Dua kondisi, dua keadaan yang tidak bisa diperbandingkan untuk dicari mana yang benar dan mana yang salah. Dua kondisi yang mungkin cuma bisa jadi pilihan saya nanti. Saya mau jadi yang mana? Kalau nanti saya tua saya mau jadi apa? Jadi orang seperti Bu Sul yang tetap bersemangat bekerja dan melayani. Ataukah saya akan beristirahat saja, karena saat ini saya sudah bekerja terlalu keras dan terlalu capek.
Akankah saya masih tetap ingat bahwa bekerja adalah bagian dari hidup ini. Bukan hasil kerja yang menjadi sesuatu yang akan saya nikmati, tetapi proses bekerja itu sendiri yang menjadikan hidup ini bisa lebih berarti dan berguna bagi sesama dan diri saya sendiri.
(kelanjutannya.....)

01 November 2010

Dua Produk

Minggu lalu ini saya harus ke luar kota lagi. Berangkat dengan pesawat yang pagi-pagi sekarang ini OK-OK saja, karena sudah ada lounge yang menyediakan makan pagi gratis. Lumayan lah namanya juga gratis. Pagi itu ada seorang pemuda menyapa saya. Awalnya saya agak pangling. Dia dulu remaja yang aktif di Dipo, anak mantan seorang majelis. Ya, saya ingat dia, walaupun masih mengingat-ingat namanya. Untung saya sudah makan agak kenyang jadi kita bisa mengobrol sambil menunggu panggilan boarding.
Dia memberikan "Company Profile" perusahaannya. Dia arsitek. Dia bercerita tentang proyek-proyeknya. Tapi sempat juga dia bertanya, "Masih di GKI, Ko?" Saya sudah sering mendengar dan menebak arah pertanyaan ini. Demi untuk menyenangkan dia, saya berusaha menjawabnya dengan nada yang saya buat bisa mengesankan rasa minder, "Ya, masih" Dia bercerita kembali dengan lebih antusias, lalu dia menyampaikan ,"Semua ini berkat Tuhan" Saya rasa ini saat yang tepat. Lalu saya bertanya ,"Berkat? Berkat itu apa ya?" Dari sinar matanya saya tahu dia kaget, mungkin dia heran koq ada ya aktivis yang dia kenal bertanya seperti itu. Atau dia malah bersyukur bahwa ya memang begitu itu kualitas orang GKI. Dia kemudian menjelaskan perihal contoh-contoh berkat yang dia terima. Proyek-proyek besar yang bisa dia dapatkan. Secara pribadi saya tidak bergurau dengan pertanyaan saya. Saya bertanya bukan karena saya tidak tahu, tapi semoga pertanyaan saya membuat ia sempat berpikir tentang arti kata itu. Di jaman internet dan komputer ini, budaya "Copy Paste" sungguh kuat. Orang dengan mudah menyampaikan suatu data dan informasi dengan model "Copy Paste". Informasi mudah didapatkan lalu dengan mudah juga dia utarakan. Copy and Paste! Bisa jadi Informasi itu tidak sempat dia cerna dan bahkan mungkin dia malas mencerna dan mengolah informasi itu. Saya bermaksud, semoga dengan pertanyaan saya minimal dia sempat memikirkan arti kata itu menurut pribadinya, bukan menurut mimbar gerejanya atau siapapun juga. Menurutnya berkat sepenuhnya adalah tampak dari bisnisnya yang terus membaik. Baginya Tuhan sungguh baik karena Ia sudah membuat bisnisnya jadi baik. Syukurlah.
Pertemuan itu berakhir dengan panggilan Boarding saya dan kita berpisah. Saya juga sudah lupa akan pertemuan itu. Sampai pada waktu saya akan kembali ke Surabaya. Dalam perjalan balik dari Samarinda ke Balikpapan, saya menggunakan taksi. Pengemudinya panggilannnya Mas Dewor, tapi katanya, dia punya nama Baptis Samuel. Awalnya saya pikir guyon. Orangnya besar, berkulit sangat gelap dan berkumis lebat. Pokoknya dia lebih sangar dari Pak Brengos yang saya kenal. Sebelum di Samarinda, dia di Ngawi dan berprofesi sebagai pengamen di terminal Ngawi. Dia mengaku jemaat GKJW Ngawi, dia membuktikannya dengan menyanyikan lagu "Gusti Peparingi Jagad" lagu yang nadanya saya sangat kenal dan pasti ada di NKB. Di perjalanan yang dua jam lebih itu, banyak hal menarik yang saya dengar dari dia. Pendidikannya pasti rendah, mungkin karena dia bergaul didalam dunia yang keras. Dia bercerita juga tentang berkat, dia mengakui saat ini sebagai pengemudi penghasilannya tidak lebih baik dari dulu waktu dia jauh dari Tuhan. Walaupun lebih sedikit yang dia terima, tapi dia bisa menabung lebih banyak. Dia cerita bahwa setiap pagi dia selalu berdoa, karena manusia itu penuh dengan kesalahan. Dia berdoa pagi memohon pengampunan dan merasa sebagai manusia yang berdosa, dia tidak bercerita berdoa untuk memohon berkat. Dalam kesederhanaannya, dia bisa bersaksi tentang Kristus dan kekristenan bila ada penumpang yang mengajaknya bicara soal Yesus. Dia berani menceritakan pandangan Kristen tentang alkitab, saat ada penumpang yang ingin memperdebatkannya. Dia sekarang lebih sering ke gereja yang di Plaza meski dia merindukan untuk kembali ke GKJW di Ngawi. "lho, khan di gereja itu orangnya kaya-kaya, gak minder tha?" "Istri saya memang bilang begitu, tapi saya bilang, Walaupun orang makan makanan enak dan mahal, yang dikeluarkan besok paginya tetap berbau tidak enak, jadi buat apa malu?" Bahasanya memang sesederhana cara berpikirnya.
Dia juga bercerita bahwa dia juga berpofesi sebagai "centeng", tukang tagih atau debt collector. Tapi bukan untuk suatu lembaga, melainkan ke beberapa kuli bangunan yang gajinya tidak dibayarkan oleh mandornya. Dia berani menghadapi mandor itu, walaupun mandor itu berasal dari etnis yang biasanya dikenal sebagai orang yang "sangar". "Sampeyan gak wedi tha?" "Yo, nek kono ngancam, aku ngomong, saya ini bukan cuma endak pernah hidup enak, makan enak aja saya tidak pernah, lha kamu mau apa?' Dia berani melakukan pembelaan buat sesamanya. Dia juga bercerita, bahwa di dekat rumahnya pernah ada ceramah yang isinya menjelek-jelekkan kekristenan. Dia cuma bisa berdoa dan melaporkan itu ke Tuhan, ternyata kemudian sound sistemnya jadi rusak. "Lha, tapi khan ceramahnya masih terus jalan tho?" dia menjawab ,"Ya, endak apa-apa, tapi khan itu didengar kelompoknya sendiri, tidak menyinggung kelompok lain" Saya salut dengan toleransinya. Kekristenan itu baginya identik dengan kasih, itu yang dia utarakan. "Nanti kalau ada teroris Kristen, ndak perlu dihukum mati, biar saya aja yang mbunuh dia..." lho........??? Namanya juga mantan preman. Hehehehehe....
Di dua kesempatan, waktu berangkat dan waktu pulang ini, saya bertemu dengan dua orang Kristen yang berbeda. Yang satu hedonistik, "matrek" tapi berTuhan. dan satu lagi manusia yang bersahaja dan manusiawi. Dua-duanya produk gereja. Kalau kemudian saya harus memilih, kira-kira produk gereja yang mana yang hendak gereja saya hasilkan? Manusia Hedonistik religius atau Manusia Religius yang manusiawi dan membumi? Manusia yang memperalat Tuhan demi kepuasan materi yang dia kejar atau manusia yang tetap manusia biasa tapi dengan hati dan tabiat baru yang diubahkan?
(kelanjutannya.....)

23 Oktober 2010

Di Sana Ada Buah Lepiu

Setelah seminggu "bertamasya", sekarang saya bisa menulis lagi. Seminggu itu saya masuk ke pedalaman Kalimantan. Melihat betapa luas dan kayanya negara kita. Diawali dengan undangan di acara ulang tahun kabupaten yang meriah. Ada drumband, ada tarian masal berbagai etnis. Ada Dayak, Bugis, Cina, Arab, Melayu, Tidung. Mereka menari dengan kompak, pasti ini pesta yang membutuhkan uang yang banyak. Di lapangan itu ada dua tenda besar untuk pameran, dua tenda itu disewa dengan harga 700 juta. Wih, hebat khan?
 
Perjalanan saya menuju desa terakhir ke arah hulu sungai di kabupaten itu. 5 jam perjalanan dengan Speed Boat. Harusnya memang hanya sekitar 3 jam saja, tapi karena ada masalah dengan mesin speed boat yang saya tumpangi, kita harus beberapa kali berhenti. Mesinnya tidak mogok, hanya sesekali, terbatuk-batuk. Beberapa kali memang kita berhenti untuk mengganti busi dan membongkar karburatornya.  Hari itu kita berencana untuk survei di tiga desa, dimulai dengan desa yang terjauh. Jadwalnya cukup ketat, sebelum gelap kita sudah harus kembali, kalau tidak maka kita harus bermalam di salah satu desa itu. Saya sempat protes, kenapa kita harus berhenti, toh mesin tidak mogok. Mengapa tidak langsung saja? Motoris, begitulah sebutan untuk pengemudi speed boat, menjelaskan bahwa kita akan melewati Giram Raya. Kalau mesin sampai mati di sana, maka akan sangat berbahaya bagi kita. Saya cuma melihat dari sisi jadwal, saya sendiri tidak mengenal daerah itu. Setelah sempat membongkar karbiurator, kita melanjutkan perjalanan memasukli daerah Giram Raya. Giram berarti jeram. Bagian sungai yang berbatu-batu dan berarus deras sekali. Bagi beberapa orang, melewati jeram saat arung jeram adalah hal yang menyenangkan. Karena sudah tahu bahwa faktor keselamatan sudah diperhitungan dan diutamakan di acara arung jeram ini. Berbeda dengan rombongan kita saat itu. Kita yang harus menaklukkan jeram itu, atau jeram itu yang menaklukkan kita. Lebar sungainya saja sudah beda. Di kalimantan lebar sungainya bisa puluhan kali lebar sungai di Jawa. Mungkin sungai di Jawa cuma "selokan" dibandingan sungai utama di Kalimantan. Belum lagi batu-batunya. Di Giram Raya bebatuannya "buuuuuesar-buuuesaaaaaar". Ada yang serumah, bentuknyapun bermacam-macam. Semuanya seperti tersusun dan tertumpuk dengan sengaja. Mungkin ini yang namanya Menhir seperti di buku sejarah dulu atau di cerita kartun Obelix. Mengarungi Giram Raya sungguh mendebarkan. Motorisnya harus berpengalaman, bila salah mengambil jalan kita bisa celaka. Perahu bisa menabrak batu atau kandas karena ada baru yang tak terlihat, atau juga terhempas oleh derasnya arus aliran sungai itu. Giram itu sepanjang kurang lebih 1 kilometer. Perjalanan yang mendebarkan. Puluhan orang sudah celaka di jeram itu. Banyak diantara mereka adalah dokter yang bertugas ke pedalaman.
 
Tepat menjelang tengah hari, saya mencapai desa itu, Long Pelban. Desa yang tertata rapi. Dihuni oleh suku Dayak Bukulit. Rombongan kami 8 orang dengan 2 speedboat. Sementara ada tim teknis yang bekerja, saya juga bekerja. Saya bersosialisasi dengan penduduk yang ada, bagaimanapun kita adalah pendatang di tanah mereka. Desa itu cuma dihuni 49 KK, cuma ada sekolah SD dengan 5 orang guru. Semua penduduknya Kristen dari Gereja Kemah Injil Indonesia. Saya berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan semua orang di rombongan ini dan juga orang-orang yang kami temui. Ini bukan pekerjaan mudah karena dari latar belakang pendidikannya saja kita beda. Mulai dari Motoris yang mungkin cuma sekedar bisa baca tulis hingga beberapa orang lulusan luar negeri, ada yang Master ada juga PhD.
 
Disana saya bertemu dengan orang yang dianggap ketua adat. Awalnya dia mendekati saya untuk menawarkan buah, namanya aneh, saya jelas tidak minat, bagaimana saya bisa membawanya pulang? Ransel saya sudah penuh dan belum lagi perjalanan pulang itu masih harus berganti antara speedboat dan pesawat. Saya malas kalau harus bawa oleh-oleh yang mungkin malah merepotkan saya. Tapi setelah berkali-kali saya ditawari, saya pikir ini kesempatan untuk bersosialisasi dengan mereka. Saya setujui saja. Sekilo lima puluh ribu. Dari nada suaranya saya tahu itu harga yang masih bisa ditawar, tapi saya tidak menawarnya. Buah itu buah Lepiu (Kayak bunyi: I Love You....). Warnanya merah Maron. Bentuknya bulat pipih berdiameter 2 - 4 cm. Buah ini harus direbus dulu. Rasanya memang enak seperti kacang rebus dan agak manis. Ada yang menyamakan bentuknya seperti jengkol tapi kecil dan tidak beraroma. "ini buah dari akar" Bapak itu menjelaskan. "Oh, Ini umbi, dari dalam tanah?" "Bukan, Ini pohon akar" "Saya tidak mengerti maksud Bapak!" Saya bingung, dan Bapak itu juga bingung. Pohon akar? Lalu Bapak itu menggambarkan pohon akar itu dengan gerakkan tangan yang meliuk-liuk. "Oh, maksud Bapak pohonnya merambat? Seperti rotan?" "Ya.... Betul" Ah, akhirnya saya tahu bahwa pohon Lepiu itu merambat. Mereka memungutnya dari hutan, buah itu sebenarnya seperti buah Petai, tapi mereka memungut biji-biji buah yang sudah tersebar di bawah. Seharian bila mereka masuk hutan mereka hanya mendapatkan sekitar 4 kg saja. Di hutan pohon itu banyak, tetapi jarang sekali berbuah. Harga buah Lepiu di kota sekitar 70 ribuan. Mahal juga, tapi itulah bagian Indonesia yang terpencil dan mahal. Kalau mau beli di desa itu, memang 50 ribu dan rasanya masih bisa ditawar lagi, tapi sewa speebboat ke sana 1,8 juta.
 
Desa-desa di hulu sungai itu, teratur rapi, beda dengan desa-desa di daerah muara. Penampilan masyarakatnyapun beda, di Long Pelban dan Long Leju, penampilan mereka lebih bersih. Syukurlah kalau gereja mampu menjadi berkat disana. Tapi apa mereka akan bisa terus begitu? Di hari terakhir, saat kita melaporkan hasil pekerjaan kita, disebutkan bahwa disana akan dibangun pembangkit listrik tenaga air yang terbesar di dunia. Berarti beberapa desa di hulu sungai itu akan segera terendam dan berubah jadi waduk raksasa. Entahlah apa yang akan terjadi, tapi itu masih rencana yang sangat panjang. Lalu dimana lagi saya akan mendapatkan buah lepiu? Seorang warga memberitahu, bahwa bila seseorang sudah makan buah itu, maka suatu saat dia pasti akan kembali ke desa itu lagi. Yah, semogalah, karena saya juga senang jalan-jalan ke sana.
(kelanjutannya.....)

11 Oktober 2010

Tidak Takut Mati?

Membicarakan perihal kematian di hari ulang tahun bagi banyak orang adalah hal yang tabu, tapi kalau kematian itu sesuatu yang diluar kekuasaan kita, apa yang bisa kita lakukan untuk mempengaruhinya? Kita cuma bisa menyiapkan sikap dalam menghadapinya.

Dulu, waktu saya berusia belasan tahun, di suatu acara persekutuan doa pemuda remaja, Pak Pendeta Timotius Istanto meminta yang hadir untuk menuliskan apa yang akan kita lakukan kalau kita tahu bahwa umur kita hanya kurang seminggu saja. Semua orang menuliskannya di selembar kertas dan kemudian oleh beliau itu bacakan dan diulas bersama.

Hampir kesemuanya bernada sama, mereka semua menulis bahwa akan berbuat baik dalam berbagai bentuknya. Tulisan saya tidak juga dibacakan. Sampai terakhir, Pak Tim bilang,"Ini akan saya bacakan pendapat yang paling jelek, -Saya tidak akan melakukan apa-apa-". Karena kertas itu tidak diberi nama, maka tidak ada yang tahu siapa penulisnya. Banyak yang tertawa. Banyak yang mengganggap penulisnya tidak serius dan asal menulis tanpa berpikir, makanya menurut Pak Tim itu adalah pendapat yang paling jelek. Itu adalah tulisan saya.

Saya menulisnya dengan serius dan penuh kesadaran. Saya menganggap kenapa saya harus munafik dengan berbuat baik bila akan mati? Mengapa saya tidak jadi orang jahat saja? Apa hanya karena saya akan mati? Kalau saya tidak mau jadi jahat, dan saya memilih jadi orang baik bukankah itu pilihan hidup saya, bukan atas ketakutan akan kematian? Pikiran itu yang ada di benak saya saat itu. Kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi saya saat itu. Dulu Papa saya menjelaskan soal kematian Mama saya dengan bilang ,"Saat ini di Sorga sedang ada pesta untuk menyambut Mama."

Tapi itu dulu, waktu saya masih remaja dan tidak punya apa-apa. Kini, meskipun belum juga kaya, saya sudah merasa mulai punya beberapa harta. Ada harta yang "ternilai" ada juga harta yang "tak ternilai". Ada yang bisa dihitung nilai uangnya (seperti yang saya laporkan di laporan tahunan pajak saya) dan ada juga harta yang tak ternilai. Harta yang berupa lingkungan ataupun orang-orang yang mengasihi dan saya kasihi. Rasanya harta yang tak teruangkan ini yang paling banyak saya punyai. Ada istri, ada anak-anak, ada teman dan rekan seperti anda, ada juga "musuh" yang penuh perhatian mengintai saya setiap saat. Semuanya ini menjadi sesuatu yang tak ternilai yang membuat hari-hari saya menjadi begitu indah. Hari-hari saya indah karena ada anda semua. Dan itulah harta yang saya miliki. Dengan berlalunya waktu dan usia, makin menumpuklah harta-harta saya.

Di hari ulang tahun ini, saat saya merefleksikan ulang sikap saya, masihkah tidak takut mati? Rasanya bukan ketakutan akan kematian yang sering membayang dibenak saya, tetapi apa saya berani berpisah dengan semua harta-harta saya? Dimana harta saya berada, disitu ada hati saya. Apapun alasannya, bisa jadi saat ini saya mulai takut mati. Takut karena hati ini sudah makin terikat pada harta-harta itu. Semoga Tuhan tetap senantiasa berkenan memberikan pencerahan di usia dan "harta" yang makin bertambah ini.

(kelanjutannya.....)

04 Oktober 2010

Melihat Namun Tak Melihat

.....kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap (Roma 28:26)

Sudah berhari-hari saya berdoa memohon mujizat Tuhan. Barang itu sudah saya cari berhari-hari. Di bengkel, di rumah, di mobil, belum juga ketemu. Rasanya hanya mujizat Tuhan yang bisa menemukan barang itu. Barang itu adalah contoh pekerjaan bengkel yang diserahkan ke saya. Tak pernah satu kalipun saya menghilangkan barang contoh. Itu hal yang tabu. Tapi kali ini kenapa bisa hilang? Sudah cukup lama barang itu diserahkan ke saya. Saya sudah agak lupa bentuknya. Pemiliknya bilang bentuknya seperti mata rantai yang bisa dirangkai. Saya berusaha mengingatnya walaupun agak sulit. Tapi di benak saya langsung tergambar sebuah mata rantai yang bisa dibongkar pasang. Yah, bentuknya pasti mirip huruf C.

Pagi itu pemilik barang kembali menelpon untuk memintanya kembali, nadanya sudah sangat ingin marah. Saya masuk ke gudang lagi meminta sekretaris saya meneliti semua kotak dan rak. Dia bilang, "Sudah dan tidak ada, Pak." Saat itu, mata saya tertuju pada barang yang ada di rak, di depan mata saya, saya pegang barang itu. Nah, ini barang itu. Ketemu! "Lho, ini koq bisa disini?" "Pak, itu memang sudah dari dulu disana." "Tapi koq kamu bilang tidak ada?" "Bapak khan bilang bentuknya kayak huruf C, itu bentuknya kotak." Yah, sayapun sudah berkali-kali melihat ke rak itu. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa itu barang yang saya cari, sebab saya juga selalu mencari barang yang bentuknya seperti huruf C. Saya salah membayangkan bentuk barang yang hendak saya cari. Syukurlah itu cuma barang, bagaimana jadinya kalau itu hal yang lebih penting lagi?

Saya telah hanya melihat apa yang ingin saya lihat dan mengabaikan yang lain. Di benak ini sudah ada filter yang akan memilah semua informasi yang akan masuk ke otak. Bagaimana bila filter itu yang salah dan malah menghalangi informasi yang seharusnya diterima? Kebenaran dan kesucian filter itulah yang harus selalu dijaga. Kehadiran Firman Tuhan dan Roh Kudus akan berkuasa mengisi dan menjaga filter ini. Tuhan hadirlah selalu di benak ini.

Mujizat telah terjadi saat Tuhan membetulkan "filter" di benak saya dengan yang murni yang dari padaNYA.

(kelanjutannya.....)

Dia Koq Marah?

Saya sangat sering mengunjungi pameran permesinan dan teknologi. Terasa sangat menarik dan menyenangkan melihat banyak produk baru dan inovasi baru. Untuk itu saya harus mengeluarkan banyak biaya. Minimal untuk biaya pesawat dan akomodasinya. Bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah, apalagi kalau di luar negeri. Kebiasaan ini berjalan dengan begitu saja, hingga satu teman mengingatkan bahwa itu hanya untuk memuaskan keinginan mata saja. Tidak mungkin kita selalu membeli mesin baru atau menggunakan teknologi yang selalu berganti itu. Meski saya punya alasan untuk tetap selalu bisa belajar dari pameran-pameran itu, masukan itu sempat mengguncangkan saya. Terutama karena biaya-biaya yang tidak murah itu.

Sampai suatu saat saya menemukan solusi atas masalah ini. Cara untuk sekedar mengkompensasi biaya saat mengunjungi pameran itu. Saya membawa juga brosur produk saya, saya akan bagikan di pameran itu. Saya yakin di pameran itu hadir juga banyak calon pelanggan saya. Saya bisa mencari pelanggan di pameran itu juga. Saya bisa membagikan brosur di sana, tapi saya bukan peserta pameran. Saya tidak punya stand. Biaya sewa stand di pameran seperti ini bisa mencapai puluhan juta rupiah. Nah, saya yang harus cari cara bagaimana bisa membagi brosur tanpa ditangkap petugas sekuritinya. Ini butuh strategi khusus. Dengan membagi brosur itu, perasaan saya lebih tenang. Bila dapat satu pelanggan saja, saya yakin biaya yang dikeluarkan sudah pasti dapat tergantikan. Yang ada bagaimana saya bisa membagi brosur dengan aman dan elegan.

Hari itu saya hadir di pameran lagi. Di ransel saya sudah ada beberapa puluh brosur siap bagi. Hari itu hari pertama pameran. Biasanya kita tidak boleh masuk sebelum upacara pembukaannya selesai. Acara pembukaannya agak terlambat, mungkin ada pejabat yang belum datang. Pengunjung sudah boleh masuk. Saya berkeliling, melihat produk dan mencari jalan membagi brosur. Ternyata ada stand yang dijaga oleh 2 orang alumni ITS, yang seorang adik kelas saya. Ting! Ini peluang saya. Saya mengobrol di stand itu, sambil berlagak sok kenal dan sok akrab sampai kemudian saya yakin bisa mendapat ijin untuk mendompleng di sana membagi brosur saya. Saya cukup tahu diri untuk tidak meletakkan brosur di stand mereka, bagi saya cukup boleh berdiri di depan stand mereka dan bisa mencegat pengunjung yang lewat. Seakan-akan saya juga bagian dari stand itu.

Pameran tidak terlalu ramai. Memang ada beberapa orang yang sudah saya beri brosur. Sampai kemudian ada seorang Bapak yang cukup tambun masuk ke stand itu, berbincang dengan dua rekan tadi. Terasa mereka ada memperbincangkan saya, saya ikut masuk dan mendengarkan perbincangan mereka. "Anda tidak boleh seperti itu!" Bapak itu berkata ke dua rekan itu sambil menunjuk kearah saya, saya kaget. "Saya tadi sudah lewat di depan sana, tapi anda tidak menyapa saya" bapak itu berkata pada saya. Dia mengeluarkan kartu namanya, "Saya yang mengeluarkan ijin untuk bisnis seperti ini" Memang pameran ini pameran spesifik, bisa jadi ini bidang yang menjadi wewenang beliau. Di kartu namanya saya baca jabatan dia, Kasubdin..... "Maaf pak, Maaf atas kesalahan saya," Di mulut saya minta maaf, tapi di hati saya menertawakannya. Pejabat ini gila hormat, Pamong Praja Feodal! Dia mulai berkisah lagi, "Anda jangan suka membeda-bedakan orang, itu tidak benar......." Saya mengangguk-angguk saja sambil menunduk, seakan-akan saya takut sama dia. Apanya ya yang beda dan perlu dibedakan?

Mungkin upacara pembukaan sudah selesai dan banyak pejabat yang berkeliling melihat pameran, salah satunya bapak ini. Bagi saya, tidak mungkin saya asal membagi brosur seperti SPG berok mini itu. Mereka merasa sudah bekerja kalau sudah membagi habis setumpuk brosur. Sedangkan saya tahu persis ongkos cetak brosur saya, saya akan berikan hanya ke orang yang saya rasa punya potensi membeli produk saya. Rupanya waktu Bapak itu melintas, feeling saya tidak memerintah saya untuk memberi dia brosur. Itu membuatnya tersinggung.

Siang itu saya baru sadar akan pencitraan diri yang kita bangun untuk diri kita sendiri. Saat orang merasa adalah pejabat yang harus dihormati dan disapa, beliau akan berharap semua orang melakukannya. Padahal di benak orang lain ada banyak sudut pandang yang lain. Bapak itu merasa beliau yang berwenang mengeluarkan ijin dan orang tidak dapat berbisnis bila tidak mendapat ijinnya. Dia benar. Tapi ada kebenaran lain yang setara. Bagi saya ijin bukan segalanya. Bisnis tetap bisnis, ia tetap bisa jalan dengan caranya sendiri. Jangankan ijin beliau (lha dia khan lain daerah dengan saya...), meja kerja saja saya tidak punya. Saya sering mengendalikan bisnis dengan cuma "nglempo" berlap-top di lantai kamar tidur saya. Dengan begitu saja saya sudah bisa mengatur bisnis saya dan saya tidak minder dengan itu.

Saya membeda-bedakan orang? Beda berdasarkan apa ya? Saya berpikir lama juga. Mungkin dia melihat wajah saya yang "mongoloid" ini, kemudian berpikir bahwa saya bos dari dua orang pemilik sah stand itu (yang tidak mongoloid itu). Jadi dia merasa perlu untuk "mengajari dan memarahi" saya didepan dua orang itu, untuk sekedar menunjukkan betapa berkuasanya ia. Ya.... bisa jadi begitu. Beliau yang merasa bahwa saya berbeda sehingga saya yang harus dipaksa untuk tidak membeda-bedakan. Bukankah perbedaan itu baru bisa terasa kalau kita mulai dengan pikiran bahwa kita berbeda? Sekali lagi ini masalah "mindset" dalam melihat dunia.

Ah, kenapa ya pejabat yang dibayar dengan uang rakyat masih juga minta dihormati rakyat? Bukankah yang bayar adalah Bos? Rakyat yang bayar, maka harusnya rakyat yang Bos.

(kelanjutannya.....)

29 Juni 2010

6 Topi Berpikir - 1

Ini buku yang sudah lama sekali, entah masih ada atau tidak di toko buku. Baru-baru ini saya dapat audiobook-nya dan jadi teringat akan buku itu.
Saya akan coba berbagi isi buku ini dalam beberapa tulisan.
Edward de Bono mengembangkan cara berpikir yang disebut Lateral Thinking. Berpikir dengan cara menyamping. Ibarat jalan raya, Lateral Thinking menyodorkan jalan lain disamping jalan atau cara berpikir yang selama ini kita tempuh. Seperti "frontage road" di A. Yani yang baru jadi ini.
Bernafas, berjalan, dan berpikir adalah sesuatu yang kita bisa dengan sendirinya. Seakan itu sudah ada dengan sendirinya. Banyak orang percaya bahwa semakin tinggi tingkat kecerdasan orang (IQ) akan semakin pandai dia dalam berpikir. Pendapat ini salah, karena ibaratnya mengemudi, IQ tinggi berarti mobilnya bagus dan mahal. Sedangkan kemampuan berpikir ibarat ketrampilan sopir mengemudikannya. Mobil mewah tapi sopirnya ugal-ugalan, malah akan mendatangkan celaka. Mobil biasa tapi dengan cara mengemudi yang benar, akan mampu memberikan hasil yang lebih baik. Yang penting bukan mobil mogok. Ini memang nyata dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang jenius yang gagal menjadi manusia yang sempurna, bisa jadi karena dia berpikir bahwa dialah yang paling pandai berpikir dan mampu mengatasi masalahnya sendiri. Jadi, tidak perlu terlalu pandai, cukup dengan otak yang biasa dan cara berpikir yang baik, kita mampu jadi orang yang menghasilkan karya jenius.
Dasar dari Lateral thinking adalah 6 topi berpikir. Disebut enam topi karena cara berpikir ini ada 6 macam dan itu digunakan apabila kita menghendakinya. Tiap kesempatan kita diajak untuk memilih topi berpikir mana yang hendak dipakai. Tiap orang harus siap dan terlatih dengan 6 topi itu. Ibarat topi, cara berpikir itu dapat dengan mudah dipakai atau dilepas, diganti sesuai yang kita maui.
Enam topi itu adalah:
1. Topi Putih, mirip dengan kertas kosong, kita memakai topi berpikir putih untuk menerima semua data atau masukkan. Kita memposisikan otak kita untuk menerima data atau masukan yang ada.
2. Topi Merah, ini berpikir dengan emosi, kita menggunakan perasaan (bukan logika) untuk menentukan pendapat kita tentang suatu masalah.
3. Topi Hitam, cara berpikir dengan logika negatif, kita menggunakan logika untuk mempertimbangkan akibat negatif apa yang bisa muncul dari keputusan yang akan kita ambil.
4. Topi Kuning, cara berpikir dengan logika positif. Kita menggunakan logika untuk mempertimbangkan hal-hal positif atau peluang yang bisa muncul atas ide yang sedang kita pikirkan.
5. Topi Hijau, Ini berpikir kreatif. Kita menggunakannya untuk berpikir sesuatu yang baru dan inovatif.
6. Topi Biru. Ini berpikir tentang berpikir. topi ini kita pakai untuk berpikir dalam suatu proses pengambilan keputusan.
Aplikasinya: Bisa jadi dalam suatu rapat kita berkata: "Mari kita pakai topi putih untuk masalah persembahan." Maka yang diperlukan adalah semua data dan realitas yang ada untuk dipaparkan.
Bisa juga: "Mari kita pakai topi Merah untuk ide kebaktian di hari Sabtu." Maka tiap orang harus mengungkapkan perasaannya dan intuisinya (bukan dengan logika) atas ide itu. Tapi kita juga bisa bilang ;"Kita perlu pakai topi hijau untuk mengatasi masalah pemuda." Ini sekedar contoh. Tiap masalah bisa ditelaah dengan 6 topi berpikir itu secara bergantian. Bisa dengan urutan topi putih, merah, hitam. Atau Merah, Putih dan kuning. Terserah kita, sesuai dengan kondisi yang ada.
Semoga berguna.
(kelanjutannya.....)

24 Juni 2010

Cerita tentang King Lung

Kejadian ledakan di jalan Slompretan nomer delapan itu sangat mengagetkan saya. Kamis pagi seorang teman menelpon tentang ledakan semalam sebelumnya. Katanya salah satu korbannya yang terluka adalah Imron. Saya kaget, pagi itu saya menyuruh anak buah saya untuk segera ke tempat kejadian. Tujuannya mencari kabar tentang King Lung. Dia teman saya. Memang sudah cukup lama saya tidak berjumpa dia. Beberapa saat kemudian anak buah saya memberikan kabar bahwa kondisi tempat itu memang sangat parah. King Lung belum ditemukan, Imron juga akhirnya meninggal. Wajah dua orang rekan itu masih sangat jelas terbayang. Imron dan King Lung.
Saya mengenal mereka cukup lama, karena kita sama-sama merintis bengkel CNC-Computer Numerical Control (mesin bengkel yang bisa diprogram). Imron anak buah King Lung. King Lung adalah orang kepercayaan Bos di Jakarta. Dia tidak berpendidikan tinggi. Dia dulu hanya operator mesin, kemudian dia belajar memprogram mesin. Dia orang yang baik. sopan, pekerja keras dan mau belajar. Postur tubuhnya bagus dan orangnya murah senyum. Beberapa kali saat dia mengalami masalah dengan pemograman, dia selalu datang ke tempat saya. Dia mampu belajar dengan baik.
Bengkelnya dulu mengerjakan neck-ring. bagian atas tabung LPG yang menghubungkan antara tabung dan bagian yang terbuat dari kuningan. Awalnya satu neck ring dikerjakannya dalam 1 menit. Terakhir kalinya dia berhasil mengerjakannya dalam waktu 11 detik. Rasanya itu proses pembuatan neck ring yang tercepat di Indonesia. Dia bersama teman-temannya bekerja 24 jam. Bergantian antara yang tidur dan yang bekerja. Mereka satu tim yang sangat kompak dan cekatan.
Bosnya tinggal di Jakarta. Orangnya sangat low-profile. Setiap kali ke Surabaya, saya selalu ditelpon untuk menemuinya. Karena itu saya sering mampir di Slompretan itu. Selalu saja dia memesankan Mie Hongkong di jalan Waspada itu. Kita sering ngobrol sambil makan mie itu. Kalaupun saya ke Jakarta, sayapun harus menelponnya. Memang tidak selalu saya menelpon, karena kadang saya sudah sangat capai. Kalau dia tahu saya di jakarta biasanya dia jemput saya dan kita menghabiskan sepanjang malam di Pecenongan. Makan bubur, es campur dan ngobrol. Dia sangat baik. Bisnis diantara kita tidak besar-besar amat, tapi persahabatan itu sangat akrab. Dari makan bersamanya sampai nyaris ditangkap Satpam gara-gara dia berkelahi di suatu Plaza. Menakutkan tapi lucu juga.
Banyak kali saya sering datang di Slompretan itu. Sekedar mengobrol dengan teman-teman disana. Saya juga punya rasa tersendiri dengan jalan itu. Papa saya pernah bekerja di toko Batik di depan bengkel itu dan kemudian pindah kontrak di samping bengkel itu. Dulu kalau hari libur dan pas saya ke Surabaya, saya sering membantu di toko Batik itu. Mama saya juga penah bekerja di Bank di ujung jalan itu. Dulu namanya masih Bank Umum Koperasi Kahuripan. Di jalan itu memang ada sepenggal kenangan hidup saya. Sering saya menghabiskan sore hari disana. Bila saya belum pulang ketika hari mulai gelap, selalu tukang parkirnya datang meminta ongkos parkir sebelum dia tinggal pulang. Saya selalu memberinya uang dan bonus umpatan di hati saya.
Terakhir saya dengar King Lung pacaran dengan Gadis Madura. Mamanya di Jakarta tidak menyetujuinya. Tapi dia tetap nekad. Bosnya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya juga tidak, walaupun ingin rasanya menasehatinya. tapi saya tidak tahu mau bicara dari mana? Saya sangat berat dengan pernikahan yang tidak disetujui orang tua. Banyak kali itu mendatangkan luka atau mungkin kutuk. Saya lebih memilih menuruti orang tua dan selalu akan menasehati begitu bila ada masalah seperti itu. Tapi ke King Lung saya tidak berani bilang apa-apa. Akhirnya mereka menikah.
Setelah ledakan itu saya berusaha menelpon Bos di Jakarta itu. beberapa nomernya tidak bisa dihubungi. Hingga jumat pagi, ada satu nomer yang bisa, tapi tidak diangkat. Saya lalu hanya kirim SMS "Kho, saya ikut sedih, tapi selalu ada kekuatan dari Tuhan." Ini ungkapan tulus saya, walaupun saya tidak tahu apa agamanya. Beberapa detik kemudian dia menelpon saya, lama sekali saya mendengar ceritanya. Terutama tentang King Lung. Hari itu beberapa kali dia menelpon saya, memberitahukan tentang perkembangan King Lung. Sampai petang harinya dia SMS hotel dan nomer HP mama King Lung. Saya tidak mengenal mamanya, tapi saya sangat ingin menemuinya. saya menemuinya di kamar jenasah RSUD Dr. Sutomo. Dia tidak terlalu tua. "Ai, saya Daniel teman King Lung, saya dapat nomer Ai dari Kho...... di Jakarta" Wanita itu sangat tegar dan bijak. Di bagian lain di teras kamar jenazah itu, ada dua ibu berkerudung dan bapak berkopiah dan beberapa orang lagi. Mereka rombongan istri King Lung yang berasal dari Probolinggo. Mereka semua menunggui datangnya peti jenazah yang akan dipakai King Lung. Awalnya saya menyangka mama King Lung akan sinis dengan keluarga itu. Sayapun berbincang dengan dia tanpa menyinggung Istri King Lung sekalipun. "Satu hal yang belum dia turuti adalah bahwa dia berjanji akan memberikan menantu yang akan menyenangkan hati saya, saya belum tahu karena saya belum pernah tinggal dengan menantu saya." Diapun bercerita kalau King Lung sudah meminta nama untuk anaknya yang akan lahir sekitar dua minggu lagi. Mamanya sudah memberi satu, tapi dia meminta empat nama dan nama pilihannya sudah disimpan di HPnya.
Lorong di depan kamar jenazah itu gelap, saya baru tahu kalau Bos Besar King Lung ada di sana. Dia kakak dari Bos yang saya telpon itu. Bos ini yang paling dihormati oleh semua saudaranya. Sayapun menghampirinya dan berjabat tangan. Mama King Lung juga dan kemudian dia bilang ,"Kho, tolong diingat anak King Lung ya.... Tolong dibantu istrinya, dia mau melahirkan" Bos itu mengiyakan dan langsung menghampiri wanita yang hamil tua itu, dia mencatat alamatnya.
Saat peti jenazah sudah siap dan jenazah sudah dikeluarkan, saya sempat melihat wajah King Lung. Sudah membengkak dan berbau. Istrinya langsung pingsan. Keluarganya membopongnya, mama King Lung mengoleskan minyak kayu Putih di dahinya. Ibu dan Bapaknya sibuk menyadarkannya dengan berbahasa madura. Mereka orang desa, masih 35 KM dari Probolinggo ke selatan. Bapak Ibu itu ternyata diantar oleh "Pak Tenggih" (Pak Tinggi= Pak Lurah) desanya. Ah, musibah ini menyadarkan saya betapa manusia itu adalah mahluk sosial, yang kodratnya membantu sesamanya. Ada Pak Lurah yang bersimpati pada warganya dengan menghantar ke Surabaya. Ada wanita yang mungkin punya alasan untuk membenci menantunya, tapi kewanitaannya mampu merasakan apa yang dirasakan menantunya itu. Ada Bos besar yang mau bersimpati pada pegawainya yang setia sampai akhir hayatnya.
Malam itu, setelah peti jenazah ditutup, mereka berpisah satu sama lain. Dua keluarga yang berbeda budaya dan banyak lainnya itu saling berpelukan. King Lung sudah menyatukannya.
King Lung akan dimakamkan di Tangerang di kampungnya. Mamanya minta dia dimakamkan bukan dikremasi agar anaknya suatu saat kelak dapat mengetahui kubur papanya.
King Lung kita masih bersahabat.
(kelanjutannya.....)