Acara Konven Pendeta meninggalkan banyak kisah yang menarik tentang kehidupan seputar pendeta. Pendeta juga manusia yang bisa salah dan bisa benar, bisa baik dan bisa menjengkelkan juga. Kisah menarik yang ada di seputaran konven ini semoga bisa bercerita tentang hal ini. Pendeta juga manusia.
Profesi pendeta tidak selamanya membuat pendeta menjadi sosok serius dan dingin. Sekelompok pendeta bisa punya rasa humor yang tinggi dan kreatif, mereka bisa menghadirkan tawa yang terus berderai saat mereka tampil dalam acara Ludruk Seduluran. Mereka hanya berlatih sekali di sore hari saat peserta lain beristirahat setelah tiba di Hotel. Semua bisa tertawa renyah dan gembira. Penampilan mereka diakhiri dengan pengundian hadiah sebuah Laptop. Undian yang diambil oleh pemain gamelan membuat seorang pendeta dari sebuah kota kecil beruntung mendapatkan laptop itu. Dengan spontanitas dan suasana humor seorang pemain Ludruk menyerahkan Laptop itu dengan celetukan kata "Pendeta Duafa". Gara-gara celetukan itu, malam hari itu panitia memanen protes dari beberapa peserta. Kreatifitas ternyata juga bisa berdampak kebablasan juga.
Pendeta GKI juga bagai suluh dalam kedisiplinan. Kebaktian kita yang teratur. Jam kebaktian yang selalu tepat waktu. Peyusunan program tahunan yang detail. Ketaatan pada Tata Gereja. Semua itu menjadikan sosok pendeta sebagai sosok penuh kedisiplinan. Di hari kedua panitia mengalami masalah dengan bus yang tidak datang. Bus yang seharusnya datang di Hotel Purnama, ternyata datang di GKI Diponegoro. Mereka salah melihat jadwal. Jadilah panitia harus berimprovisasi dengan armada yang ada untuk mengantar para peserta menuju 9 lokasi Sambang Dulur. Dengan kondisi darurat itu, ternyata ada juga bis yang tidak kunjung berangkat, padahal jadwalnya sudah terlambat sekitar satu jam. Bis itu harus menunggu satu orang pendeta yang belum naik dan tidak tahu dimana keberadaannya. Akhirnya sang pendeta datang juga dengan berlenggang kangkung dan tidak ada ketergesaan dan biasa saja. Betapa menggemaskannya.
Saat pendaftaran peserta, para pendeta sudah ditanya soal kebutuhan pengantaran ke tempat pemberangkatan saat mereka akan kembali ke kota masing-masing. Ternyata hanya beberapa orang saja yang menyatakan membutuhkan bantuan pengantaran ke Bandara Abdurahman Saleh, Bandara Juanda maupun stasiun kereta api. Dihari kedua, ternyata jumlahnya meledak. Dari delapan orang yang terdaftar untuk diantar ke Bandara Abdurahman Saleh meledak menjadi delapan puluh orang. Seksi Transportasi kelabakan. Belum lagi ada yang minta dengan jadwal khusus. Jam sembilan pagi dari hotel, jam sepuluh, jam sebelas.... macam-macam lah. Saat ada pendeta bertanya,"Pak, apa besok bisa mengantar ke Bandara Juanda Jam 9 pagi?" Setahu saya jadwal itu tidak ada, saya menjawab," Tidak bisa, Bu!" "Lho, jangan menjawab tidak bisa Pak. Ya harus diusahakan!" Saya senyum saja, memang saya tidak seharusnya langsung menjawab begitu. Tapi apakah Beliau sadar bahwa Beliau juga tidak boleh bilang tidak bisa saat mengisi jadwal pulangnya waktu pendaftaran dulu? Tidakkah mereka sadar bahwa tidaklah mudah mengurus transportasi dengan batas waktu yang sudah mendesak itu?
Di hari kedua peserta diajak untuk rekreasi ke Jatim Park 2. Selepas acara Sambang Dulur mereka makan siang dan bersiap untuk masuk ke areal Jatim Park 2. Panitia sudah menyiapkan tanda masuk yang berupa gelang. Beberapa peserta mengurungkan niatnya setelah tahu bahwa harus berjalan kaki cukup jauh di dalam areal Secret Zoo maupun Museum. Beberapa peserta mau langsung balik ke hotel saja. Tidak ada masalah dengan keputusan itu. Hanya saja ada peserta yang langsung membuang tanda masuk itu. Tidak tahukan mereka bahwa tanda masuk itu tidak murah? Harga gelang kertas itu Rp. 50.000,oo. Tidakkah mereka bisa merasa sayang dan mengembalikan agar bisa digunakan oleh orang lain? Bisa jadi kelelahan memang meniadakan kepekaan akan hal ini. Semoga di ladang pelayanan yang sebenarnya, saat mereka lelah mereka tidak kehilangan kepekaan akan nilai-nilai lainnya.
Saat bergaul dengan para Pendeta itu, saya juga bisa merasakan bagaimana mereka juga pernah di"zalimi" oleh jemaatnya juga. Ada pendeta yang bernostalgia tentang temannya yang pernah dihalangi proses kependetaanya karena ada jemaat yang menulis surat keberatan. Alasannya, karena Beliau dulu pernah mau membunuh kucing. Pendeta yang bersangkutan lalu menyambung," Iya, jemaat itu bilang, lha wong sopir aja kalau ada kucing menghindar. Eh, ini koq ada pendeta malah mau mbunuh kucing" Saat itu saya langsung teringat anekdot tentang sopir yang lebih mampu membuat orang lain berdoa dibandingkan pendeta. Ya, karena sopir itu sering menyetir dengan ugal-ugalan sehingga selalu membuat penumpangnya berdoa. Ada juga kisah menyentuh perihal ketaatan pendeta dan keluarganya dalam menjalani panggilan pelayanannya. Ketaatan di dalam kondisi yang serba minim, yang memaksanya harus berpakaian dalam dengan bahan kain bekas kantong tepung terigu.
Di Jatim Pak 2, siang itu ada seorang pendeta yang menyapa, "Anda menantunya Pak Harry ya?" Saya heran. Saya merasa tidak kenal wajah itu. "Saya pernah melayani di Bondowoso" Saya melirik tanda pengenalnya. "Ya, saya ingat Bapak!" "Pak Yahya! Bapak di Bondowoso tahun 79 atau 80an" Saat itu saya masih anak-anak. Saya ingat beliau karena dulu beliau kalau ke rumah saya mengendarai sepeda motor "Magnet" warna abu-abu. Itu benar-benar sepeda motor dengan arti harafiah. Bentuknya mirip sepeda dan bermotor. Ada pedalnya dan untuk mengerem caranya dengan menggenjot pedalnya ke arah belakang. Tahun itu sebenarnya sudah ada sepeda motor yang lebih modern, Yamaha bebek Autolube. Beliau sangat bersahaja dalam pelayanannya dulu. Itulah yang membuat saya ingat akan Beliau.
Semua rasa sudah berpadu dalam konven itu. Banyak cerita suka dan duka terjadi. Ada pendeta yang kehilangan tas, ada juga yang kehilangan kamera. Tapi yang jelas tidak ada yang kehilangan semangat untuk tetap terus bertumbuh dan melayani. Itu karena Pendeta juga manusia dan KITA PUNYA SAHABAT.
14 Agustus 2011
Pendeta juga Manusia
26 Juli 2011
Melihat Melalui Angka
17 Juli 2011
Biasa dan Luar Biasa
06 Mei 2011
GKI Bondowoso yang tidak ada matinya
02 Mei 2011
Tuhan yang Menguasai Waktu
Saat presentasi semuanya lancar saja. Melihat galangan kapal memang menjadi sesuatu yang mengasyikkan bagi saya. Suatu dunia yang harusnya saya geluti selulus kuliah dulu. Dunia yang sempat hilang dari kehidupan saya. Rupanya, saat saya berpresentasi, rekan saya merubah status di BB-nya, dan ada beberapa temannya yang membacanya. Ada dua orang yang meresponnya dan menyatakan minat akan topik yang saya sampaikan. Satu di galangan sebelah
dan satu lagi di Pangkalan Susu, Sumatra Utara. Memang setelah selesai saya bisa melanjutkan ke presentasi berikutnya di galangan di daerah Tanjung Periuk itu. Masalahnya, ada rekan yang mendesak saya datang ke Pangkalan Susu, 3 jam dari Medan ke arah Aceh. Pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi memang selalu menarik bagi saya. Apalagi itu Medan. Kota indah nan semrawut yang selalu menghadirkan banyak kisah saat saya di sana.
Saya memutuskan untuk menerima tawaran ke Pangkalan Susu, berarti saya tidak jadi menginap di Jakarta. Langsung mencari tiket ke Medan, balik ke Jakarta lagi sore keesokannya dan dilanjutkan penerbangan ke Surabaya. Lusanya saya harus di Surabaya, karena hari itu hari terakhir Maret dan saya harus mengurus gajian untuk semua karyawan. Sesuatu yang tidak boleh tertunda.
Seperti biasa, penerbangan malam selalu terlambat. Baru lewat tengah malam saya tiba di Medan. jam lima pagi saya sudah harus siap menuju rumah rekan saya untuk bersama menuju Pangkalan Susu. Medan masih gelap. Tidak ada hal istimewa di perjalanan itu, semua sesuai jadwal. Jadwal pesawat saya jam empat sore menuju Jakarta, jadi jam 12 siang saya sudah harus balik ke Medan dari Pangkalan Susu. Rekan ini mengemudi dengan santun bahkan cenderung pelan. Tapi saya tenang saja karena saat berangkat dia tepat waktu.
Di sepanjang perjalanan kita mengobrol tentang banyak hal yang sarat akan konsep hidup, rupanya dia sangat berminat untuk itu. Saya juga menikmati banyak hal yang menarik di sepanjang jalan, deretan toko-toko tua di Tanjung Pura dan Pangkalan Brandan yang kalau dirawat baik pasti lebih menarik dari China Town di Singapura. Masjid Tua dan perumahan "onderneming" mirip di beberapa tempat di Bondowoso. Sungguh indah negara ini. Saya juga tidak kuatir juga saat dia minta berhenti untuk sholat. Rasanya semua berjalan sesuai jadwal yang sudah saya perhitungkan.
Semuanya bermula saat arloji saya sudah menunjukkan jam tiga kurang sepuluh, ternyata belum ada tanda-tanda bahwa saya sudah di dekat Airport. Saya mulai gelisah tetapi tetap harus sabar dan santun. Ternyata teman ini tidak terlalu hafal jalan di tengah kota Medan. Beberapa kali kita salah jalan dan terjebak macet dan di"macetkan" oleh pengendara "sakti" khas Medan. Dia memang orang Jawa yang asli dan murni budi bahasanya, inilah yang kurang "kompatibel" dengan situasi jalan di Medan, yang saling serobot dan seenaknya sendiri. Saat itulah detik-detik mulai berlalu dengan menegangkan dan mendebarkan. Beberapa kali kita terjebak lampu merah yang berdurasi lebih dari seratus detik. Saya cuma bisa berdoa mohon mujizat Tuhan, Karena
sayapun tidak tahu jalan di Medan. Rekan ini tahu arah ke Airport, tapi jalan ke sananya yang dia tidak hafal! Tapi teman ini tetap tenang berkata,"Bapak jangan terlalu kuatir. Ini Medan, Pak. Segala sesuatu mungkin di sini!"
Saya tiba di Airport Polonia, 15 menit sebelum jadwal penerbangan. Gila! Saya berlari menuju gerbang keberangkatan, menuju counter check in yang ada banyak dan semua penuh sesak dengan antrian. Rasanya memang saya harus pakai gaya Medan kali ini. Antrian itu mungkin lebih dari dua puluh orang di tiap loketnya. Saya langsung menuju loket yang di ujung dan berteriak, "Tolong, tolong, pesawat saya jam empat, tolong saya diurus dulu" Saya sudah tidak
peduli lagi dengan antrian dibelakang saya. Hal buruk yang seharusnya saya benci. Ternyata mereka mau mengurus saya duluan dan Boarding Pass saya terima.
Saya berlari ke loket Airport Tax dan masuk ke ruang tunggu. Suasana begitu ramai dan padat, tapi tidak ada gate yang terbuka. Di layar memang ada Jadwal penerbangan saya , tapi keterangan masih Check-in. Ternyata memang ada keterlambatan untuk jadwal penerbangan saya. Syukurlah, sampai di sini Tuhan telah menolong saya.
Beberapa saat kemudian ada pengumuman bahwa pesawat saya baru akan tiba jam 17.15. Ini masalah baru lagi. Medan - Jakarta sekitar dua jam lebih, pesawat saya dari Jakarta ke Surabaya jam 20.10. Saya pasti ketinggalan pesawat itu, karena saya masih harus check in di terminal yang lain. Naluri saya mengatakan bahwa saya harus belajar cerewet atas masalah ini. Saya akan rugi lumayan banyak, tiket Jakarta-Surabaya. Belum lagi kalau saya tidak mendapat
tiket berarti saya harus menginap satu malam lagi di Jakarta. Biaya Taksi dari dan ke bandara, biaya hotel, ah... semuanya cukup mahal.
Saya menunjukkan tiket Jakarta-Surabaya saya pada petugas Lion air. Mereka tampak biasa-biasa saja, tiket itu memang bukan tiket Lion. Saya sadar, mereka tidak merasa perlu untuk membantu saya. Saya mendesaknya untuk menyadari bahwa keterlambatan mereka yang lebih dari dua jam itu akan sangat merugikan saya. Petugas itu berjanji akan menguruskannya dan dia pergi, lama dia tidak muncul lagi. Saya datangi petugas lainnya, saya desak mereka lagi. Dia juga menggunakan jurus yang sama untuk menghindar dan pergi. Saya
datangi petugas ketiga, saya desak dia lagi. Bagi saya, yang saya lakukan hanyalah "iseng-iseng berhadiah" sembari memanfaatkan waktu menunggu. Saya desak petugas ketiga ini, kali ini dengan tekanan nada yang lebih keras dan modal mata melotot saya. Melihat gelagat dia mau pakai jurus yang sama dengan dua pendahulunya, saya berkata, "Bapak, namanya Andree Christian ya..." sambil saya menuliskannya di tiket saya. Gertakan ini lumayan berhasil. Dia kemudian enggan pergi dan berjanji akan meminta rekannya menguruskan check-in saya di Jakarta. Dia meminta nomer telpon saya.
Beberapa saat kemudian ada panggilan boarding dan saya naik ke pesawat, saya berusaha mencari Andree Christian itu, saya tidak menemukannya. Saya merasa mungkin dia telah memperdaya saya juga. Di pesawat saya duduk di kursi paling belakang. Saya benar-benar pasrah, rasanya saya pasti ketinggalan pesawat ke Surabaya. Tapi saya bersyukur masih bisa terbang ke jakarta mengingat pengalaman siang hari tadi. Yah, masih ada yang bisa disyukuri. Que sera-sera, what will be will be.
Pesawat take-off sekitar jam 18 lebih sedikit dan mendarat di Cengkareng 20.20. Saya sudah pasrah kehilangan uang sejuta lebih lagi. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, saya langsung menyalakan telepon saya, hal yang harusnya memalukan saya. Ada SMS, "Pak, saya petugas Lion Air, bapak tunggu di tangga pesawat, akan saya jemput!" Gila, ternyata mereka serius. Saya membalas ,"Ok, saya tinggi 185 cm dan berkaca mata, saya baru landing" "Ya,
pak. Garuda baru boarding." Begitu pesawat berhenti, saya langsung mengambil tas saya dan bersiap untuk segera keluar. Ada pengumuman bahwa penumpang dipersilahkan turun dari pintu depan. Wah, ini masalah lagi. Saya duduk di kursi paling ujung belakang. Saya langsung menelpon nomer itu "Pak, saya Daniel, saya duduk di bangku belakang dan pintu depan saja yang dibuka, saya baru bisa keluar sekitar 15 menit lagi" Ternyata, dari jendela saya melihat ada tangga yang merapat ke pintu belakang dan pintu belakang terbuka. Saya langsung berlari dan menelpon, "Saya menunggu di bawah sayap!" Sebentar kemudian ada mobil berlogo Lion Air yang datang dengan cepat, mereka meminta saya meloncat masuk dan mobil terus berjalan di landasan itu dengan mengebut. Saya duduk dan mereka bilang bahwa Garuda ke Surabaya baru
saja boarding. Saya memang harus pindah terminal. Dia meminta uang untuk membayar airport tax. Saya memberikan uang 50 ribu tanpa meminta kembaliannya. Saya diantar sampai tangga menuju pesawat dan saya terus berlari. Ada orang memberikan boarding pass saya, saya menerimanya sambil terus berlari menaiki tangga dan menunjukkannya ke pramugari yang ada. Saya sangat lega ketika berhasil masuk pesawat itu. Saya gembira, walaupun banyak mata memandang saya, mungkin saya adalah orang kejam yang senyum-senyum ditengah kejengkelan meraka akan keterlambatan yang mereka alami.
Di dalam pesawat, tidak hentinya saya bersyukur akan dua kejadian di dua penerbangan itu. Semua ini terjadi pasti karena kendali Tuhan Sang Penguasa Waktu. Saat pesawat berguncang karena cuaca yang kurang baik, saya malah tersenyum. Tidak ada lagi hal menakutkan yang akan terjadi saat saya tahu bahwa Tuhan yang menguasai waktu. Apapun yang akan terjadi pasti dalam kendaliNya, karena keberadaan saya di pesawat ini pasti dalam kendali dan rencanaNya.
Sungguh pengalaman yang sangat menegangkan di dua penerbangan hari itu. Saya cuma penumpang kelas termurah, tapi apa yang mereka lakukan untuk melayani saya sungguh tak terduga. Semua kekecewaan saya akan keterlambatan pesawat dari Medan tadi sirna dan malah berubah kekaguman akan pelayanan ekstra mereka. Terkadang masalah memang tidak terhindarkan, tetapi ternyata hal yang terpenting adalah sikap kita saat menghadapi dan menyelesaikan masalah itu. Sikap itu malah akan mendatangkan kekaguman yang melebihi masalah yang ada. Terima kasih Andree Christian, Abduh, dan Lion Air, walau tiketmu tidak murah lagi..........
(kelanjutannya.....)01 Januari 2011
Sebuah Fenomena
23 Desember 2010
Karakter, Dimanakah Belajarnya?
18 November 2010
Dosaku Ucul
Itu judul dan penggalan syair lagu yang dibawakan oleh kelompok musik keroncong dari Sitiarjo, Malang selatan di kebaktian kita Agustus lalu. Terasa lucu waktu saya mendengarnya. Kog rasanya tidak keren. Kalaupun itu adalah pengakuan iman mereka, terasa terlalu sederhana (untuk menghaluskan kata yang lebih lugas "kampungan"). Saya merasa lebih mampu untuk menyampaikan pengakuan iman yang lebih indah dan intelek dari itu.
Lagu itu terus terngiang di benak saya, menciptakan suasana yang lucu. Sampai kemudian saya teringat kalimat yang mengikutinya: "Dosaku Ucul, Kecebur Segara Kidul". Mereka dari pantai selatan yang kondisi ombaknya lebih ganas dari pada pantai utara pulau Jawa. Kondisi alam sekitar mereka itu yang dapat merefleksikan pengakuan iman mereka. Bagaimana dosa itu lepas dan tercebur di pantai curam berombak besar seperti banyaknya pantai di laut selatan. Dosa yang lepas dan tercebur itu sudah tidak punya kuasa untuk kembali lagi. "Segara Kidul" itu telah menelan dan menghanyutkan dosa mereka, menggambarkan kesempurnaan karya penebusan dosa Yesus Kristus.
Pengakuan iman saya mungkin lebih intelek, tapi itu karena saya dapatkan dari buku dan pelajaran agama. Pengakuan iman mereka lebih lugu dan murni, karena mereka dapatkan itu dari alam sekitar mereka. Alam yang menurut Pemazmur sudah terlebih dahulu memberitakan karya dan pekerjaan tangan Tuhan sebelum semua buku menuliskannya. Kiranya Roh Kudus memampukan untuk melihat dan merasakan karya Tuhan melalui alam ciptaanNya ini.
Ini Sudah Jaman Digital
Dulu saya sering membantu menjaga "kios cuci cetak" foto. Dialog yang sering terjadi adalah:
"Saya mau mencetak foto"
"Bisa, mana negatifnya?"
Negatif yang dimaksud adalah klise atau film negatif. Disebut film negatif karena berbalikan dengan gambar fotonya, bila di foto hasilnya hitam maka di filmnya putih, demikian sebaliknya. Semua foto bisa dicetak asalkan ada negatifnya.
Itu sudah jadul, kini di jaman digital sudah tidak perlu pakai klise lagi, tinggal mencetak dari file digital. Tapi apa benar begitu? Bukankah masih banyak kenangan yang terekam karena ada sisi negatifnya? Masih banyak nama orang yang terekam dan teringat di benak hanya karena hal-hal negatif yang berkaitan dengannya. Ayat diatas mengajak untuk menggantikan semua yang negatif itu dengan semua yang positif.
Mari kita gantikan semua pikiran dan ingatan negatif kita dengan semua yang positif tentang sesama dan kenangan kita. Bukan hanya karena ini sudah jaman digital, tapi pasti karena Tuhan yang menghendakinya demikian.
17 November 2010
Kalau Nanti Saya Sudah Tua
01 November 2010
Dua Produk
23 Oktober 2010
Di Sana Ada Buah Lepiu
11 Oktober 2010
Tidak Takut Mati?
Membicarakan perihal kematian di hari ulang tahun bagi banyak orang adalah hal yang tabu, tapi kalau kematian itu sesuatu yang diluar kekuasaan kita, apa yang bisa kita lakukan untuk mempengaruhinya? Kita cuma bisa menyiapkan sikap dalam menghadapinya.
Dulu, waktu saya berusia belasan tahun, di suatu acara persekutuan doa pemuda remaja, Pak Pendeta Timotius Istanto meminta yang hadir untuk menuliskan apa yang akan kita lakukan kalau kita tahu bahwa umur kita hanya kurang seminggu saja. Semua orang menuliskannya di selembar kertas dan kemudian oleh beliau itu bacakan dan diulas bersama.
Hampir kesemuanya bernada sama, mereka semua menulis bahwa akan berbuat baik dalam berbagai bentuknya. Tulisan saya tidak juga dibacakan. Sampai terakhir, Pak Tim bilang,"Ini akan saya bacakan pendapat yang paling jelek, -Saya tidak akan melakukan apa-apa-". Karena kertas itu tidak diberi nama, maka tidak ada yang tahu siapa penulisnya. Banyak yang tertawa. Banyak yang mengganggap penulisnya tidak serius dan asal menulis tanpa berpikir, makanya menurut Pak Tim itu adalah pendapat yang paling jelek. Itu adalah tulisan saya.
Saya menulisnya dengan serius dan penuh kesadaran. Saya menganggap kenapa saya harus munafik dengan berbuat baik bila akan mati? Mengapa saya tidak jadi orang jahat saja? Apa hanya karena saya akan mati? Kalau saya tidak mau jadi jahat, dan saya memilih jadi orang baik bukankah itu pilihan hidup saya, bukan atas ketakutan akan kematian? Pikiran itu yang ada di benak saya saat itu. Kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi saya saat itu. Dulu Papa saya menjelaskan soal kematian Mama saya dengan bilang ,"Saat ini di Sorga sedang ada pesta untuk menyambut Mama."
Tapi itu dulu, waktu saya masih remaja dan tidak punya apa-apa. Kini, meskipun belum juga kaya, saya sudah merasa mulai punya beberapa harta. Ada harta yang "ternilai" ada juga harta yang "tak ternilai". Ada yang bisa dihitung nilai uangnya (seperti yang saya laporkan di laporan tahunan pajak saya) dan ada juga harta yang tak ternilai. Harta yang berupa lingkungan ataupun orang-orang yang mengasihi dan saya kasihi. Rasanya harta yang tak teruangkan ini yang paling banyak saya punyai. Ada istri, ada anak-anak, ada teman dan rekan seperti anda, ada juga "musuh" yang penuh perhatian mengintai saya setiap saat. Semuanya ini menjadi sesuatu yang tak ternilai yang membuat hari-hari saya menjadi begitu indah. Hari-hari saya indah karena ada anda semua. Dan itulah harta yang saya miliki. Dengan berlalunya waktu dan usia, makin menumpuklah harta-harta saya.
Di hari ulang tahun ini, saat saya merefleksikan ulang sikap saya, masihkah tidak takut mati? Rasanya bukan ketakutan akan kematian yang sering membayang dibenak saya, tetapi apa saya berani berpisah dengan semua harta-harta saya? Dimana harta saya berada, disitu ada hati saya. Apapun alasannya, bisa jadi saat ini saya mulai takut mati. Takut karena hati ini sudah makin terikat pada harta-harta itu. Semoga Tuhan tetap senantiasa berkenan memberikan pencerahan di usia dan "harta" yang makin bertambah ini.
04 Oktober 2010
Melihat Namun Tak Melihat
.....kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap (Roma 28:26)
Sudah berhari-hari saya berdoa memohon mujizat Tuhan. Barang itu sudah saya cari berhari-hari. Di bengkel, di rumah, di mobil, belum juga ketemu. Rasanya hanya mujizat Tuhan yang bisa menemukan barang itu. Barang itu adalah contoh pekerjaan bengkel yang diserahkan ke saya. Tak pernah satu kalipun saya menghilangkan barang contoh. Itu hal yang tabu. Tapi kali ini kenapa bisa hilang? Sudah cukup lama barang itu diserahkan ke saya. Saya sudah agak lupa bentuknya. Pemiliknya bilang bentuknya seperti mata rantai yang bisa dirangkai. Saya berusaha mengingatnya walaupun agak sulit. Tapi di benak saya langsung tergambar sebuah mata rantai yang bisa dibongkar pasang. Yah, bentuknya pasti mirip huruf C.
Pagi itu pemilik barang kembali menelpon untuk memintanya kembali, nadanya sudah sangat ingin marah. Saya masuk ke gudang lagi meminta sekretaris saya meneliti semua kotak dan rak. Dia bilang, "Sudah dan tidak ada, Pak." Saat itu, mata saya tertuju pada barang yang ada di rak, di depan mata saya, saya pegang barang itu. Nah, ini barang itu. Ketemu! "Lho, ini koq bisa disini?" "Pak, itu memang sudah dari dulu disana." "Tapi koq kamu bilang tidak ada?" "Bapak khan bilang bentuknya kayak huruf C, itu bentuknya kotak." Yah, sayapun sudah berkali-kali melihat ke rak itu. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa itu barang yang saya cari, sebab saya juga selalu mencari barang yang bentuknya seperti huruf C. Saya salah membayangkan bentuk barang yang hendak saya cari. Syukurlah itu cuma barang, bagaimana jadinya kalau itu hal yang lebih penting lagi?
Saya telah hanya melihat apa yang ingin saya lihat dan mengabaikan yang lain. Di benak ini sudah ada filter yang akan memilah semua informasi yang akan masuk ke otak. Bagaimana bila filter itu yang salah dan malah menghalangi informasi yang seharusnya diterima? Kebenaran dan kesucian filter itulah yang harus selalu dijaga. Kehadiran Firman Tuhan dan Roh Kudus akan berkuasa mengisi dan menjaga filter ini. Tuhan hadirlah selalu di benak ini.
Mujizat telah terjadi saat Tuhan membetulkan "filter" di benak saya dengan yang murni yang dari padaNYA.
Dia Koq Marah?
Sampai suatu saat saya menemukan solusi atas masalah ini. Cara untuk sekedar mengkompensasi biaya saat mengunjungi pameran itu. Saya membawa juga brosur produk saya, saya akan bagikan di pameran itu. Saya yakin di pameran itu hadir juga banyak calon pelanggan saya. Saya bisa mencari pelanggan di pameran itu juga. Saya bisa membagikan brosur di sana, tapi saya bukan peserta pameran. Saya tidak punya stand. Biaya sewa stand di pameran seperti ini bisa mencapai puluhan juta rupiah. Nah, saya yang harus cari cara bagaimana bisa membagi brosur tanpa ditangkap petugas sekuritinya. Ini butuh strategi khusus. Dengan membagi brosur itu, perasaan saya lebih tenang. Bila dapat satu pelanggan saja, saya yakin biaya yang dikeluarkan sudah pasti dapat tergantikan. Yang ada bagaimana saya bisa membagi brosur dengan aman dan elegan.
Hari itu saya hadir di pameran lagi. Di ransel saya sudah ada beberapa puluh brosur siap bagi. Hari itu hari pertama pameran. Biasanya kita tidak boleh masuk sebelum upacara pembukaannya selesai. Acara pembukaannya agak terlambat, mungkin ada pejabat yang belum datang. Pengunjung sudah boleh masuk. Saya berkeliling, melihat produk dan mencari jalan membagi brosur. Ternyata ada stand yang dijaga oleh 2 orang alumni ITS, yang seorang adik kelas saya. Ting! Ini peluang saya. Saya mengobrol di stand itu, sambil berlagak sok kenal dan sok akrab sampai kemudian saya yakin bisa mendapat ijin untuk mendompleng di sana membagi brosur saya. Saya cukup tahu diri untuk tidak meletakkan brosur di stand mereka, bagi saya cukup boleh berdiri di depan stand mereka dan bisa mencegat pengunjung yang lewat. Seakan-akan saya juga bagian dari stand itu.
Pameran tidak terlalu ramai. Memang ada beberapa orang yang sudah saya beri brosur. Sampai kemudian ada seorang Bapak yang cukup tambun masuk ke stand itu, berbincang dengan dua rekan tadi. Terasa mereka ada memperbincangkan saya, saya ikut masuk dan mendengarkan perbincangan mereka. "Anda tidak boleh seperti itu!" Bapak itu berkata ke dua rekan itu sambil menunjuk kearah saya, saya kaget. "Saya tadi sudah lewat di depan sana, tapi anda tidak menyapa saya" bapak itu berkata pada saya. Dia mengeluarkan kartu namanya, "Saya yang mengeluarkan ijin untuk bisnis seperti ini" Memang pameran ini pameran spesifik, bisa jadi ini bidang yang menjadi wewenang beliau. Di kartu namanya saya baca jabatan dia, Kasubdin..... "Maaf pak, Maaf atas kesalahan saya," Di mulut saya minta maaf, tapi di hati saya menertawakannya. Pejabat ini gila hormat, Pamong Praja Feodal! Dia mulai berkisah lagi, "Anda jangan suka membeda-bedakan orang, itu tidak benar......." Saya mengangguk-angguk saja sambil menunduk, seakan-akan saya takut sama dia. Apanya ya yang beda dan perlu dibedakan?
Mungkin upacara pembukaan sudah selesai dan banyak pejabat yang berkeliling melihat pameran, salah satunya bapak ini. Bagi saya, tidak mungkin saya asal membagi brosur seperti SPG berok mini itu. Mereka merasa sudah bekerja kalau sudah membagi habis setumpuk brosur. Sedangkan saya tahu persis ongkos cetak brosur saya, saya akan berikan hanya ke orang yang saya rasa punya potensi membeli produk saya. Rupanya waktu Bapak itu melintas, feeling saya tidak memerintah saya untuk memberi dia brosur. Itu membuatnya tersinggung.
Siang itu saya baru sadar akan pencitraan diri yang kita bangun untuk diri kita sendiri. Saat orang merasa adalah pejabat yang harus dihormati dan disapa, beliau akan berharap semua orang melakukannya. Padahal di benak orang lain ada banyak sudut pandang yang lain. Bapak itu merasa beliau yang berwenang mengeluarkan ijin dan orang tidak dapat berbisnis bila tidak mendapat ijinnya. Dia benar. Tapi ada kebenaran lain yang setara. Bagi saya ijin bukan segalanya. Bisnis tetap bisnis, ia tetap bisa jalan dengan caranya sendiri. Jangankan ijin beliau (lha dia khan lain daerah dengan saya...), meja kerja saja saya tidak punya. Saya sering mengendalikan bisnis dengan cuma "nglempo" berlap-top di lantai kamar tidur saya. Dengan begitu saja saya sudah bisa mengatur bisnis saya dan saya tidak minder dengan itu.
Saya membeda-bedakan orang? Beda berdasarkan apa ya? Saya berpikir lama juga. Mungkin dia melihat wajah saya yang "mongoloid" ini, kemudian berpikir bahwa saya bos dari dua orang pemilik sah stand itu (yang tidak mongoloid itu). Jadi dia merasa perlu untuk "mengajari dan memarahi" saya didepan dua orang itu, untuk sekedar menunjukkan betapa berkuasanya ia. Ya.... bisa jadi begitu. Beliau yang merasa bahwa saya berbeda sehingga saya yang harus dipaksa untuk tidak membeda-bedakan. Bukankah perbedaan itu baru bisa terasa kalau kita mulai dengan pikiran bahwa kita berbeda? Sekali lagi ini masalah "mindset" dalam melihat dunia.
Ah, kenapa ya pejabat yang dibayar dengan uang rakyat masih juga minta dihormati rakyat? Bukankah yang bayar adalah Bos? Rakyat yang bayar, maka harusnya rakyat yang Bos.