Banyak kisah menarik yang ada di seputaran layanan kedukaan. Kisah yang kadang terasa aneh, namun menarik untuk diingat dan dibagikan.
Kedukaan adalah hal yang tidak dapat diperkirakan kapan waktunya. Menentukan hari libur adalah sesuatu yang sulit bagi Amerta. Tahun lalu di hari kedua Lebaran, kita ada panggilan kedukaan. Semua sudah di luar kota, tapi untunglah semua sigap untuk bisa kembali bertugas. Ada yang di Malang, ada yang di Tuban, tapi semua sigap untuk kembali ke Surabaya menunaikan layanan. Tahun ini di hari ketiga Lebaran, kita langsung melayani dua layanan kedukaan.
Setelah sekian lama ini, kita mulai tahu masa-masa di mana layanan kedukaan ini akan banyak. Musim panas yang terik sekali, suhu udara yang panas sekali, sering menjadi pertanda bahwa layanan kedukaan akan meningkat. Sebaliknya bila Surabaya mulai hujan dan cuaca menjadi lebih sejuk, pelayanan kedukaan menjadi lebih berkurang. Di masa-masa beberapa hari setelah perayaaan yang berhubungan dengan pesta dan makan-makan enak, layanan kedukaan juga akan meningkat. Mungkin ini pertanda bahwa banyak orang yang lepas kendali saat bergembira dalam berperayaan.
Ada juga pertanda unik yang sulit dipercaya. Bila peti mati kecil, untuk anak atau bayi keluar, maka sebentar kemudian pasti akan beruntun layanan kedukaan yang ada. Anda tidak percaya? Saya sebenarnya juga! Tapi sudah beberapa kali hal ini terjadi. Aneh memang, tapi kebetulan ini terjadi juga.
Selalu siap melayani adalah semangat yang ada di Amerta. Apapun kendala yang ada, harus siap karena Amerta niatnya memang tulus melayani siapapun yang berduka. Kendala bila teknis/logis, bisa didiskusikan bersama di WA Grup. Kadang kendala itu aneh juga. Pernah di suatu malam saat menjemput jenasah di RSAL, ambulan kita berputar-putar tersesat tidak dapat menemukan jalan keluar dari komplek RSAL itu. Padahal sudah banyak kali Pak Setyo , driver setia Amerta, melayani di sana. Setelah jenasah sampai di rumah duka, saat mengirim peti jenasah, tiba-tiba ambulan berasap tebal. Oh, tali kipasnya selip dan berasap, bisa diatasi. Di rumah duka, pintu ambulan tiba-tiba tidak bisa dibuka untuk menurunkan peti jenasah. Hari sudah menjelang dini hari, saat segala upaya gagal membuka pintu belakang ambulan itu. Terpaksa ambulan balik ke Johar, kantor Amerta. Pagi harinya kita kirim peti jenasah lain dengan ambulan yang lain. Begitu ambulan kedua ini keluar dari Johar, pintunya langsung terbuka, dan tidak bisa ditutup lagi. Maka sepanjang jalan pintu itu diikat dengan tali. Cerita ini terangkai dari kebetulan? Saya tidak tahu, tapi saya tetap yakin ketulusan melayani akan mampu mengatasi banyak hal yang tak terduga.
Kalau saja ada yang suka dengan keseruan dan ketulusan melayani, ayo! Kita bisa melayani bersama di Amerta. Kita yakin pelayanan ini akan bisa berkembang, karena kita punya semangat untuk selalu mencari peningkatan mutu. Di Amerta tiap kesalahan harus dibicarakan, bukan untuk memojokkan siapa yang salah, tetapi untuk dicari akar masalahnya hingga hal itu bisa tidak akan terulang lagi.