11 Maret 2021

Cetar Membahana

Menjadi terkenal mungkin juga ada di keinginan saya. Kebutuhan untuk menjadi orang yang bisa melakukan Pansos, panjat sosial, social climbing, bisa jadi juga mulai merasuki saya. Membangun citra yang bagus sebagus-bagusnya di hadapan orang lain bisa jadi muncul di benak saya. Tapi siapa saya? Rasanya cuma orang biasa, prestasi juga gini-gini saja. Lalu apa yang bisa membumbungkan nama saya? Kerja keras! Itu kata buku dan nasehat para pendahulu jaman dahulu. Mungkin itu benar, tapi bagaimana harus bekerja keras lagi, sementara faktor U, usia, sudah tidak bisa kompromi lagi.

 

Ada jalan lain di mana saat kerja keras dan prestasi enggan saya lakukan untuk membahanakan nama saya. Saya pernah baca buku Edward de Bono, ahli cara berpikir. Ada konsep berpikir lateral. Memikirkan cara lain yang beda dengan cara awam yang umum dan lazim. Cara yang sama efektifnya mengapai kecetaran. Saat saya sulit mencapai posisi yang di atas, saya bisa jadi yang di bawah, tapi enak. Di bawah namun nikmat! Saat tidak bisa menjadi pelaku prestasi, saya bisa berposisi sebagai orang yang di bawah dan dibawahkan. Saya berposisi sebagai orang yang selalu dibuat menderita oleh pihak lain atau sistem yang ada. Betapa nelangsa dan prihatinnya keadaan saya ini, akan membawa saya ke posisi tinggi melalui simpati orang lain. Para netizen 062 katanya pernah menobatkan Bapak Prihatin se jagad, yang cara menarik simpati khalayak bukan dengan prestasinya tapi dengan ungkapan keprihatinannya. Belum lagi ada meme medsos yang berani bilang, “Di Myanmar ada kudeta, di sini ada yang menyamar dikudeta”. Caranya bisa jadi dengan banyak mengeluh tentang sistem yang zolim ini, yang selalu mengorbankan saya. Tapi saya harus konsisten dengan strategi kerendahan hati semu yang terpelihara. Biarlah saya terus menderita, jangan ada yang mengaudit penderitaan saya, nanti ketahuan kebohongan itu. Jangan sampai lho ada yang berusaha memperbaiki sistem yang saya keluhkan kezolimannya ini. Kalau ini diubah malah akan merepotkan saya untuk memikirkan skenario lain lagi. Biarlah ini sudah jadi suratan takdir saya, ini mantra sakti saya. Menjadi di bawah dan dizolimi tidak selalu merana, kadang itu nikmat yang bisa membahanakan kecetaran.

 

Mendaki tinggi memang bisa lewat jalan atau merintis jalan yang ada maupun yang belum ada. Lagi-lagi dengan Lateral Thinking, mendaki tinggi bisa dengan menginjak bahu orang lain. Ini juga konsep bagus di acara lomba panjat pinang Agustusan. Saya rela diinjak bahu saya agar rekan lain bisa menggapai hadiah yang tersedia di ujung atas batang pinang itu. Tapi itu cuma di Agustusan saja, bagaimana kalau itu di bulan-bulan lain di sepanjang tahun dan sepanjang event kehidupan yang bukan panjat pinang? Saat saya tahu ada orang yang membutuhkan bantuan dan saya juga bisa tahu orang-orang yang suka berderma, saya bisa menghubungkan dua pihak ini dengan baik. Ini hal yang bagus. Yang berderma bisa senang menyalurkan kebaikannya dan yang menerima juga tertolong dan terbantu dengan kebaikan itu. Saya bisa berpansos dimana? Ya saat saya lupa akan prinsip akuntabilitas. Saya dipercaya orang karena ada entitas organisasi yang menaungi saya. Mereka menyalurkan dana bukan semata oleh karena saya tetapi nama besar organisasi yang menaungi saya. Jadi sewajarnya bila saya menyalurkan kebaikan itu lewat entitas itu dan entitas itulah yang akan menjamin akuntabiltas ketepatan pengggunaannya. Saya bisa pakai strategi pertama untuk marah, dengan bilang,”Yang ngasih aja gak protes koq orang lain protes!” Tapi saya bisa tahu diri saat, ternyata koq bisa ada rekan lain yang tahu ya? Berarti memang pihak terkait itu membutuhkan akuntabuilitas dan periksa ulang akan kebaikan yang dilakukannya. Saya tetap bisa bersembunyi pakai cara korban ketidakpercayaan, padahal saya lagi mencuri kemuliaan entitas di atas saya. Harusnya memang bukan nama saya yang muncul, tapi nama organisasi dan biarlah bantuan itu tersalur melalui organisasi ini. Pokoknya, saya akan tersinggung dan biarlah saya pergi saja. Tapi jangan ditantang ya… sebab kalau saya malah ditantang untuk pergi, kasihanilah saya karena saya malah akan kehilangan panggung saya. Namanya saya juga pingin cetar membahana.

 

Lalu harus sampai segitunyakah saya menghidupi jalan-jalan saya? Dulu waktu SD saya pernah ikut lomba menghafal ayat alkitab, salah satunya yang masih teringat di benak saya adalah “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” Yohanes 3:30. Angka tiga dan angka tiga puluh itu membuat saya tetap ingat akan isi makin besar dan makin kecil itu. Buat apa saya harus cetar membahana?

 

Tidak ada komentar: