11 Maret 2021

Arisan

Seumur hidup saya tidak pernah ikut arisan. Kata ini tiba-tiba muncul saat presentasi dana perumahan emeritus para pendeta GKI Jatim. Kebetulan memang saya diajak ikut memikirkan hal ini, walaupun saya ketiban sampur soal Dana Pensiunnya. Saat masalah PSL (Past Service Liability) menyeruak, kita harus memikirkan ulang dan mencari terobosan mengatasinya. Muncul ide untuk tetap memberikan jatah yang menjadi hak Pendeta emeritus pada waktunya, tetapi kekurangan dari jumlah yang sudah tertabung tetap harus diangsur hingga lunas, tanpa memikirkan bunganya. Ada jemaat yang komplain, “Waduh, masih harus mengangsur sampai sekian tahun ya?” Saat itulah ide dan konsep arisan itu muncul. “Ya, seperti ikut arisan. Kalau mendapat di awal, tetap harus membayar hingga mencukupi dengan jumlah nilai arisan itu” Inilah momen dimana kata arisan itu muncul di benak saya.

 

Teringat juga bahwa dulu katanya, arisan itu aktivitas ibu-ibu. Arisan Ibu-ibu PKK, arisan ibu-ibu se RT/RW, atau arisan ibu-ibu sosialita. Alkisah di arisan itu banyak hal bisa dibahas, ada demo panci, ada jualan perhiasan, hingga gosip dan rumpi. Rasanya seru juga ya, banyak the untold story yang menarik. Di arisan ini mungkin saya bisa mendengar tentang berita bahwa ada kegiatan perbaikan gedung yang sebenarnya dilakukan dengan barang bekas. Lalu semua mata menyorot seakan-akan ini fakta yang bisa dibawa ke KPK dan mengarah pada kegiatan tangkap tangan yang heboh itu. Seakan-akan ada skandal penggunaan bahan bekas, dalam renovasi yang terjadi. Yang cerita bisa jadi memang benar. Yang mendengar juga bisa benar terkejut dan terbelalak seakan tercerahkan akan fakta terselubung. Dan suasana jadi meriah entah mau bergulir kemana. Lalu asumsi dan prediksi bisa tergoreng renyah. Runyam bila terdengar oleh pelaksana perbaikan itu. Beliau berani diaudit kalau tidak ada bon pembelian barang bekas itu. Dan tambah runyam bila sang penyumbang material itu mendengar, dikiranya berkomplot, padahal beliau berniat tulus dan ikhlas memberikan material bongkaran gedungnya yang masih sangat layak itu untuk dipakai ulang. Niatan baik yang sengaja tak dipublikasikan itu, ternyata bisa disorot jadi bahan meriah di arisan. Mungkin kalau saya ada di arisan itu, saya bisa ikutan menggoreng kisah seru ini. Atau, beranikah saya mengatakan fakta benar yang ada? Apa saya berani menderita dimassa oleh seantero penghuni arisan itu?

 

Di arisan bisa juga saya berlatih melempar isu kedekatan seseorang dengan pemilik bengkel. Lalu dengan berbisik, mulai dibuka dengan kesimpulan ala detektif, “Makanya disuruh ke bengkel itu, khan karena bengkel itu bisa mengeluarkan bon kosongan,” Ide yang bisa membakar lahan kering. Lahan kering yang tidak biasa disegarkan oleh ide sederhana cek dan ricek untuk tiap fakta ala detektif. Kalau saja saya suka menyelidik, harusnya saya mengasah ketrampilan ini dengan menyelidik dengan tuntas dari hulu ke hilir. Dari yang katanya mengeluarkan bon hingga yang berwajib menerima bon sebagai laporan itu. Dari investigasi bentuk bon, stempel, warna tinta bolpen, bentuk tulisan, penandatangan, hingga mungkin sidik jari di bon itu. Tapi apa daya kalau saya ini multi talent, pingin jadi detektif tapi pingin juga jadi host acara Fox Crime. Apa gunanya saya menyelidik kalau saya tidak terkenal dan mendapat manfaat pribadi atas penyelidikan itu?

 

Andaikan saya bisa jadi peserta arisan, saya komit dan saya berjanji deh! Saya berjanji untuk mengajarkan ke semua peserta arisan untuk cek dan ricek terhadap semua kisah, cerita dan berita yang bergentayangan. Jangan sungkan mengujinya. Jangan terbius oleh siapa pembawa kisah itu. Makin terhormat saya sang pewarta ghosting itu, makin mampu saya diuji kehakikian kebenaran yang ada di mulut saya. Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat.

“Oiiii… jangan menuduh kelompok arisan yang bukan-bukan ya!!” oh, ampunilah saya Buk Ibuk seantero jagad arisan… Aaammpun….

 

Tidak ada komentar: