Kejadian ledakan di jalan Slompretan nomer delapan itu sangat mengagetkan saya. Kamis pagi seorang teman menelpon tentang ledakan semalam sebelumnya. Katanya salah satu korbannya yang terluka adalah Imron. Saya kaget, pagi itu saya menyuruh anak buah saya untuk segera ke tempat kejadian. Tujuannya mencari kabar tentang King Lung. Dia teman saya. Memang sudah cukup lama saya tidak berjumpa dia. Beberapa saat kemudian anak buah saya memberikan kabar bahwa kondisi tempat itu memang sangat parah. King Lung belum ditemukan, Imron juga akhirnya meninggal. Wajah dua orang rekan itu masih sangat jelas terbayang. Imron dan King Lung.
Saya mengenal mereka cukup lama, karena kita sama-sama merintis bengkel CNC-Computer Numerical Control (mesin bengkel yang bisa diprogram). Imron anak buah King Lung. King Lung adalah orang kepercayaan Bos di Jakarta. Dia tidak berpendidikan tinggi. Dia dulu hanya operator mesin, kemudian dia belajar memprogram mesin. Dia orang yang baik. sopan, pekerja keras dan mau belajar. Postur tubuhnya bagus dan orangnya murah senyum. Beberapa kali saat dia mengalami masalah dengan pemograman, dia selalu datang ke tempat saya. Dia mampu belajar dengan baik.
Bengkelnya dulu mengerjakan neck-ring. bagian atas tabung LPG yang menghubungkan antara tabung dan bagian yang terbuat dari kuningan. Awalnya satu neck ring dikerjakannya dalam 1 menit. Terakhir kalinya dia berhasil mengerjakannya dalam waktu 11 detik. Rasanya itu proses pembuatan neck ring yang tercepat di Indonesia. Dia bersama teman-temannya bekerja 24 jam. Bergantian antara yang tidur dan yang bekerja. Mereka satu tim yang sangat kompak dan cekatan.
Bosnya tinggal di Jakarta. Orangnya sangat low-profile. Setiap kali ke Surabaya, saya selalu ditelpon untuk menemuinya. Karena itu saya sering mampir di Slompretan itu. Selalu saja dia memesankan Mie Hongkong di jalan Waspada itu. Kita sering ngobrol sambil makan mie itu. Kalaupun saya ke Jakarta, sayapun harus menelponnya. Memang tidak selalu saya menelpon, karena kadang saya sudah sangat capai. Kalau dia tahu saya di jakarta biasanya dia jemput saya dan kita menghabiskan sepanjang malam di Pecenongan. Makan bubur, es campur dan ngobrol. Dia sangat baik. Bisnis diantara kita tidak besar-besar amat, tapi persahabatan itu sangat akrab. Dari makan bersamanya sampai nyaris ditangkap Satpam gara-gara dia berkelahi di suatu Plaza. Menakutkan tapi lucu juga.
Banyak kali saya sering datang di Slompretan itu. Sekedar mengobrol dengan teman-teman disana. Saya juga punya rasa tersendiri dengan jalan itu. Papa saya pernah bekerja di toko Batik di depan bengkel itu dan kemudian pindah kontrak di samping bengkel itu. Dulu kalau hari libur dan pas saya ke Surabaya, saya sering membantu di toko Batik itu. Mama saya juga penah bekerja di Bank di ujung jalan itu. Dulu namanya masih Bank Umum Koperasi Kahuripan. Di jalan itu memang ada sepenggal kenangan hidup saya. Sering saya menghabiskan sore hari disana. Bila saya belum pulang ketika hari mulai gelap, selalu tukang parkirnya datang meminta ongkos parkir sebelum dia tinggal pulang. Saya selalu memberinya uang dan bonus umpatan di hati saya.
Terakhir saya dengar King Lung pacaran dengan Gadis Madura. Mamanya di Jakarta tidak menyetujuinya. Tapi dia tetap nekad. Bosnya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya juga tidak, walaupun ingin rasanya menasehatinya. tapi saya tidak tahu mau bicara dari mana? Saya sangat berat dengan pernikahan yang tidak disetujui orang tua. Banyak kali itu mendatangkan luka atau mungkin kutuk. Saya lebih memilih menuruti orang tua dan selalu akan menasehati begitu bila ada masalah seperti itu. Tapi ke King Lung saya tidak berani bilang apa-apa. Akhirnya mereka menikah.
Setelah ledakan itu saya berusaha menelpon Bos di Jakarta itu. beberapa nomernya tidak bisa dihubungi. Hingga jumat pagi, ada satu nomer yang bisa, tapi tidak diangkat. Saya lalu hanya kirim SMS "Kho, saya ikut sedih, tapi selalu ada kekuatan dari Tuhan." Ini ungkapan tulus saya, walaupun saya tidak tahu apa agamanya. Beberapa detik kemudian dia menelpon saya, lama sekali saya mendengar ceritanya. Terutama tentang King Lung. Hari itu beberapa kali dia menelpon saya, memberitahukan tentang perkembangan King Lung. Sampai petang harinya dia SMS hotel dan nomer HP mama King Lung. Saya tidak mengenal mamanya, tapi saya sangat ingin menemuinya. saya menemuinya di kamar jenasah RSUD Dr. Sutomo. Dia tidak terlalu tua. "Ai, saya Daniel teman King Lung, saya dapat nomer Ai dari Kho...... di Jakarta" Wanita itu sangat tegar dan bijak. Di bagian lain di teras kamar jenazah itu, ada dua ibu berkerudung dan bapak berkopiah dan beberapa orang lagi. Mereka rombongan istri King Lung yang berasal dari Probolinggo. Mereka semua menunggui datangnya peti jenazah yang akan dipakai King Lung. Awalnya saya menyangka mama King Lung akan sinis dengan keluarga itu. Sayapun berbincang dengan dia tanpa menyinggung Istri King Lung sekalipun. "Satu hal yang belum dia turuti adalah bahwa dia berjanji akan memberikan menantu yang akan menyenangkan hati saya, saya belum tahu karena saya belum pernah tinggal dengan menantu saya." Diapun bercerita kalau King Lung sudah meminta nama untuk anaknya yang akan lahir sekitar dua minggu lagi. Mamanya sudah memberi satu, tapi dia meminta empat nama dan nama pilihannya sudah disimpan di HPnya.
Lorong di depan kamar jenazah itu gelap, saya baru tahu kalau Bos Besar King Lung ada di sana. Dia kakak dari Bos yang saya telpon itu. Bos ini yang paling dihormati oleh semua saudaranya. Sayapun menghampirinya dan berjabat tangan. Mama King Lung juga dan kemudian dia bilang ,"Kho, tolong diingat anak King Lung ya.... Tolong dibantu istrinya, dia mau melahirkan" Bos itu mengiyakan dan langsung menghampiri wanita yang hamil tua itu, dia mencatat alamatnya.
Saat peti jenazah sudah siap dan jenazah sudah dikeluarkan, saya sempat melihat wajah King Lung. Sudah membengkak dan berbau. Istrinya langsung pingsan. Keluarganya membopongnya, mama King Lung mengoleskan minyak kayu Putih di dahinya. Ibu dan Bapaknya sibuk menyadarkannya dengan berbahasa madura. Mereka orang desa, masih 35 KM dari Probolinggo ke selatan. Bapak Ibu itu ternyata diantar oleh "Pak Tenggih" (Pak Tinggi= Pak Lurah) desanya. Ah, musibah ini menyadarkan saya betapa manusia itu adalah mahluk sosial, yang kodratnya membantu sesamanya. Ada Pak Lurah yang bersimpati pada warganya dengan menghantar ke Surabaya. Ada wanita yang mungkin punya alasan untuk membenci menantunya, tapi kewanitaannya mampu merasakan apa yang dirasakan menantunya itu. Ada Bos besar yang mau bersimpati pada pegawainya yang setia sampai akhir hayatnya.
Malam itu, setelah peti jenazah ditutup, mereka berpisah satu sama lain. Dua keluarga yang berbeda budaya dan banyak lainnya itu saling berpelukan. King Lung sudah menyatukannya.
King Lung akan dimakamkan di Tangerang di kampungnya. Mamanya minta dia dimakamkan bukan dikremasi agar anaknya suatu saat kelak dapat mengetahui kubur papanya.
King Lung kita masih bersahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar