Hari ini akhir tahun 2025. Saya ingat 26 tahun lalu, saat milenial baru mulai, 1 Januari 2000. Hari itu hari pertama saya mulai bab baru kehidupan ini. Saya berkomitmen untuk memulai usaha mandiri saya. Keluar dari tempat saya bekerja dan berusaha sendiri, berbisnis mandiri. Menyatukan semangat dan semua rencana di sebuah villa di Kalibaru. Sejuk udaranya, tapi menantang di benak yang selalu dibayangi pertanyaan, "Apa bisa ya?"
Hari ini saya menoleh kebelakang, jauh, sejauh 26 tahun. Saya dulu tidak pernah tahu dan yakin bahwa akan ada situasi seperti hari ini. Ada perusahaan yg sudah berjalan dengan baik, ada sejumlah aset yang sudah saya miliki. Ada keluarga dan anak-anak yang baik. Semuanya OK, apa itu hasil perencanaan yang matang? Hasil sebuah Resolusi di Kalibaru?
Dulu saya mulai dengan tabungan yg cukup untuk 3 sampai 6 bulan hidup. Ada rencana terburuk yang siap, umur saya belum 35 tahun. Saat itu lowongan kerja di koran kebanyakan ditulisnya usia maksimal 35 tahun. Jadi kalau saya gagal berbisnis saya masih bisa melamar kerja lagi. Istri saya juga bekerja, saya sudah bilang, "Kalau saya gagal, saya numpang makan sama kamu ya." Itu mitigasi yang ada.
Banyak target yang saya buat untuk dicapai sebagai ukuran keberhasilan pribadi yang ingin dicapai. Ada pingin rumah, pingin kantor, pingin mobil, pingin apa saja yang biasanya orang lain inginkan juga. Satu per satu itu tercapai, satu per satu mungkin mulai terlampaui.
Hari ini saya melihat ke belakang semuanya itu. Apa memang semuanya itu perlu? Apa memang semuanya itu dibutuhkan? Apa memang semuanya itu berguna?
Bercita-cita di masa muda itu memang indah. Ingin itu ingin ini yang perlu untuk memompa semangat kerja. Sepertinya suka duka bekerja menjadi sesuatu yang lebih indah dari pada mencapai dan memiliki sesuatu itu. Apa memang semua hasil itu indah?
Dulu saya bercita-cita punya rumah sebesar mungkin, sebanyak mungkin kamarnya. Kini saat anak-anak sudah besar, mereka sudah tidak di rumah lagi. Rasanya yang dibutuhkan cuma satu kamar tidur saja. Saya pernah kerja di Boss yang kaya sekali, saat awal bekerja saya diajak ke rumahnya dan ia bilang, "Daniel, lu tau, ruang tamu gua ini saja, sudah lebih besar dari rumah lu!" Setelah bekerja lama dan kita makin akrab, beliau pernah bilang lagi di rumahnya, "Daniel, nanti kalau lu sudah punya uang beli rumah, jangan beli rumah besar-besar. Gak ada gunanya, liat kamar itu di lantai dua itu, gua sudah enam tahun lebih gak pernah masuk kamar itu. Kita pagi duduk disini, makan, lalu masuk kamar tidur, cuma itu yang kita nikmati. Lainnya gak perlu." Saat itu, saat saya muda, saya tertawa aja, saya mikir ,"Jahat kamu Boss, kamu larang saya beli rumah besar biar saya gak minta gaji besar ya?"
Tapi kini rasa itu juga mulai saya rasakan.
Saya mulai dengan tinggal di rumah kontrakan, pingin rasanya punya rumah dengan kamar banyak, agar tiap anak bisa punya kamar sendiri-sendiri seperti di sinetron yang lagi marak waktu itu. Rasanya anak-anak akan bahagia kalau punya kamar sendiri-sendiri. Saat waktu itu tiba, kamar-kamar itu tersedia, istri saya, yang guru BK, melihat hal lain. Tidak baik kalau anak-anak itu kamarnya sendiri-sendiri. Dia memaksa agak anak-anak tetap satu kamar. Alasannya katanya harga listrik mahal harus hemat, satu kamar saja! Tapi hasilnya, dua anak ini bisa makin akrab dan mereka bisa begitu dekat persaudarannya. Itu nilai yang memang ingin kita tanamkan, saat dulu mereka sering dan suka bertengkar. "Nanti, kalau Papa Mama sudah gak ada, di dunia ini cuma ada Cece dan Meme, kalau kalian gak bisa akrab lalu mau minta tolong sama siapa?" Ternyata itu bisa dibangun dengan satu kamar bersama, bukan dengan dua kamar masing-masing seperti di cita-cita saya dulu.
Dulu, ada seminar berbayar tentang kepemilikan properti. Katanya minimal kita punya rumah sebanyak jumlah anak kita. Maksudnya agar kita bisa memberi warisan yang baik ke anak-anak itu. Katanya properti ini bisa menghidupi dirinya sendiri, properti ini bisa menghasilkan dan beranak-pinak seperti materi seminar itu. Rasanya ini benar, bisnis properti memang bisa diandalkan, saat kita punya properti makin banyak makin bahagia. Hari ini, apa memang itu berguna bagi saya? Kalau mau dikejar, segalanya akan tidak ada cukupnya. Satu bisa jadi kurang, dua koq juga masih kurang, tigapun belum cukup. Lalu harus berapa? Ternyata kalau dipikir, sang pemberi seminar juga bukan pemilik kerajaan properti. Rasanya mungkin dia dapat uangnya dari menjual seminar dengan tema properti. Bukan kaya dari properti itu. Lha, kalau itu jalan dia untuk kaya, mana mau dia ungkapkan rahasianya dengan terbuka? Punya banyak belum tentu lebih baik dari yang punya sedikit. Bahkan bisa jadi tidak punya, juga tidak lebih buruk dari yang punya banyak.
"Aku baru pulang dari Jepang operasi, habisnya 2M lebih!" Wuik, hebat ya? Tapi ada banyak orang yang tidak punya uang sebanyak itu dan ternyata memang tidak perlu operasi dengan biaya sebanyak itu.
Bukan seberapa banyak yang bisa digapai dan dikumpulkan selama ini. Cuma apa dan bagaimana semuanya ini jadinya saat ini. Kalau sudah ada keluarga, apa sudah mereka tumbuh kembang dengan bahagia? Kalau ada perusahaan, apa sudah bisa itu jadi saluran berkat untuk semua yang ada di dalamnya. Kalau saja ada ini itu, apa dan bagaimana keadaannya? karena itu yang lebih penting. Bagaimana itu terjadi
dan bagaimana itu berdampak akan menceritakan apa sudah dilalui selama ini.
Melihat kebelakang, melihat liku-liku jalan yang dilalui memang indah. Di jalan itu bisa dilihat tangan Tuhan yang menyertai. Tangan Tuhan yang melindungi, tapi juga ada tangan Tuhan yang ramah. Tuhan yang ramah dan sabar saat banyak kenakalan bisa dibungkus dengan rohani. Tuhan yang sabar itu masih selalu ramah saat kenakalan itu memperalat nama Tuhan. Pokoknya bisa selamat karena ada Tuhan yang masih sabar dan ramah. Semoga di tahun-tahun depan ini. Tuhan yang sabar dan ramah ini sudah tidak diperalat lagi. Tapi saya yang jadi alat Tuhan.