31 Desember 2025
Akhir Tahun
03 April 2025
Cerita dari Amerta
Banyak kisah menarik yang ada di seputaran layanan kedukaan. Kisah yang kadang terasa aneh, namun menarik untuk diingat dan dibagikan.
Kedukaan adalah hal yang tidak dapat diperkirakan kapan waktunya. Menentukan hari libur adalah sesuatu yang sulit bagi Amerta. Tahun lalu di hari kedua Lebaran, kita ada panggilan kedukaan. Semua sudah di luar kota, tapi untunglah semua sigap untuk bisa kembali bertugas. Ada yang di Malang, ada yang di Tuban, tapi semua sigap untuk kembali ke Surabaya menunaikan layanan. Tahun ini di hari ketiga Lebaran, kita langsung melayani dua layanan kedukaan.
Setelah sekian lama ini, kita mulai tahu masa-masa di mana layanan kedukaan ini akan banyak. Musim panas yang terik sekali, suhu udara yang panas sekali, sering menjadi pertanda bahwa layanan kedukaan akan meningkat. Sebaliknya bila Surabaya mulai hujan dan cuaca menjadi lebih sejuk, pelayanan kedukaan menjadi lebih berkurang. Di masa-masa beberapa hari setelah perayaaan yang berhubungan dengan pesta dan makan-makan enak, layanan kedukaan juga akan meningkat. Mungkin ini pertanda bahwa banyak orang yang lepas kendali saat bergembira dalam berperayaan.
Ada juga pertanda unik yang sulit dipercaya. Bila peti mati kecil, untuk anak atau bayi keluar, maka sebentar kemudian pasti akan beruntun layanan kedukaan yang ada. Anda tidak percaya? Saya sebenarnya juga! Tapi sudah beberapa kali hal ini terjadi. Aneh memang, tapi kebetulan ini terjadi juga.
Selalu siap melayani adalah semangat yang ada di Amerta. Apapun kendala yang ada, harus siap karena Amerta niatnya memang tulus melayani siapapun yang berduka. Kendala bila teknis/logis, bisa didiskusikan bersama di WA Grup. Kadang kendala itu aneh juga. Pernah di suatu malam saat menjemput jenasah di RSAL, ambulan kita berputar-putar tersesat tidak dapat menemukan jalan keluar dari komplek RSAL itu. Padahal sudah banyak kali Pak Setyo , driver setia Amerta, melayani di sana. Setelah jenasah sampai di rumah duka, saat mengirim peti jenasah, tiba-tiba ambulan berasap tebal. Oh, tali kipasnya selip dan berasap, bisa diatasi. Di rumah duka, pintu ambulan tiba-tiba tidak bisa dibuka untuk menurunkan peti jenasah. Hari sudah menjelang dini hari, saat segala upaya gagal membuka pintu belakang ambulan itu. Terpaksa ambulan balik ke Johar, kantor Amerta. Pagi harinya kita kirim peti jenasah lain dengan ambulan yang lain. Begitu ambulan kedua ini keluar dari Johar, pintunya langsung terbuka, dan tidak bisa ditutup lagi. Maka sepanjang jalan pintu itu diikat dengan tali. Cerita ini terangkai dari kebetulan? Saya tidak tahu, tapi saya tetap yakin ketulusan melayani akan mampu mengatasi banyak hal yang tak terduga.
Kalau saja ada yang suka dengan keseruan dan ketulusan melayani, ayo! Kita bisa melayani bersama di Amerta. Kita yakin pelayanan ini akan bisa berkembang, karena kita punya semangat untuk selalu mencari peningkatan mutu. Di Amerta tiap kesalahan harus dibicarakan, bukan untuk memojokkan siapa yang salah, tetapi untuk dicari akar masalahnya hingga hal itu bisa tidak akan terulang lagi.
Pelayanan Kedukaan
Sudah dua tahun lebih ini saya melayani Jasa Kedukaan milik GKI. Bidang pelayanan yang tidak terpikirkan sebelumnya, dan kalau ini pilihan, mungkin tidak akan pernah saya pilih. Pengalaman kehilangan Mama di masa kecil menjadikan saya kurang senang melihat jenasah dan kedukaan. Bukan takut, hanya kurang suka saja.
Awalnya saya ditawari menjadi pengurus Yayasan di lingkup GKI. Lalu Yayasan ini mendirikan layanan baru, Amerta Memorial Services, Jasa Layanan Kedukaan. Ini memang dasarnya adalah bisnis tapi karena di bawah gereja maka konsep bisnisnya sedikit beda. Harus mendapat keuntungan, agar layanan ini bisa berkembang menghidupi dirinya sendiri. Juga tetap melayani layanan gratis Diakonia Gereja. Ini bukan karena uang banyak yang dimilikinya yang bisa diberikan dalam bentuk layanan Diakonia. Kita cuma sekedar menjadi saluran berkat. Ada jemaat yang rela berdonasi, kami yang menyalurkannya kepada yang membutuhkan.
Seperti jiwa GKI yang selalu mau jadi berkat buat sesama, maka layanan ini melayani semua orang. Memang utamanya jemaat GKI, tetapi juga jemaat gereja lain, bahkan umat beragama lain yang membutuhkan layanan kedukaan. Saya mulai tertarik dengan layanan kedukaan saat masa pandemi. Saat itu saya baru tahu bahwa meninggal itu juga tidak mudah. Saat itu ,saat keluarga bersedih karena kehilangan, masih juga bingung karena ambulan dan peti mati sulit didapatkan. Saat itulah saya tergerak mencarikan peti mati, meminta teman untuk mau membuatkan, merubah mobil gereja jadi ambulan untuk membawa jenasah. Ternyata walau hidup itu bisa susah, tapi mati itu juga susah.
Banyak cerita menarik sepanjang melayani ini. Walau saya Tionghoa, saya tahunya lidi Hio itu berwarna merah. Saat kita melayani umat Khong Hu Cu, Pendetanya marah karena hio yang saya sediakan warnanya merah, bukan hijau. Harus hijau karena almarhum sudah berusia sangat lanjut. Saya hanya diberitahu untuk menyediakan hio dan saya tidak mengerti soal aturan warna itu. Lebih lagi saat prosesi pemakaman, dari tempat persemayaman menuju pemakaman harus naik ambulan. Ambulan baru kita ber-AC. Rekan yang bertugas berpikir bahwa di mobil berAC tidak boleh merokok, maka dipikirnya tidak boleh juga ada asap hio, maka dimatikanlah hio itu. Pak pendetanya marah lagi, Hio harus menyala terus sepanjang perjalanan.
Karena merasa perlu belajar banyak tentang ritual kedukaan agama lain, saya beberapa kali janjian bertemu dan mengobrol dengan Pak Pendeta itu. Inipun jadi menarik, karena harus cari tempat yang vegetarian. Setelah cukup akrab, saya mulai berani bicara apa adanya, ”Koh, maaf ya semua kesalah-kesalahan yang lalu, tapi tolong saya diajari biar gak salah-salah lagi.” Yang mengejutkan, Beliau menjawab ,”Daniel, gitu itu gak masalah, saya pernah sudah siap mau melarung abu di Perak, ternyata abunya ketinggalan!” Beliau menyebut nama Perusahaan kedukaan yang sangat terkenal. Yah, memang yang ingin selalu saya tekankan di Amerta. Kita boleh salah, tapi harus mau selalu dikoreksi dan siap memperbaiki diri. Makin lama melayani harus makin baik, bukan memelihara kebebalan.
Pelayanan memang bagian dari persembahan di hidup ini. Tapi melalui pelayanan, Tuhan juga makin memperlengkapi. Banyak hal saya yakini bisa saya dapatkan karena saya pernah belajar hal itu di pelayanan. Belajar melayani orang berduka, baru saya pelajari di Amerta ini. Belajar membangun tim kerja yang berbudaya kerja “Berubah oleh Pembaharuan Budi” juga saya pelajari di Amerta ini.
02 April 2025
Pendeta Bersahaja
Pengalaman melayani di banyak lingkup GKI, membawa saya mengenal banyak sisi kehidupan para Pendeta. Pendeta adalah orang-orang hebat yang mau membaktikan diri dan hidupnya untuk melayani pekerjaan Tuhan. Jemaat GKI pun belajar dan berusaha keras untuk bisa memberikan penghargaan, yang harapannya berpadanan dengan segala pengorbanan itu. Penghargaan buat beliau-beliau yang sudah mau berjuang dan mempersembahkan hidupnya untuk pekerjaan Tuhan.
Saya mengenal Pendeta yang tidak ada jemaat tumpuannya, yang dengan santai bilang ,”Daniel, orang miskin itu gak bisa panjang umurnya, berobat itu mahal.” Saat itu beliau menderita sakit jantung dan harus operasi. Dengan hidupnya yang bersahaja itu tidak mungkin beliau punya biaya operasi jantung itu. “Tapi saya bisa operasi juga, Tuhan itu baik!” Beliau akhirnya bisa operasi dan sembuh karena ada berkat Tuhan yang mengalir dengan mengherankan. Pernah juga kondisi rumahnya butuh renovasi total, selain banjir juga air hujan masuk melalui celah-celah lantai ubinnya. Ada saja jalan Beliau mendapat berkat Tuhan. Rumah itu direnovasi total dengan sangat baik.
Ada juga Pendeta yang realitis melihat kebutuhan ekonomi jaman sekarang ini. Kebutuhan yang sangat tinggi itu, membawanya pada pandangan untuk bersikap ekonomis juga. Segala langkah harus dihitung secara ekonomis karena memang hidup ini tidak murah. Kalau mutasi ke tempat baru, ditelisiklah bagaimana rumah dan mobilnya. Kesempatan untuk mendapatkan panggilan berkotbah dari tempat lainnya apa banyak ya? Celah apa yang bisa dimanfaatkan untuk proses penggantian bon belanja? Dunia yang berat ini, tidak salah juga ikut menempanya menjadi kritis ekonomis.
Beberapa saat lalu saya terhenyak. Dari sebuah pengumuman penerimaan mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur tanpa tes, SNBP, ada nama anak seorang Pendeta. Ini memang hal yang biasa, tapi bagi saya ini sangat istimewa. Pernah terpikir bahwa Pendeta ini akan segera pensiun dan bagaimana beliau bisa membiayai kuliah anaknya. Kuliah pasti tidak murah, apalagi bila di perguruan tinggi swasta yang biasanya jadi rujukan anak Pendeta GKI. Pendeta itu juga saya kenal sebagai orang yang bersahaja dalam pandangan keuangannya. Keluarga bersahajanya sering naik angkot. Saya sempat bingung bagaimana bila pensiun nanti dan masih harus membiayai kuliah. Tuhan selalu punya jalan. Tuhan sanggup membukakan pintu kemurahan di jalan bersahaja yang dipilihnya. Kuliah di Negeri memang sudah tidak sangat murah lagi, tapi pasti itu jauh lebih murah dari pada di swasta dengan mutu yang setara. Tuhan maha tahu dan maha baik.
Dulu, saat umat Israel dipelihara dengan Manna, katanya, siapa yang mengumpulkan sedikit tidak akan jadi berkekurangan dan yang mengumpulkan sangat banyakpun tidak akan menjadi berkelebihan. Ada mekanisme Tuhan yang selalu mencukupkan. Mungkinkah sikap mental ini masih laku dalam kehidupan pelayanan ini? Tuhan yang tahu apa yang dibutuhkan, akan mampu mencukupkan pada saatnya? Menjalani sikap mental adalah pilihan menghidupi apa yang dipercayainya.
28 Januari 2025
Sekolah Murah
Saya sangat percaya akan pentingnya pendidikan, pentingnya sekolah demi masa depan. Saat biaya sekolah menjadi biaya yang sangat mahal, saya ada cerita tentang bagaimana saya menjalani Sekolah Murah ini. Cerita ini memang subyektif, tapi semoga bermanfaat untuk sekedar menjadi cerita bahwa ada Sekolah Murah yang saya alami ini. Sekolah Murah ini bukan sekedar murah, tetapi benar-benar bermutu dan berkualitas.
Dulu saya sekolah di SMP Katholik, bayarnya delapan ribu Rupiah sebulan. Waktu SMA di SMPPN saya bayar seribu lima ratus Rupiah sebulan, waktu itu gaji saya sebagai penagih rekening koran sepuluh ribu Rupiah sebulan. Kuliah Perkapalan bayar seratus dua puluh ribu rupiah sesemester, waktu itu gaji sales saya seratus tujuh puluh lima ribu rupiah sebulan. Itu saya, dulu.
Anak saya dua, dua-duanya sekolahnya juga murah. TK sampai SMA sebulan mungkin tiga ratus sampai lima ratus ribuan, di sekolah Kristen paling terkenal di Surabaya. Tidak bayar uang gedung dan biaya lainnya. Pastinya berapa sebulan, saya juga tidak tahu karena dipotong langsung dari gaji Istri saya yang menjadi guru di sekolah itu. Kuliah Hukumnya tiga juta setengah satu semester selama tujuh semester, tanpa uang gedung. Yang mahal saat S2, karena itu pendidikan profesi jadi tidak ada beasiswanya, sekitar lima puluh juta-an hingga lulus dalam tiga semester. Anak yang kecil kuliah di Fakultas Psikologi yang tertua di jatim, dapat diskon besar karena istri saya sudah menjadi guru lebih dari dua puluh tahun. Lanjut S2 gratis plus dapat uang saku di China di universitas yang rankingnya lebih tinggi dari tempat kuliah saya dulu.
Saat semua orang tahu bahwa biaya pendidikan itu mahal, saya selalu menyarankan bahwa ada jalan untuk bisa bersekolah dengan murah. Tapi jalan itu tidak gampang, harus disertai dengan usaha yang keras. Suatu kali seorang teman menelpon. “Koh, aku wes pensiun, tapi anak-anakku masih sekolah semua, bagaimana ya biar mereka bisa kuliah dengan baik?”
Saya ajak ketemuan di sebuah CafĂ©, saya jelaskan ke anak-anaknya bahwa mereka harus bantu orang tua dengan sekolah yang murah tapi berkualitas. Masuk universitas negeri dengan jalur tes! Beberapa lama kemudian sang Papa menelpon, suaranya terdengar bergetar terharu “Koh, anakku diterima di ITS” Saya terkejut, lebih terkejut lagi, saat tahu bahwa anak itu memilih jurusan Perkapalan.
Keponakan saya pernah dua kali gagal tes ke ITS. Saya tidak mampu kalau harus membiayai kuliah di universitas swasta yang mahal, maka dia mencari beasiswa kuliah di China. Dia lulus dari China dan kini bisa bekerja dengan sangat baik di Jakarta. Peluang beasiswa bisa menjadi alternatif sekolah murah, tapi untuk bisa mendapat beasiswa harus ada usaha dan persiapan yang tidak sedikit. Memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin atau terlalu sulit. Yang penting ada kemauan.
Sebagai orang tua, saya ingin bisa membukakan banyak jendela agar anak-anak bisa melihat dunia dengan lebih luas dan jelas. Saat mereka bisa memandang dengan lebih luas, semoga semangatnya bangkit untuk meraih yang diinginkan. Saat itulah kerja keras dan semangat dibutuhkan. Sekolah murah memang ada, dan itu bukan murahan, itu harus dibayar dengan usaha dan semangat.