18 September 2020

Salah Sekolah

Saat saya sudah punya anak, saya sering dengar teman yang bilang bahwa anak itu harus disekolahkan sesuai bakat dan minatnya. Saya jadi ingat hidup saya ini. Dulu waktu lulus SMP, Papa saya meminta saya sekolah di SMAK Frateran Surabaya. “Papa sudah menemui Romo untuk minta keringanan biaya.” Saya menolak. Waktu itu pertama kali ada program PMDK, masuk universitas negeri tanpa tes. Tahun itu Frateran diterima 9 orang di jalur PMDK, di SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan) Bondowoso juga 9 orang. Saya merasa SMPP ini sama kualitasnya seperti Frateran itu. Makanya saya sekolah di SMPP itu saja. Setelah di ITS, di mata kuliah Matematika Dasar, Fisika Dasar, Kimia Dasar, banyak yang sulit saya ikuti. Teman-teman saya yang dari SMA favorit di Surabaya merasa gampang saja. “Itu khan pelajaran SMA dulu” Haaa? Itulah bedanya pilihan sekolah itu.

 

Waktu SMA, guru Fisika saya bertanya, “Kamu mau sekolah apa?” “ITS Pak” “Oooo, kalau ITS, yang paling bagus itu Perkapalan.” Maka jadilah saya memilih jurusan Teknik Perkapalan. Cocok bagi saya, karena itu bukan elektro, bukan arsitek dan bukan juga teknik sipil. Sejak SD sampai SMA tiap siang saya di tempat kerja seorang teman yang tukang servis alat elektronik. Saya juga belajar elektro di sana. Saya merasa kalau nanti saya kuliah elektro saya akan cuma jadi tukang servis seperti itu. Saya tidak suka, kurang menantang! Saya juga tidak pernah bisa menggambar dengan baik, jadi saya tidak mau jadi arsitek. Padahal Teknik Perkapalan itu bahasa Inggrisnya Naval Architecture and Shipbuilding. Tugas gambarnya lebih besar dari gambar-gambarnya jurusan arsitek. Satu lagi, Teman baik saya yang kaya, papanya kontraktor. “Papa gua gak lulus SD!” Lha, gak pakai SD saja bisa jadi kontraktor berarti saya pikir juga buat apa sekolah teknik sipil. Itulah alasan saya memilih jurusan Teknik Perkapalan. Apalagi khan Nusantara ini banyak lautnya, Jales Veva Jaya Mahe! Di Laut kita jaya. Katanya…..

 

Tiap sepuluh tahun, katanya, ITS selalu merevisi kurikulumnya. Suatu saat saya diundang sebagai alumni untuk berbagi cerita. Di hadapan dosen dan para petinggi ITS itu saya bilang, “Di hidup saya satu-satunya hal yang paling saya sesali adalah, saya sekolah di Teknik Perkapalan” Semua kaget. “Kenapa?” “Karena saya tidak pernah bisa bekerja di bidang Perkapalan.” Sungguh itu pengakuan saya yang sebenar-benarnya waktu itu. Saya salah sekolah lagi!

 

Saat saya bekerja, saya baru tahu ada alat-alat elektronik yang canggih, ada bahasa pemrograman yang rumit. Kalau saja saya tahu ada ilmu-ilmu seperti itu, saya akan sekolah elektro saja, karena dulu sehari-hari saya sudah biasa di bidang itu. Mungkin di Bondowoso waktu itu,  alat yang paling canggih cuma ada Kulkas. Karena kalau rusak proses menggulung dinamo kompresornya memang rumit! Saya tidak mengenal Komputer apalagi PLC. Saya juga berpikir Teknik Sipil itu cuma membangun rumah. Tidak pernah terpikir ada jembatan yang berkilo-kilo meter. Ada menara pencakar langit, di bondowoso yang ada cuma  Monumen Gerbong Maut dan aduan sapi. Dulu menggambar itu identik dengan melukis, membuat gambar orang yang harus mirip orang dan menggambar monyet yang bukan mirip orang. Tidak terpikir ada proses Menggambar Teknik yang tiap tarikan garisnya harus didasari oleh pemahaman dan perhitungan matematis yang rumit. Saya tidak tahu semua itu. Haruskah ketidaktahuan ini terjadi lagi di generasi setelah saya?

 

Sekolah sesuai dengan bakat dan minatnya, Apakah itu? Apakah anak-anak saya sudah cukup sekolah dengan pedoman itu? Saat anak sekarang terbiasa dengan gadget dan komputer, bisa jadi mereka minat dengan komputer, dikiranya komputer alat sakti yang bisa menjawab segala kebutuhan. Disain kapal  bisa dengan komputer, gambar rumah sudah ada programnya. Hitung bunga dan hasil investasi bisa pakai aplikasi. Makanya mereka minat untuk sekolah komputer. Apakah mereka sadar akan ilmu statistika yang mendasari algoritma program-program pengolah data tersebut? Robot memang menarik dan canggih, tapi apa bisa jadi robot seperti itu bila tidak ada ahli pembuat komponen yang bisa mengolah besi jadi bahan dengan tingkat ketelitian yang seperti itu? Itu ilmunya apa? Belajar dimana? Bagaimana bisa mengatur rugi laba sistim aplikasi ojol? Cukup dengan belajar komputer saja? Masalah terbesar bukan mencari bakat dan minat anak-anak itu. Tapi panggilan saya sebagai orang tua adalah membuat agar anak-anak ini  bisa melihat lebih luas dan seluas-luasnya dari dunia ini.  Harus lebih luas dari apa yang dulu pernah saya anggap sudah luas. Saat apa yang anak-anak ini lihat bisa lebih beragam dan detail, saat itu minat dan bakat mereka akan menyambut dan timbul untuk menggarapnya. Orang tua cuma pembidik, untuk itulah perlu menjadi pembidik yang bervisi dan berwawasan luas.

 

Tuhan itu Baik. Hanya Tuhan yang mampu melihat masa depan. Sampai suatu waktu saya menemukan produk yang bisa saya kerjakan di bisnis saya. Produk yang sarat akan Teknik Perkapalan. Saat itu rekan-rekan sekuliahan saya sudah dalam posisi pengambil keputusan. Ada yang Kepala Galangan, ada yang Direktur Operasional, ada yang Direktur Utama galangan. Mereka sudah dalam posisi yang cukup tinggi, saat saya membutuhkan dukungan mereka. Ini menjadi hal yang sangat baik bagi bisnis saya. Andai saat kita baru lulus produk ini saya jalankan, bisa jadi saya akan lebih sulit untuk meyakinkannya, karena mereka belum dalam posisi penentu. Asal kita yakin pada Tuhan yang menguasai dimensi waktu dan masa depan, ternyata salah sekolah itu juga gak apa-apa koq! Upppss….. (dthage)

 

1 komentar:

Ari WS mengatakan...

Saya dulu milih jurusan ini karena tidak perlu bikin skripsi... karena tak bisa mengarang... tapi akhirnya di jurusan ini saat ambil s2, membuat karangan juga