Sungguh indah bisa bertemu dengan orang yang lama kita kenal namun belum pernah berjumpa dan berbincang langsung dengannya. Di Rapat Kerja Sinode baru-baru ini, saya bisa berjumpa dan sekamar pula dengan Pdt. Imanuel Budidharma. Saya pertama kali mengenalnya saat kita di Oikmas Klasis Madiun hendak Live in Klenteng. Kami mendengar bahwa di Lasem ada Klenteng yang sangat kuno. Mulailah saya berkomunikasi dengan beliau. Namun, karena pertimbangan jarak maka kami akhirnya melakukan acara itu di Klenteng Pamekasan, Madura. Maka pupuslah harapan kami untuk bisa berjumpa. Pernah juga saat GKI Lasem ada proyek pembangunan, entah bagaimana saya bisa menjadi makelar antara Panitia Pembangunannya dengan seorang yang mau membantu pembangunan atapnya. Tapi semuanya itu sebatas telpon dan SMS saja. Memang beberapa minggu yang lalu kami sempat bertemu saat Beliau melayani di Dipo, tapi itu hanya sekilas saja.
Di tiga hari itu, kami bisa mengobrol banyak terutama seputar Klenteng. Saya bercerita tentang kisah yang kami alami saat menggelar Live in Klenteng beberapa tahun silam itu. Seperti yang pernah saya kisahkan di tulisan saya waktu itu. Kisah tentang serombongan peserta yang mencoba-coba untuk meramal jodohnya melalui Jiamsi. Jiamsi adalah proses permohonan pengambilan keputusan melalui pembacaan lidi bernomer yang diguncang-guncangkan hingga ada yang terdesak keluar dari kumpulannya. Lidi bernomor yang keluar itu, harus dikonfirmasi kebenarannya melalui sebuah ritual pelemparan dua keping kayu berbentuk belahan kacang tanah. Nomer itu harus Pak Pwe, yaitu kondisi dimana dua keping kayu itu jatuh dengan posisi yang saling berlawanan. Satu harus menghadap ke atas dan satu lagi harus menghadap ke bawah. Bila belum Pak Pwe, berarti belum ada persetujuan dari Sang Dewi, maka ritual pengambilan lidi harus diulang lagi.
Saat itu, saya sebagai ketua merasa harus pulang terakhir untuk memastikan bahwa semua peserta tidak ada yang mengalami masalah. Harusnya sudah tidak ada peserta yang tertinggal. Tapi beberapa bulan kemudian saya mendengar tentang kisah ini. Ada serombongan peserta yang menunggu untuk mengambil Jiamsi karena ada diantara mereka yang ingin menanyakan perihal jodohnya. Syarat yang diajukan oleh Pemimpin ritual itu adalah mengatakan di dalam hatinya,"Dewi Kwan Im, saya minta di ramal" Tapi peserta ini agak ragu sehingga ia mengatakan dalam hatinya ,"Tuhan Yesus, apa saya boleh diramal?" Proses berjalan seperti biasa, tetapi tidak pernah bisa Pak Pwe. Hingga Kepala Klenteng itu meminta untuk pindah ke lain Dewa untuk Jiamsi-nya. Mereka berpindah ke lain Dewa, tapi ternyata mereka kehilangan lidi untuk prosesi jiamsi itu. Di cari ke semua bagian kelenteng, lidi itu tidak ditemukan. Peserta itu kemudian bertanya," Pak, apa memang orang Kristen tidak boleh diramal?" "Wah, Saya kurang tahu ya…" "Tapi apa Bapak percaya pada Tuhan Yesus?" "Ya, saya percaya, Yesus adalah Dewa yang tertinggi" Bapak itu menunjukkan poster yang berisi daftar dewa yang mereka percayai di dekat patung Kwan Im. Di bagian teratas memang ada gambar Yesus yang di gendong Maria. Pengalaman ini menjadi suatu pengalaman iman yang dahsyat bagi peserta itu.
Pdt. Imanuel saat itu bertanya,"Oh ya, bener ada posternya?" Kemudian beliau bercerita tentang jemaatnya. Istri jemaat itu, seorang yang aktif di GKI Lasem. Suami masih kuat beribadah di Klenteng. Hingga suatu saat, sang suami mengambil Jiamsi untuk menjawab pertanyaan,"Bolehkan saya ke gereja?" dan beliau mendapatkan Pak Pwe untuk jawaban itu. Kemudian beliau bertanya lagi, "Apakah Yesus memang yang tertinggi?" Kali inipun beliau mendapatkan Pak Pwe atas pertanyaannya itu. "Tapi kemudian jemaat itu bukan saya yang membaptis, dia dibaptis di GKI Darmo Permai." Pendeta GKI Darmo Permai hadir juga di Rapat Kerja ini, Pdt. Samuel Christiono. Sayapun bertanya tentang kebenaran cerita ini. Beliau membenarkan karena beliau yang membimbing jemaat ini hingga mau dibaptis. Banyak pertanyaan saat Beliau membimbingnya, namun Tuhan punya jalan untuk bisa menjawab setiap keraguan dengan jalan yang unik.
Dua pengalaman tentang Jiamsi yang pernah kita alami menjadi suatu rangkaian kisah menarik yang saling menguatkan. Dua kisah yang terjadi namun dapat dikuatkan kebenarannya di tiga tempat berbeda. Tuhan memang punya cara yang unik untuk memenangkan tiap pribadi demi kasihNYA bagi manusia.
Catatan:
This email has been sent from a virus-free computer protected by Avast. www.avast.com |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar