04 Juli 2015

Agama adalah Candu Masyarakat


Pagi ini di Kompas, ada cuplikan berita jadul 4 Juli 1978, "PNS Wajib Penataran P4". Saya jadi ingat akan mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dari SD sampai SMA dulu, juga beberapa kali Penataran P4. Topik yang sempat terlintas adalah semangat para guru PMP itu untuk menanamkan bahaya laten komunisme. Mereka menerangkan bahwa komunis itu tak berTuhan dan juga punya faham bahwa "Agama adalah Candu Masyarakat". Itu pasti dalam rangka membendung ajaran Marxis.
 
Pagi ini jargon itu terngiang lagi, "Agama adalah candu masyarakat?" Candu atau opium itu sekarang di sebut Narkoba. Candu juga dipakai sebagai obat penghilang rasa sakit di peperangan dulu, bahkan sampai sekarang. Berarti candu itu bisa menghilangkan kepekaan syaraf tubuh kita dalam mengirimkan rasa sakit yang ada di tubuh kita. Kepekaan sensor syaraf itu dikurangi bahkan dihilangkan agar tubuh kita tidak merasakan apa yang seharusnya dirasakan. Candu mampu menghilangkan kepekaan.
 
Suatu sore saya bertemu seorang teman lama yang sekarang sudah berposisi sebagai manager di sebuah laboratorium klinis ternama di negeri ini.  Laboratorium ini yang hasil pengujiannya bisa dipercaya dan tidak perlu pengujian ulang bagi pasien Indonesia yang akan dirawat di RS Mount Elizabeth Singapura.
"Aku sumpek, di marahi orang gereja yang periksa rutin. Kemarin pas hasilnya ada sedikit masalah dan aku sarankan untuk periksa lebih detail. Dia periksa ke dokter spesialis dan diminta untuk mengulang semua "check-up"nya, katanya hasil dari tempatku gak jelas. Dia ngamuk sama aku karena dikira hasilku ngawur. Tapi, hasil dari Lab lainnya juga sama dengan hasil yang dari tempatku. Itu kan akal-akalan Dokter Spesialisnya aja, dia kan gak dapet komisi dari Labku. Di tempatku gak ada komisi untuk dokter. Padahal lo dia orang gereja juga."
"Ya… kamu laporkan pendetamu aja"
"Mana berani Pendetaku negur, lha dia itu donatur besar gerejaku"
 
Saat ini, bulan puasa. Saya kadang kagum dengan anak buah saya yang sedang berpuasa. Meraka bekerja di bengkel yang butuh banyak pekerjaan fisik, tapi mereka tetap berkomitmen berpuasa. Kadang saya juga agak jengkel bila ada diantara mereka yang kerjanya jadi melambat, ingin marah rasanya. Memang  mereka puasa, tapi kan gajiannya tidak berkurang, malah beban perusahaan yang bertambah di bulan ini karena harus menyediakan THR. Bisakah tetap ada kepekaan saya akan keberadaan mereka yang sedang berpuasa?
 
Lain lagi saat saya harus mendatangi kampus saya yang negeri di bulan puasa ini. Tidak ada kantin dan pedagang makanan yang berjualan. Saat saya mengobrol di ruang dosen yang bukan muslimpun, tidak tersedia minuman yang biasanya tersedia di bulan-bulan lainnya. Tidak adakah kepekaan akan kebutuhan dan kondisi orang lain yang tidak berpuasa?
 
Banyak kisah kehidupan di keseharian yang terjadi karena hilangnya kepekaan akan kondisi orang lain. Yang menghilangkan kepekaan itu ternyata adalah tindakan yang diyakini untuk melindungi kebesaran dan keagungan serta kelanggengan agama. Ketidakberanian menegur hanya karena takut dihentikannya bantuan buat kelangsungan gereja. Hilangnya kepekaan akan kondisi mereka yang berpuasa, hanya karena dia bukan seagama. Hilangnya kepekaan akan kondisi yang tidak berpuasa hanya karena agar tidak menurunkan kadar dan kualitas bulan puasa suatu agama. Saat itu apa bukan agama sudah menjadi candu yang menurunkan dan menjadikan syaraf kepekaan kemanusiaan tidak berfungsi?
 
Bila saja agama itu bukan candu, maka saat menjalankannya ada berjuta rasa yang akan muncul. Berjuta rasa karena seluruh syaraf dan sensor rasa itu tidak tertekan dan terhilangkan oleh agama, malah terbebaskan. Bisakah berjuta rasa yang mendewasakan umat itu benar terbebaskan? Harusnya bisa, karena kita tidak sedang memakai candu.

Tidak ada komentar: