12-13 Maret 2015 Departemen Oikmas Klasis Madiun mengadakan acara Live In Puhsarang. Puhsarang di Kabupaten Kediri adalah desa dimana Gua Maria terletak. Acara tahunan Live in kali ini mengajak jemaat GKI untuk mengenal komunitas Katholik yang mengadakan acara Misa Malam Jumat Legi. Acara Live In tahunan ini memang selalu mengajak umat GKI untuk tinggal dan mengenal komunitas lain di luar Kristen Protestan. Tahun-tahun sebelumnya kita pernah "Live In" di Pondok Pesantren, Vihara Budha, Masyarakat Hindu Tengger, Klenteng Kwan Im, Masyarakat Samin Bojonegoro. Di acara-acara ini, kita bisa mengenal tentang mereka, tentang pemahanan, ajaran dan budaya mereka. Di sana kita bisa bertanya apa saja untuk bisa mengenal mereka, tetapi kita tidak diperkenankan untuk berdebat mempertentangkan kebenaran yang masing-masing kita anut.
Gua Maria Puhsarang memang menjadi tujuan ziarah umat Katholik, walaupun yang datang kesana tidak hanya umat Katholik. Banyak juga pengunjung bukan katholik yang nampak dari busana yang dikenakannya. Bisa jadi mereka menganggap tempat ini adalah tempat wisata. Suasananya memang sangat indah, banyak tanaman membuatnya sebagai taman besar yang asri. Di lingkungan itu ada juga gereja katholik, makam uskup dan biarawan biarawati serta tempat penitipan abu. Ada juga pasar yang menjual souvenir dan perlengkapan yang mungkin dibutuhkan untuk mrngikuti ibadah di sana. Suasana yang menyatu dengan masyarakat sekitarnya membuat Gua Maria ini menjadi tempat yang penuh damai.
Acara utama kita adalah mengikuti Misa Malam Jumat Legi. Misa ini dilakukan pada Kamis Malam menjelang Hari Jumat Legi. Legi adalah nama hari pasaran dalam masyarakat Jawa. Misa itu diadakan mulai pukul sepuluh malam hingga berakhir menjelang jam dua dini hari. Diadakan pada malam Jumat Legi, tidak karena masalah klenik dan tahayul, tetapi murni agar mudah diingat saja. Memang malam Jumat Legi mempunyai arti khusus dalam budaya masyarakat Jawa. Disinilah peran inkulturasi Katholik dengan budaya setempat. Katholik mengisi dan memberi warna baru pada budaya yang sudah tumbuh di masyarakat setempat.
Sore hari sebelum mengikuti Misa itu, kami mendengarkan penjelasan perihal sejarah, keberadaan dan ritual yang diadakan di Gua Maria ini. Kami mendengarkan penjelasan perihal posisi Bunda Maria yang diistimewakan lebih dari posisinya di Kristen Protestan. Mereka meneladani Bunda Maria, karena Beliau telah mau menjadi pelaku dan penganjur bagi terlaksananya kehendak Allah. Beliau mau menerima dan melakukan kehendak Allah sebagai Bunda Yesus Kristus. Beliau juga menganjurkan pelayan di pesta perkawinan di Kana untuk menuruti apapun perkataan Yesus. Saat kedua sikap itu dilakukannya, maka hal besar sedang terjadi.
Suasana penjelasan dan dialog berjalan dengan indah, sang moderator, Pak Raden Satriadi, mampu membawa suasan hangat penuh canda. Saya sempat menyampaikan kesan saya tentang teman-teman saya yang katholik, saya pernah bersekolah SD san SMP di sekolah Katholik. Sayapun masih hafal doa Salam Maria. "Pak, kesan saya teman-teman Katholik saya itu koq gak rohani ya? Baca Alkitab aja bingung." Pdt. Simon Filantropa sempat menimpali, " Yah, itu karena Daniel salah pilih teman aja." Beberapa peserta juga menanyakan perihal informasi seputaran pemahaman iman katholik dan ritual di Puhsarang itu.
Malam itu hujan lebat, menjelang misa hujan memang mereda, namun gerimis masih terus terjadi. Ribuan umat duduk di taman itu, ada yang dibawah pohon, ada yang memang membawa kursi lipat, ada yang membawa tikar, banyak yang membawa payung, tetapi banyak juga yang mengenakan jas hujan. Rata-rata mereka memang sudah siap akan cuaca yang ada. Keesokan harinya saya diberi tahu bahwa yang mengambi hosti sekitar tiga ribu lima ratus orang, jadi peserta Misa itu bisa jadi lima ribu orang lebih.
Menjelang misa, ada seorang Romo yang menceriterakan tentang proses pemanggilan dan keputusannya untuk menjadi Imam Katholik. Hal yang menarik bagi saya, mengingat banyaknya kebutuhan tenaga pendeta di GKI, namun minim sekali minat jemaat untuk menjadi pendeta. Sharing itu cukup lama sekitar tiga puluh menit dan sangat menarik untuk bisa membangkitkan minat dan kebanggaan umat untuk menjadi Imam. Romo muda itu bercerita dengan percaya diri, kontras bila diperhadapan dengan nilai kebanggaan masyarakat yang makin hedonis. Saya berharap kita bisa melakukan dan menjemaatkan kebutuhan gereja akan tenaga Pendeta dengan semangat seperti itu.
Saya bukan orang yang bisa dan biasa begadang walau di tengah malam yang sejuk dan segar. Saya menyiapkan sebungkus kacang yang akan saya makan untuk mengusir kantuk. Kacang OKE sudah siap, namun sepanjang acara misa itu saya tidak berani menyentuhnya. Saya melihat, semua umat mengikuti Misa dengan sangat hikmad, tidak juga ada yang berbisik-bisik ataupun bermain gadget. Situasi itu yang menekan saya untuk tidak makan kacang yang sudah saya bawa. Hal yang mengejutkan adalah saat pembacaan intensi (ujub), ini mirip doa syafaat di ibadah kita. Umat boleh menitipkan pokok-pokok doanya, dan semuanya dibacakan dan didoakan dengan lengkap. Doa ini bisa sekitar hampir satu jam. "Kami berdoa untuk bapak… yang sedang sakit tangannya… kami berdoa untuk … yang mengharapkan pasangan hidup yang seiman… kami berdoa untuk … agar tanahnya bisa segera laku…." Begitulah kira-kira doa yang diucapkan. Semua umat mengikutinya dengan khusuk. Bila saya berpikir teman-teman katholik saya tidak rohani, bagaimana saya bisa menjelaskan situasi ini? Di taman ini ribuan orang bisa dengan tertib dan hikmad mengikuti misa dibawah hujan gerimis. Sanggupkah mereka melakukan ini selama empat jam bila dihatinya tiada nilai-nilai spiritual yang kokoh?
Malam hingga dini hari itu saya belajar akan nilai-nilai spiritual umat yang bagaikan harta di dalam bejana tanah liat. Nampak sederhana dan remeh, namun tak satupun meragukan kualitasnya. Bapak Daniel (bukan saya lo…) yang menggantikan romo paroki untuk memberi penjelasan pada kami sempat sharing. Saat anaknya lulus SMP dan berkeinginan bersekolah di SMA Van Lith Muntilan. Berbulan-bulan beliau berdoa berharap gajinya naik agar dapat memenuhi keinginan anaknya bersekolah di sana. Rasanya doanya tak terjawab. Hingga suatu saat di tengah permenungannya, saat beliau mau merokok, beliau mendengar suara di hatinya "Bila kamu merokok berarti kamu mengambil jatah hidup anakmu". Beliau terhenyak, rasanya inilah jawaban atas semua doanya. Uang untuk membeli rokoknya sebulan sekitar lima ratus ribu. Itu bisa beliau alihkan untuk biaya sekolah anaknya. Suatu jawaban doa yang membutuhkan tekad untuk melaksanakan kehendak Tuhan.
Sungguh indah bisa melihat kekayaan spiritual di komunitas lain di sekitar kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar