17 Juli 2011

Biasa dan Luar Biasa

Saya senang sekali di setiap kebaktian yang dipimpin Pdt Claudia, karena setelah Votum dan Salam beliau selalu menyapa jemaat dengan "apa kabar?". Beragam sambutan jemaat, ada yang menjawab, "baik", tapi ada juga yang "luar biasa..". Kalau saya mungkin, "biasa-biasa saja". Beragam pernyataan perihal kehidupan yang diungkapkan jemaat. Saya sering merasa buat apa saya melebih-lebihkan keadaan yang ada. Bagi saya itu cuma sekedar bagaimana kita meletakkan standard nilai kita. Keadaan ini bisa dianggap luar biasa, walau sebenarnya ya tiap harinya juga begini ini saja. Tapi atas nama semangat untuk berpikir positif maka kita bisa menganggapnya luar biasa agar kita tidak nampak pesimis. Ilmu NLP juga mengajarkan begitu.
 
Saat ada orang bertanya, "bagaimana bengkelmu?"
"Yah, begini-begini saja."
"Lho, masak tidak ramai?"
"Ya, kalau mau ramai nanti tiap pegawai saya suruh pukul-pukul besi, pasti jadi ramai...."
 
Minggu ini ada cerita menarik yang terjadi. Seorang teman lama menelpon. Tadinya dia bermaksud meminta saya untuk memberitahu seseorang tentang tagihan yang belum terbayar. Bukan saya yang membeli barang dari dia, tetapi seorang rekan dan meminta mengirimkannya ke tempat saya. Barang itu belum terbayar, dia sungkan untuk menagihnya, jadi saya yang diminta tolong untuk menyampaikannya. Sesuatu yang biasa. Kemudian kita mengobrol tentang segala hal yang lain. Terlalu lama kita tidak bertemu, jadi banyak cerita yang bisa diomongkan. Saya teringat akan janjinya yang belum terwujud untuk mengunjungi bengkel saya. Disinilah awal kisah itu.
 
Beberapa waktu lalu, entahlah beberapa bulan yang lalu, dia pernah meminta tolong untuk menitipkan forklift (alat pengangkut barang berat) di bengkel saya. Dia memang punya usaha jual beli forklift bekas. Dia katanya mau membeli forklift bekas dari sebuah pabrik yang tidak jauh dari bengkel saya, dia mau menitipkan dulu untuk direparasi sebelum dibawa ke tempatnya. Kami berteman sangat lama, jadi saya menyetujui saja. Tapi karena forklift itu sangat besar, saya memintanya untuk meninjau apakah tempat saya cukup untuk itu. Siang itu dua orang anak buahnya datang  meninjau dan bilang bahwa tempat saya cukup. Setelah itu saya pergi dan saya lupa akan kejadian itu. Ternyata forklift itu tidak pernah datang ke tempat saya. Sayapun lupa akan rencana itu lagi.
 
Saya teringat untuk menanyakan hal itu kepadanya. Dia kemudian bercerita. Sore itu dia sudah ada di depan bengkel saya untuk meninjau, tapi ternyata forklift itu mengalami ban kempes di jalan raya sebelum masuk ke kompleks bengkel saya. Dia harus melepas ban untuk menembelkannya. Saat itulah dia ditangkap polisi. Dia dituduh mencuri forklift. Dia membeli forklift itu dari sebuah pabrik melalui seorang perantara. Dia membayar tunai ke perantara itu. Forklift itu dikeluarkan dari pabrik dengan surat resmi yang diketahui oleh kepala pabrik dan kepala satpam pabrik itu. Semuanya resmi. Masalahnya ada di kepala pabrik itu. Dia menjual barang itu tanpa sepengetahuan pemilik pabrik. Masalah ini jadi urusan polisi yang pasti menguras banyak tenaga, waktu dan dana.
 
Saya tidak tahu menahu tentang hal ini sebelumnya. Diapun sebenarnya tidak ingin lagi bercerita tentang ini, karena itu hal yang sangat pahit buatnya. Saya hanya merasa bahwa bengkel saya berjalan seperti biasanya saja. Begini-begini saja. Dari cerita dia, saya baru kaget. Ah, bila saat itu forklift itu ada di bengkel saya, pasti sayapun kena dampaknya. Tuduhan sebagai penadah bisa jadi beban tambahan saya. Sayapun  bisa dianggap bersekongkol dengannya. Segalanya bisa kacau. bengkel saya bisa di"police-line"kan dan tutup sementara. Tapi kenapa forklift itu bisa kempes sebelum masuk ke tempat saya? Ini yang saya rasakan sebagai sesuatu yang luar biasa.
 
Saya tercekat. Kaget! Ternyata saat saya merasa semuanya biasa-biasa saja, ada suatu perlindungan yang luar biasa yang sedang terjadi. Meski yang luar biasa itu tidak saya rasakan dan ketahui, tetapi itu terjadi untuk menghasilkan sesuatu yang saya anggap biasa ini. Ternyata ada hal luar biasa yang terjadi untuk sesuatu biasa-biasa saja.
 
Terima kasih Tuhan untuk tiap hal biasa yang saya terima dan untuk tiap hal luar biasa yang tidak saya rasakan yang telah terjadi untuk saya.

Tidak ada komentar: